Hp-ku Berdering Lagi

Aku baru saja selesai meng-sms Mas Totti pagi itu. Jam pelajaran ke-3 telah dimulai. Pelajaran Geografi yang bagiku sangat membosankan. Hampir semua siswa di kelas II-3 tidak memperhatikan guru yang sedang menerangkan.

Wuih, perasaanku deg-degan sekali kalau nanti melihat jawaban sms dari Mas Totti. Aku mengerjainya dengan menyamar sebagai orang yang salah mengirim sms kepadanya. Aku sudah berusaha mem-pedekate-nya dengan cara ini sejak lama. Walaupun akhirnya ketahuan juga (yahh, maklum-lah.. ini cara lama buat pedekate oarang yang disukai. Nggak ada ide buat pedekate, sih,…), aku mengaku bernama Sita. Padahal, yang namanya Sita di SMP ini ada atau tidak akupun tak tahu. Aku kan hanya asal saja.

TING….TING…TING….TING, TING, DING.. DING.. DING.. TING…..

Hah? Aku kaget sekali. Bukankah itu lagu ‘For Elise’ yang kujadikan ring-tone hp? Tapi, tadi, kan aku sudah men-silent-kan hp-ku. Buru-buru aku tengok. Apa betul yang bunyi itu hp-ku? Kok, asal suaranya ada di dekatku.

Ternyata benar! Aku segera saja mematikan hp-ku. Rupanya aku lupa untuk men-silent-kan hp-ku. Aku malu sekali. Kenapa aku bisa sampai lupa? Menyebalkan!

Serentak seisi kelas menyoraki aku. Aku malunya bukan main! Guru geografi juga menghentikan sejenak apa yang diterangkannya. Mungkin kaget ada suara hp yang bunyi, padahal di sekolah ini sudah jelas-jelas dilarang untuk mengaktifkan hp ketika pelajaran. Guru geografi, Pak Santosa juga memperingatkan seisi kelas bahwa hp dilarang aktif ketika pelajaran dan diperbolehkan pada jam istirahat. Aku diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh beliau. Semoga saja beliau tidak menyadari kalau tadi yang bunyi itu hp-ku.

Hari ini jadwal pertama adalah matematika. Aku tidak lagi sms-sms-an ketika pelajaran berlangsung. Kali ini tak lupa aku men-silent-kan hp-ku. Jangan sampai terjadi lagi “insiden” yang seperti kemarin itu. Bisa bahaya. Mending kemarin pas pelajaran geografi. Sekarang matematika. Pelajaran yang sulit ini harus diperhatikan dengan seksama dan tidak boleh diganggu dengan bunyi secuil apapun. Kalau tidak, maka tidak akan mengerti apa yang baru saja dijelaskan oleh gurunya. Makanya, khusus pelajaran ini aku tidak mengutak-atik hp-ku.

Aku baru saja selesai mengerjakan soal yang di papan tulis. Aku telah menyelesaikannya dengan baik. Aku segera kembali ke tempat dudukku. Guru matematika, Bu Wiwiek manggut-manggut ketika memeriksa pekerjaanku di papan tulis. Rasanya jadi bangga. Aku pikir, aku tidak salah dalam mengerjakan soal tersebut.

Bu Wiwiek menoleh ke arahku. Beliau mengatakan sambil tersenyum, “Ira, ini yang kamu kerjakan sudah betul, ya!” Aku semakin bangga saja!

Tiba-tiba saja aku mendengar suara………

TING, TING, TING, TING, TING, …DING..DING..DING…

Lagu ini… Lagu ‘For Elise’!

Apa benar? Apa asalnya dari hp-ku lagi?

Tiba-tiba saja suara itu semakin keras… semakin mendayu-dayu… Bu Wiwiek mulai terdiam. Memperhatikan sekitarku. Lagi-lagi asalnya dari dekatku. Suara itu … semakin keras… TING, TING, TING, TING…. Sampai puncak lagu…

Aku masih terpaku.

“Ra, Ira! Kamu nggak ngerasa itu hp-mu? Buruan dimatiin, dong!” Irene yang duduk di sebelahku memperingatkan. Aku sedikit tidak percaya pada kata-katanya.

