Selembar Kertas Merah

Apakah kau pernah menyentuh awan? Aku pernah, saat kecil aku tinggal di puncak pegunungan yang dikelilingi awan berupa kabut tipis yang sejuk. Apakah kau pernah melangkahi sekumpulan tubuh manusia yang terbaring tak berdaya? Aku pernah, ketika aku memutuskan untuk turun gunung dan mengarungi lautan bersama ratusan manusia yang ingin mengais keberuntungan di kota besar. Apakah kau pernah melihat sebuah keajaiban? Aku pernah, saat aku menemukan selembar kertas merah itu.

Mataku tak berkedip mengawasi ujung kertas yang menyembul keluar dari bawah sebuah terompet kertas reot. Rasanya aku ingin menampar pipiku sendiri untuk memastikan penemuan ini bukanlah mimpi, kertas itu adalah kertas uang seratus ribu! Aku memaksa menelan air liurku, entah kenapa aku masih mematung menatap separuh gambar wajah presiden dan menghitung jumlah angka 0 yang tertera di sana, benar ini uang seratus ribu. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, rekan-rekanku masih sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Setelah yakin ini adalah keberuntunganku, dengan tangan gemetar aku segera mengambil kertas lusuh yang agak kotor itu lalu memasukkannya ke kantung celanaku.

Maka sepanjang siang itu aku menyelesaikan pekerjaanku dengan perasaan riang. Aku tak bisa menyembunyikan senyumku, aku terus bersiul ceria. Sesekali aku menyentuh kantong celanaku untuk memastikan lipatan kertas merah itu masih di sana. Aku meneliti lagi setiap helai sampah yang kukumpulkan, mungkin saja ada selembar uang atau sekeping koin lain yang bisa kutemukan. Aku jadi sangat bersemangat membersihkan daerah sekitar munomen negara yang dipenuhi sampah setelah perayaan tahun baru semalam, tapi selain selembar kertas merah itu aku tak menemukan keberuntungan lainnya.

Setelah pulang aku kembali mengamati kertas merah itu dalam gubukku. Rasanya dibandingkan dengan kertas ini, kertas puluhan ribu yang kuterima sebagai upahku tadi sore jadi tak artinya. Sepanjang hidupku di kota metropolitan ini aku bekerja sebagai pemulung sampah, upah harianku tak pernah lebih dari dua puluh ribu rupiah, jadi sangat langka bagiku menemukan selembar kertas bernilai tinggi seperti ini. Aku tak bisa membayangkan ada orang yang sengaja membuang kertas berharga ini.

Aku tersenyum lagi membayangkan apa yang akan kulakukan dengan uang ini. Istriku sudah meninggal beberapa tahun lalu karena demam berdarah dan aku tak punya anak, jadi aku tak punya tanggungan apapun terhadap keluargaku. Mungkin aku bisa memakai kertas ini untuk membeli beberapa baju baru, atau aku bisa menyimpannya saja untuk persediaan makan selama beberapa hari. Atau apakah lebih baik kalau aku menggunakannya sebagai modal membuka usaha baru seperti toko kelontong dan semacamnya? Ataukah lebih baik kalau aku memakainya untuk kembali ke kampung halamanku?

Aku menyentuh dan meraba permukaan kasar kertas itu sekali lagi untuk memastikan keasliannya. Apakah aku salah karena telah mengambil uang ini? Apakah aku berdosa karena tak mengembalikan pada pemiliknya? Uang ini adalah keberuntungan dan rejeki milikku, tapi rasanya ada yang salah. Aku mulai memikirkan bagaimana kalau pemilik kertas ini sebelumnya sedang kebingungan dan kesusahan hanya karena kehilangan selembar kertas ini. Mungkin saja orang itu tak termasuk rombongan yang berpesta kemarin malam, mungkin saja uang ini akan dipakai untuk membeli obat bagi keluarganya yang sedang sakit parah. Aku jadi sadar, meskipun aku miskin ternyata masih banyak orang yang lebih membutuhkan kertas ini daripada aku.

Ah, mungkin aku terlalu berlebihan memikirkan secarik kertas ini. Perutku yang mulai bersenandung mengajakku mencari makan di sebuah warung di seberang gubukku. Aku menyelipkan kertas merah itu kembali ke kantungku, aku belum bisa menggunakannya saat ini. Mungkin setelah perutku terisi aku bisa lebih jernih memikirkan apa yang harus kulakukan dengan penemuanku ini. Ternyata di warung aku bertemu seorang teman yang asal daerahnya sama denganku. Kami membicarakan banyak hal, tentang korupsi, tentang politik, dan tentang kekalahan tim nasional dalam sebuah pertandingan sepak bola. Aku berusaha menahan diri untuk tidak menceritakan tentang kertas merah itu.

Tiba-tiba temanku yang bekerja sebagai tukang becak itu bercerita tentang perampokan yang terjadi semalam tak jauh dari sini. Pemilik rumah yang kecolongan itu sedang berlibur ke luar negeri saat dua orang pemuda masuk dan membobol lemari besi mereka. Seorang petugas keamanan sempat melihat dan mengejar dua pencuri itu, tapi mereka lebih cerdik, mereka melarikan diri ke monumen negara lalu berbaur dengan kerumunan yang sedang merayakan tahun baru. Sampai sekarang polisi tak bisa menangkap mereka berdua. Aku terkesiap dan kembali menyentuh kantung celanaku. Jangan-jangan kertas ini adalah hasil perampokan itu? Jangan-jangan ini adalah uang haram?

