Evergloth Case

Siang itu aku terbangun krn perut yg lapar dan dering handphoneku yg berisik. Kepalaku pusing, tapi aku masih bisa mengenal nama gadis yg tertera di layar handphoneku.
“Halo?” kataku setengah menguap.
“Michael?”
“Ya, ini aku. Ada apa, Eve?”
“Ibu memintaku pulang. Ayah meninggal.”

Jadi begitulah. Kabar mengejutkan itu membawa kami, Miranda Evergloth dan Michael Curteve pada perjalanan menuju sebuah rumah megah milik keluarga Evergloth. Keluarga Evergloth memang keluarga berkelas tinggi yg dikepalai oleh penulis cerita mistery terkenal, Bernard Evergloth. Beliau meninggal seminggu yg lalu karena serangan jantung. Aku heran mengapa kematiannya tak dipublikasikan. Mungkin itu atas permintaan nyonya Evergloth.

“Sudah 5 tahun aku tak pulang ke rumah. Dan sekarang, aku tak bisa melihat ayah lagi.” Miranda tersenyum sangat manis, seakan2 ia sama sekali tak pernah merasa sedih.
“Dan ironisnya, mereka memintamu mencari warisan yg disembunyikan ayahmu,” aku sendiri tak suka mengatakannya. “Lalu, mengapa aku harus terlibat?” lanjutku menatapnya heran.
“Entahlah, kata ibu itu yg tertulis di surat wasiat ayah, ‘mintalah bantuan Michael Curteve untuk memecahkannya’. Ayah memang selalu meragukan kemampuan analisisku” katanya setengah bercanda, tapi aku tak mungkin tertawa.

Miranda Evergloth, putri sulung keluarga Evergloth itu adalah seorang gadis manis berambut ikal. Takkan ada yg menyangka bahwa ia adalah seorang detektif. Wajah polosnya itu berhasil menyembunyikan ketegaran, penderitaan, serta sifatnya yg keras kepala. Ia pandai, tapi aku belum bisa menilai kemampuan analisisnya. Mungkin kali ini aku bisa tahu sejauh mana ia menggunakan kepintarannya untuk memecahkan teka-teki yg ditinggalkan ayahnya.

“Dan mengapa kita harus membantu mereka?” aku melanjutkan pertanyaanku.
“Mereka keluargaku, walaupun aku tak punya hubungan darah dengan mereka,” jawabannya terdengar seperti ayat-ayat kitab suci di telingaku.
“Ah, ya. Dan karena aku teman masa kecilmu sekaligus pernah menjadi asisten ayahmu, aku juga berkewajiban membantu mereka,” jawabku sambil lalu, “kita sampai.”

“Nona miranda!” sambut kepala pelayan, Vincent Stradutch ketika membukakan pintu. “Kami sudah menunggu kedatangan nona begitu pula dengan tuan Michael,” katanya gembira.
“Di mana ibu?”
“Ah, nyonya ada di studio. Silahkan nona dan tuan Michael beristirahat dulu,” Vincent mengantar kami ke kamar.

Miranda, atau yg lebih sering kupanggil Eve, memutuskan utk berkeliling di taman sore itu. Dan aku memutuskan untuk menemaninya bersama Vincent.
“Bagaimana kabar Emily dan Edmund?” Miranda membuka percakapan.
“Tuan Edmund dan nona Emily sehat-sehat saja.”
“Oh ya, tentu saja. Emily Evergloth pemain piano terkenal, dan Edmund Evergloth fotografer yg berbakat,” lanjutku sinis. Vincent tak mengatakannya, tapi aku tahu ia mencelaku lewat pandangan matanya.
“Fotografer? Apakah Edmund berhenti berlari?” Miranda tampak terkejut.
“Begitulah nona, sejak 3 tahun yg lalu tuan Edmund sudah berhenti menjadi pelari. Walaupun begitu, tuan Edmund berhasil bangkit lagi. Tuan Edmund sekarang telah menjadi fotografer yg terkenal,” jawab Vincent seakan2 ia sedang membanggakan anaknya sendiri.
“Apa yg terjadi 3 tahun lalu?” potongku.
“Kecelakaan! Kecelakaan yg mengerikan. Nyonya bersama tuan Edmund dan nona Emily akan berwisata bersama. Saya sudah mencegah, tapi nyonya bersikeras utk membawa mobilnya sendiri. Dan hasilnya, mobil mereka hampir saja dilindas truk besar. Tapi tenang saja nona, mereka bertiga selamat. Sangat disayangkan kaki tuan Edmund cedera sehingga ia tak boleh berlari lagi,” Vincent bercerita seolah ia merasa sangat menyesal.
“Lihat, Eve. Bunga lily yg indah,” Kataku mengalihkan perhatian Miranda dari cerita Vincent.
“Apa kau yg menanamnya Vincent?” Miranda tampak takjub.
“Nona tahu saya akan selalu merawat taman peninggalan nyonya Michele.” Aku salah, Vincent malah akan mulai membanggakan keahlian berkebunnya pada Miranda.

