LABYRINTH’S NOISE - Chapter 1 : Celah Menuju Bulan Merah

Malam itu adalah sebuah pelarian. Di bawah kejamnya cahaya bulan merah, seorang gadis berusaha menyembunyikan dirinya di antara bayang-bayang dinding, menyelinap dari satu tempat ke tempat yang lain. Nafasnya berburu kencang melawan rasa takut yang bergemuruh di hatinya. Matanya secepat kilat menerawang keadaan sekitar. Namun, sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Seseorang hendak menghalangi pelariannya –ya, seseorang dengan senapan diarahkan ke anak perempuan itu.

Anak perempuan itu tersentak, kedua matanya seakan hendak keluar dari tempatnya. Ia bahkan lupa bernafas begitu ujung senapan itu menyentuh keningnya. Sekujur tubuhnya lemas takut dengan jalur kematian yang menganga lebar di depannya.

“I, inikah …. akhir….?” Ucapnya dalam hati. Kedua tangannya memegang kepalanya dengan geram.

“Hhhuaaaaaaaa!!!!!!!!!!!”

Sang gadis mengulurkan tangannya ke arah pria bersenjata itu. Masih dengan mata tertutup, ia menyentakkan tangannya dengan kasar. Seketika itu juga, sang pria bersenjata itu jatuh tersungkur. Ia masih belum menyadari apa yang terjadi pada dirinya hingga ia merasakan seluruh tubuhnya mati rasa. Layaknya robot yang dicabut sumber listriknya, pria itu jatuh tersungkur tepat di hadapan anak perempuan yang ia serang.

“Sial…. Kau… bagaimana bisa… urgh” Dengan mata penuh tidak percaya, ia mengutuk gadis itu.

Anak perempuan itu pun jatuh lunglai, memegangi kepalanya dengan geram. Pandangan matanya tidak lagi fokus, bahkan ia mulai menjambaki rambutnya sendiri.

“Lari… lari... Harus kabur…,” gumamnya, “harus pergi… sebelum suara itu datang lagi…”

Dia dengan segera bangun dan berlari sekencang mungkin. Di sepanjang lorong gelap itu, ia seringkali berpapasan dengan orang-orang yang pastinya selalu mengarahkan senjata padanya. Dan ujung-ujungnya mereka selalu berakhir dengan seluruh tubuh terebah di tanah yang lembab.

Setelah beberapa lama berusaha kabur, ia menghentikan langkahnya. Di depannya menghadang sebuah dinding lebar. Celah besar berada di pojok atas dinding lebar itu. Dari celah itu, cahaya bulan merah menyirami lorong yang gelap dan lembab itu. Suara burung hantu dan harum bunga mawar bisa ia rasakan hanya dengan berdiri di bawah celah itu.

Gadis itu mengambil ancang-ancang untuk memanjat dinding. Dengan menggunakan tekstur dinding berbata yang tidak rata, ia perlahan mengangkat dirinya mendekati celah itu. Lama kelamaan ia semakin bisa mencium aroma mawar yang ada tepat di balik dinding ia berada. Setelah beberapa pijakan, ia bisa mengintip ladang bunga yang tergelar lebar di luar sana. Tinggal satu pijakan lagi dan ia bisa lepas dari semua yang mengekangnya.

Ya, tinggal satu pijakan lagi.

Kemudian ia merasakan keberadaan seseorang berada di belakangnya.

“Sora…”

Gadis itu menoleh terkejut begitu ia mendengar seseorang menyebut namanya. Suara itu terdengar begitu datar dan dingin. Begitu mengerikannya sampai-sampai bulu kuduk gadis bernama Sora itu berdiri.

Sesosok bayangan bersembunyi di balik sisi gelap lorong sebelum akhirnya orang itu muncul. Tubuhnya yang besar dan tegap kini bermandikan cahaya rembulan. Bibirnya tersenyum, namun tidak dengan matanya. Rahang tegas anak laki-laki itu terangkat beberapa senti, berusaha menatap Sora yang kini berada di langit-langit.

“… Gin…” ucap Sora terbata-bata. Ia turun dari langit-langit ia berada, lalu dengan tergesa-gesa menyampiri Gin.

“Gin! Ikut aku kabur dari sini! Ini.. tempat ini bukanlah surga seperti yang kita sangka!!!” ucap Sora sambil menarik lengan Gin.