Aku pencet tombol untuk mematikan hp-ku. Lagu ‘For Elise’ terhenti seketika.

“Anak-anak, kalau waktu pelajaran, hp-nya jangan dihidupkan, ya! Mengganggu! Tolong jangan diulangi perbuatan yang serupa! Lebih-lebih pada jam pelajaran Ibu!” Bu Wiwiek memperingatkanku dengan tegas dan jelas. Aku tertunduk malu. Kemarin Pak Santosa, sekarang Bu Wiwiek. Besok siapa lagi?

“Ra, kamu lupa nggak di-silent lagi, ya?” tanya Cindy sewot, “kayak nggak tahu aja lagi pelajaran! Mentang-mentang hp model terbaru, nih.”

Aku sebal sekali mendegar kata-kata Cindy. “Enggak! Udah aku silent, kok,” kataku tidak kalah sewotnya.

“Jangan-jangan nggak berfungsi, tuh tombol silent-nya. Buktinya aja, udah di-silent tapi tetep bunyi,” Mimi berkomentar yang cukup masuk akal.

“Iya, Ra. Kayaknya hp-mu mesti kamu “periksain” deh, tuh! Orang tadi aku denger jelas kalo suaranya dari hp-mu, kok,” Irene menyarankan.

“Iya, juga, ya. Mungkin rusak,” aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, walau aku merasa agak aneh.

“Eh, gimana kalo ring-tonenya diganti aja! Biar entar kalo bunyi lagi, nggak bosen yang dengerin!” usul Jonita. Usulnya bagus juga. Walaupun rada-rada tidak nyambung dengan apa yang baru dibicarakan.

“Wah, iya, tuh! Sapa tau hp-mu bunyi lagi. Kan bagus juga kalo ganti lagu. Gimana kalo lagunya Linkin Park? Kan keren, tuh!” kata Cindy yang seorang penggemar musik rock.

“Eh, jangan, mendingan lagunya Tata Young yang judulnya ‘Sexy-Bitchy-Naughty’ itu!” gantian Irene yang usul. Kok bisa-bisanya pembicaraan ini nyasar sampai sini?

“Kalian, tuh, ya! Milih lagu yang Indo dikit, kenapa, sih? Kan banyak yang baru! Kayak lagunya Peter Pan yang judulnya ‘Ada Apa Denganmu’ itu, lho!” Mimi ikut-ikutan.

Akhirnya ring-tone hp-ku aku ganti. Aku dan teman-temanku malah mendiskusikan hal yang tidak penting ini. Ring-tonenya aku ganti dengan lagu ‘American Idiot’ dari Greenday.

Aku telah menerima sms dari Mas Totti yang isinya sungguh mendebarkan hatiku. Dia mengajakku bertemu. Wah, aku jadi deg-degan. Ini artinya… k-e-n-c-a-n! Kencan! Bahaginya aku… aku serasa melayang jauh… jauh sekali…

Aku menikmati pelajaran hari ini dengan perasaan gembira. Seolah apa yang dijelaskan oleh siapapun aku mengerti. Kupikir benar juga kalau orang sedang bahagia, volume otak akan meningkat.

TING…TING…TING…TING…DING, DING, TING, TING…

Apa? ‘For Elise’?

DING, DING, DING, DING… DING…DING, DING.. TING…TING…

Suaranya semakin jelas, semakin keras.

DIDI, TING, TING, TING, TING, TING,…DING..DING..DING..DING..

Hp-ku lagikah? Tidak! Tidak mungkin! Hp-ku tidak seperti ini bunyinya. Tetapi, aku ragu juga. Apa aku lupa tidak meng-silent-kan lagi? Tetapi, kalaupun aku lupa lagi, seharusnya bukan lagu ‘For Elise’ yang terdengar, tapi lagu ‘American Idiot’.

“Ini hp-nya siapa, ya yang bunyi?” Suara lantang Pak Hari mempercepat gerakan tanganku meraih hp-ku.