“Halo, kak,” seorang pemuda berwajah masam mendekati kami.
“Edmund,” sapa Miranda gembira, “aku senang melihat kau baik-baik saja.”
“Kakak juga pasti senang melihatku tak bisa lari lagi,” pemuda itu tersenyum sinis dan mulai menyulut rokoknya.
“Apa maksudmu? Aku tahu lari adalah impianmu. Apakah kau tak suka dengan profesimu sekarang?” Miranda juga tersenyum, tapi senyum kesedihan yg dipancarkannya.
“Yah, lumayan. Pekerjaan itu membuatku lebih santai sekarang. Waktu aku mengatakan ingin jadi fotografer, ayah langsung membuatkan kamar gelap untukku. Ayah memang kuno, sekarang kita hanya butuh komputer utk mencetak foto,” Edmund tertawa, tapi aku sadar ia juga tampak sedih atas kematian ayahnya.
“Bagaimana dengan kakimu?” Miranda masih tampak cemas.
“Kakak pasti sudah tahu. Tulang kaki kiriku retak. Aku masih bisa berjalan, tapi dilarang berlari atau memanjat, atau mendaki gunung. Padahal ada juga foto pemandangan bagus yg bisa diambil dari puncak gunung.” Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.
“Ah, sudah waktunya saya menyiapkan makan malam.” Vincent pamit dan beranjak ke dalam rumah.
“Di mana Emily?” Miranda bertanya lagi pada Edmund.
“Keluar bersama teman-temannya. Hei, bukankah kau…” Edmund sialan, ia baru menyadari kehadiranku.
“Michael,” aku menjabat tangannya erat.
“Maaf, maaf, aku tak sadar kau ada disitu.” Ia balas menjabat tanganku sambil tertawa. “Sudah gelap, bagaimana klo kita masuk saja?” katanya melangkah dengan perlahan-lahan.

Aku akhirnya dapat bertemu dengan seluruh anggota keluarga Evergloth saat makan malam. Victoria Evergloth, sang nyonya rumah masih tampak segar dan cantik dengan rambut pirangnya yg digelung rapi dan pakaian yg sopan dan berkelas. Ia adalah wanita yg lembut tapi tegas. Ia seorang pelukis abstrak, tapi kudengar sekarang ia lebih sering mengoleksi barang2 antik.
Sedangkan Emily Evergloth sangat mirip dengan ibunya ketika masih muda. Gadis itu membiarkan rambut piranganya terurai menutupi sebagian wajahnya. Entah sejak kapan ia selalu memakai gaun, padahal setahuku ia sama saja dengan Edmund, tipe anak pembangkang yg tak mungkin bisa belajar sopan santun dalam waktu singkat. Tapi mungkin saja ia berubah karena telah menjadi wanita yg dewasa.
Setelah makan malam yg penuh dengan keramahan palsu, nyonya Evergloth mulai menceritakan soal surat wasiat suaminya kepada kami.

“Miranda, ibu tahu ibu telah melakukan suatu dosa besar terhadapmu. Ibu benar2 menyesal, dan ibu minta maaf. Maafkan ibu karena telah lupa memberitahukanmu ttg kematian ayahmu.” Kata nyonya Evergloth datar. Aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya. Aku bisa bilang tak ada rasa penyesalan dalam kata2nya, tapi aku tak bisa membaca isi hati orang.

“ibu, bukankah sudah kubilang kemarin kalau aku tak menyalahkan ibu. Semua manusia bisa melakukan kesalahan. Aku memaafkan ibu.” Miranda membalasnya dengan senyum. Aku menikmati percakapan ini seperti drama tv yg sangat manjur sbg obat tidurku.

