Le Conte d'amour à Neverland #3

Peter mengingat-ingat, "Ulangtahunku sebentar lagi...."

"Iya! Tiga hari lagi! Tidak mungkin aku di sini selama itu."

Peter menatap Cheryl, berandai-andai apakah bisa merayakan ulang tahun bersama seperti dulu?

"Jadi...? Bagaimana caranya aku pulang?" tanya Cheryl lagi. Sebetulnya ia ingin sekali berulangtahun di Neverland. Tetapi bagaimana mungkin dia akan tinggal selama tiga hari di situ? Andaikan tahu cara pulang, pasti tahu cara untuk kembali, begitu kiranya pikiran Cheryl.

"Tink!" panggil Peter tidak mengindahkan pertanyaan Cheryl. Dalam sekejap, Tink langsung terbang menghampiri ke arah Peter. Entah dari mana dia tadi berasal.

"Pesan untuk Maha Patih, siapkan pesta ulang tahunku untuk tiga hari lagi. Pesan untuk Sekretaris Kerajaan, siapkan undangan dan segera sebar undangan pesta ke seluruh negri!" perintah Peter jelas. Tink sang burung jingga segera melesat pergi dari hadapan Peter, bersegera menyampaikan pesan.

"Apakah...?" tanya Peter menatap Cheryl. Ia ingin menahan Cheryl pergi, minimal sampai pesta ulang tahun mereka berdua. Tapi lidahnya kelu. Ia tak sanggup mengucapkan kata-kata itu. Rasanya akan ketahuan oleh gadis itu kalau Peter selalu mengharapkannya untuk bertemu dengannya.

"Tapi tidak mungkin aku di sini selama tiga hari...," Cheryl seakan mengerti apa yang tertahan di tenggorokan Peter, lalu lanjutnya,"Nanti keluargaku..," Cheryl terdiam. Peter menangkap gelagat bahwa Cheryl sebetulnya ingin di sini tetapi tidak bisa. Dirinya sendiri juga tidak tahu dari mana gadis itu berasal. Demikian pula Cheryl, malah bertanya padanya bagaimana cara pulang. Cheryl tiba-tiba muncul dan hilang begitu saja. Jadi, bagaimana Peter tahu cara mengembalikan gadis itu ke asalnya?

"Bagaimana caramu datang ke sini?"

Cheryl kaget mendengar pertanyaan itu. Ia sebenarnya tidak tahu bagaimana bisa ke Neverland lagi setelah sepuluh tahun berlalu. Ia kembali mengingat-ingat kejadian sebelum dia datang ke sini tadi. Ia sedang melukis. Lalu tiba-tiba langsung berada di Neverland. Cheryl sendiri tidak begitu yakin dengan kejadiannya, tetapi dia mengatakannya pada Peter apa yang diingatnya. Peter bergumam, dilanda kebingungan yang sama.

"Baiklah, kita pergi ke rumah penyihir Wytle di tengah kota. Biasanya dia tahu segalanya," akhirnya Peter memutuskan ke mana mereka pergi. Ia harap, penyihir Wytle menawarkan solusi terbaik.

Awalnya, Cheryl pikir rumah penyihir itu di puncak gunung, atau di tengah hutan—pokoknya tempat-tempat gelap dan suram. Tetapi, tempat ini—bahkan bertuliskan Kantor Sihir Wytle—adalah tempat yang hampir sama bentuknya dengan kantor kebanyakan di dunia Cheryl. Bangunannya kecil jika dilihat dari depan, tetapi memanjang ke belakang. Ruangan itu tidak tingkat, tetapi langit-langitnya tinggi. Jendelanya besar-besar dan banyak burung berseliweran keluar masuk melaluinya. Halaman depannya sempit, tetapi banyak bunga yang sangat cantik, wangi dan kelopaknya juga berwarna putih.

"Wah, wah, ada apa gerangan Pangeran Peter ke mari?" sambut seorang wanita ramah, ketika Cheryl dan Peter masuk ke dalam ruangan depan di kantor itu. Wanita itu memiliki bola mata berwarna perak, rambut berwarna keperakan dengan potongan pendek, dan kuku lancip yang dicat perak. Kulitnya pucat, lehernya jenjang, dan dia juga tinggi—bahkan Peter kalah. Pakaiannya jubah hitam panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Jubah itu hanya diikat di depan, tepat di bawah leher. Jubah yang sangat lebar dan besar, sampai-sampai Cheryl mengira wanita itu menyembunyikan makhluk aneh di baliknya. Tapi, ketika tangannya terangkat dan jubahnya tersibak, tampak pakaian mini berwarna putih yang seksi. Cheryl sampai terpana akan wanita di kantor sihir ini. Apakah kantor sihir juga mempekerjakan seorang sekretaris? Cheryl menebak-nebak.

"Wytle, aku butuh bantuanmu," jawab Peter membuat Cheryl tersentak. Wanita cantik ini penyihir? Otaknya mencerna kata-kata Peter. Padahal, yang ada dalam bayangan Cheryl selama ini, penyihir berwujud nenek jelek yang keriput—seperti yang digambarkan dalam dongeng di masa kecilnya.

"Ayo ke dalam dulu," ajak Wytle sopan. Peter dan Cheryl mengikuti Si Pemilik Kantor.