Percakapan kami terhenti karena kehadiran seorang ibu muda yang ingin menukar uangnya pada nenek pemilik warung ini. Aku ikut memperhatikan selembar kertas merah yang diserahkan ibu itu pada sang nenek, kertas merah bernilai seratus ribu seperti yang kutemukan, tapi tampaknya ada yang berbeda dengan kertas itu. Aku jadi penasaran, aku segera menanyakan tentang tampilan baru kertas merah itu pada si ibu muda. Dia menjawab itu adalah uang kertas seratus ribu baru yang mulai beredar tahun ini. Aku bertanya lagi tentang peredaran uang seratus ribu yang lama, katanya kertas itu sudah tak berlaku lagi sejak kemarin malam. Setelah berterima kasih pada nenek pemilik warung ibu muda itu pun pergi. Aku hanya bisa menatapnya sambil mengembangkan seringai aneh yang mungkin takan bisa dimengerti oleh siapapun.

Setelah kembali ke gubukku tercinta aku langsung tertawa sekeras-kerasnya. Beruntung, aku sangat beruntung. Aku membuka lipatan kertas uang lama itu dan kembali mengamatinya, kali ini dengan pandangan yang berbeda. Benar juga, kertas merah ini hanyalah sehelai kertas biasa yang diberi nilai, ketika nilainya berubah benda ini bisa jadi tak berharga sama sekali. Wah, untung saja aku belum memakai uang ini. Untung saja aku tidak membuang uang hasil keringatku yang sebenarnya hanya karena merasa kaya mendadak akibat kertas semu ini. Untung saja.

Maka aku menyelipkan kertas merah itu di antara celah kardus yang menjadi dinding gubukku. Aku berbaring di atas tikar sambil terus menatap kertas merah itu. Aku takan membuangnya, kertas itu akan jadi pengingat bagiku tentang pengalaman menarik yang kualami hari ini. Aku jadi sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Masih banyak hal lain yang lebih bernilai, lebih berharga, dan lebih berarti daripada kekayaan materi. Bukan uang juga yang bisa melepaskan seseorang dari kemiskinan atau penderitaan. Hanya cinta kasih, kebaikan, dan rasa saling membantu yang tulus yang akan membawa semua orang pada kebahagiaan. Yah, untuk sementara ini aku harus berusaha menampilkan nilai-nilai kebahagiaan itu pada masyarakat metropolitan ini melalui hidupku sendiri. Akhirnya sebelum aku terlelap, aku berdoa pada Tuhan agar semua harapan itu bisa terwujud di tahun yang baru ini. Amin.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer miss worm
miss worm at Selembar Kertas Merah (10 years 28 weeks ago)
70

I love the opening :)

Writer melitakristinmeliala
melitakristinmeliala at Selembar Kertas Merah (10 years 36 weeks ago)
80

so nice..

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
80

*ngasi tw Pak Pemulung bwt nukerin uang ntu ke bank*
Happy ending! ^^
Red, bikin tulisan yg bahagia donk, sekali-kali. Sy depresi mulu baca cerpen" Red >,< hahaha... XD (padahal sy sendiri penyuka bad ending)

Writer aimie keiko
aimie keiko at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
90

Red sayang, uang yang sudah tidak beredar lagi itu bisa dituker lo di BI :D :D hehehe

anyway hu um, mungkin apa yah.. ummm agak bertele2.. maaf ya sayang (namanya juga bercerita soal pengalaman :P ya pasti detail lah Ai) hehehe, tapi ini menarik :) sungguh :)

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
90

kayakx red bisa nulis apa aja, ceritax macam2. :D

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
90

Suka banget red^^
suka bagian ini Benar juga, kertas merah ini hanyalah sehelai kertas biasa yang diberi nilai, ketika nilainya berubah benda ini bisa jadi tak berharga sama sekali.

Writer redscreen
redscreen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

terima kasih banyak kak kumii :D

Writer prince-adi
prince-adi at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
70

kurang lincah dalam memainkan alur, boi :D

Writer redscreen
redscreen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

aneh ya kak?
ku akan belajar lagi >v<

Writer aksara
aksara at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
90

nice post ^-^

Writer redscreen
redscreen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

terima kasih kak aksara ^v^

Writer kertas_merah
kertas_merah at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

hi :-D ceritanya keren......

Writer redscreen
redscreen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

terima kasih kak kertas_merah (sama dgn judul) xD
salam kenal :D

Writer kertas_merah
kertas_merah at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

sama-sama.
Salam kenal balik!
Sebenarnya aku join di k.com setelah baca ceritamu yang ini.
Judulnya jadi infrasi id ku.
hi---hi--- :-D

Writer serigalahitam
serigalahitam at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
100

nice :D

Writer redscreen
redscreen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

terima kasih kak :D

Writer cat
cat at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
80

Rasanya aneh red. Kalo tu duit telah di ganti dgn yg baru pun, pasti ada jangka waktu penukaran dsb.
Tp intinya pesan mu dpt ku tangkap.

Writer redscreen
redscreen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

mungkin ada kak, tapi dia kan hampir tak pernah dapat uang sebanyak itu jadi dia tak tahu ^v^

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)
100

Ending yang ga terduga, keren Red...

^^

Writer redscreen
redscreen at Selembar Kertas Merah (10 years 37 weeks ago)

terima kasih sudah berkunjung lagi kak >v<