One Year Six Months

One Year Six Months
Original Fiction by Renshi

Hiruk pikuk suara manusia dalam satu ruangan begitu memekakkan telinga. Aku bisa maklum karena manusia-manusia yang beranjak dewasa di dalam ruangan itu sedang melepas kerinduan mereka dengan teman yang sudah lama tidak ditemui. Hari ini memang hari reuni SMA setelah lebih dari satu tahun berpisah semenjak kelulusan. Yahh, dibilang reuni juga, sebenarnya bukan reuni resmi. Hanya acara kumpul-kumpul teman lama.
Sudah satu jam sejak acara dimulai. Aku masih asyik menyimak cerita-cerita mereka setelah lulus dari SMA. Tapi kadang tanpa sadar mataku menelusuri seluruh ruangan untuk mencari sosok gadis itu. Ia memang belum menunjukkan batang hidungnya sejak tadi.

Pintu ruang makan itu terdengar berbunyi, menyita perhatian seluruh penghuninya. Mataku tertuju pada sosok yang baru saja datang. Seorang gadis manis yang tersengal karena tergesa-gesa menuju ruangan itu. Rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan tergerai, membuatnya terlihat lebih manis. Ia mengenakan you can see kuning dengan dilapisi cardigan hitam lengan panjang dan rok lipit hitam tepat di bawah lutut. Ia terlihat lebih feminine dari terakhir kulihat. Tanpa sadar aku tersenyum geli sekaligus lega sembari melepaskan kerinduan yang amat dalam terhadapnya.

“Maaf, terlambat,” ucapnya dengan suara bening yang membasuh hatiku begitu saja. “Aku bawa orang. Nggak apa-apa, kan?” lanjutnya lalu menarik seorang laki-laki di belakangnya.

Sekali lihat saja aku tahu. Laki-laki itu kekasihnya. Laki-laki yang terlihat ramah dengan senyum lembutnya. Laki-laki yang tampan dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Laki-laki yang meski terlihat lemah namun tegas dan memiliki bentuk tubuh yang bagus yang dilapisi kulit putih yang mulus. Dia yang akhirnya menjadi milik gadis itu. Dia yang akhirnya memutuskan harapanku untuk kembali berjuang mengambil hati sang gadis.

Teman-teman yang lain mulai terfokus pada gadis yang dikenal belum pernah pacaran selama masa sekolah itu. Mereka takjub, akhirnya gadis berhati keras itu memiliki burung dalam sangkar hatinya. Tapi aku tidak bisa setertarik itu. Semakin lama semakin membuatku kesal dan sesak. Sesuatu di dalam langit-langit tulang rusuk berdenyut-denyut tak menentu. Aku beranjak dari tempat itu, ingin pergi secepatnya.

“Aku pulang,” ucapku sembari menahan kesal yang semakin menjadi-jadi.

“Eh? Secepat ini?”

“Iya. Aku masih ada tugas kuliah yang harus kukerjakan secepatnya.”

Tanpa sengaja mataku bertemu dengan matanya. Aku bisa melihat ia tersentak, merasa bersalah, dan tak tahu harus berbuat apa. Ia tersenyum padaku, senyum yang benar-benar dipaksakan. Seperti senyum iba di mataku. Aku tak perlu dikasihani seperti itu. Sesegeranya aku pergi dari situ sebelum benar-benar merusak suasana nyaman penuh kerinduan dalam ruangan itu.

Aku duduk di pojok kedua paling belakang dalam bus yang akan mengantarkanku pulang. Untung sekali bus ini tidak begitu penuh dengan gerombolan manusia karena ini masih jam kerja. Aku jadi lebih mudah menenangkan diri. Aku melihat tiang listrik dan pepohonan di jalanan seakan bergerak cepat menjauhi kami. Lalu sebuah lagu terlantun dari pengeras suara di tiap sisi bus ber-AC itu.