Ruangan tengah itu sangat luas, yang bila diukur dengan ukuran manusia dunia Cheryl, rasanya ruangan dalam kantor sihir ini lebih besar daripada ukuran yang tampak dari luar. Ruangan itu oval, dengan jendela besar dan gorden putih transparan yang berkibar-kibar tertiup angin. Di tengahnya ada seperangkat meja dan kursi dengan warna senada. Wytle mempersilakan kedua tamunya duduk. Tanpa menunggu lebih lanjut, Peter segera menceritakan mengenai Cheryl dan tujuannya datang ke tempat itu.

"Pegang ini," Wytle menyerahkan sebuah cermin bundar yang ukurannya sedang. Ia mengeluarkan cermin itu dari balik jubahnya tadi.

"Untuk?" Cheryl tak mengerti.

"Bercerminlah, lalu konsentrasilah akan keinginanmu menemukan jalan pulang," seru Wytle.

Dalam beberapa detik, cermin itu telah berpindah tangan. Cheryl tidak terlalu paham, tetapi ia mengikuti perintah Wytle. Ia menatap bayangan dirinya dan mengatakan kuat-kuat keinginannya untuk pulang.

ZLAB!

"CHERYL!!!" Teriak Peter panik.

Tubuh Cheryl terserap dalam cermin! Sekarang, cermin itu terjatuh di kursi sebelah Peter. Hanya ada cermin di kursi yang sebelumnya diduduki gadis itu. Peter kebingungan. Apakah secepat ini Cheryl pulang? Kalau tahu begini, mungkin membawa Cheryl ke mari besok saja, sesalnya dalam hati.

"Itulah caraku menunjukkan dia jalan pulang. Di sana, ia akan melihat sebuah tempat. Setelah kembali, ia harus ke tempat itu untuk menemukan jalan pulang. Tenang saja, ada waktu yang sangat terbatas baginya, tak lama dia akan kembali," jelas wanita itu sambil menopang dagunya. Peter lega mendengarnya.

"Selagi dia pergi sebentar, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu, Pangeran...," katanya berdeham, "kau ingat Hook?"

Mana mungkin Peter bisa lupa dengan mantan pelayan yang berbalik menjadi pengkhianat.

"Dia masih hidup dan akan kembali membuat onar."

Jangan sampai Hook mengacau lagi saat pesta ulangtahunnya bersama Cheryl, teriak batinnya.

"Kapan?" Hanya itu pertanyaan yang keluar dari mulut Peter.

"Dalam waktu dekat ini... Mungkin, kurang dari tiga hari," jawab wanita itu sambil menyenderkan bahunya pada kursi. Peter berpikir cepat. Ia harus berhasil memulihkan kekacauan itu sebelum ulangtahunnya.

"Nasehatku, kau jangan melihat sesuatu hanya dari tampaknya. Ada sesuatu di balik sesuatu."

Peter hanya menatap dalam-dalam bola mata wanita di depannya, berusaha mencari jawaban di sana. Sayangnya, tidak ada apa-apa selain bola mata keperakan itu memantulkan sinar yang menerobos masuk dari jendela.

ZLAB!

Cheryl terlempar ke sebuah hamparan rumput. Susah payah, ia berusaha bangkit. Otaknya berusaha mencerna apa yang terjadi barusan. Tempat apa ini? Awalnya ia bertanya-tanya, apakah sudah kembali ke dunia asalnya. Ia menatap sekeliling. Tampak di arah jam sembilan, sebuah kastil besar, dengan tembok yang menjulang tinggi. Pasti ini masih di Neverland, begitu simpulnya. Terdengar suara gemericik air di dekat sana. Seperti merasa terpanggil, Cheryl mengarahkan pandangan ke arah sana.

Sebuah sungai yang indah mengalir di sana. Airnya putih, seperti susu. Di pinggirnya tumbuh berbagai macam tanaman. Buah-buahannya tampak ranum, bebatuannya berwarna seperti kue—tampak lezat, sekelilingnya banyak makhluk berwarna-warni yang terbang di sekitarnya. Agak jauh dari sana, ia mendengar suara air terjun. Suaranya deras dan kencang. Cheryl berjalan mengikuti sumber suara.

Tak disangka, ada sesosok tubuh laki-laki yang indah sedang membasuh di bawah air terjun. Butiran-butiran air menempel di dadanya yang bidang, bahunya yang kekar dan perutnya yang six-pack itu. Rambutnya tampak hitam. Belum pernah ia secara langsung melihat tubuh pria dewasa yang telanjang dada seperti itu. Cheryl terkesiap melihat pemandangan di depannya itu. Dadanya berdesir kencang. Mukanya merah padam. Buru-buru ia membalik badannya dan hendak pergi dari situ.

Tapi terlambat.

"Hei Nona.. Kau yang tadi, kan...?" sapa laki-laki itu setengah berteriak. Ia berjalan menepi. Cheryl hendak melarikan diri saat itu karena saking malunya. Tapi, laki-laki itu lebih gesit. Ia berhasil menggamit lengan Cheryl hanya beberapa langkah setelah gadis itu berbalik.

"Kau mengintipku?" tanya orang itu dari balik bahu Cheryl.

