Naif Tentang Cinta

Script 1
Seperti mentari yang menerangi malam dan bulan yang menggantikan surya di siang hari, aku bingung. Ketika semua orang bicara dan mengakui bahwa cinta itu luar biasa dan memiliki pacar yang menyayangi kita adalah impian, aku hanya gigit jari sendiri karena tak mengerti. Oke. Bahkan makna pacaran itu apa dan apa yang biasa mereka lakukan ketika pacaran saja aku tidak mengerti. Dan plak! Kak Sri memukul punggungku seperti biasa, rusuh, mengagetkan semua orang. “Mikirin apaan sih?” Sebelum aku sempat menjawab, dia langsung menarik tanganku dan memutar tubuhku sehingga aku berada di depannya. Lalu dengan enaknya mendorongku sambil menuruni tangga. Terima kasih, pasangan praktekku, karena Kakak, turun tangga rasanya seperti terbang.

Script 2
Dan seperti petir yang menyambar langsung kedua mataku, aku jadi buta seketika dan seluruh tubuhku gemetar karena sengatan listrik yang tak terduga, kamu datang secara tiba-tiba. Sayangnya, jarak ratusan kilometer memisahkan kita. Jujur, aku senang kalau kamu muncul di kotak obrolan di facebook dan agak menyesal ketika tahu bahwa kamu sempat menyapaku tapi karena aku terlalu asyik berselancar di situs lain, kamu sudah offline. Yah, awalnya hanya sebatas itu dan kenangan bahwa di masa lalu kita pernah punya cerita. Tapi aku nggak pernah membayangkan kalau akhirnya seperti ini.
“Biasa dia mah kayak gitu,” aku mendengar Yati bicara pada Yusni. “Udah diemin aja. Selama dia nggak teriak-teriak kayak orang gila, biarin aja.”

Script 3
Entah kenapa, rasanya menyenangkan sekali berada di sekeliling orang yang tersenyum kepada kita. Tertawa bersama. Menikmati hidup di antara masa-masa sulit kuliah dan berbagi kebersamaan. Jika dibayangkan, layaknya azalea yang indah bergabung dengan kastuba muda dan bunga matahari yang cerah. Aku nggak tahu kalau orang bilang seperti itulah yang namanya jatuh cinta. Tapi yang jelas, meskipun aku melakukan kesalahan paling fatal di hari itu, suasana hatiku tetap baik-baik saja. Meski aku nggak tersenyum terus-menerus seperti orang yang sakit jiwanya, aku tahu kalau aku senang.
“Cerianya nggak kayak biasanya deh. Kesetanan atau kenapa lu, Mbak?” komentar mereka yang tak mengerti. Dan kakak Sri-ku yang iseng dengan senangnya menzalimiku, semakin menjadi-jadi, karena aku menikmati keisengannya tapi nggak membalasnya.
“Stresss!” desah Kak Sri kesal sendiri karena aku tak berkutik tapi malah memandanginya dengan tatapan menang.

Script 4
Lagi-lagi, seperti bumi ada di langit dan langit ada di bumi, aku bingung. Kamu menganggap aku sebagai pacar kamu. Pacar kamu! Padahal aku nggak ngerti tugas aku sebagai pacar kamu itu apa. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu nggak bosan sama aku dan sebagainya. Karena aku memang belum pernah pacaran. Mungkin pernah sekali dan itu hanya permainan belaka. Tapi yang dulu kan beda! Sedangkan kamu? Entahlah berapa banyak mantanmu tapi yang pasti kamu lebih tahu tugas seorang pacar itu apa untuk pacarnya? Aku menunggu kabar kamu, tapi kamu belum juga mengabari. Aku mau mengabari, tapi pulsaku hanya nol. Jadi? Jadinya aku bingung. Lalu, ketika kamu telepon aku, aku sering sekali heran, apa sih yang biasanya orang-orang bicarakan ketika sedang berpacaran? Terus-terang, aku seperti seorang zaman purba yang masuk ke zaman modern dan menggunakan mobil tiba-tiba, bingung, benda apa ini dan apakah harus kugunakan karena aku tak tahu guna dari benda besar konyol yang bisa bergerak. Karena itulah, perasaanku selalu bilang, kamu pasti bosan padaku karena memang kenyataan, aku ini membosankan. Sayang sekali, naif.
“Kok sekarang diem? Kemarin sumringah aja deh kayaknya,” Yusni mengamati wajahku sambil menjilati Magnum.