Sew this up with threads of reason and regret
So I will not forget, I will not forget
How this felt one year six months ago
I know I cannot forget, I cannot forget

Sialan! Lagu itu seakan mengejekku. Aku tidak bisa melupakan perasaanku dan aku masih menyesali apa yang telah kulakukan tepat satu tahun enam bulan lalu, saat pelepasan seragam abu-abu putih. Lagu itu membuat lembaran-lembaran memori masa lalu kembali terbuka.
______________________________________________________________________________

Aku pertama kali kenal dengannya saat tahun ajaran baru di kelas tiga. Aku tidak pernah berpikir bahwa kami akan menjadi partner sekaligus sahabat yang baik. Saat itu tanpa persetujuanku, aku menjadi wakil ketua kelas di tahun ini dan dia yang menjadi ketua kelas.

Namanya Alena. Gadis yang tegas dan tidak feminine. Aku tidak bisa menyebutnya tomboy juga. Kadang-kadang ia menunjukkan sisi kewanitaannya. Rambutnya pendek dengan poni yang sering dijepit ke samping agar tak mengganggu penglihatan. Yang sering ia lakukan mendengarkan lagu melalui headset yang terpasang di telinganya sembari membaca komik-komik yang kadang merupakan komik cewek banget. Benar, kan? Ia tidak tomboy, tapi ketegasannya yang sedikit kasar tidak bisa membuatnya terlihat feminine.

Aku yang pada dasarnya tidak menerima jabatan baruku di tahun ini sering tidak bekerja dengan baik dan membiarkan Alena bekerja sendirian. Masalah piket pun aku satu hari dengannya. Awalnya memang aku dibiarkan olehnya begitu saja. Tapi melihat kelakuanku yang tidak berubah, ia mulai kesal.

Suatu hari dimana aku harus piket kelas, aku bolos dan malah asyik main domino di belakang kelas bersama laki-laki yang lainnya. Hari itu pertama kalinya aku bicara dengan Alena dan melihatnya marah besar. Ia memukul kepalaku cukup keras dengan buku yang digulung. Aku refleks menoleh dan menemukannya sedang melipat tangan serta memandangku marah. Wajahnya merah saking kesalnya.

“Apa?”

“Kau lupa kalau kau hari ini piket, hah? Dasar idiot!”

“Apaan, sih? Nggak usah marah-marah begitu.”

“Bagaimana aku tidak marah, hah? Tiap kali piket, kau selalu nggak membantu!” ia memaksimalkan suaranya.

“Aku memang malas, kok.”

“Kau ini manja banget, ya. Kayaknya tiap hari ibumu repot mengurusmu. Jangan-jangan mengikat tali sepatu saja nggak bisa.”

“Hah? Kau mengejekku? Cuma menyapu, sih, aku bisa.”

“Ya, sudah. Sapu, sana. Kalau nggak bersih, kau traktir aku makan.”

Dengan siraman minyak darinya, aku jadi bersemangat sendiri untuk membersihkan kelas. Kubuktikan bahwa aku bukan anak mami seperti kata-katanya. Aku berkecak pinggang merasa sudah menang. Ia melirikku kesal lalu memeriksa seluruh sudut yang kubersihkan. Kurasa tak ada satu debu pun yang tersisa yang bisa membuatnya protes padaku.

“Lumayan.”

Lumayan?! Cuma lumayan, katanya. Sombong sekali bocah itu.

“Yahh, kalau kau niat bisa juga, kan,” lanjutnya kini dengan senyum lembut.

Baru kali ini aku melihatnya tersenyum. Tidak buruk. Ia cukup manis juga dengan senyum itu meski rambut yang dijepitnya itu terlihat culun.
______________________________________________________________________________

Kebersamaan kami dalam mengurus kelas membuat kami menjadi semakin akrab. Bahkan guru-guru sering mengelompokkan kami dalam satu kelompok jika ada kegiatan bersama. Aku pun semakin mengenal dirinya.

Alena adalah gadis yang cukup mandiri tapi kadang ceroboh. Ia kadang lupa membawa pulang handphone-nya yang ia letakkan di bawah laci meja hingga aku harus mengantarkan ponselnya itu sampai ke rumah. Ia juga gadis yang kurang teliti. Aku tahu ia pintar dan bisa dengan mudah menyerap pelajaran yang diterimanya. Tapi ia sedikit bodoh karena sering salah berhitung. Kadang pula ia lupa memberikan tanda negatif pada angka yang seharusnya memiliki tanda itu. Lambat laun, aku mulai tertarik dengan sifatnya lalu tanpa sadar telah masuk dalam sangkar hatinya. Aku mulai jatuh cinta padanya.

