Tebing Cahaya

"Ada cerita apa saja?" seorang pria tampan berusia 20 tahun terlihat sibuk mengamati hutan tropis yang baru kali pertama diinjaknya. Ada nada penasaran yang tersirat di wajahnya yang teduh dan unik. Entah mengapa, rambut hitam lurus dipadu dengan wajah asli Indonesianya mampu membuat siapapun terpesona ketika melihatnya.

Setidaknya itu yang ingin diungkapkan Ahyi Sunelok pada Roni Amarfi, pemilik villa yang saat ini sedang dikelola ayahnya sebagai tukang kebun.

"Banyak sekali." Ahyi menjawab santai seraya mengulum senyum penuh rahasia. "Di daerah Lembang, hanya desa Tanpo Aranglah yang paling banyak memiliki cerita legenda. Hhe,."

"Aku jadi benar penasaran." Roni yang semula sibuk berjalan-jalan mengitari hilir sungai kecil yang berada di dekatnya, berdiri diam untuk menoleh gadis yang bernama lengkap Ahyi Sunelok, yang saat itu hanya duduk-duduk di salah satu batu terbesar yang berada di sekitar sungai tak bernama itu. “Bisa Kamu ceritakan legenda di desa ini?” Roni kembali menyisiri pemandangan sekitar sungai yang menurutnya indah. Sesekali ia mendendangkan alunan siul dari bibirnya, yang entah kenapa, terlihat seperti selalu sedang tersenyum.

“Tentu, saya sedang mimikirkannya.”

Melihat Ahyi yang sedang berpikir, tiba-tiba ia teringat dengan sebuah pesan yang telah seseorang titipkan padanya. Sebuah pesan yang barangkali akan membuat orang yang bersangkutan merasa kembali tidak nyaman. Namun,.

“Oya Ahyi, apa tidak sebaiknya kamu memaafkan Ridhan.” Roni tiba-tiba mengalihkan perhatian Ahyi dari pikiran ‘dongeng’ ke persoalan tentang Ridhan. “Kupikir Ridhan sangat menyesal karena melakukannya padamu. Ia bahkan hampir tak pernah kelihatan tersenyum karena merasa bersalah.”

Memori memalukan itu tiba-tiba kembali terngiang di pikiran Ahyi. Sebagai penjaga vila yang baik, seminggu yang lalu Ahyi menyambut kedatangan keluarga Roni dan Ridhan ketika mereka datang untuk berlibur. Lalu bukannya berjabat tangan, Ridhan tiba-tiba mencium pipi Ahyi di depan ayah dan ibunya. Sejak saat itu, Ahyi tak ingin bertemu dengan Ridhan.

“Katakan kalau aku sudah tidak marah dengan Ridhan.” Kata Ahyi yang wajahnya mulai terlihat cemberut. “Tapi tidak apa-apa, kalau itu dilakukannya lagi aku jadi tidak boleh segan-segan membuatnya merasa bersalah seumur hidup, hhe..” Ahyi nyengir sambil memeletkan lidahnya.

Roni Amarfi anak orang kaya. Ia memiliki saudara kandung yang bernama Ridhan Amarfi. Usia Roni yang lebih muda dibandingkan Ridhan tidak mengindikasikan kalau sosoknya lebih kekanakan dibanding kakaknya.

“Mengapa Kamu memandangiku?” Roni tertawa seraya menggoda Ahyi karena tertangkap basah sedang terus-terusan memandangi dirinya. “Apa ada sesuatu yang salah padaku?” Tanyanya sambil mengerutkan kening.

“Uh-oh gak ada kok.” Wajah malu Ahyi langsung memanas, mengubah warna kulit wajahnya yang semula kuning langsat berubah menjadi langsat matang—bahkan mungkin hampir busuk karena terlalu matang. Saking malunya, Ahyi bahkan hampir saja tergelincir dari topangankedua tangan di dagunya. “ A-aku hanya berpikir, cerita apa yang bagus kuceritakan untuk Roni.” Ungkap Ahyi sambil berusaha membalikkan suasana dengan cengiran di wajahnya. “Setiap orang pasti memiliki selera yang berbeda, aku jadi memikirkan cerita seperti apa yang sebenarnya diinginkan dan disukai Roni.”