“ibu benar2 menyesal. Ibu baru sadar setelah mereka membacakan surat wasiat ayahmu 2 hari yg lalu. Ayahmu sendiri tak pernah membicarakanmu sebelum kematiannya. Ibu…” wanita yg tampak tegar itu mulai menangis. Aku tak tahu apakah aku harus kesal, sedih, terharu, atau malah tertawa melihatnya. Semua kemunafikan dalam keluarga ini membuatku muak.

“sudahlah bu. Bukankah ada hal yg harus disampaikan ibu padaku?” seperti dugaanku Miranda tetap tersenyum mengatakan itu sambil menghibur ibunya. Entah sudah berapa kali aku berharap ia menunjukkan, sekali saja, wajah sinis atau marah kepada ibu tirinya itu.

“begini, nak”, kata wanita itu setelah setetes 2 tetes air mata buaya. “menurut surat wasiat ayahmu, ia meninggalkan semua harta warisannya di brankasnya di bank. Utk membukanya, kita harus mencari kode brankasnya. Kata ayahmu kode tsb ada di rumah ini, dan siapapun yg berhasil menemukan kode tersebut boleh memiliki semua harta warisan ayahmu” penjelasan nyonya Evergloth membuatku tertarik.

“maaf nyonya Evergloth, apakah benar saya juga terlibat dalam pencarian kode tsb?” potongku.

“benar nak Michael. Dalam surat wasiatnya suamiku menyebutkan bahwa kami harus minta bantuanmu utk mencari kode itu. Dengan kata lain, bila kau berhasil menemukannya, kau berhak mendapatkan harta warisannya walaupun kau bukan anggota keluarga Evergloth.” Jawaban nyonya itu semakin membuatku bersemangat.

“karena itu, bolehkah ibu minta bantuanmu Miranda? Sebenarnya ibu malu utk mengatakan ini.” Kata nyonya itu memalingkan wajahnya sebentar. “kalau kau menemukan petunjuk keberadaan kode tsb, maukah kau memberitahu ibu, dan adik2mu? Ibu rasa lebih baik kalau kita menemukan kode itu bersama2 agar tak ada pertikaian dan rasa iri antar keluarga Evergloth.” Aku berusaha menahan tawa mendengar alasannya.

“baik bu. Aku dan Michael akan membantu ibu, Emily dan Edmund. Kita semua akan menemukan kode itu jika saling bekerjasama.” Sekali lagi senyum Miranda membuatku bertanya2, apa benar ia mengatakan itu dengan tulus?

Masalahnya, sama sekali tak ada petunjuk. Pagi hari setelahnya aku dan Miranda memutuskan utk mencari petunjuk keberadaan kode2 itu. Nyonya Evergloth memberitahu kami bahwa mereka telah berusaha mencari di sekeliling rumah, di tempat2 yg mungkin digunakan ayah Miranda utk menyembunyikan kode itu. Tapi mereka tak menemukan sesuatu yg janggal, atau mungkin mereka belum menemukannya. Miranda menyimpulkan ayahnya menyembunyikan kode itu di tempat yg terlihat wajar sehingga sulit utk menemukannya. “yg kita butuhkan adalah sebuah kunci yg bisa membuka petunjuk2 tersebut” katanya.
“aku jadi ingat sebuah kalimat menarik yg pernah dikatakan ayah padaku” kata Emily Evergloth perlahan. Gadis ini benar2 mengejutkanku. Ia telah berubah menjadi tiruan ibunya. “kata ayah: ‘sembunyikanlah sehelai daun di hutan nak, akan sangat sulit bagi org lain utk menemukannya’” lanjutnya.
“itu saja? Apa kau ingat ayah pernah mengatakan yg lainnya?” Tanya Miranda pada adik tirinya. Emily menggeleng perlahan.
“ah! Sepertinya ayah juga pernah mengatakan sesuatu padaku.” Edmund menimpali dengan suara keras yg membuat ibunya memandangnya cela. “’bila kau kesulitan melihat sesuatu dari satu sisi, cobalah dari dari sisi kebalikannya!’” katanya penuh kemenangan. Itulah Edmund si pembangkang.
“bagaimana dengan ibu? Ayah pernah mengatakan sesuatu pada ibu?”
Nyonya everglot berusaha mengingatnya. “tidak” katanya membuat kami kecewa.
“kalau begitu adakah keanehan lain yg dilakukan ayah sebelum ia meninggal?” tanya Miranda tak putus asa.
“ada. Sebulan yg lalu ayahmu meminta ibu memesan beberapa patung ksatria yg membawa obor. Ternyata ia mengganti semua lampu dinding dan menempatkan patung2 itu di depan setiap kamar kecuali di ruang bacanya sendiri.” Jawab nyonya Evergloth membuat kami bingung.
“Apakah ini berarti ada petunjuk di sana?” tanyaku pada nyonya Evergloth.
“kami juga menduga seperti itu. Karena itu, disanalah tempat kami pertama kali mencari kode2 itu. Lagipula menurut Vincent, suamiku berpesan padanya utk tidak membersihkan kamar atau ruangan lain selain kamarku, kamar Emily, kamar Edmund , kamar mandi, dapur, ruang makan, dan taman. Kami telah mencari petunjuk di kamar suamiku dan ruangan2 lainnya, tapi kami belum menemukan apapun yg bisa memberitahu kami dimana kode2 tersebut ia sembunyikan” jelas nyonya everglot.
“apa mungkin satu2nya petunjuk ada dalam surat wasiat ayah? Bolehkah kulihat surat itu ibu?”pinta Miranda.