Hari ini tanggal 14 Februari, dimana orang-orang bahkan stasiun televisi meributkannya dan menyebut-nyebutnya sebagai hari kasih sayang, hari valentine. Tidak ada hari di mana para wanita lebih sering berkicau daripada hari ini. Semua meributkan cokelat juga laki-laki yang pantas untuk mendapatkan cokelat itu. Aku sendiri cuek dengan hal itu. Sepertinya sama halnya dengan Alena yang diam santai duduk di depanku. Kami sama-sama sedang mengerjakan soal-soal fisika untuk menghadapi Ujian Nasional yang akan diadakan sebentar lagi.

“Alena, Alena…,” beberapa siswi memanggilnya, menghentikannya yang sedang serius memecahkan soal dengan rumus aplikasi.

“Ya?”

“Kau nggak menyiapkan cokelat?”

“Hahahah. Memangnya akan kuberikan pada siapa?” Alena menjawabnya dengan sebuah pertanyaan pula. Aku bisa merasakan mata para siswi itu melirik ke arahku.

“Rangga…. Nggak kau kasih cokelat?” Tanya mereka ragu-ragu. Yaahh, sepertinya beredar gosip bahwa aku dan Alena sudah menjalin hubungan yang lebih daripada persahabatan beberapa minggu terakhir ini.

“Dia nggak butuh, kok,” jawab Alena.

“Yaahh, lagipula aku tidak yakin cokelat yang kau buat itu akan aman atau tidak,” timpalku tanpa berhenti menyalin jawaban yang sudah kutemukan. Aku menyunggingkan senyum nakal karena yakin Alena termakan ejekanku itu.

“Wah, Rangga. Kau pulang lewat mana? Biar kuantar ke rumah masa depanmu, deh,” Alena berucap dengan nada yang baik tapi bisa kurasakan aura kekesalannya dari tiap kata yang keluar dari mulutnya.

Aku hanya tertawa kecil. Alena hanya mendengus kesal dengan tanggapanku yang menganggap hal itu lucu. Ia lalu melanjutkan pekerjaannya, kembali serius bergulat dengan soal-soal fisika yang mampu membuatnya mengerutkan alis dengan kesal. Yah, kadang-kadang aku menikmati ekspresinya yang sering berubah itu.

*****

Aku membiarkan diriku berada dalam sebuah ruangan bernama perpustakaan dan bercinta dengan tumpukkan buku-buku. Bukan karena aku rajin atau apa. Hanya saja aku sedang menyiapkan senjata untuk medan tempur bernama Ujian Nasional yang menghadang di garis depan agar aku bisa selangkah lebih maju. Di ruangan ini bukan hanya ada aku, tapi juga Alena yang entah memang sengaja ingin menemaniku atau memang ingin belajar. Yang jelas ia sedang serius menulis di depanku.

Sesekali aku mengalihkan pandanganku dari buku kimia menuju gadis dengan rambut cacah di depanku. Lembayung jingga yang terbias dari kaca jendela membuat Alena semakin terlihat mengagumkan di mataku. Ia dengan serius tapi santai merangkum buku biologi yang ada di depannya. Entah ada apa denganku saat itu, aku ingin sekali mengerjainya. Jadi aku dengan sengaja meletakan telapak tangan di atas paket biologi yang sedang dibacanya. Aku bisa lihat dari raut wajahnya yang berubah bahwa ia kesal dengan perbuatanku. Ia tidak bicara apa-apa dan berusaha menjauhkan tanganku. Tapi aku semakin menekankan telapak tanganku di atas buku itu. Untuk beberapa saat kami saling beradu kuat dan pada akhirnya ia menyerah dengan mengeluarkan suara.

“Berhenti bersikap kekanakan, dasar idiot!” hujatnya. Darahnya mungkin sudah mencapai ubun-ubun. Aku hanya tertawa kecil.

“Kau benar-benar nggak akan memberikan cokelat untuk siapa pun?” aku mengalihkan pembicaraan.