Dari pinggiran sungai, Roni dapat melihat tebing yang mengelilingi arah kelokan sungai tanpa nama ini. Dan asiknya, pemandangan di tebing ini mirip dengan tempat wisata Green Canyon, hanya, tempat ini masih jauh lebih bersih dan memiliki keindahan lainnya yang tak terkira. Seperti ketika kita berkunjung ke tebing kala malam tiba, ribuan hingga jutaan kunang-kunang akan keluar menghiasi tebing.

"Dahulu ketika kerajaan Sunda masih memimpin, ada banyak kejadian yang mengejutkan." Seru Ahyi penuh semangat. Dilihatnya Roni yang dengan sabar terus mendengarkan ocehannya. Wah, mata yang benar-benar indah.

"Hha, sekarang pun sebenarnya ada banyak kejadian yang mengejutkan, kan?" Roni sedikit mengerutkan keningnya agak bingung. Namun ia masih tertawa. Penasaran dengan kelanjutan kisah yang akan diceritakan Ahyi.

"Tapi benar nih, mau kuceritakan, Ron?" Tanya Ahyi ragu. Ia sedikit-sedikit juga merasa tidak enak jika pada akhirnya ia membuat orang yang sedang bersamanya merasa bosan atau bahkan tak enak. Ah,. Jangan lah. Jangan sampai.

"Oh, coba kutebak. Kudengar ada cerita di balik tebing cahaya ini." Setelah sebelumnya Roni menyempatkan diri untuk menggaruk-garuki kepalanya yang tidak gatal, kali ini Roni malah mengganti target garuk-garuknya dari kepala menjadi dagunya. Berlagak seperti seorang pemikir.

"Wah, Roni teh yakin mau kuceritakan yang itu?" Tanya Ahyi ragu. Awalnya, ia tidak keberatan jika ia harus menceritakan cerita-cerita legenda di Tanpo Arang. Tapi, kalau menceritakan dongeng tentang tebing cahaya. Oh,. Seharusnya Ahyi curiga sewaktu mendengar kalimat Roni yang ingin didongengkan cerita-cerita dimulai dari tempat ini. Tebing Cahaya.

"Loh apa salahnya?"

"Gak papa." Ahyi menimang sesaat, sebelum akhirnya memulai untuk bercerita. "Dulu ada pangeran dari Sunda yang sangat gagah." Ahyi menerawang dalam. "Saking gagah dan perkasanya, banyak gadis, baik yang keturunan petani hingga bangsawan, tertarik dengan Pangeran."

"Pangeran tidak pernah jatuh cinta dengan siapapun. Ia selalu memikirkan kemajuan kerajaan sambil sesekali bermain ke Tebing Cahaya. Sejak kecil pangeran ditinggal keluarganya yang mati di medan perang."

Roni mengangguk paham. "Lalu?"

"Sebenarnya pangeran sulit jatuh cinta hingga ia bertemu seorang gadis di Tebing Cahaya." Ahyi berhenti sejenak, sekedar mendiamkan bibirnya berhenti berceloteh. Roni menunggu hingga Ahyi melanjutkan ceritanya. "Pangeran semakin rajin mendatangi Tebing Cahaya demi bertemu gadis yang tak mau memberitahu namanya. Dan tanpa disadari, Pangeran semakin mencintai gadis tersebut."

"Sayangnya perempuan itu takut kalau Pangeran mempermainkan perasaannya, setelah mengetahui perasaan pangeran, perempuan itu tidak pernah lagi datang ke Tebing Cahaya." Ahyi mengakhiri. "Jadi, begitulah ceritanya." Tak ada sisi menariknya, namun justru paling meninggalkan kesan bagi orang-orang desa.

"Tidak seistimewa yang kukira sebelumnya." Roni mengernyitkan kening.

"Memang bukan ceritanya yang membuat kisah ini menjadi sangat terkenal." Ahyi mengangguk setuju sebelum melanjutkan berbisik, "tapi faktor mistis di balik cerita ini."

"Konon, jika ada dua pemuda-pemudi tanpa sengaja melihat atraksi kunang-kunang di Tebing Cahaya, mereka akan saling jatuh cinta. Namun, cinta mereka tak pernah bersatu. Tepat seperti yang dialami pangeran"

"Itukah yang dimaksud orang-orang? Cinta tumbuh di antara dua hati yang berbeda, namun tak bisa bersatu."