Script 5
Waktu berjalan demikian cepat tanpa terasa, seperti angin. Aku pulang dan kita bertemu. Aku canggung melihat kamu. Ternyata kamu tetap yang dulu, dengan tubuh kurusmu yang khas dan rambut ikalmu yang sedikit gondrong. Dan di saat seperti itu, aku kumat, aku bingung, aku... sama sekali tak tahu harus apa yang aku lakukan. Jadilah aku seonggok patung bodoh. Dan kamu malah tersenyum. Kupikir mungkin kamu juga bingung pada diriku yang konyol ini. Lalu kamu mengajakku makan malam bersama, di warung tenda pinggir jalan, menikmati kwetiau dan dengan... canggung. Pada saat itu, aku tahu, kamu melirikku lewat sudut matamu, kemdian tangan kananmu melayang menyentuh sudut bibirku. Secara refleks, kutampik tanganmu. Well, menurutku itu terlalu aneh karena persis seperti yang ditunjukkan di televisi. Apakah memang harus begitu? Baiklah, lagi-lagi kuakui kalau aku nggak biasa. Selama liburanku di rumah, aku menghabiskan waktuku denganmu. Dan jujur, aku kaget, darahku mendidih seketika ketika kamu menyentuh tanganku pertama kali. Ketika kamu memaksaku berpegangan erat ketika aku duduk di belakangmu saat kamu mengantarku pulang. Di saat kamu mengecup kepalaku pertama kali. Haruskah seperti itu? Aku... masih belum terbiasa. Seperti renjatan yang mahadahsyat ketika kamu mengecup pipiku dan sudut bibirku. Aku tahu apa yang kamu pikirkan tapi menurutku itu terlalu jauh dan... ya! Aku tidak terbiasa. Aku terdiam bukan karena menikmati tapi karena otakku sibuk berpikir, apakah seperti ini yang disebut pacaran? Aku terhenyak. Dan di malam itu, otakku terlalu lelah untuk menemukan jawabannya. Di malam itu pula, aku sendiri tanpa teman-teman sekamarku di kos.

Script 6
Tak terasa, aku harus meninggalkanmu. Kembali ke aktivitasku di kota lain yang berjarak ratusan kilometer dari kota kita. Sejujurnya, berat bagiku tapi aku tak mau terlihat lemah di matamu. Kamu mengantarku pergi. Tapi begitu kamu pulang, aku merasa kehilangan kamu. Dan di saat itu, aku ingin kamu berada di sampingku, mengelus pipiku, menggenggam tanganku dan aku menyandarkan kepalaku di dadamu. Sayangnya, kini jarak memisahkan kita untuk sementara dan komunikasi kita hanya lewat dunia maya. Aku bertanya dalam hatiku, apakah ini yang namanya rindu? Bisakah kalian menjelaskan kepadaku agar aku tidak naif lagi?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer kasurterakhir
kasurterakhir at Naif Tentang Cinta (10 years 38 weeks ago)
70

Whenever I'm alone with you
You make me feel like I am home again (the cure)
salam kenal

Writer bdariey
bdariey at Naif Tentang Cinta (10 years 40 weeks ago)
70

oowh,,true story kah?
aku pikir tadinya isinya narasi semua,,ternyata ada selipan dialog tapi gak terlalu kelihatan,,hehe

Writer faza
faza at Naif Tentang Cinta (10 years 41 weeks ago)
60

Sangat senaang ketika kita bisa merasakan indahnya pertama pacaran!

Writer cat
cat at Naif Tentang Cinta (10 years 41 weeks ago)
70

hah .. kek baca apa yak ..

true story?

Writer miss.jade
miss.jade at Naif Tentang Cinta (10 years 41 weeks ago)

kok nanyanya begitu sih, kak? kan aku minta dikomenin isinya ajaaah, hihihihihi... itu curhatnya adikku kok, jadi terinspirasi, hehehehe

Writer lavender
lavender at Naif Tentang Cinta (10 years 41 weeks ago)
80

based on true story kah?

Writer miss.jade
miss.jade at Naif Tentang Cinta (10 years 41 weeks ago)

curhatan adikku. komenin isi tulisanku dun, sis, hehehe

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Naif Tentang Cinta (10 years 41 weeks ago)
90

rasa naif sepertiitu ya :)

Writer miss.jade
miss.jade at Naif Tentang Cinta (10 years 41 weeks ago)

yang kupikirkan seperti itu ^^