Hikayat Cinta Perakit Roket [2]

Hikayat Cinta Perakit Roket [2]
—kepada Atik Bintoro

Dulu aku manusia juga. Sungguh. Seorang lelaki, benar-benar lelaki. Tapi itu dulu, dulu sekali, jauh sebelum aku kenal dirimu dan terowong angin melantakkan roket kesadaranku. Lalu lambai tanganmu makin lemah dan kamu makin jauh, makin tak terjangkau, seperti pelangi yang bernyanyi sebelum hujan kenang datang mengepung mataku, laki-lakiku. Dan senja diam-diam menguburnya bersama remuk doa.

Dulu aku manusia juga. Sungguh. Seorang lelaki, benar-benar lelaki. Tapi itu dulu, jauh sebelum matamu berkeredip dan cahaya mengelam di sana. Lalu senyummu melambaikan luka serupa sendu seruling gembala. Yang rapuh, yang lepuh. Dan kamu ialah jarak dan rentang dari harapan yang tergenang di mataku. Benar aku mendambamu seolah manusia pencinta hujan yang lupa warna-warni awan, hingga kabut bernama takdir turut menggenapi lukisan hidupku lewat sapuannya yang ganjil.

Sekarang, kamu adalah hujan yang datang merubung jiwaku.

Jakarta, Desember 2008

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Affrilia
Affrilia at Hikayat Cinta Perakit Roket [2] (10 years 22 weeks ago)
100

karyamu memang selalu menjadi hujan. yang selalu dinanti basahnya di tanah kudus..

salam Mas Khrisna, ketemu di sini ya... :)

Writer laila
laila at Hikayat Cinta Perakit Roket [2] (10 years 23 weeks ago)
100

Salam Mas,
begitu mumpuni guratanmu Mas...cemerlang
Dan selamat buat Paman....keren bersalam anggitan puisi di acara pernikahan :)

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Hikayat Cinta Perakit Roket [2] (10 years 23 weeks ago)
100

selalu bagus.
Kak, pada umumnya, berapa lama orang belajar baru bisa tergolong matang dalam menulis?
terimakasih

Writer man Atek
man Atek at Hikayat Cinta Perakit Roket [2] (10 years 23 weeks ago)
100

puisi ini, kemarin takbaca di hajatan pernikahan putri tetanggaku, pas di tanggal satu januari kemarin, hehe.

Mantap, Paman. Terima kasih dan takzim selalu.