Aku merogoh laci mejaku dan meraba-raba mencari hp. Aku sudah panik duluan. Pasti teman-teman sekelas berpikir bahwa yang bunyi adalah hp-ku. Siapa lagi, sih di kelas ini yang suka menjadikan lagu ‘For Elise’ menjadi ring-tone hp selain aku? Tetapi, seharusnya teman-teman tahu bahwa ring-tone di hp-ku sudah kuganti. Keringat dinginku mulai mengucur di pelipisku.

Ah, ini dia! Aku telah menemukan hp-ku!

Tiba-tiba jemari Irene telah menancap di atas tombol hp-ku. Dia lebih cepat daripada aku yang sedang memegang hp ini. Seketika lagu ‘For Elise’ berhenti.

Pak Hari memulai “pidatonya” mengenai masalah hp. Yang dilarang beginilah, begitulah. Aku sampai bosan mendegarnya. Aku heran, kenapa para guru tidak bosan-bosannya memperingatkan muridnya, padahal muridnya sendiri sudah bosan diperingatkan.

Jam istirahat siang ini, teman-teman sekelas mulai pada sewot denganku mengenai masalah bunyi hp. Aku sampai jadi jenuh sekali berada di dalam kelas. Sesaat kemudian, aku telah berada di kantin. Tentu bersama teman-temanku: Cindy, Irene, Mimi, dan Jonita.

“Ira, ring-tonenya kamu ganti ‘For Elise’ lagi, ya?” tanya Irene sambil memberikan kecap padaku.

“Nggak, kok! ring-tonenya, ya tetep ‘American Idiot’. Aku udah nge-silent pula!” jawabku agak ketus.

“Kalo gitu, kok tadi bunyi, ya? Emang bukan punyamu, po?” tanya Jonita sembari menuangkan saus yang banyak ke dalam mie ayamnya.

“Iya, Ra, tau, tau kalo kamu yang paling demen sama lagu klasik macam gitu. Tapi, please deh, Ra, jangan dibunyiin waktu pelajaran! Emang, sih bagus kalo belajar sambil dengerin musik klasik, tapi, Ra, ini sekolah! Artinya, ya kamu harus rela ‘For Elise’mu nggak bunyi waktu pelajaran,” Cindy sudah mulai bicara sebelum aku sempat menjawab Jonita.

“Cin, apaan, sih! Kamu diem dulu bisa nggak, sih? Aku ‘kan udah bilang aku nggak ngganti ring-tonenya, aku juga udah nge-silent hp-ku! Apa yang salah coba?” kataku sewot sekali. Aku sebal sekali dinasehati macam-macam oleh Cindy.

“Tapi, Ra, kok tadi lagunya langsung berhenti habis Irene mencet hp-mu? Artinya Irene yang matikan hp-mu, kan? Itu berarti hp-mu yang bunyi,” Mimi lihat sendiri kejadian itu, sebab dia duduk tak jauh dari aku. Dia mulai menyeruput es jeruknya setelah dia menyelesaikan kalimatnya.

“Mungkin ada yang salah sama hp-mu. Kamu mesti belum “meriksain”, kan?” tanya Irene penuh selidik.

“Iya, sih. Memang belum aku periksain. Kayaknya ntar harus aku “periksain”, deh.”

“Oh, iya, Ra, kok hp-mu suka bunyi pas jam-jam pelajaran gitu, sih? Emang siapa, sih yang usil misscall-misscall kamu?” Mimi memandangku dengan penuh rasa heran sambil mengunyah siomay. Aku jadi salah tingkah.

“Waktu pelajaran geografi, aku emang lupa men-silent-kannya. Jadi pas ada sms dari Mas Totti, hp-ku bunyi. Trus, waktu matematika kemarin, aku udah nge-silent-kan hp-ku. Tapi, emang ada yang misscall dan nomernya disembunyiin. Tadi juga gitu, tapi ya, itu tadi kok lagunya ‘For Elise’ lagi meski udah diganti,” aku menjelaskan panjang lebar pada Mimi dan lainnya setelah aku melahap satu sendok soto ayam yang ada di hadapanku.