"Begitulah." Ahyi mengangguk. Senang karena orang yang didongenginya paham dengan ceritanya.

"Berarti kita harus secepatnya pargi dari Tebing ini." Kekeh Roni lembut ketika menyadari hari hampir malam. Ia tidak percaya tahayul. Tapi ia juga tak ingin melihat kunang-kunang bersama Ahyi. Ia tak ingin mengambil sedikitpun resiko dengan orang yang sudah ia cintai. "Aku tidak mau melihat kunang-kunang denganmu."

"Hhe,. " Ahyi tertawa mendengar pernyataan Roni. "Siapapun pun tidak mau hidup terpisah dengan orang yang disukai, kan?" Ahyi bangkit dari tempatnya semula duduk, sedikit lelah karena seharian ini mengantar Roni keliling desa sambil bercerita-cerita.

"Kamu lelah?" Roni merasa bersalah. Seharusnya ia tidak memaksa kehendaknya pada Ahyi untuk menemaninya. "Berarti aku harus mengantarkanmu pada Bude sebelum dimarahi ayahmu." Goda Roni tak tahan.

"Tidak apa-apa, biasa kok." Ahyi berkilah. Siapa sih yang tidak mengenal Ahyi, gadis paling enerjik sampai-sampai capek pun tidak kelihatan. Tapi kali ini aneh. Batin Ahyi semakin tak mengenak. Namun perasaan itu tetap ditepis gadis manis itu dengan penuh percaya diri. Ia tidak suka memelihara perasaannya terus tak mengenak.

Hutan di desa ini memang tidak lebat, namun nuansa alaminya tak pernah sedikitpun surut karena belum banyak orang kota yang mengetahui keindahannya. Sulur-sulur akar yang menonjol di tanah dapat ditemukan di mana-mana, tertutup oleh tanaman liar yang berkembang biak di tanah kawasan hutan hujan. Saat itu, hari sudah sore dan kira-kira satu jam lagi malam akan segera datang. Pandangan mata pun semakin lama semakin terbatas. Dan sebelum Ahyi sempat menyadari, salah satu sulur tersembunyi menahan langkah kakinya dengat tiba-tiba, memaksanya kehilangan keseimbangan yang hampir rapuh karena kelelahan. Tubuhnya yang kecil terjatuh, lalu terguling hingga menuju dasar tebing yang miring sebelum Ahyi sempat meminta pertolongan Roni.

Lalu di sinilah Ahyi, di salah satu dasar jurang. Saat ini Ahyi hanya bisa memandangi suasana malam di langit karena toh kakinya tak bisa berjalan. Langit di desa berbeda dengan langit kota. Setelah hampir setahun mengenal keluarga Amarfi, Ahyi banyak mendengar cerita langit malam di kota besar. Dan setelah mendengar, biasanya Ahyi hanya geleng-geleng kepala, tak menyangka kalau bintang di kota sulit untuk dicari, kecuali jika seluruh lampu kota serempak dipadamkan.

Dalam diamnya menunggu, siluet cahaya asing tiba-tiba muncul dari celah-celah jarinya yang menindih tanah, lalu terbang semakin lama semakin banyak. Sebuah keindahan tiada tara yang paling tak bisa Ahyi tolak. Dan bukannya mengasihani diri karena baru saja terjatuh, Ahyi bahkan rela bermalam di hutan demi menikmati pemandangan indah kunang-kunang. Sangat rela sebelum akhirnya ia melihat sosok Ridhan berdiri di hadapannya dengan sebuah senyum yang sulit ditebak.

*

Paginya, Ahyi tidak terkejut ketika kembali bertemu Ridhan. Pertemuan pagi itu telah membuat batinnya semakin tak enak, terutama setalah apa yang ia alami bersama Ridhan kemarin.

"Kakimu tidak apa-apa, kan?" Tanya Ridhan. Ia sengaja menemui Ahyi untuk menanyai keadaannya setelah kemarin ditemukan tak bisa berjalan di dasar Tebing Cahaya.

Sebelumnya, Roni yang tidak mampu menolong Ahyi seorang diri langsung memanggil orang-orang desa untuk membantu pencarian. Beruntung, Ahyi langsung ditemukan Ridhan tidak lama kemudian.