“Itu….,” ia menggantungkan kalimatnya. Jawabannya yang ragu-ragu itu membuatku penasaran. Aku tersenyum lebar penuh arti.

“Wah, siapa?” tanyaku antusias. Ia berusaha memalingkan wajah yang tampak merona entah karena cahaya senja atau karena ia malu.

“Bukan urusanmu, kan.”

“Ah, payah.”

“… Kau benar-benar tidak mau jika diberi cokelat buatanku?”

“Aku takut tidak aman. Memangnya kau berbakat membuat hal-hal berbau cewek seperti itu?” jawabku seraya tertawa setengah bercanda. Kulihat ia menggembungkan kedua pipinya saking kesalnya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Kau benar-benar nggak bisa menghargai orang lain, ya. Ini untukmu. Terserah mau dimakan atau tidak. Tapi jika kau tidak memakannya, akan kukutuk kau. Aku mau pulang. Sampai jumpa,” ujarnya melemparkan sebuah bingkisan berbentuk balok yang dibalut bungkus kado merah dengan pita berwarna kuning.

Ia pergi begitu saja tanpa menampakkan wajahnya yang benar-benar memerah. Aku sendiri masih melongo menatap bingkisan yang kurasa berisi cokelat itu tergeletak di atas meja. Alena yang itu memberikanku sebuah bingkisan cokelat. Alena yang tak feminine itu dengan susah payah membuat cokelat hanya untukku. Alena yang kaku dan tak peduli dengan hari yang penuh nuansa warna merah jambu itu bersedia membungkus cokelat itu dengan manis. Bolehkah aku berharap? Yaahh, satu hal yang pasti, aku akan memakan cokelat itu bagaimana pun rasanya. Aku tidak ingin dikutuk olehnya.

Sekali kulihat lagi bingkisan berwarna merah itu. Aku tersenyum sambil memungutnya dari atas meja lalu menggenggamnya erat-erat. Diam-diam dalam hati aku sangat berterima kasih dan begitu bahagia.
______________________________________________________________________________

Bulan Maret. Siapa yang akan menyangka si keras Alena akan mendapatkan surat cinta dari siswa lain. Semua siswa di kelas ribut dengan hal itu saat Alena menemukan sepucuk surat beramplop biru laut di laci mejanya. Aku sendiri terkejut dengan hal itu. Tapi kulihat Alena sendiri begitu santai menanggapi hal itu. Tak ada ekspresi keterkejutan yang bisa kutangkap dari wajahnya.

Aku terus menatap lekat pada Alena yang membaca surat dari laki-laki itu. Sesaat aku bisa melihat wajah Alena yang merona merah, tapi ia coba menutupinya dengan berdehem. Aku sedikit kesal dengan reaksinya itu. Kini tampak jelas di mataku bahwa ia senang menerima surat cinta itu. Cih! Aku kesal dengan laki-laki itu. Aku berani bertaruh, laki-laki itu kelewat kuno karena di jaman seperti ini masih saja menyatakan cinta dengan menggunakan surat. Ah, atau mungkin malah ia adalah tipe cowok ganteng yang romantis? Pikiran-pikiran itu membuatku kalut.

Kulihat Alena selesai membaca surat itu. Ia kembali memasukan selembar kertas berbau parfum mawar itu ke dalam amplopnya lalu kembali memasukannya ke dalam laci. Aku menunggu tanggapan dari Alena, tapi ia hanya diam saja. Pada akhirnya ia sadar terus kupandangi. Ia balas menatapku seakan bertanya apa yang salah. Aku yang sedari tadi menopangkan kepala di atas meja, kembali duduk sembari melipat tangan di depan dada dan menghela napas.

“Lalu, jawabanmu gimana?”

“Apanya? Aku nggak tertarik sama sekali. Komitmenku, aku nggak mau pacaran dulu sampai nanti lulus sekolah,” jawabnya sambil tertawa geli. Aku hanya membulatkan bibirku untuk memberi tanggapan. Di lubuk hatiku, aku merasa lega dengan hal itu.

“Rangga cemburu, tuh. Cemburuuu,” beberapa siswa mengompori. Gosip itu masih beredar. Lagipula aku dan Alena tidak terganggu dengan hal itu hingga tak menyangkalnya. Menyangkal sebuah gosip itu satu hal yang membuat repot.