“Udah, deh, mendingan hp-mu itu kamu off-in aja sekalian,” kata Jonita memberi saran sambil menggigit kerupuk udangnya yang dari tadi terus berada di tangannya.

Benar juga kata Jonita. Lebih baik aku off-kan hp-ku sekalian. Tapi, aku masih ingin sms-sms-an dengan Mas Totti (waktu pelajaran), kan? Kalau begitu, lebih baik aku off-kan setelah aku meng-smsnya, lalu beberapa saat kemudian yang kira-kira Mas Totti sudah membalas sms-ku, aku akan on-kan hp-ku.

Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia yang mendebarkan sedang berjalan. Aku duduk di bangku paling belakang di pojok kelas. Khusus pelajaran yang diajar oleh Bu Mari ini, tidak ada yang mau duduk di bangku depan. Kalaupun orang-orang yang biasanya duduk di bangku depan itu boleh memilih, mereka akan memilih duduk di belakang. Bu Mari itu orangnya sangat menyebalkan, suka menimpakan kesalahan pada muridnya dan tak kenal ampun bila ada muridnya yang melakukan kesalahan.

Aku mengutak-utik hp-ku di laci. Buku Bahasa Indonesia aku tegakkan dengan bersandar kursi di depan mejaku supaya aku tidak terlihat oleh Bu Mari kalau aku sedang asyik mengutak-atik hp. Tak lupa hp segera aku matikan setelah selesai mengirim sms kepada Mas Totti.

Soal-soal yang ada pada buku Bahasa Indonesia mulai kukerjakan. Teman-teman yang lain sudah hampir selesai mengerjakan, tapi tidak cuma aku yang baru mulai mengerjakannya. Malah ada yang sama sekali tidak mengerjakan. Ada yang membaca komik, bermain-main hp, ngobrol, pokoknya masih banyak perilaku-perilaku nyeleneh yang dilakukan teman-temanku ketika jam pelajaran Bahasa Indonesia. Khusus untuk orang-orang yang duduk di bangku depan, mereka mengerjakan dengan tekun. Mana mungkin mereka melakukan hal serupa seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang duduk di bangku tengah ke belakang. Kalau ketahuan tidak mengerjakan, wah, bisa-bisa nilainya dikurangi, diceramahi macam-macam, pokoknya sangat tidak enaklah.

TING, TING, TING, TING, TING ,…DING…..DING….DING…..DING…

Saat aku mengerjakan, terdengar sebuah lagu…

DING..DING..DING..DING…TING, TING, TING…TING…

Lagu yang sangat aku kenal. Lagu yang sangat aku suka.

DING, DING, DING, DING….TING, TING, TING! TING, TING….

‘For Elise’.

Jantungku berdegup tak karuan. Hp-ku sudah kumatikan alias ku-off-kan. Aku punya firasat bahwa bunyi ini bunyi hp-ku lagi. Entah kenapa. Aku takut sekali. Apakah ini kutukan? Ah, tidak, pasti bukan kutukan. Memangnya apa yang telah kulakukan? Keringat dinginku mulai mengucur deras. Bulu kudukku mulai berdiri satu-persatu. Telapak tanganku yang menggenggam pulpen ini penuh dengan keringat. Sementara lagu ‘For Elise’ belum mau berhenti. Hihihi… apa mungkin lagu ’For Elise’ akan berhenti di tengah-tengah dengan sendirinya? Aku berusaha menenangkan hatiku.

TING, TING… DING…DING…DING…TING…

Tidak! Kenapa lagu itu masih tetap mengalun? Perlahan suaranya mulai meninggi!

DING! …….…..TING, TING, TING…

Lho? Kenapa lagunya mulai dari awal lagi? Harusnya, kan tadi sudah selesai. Oh, tidak! Karena sudah mulai lagi, berarti tidak bisa berhenti di tengah-tengah lagu.

Aku segera melihat keadaan hp-ku. Hp-ku menyala seiring lagu itu. Getarannya mengikuti irama ‘For Elise’. Hp ini hidup lagi, padahal aku sudah mematikan hp-ku.