"Maaf! Aku tidak bermaksud melihat!" teriak Cheryl histeris. Ia berkata sambil membelakangi laki-laki tersebut. Tak kuat jantungnya kalau harus bicara sambil berhadapan.

"Hei, hei, hei.. Kalau bicara hadap sini," laki-laki itu memutar bahu Cheryl. Terpaksa ia membalikkan tubuhnya. Cheryl jadi melihat dengan jelas wajah pemuda itu. Laki-laki tampan yang memiliki bola mata yang dalam. Diaz, begitu Peter tadi memanggilnya saat mereka bertemu. Ingin dia menolak tatapan laki-laki itu, sehingga ia cepat-cepat menundukkan pandangan. Tapi jemari lelaki itu menyentuh dagu Cheryl lembut, mengangkat wajahnya yang sudah semakin merah.

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Jangan dekat-dekat!!!"

Cheryl melayangkan telapak tangannya, mengerahkan seluruh tenaga untuk menampar.

ZLAB!

Tiba-tiba badan Cheryl menghilang dari hadapan Diaz. Ia cukup kaget, tetapi hanya tersenyum simpul—bisa selamat dari amukannya. Ia langsung tahu bahwa ini pasti karena sihir Wytle, yang artinya cepat atau lambat Cheryl akan segera menemuinya.

PLAK!

Tamparan Cheryl tepat mengenai pipi Peter. Waktunya telah habis sehingga Cheryl kembali ke ruangan Wytle. Sekarang yang ada di depannya dan terkena tamparannya malah Peter. Betapa malang nasib Peter!

"Aduh! Kali ini apa salahku?" gerutu Peter sebal. Pipinya kemerahan bekas tamparan Cheryl. Wytle malah terkikik pelan melihat kejadian tersebut.

"Maafkan aku...!" seru Cheryl buru-buru. Ia segera mengelus pipi Peter. Kasihan Peter, belum sembuh betul bekas ditonjok, sekarang ditambah sebuah tamparan keras.

"Nah, nah, apakah perlu kusembuhkan dengan sihir, Pangeran?" tanya Wytle sambil terkekeh. Peter hanya memberengut kesal. Penyihir wanita itu mengerti maksud ekspresi Pangeran Neverland, sehingga ia melayangkan kelopak bunga di muka Peter, membuat seketika rasa perih Peter berkurang.

"Waktu menghilang dalam cermin tadi, kamu pergi ke mana?" tanya Peter setelah mereka keluar dari kantor Wytle. Cheryl hanya bergumam karena tidak enak mengatakannya—takut secara tak langsung ketahuan melihat Diaz sedang mandi.

"Kata Wytle, kamu harus pergi ke sana sekali lagi untuk tahu caranya pulang.”

Cheryl panik. Harus bersikap bagaimana nanti kalau bertemu Diaz lagi?

"Jadi... kamu tadi ke mana?" ulang Peter.

Cheryl ragu-ragu mengatakannya, tapi akhirnya secara singkat berhasil hanya bilang, "Rumah Diaz."

Untung Peter tidak tanya macam-macam pada Cheryl. Ia langsung mengajaknya berjalan ke sebuah tempat. Mulanya Cheryl menyangka akan segera ke rumah Diaz, tetapi ternyata mereka membutuhkan sesuatu untuk mencapai ke sana.

”Rumah keluarga Van Arthur dikelilingi tembok yang sangat tinggi, dan menaranya menjulang ke atas hingga menembus awan. Jadi, kita tak bisa ke sana jika hanya naik layangan. Kita naik ini,” terang Peter kepada gadis di hadapannya. Cheryl tidak tahu apa yang disebut ’ini’. Di hadapannya hanya ada lapangan luas, dengan tongkat-tongkat yang ada di pinggirannya. Bukan, bukan tongkat sapu lidi yang biasa dipakai penyihir untuk terbang. Tongkat itu lebih panjang, dan di sana banyak orang berlari membawa tongkat itu, lalu loncat. Mirip lompat galah—salah satu cabang atletik. Cheryl mengira, ini adalah semacam tempat latihan atau mungkin tempat bersenang-senang, atau semacamnya. Ada orang-orang yang berjaga di pinggiran atau yang melayani untuk melompat dengan tongkat-tongkat itu.

”Apa?” tanya Cheryl tak mengerti.

”Ya naik ini!” Peter menerima tongkat yang diberikan seorang pria yang ada di dekatnya, lalu mengetuk-ngetukkan tongkat itu ke tanah.

”Bagaimana cara—?”

Pria yang ada di dekat Peter, langsung angkat bicara menjawab pertanyaan Cheryl. Ia menerangkan dengan detail bagaimana cara menaikinya. Secara garis besar, itu langkah-langkah yang hampir sama persis seperti ketika akan lompat galah. Tongkat dibawa sambil lari, lalu tongkat ditolakkan ke garis pembatas—yang mana menjadi semacam stasiun pemberangkatan—dan lompat! Setelah lompat, dipastikan penumpang tersebut terbang tinggi dan selamat sampai tujuan. Biasanya, alat itu digunakan untuk menuju tempat-tempat yang tinggi.

Cheryl langsung bergidik ngeri. Selama ini dia belum pernah menjajal atletik, terlebih lompat galah. Mukanya mendadak berubah pucat.