“Diam kalian!” perintahku untuk menghentikan keributan yang mulai menjadi-jadi. Yah, aku memang cemburu. Rasanya ingin sekali aku bilang seperti itu.

Mereka hanya tertawa melihatku terpancing oleh ejekan mereka. Kali ini aku diam saja, membiarkan mereka tertawa sepuasnya. Aku kembali berkutat pada Alena-ku. Ia mulai membaca buku lagi dengan menghadap ke arahku, membelakangi mejanya sendiri. Ia memang sering begitu. Sepertinya ia lebih nyaman duduk dengan meletakkan tangannya di atas mejaku. Kulihat buku yang ia baca, lagi-lagi biologi. Akhir-akhir ini aku memang jarang melihatnya membaca komik. Padahal dulu hampir setiap hari aku melihatnya membawa komik yang berbeda ke sekolah dan membacanya. Mungkin karena kurang dari sebulan lagi Ujian Nasional sudah ada di hadapan mata.

Kulihat Alena begitu serius membaca buku yang ada di hadapannya. Aku kembali menopangkan dagu di atas meja. Aku melirik ke wajah Alena yang sedikit berada di atas pandanganku. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang tampak dari bawah. Dia memang cantik. Bibirnya yang mungil juga hidung tipisnya yang mancung membuat adrenalin-ku berproduksi hebat, membuat tekanan darahku semakin meningkat. Hanya saja jepit yang mengangkat poninya ke samping itu sedikit mengganggu. Tanpa sadar tanganku bergerak mencuri jepit itu dan membiarkan poninya tergerai ke depan.

“Hei..!” serunya yang merasa terusik. “Kembalikan jepitku!”

“Nggak mau,” jawabku santai. Ia menatapku garang. “Alena, kau lebih cantik tanpa jepit ini, percayalah,” lanjutku tersenyum sambil menatapnya lurus. Sesaat Alena terdiam.

“Ya, sudahlah kalau kau menginginkan jepit itu,” ujarnya sembari menutup setengah wajahnya dengan buku biologi, berpura-pura kembali membaca. Padahal aku tahu bahwa ia hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang benar-benar merah dan panas.
Aku hanya bisa menahan tawa kecilku diselingi gemuruh sorak sorai teman sekelas yang menggoda kami. Kurasa mereka juga mendengar ucapan gombalku.

“Kau jangan coba-coba menyantetku dengan jepit itu, ya, meski kau begitu mengidolakanku,” Alena kembali bersuara setelah merasa agak tenang meski rona di wajahnya belum menghilang. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku lagi.
______________________________________________________________________________

Hubunganku dengan Alena semakin dekat. Ia semakin hari semakin bersikap kalem jika di hadapanku. Aku yakin sekali bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama. Teman-teman yang lain juga bilang begitu. Yaahh, sepertinya mereka tahu aku serius menyukai Alena hingga diam-diam mereka sering mengorek informasi untukku dan mendukungku dari belakang. Mereka sangat antusias untuk hal seperti ini, entah kenapa. Mungkin karena mereka penasaran ingin melihat Alena yang kaku itu berpacaran.

Hari ini kuputuskan untuk menyatakan perasaanku. Aku memilih hari ini bukan karena ini hari keberuntunganku atau hari spesial buatku, hanya saja hatiku berkata harus mengatakannya hari ini. Aku hanya takut keberanian itu tidak akan datang dua kali karena mengatakan tiga kata “aku suka kamu” sangat membutuhkan banyak keberanian dan energi. Bahkan beberapa orang akan merasa lemas setelah mengatakannya karena energi-nya melemah atau hilang sama sekali.

Ini perpustakaan. Dan di depanku saat ini ada Alena yang sibuk membaca. Kali ini ia hanya membaca novel, bukan buku pelajaran. Mungkin ia jenuh terus belajar. Aku bisa merasakan degupan jantungku yang semakin kencang di tiap detiknya. Aku bisa merasakan tanganku yang menjadi dingin dan gemetar. Rasanya ingin sekali muntah. Pada awalnya kami hanya berbincang seperti biasa. Tapi entah bagaimana aku bisa menuntunnya ke topik itu hingga akhirnya aku bisa mengucapkannya.

