Kitab 100 - Bukan Tahu Isi

Para pengungsi di sekitar lereng Merapi, perlahan-lahan semakin menyusut jumlahnya. Hal ini karena jarak aman Merapi makin dipersempit, sehingga warga mulai kembali ke rumah masing-masing. Bahkan, perkemahan pengungsi di tempat Pepper berada akan bubar pada hari Minggu besok, karena sebagian besar warganya tinggal lebih dari radius 15 kilometer, yang artinya jarak tersebut sudah aman untuk ditempati lagi.

Selama menjadi sukarelawan, Pepper juga ikut tinggal di pengungsian bersama pengungsi. Besok kalau pengungsian ini bubar dan fungsi tempat ini berubah ke semula, di manakah Pepper tinggal? Mungkin sudah saatnya meninggalkan Jogja untuk mencari resep baru.

"Pepper, setelah ini kamu mau ke mana?" tanya seorang gadis membuyarkan lamunan Pepper. Dia adalah seorang pengungsi yang juga sebagai relawan, namanya Vanilla. Dia juga yang turut bekerja di dapur umum bersama dirinya, merangkap petugas administrasi pengungsi.

"Belum tahu, juga. Mungkin pergi dari Jogja, tapi belum tahu ke mana. Aku harus mencari resep lagi," jawab Pepper seadanya. Jujur saja, Pepper belum ada rencana hendak mencari resep ke mana lagi. Tapi tentu saja, dia juga harus ikut hengkang dari pengungsian itu bersama pengungsi lainnya.

"Besok, mampir dulu sebentar ke rumahku, bagaimana? Setelah itu, kuantar ke stasiun Tugu," Vanilla tampak berpikir sebentar, seperti tiba-tiba menyadari sesuatu, "eh kamu mau pergi naik kereta api, kan...?" tanyanya sambil tertawa, menyadari lawan bicaranya belum punya tujuan, pasti juga belum memikirkan akan naik kendaraan apa.

"Ngapain ke rumahmu? Disuruh bantu-bantu bersihin abu vulkanik?" Pepper bukannya menjawab, malah menimpali dengan jahil.

"Ih, mana mungkin, kan...!" Vanilla tersenyum, lalu katanya lagi, "bukannya kamu lagi cari resep? Mampirlah ke rumahku, aku akan buat sesuatu untukmu."

"Sebagai salam perpisahan?"

"Hm.... Anggap saja begitu!"

"Oke. Besok ya setelah beres-beres!" sahut Pepper akhirnya.

*

Pagi ini, para pengungsi sudah mulai meninggalkan tenda pengungsian. Sementara, para relawan sibuk membereskan logistik yang masih tersisa--dan sebelum para pengungsi pergi, dibagi-bagikan kepada mereka. Pepper sibuk membereskan dapur darurat karena akan dibongkar segera setelah memasak masakan terakhir. Vanilla sendiri, masih sibuk mencatat data pengungsi yang pulang ke rumahnya masing-masing. Sebab dirinya merangkap sebagai relawan, dia mesti menjadi pengungsi yang pulang paling akhir.

Baru sekitar pukul sebelas siang, pengungsian sudah lumayan bersih. Hanya tinggal sampah-sampah yang masih belum dibereskan. Barang-barang yang digunakan sementara selama di pengungsian, mulai diangkut satu persatu ke bak truk terbuka. Biasanya, peralatan-peralatan tersebut milik yayasan-yayasan sosial yang dipinjamkan sementara--selain milik relawan secara pribadi. Sebab pekerjaan tinggal sedikit, Pepper dan beberapa relawan sudah diperbolehkan pulang. Pepper sendiri sudah menyelesaikan pekerjaannya, termasuk membagikan makanan yang sudah dimasak tadi pagi untuk dimakan siang itu bagi para relawan.