Tiba-tiba aku tersadar bahwa ini masih jam pelajaran Bu Mari. Aku ingin menghentikan lagu ini sekarang juga. Tetapi, bagaimana? Bukankah hp ini sudah mati? Bagaimana caranya mematikan hp yang sudah mati tapi masih berbunyi ini? Semua tombol yang ada pada hp aku pencet. Kupencet bersamaan, kuharap lagu ‘For Elise’ segera berhenti.

…..

Hening. Lagu ‘For Elise’ telah berhenti.

Leganya…! Nafasku agak tersengal, keringat dinginku berhenti mengucur. Tanganku yang tadi sangat dingin dan berkeringat menghangat. Tanganku masih menggenggam hp. Aku tertunduk. Untunglah mukaku ini tertutup buku Bahasa Indonesia. Kakiku telah berhenti bergetar dan Irene yang duduk di sebelahku menampakkan wajah lega.

O,ou, sepertinya aku melupakan sesuatu! Bu Mari tentunya telah mendengar lagu ‘For Elise’ yang sumbernya dari hp-ku. Bagaimana tidak? Lagu ini sudah hampir dua kali mengalun. Siap-siap saja hukuman apa yang akan ditimpakan beliau terhadapku. Dan semua orang akan tertawa karena hp-ku telah berbunyi beberapa kali pada saat pelajaran. Mereka akan mengira bahwa aku sangat bodoh, mengulangi perbuatan serupa yang jelas-jelas salah.

Hp-ku tak lagi kubawa ke sekolah. Biar sajalah, meskipun aku sangat membutuhkannya. Aku sudah kapok dengan beberapa peristiwa serupa yang menimpaku. Aku tak ingin lagi mendapat teguran dari guru. Aku tak lagi mengutak-utik hp selagi pelajaran, tidak pula hp milik temanku. Biar aku belajar di sekolah dengan tenang tanpa gangguan hp.

Tak ada lagi sms-sms-an ketika pelajaran, apalagi dengan Mas Totti. Beberapa bulan kemudian, aku telah membawa hp-ku lagi ke sekolah. Hp-ku tidak ada yang rusak. Sudah aku “periksakan”. Aku tak perlu ganti hp. Kegiatan sekolah yang padat memaksaku untuk membawa hp ke sekolah. Hp ini tak lagi berdering ketika pelajaran. Leganya aku. Kadang aku berdebar juga kalau-kalau kejadian masa lalu terulang. Tapi, hal itu tak akan lagi. Hp selalu ku-nonaktif-kan selama pelajaran berlangsung.

***

“Hm, baguslah kalau Si Ira udah nggak suka sms-sms-an waktu pelajaran,” tukas seseorang yang sedang duduk di depan monitor komputer.

“Tapi, kamu pinter juga, ya, Irene! Kamu jago banget urusan teknologi macam komputer atau hp. Orang bego pun nggak bakalan ngerti hal-hal begituan,” kata seorang cewek yang terlihat centil yang terkadang suka asal bicara dan tidak jelas maksud sebenarnya.

“Eh, tapi, kita hebat juga, lho. Ira aja ngggak tau kalo kita berempat ini Agen Rahasia SMP Teladan!” ucap seorang yang lain yang tampak agak lugu.

Seseorang cewek yang berambut panjang mulai ikut berbicara, “Memang dia nggak boleh tau. Kita ini emang udah ditugasin buat ngasih pelajaran anak-anak yang nggak mematuhi peraturan, kan?”

“Tapi hebat juga kamu Iren! Kamu bisa ngidupin hp yang udah bener-bener off, biar tetep bisa bunyi,“ ucap cewek yang telihat centil sambil mengelus-elus rambutnya.

“Aku? Aku cuma bisa ngontrol hp yang udah di-silent biar bunyi, kok. Kalo udah off, ya nggak bisa bunyi-lah. Ngapain juga ngasih pelajaran kalo hp-nya udah di-off-in. Lagian aku nggak ngubah ring-tone-nya jadi ‘For Elise’ lagi. Pas pelajaran Bu Mari juga bukan aku yang bikin bunyi hp-nya.” Cewek yang disebut Irene ini beragumentasi.

