SPW (Srikandi Pembela Wanita) - Bukan sebuah akhir

SPW : Bukan sebuah akhir

Tiga orang satpam sibuk mencatat pengakuan Tika yang bagiku terlihat sia-sia. Mereka adalah karyawan yang digaji Badrul, apakah mereka tidak berpihak kepada pria bejat itu? Zita menghidupkan kamera telepon genggam dan mulai merekam pengakuan Tika serta caci maki menyebalkan yang keluar dari mulut Badrul.

“Kalian pasti berkomplot untuk mejatuhkan nama Language collage. Siapa yang membayar kalian?” teriakkan Badrul membuatku ingin merobek-robek mulutnya, namun sepertinya aku tidak perlu turun tangan. Rayya telah menyelesaikan tugasnya dengan menampar si Badrul.

“Pukulan yang pas dan mantap,” aku berbisik dan mengedip.
“Mereka melakukan tindakan kekerasan kepadaku dan kalian bertiga hanya diam saja? Untuk apa aku mengaji kalian? Usir ke empat mahluk menjijikkan ini.” Lagi-lagi dia mengelak dan memasang tampang tak bersalah.

“Kami punya buktinya,” ucapku dengan nada datar dan dingin yang telah kupelajari berkali-kali saat menangani perusuh di pesta pernikahan.
“Bukti apa? Pengakuan gadis bodoh yang mengharapkan bea siswa walaupun telah kukatan bahwa semua tindakannya sia-sia. Dia merayu, menebar godaan dan memasang perangkap. Untung saja saya adalah pria yang sangat terpelajar dan santun sehingga tidak tergoda. Namun aku tetap berusaha membantunya,” ah .. pembelaan diri yang sangat indah mengalun keluar dari mulut Pak Badrul.

“Aku akan membawa kasus ini ke pengadilan,” ucapku lagi dengan tatapan ingin merobek dan mencincang bagian vitalnya.
“Tidak! Katanya semua kasus ini akan diselesaikan di sini saja, Kak,” Tika memohon padaku. Gadis manis itu terlalu lemah dan sepertinya dia perlu di suntikkan sedikit emosi Rayya dan spontanitas Zita, serta tentu saja sedikit kekerasan hatiku.

“Kau tega membiarkan gadis-gadis lain menderita seperti kamu,” tanyaku kepada Tika. Raya dan Zita mengangguk menyetujui pernyataanku. Rayya terlihat terlalu emosi untuk berpikir jernih, dia dalah tipe hajar dulu baru bicara, “terlalu enak bila kau lepaskan dia. Penjarakan dia!” teriak Rayya.
“Buktinya sudah sangat jelas,”Zita tersenyum bangga dengan hasil kerjanya yang sempurna.

“Kalian berempat, polisi sudah menunggu untuk menjemput kalian ke penginapan gratis yang nyaman,” seorang satpam mengejek kami.

==

“Bisakah kami para saksi mendapatkan perlindungan khusus?” tanyaku pada seorang Polwan yang ramah.
“Tentu saja, bila kesaksian kalian memang benar adanya,” dia mulai mengetik berita acara. Kami balas menuntut Badrul dengan bukti yang ada. Kami tidak jadi bermalam di hotel kelas atas itu. Setelah proses pemeriksaan serta tes yang dijalani Tika di rumah sakit, kami diperbolehkan pulang.
“Kasus kalian akan kami tangani sebaik-baiknya,” ucap Polwan tersebut.
“Kami harap, nama kami bisa tetap tidak terdeteksi oleh media massa. Hak saksi,” entah di mana aku pernah mendengar ungkapan itu dan mengunakannya kali ini.

Kami berada di rumah munggilku, menyusun serangan berikutnya yang harus dilakukan. “Dunia maya,” ucapku pada Zita.
“Siarkan berita ini Rayya,” Rayya menunjukkan kedua jempolnya dengan senyum lebar.
“Tika, kamu akan tinggal bersamaku sementara,” ucapku tanpa menunggu jawaban Tika.

“Nona sok atur,” ucap Rayya tertawa.
“Yup, miss cerewet,” Zita ikut-ikutan tertawa.

==

Perjalanan kasus ini berjalan cukup cepat. Walau akhirnya tidak terlalu memuaskan karena Badrul dan orang tua Tika berdamai. Mereka berusaha menutupi kasus ini. Berita kasus pelecehan ini hanya menempati sudut kecil disalah satu koran pagi.

Orang tua Tika tidak ingin masalah ini terus menerus membuat mereka malu. Maka dari itu mereka menerima permintaan damai dan kompensasi ganti rugi yang ditawarkan.