"Pepper, sekarang, yuk!" Ajak Vanilla menghampiri Pepper yang baru saja berjalan dari tempat bekas tenda dapur umum--tenda itu sudah dibongkar dan isinya juga sudah kosong.

Pepper dan Vanilla menaiki motor menuju salah satu desa yang terletak di kecamatan Tempel. Motor Vanilla ikut diungsikan bersama barang-barang lainnya. Keluarga Vanilla yang lain sudah pulang terlebih dahulu sejak pagi-pagi. Pepper membonceng di belakang gadis itu. Apa boleh buat, setidaknya ada dua alasan mengapa dia yang membonceng perempuan dan bukan sebaliknya. Pertama, dia tidak punya SIM. Kedua, dan ini sebenarnya alasan utama, Pepper tidak bisa naik motor.

Lingkungan di desa ini tampak asri. Walaupun masih masuk zona bahaya Merapi beberapa waktu lalu, tetapi tempat ini tidak terlalu kotor dan tidak separah dusun Kinahrejo, dusun di daerah utara yang hanya beradius 4 kilometer dari puncak Merapi. Sawah-sawah masih tampak hijau, pepohonan masih tumbuh tegak, meskipun ada sedikit bubuk putih di daun dahannya. Secara keseluruhan, desa ini normal. Mungkin karena hujan beberapa waktu yang sangat deras mampu menyapu material Merapi.

Tibalah Pepper di rumah Vanilla. Rumah bertingkat dua yang sederhana, dengan halaman yang lumayan luas. Di depannya ditanami tanaman sehingga tampak. Vanilla segera memarkir motornya di halaman itu. Ia segera menerobos masuk ke dalam rumah, setelah sebelumnya menyuruh Pepper berjalan di belakangnya.

"Ikut masuk langsung aja ke dapur, yuk," seru gadis itu ketika mereka berjalan sampai di ruang tamu.

"Heran ya. Rumahmu bisa bersih begini padahal sudah ditinggal ke pengungsian...," ujar Pepper sambil terus berjalan menuju dapur.

Vanilla tergelak mendengar ocehan pemuda itu, "Itu karena kita datangnya siang-siang begini. Lagian, kemarin-kemarin juga, keluargaku dan aku udah sering bolak-balik ke rumah untuk bersih-bersih. Jadi, yaa nggak terlalu kotor, dan...," gadis itu berhenti sejenak, "jangan heran kalau isi kulkasku nggak kosong-kosong amat, ya....!"

Gadis itu pun membuka pintu kulkas di depannya. Beberapa makanan segar tampak di dalamnya. Pantas, rasanya aneh ketika kemarin diajak masak di rumah seorang pengungsi. Pepper sempat heran, bagaimana mungkin di rumah pengungsi akan ada makanan--kecuali makanan jadi yang memang diberikan oleh relawan atau donatur.

"Hm.. kita masak apa ya....?" Vanilla bergumam sembil mengaduk-aduk isi kulkasnya. Pepper hanya memperhatikan temannya itu dari balik punggungnya. Beberapa saat kemudian, ia tampak membawa buntelan dan satu baskom berisi tahu. Gadis itu segera meletakkan bahan-bahan masakan di atas meja panjang dekat dengan kompor.

"Tahu dan... fillet kakap? Udang? Mau buat apa?" tanya Pepper melihat buntelan plastik dibuka oleh temannya itu. Fillet kakap sudah agak beku karena dimasukkan dalam freezer.

"Hehe.. liat aja nanti, ya..," sahut Vanilla sambil tersenyum simpul, "o, ya, tolong fillet kakap sama udangnya disiram air panas biar agak empuk," sambil berkata begitu, ia pun berjalan menuju lemari dapur dan mencari-cari sesuatu.

Pepper mengambil baskom dan meletakkan fillet kakap di dalamnya. Ia pun meraih termos yang berada di dekatnya, lalu menyiramkannya. Vanilla masih sibuk mencari-cari bahan lain di lemarinya.