Kami membaca surat wasiat Bernard Evergloth itu berulang2. “menurutku tak ada yg aneh” kataku memberi pendapat.
“tidak. Ada 1 yg aneh. Kenapa ayah menyebutkan namamu dalam surat wasiatnya? Apa mungkin namamu bisa jadi petunjuknya?” kata Miranda membuat semua anggota keluarga Evergloth memandangku.
“hei, jgn menatapku seperti itu. Aku juga tak mengerti apa2. satu2nya penghubung antara aku dgn ayahmu mungkin hanya novel kami yg berjudul ‘Murder’” jawabku tegas.

Dalam sekejab aku melihat suatu ekspresi aneh di wajah miranda. Ekspresi aneh yg tak bisa kujelaskan dgn kata2. seperti campuran ekspresi kaget, tak percaya, kegembiraan atau kepuasan?
”aku tak mengerti” Miranda menggelengkan kepalanya membuatku terkejut. Padahal kupikir tadinya ia telah menemukan petunjuk kode tersebut. ” aku akan mencari kode itu secara manual sambil memikirkan kemungkinan dimana kode tersebut disembunyikan ayah.” lanjutnya.
”baiklah, eve. Dimana kita mulai mencari? Di kamar ayahmu?” saranku. ”itu ide yg bagus” jawabnya kembali tersenyum seperti biasanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Evergloth Case (8 years 50 weeks ago)
70

eh, eh, eh, eh???
jadi bagaimana nih lanjutannya?
gak ada petunjuk yang lain kah?

Writer Syringe
Syringe at Evergloth Case (9 years 30 weeks ago)
70

Crita yang buat penasaran. Apakah harta karun kah? Eh kenapa tidak pernah keliatan lagi Redscreen?

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Evergloth Case (9 years 30 weeks ago)

Ada lanjutanya tidak nih?

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Evergloth Case (10 years 13 weeks ago)
80

detektif?

Writer miss worm
miss worm at Evergloth Case (10 years 29 weeks ago)
50

Please edit this writing. I kind of dizzy with all those typos.

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Evergloth Case (10 years 34 weeks ago)
100

Saya suka ceritanya, ditunggu lanjutannya. ^^

Writer cat
cat at Evergloth Case (10 years 34 weeks ago)
80

Secr keseluruhan crtnya sgt menarik. Aku menunggu part beriktnya.
Lalu untk wasiat tsb, aku jg penasaran e.

Writer 145
145 at Evergloth Case (10 years 34 weeks ago)
80

Bagaimana ya...
Menulis cerita misteri-detektif selalu membutuhkan banyak deskripsi, tentang tokoh, lalu setting kejadian.
Ah juga mungkin sedikit latar belakang, misalnya kode banknya berupa apa (angka, huruf, perpaduan keduanya?) lalu apakah memang tidak diizinkan menggunakan "trial and error", atau ada penalti bila kode itu tak ditemukan dalam batas waktu tertentu?
-
Dan sejujurnya bagian tentang kalimat menarik itu agak lucu, maksudku dari sekian banyak percakapan dengan si ayah, masak bisa secara kebetulan bahwa kalimat yang dianggap paling menarik berhubungan dengan misteri ini?
-
Yah Good Luck

Writer dede
dede at Evergloth Case (10 years 34 weeks ago)
80

Bnyk typos nya red... >.<
ada bunuh2annya gak?
Daku mau yg bunuh2an....
Hehehehe