Kami tidak dapat berbuat terlalu banyak, karena pengaduan kasus dibuat atas nama korban bernama Tika, maka dia yang harus memutuskan kemana arahnya kasus ini. Dan jalan perdamaianlah yang dipilih oleh kedua orang tuanya.

Hanya saja Badrul sudah tidak dapat mengajar lagi. Surat ijinnya telah ditarik dan sekarang Language Collagenya di jalankan oleh anak laki-laki yang seharusnya segera menikah dengan tunangannya.

Tika mendapatkan beasiswanya dan sepertinya cukup yakin menjalani hidup baru di luar negeri. “Yang kuat yah Tika!” teriak kami bertiga bersamaan.
“Belajar yang baik, siapa tahu nanti kami membutuhkan dirimu lagi untuk memberantas mesumers,” Rayya melambaikan tanggannya dengan riang.
“Zita sayang sama Tika. Maaf telah memaksa Tika keluar dari cangkang,” Zita memeluk Tika yang terus berlinang air mata.

“Maaf telah membuat perjuangan kalian sia-sia.” Tika terus menerus meminta maaf. Sebenarnya aku masih tidak puas dengan hasil itu. Namun apa yang bisa ku katakan lagi. Kami telah memaksa Tika berada di ujung jurang, memilih antara kami dan orang tuanya.

“Tidak ada yang sia-sia. Semua bukti dan kasus ini sudah kami catat dan simpan dalam file yang rapi. Dan bila suatu saat nanti si Badrul itu kembali berulah, kita bisa menghajarnya habis-habisan,” ucap Rayaa sambil ditimpali anggukan Zita.

“Kamu adalah Srikandi yang begitu pemberani Tika. Selamanya kamu adalah bagian dari SPW, Srikandi Pembela Wanita,” ucapku dengan senyum yang mengembang.
“Ih, norak!” celetuk Rayya.
“Memangnya kamu tidak norak?” godaku.
“Aku biar norak tapi keren lho!” Rayya tidak mau mengalah.

“Tapi SPW top banget lho,” celetukan Zita membuat aku dan Rayya menoleh. Kami memasang dua buah jempol tanda setuju. Tika memeluk kami sebelum melambai dan menghilang di balik pintu keberangkatan.

Dering telepon genggamku terdengar, “Yah, ada apa Tanya?” ucapku santai.
“Klien kita yang ayahnya pemilik Language collage itu membatalkan kontak kerja dengan kita,” ucap Tanya setengah berbisik.

“Lalu,” tanyaku lagi.
“Kamu sudah dengar bukan, kasus ayahnya itu? Bahkan calon menantunya itu segera memutuskan pertunangan hari itu juga. Oh .. iya, putranya ingin berbicara denganmu,” aku mendengar Tanya berjalan dan menyerahkan telepon genggamnya pada pemuda itu.

“Terima kasih,” ucap pemuda itu lalu mengakhiri sambungan itu.
“Pemuda yang malang,” ucap Zita penuh perhatian.

“Dia ganteng lho!” promosiku.
“Tidak, aku masih trauma dengan pria,” dan kami tahu pasti ada cerita di balik traumanya itu.

“Rayakan keberhasilan kasus pertama kita!” teriakkan Rayya memekakkan telinga. Untung saja kami telah terbiasa dengan suara khasnya itu.
“Hidup SPW, Srikandi pembela wanita,” ucap Rayya. Namun cahaya wajahnya meredup saat melihat sebuah motor yang melintas tepat di depan kami.

Aku dan Zita menariknya menuju mobilku yang terparkir di lapangan parkir bandara. Rayya kembali ke dunia sesaat setelah aku bertanya. Sepertinya dia menyembunyikan sebuah masalah dengan pengendara motor tadi.

Naluriku berkata kasus ke dua menunggu SPW beraksi.

Catatan :
1. Kasus Tika memang dihentikan saat ini. Namun kami yakin suatu saat kami dapat menyeret Badrul ke penjara. Sepertinya kami butuh seseorang yang mengerti tentang hukum.
2. Aku harus mulai fokus pada Rayya. Sikapnya sedikit aneh.

Read previous post:  
135
points
(799 words) posted by redscreen 10 years 43 weeks ago
84.375
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | Redscreen | dewasa | pelecehan | wanita | SPW
Read next post:  
90

baguus

80

baguuus

80

baguuus

90

kiah..... knp si badrul cuma begitu aja
rasa na ga adil...

tapi nice deh..
lanjut

munggilku ini yang benar bagaimana ya?

munggilku ini yang benar bagaimana ya?

dalah ini yang bener apa ya?

kukatan ini Kukatakan apa kukatan? Tulisannya tolong diperbaiki ya yang bagian kukatan.