”Bisa nggak kalau kita sama-sama aja, Peter....?” tanya Cheryl takut. Peter sendiri sudah mendapat dua tongkat dan satunya hendak diberikan kepada Cheryl. Pemuda di hadapannya itu malah memandang Cheryl dengan tatapan aneh.

Cheryl menelan ludah. Ia sebenarnya tak terlalu yakin akan idenya sendiri, tetapi menurutnya lebih baik, ”Satu tongkat untuk berdua! Aku memegangimu dari belakang.”

Muka Peter merah padam. Ia buru-buru membuang muka. Kalau keinginan Cheryl dituruti, bisa-bisa ia akan pingsan untuk kedua kalinya karena jantungnya terlalu cepat memacu adrenalinnya. Walaupun layanan transportasi aneh itu memang menjamin penumpang pasti sampai, tetapi akan memalukan jika dirinya bertemu Diaz dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Tidak! Nanti kamu bisa jatuh di tengah jalan!” jawabnya mencari alasan. Kemudian, ia segera menyerahkan tongkat satunya pada Cheryl, lalu berseru, ”Lihat! Aku duluan. Kau ikuti aku!”

Peter segera berlari. Sampai beberapa langkah, tongkat ditolakkan ke tanah, lalu Peter memegangi ujung tongkat dan berayun. Ia melepaskan tangannya pada tongkat, terlontar tinggi sekali sampai tidak terlihat. Cheryl hanya bengong menatapnya. Ketakutannya makin bertambah.

Tapi, apa boleh buat. Cheryl menghela nafas. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melakukan ini. Toh, pasti sampai, kan? Katanya, menghibur diri.

Cheryl segera mengikuti langkah Peter. Ia berusaha mengikuti apa yang dilihatnya barusan. Walaupun koordinasi tubuhnya tidak begitu baik—karena ia tidak dapat terlontar dengan sempurna dari tongkat—ia tetap terlontar jauh sekali.

Kali ini, ia tak bisa pura-pura berani lagi! Suaranya dikeluarkan sekencang-kencangnya tanda minta tolong.
Ketika melihat tembok tinggi rumah keluarga Van Arthur, teriakannya makin hebat. Ia takut menabraknya dan malah melorot jatuh ke tanah. Untunglah, tubuhnya berhasil melewati tembok itu dan ia harus segera mendarat dengan baik setelahnya. Sayangnya, yang bisa dilakukannya bukan berusaha memposisikan kakinya dengan baik, tetapi lagi-lagi hanya ekspresi ketakutannya yang semakin menjadi-jadi.

Pasti akan jatuh! Pikir Cheryl sambil memejamkan mata karena ketakutan.

BRUK!

Tubuh Cheryl berhasil ditangkap oleh sepasang tangan. Ia segera bernafas lega. Pasti Peter menolongku, begitu dikiranya. Tetapi, saat membuka mata, ia melihat Peter sedang bangkit berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang. Ternyata bukan Peter yang menolongnya mendarat, melainkan Diaz. Cheryl langsung meronta-ronta minta diturunkan.

”Iya, iya. Aku juga tidak akan berlama-lama, Nona...,” sahut Diaz kalem. Diturunkan gadis itu dari gendongannya. Setelah turun, Cheryl segera menghambur ke arah Peter.

”Selamat datang, Peter. Aku sudah menduga kau akan segera ke mari,” sambut Diaz tersenyum.

”Tadi kau bertemu dengan Cheryl sebelumnya?” tebak Peter, sebab Cheryl tadi sudah ke rumah ini melalui cermin Wytle.

”Lalu kenapa begitu kembali, dia tiba-tiba menamparku? Apa yang terjadi?” Peter menduga, semestinya yang ditampar bukan dirinya, tapi Diaz.

”Oh, itu... Bagaimana ya… ,” Diaz tampak berpikir. Terbesit ingin menjahili Cheryl. Cheryl gelagapan, khawatir Diaz akan mempermalukannya di depan Peter.

“Sebenarnya bukan salahku...,” Diaz melirik Cheryl sebentar, “aku juga tidak tahu mengapa dia hendak menamparku. Untunglah aku selamat,” lanjutnya sambil terkekeh.

Setelah berkata begitu, Diaz mendekati Cheryl. Ia berjongkok di depan gadis itu, menarik lengannya dan diberinya kecupan ringan di punggung telapak tangannya, “Selamat datang, Putri Kecil….”

Jantung Cheryl berdetak sedemikian cepatnya diperlakukan begitu oleh Diaz. Buru-buru lengannya ditarik agar tidak terlalu lama digenggam Diaz. Sementara Peter yang melihatnya, langsung mendadak kesal.

”Diaz, ada yang akan kubicarakan!” seru Peter keras, hendak mengalihkan pembicaraan agar Diaz tidak terlalu lama berjongkok di depan gadis yang disukainya. Mengapa Diaz bisa bersikap sedemikian luwesnya, sementara dirinya justru bersikap sebaliknya? Peter jengkel terhadap dirinya sendiri.