"Orang rumahmu ke mana?" tanya Pepper memecah keheningan.

"Eee.., lagi pada bersih-bersih kayaknya di lantai dua...," jawab Vanilla sambil membawa satu wadah berisi merica, satu lagi berisi garam.

"Kamu nggak ikutan bersih-bersih?"

"Haha. Nggak apa-apa. Nanti mereka juga pasti senang, kok. Pas selesai bersih-bersih, udah ada makanan," sahutnya sambil tertawa lagi. Gadis itu, beralih lagi ke lemari dapur yang lain dan mengambil toples berisi tepung kanji dan juga beberapa siung bawang putih.

"Kakap filletnya udah agak empuk kan, ya? Udah bisa dicampur berarti ya...," Vanilla menekan-nekan kakap fillet tersebut, lalu ia memindahkannya ke baskom satunya. Ia menaburkan tepung kanji dan mencampurkannya dengan air.

"Nah, tolong kamu membuat lubang di tahunya pakai sendok," Vanilla masih terus mencampurkan tepung kanji dan kakap fillet, "sendok ada di sana, ya," ia memberi tahu sambil menunjukkan dengan matanya. Pepper segera melakukan apa yang diminta temannya.

"Mau buat tahu isi?" tebak Pepper sambil mulai membuat cekungan-cekungan pada tahu, "nanti ikannya diisi di dalam tahu?"

"Setengah betul, setengah salah! Hahaa," Vanilla tergelak lagi. Ia sekarang mengambil panci besar, yang ada tutupnya. Di bawah panci itu, diisinya dengan air. Ia meletakkan alumnunium pipih yang banyak terdapat lubang-lubang kecil, ke dalam panci tersebut--pas di atas air. Karena itu airnya tidak penuh. Segera setelahnya, panci itu diletakkan di atas kompor. Kompor pun dihidupkan.

"Betul, kan, pasti ini mau dikukus! Tahu isi!" Pepper semakin yakin bahwa mereka sedang membuat tahu isi setelah melihat apa yang dilakukan gadis di sampingnya itu.

"Bukan!" Vanilla tetap tidak mau kalah, "sudah, sudah. Sekarang, kamu sudah selesai, kan? Tolong isi tahunya dengan campuran fillet dan tepung."

"Ya kan! Ini apa namanya kalau bukan tahu isi!" Pepper tersenyum senang karena tebakannya benar. Ia mulai mengisi cekungan tahu itu dengan campuran ikan dan tepung.

"Dibilang bukan, kok.. Masih ada lanjutannya," selesai berkata begitu, gadis itu mulai mengambil ulekan. Setelah itu, ia mengupas bawang putih, lalu menaburkan merica dan garam dapur di atasnya. Ia mulai mengulek bumbu.

"Itu mau dibuat apa?" tanya Pepper penasaran. Tanpa menunggu jawaban, ia malah bertanya lagi memastikan, "Tahu isinya tinggal dikukus aja, kan?"

"Iya betul! Masukkan langsung aja ke soblok!"

"Soblok?" Pepper tak paham benda apa yang dimaksud.

"Oh! Maksudku, panci besar itu. Biasa disebut soblok kalau di sini."

Sambil ber-ooh panjang, Pepper menata tahu isi agar cukup dan tidak hancur bentuknya di dalam soblok. Setelah semua tahu isi cukup di dalam soblok, ia pun menutup tutupnya. Di sisi lain, Vanilla memanaskan wajan di atas bara api di kompor yang sama.

"Pepper, tolong bumbunya disangrai dulu, ya. Nanti kalau sudah sudah wangi, masukkan udangnya. Ntar tunggu sampai udangnya matang, terus diisi air," jelas Vanilla. Pepper mengangguk, lalu segera mengerjakannya.

Gadis itu sendiri, berjalan menuju lemari dapur. Ia mengeluarkan mihun kering dari dalamnya. Dengan cepat, tangannya mengeluarkan mie dari plastik. Diletakkannya mihun itu di atas mangkok, lalu ia menuangkan air panas agar mihun itu mekar.