"Aku baik-baik saja." Ahyi meringis. Ia berterima kasih pada Ridhan karena jika lebih lama terdampar di tebing sedikit saja, kedua orang tuanya dapat semakin khawatir. Untunglah luka yang didapat Ahyi hanya sebatas memar. "Terima kasih. Belum sempat bilang gara-gara terlanjur ketiduran." Ahyi menggigit bibirnya sebelum akhirnya nyengir kuda.
"Yang penting kamu baik-baik aja. Kamu membuatku khawatir." Ridhan duduk di bangku rotan, di samping Ahyi, begitu ditawari.

"Kenapa khawatir? Aku asli gunung. Bermalam di hutan dalam keadaan sekarat tidak akan membuatku langsung mati dalam 24 jam." Kalimat polos Ahyi memancing tawa Ridhan.
"Mana mungkin aku gak khawatir kalo aku suka kamu." Ridhan tertawa, sedikit menggoda.

Hati Ahyi langsung mencelos dibuatnya. "Bercanda, kan," ia tertawa.

"Serius." Ridhan melanjutkan kalimatnya, meyakinkan kebingungan di wajah Ahyi. "Kamu gak perlu mikirin sekarang. Karena kamu berbeda dengan gadis lain di Jakarta," Aku Ridhan tulus.

Jantung Ahyi bergoncang tak karuan mendengar pengakuan Ridhan. Kalau saja hati diibaratkan seperti bumi, maka guncangan di dada Ahyi akan sukses meluluhlantahkan bumi seisinya. Wajah Ahyi pucat.

"Ah, maaf. Alasanku datang bukan untuk mengatakan hal tadi, kok!" Ungkap Ridhan membuka bungkusan kertas yang dibawanya. "Aku mau kamu melihat hasil potretku." Ridhan menyerahkan setumpuk hasil potretan foto yang baru saja ia dicetak.

"Ini—"

"Sejujurnya aku tidak tahu tentang kecelakaan yang menimpamu kemarin," jelas Ridhan. "Sewaktu mengejar potret kunang-kunang, kameraku menangkap sosokmu." Lanjutnya lagi.

"Ini aku?" Ahyi meragu.

"Tentu!" Ridhan menunjuk foto Ahyi yang terlihat gembira bersama kunang-kunang. "Kamu cantik dan sangat natural.” Ridhan memperhatikan wajah Ahyi lekat. "Aku tak pernah melihatmu sebahagia itu.”

Degup jantung Ahyi tak mau mereda.

"Sebelum Roni menelepon untuk mencarimu, aku tak ingin mengganggu kesenanganmu,”

Ahyi menatap potretnya, namun tidak ingin terlalu lama memandanginya. Sebelum memutuskan pergi Ridhan mempersilahkannya mengambil foto sebanyak yang Ahyi inginkan. Namun Ahyi tidak ingin mengambilnya. Ia tidak suka melihat dirinya tidak bergerak karena terkurung di dalam lembaran foto. Lalu, tepat ketika ia baru saja melepas kepergian Ridhan, Roni datang menghampirinya. Roni pun sempat menyapa hangat Ridhan yang saat itu berpapasan dengannya. Degupan di jantung Ahyi semakin tak menentu.

"Aku ingin mengajakmu jalan. Keberatan?" Tawar Roni kala itu.

Sebenarnya Ahyi ingin menolak. Ia tidak enak jika harus menghianati perasaannya pada Roni setelah pengakuan yang diucapkan Ridhan. Hanya, ia sudah berhutang budi pada Roni karena sampai mengerahkan warga untuk menolongnya.

"Tidak apa-apa." Tawa sehat Ahyi memancing Roni. Mereka tertawa hingga tiba di salah satu gundukan tanah yang menyerupai bukit. "Apa kamu hanya ingin menanyai keadaanku?"

"Bukan cuma itu." Roni ragu menjawab sebelum berlanjut ke pokok pembicaraan yang ingin segera diutarakan pada Ahyi. "Kamu melihat kunang-kunang bersama Ridhan?"

Ahyi menangguk diam. Ia salah tingkah.

"Aku tidak suka tahayul,” Lanjut Roni. “Kuharap kamu sependapat denganku." Roni menasehati tegas.

"Apa maksudmu?"

"Aku suka kamu, Ahyi." Roni menelan ludahnya dalam sambil menatap arah menghilangnya Ridhan. “Sudah dari dulu.”
Ahyi tidak bias berkata-kata. Namun kali ini ia tidak ingin terdiam untuk keduakalinya, lantas diapun berbicara.