Diaz segera mengajak tamunya berjalan mengikutinya. Mereka mulai memasuki ruangan yang langit-langitnya sangat tinggi dan kabutnya lumayan tebal. Ruangan itu banyak terdapat tiang-tiang. Diaz menjentikkan jarinya. Tak lama, seperti sebuah kain yang melorot, tampak berbagai lukisan terpasang di sana. Di tengahnya ada seperangkat meja. Di situ lah studio Diaz. Lalu, datanglah seorang wanita mengenakan celemek yang penuh renda-renda. Ia—melayang dan tubuhnya transparan—membawa nampan berisi teko, cangkir, dan makanan ringan.

”Silakan duduk,” Diaz membungkuk hormat. Kemudian, kejadian yang kira-kira hampir sama seperti di kantor Wytle, terulang lagi. Peter berharap, kali ini mereka tidak akan berputar-putar untuk mendapatkan solusinya.

”Mudah saja. Lukisan adalah pintu masuknya, ”jawab Diaz.

”Karena Wytle membawa kalian ke sini, maka aku akan membuatkan lukisan agar kau bisa pulang, Nona,” Diaz segera menoleh ke arah wanita transparan yang masih berdiri di samping Diaz. Tampak ia menyuruh wanita itu melakukan sesuatu. Beberapa detik kemudian, wanita itu melayang, lalu kembali ke hadapan Diaz dengan seperangkat alat lukis—palet, cat, kuas, kanvas, dan standing—kayu untuk meletakkan kanvas.

”Sekarang, coba ceritakan tentang tempat di mana kau tiba-tiba ke mari..., ” pinta Diaz. Ia sudah bersiap melukis sekarang. Cheryl tampak berpikir. Karena ia tadi dari kamar, maka ia pun mengatakan keadaan kamarnya. Seirama dengan penceritaan Cheryl, tangan Diaz dengan lincah menari-nari di atas kanvas. Setiap satu jari, ada satu kuas. Ia melukis dengan sepuluh jari—dan Cheryl takjub bagaimana bisa kuas itu menancap kuat di ujung jari. Selesai bercerita, maka selesai pula lukisan itu. Cheryl sampai kagum dibuatnya—tidak hanya cepat, tetapi lukisan itu benar-benar persis seperti keadaan kamarnya.

”Ucapkan keinginan yang kuat sambil menatap lukisan ini. Maka kau akan segera pergi ke sana,” Diaz memberi tahu. Cheryl menelan ludah. Melihat lukisan itu, secara tidak sadar Cheryl langsung membayangkan keadaan kamarnya yang berantakan. Ia pun teringat segera pindah rumah. Betapa inginnya ia kembali sekarang.

Wuussshhhhh!!!

Tubuh Cheryl dikelillingi pusaran angin lembut. Angin itu membawa dirinya memasuki lukisan. Peter tak sanggup mencegah Cheryl untuk pergi. Gadis itu telah lenyap sekarang. Benar-benar kembali ke dunianya.

”Tidak usah khawatir, Peter. Jika dia ingin kembali, pasti ia bisa karena sudah tahu jalannya,” Diaz melihat raut wajah kekecewaan di wajah sepupunya itu. Mungkin Peter sebenarnya hanya ingin tahu bagaimana cara pulang, bukannya ingin dipulangkan saat itu juga.

”Kurasa Hook semakin mendekat. Sebaiknya kau segera bersiap menghadapinya,” seru Diaz. Peter terheran-heran, bagaimana sepupunya tahu padahal dirinya saja belum mengatakan pada siapapun.

”Kabut memiliki telinga, layaknya seperti koran gosip,” Diaz menatap kabut tebal yang menyelimuti ruangannya sambil tersenyum tipis.

Peter segera berpamitan dengan Diaz setelah sepupunya memberikan lukisan tadi untuk disimpan di istana Peter. Bahkan Diaz menyediakan seekor hewan yang dapat terbang untuk mengantarkan sepupunya pulang. Hewan itu mrip seekor gajah, tetapi berwarna putih cemerlang, dengan dudukan mewah di punggungnya. Telinganya sangat lebar dan berfungsi ganda sebagai sayap. Dipersilakannya Peter menaiki hewan itu. Ia pun kembali ke istananya dalam hitungan detik.

Cheryl terbangun di atas lantai. Di depannya terhampar alat-alat gambar dan gambarnya. Ia telah kembali. Sekarang ia pun tahu bagaimana cara jika ingin pergi ke Neverland. Ia bangkit, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor. Lalu melanjutkan beres-beres barangnya. Esok ia akan pindah. Berarti, setelah mengurus kepindahannya, ia akan segera kembali ke Neverland. Merayakan ulang tahun yang kedua kalinya di sana.

Keesokan harinya, Mama Cheryl memintanya bersiap-siap. Mereka pindah hari ini. Barang-barang sudah dimasukkan ke mobil jasa angkut yang disewa orangtuanya. Sedangkan Cheryl dan Mamanya menaiki mobil pribadi. Papanya masih di rumah untuk beres-beres dan mengawasi petugas jasa angkut yang masih akan kembali lagi nanti. Cheryl tampak bersemangat, tak sabar melihat tempat tinggal barunya kelak. Mobil berarak pelan, hendak melakukan perjalanan jauh—kira-kira lima jam lamanya. Cheryl terlelap sembari tersenyum.