"Airnya seberapa, nih?" tanya Pepper sambil mengaduk-aduk air yang memenuhi tiga per empat wajan.

"Dicicip aja, sih, seberapa pasnya. Kalau masih terlalu asin, ya tambah lagi airnya. Kalau kurang asin, tambah aja garamnya, " sembari berkata begitu, ia memberikan sendok kepada Pepper.

Pepper segera menerima sendok itu darinya dan mencicip rasa kuahnya.

"Udah pas...," ujar Pepper sambil memandangi air yang sudah mulai matang, "menurutku...."

"Hm.. airnya juga sudah mendidih," Vanilla mengambil mihun yang masih ada airnya, lalu meniriskannya.

"Yup.. masukkan mihunnya.....," seru gadis itu sambil menuang mihun ke dalam air yang mendidih. Kemudian, Pepper melanjutkan mengaduknya lagi. Temannya, malah beralih ke panci di kompor di sebelah wajan. Ia membuka tutupnya dengan serbet dan melihat ke dalamnya. Uapnya sambil mengepul menutupi wajahnya.

"Udah matang!" serunya senang. Kemudian ia menutup panci itu, dan mematikan api.

"Matikan apinya, Pepper! Sekarang kita makaaaan!" Vanilla segera mengambil dua buah piring di rak tempat makan, beserta dua buah sendok.

Gadis itu mencontohkan cara makannya. Pertama, ia mengambil tahu isi terlebih dahulu. Lalu, ia menyiramkan kuah di atasnya. Ia mengambil mihun yang lumayan banyak dan mencari-cari udang di air.

"Pilih-pilih!" umpat Pepper. Sambil berkata seperti itu, ia segera mengikuti apa yang baru saja dilakukan temannya.

"Ih, biar dong. Kamu juga boleh kok. Hahaha...," candanya, "yuk, makannya di meja sebelah ya..."

"Jadi, ini tahu isi modifikasi?" tebak Pepper asal setelah mengambil tempat duduk di samping temannya.

"Bukaaaan!"

"Jadi?"

"Ini namanya model. Masakan dari Palembang. Sejenis tekwan," jawab Vanilla akhirnya. Pemuda di sampingnya manggut-manggut sambil mengingat-ingat apa saja bumbunya. Ia berencana segera mencatatnya sebelum lupa.

"Sebenarnya kuahnya juga isinya sama seperti tekwan. Harusnya, kuahnya pakai jamur kuping, sama irisan bengkoang juga, sih.. ," gadis itu terdiam sebentar, "tapi, yah... nggak ada.... jadi, ya..."

Pepper menatap Vanilla sebentar. Dipikir-pikir, gadis ini pasti baru saja mengalami masa yang berat selama pengungsian. Tapi ia berusaha tetap ceria, bahkan mengajak dirinya makan bersama di rumahnya, padahal makanannya hanya seadanya.

"Tapi tetap enak, kan?!" Mendadak nada bicara gadis itu ceria kembali.

"Tentu saja!" Pepper menjawab dengan cengiran lebar.

Mereka berdua pun makan dengan lahap diselingi obrolan dan tawa. Tak terasa, piring sudah ludes. Mereka pun segera kembali ke dapur, meletakkan piring di tempat cucinya.

"Nah, Pepper.... Tidak baik, kan kalau SMP--Setelah Makan Pulang...," goda Vanilla, lalu lanjutnya, "kamu, yaaaa yang cuci piring dan.. cuci semua bekas alat masaknya...?" Vanilla bertanya sambil berkedip-kedip genit.

Sial. Aku dikerjain!

Umpat Pepper dalam hati.

Tetap saja, Pepper mengerjakan apa yang dipinta temannya. Bagaimanapun, ia tidak enak menolak. Ia mulai mencuci semua peralatan masak satu per satu.