“Lho? Kalo bukan Irene, berarti Mimi, donk! Mimi juga pinter masalah begituan, kan?” cewek yang tampak culun ini tampak penasaran.

Yang berambut panjang berbicara, ”Aku? Bukan, tuh. Aku cuma bantu sedikit, selebihnya aku serahin sama Irene.”

“Lha kalo bukan Mimi atau Irene yang jago teknologi, terus sapa? Aku kan nggak bisa. Apalagi Si Jonita, kan?” Si Centil berbicara dengan entengnya.

“Kok jadi aneh gini, sih? Trus, siapa donk???” yang culun semakin telihat culun. Semuanya geleng-geleng kepala.

Tiba-tiba terdengar sebuah lagu.

TING, TING, TING, TING….

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer lfour
lfour at Hp-ku Berdering Lagi (10 years 52 weeks ago)
90

baca cerita ini jadi berasa nonton film horor korea
yang ngebingungin..
asli bener berasa misteri na

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (10 years 39 weeks ago)

wah pujiannya.. makasih yah. maaf nih baru buka kemudian.com lagi, hehe

Writer Anand
Anand at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)
30

tersulah berkarya

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)

makasih

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)
80

horor, ya?
hehehehe, salut...

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)

kok salut..? ini cerita aneh banget, lagi..
makasih dah mampir n baca ya

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)

salut sama anehnya, hehehe (maklum, saya juga aneh)

Writer damnkiss
damnkiss at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)
70

agak bingung sama cerita suararaa yang satu ini. nggantung kalo menurut gue
mampir ya :) http://www.kemudian.com/node/251632

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)

maapp
ini emang crita gak jelas....
makasih dah mampir yak

Writer DeMEter
DeMEter at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)

gak keliatan horor dari awal-awal,,
aku kira itu bunyi reminder ato alarm,,
soalnya kalo bener kan (alarm dan remindernya) dia etep terus bunyi walopun hape nya mati,,
ehehehe.. ceritanya bikin penasaran juga,,

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 17 weeks ago)

maappp bgt....
ini cerita emang nggak jelas horor atau bukan... >_<
makasih dah baca dan ngomentari...

Writer Valen_valz
Valen_valz at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
80

bagus kak^^

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)

err.r.... kayaknya biasa banget deh ni cerita... haha....
tapi, makasih ya dah baca dan ngomen.. hehe

Writer Chie_chan
Chie_chan at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
70

sudah kubaca. :) awalnya kupikir lagu-lagu yang muncul di sini agak ketinggalan jaman, tapi tenyata ditulisnya juga sudah agak lama toh. hehehe XD
untuk konklusinya, kurasa agak gantung. kenapa bisa gantung ya? menurutku sih salah satu kemungkinannya dirimu rada-rada kurang ngasih tekanan sama hal-hal yang ga dilakukan sama Irene dan Mimi tapi terjadi dengan sendirinya itu. kesannya cuma kausebutkan sambil lalu, dan reaksi 'culun' yang ditunjukkan teman-temannya saat mereka ngakuin ga ngelakuin semua itu juga kurang ngebantu naikkin tensi tegangnya. dalam kasus ini, aku lebih prefer kau bikin di antara mereka langsung sunyi senyap.
lalu untuk essens horornya sendiri, entah kenapa juga ga begitu kena (kalau aku sih). di awal-awal sampai bagian tengah, susunan adegan terdengarnya lagu Fur Elis sampai berkali-kali, ga peduli hape udah disilent, dimatiin, diganti ringtonenya, sebetulnya memang udah sesuai jalur dan harusnya udah cukup bisa memberi suspense ke pembaca. tapi berhubung kau ga ngasih hints2 yg betul2 nunjukkin bahwa ini bakal jadi horor (misalnya lho, di tengah2 si tokoh utama dikasih tau bahwa ternyata beneran ada anak bernama Sita di sekolah yang mati bunuh diri), kalau aku ga baca tag horor di sana, aku bakal ngirain cerita ini cuma sekedar komedi yang menceritakan tentang kesalahan dudul si tokoh utamanya yg gaptek berat, atau teenlit biasa yg nyeritain tentang anak2 jahil yg ngerjain sesama murid.
lalu soal gap terbesar yg kutemuin dari cerita ini. dari pembawaan ceritamu yg menitik beratkan pada sms iseng si tokoh utama pada Mas Totti, mungkin dirimu ga sadar udah bikin pembaca terlanjur berharap bakal ada kaitan antara cara pedekatenya yg ga wajar ini sama terror horor si Fur Elis. tapi kemudian akhirnya malah dikasih tahu sebetulnya ga ada kaitan antar kedua hal ini (yg sebetulnya menurutku sangat berpotensi meningkatkan ke-horor-an keseluruhan cerita kalau aja dikaitkan), malah sebetulnya ini cuma akal-akalan sekelompok siswa yg ternyata oh ternyata adalah agen-agen disiplin (yap. agak gimanaaaa gitu penyelesaian ini).
.
.
menurutku sih, gaya penceritaanmu udah lumayan. cerita ini sebetulnya berpotensi dibikin lebih sempurna lagi. ah, tapi ini draft lama ya? kapan-kapan akan kusempatkan mampir2 lagi ke postinganmu yg lebih baru. hehehe XD XD maaf ya datang-datang komen bawel banget. kip writing! berjuang!