Akhirnya, sampai jugalah mereka di rumah baru. Rumah yang tak kalah indah dengan rumah yang lama. Bedanya, lingkungannya lebih sepi. Pertokoan tidak seramai di tempat tinggal sebelumnya. Banyak pohon pinus di jalanan membuat udara selalu sejuk. Cheryl segera menyenangi tempat barunya itu.

Cheryl dan Mamanya bahu-membahu merapikan perabotan-perabotan yang baru saja diturunkan dari mobil angkut. Setelah selesai menurunkan barang, mobil jasa angkut kembali ke rumah lama untuk mengambil barang yang masih tersisa. Baru sebentar, Cheryl sudah merasa capek. Ia meminta ijin Mamanya untuk berjalan-jalan sebentar di lingkungan barunya.

”Pasti capek, ya? Istirahat saja dulu, mengapa malah mau jalan-jalan?” tanya Mamanya. Cheryl menggeleng. Ingin melihat-lihat pertokoan di sekitar situ. Ia tadi sempat melihat toko barang antik yang menarik. Barangkali bisa sekalian mencari kado untuk Peter.

”Tidak apa-apa, Ma! Betul!” serunya cepat. Mamanya menyerah, terpaksa memberi ijin pergi.

Cheryl segera keluar rumah. Ia melangkah menyusuri jalanan itu. Jalan yang sepi. Tidak banyak kendaraan berlalu-lalang di sini. Sesekali orang-orang saling menyapa ramah. Ah betul-betul lingkungan kecil yang menyenangkan! Penduduknya pun saling mengenal satu sama lain.

Di ujung jalan ada sebuah persimpangan. Di sana, berdiri seorang pengemis. Pengemis itu berpakaian garis-garis hitam putih, dengan mata tertutup sebelah. Ia mengemis dengan cara membual. Sebuah topi diletakkan terbalik, digunakan sebagai tadah uang.

”Hook?” seru Cheryl sambil mendekati pengemis itu. Mengapa bisa ada Hook di dunianya? Ia bertanya-tanya dalam hati. Pengemis itu acuh tak acuh sambil terus membual, berharap diberi sepeser uang. Cheryl masih bingung, tetapi ia segera pergi meninggalkan pengemis itu tanpa memberinya uang sedikit pun.

Toko itu dicat dengan warna keemasan. Tampak berbagai barang antik di jendela etalasenya. Cahaya ruangan di dalamnya diterangi lampu temaram. Berharap menemukan barang bagus di toko antik itu, Cheryl tak ragu membuka pintunya.

Ruangan itu kecil, dengan ratusan barang ditata rapi di sana. Ada lukisan, cermin, sisir, teko, yoyo, jam dinding, boneka, dan lainnya. Barang-barang yang mungkin biasa, tetapi didesain dengan indah.

“Selamat datang,” sapa pemilik toko begitu ia melihat Cheryl. Betapa kagetnya gadis itu, sebab pemilik toko itu adalah orang yang beberapa saat lalu mengantarkannya kembali ke dunianya.

“Diaz? Kau mengikutiku!” tuduh Cheryl.

“Hai, Nona. Kita bertemu lagi,” sapa Diaz seraya tersenyum, “tapi, bukankah kau yang mengikutiku? Aku sudah di sini sejak dulu,” jawabnya. Cheryl tersadar bahwa dirinyalah yang barusan pindah ke daerah ini. Gadis itu merutuk sebal karena menyadari kebodohannya.

“Mengapa....?” tanya Cheryl terbata. Tadi dia melihat Hook, sekarang Diaz. Ia benar-benar bingung.

“Dunia ini dan Neverland saling terhubung. Dunia paralel, di mana kehidupan berjalan pula di dunia yang lain. Aku dan mungkin beberapa orang-orang di dunia ini sudah sering ke Neverland, begitu pula sebaliknya. Kau tentu tahu Wytle? Dia adalah penyihir yang berasal dari dunia sini. Ia juga sering bolak-balik ke Neverland dan ke mari,” terang Diaz panjang lebar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Lebih tepatnya, buat apa seorang bangsawan terhormat Neverland rela berjualan di sini.

”Tentu saja aku berdagang barang antik. Alasan Wytle menyuruhmu menemuiku adalah karena aku sering pergi ke dunia ini. Dia tentu juga tahu jika aku bisa mengembalikanmu. Selain itu, banyak benda yang dianggap biasa di Neverland, tetapi menjelma menjadi benda ajaib bila dibawa ke dunia ini. Jadi, benda-benda seperti itulah yang dijual.”

Bagi Cheryl, kedengarannya alasan itu tak cukup logis. Tidak mungkin bangsawan kekurangan uang, bukan?

”Nah, Nona... Apa yang kau cari di sini? Kau masuk ke sini karena mencari sesuatu, tentunya?,” ucapan Diaz membuat Cheryl tersadar tujuan utamanya masuk ke toko. Gadis itu memandang barang-barang yang tertata di sana. Terus terang ia bingung. Hadiah apa yang kira-kira cocok?

“Mencari kado untuk Pangeran Peter, Nona...?” tebak Diaz karena Cheryl tidak menjawab. Undangan pesta sudah diterima Diaz, sehingga ia bisa mengiranya. Pipi Cheryl bersemu merah. Laki-laki itu menganggap sikap Cheryl sebagai sebuah jawaban.