Byk typo yak. Tar aku perbaiki. Thx.

70

Nice story...

90

Kak cat.. Br smpet baca smua kisah spw.. Wkwkkww. Tema yg diangkat mantep.. Jd nanti kasus ke 2, di lanjutin oleh siapa? :p
Btw, ak dpt inspirasi crita dr kisah spw ini.. Boleh kutulis nda ya? *minta ijin dl sm pserta kolab* wkkwkw

He5, selama tdk menganggu jalur n alur spw silahkan saja.
SPW yg lain, ijin diberikan nda?

He5, selama tdk menganggu jalur n alur spw silahkan saja.
SPW yg lain, ijin diberikan nda?

100

sukurin Badrul!! huh!

oke Ka.. ini kasus sudah berakhir yah... hiks.. siap2 kasus selanjutnya... kyaaa

Siap2 kasusnya rayya wkwk

90

:)
ga taw awalnya jadi komennya cuma terus berkarya..
salam kenal.. ;)
mampir tempatku yaa..

100


asiiik, udah dilanjuut...
.

Quote:
“Bukti apa? Pengakuan gadis bodoh yang mengharapkan bea siswa walaupun telah kukatan bahwa semua tindakannya sia-sia. Dia merayu, menebar godaan dan memasang perangkap. Untung saja saya adalah pria yang sangat terpelajar dan santun sehingga tidak tergoda. Namun aku tetap berusaha membantunya,” ah .. pembelaan diri yang sangat indah mengalun keluar dari mulut Pak Badrul.

Baca yang di atas ini bikin saya pengen tonjokin Pak Badrul.
.
Penutupan kasusnya memang kurang memuaskan sih, Kak, tapi, entah kenapa, saya yakin kasus ini bakal ada lanjutannya.
Hahaha. Semoga aja.
.
Wah, butuh pengacara, ya?
Alamat ada tokoh baru nih... Cewek atau cowokkah?

90

uhuy..
kasus pertama usai..
kenapa ya saia masih merasa gak puas..?
*maap*
cem para penulisnya ini pengen segera mengakhiri kasus pertama..
*maap lagi*
bagian yg mustinya bisa di-explore n di-exploitasi lebih jauh dibiarkan teronggok begitu saja..
*masih maap*
^^v
~
masih ada typo mbak..
~
ma'apkanlah saia..
sungguh saia sangat cerewet..

100

Maaf,Cat. Gara-gara selalu saya tunda demi alasan 'pengeditan', wasiat "100 Kitab" yang sudah saya ketik di MO.Word tidak bisa terbuka. Tertulis corrupt. Sepertinya saya harus bersusah payah dari awal lagi.
Sekali lagi maaf...
begitupula dengan ketikan saya "Sheila", akan saya revisi...jangan lupa mampir jika telah selesai. Saya akan berusaha memperbaikinya sampai betul-betul bagus T_T

80

ini 'aku' nya Renata, bukan, tante...?
pas yang bagian badrul membatalkan untuk memakai WO-nya Renata, apakah pas di language college itu Renata ikut, berarti badrul membatalkan memakai WO Renata karena Renata ikut terlibat dalm penggerebekan Badrul thd Kartika...?

oya, tante cat,, msh ad typo di antaranya:
ke empat --> keempat
di jalankan --> dijalankan
bea siswa --> beasiswa
di suntikkan --> disuntikkan
di jalankan --> dijalankan

maafkan saya yg cerewet, Tante....

aku nya renata. pak badrul memang tidak mau pake wo nya nata.

tp anaknya masih mau pake. cuma terakhir di batalkan krn calon pengantin wanita memutuskan pertunangan.

typonya banyak yak .. thx ya suarra

90

*pengumuman, siapa yang berkenan menjadi pengacara tim SPW, harap segera hubungi kumiiko, roger :D
mantap kak, yap.. mari berburu pengacara ^.^

100

lupa rate hehe

judulnya ganti ya kak ? Hehehe. Case pertama ditutup dengan hasil yang tidak terlalu memuaskan, tapi emang keadaan hukum di indonesia gitu hehehe.
Teruskan SPW!! :D *charlie angel'snya indonesia hahaha.
Anyway kalo dijadiin buku berseri keren kak :D

80

mbak Cat, aku suka lupa sama karakter2 tokohnya..
bagaimana kalau di tiap awal cerita ada pengenalan singkat tiap tokohnya, misal si ini yang profesinya ini, atau bagaimana, untuk mengingatkan pembaca tentang background mereka di cerita-cerita yang telah lalu..