"Wah, ada siapa ini....?" terdengar suara ramah setelah beberapa langkah menuruni anak tangga. Sang pemilik suara rupanya segera menyadari keberadaan orang asing di rumahnya.

"Ibu, ini temanku. Namanya Pepper, asalnya dari Pontianak. Dia ini teman relawan di pengungsian," Vanilla memperkenalkan Pepper kepada wanita setengah baya tersebut. Pepper menoleh sebentar, lalu menyungginkan senyuman.

"Nah, terus kenapa temanmu itu disuruh mencuci?" ibunya keheranan melihat tamunya itu mencuci.

"Kami habis masak, lho, Bu. Ibu makan dulu, saja!" anak gadisnya malah mengalihkan pembicaraan.

"Kamu ini! Pasti kamu yang menyuruh temanmu mencuci, ya?" tuduh ibunya.

"Hehe. Nggak apa-apa kok! Nanti sebagai gantinya aku anterin dia ke....," tiba-tiba kata-katanya terputus, lalu menoleh kepada temannya yang masih mencuci, "Pepper kamu mau ke mana dan naik apa?"

Ditanya begitu, Pepper bingung mau menjawab apa. Ke mana setelah ini? Ia pun hanya bisa diam.

"Mau ke mana, Nak?" wanita itu ganti bertanya pada Pepper.

"Bu! Dia ini lagi cari resep! Sebaiknya dia ke mana menurut ibu?" Vanilla langsung menyambar menjawabnya. Pepper diam saja dan masih mencuci. Ia malah berharap diberi masukan akan ke mana.

"Ke Solo saja, bagaimana? Di sana tempatnya wisata kuliner.... Mungkin bisa dapat resep-resep makanan enak di sana," ibu Vanilla memberi saran.

"Kalau begitu, dari sini naik kereta api saja," gumam Vanilla. Padahal Pepper sendiri belum memutuskan akan benar-benar ke Solo.

"Berarti nanti kamu kuantar ke stasiun saja, ya!" seru Vanilla kepada Pepper. Gadis itu seolah yang menentukan tujuan temannya.

Kenapa jadi dia yang mutusin? Gerutu Pepper dalam hati.

"Kereta ke Solo adanya pagi dan sore. Bagaimana kalau istirahat di sini saja dulu sambil menunggu waktu nanti sore?" wanita tersebut menawari.

"Ng.. Gimana kalau bantu beres-beres abu vulkanik aja? Masih nyisa dikit-dikit...," usul Vanilla ngawur.

"Hush! Ngawur kamu. Biarkan dia istirahat saja. Suruh tidur di kamar adikmu," perintah ibunya. Kali ini Pepper selamat karena tidak lagi harus menuruti permintaan temannya. Temannya pun segera menuruti ibunya. Ia mengantarkan Pepper tidur di kamar adik laki-lakinya.

"Istirahat aja dulu, Pepper, nanti kubangunkan. Sekarang, aku mau bersih-bersih dulu..."

*

Stasiun tugu Yogyakarta tampak lengang sore itu. Tidak terlalu banyak calon penumpang yang menunggu dengan duduk-duduk di bangku-bangku peron. Kereta api yang ditumpangi Pepper akan tiba sebentar lagi. Pepper dan Vanilla menunggu di bangku peron. Tiket kereta api sudah dibeli di loket depan stasiun. Tak lama, terdengar pengumuman kedatangan kereta api Pramex menuju Solo-Balapan. Kedua orang tersebut segera bangkit dari bangku dan berjalan menuju garis pinggir batas rel.

Kereta api akhirnya tiba. Pintu terbuka dan beberapa orang keluar dari dalamnya.

"Terima kasih atas semuanya!" ujar Pepper seraya berpamitan sebelum memasuki pintu kereta. Vanilla melambaikan tangan sambil tersenyum.

"Semoga sukses selalu, Pepper!"