Ia segera mengambil sebuah benda di atas meja yang ada di dekatnya. Segera, ia mempromosikan benda itu. Sebuah pedang panjang. Sarungnya berukiran emas yang sangat indah, dengan permata yang berkilau. Diaz mengeluarkan pedang dari sarungnya. Pedang yang sangat panjang—melebihi sarungnya. Ujung pedang terbelah dua, seperti lidah ular. Cahaya lampu terpantul dari permukaan pedang. Pegangannya juga terukir indah dengan permata super besar. Terdapat permata besar di ujung pedang. Cheryl terpesona melihat pedang itu.

“Bagaimana? Indah, bukan? Sangat cocok untuk Pangeran Peter....”

Cheryl setuju dengan ucapan Diaz. Tetapi ia berpikir bagaimana cara membawa benda sebesar itu ke rumah? Mamanya akan curiga. Berjalan-jalan dengan benda sebesar itu saja pasti sudah membuat orang-orang akan memandangnya aneh. Belum lagi harganya. Tidak mungkin murah!

”Untukmu, akan kuberi diskon, Nona,” Diaz memasukkan lagi pedang ke sarungnya. Pedang itu ditekan-tekan ke sarungnya hingga cukup—bahkan sarungnya ikut mengecil. Terus mengecil. Cheryl terpana. Ukuran pedang itu sekarang lebih kecil daripada jari kelingkingnya!

”Ini juga bisa dipakai sebagai perhiasan,” Diaz menggenggam pedang tersebut. Tangannya dengan cekatan meraih telinga Cheryl dan memasang pedang itu pada daun telinganya. Jantung Cheryl berdegup lagi tak karuan begitu jemari Diaz menyingkirkan rambutnya, lalu menyentuh kulitnya. Ia hendak melayangkan tonjokan. Sayang, Diaz lebih gesit menahan tangan Cheryl.

”Bagaimana? Kau mau itu?” tanya Diaz. Gadis di depannya masih bimbang. Diaz malah tampak menuliskan sesuatu, seperti bon. Lalu menyerahkan bon itu kepada Cheryl. Harga yang murah. Bahkan Cheryl tak ambil pusing untuk menawarnya. Ia hanya menjawab dengan anggukan pelan dan memberikan sejumlah uang.
Transaksi selesai. Cheryl segera keluar dari toko itu. Tak sengaja, ia menabrak seorang wanita di depan pintu masuk. Wanita itu mengenakan coat panjang yang anggun, dengan topi yang sedikit menutup wajahnya.

”Wytle!” seru Cheryl terpana, setelah melihat sebentuk wajah yang nampak karena topinya terangkat. Wytle tersenyum.

”Tidak mungkin! Ini tidak nyata...,” desisnya.

”Sejak awal memang semuanya tidak nyata, gadis kecil...,” jawab Wytle sambil lalu. Cheryl memandang pintu toko itu tertutup dan Wytle menghilang di baliknya. Ia menatap lama pintu toko, lalu berjalan pulang. Ia benar-benar bingung. Masihkah ia berada di Neverland? Benarkah ia sudah pulang ke dunianya?

Read previous post:  
67
points
(0 words) posted by Kumiiko_chan 11 years 18 weeks ago
74.4444
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | fansy romantis | gie | kolab | kumiiko | neverland
Read next post:  
Writer shafira
shafira at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 15 weeks ago)
90

Mantap!
Aku suka wilayah khayalmu.
dan di bagian ini karakter tokoh terasa begitu kuat.
Dan tokoh lelaki (peter dan diaz) pun terasa lebih macho.
ending yang bagus, membuat orang penasaran akan kelanjutan cerita ini.
two tumbs up..
d^_^b

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (10 years 39 weeks ago)

komentarmu sudah lama yah, tapi aku baru baca.. ya ampun.. hahahhahahha.. maaafkan akuu... aku telah lama menghilang dari dunia kemudian.com...


terimakasih yah udah mampir dan kasih komentar...

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 15 weeks ago)

Waw... Ahirna Ka Shafira muncul! Betul, betul, punya Ka Suararaa ini mang mantap!

Writer bdariey
bdariey at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
90

uhuaaaa,,bagus deh,,aku harus baca yg sebelum2nya nih,,udah ketinggalan banget,,
salam kenal kak,,member baru,,hehe

Writer bdariey
bdariey at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
90

uhuaaaa,,bagus deh,,aku harus baca yg sebelum2nya nih,,udah ketinggalan banget,,
salam kenal kak,,member baru,,hehe

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

makasih ya bdariey..
makasih dah mampir n baca, n komen..
ikutin terus lanjutannya ya

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
90

Ide lompat galahnya asik ^^
selamat berjuang deh buat yang bikin lanjutannya
ganbette!