"Aku anak pelayan." Hati Ahyi mencelos, takut kata-katanya menyakiti Roni. Seharusnya ia senang menerima pengakuan cinta Roni. Jantungnya berdegup semakin meluluhlantahkan keinginannya membina hubungan baik antara kakak-beradik Amarfi. Siapa yang menyangka jika selanjutnya benih cinta di antara mereka bertiga tumbuh menjadi tunas.

"Kamu kok masih memikirkan status sosial?" Roni tidak melanjutkan kalimatnya. Ia paham dengan arah pembicaraan yang diinginkan Ahyi. Gadis di hadapan Roni sedang sulit mengatur perasaannya yang terkejut. "Tidak perlu dijawab sekarang.” Ungkap Roni sambil tersenyum tulus.

*

Beberapa jam berikutnya, di sebuah rumah yang sangat megah.

"Titip kamera, ya." Ridhan meletakkan kameranya bersama sebuah bungkusan pada meja di dekat Roni sementara ia mulai membenahi sendiri barang yang akan dibawa kembali ke Jakarta. Roni mengangguk setuju dan memasukannya ke dalam tas bepergiannya, tepat sebelum beberapa lembaran kertas di dalam bungkusan tersebut berjatuhan.

Wajah Roni menegang. Lembaran tersebut ternyata adalah beberapa hasil potret Ridhan, dengan Ahyi sebagai model. Sekilas, Ia langsung paham kapan tepatnya gambar itu diambil Ridhan.

Tanpa disadari Roni, keterkejutannya tak lepas dari pengamatan Ridhan. Roni memperhatikan beberapa potret lain yang berada di dalamnya.

"Lo suka Ahyi?" Tanya Roni. Ia tak peduli jika kalimatnya terkesan penuh selidik. "Tumben suka ama perempuan gunung." Roni tertawa, berharap Ridhan terpancing.

Tetapi Ridhan tidak tertawa. Ia membiarkan Roni melihat seluruh hasil potretnya karena toh ia memang ingin menunjukkan potret ini pada saudaranya."Sebenarnya dia lebih cantik dari perempuan yang pernah gue temui." Baru akhirnya Ridhan tertawa setelah mengungkapkan kalimatnya.

"Selera Lo berubah." Roni menarik nafasnya dalam, membereskan kembali hasil Potret Ridhan sebelum memutuskan pergi mengepak barang ke dalam bagasi. “Biar gue yang beresin di dalam bagasi.” Tawar Ridhan normal ketika memperhatikan tasnya dan tas Ridhan telah selesai dibenahi.

Sebetulnya, Roni telah menduga. Karena sama seperti dirinya, Ridhan sudah menyukai Ahyi sejak pertemuan mereka yang pertama. Jauh sebelum di Tebing Kunang-kunang.
Ridhan memperhatikan adiknya yang mulai menghilang dari pandangannya. Hatinya sedikit bergejolak memperhatikan sikap saudaranya yang berubah dingin setelah melihat hasil potretnya yang bergambar Ahyi.

Gue juga tau Lo suka Ahyi, Ron. Gak tau deh, sejak kapan selera kita dengan perempuani jadi sama. Pun gue juga khawatir kalo pada akhirnya harus kehilangan salah satu dari kalian.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer infobisjaka
infobisjaka at Tebing Cahaya (10 years 18 weeks ago)

Go Green, Yes.

Writer cat
cat at Tebing Cahaya (10 years 18 weeks ago)
70

Aku blm pernah lht kunang2.
Terlepas dr cr penulisan yg blm rapi dan percakapan yg nanggung, aku tetep suka.
Atur aja paragrapnya lagi.
Practices makes perfect.

Writer cat
cat at Tebing Cahaya (10 years 18 weeks ago)
70

Aku blm pernah lht kunang2.
Terlepas dr cr penulisan yg blm rapi dan percakapan yg nanggung, aku tetep suka.
Atur aja paragrapnya lagi.
Practices makes perfect.

Writer cat
cat at Tebing Cahaya (10 years 18 weeks ago)
70

Aku blm pernah lht kunang2.
Terlepas dr cr penulisan yg blm rapi dan percakapan yg nanggung, aku tetep suka.
Atur aja paragrapnya lagi.
Practices makes perfect.