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)

wah chie chan,, aku sangat berterimakasih atas komentar yg panjang lebar...

aku malah jadi kepikiran ke arah situ (yg tentang sita, tentang totti).. bener2 awalnya aku nggak kepikiran sama sekali lho.. aku sendiri udah lupa kenapa jalan ceritanya jadi gini ya. hahahaha..

makasih ya chie chan malah udah dikasih saran yg bagus bwt perkembangan crita ini...
makasih udah baca n ngomen...
:)

Writer ard
ard at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
70

walah,ini horor ya kak? soalnya malah bingung pas sampai endingnya, hehe
btw, mungkin lebih enak kalo pake kalimat majemuk dengan kata sambung, jadi perkalimatnya lebih panjang gitu.. saran aja sih, ^^
goodwork :)

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)

hahaha,, horor jadi2an...
maaf yah...
owwhh kalimatnya pendek2 ya...
makasih sarannya ...
makasih dah bca juga yaa...

Writer cat
cat at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
70

Kurang ada horornya . Maap he5.
Lalu ada kalimat yg rasanya kurang enak. Aku nda hobi horor jd kurang bs kument

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)

memang ini niatnya horor tapi nggak horor, tante cat,,,
karena memang saya nda bakat horoorr,, xixixixixiixiii..
santai saja tante cat,, makasih uda baca yaaa

Writer nixyan
nixyan at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
90

:)
Asik sih dibacanya, tapi memang iya..,, belum bisa mendirikan bulu kuduk.
Salam.

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)

he3,,
makasih dah baca n ngomentari...
tapi emang saya sadari,, saya ngga bakat horor,, xixixiii

Writer lavender
lavender at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
80

Menunggu bagian horrornya, efek film2 horor jepun blm terasa, tadinya bayangin kayak ONE MISSED CALL gitu.. Ixixixxi..

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)

ahhaahaha...
maappp
tampaknya saya emang ga bakat bikin horor.. xixixiixii

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
80

lucu kak, cuamn protes ah~ kok fur elise jadi lagu horor ya? padahal keren gitu~ ada di hapeku juga XD

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)

soalnya klo di film2 horor sekolah (yg bagian pianonya bunyi sendiri gitu ) biasanya lagunya fur elise sih.....
xixixiixixii..
aku jg suka koq sama fur elise...

Writer suararaa
suararaa at Hp-ku Berdering Lagi (11 years 18 weeks ago)
100

Cerpen yang dibuat tahun 2004 atau 2005 (lupa...), dibuat karena tugas sekolah, dan (niatnya) mau cerita semi-horor. Tapi kayaknya sih nggak ngeri-ngeri amat...