“Aku sayang padamu, Alena,” kalimat itu keluar begitu saja mengikuti aliran pembicaraan.

Aku berhenti menulis dan melirik pada gadis yang di depanku. Aku bisa melihat konsentrasi membacanya buyar. Entah karena cahaya sore matahari atau sirkulasi darahnya berpusat di pipi, aku bisa melihat wajahnya yang merah. Ia berusaha menutupi seluruh wajahnya, membuatku yakin kemungkinan kedua adalah hal yang benar. Aku tersenyum simpul.

“Kenapa menutupi wajahmu, hah?”

“Nggak…,” kali ini ia memalingkan wajahnya.

Aku melipat tangan di atas meja kemudian menopangkan dagu di atasnya. Aku melirik padanya.

“Lalu, jawabanmu?”

“Apanya? Kau nggak mungkin serius. Kau pikir aku tidak tahu dengan sikapmu?”

“Kau nggak bisa bedain mana yang serius mana yang tidak, ya,” ejekku. Ia cukup terlihat kesal, tapi masih kalah dengan rasa malunya hingga ia tidak bisa membalas kata-kataku. “Gimana?” lanjutku bertanya.

“Ng, yaaahh…. Aku butuh keseriusanmu.”

“Kau terima?”

“Belum, bodoh! Aku butuh bukti! Bukti!” ia menjawab cepat.
Aku hanya tersenyum.
______________________________________________________________________________

Bisa dibilang hubunganku dengan Alena masih tidak jelas. Jika disebut sahabat, mungkin lebih dari itu. Tapi disebut sepasang kekasih juga, kurang dari itu. Kami berada di perbatasan antara keduanya.

Aku tahu bahwa Alena juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi ia terlalu kaku hingga tak pernah sekali pun kulihat ia menunjukkan perasaannya. Kalian bertanya kenapa aku bisa seyakin itu? Karena Alena tidak bereaksi apa-apa saat kupanggil dengan panggilan mesra. Kenapa aku harus senang dengan reaksi Alena yang tak memberi tanggapan itu, kalian bilang? Asal kalian tahu, Alena adalah gadis yang tidak suka dipanggil mesra oleh orang lain. Bahkan ia merasa jijik. Tidak bereaksi menurutku adalah suatu pertanda bagus.

Tapi kadang-kadang aku juga ingin melihatnya menunjukan perasaannya padaku. Tiap malam kami memang sering saling membalas pesan singkat. Tapi selalu aku yang memulai pembicaraan dan dia yang mengakhirinya, padahal aku masih ingin berbincang. Aku sepertinya yang lebih agresif, selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan tidak penting kemudian dijawabnya seadanya tapi kadang cukup panjang. Ah, dia memang orang yang mudah bosan. Tapi setiap kali aku bertanya seperti, kau sudah makan?. Ia hanya menjawab sudah tanpa bertanya balik. Entah karena dia orang yang terlalu kaku atau bosan dengan pertanyaan itu setiap hari.

Beberapa kali pernah aku ingin melihat perasaannya. Jadi aku mengarang cerita dan mengisahkannya melalui pesan singkat.

Eh, Alena. Kau tau nggak, aku pernah suka sama cewek di sekolah? It’s not you, ya.

Oh, begitu.

Kau nggak penasaran?

Memangnya kau mau kasih tahu?

Nggak. Haha

Tuh kan. Makanya, percuma kalau aku Tanya. Toh nggak ada hubungannya denganku juga, kan?

Benar, kan? Dia benar-benar keras kepala. Selalu bersikap dingin seperti itu. Lalu beberapa kali aku menyinggung hal itu hingga akhirnya sebuah nama tersebut.

Kamu imut, siiiihhhh…. Tapi cewek yang kusuka itu lebih manis.

Ami, kan? Benar, kan? Hahaha. Akhirnya ketahuan juga.

Oh, kau tahu, ya. Dia cantik, kan? Tapi kau nggak kalah imut juga, kok.

Jelas omonganku itu adalah sebuah kebohongan. Bahkan dengan Ami pun aku tidak begitu akrab.