"Nanti kalau aku sudah berhasil, mampir ke restoranku di Pontianak, ya!"

Kemudian, Pepper melangkahkan kakinya memasuki pintu kereta. Beberapa detik setelahnya, terdengar pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat. Pintu kereta segera tertutup otomatis. Kereta api pun segera berarak pelan meninggalkan Yogyakarta.

"Aku janji, Pepper," bisik Vanilla. Bibirnya masih mengulas senyuman untuk teman yang baru saja meninggalkannya.

Read previous post:  
91
points
(2914 words) posted by duniamimpigie 11 years 18 weeks ago
91
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | gie | kitab 100 | masakan | pepper | wagaimo
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cat
cat at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (10 years 23 weeks ago)

lanjutkanlah Kolab kitab 100 iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Writer cyber_nana
cyber_nana at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (10 years 49 weeks ago)
90

poin.... :D

Writer cyber_nana
cyber_nana at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (10 years 49 weeks ago)

Aaaaa... parah bgt Nana bru sempet bacanya sekarang.. T_T
idem ma komentar yg lain.. :D
Pas Vanillanya bilang itu bukan tahu isi jadi bikin penasaran abis... hahaha..

(poin nyusul... ga bisa memoin dr Hp..)

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (10 years 39 weeks ago)

hahaha ngga apa2,, aku aja baru mbaca komennya sekarang.. haha

makasih yah udah mampir dan koment...

Writer aimie keiko
aimie keiko at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 12 weeks ago)
100

Ra, pokoknya saya selalu laper setelah baca kolab kalian..
lepas dr komen2 yg lain... hehehehe

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 12 weeks ago)

dimasak aja resep2nya.. ntar kenyang. hehehehe..
makasih dah baca yaa... dan komen yaa....

Writer DeMEter
DeMEter at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 14 weeks ago)

Bingung mau komen apaan, yang jelas, aku emang ngerasa cerita ini di buat dengan sangat terburu-buru.
Yasudlah.. ntar baca lagi lanjutanyna,
ngomong2, habis ini bag Gie kah?

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 13 weeks ago)

yeah memang demikianlah. maafkan...
nggak tau siapa habis ini... tanyalah pada tante cat...

Writer cat
cat at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)
90

Rahma - apa karena ku todong dirimu jd buru2 bikinnya yak? Maaf ..

emang feelnya kurang terasa, sepertinya kamu lebih fokus ke Vanila.

namun settign tempat sangat bagus penjelasannya.

hanya saja 1. di gerita gie bukannya Pepper uda keluar pake bus dari daerah pengungsian??

2. aku mau coba bikin resep ini ah .. mudah2an kenz sukaaaaaa

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

eaa.. begitulahhh...

tapi konsep ttg temennya pepper ini udah dri dlu, lho, tante..
hah? apa betul udah naik bis? nggak kayknnya.. itu kan yg dibikin hers kan, tante...?
hedeh, cba nanti aku cek lg..
maapkan saia , akan saia perbaiki

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

Ending punya saya Pepper sudah masuk bus, begitulah Ka... tapi bisa diakali dengan membuat bahwa pengungsian yang ada Vanilla-na adalah pengungsian yang beda dengan yang ada Deval-na~~ ^^
Ayo, semangat, Kak Suararaa!!

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

owhh..
maapkan saia tak teliti...
klo tw begitu mendingan ngga usah dibikin d pengungsian lg mungkin yah...
yasud, saia edit aja ntar lah prolognya....

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)
80

kak suararaa, saya suka suasana dapurnya, terasa sekali :D

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

makasih dah baca dan kasi koment ya, kumiiko...

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)
80

Jujur...
Saya menunggu aksi laga dari kolab ini, hehehe

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

Hihihihi... macem master cooking boy yah???
Asik perlu dicoba XDD tapi Pepper-na belajar silat dulu berarti *ngakak*

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

aksi laga? wedeh, bagmna bikin laga sambil masak dong kl gitu???
makasih dah bca n komen...