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

makasih kurenai...
makasih dah bca n ngomen jg..
ikuti terus ya (ngarep)
:)

Writer cyber_nana
cyber_nana at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
90

belum baca smua sih (baru scanning kilat) tapi keliatannya ini part seru, terus Nana nangkep gaya penceritaannya k rara sedikit berbeda dgn gaya penceritaan sebelumnya tapi Nana suka

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

wew,,,
kuharap setelah bener2 dibaca nggak kecewa yah....
iya, utk gaya penceritaan, aku berusaha menyesuaikan dg gaya cerita para kolab'ers sebelumnya....
makasih dah baca n koment.... :)

Writer cyber_nana
cyber_nana at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

sebetulnya... part ini tidak mengecewakan sama sekali.. justru Nana paling suka part ini (mungkin karena konfliknya dah mulai ya)

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
100

Ninggalin poin dulu, baru bkal sy baca pas OL di leptop.
Wah wah kyna bgn ni seru ni!!! XD

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

duduwww,,,,
jangan berharap terlalu tinggi gie..., ntar kecewa, lhoh..
maapkan yah klo ga berkenan..
mohon kritik n sarannya...

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

*mimisan* Oh my... itu ada adegan Diaz mandi!!! *syok* *mimisan lagi*
.
Ada beberapa kalimat deskripsi yang menurut saya berlebihan yang akibatna membwt kalimat itu berasa 'lebai' dan kurang efektif, macem "ada sesosok (tubuh) yang indah sedang membasuh tubuhnya di bawah air terjun. Tubuh laki-laki itu basah."
Pengulangan kata tubuhna, terlalu banyak. Dan lagipula sudah disebut 'membasuh' tubuh, jadi pasti basah, kan?
.
Saya sukaaaaaa banget fantasina! Mantap! Galah itu lhoooo... bikin saya pengen nyoba!!! Ka Suararaa berbakat nulis fantasi ni XD
.
Ada beberapa typo Ka.
.
Pkona walo Diaz telah merebut hati para penulis kolab ini, saya tetep setia sama Peter! (Peter naas banget di chapter ini ==a)
.
Dan saya tidak akan mengurangi poin bwt cerita ini!!! Hidup Ka Suararaa!!! *soraksorai*

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

wah wah.. (nyodorin tisu) dilap dlu mimisannya y...

maap maap yg bagian lebay2 itu aku edit ntar yak.. makasih ya udah dikoreksi....

tntg lompat galah, saya terinspirasi komik gratisan milo yg tentang sains-olahraga, dan emang pengen nyobain lompat galah (ketahuan)

owh mash ada typoo yak? baiklah saya edit lagi...*padahal udah bolak balik baca koq ga nemuin lagi yak.. kasi tau dong....

maapkan saia yg membuat peter naas (naas nya di bagian mana ? apakah perlu diperbaiki biar nasibnya bagusan dikit?)

maapkann saya yg ngefans sama diaz , dan berdampak pada nasib peter yg begitu..

Writer cat
cat at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
80

Ha? Kau menyiksaku rahma! Bagaimana aku dapat mengolahnya wuah . . .

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

maapkan saya tante cat...
silakan bertapa dulu,,,
wkwkkwkwkwkwkk....

*kaburrr sebelm ditimpuk tante cat

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
90

Diazzz... i loph you! dahsyat, aku suka suka suka karakter Diaz disini kak ^^ mantap :D

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
90

Diazzz... i loph you! dahsyat, aku suka suka suka karakter Diaz disini kak ^^ mantap :D

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

hahahhaa..
aku jg suka sama diaz..


makasih y kumiiko udah baca n ngoment..
:)

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

deskripsinya berkembang pesat dari chapter 2 kak, setelah saya pertama kali munculkan Diaz, huhu.. ajarin saya buat cerita seperti ini kak T_T

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

awww,,
masak sih... *jadi maluuu
emmm,,, klo deskripsi tinggal dibayangin aja terus dituliskan kata2 nya,,,

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

susah kak, huhuhu... deskrpsi Diaz disini betul-betul bisa saya bayangkan, wajah yg tegas, rambut hitam dan bola mata yg dalam, dan lain-lainnya. Aih ~ Diaz Van Arthur! kalahkan Peter, rebut Cheryl! hahai *ditimpuk gie karena merusuh jalan cerita xp

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

eeemmm *berpikir*
biarlah peter dg cheryl.. diaz buat saya aja. wkwkwkkwkkk
*ngarep

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

aaaa... ga mau, Diaz buat saya :D
hahai ^^

Writer cat
cat at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

tenang aja .. diaz tidak untuk kalian semua dan cheryl
karena saya sang ratu kegelapan akan menewaskan Diaz wkwkwkwk hua ha ah aha haaa

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

HANCURKAN! BUNUH! CIPRATKAN DARAH DIMANA-MANA!!! *sadis modeon*
Lah, jadi cerita bunuh-bunuhan nih? Wakakakaaka... saya menunggu dengan tenang az ah di balik layar (lho?)

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)

aih aih tante cat .. daripada dia mati mending saya simpen *apanya coba yg disimpen wkwkwkkwkk

Writer suararaa
suararaa at Le Conte d'amour à Neverland #3 (11 years 17 weeks ago)
100

nah nah nah....
Akhirnya selesai jugaaa....
hosh!


Mohon maap sama yang punya kolab kalo ceritanya begini,, dan mohon maap kalo adegan percintaannya kebanyakan dengan Diaz (karena aku suka Diaz! yei!)


Mohon maap kalau kebanyakan.. karena teringat cuma sampai part 5 dan saya berpikir harus mempersiapkan konfliknya. Nah, konfliknya sudah saya munculkan... semoga bisa diselesaikan dengan baik.


mohon kritik dan sarannya..