Sudahlah, nggak usah gombal. Yaahh, dia emang cantik, kok :)

Bahkan ia menambahkan smiley di akhir kalimatnya. Benar-benar keras kepala. Ia terlalu menjunjung harga dirinya hingga tak bisa mengungkapkan perasaannya dengan jujur.
______________________________________________________________________________

Tak terasa sudah bulan Juni. Ujian Nasional telah dilewati dan syukurnya seluruh angkatan kelas tiga di sekolah tahun ini lulus semua. Tidak sedikit yang mendapat nilai baik. Aku juga sudah diterima di salah satu universitas terbaik daerah ini. Alena juga. gadis itu pergi ke luar kota dan masuk universitas swasta yang bagus. Kurasa aku akan terpisah dengannya. Tapi aku tidak mau berpisah tanpa kepastian. Aku masih digantung olehnya.

Selesai upacara perpisahan, aku ingin bicara serius dengannya. Tapi ia pergi dengan teman-temannya sebelum aku sempat menghampirinya, entah pergi ke mana. Baru saja aku mau mengejarnya, seseorang menahan tanganku. Aku menoleh dan kutemui gadis bernama Ami yang merangkul tanganku. Benar-benar, deh. Terpaksa aku menunda pencarianku. Ami menarikku paksa ke dalam kelas, tempat yang sepi. Entah apa yang ia mau.

“Rangga, kau masuk universitas terbaik di sini, ya,” ujarnya berbasa-basi.

“Yah, begitulah,” jawabku. Mataku mencari ke sekeliling luar ruangan dari pintu yang terbuka. Aku masih mencari-cari sosok Alena.

“Kudengar kau selama tiga tahun ini suka padaku, ya?”

Pertanyaannya itu membuatku shock. Entah dapat dari mana ia informasi bohong yang kubuat itu.

“Anu, Ami…. Soal itu, aku bohong pada Alena. Maaf,” ujarku dengan rasa bersalah.

“Ya, aku tahu, kok. Cuma Alena yang ada dipikiranmu setahun ini dan dia satu-satunya gadis yang bisa merebut hatimu di masa sekolah ini,” ujar Ami sembari bersandar pada meja. “Tapi, Rangga…. Asal kau tahu, aku malahan yang selama ini suka padamu, lho,” lanjutnya menatapku lurus dengan senyum penuh ketegasan.

Aku sempat terkejut mendengar kalimatnya dan hanya bisa terdiam. Tawanya yang renyah yang akhirnya memecahkan keheningan. Ia berusaha mengusir rasa sedihnya dan rasa bersalahku. Aku menghela napas pendek lalu tersenyum, mengelus kepalanya dengan lembut.

Ami adalah gadis lincah yang kecil. Tingginya sekitar dua pertiga tinggiku saja. pada dasarnya, dia memang anak yang baik. Ia cukup terkenal di sekolah karena sifatnya yang mudah bergaul dengan siapa saja.

Ia balas tersenyum lembut.

“Nggak usah mengasihani aku begitu. Urus Alena sana!” ujarnya masih dengan senyumnya sembari menyikut perutku.

“Iya, aku tahu,” jawabku seraya menahan rasa sakit.

Di saat itu, Alena masuk ke dalam ruangan. Kulihat raut wajahnya yang bergemuruh. Alisnya terangkat kemudian mengkerut begitu dalam, mengguratkan kesedihannya. Kurasa ia shock karena salah mengartikan keakraban kami. Ia meminta maaf dengan suara yang hampir pecah lalu berlari keluar.

Aku dengan bodohnya masih coba mencerna apa yang telah terjadi sambil saling berpandangan dengan Ami. Gadis mungil itu kembali menyikut perutku, menyadarkanku kembali dan menyuruhku untuk mengejar Alena. Kakiku berderap cepat, mengikuti jejak Alena yang tak bisa berlari lebar karena mengenakan kebaya. Aku menarik tangannya, berusaha menghentikannya dan berhasil. Tapi ia tak mau menampakkan wajahnya hingga terus membelakangiku.

“Kenapa lari, hah?” tanyaku di sela-sela napas yang tersengal. Ia tidak menjawab tapi kurasa ia takkan lari lagi hingga kulepaskan tangannya. “Alena, aku butuh jawabanmu.”