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)
80

Entah kenapa Kitab 100 Kakak kurang memuaskan klo dibanding sama Neverland Kakak...
Terlalu datar, Ka... kurang emosi ><
Padahal disebutkan bahwa Vanilla itu sahabat Pepper di pengungsian tapi yah sekadar disebutkan az, gda suatu kejadian apapun yang menandakan mereka adalah sahabat. Jadi sebenerna kemunculan Vanilla tanpa ancang-ancang sebelumna membuat cerita ini agak aneh.
.
Lalu, entah kenapa rasana kata-kata yang digunakan di cerita ini nggak ky biasana, kurang indah, mungkin? Entah napa saya kurang nyaman bacana. Apalagi bagian-bagian dialognya, kurang ngalir, seakan masih binun mau pakai bahasa baku ato bahasa sehari-hari.
.
Yang menjadi kekuatan di cerita ini adalah detil settingna, pasti karena Kakak tinggal di sana, jadi bisa menggambarkanna dengan amat baik. Namun sayang sekali, hal itu tidak diikuti dengan kekuatan-kekuatan bercerita Kak Suararaa yang lain.
.
Maap komen saya kepanjangan! Alna saya mengharapkan sesuatu yang lebih dari ini dari seorang Kak Suararaa =)
Dan.... hehehehe... saya geli sendiri waktu baca bagian Pepper yang ga bisa naik motor (saya juga lho!)

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

eaaa ..
maafkan...
sebenarnya saya jg bingung, kalo cerita masak-memasak bagian apanya yg mo dibuat konflik.. jadi, inilah konsep saya (sebenarnya ini konsep jg dah lama, cm belom selesai2), dan datar.....

emang ga ada kejadian apapun yg membuat vanilla bener2 sahabat pepper, karna yah apa yah, krna memang gak akan ada kejadian2 istimewa selama di pengungsian, dan memang kadang terasa sekedar menjadi relawan. sya sendiri pun setelah selesai jadi relawan, udah nggak kontak lg dengan temen2 sesama relawan. dan yaaahh, selama menjadi relawan, tidak ada kejadian2 spesial dg sesam relawan lainnya karena waktu di pengungsian amatlah singkat, selain itu lebih banyak mengurusi pengungsi. apalagi bagian pepper adalah bagian dapur umum yang mungkin tdk terlalu membutuhkan interaksi intens dg teman2 relawan.


betul, mungkin kekuatan bercerita saya jg bingung mo gimana... karena mungkin faktor buru2 jg,, ha3.. maaf kepada tante cat...


maafkan klo ini buat kecewa ya....
makasih komentar dan kritiknya...

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)
100

hosh..
akhirnyaaa...


mohon maaf buat tante cat karena ini lama banget bkinnya..
maaf banget yak..


cerita ini silakan dilanjut, sebetulnya terserah aja mau dibuat pepper ke mana lagi. tapi kalau nggak jadi ke tempat tsb, tdk masalah.. silakan dibuat alasannya ehhehe..


nah, semoga berkenan atas ceritanya...


dan silakan dicoba resepnya.. enak kok karena saya udah mencobanyaa.
oya, tips: tambahkan daun bawang dan bawang goreng yaa.. kalau suka kecap atau saos, bisa ditambahkan juga sesuai selera... (maap lupa nambahin)
NB: sebetulnya pakainya ikan tengiri (kalau menurut resep aslinya), bisa diganti pakai ikan lain jg sih sesuai selera. he3.

:)



oya, gambar diambil dari detikfood.. he2

Writer nemo
nemo at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)
80

pemilihan nama yang unik.
:)

nice.
ngga tahu mau komentar apa.

salam..

Writer suararaa
suararaa at Kitab 100 - Bukan Tahu Isi (11 years 16 weeks ago)

haha..
ini menyesuaikan cerita kolabnya...
:)
makasih dah baca n komen...