“Rangga, kayaknya aku nggak sanggup buat bilang ‘iya’ padamu. Kau suka padanya, kan? Jangan mempermainkan aku!”

“Bukan, Alena. Aku bohong soal itu. Aku…. Aku Cuma ingin lihat kecemburuanmu, itu saja.”

“Aku nggak bisa. Sudah cukup aku merasa sakit, Ga. Aku nggak mau hubungan yang lebih dari seorang teman. Karena kurasa, kita memang lebih baik jadi sahabat. Kuharap jawabanku nggak merubah kita,” bisa kulihat senyum yang dikembangkannya dengan terpaksa. “Selamat tinggal, Rangga.”
______________________________________________________________________________

Itu hari terakhir aku melihat Alena. Sempat kulihat setetes air mata dari matanya tersapu angin saat ia membalikan badan dan pergi meninggalkanku. Dia bilang kami sahabat. Dia bilang semoga kami tidak berubah. Tapi pada nyatanya, ia yang berubah, tidak pernah lagi menghubungiku. Tak pernah lagi menemuiku. Dia benar-benar gadis kaku yang bodoh.

Aku kesal. Kenapa pada saat-saat terakhir itu ia baru menampakkan kecemburuannya. Kenapa baru saat itu ia menunjukan perasaannya. Kenapa baru hari itu ia menunjukan ekspresinya yang seperti itu. Yah, pada akhirnya aku kesal pada diriku sendiri. Aku menyesal telah membuatnya seperti itu. Telah membuat hubungan kami berantakan karena sebuah kebohongan untuk suatu keegoisan. Dulu kami sahabat, kemudian tersangkut di antara persahabatan dan cinta. Lalu sekarang kami hanyalah dua orang yang berpura-pura tidak saling kenal.

I can tell you that you don’t know me anymore
It’s easy to forget, sometimes we just forget
And being on this road is anything but sure
Maybe we’ll forget, I hope we don’t forget

Lagu itu masih berkumandang di dalam bus yang sepi ini, tak bosan-bosan mengejekku.

So many nights, legs tangled tight
Wrap me up in a dream with you
Close off this eyes, try not to cry
All that I’ve got to pull me through is memories of you
Memories of you, memories of you

I’m falling into memories of you
And things we used to do….

Lagu itu masih dilantunkan melalui speaker-speaker yang terpasang di bus ini. Kulihat keluar kaca jendela bus. Begitu banyak mobil juga motor yang lalu lalang dalam satu arah yang sama dengan bus ini. Di pinggir jalan puluhan manusia lalu lalang, berjalan dengan cepat untuk memenuhi target mereka masing-masing hari ini. Pemandangan yang biasa setiap harinya itu menjadi samar, terhalang oleh beningnya cairan yang tertahan di mataku. Aku berusaha untuk tidak menangis karena aku laki-laki.

Lagu itu kembali mengantarku pada kenangan yang dulu pernah kudapat dari gadis bernama Alena. Kuharap kelak aku bisa mengingatnya sambil tersenyum meski air mataku jatuh saat ini.
______________________________________________________________________________

(Inspired by One year six months – Yellowcard)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer neko-man
neko-man at One Year Six Months (10 years 29 weeks ago)
90

Sad ending...

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at One Year Six Months (10 years 29 weeks ago)
90

Waow! Ceritana mengalir dengan lancar. Asik banget diikuti sampe ahir! Saya bukan penggemar cerita roman, tapi yang ini sederhana yang mampu membuat saya terhanyut! Ky baca teenlit gitu~~ bikin kangen masa sekolah juga heheheehe...
.
Ayo, nulis lebih banyak lagi! Salam kenal~~

Writer Renshirenshi
Renshirenshi at One Year Six Months (10 years 29 weeks ago)

wah, makasih :D
Salam kenal juga

Writer zoelkondoi
zoelkondoi at One Year Six Months (10 years 30 weeks ago)
70

salam kenal

Writer Renshirenshi
Renshirenshi at One Year Six Months (10 years 29 weeks ago)

ya Allah, ada aja yg mau baca cerita sepanjang ini *terharu* #plak.

Makash, slam kenal juga :D