Tapi Gin menolak ajakan Sora. Ia menyentakkan pegangan tangan Sora dengan kasar.

“…….Gin?”

Sora menatap Gin dalam-dalam. Tak ada pancaran kehidupan sama sekali dari kedua mata Gin. Seakan-akan ia hanyalah boneka.

“!?”

“G, Gin… kau… jangan-jangan…” Sora mundur beberapa langkah. Kedua tangannya kembali menggenggam kepalanya.

“Hwaaa!! Nggak mungkin!!!!!!!”

Kini giliran Gin mengulurkan tangannya ke Sora. “Sora…” ucapnya lirih.

Sora mulai memanjati dinding tadi. Giginya bergemetar tiap kali Gin langkah demi langkah mendekatinya.

Tiba-tiba dinding tempat Sora berada bergetar kencang. Begitu pula bunyi dentuman keras mengiang di telinga Sora. Nyatanya, Gin memukul dinding itu dengan tangan kosongnya –menimbulkan retakan baru yang lebih besar.

Lalu semuanya berubah sunyi.

Sora dalam kondisi shock sedangkan Gin tetap menatap Sora tanpa berbicara.

Hingga akhirnya suara Gin memecah keheningan itu.

“My life is hide and seek–“

Suara itu memang benar keluar dari mulut Gin. Tapi Sora yang sudah tahu Gin sejak lama, sadar bahwa itu bukanlah suara Gin yang ia kenal. Itu lebih seperti… bisikan seseorang. Entah siapa.

“Therefore…, I SHALL KILL TO SURVIVE”

“Suara itu!!!” Sora terkejut.

Namun, sebelum kesadarannya kembali normal, tangan Gin sudah berhasil meraih pergelangan kaki Sora yang berada di langit-langit. Ditariknya tubuh Sora dengan kasar –membuatnya jatuh di tanah semen lorong yang keras itu.

Sora berusaha bangun, lalu menarik tubuhnya mundur –sayangnya ia justru terpojok di lorong itu. Tak ada kata yang cocok untuk menjelaskan bagaimana ekspresi yang berada di wajah Sora saat itu. Takut, cemas, dan sedih bercampur menjadi satu dalam bentuk keringat dingin di wajahnya.

Gin masih tidak berhenti mendekati Sora. Dan di setiap langkah yang ia ambil, ia memukulkan lengannya ke dinding lorong itu. Sekali, dua kali, tiga kali, dan… sampai akhirnya wajahnya tepat berada di depan wajah Sora yang ketakutan.

“Bugh!”

“!!!???”

Kepalan tangan Gin menancap dalam di perut Sora. Pukulan itu datang lagi bertubi-tubi di tubuh Sora. Lagi dan lagi. Seandainya Sora adalah manusia biasa, pastinya ia sudah berakhir dengan mudah. Namun sayangnya, Sora lebih daripada manusia pada umumnya. Begitu pula dengan Gin. Tubuh mereka seperti baja yang kokoh, namun tetap saja Sora tidak bisa menahan darah keluar dari mulutnya tiap kali pukulan itu dihantamkan ke organ dalamnya.

Sora tidak bisa memberi perlawanan sama sekali. Serangan dari Gin terlalu cepat untuk membuat tubuhnya bereaksi. Ia hanya bisa diam meringis kesakitan, memandangi mata dingin Gin dan senyum tipisnya. Ia tidak menyangka sahabat lamanya itu kini berubah sadis, bahkan ia bisa memasang senyum di wajahnya saat itu.

Sekujur tubuh Sora kini dipenuhi lebam kebiruan. Kepalan tangan Gin berhenti ia arahkan ke tubuh Sora. Kini kedua tangan kekarnya beralih mencengkeram leher orang di hadapannya.

Mata Sora terbelalak. Ia rasakan cengkeraman besar itu secara pasti menghambat oksigen dan darah mengalir dalam tubuhnya. Kulit wajahnya berubah merah kebiruan. Dengan tangan kuatnya, Gin mencekik Sora dan mengangkatnya lepas dari tanah.

“Akh!!!” Sora berusaha melepaskan tangan Gin dari lehernya. Ia meronta-ronta, mengayunkan tubuhnya untuk menendang badan Gin. Namun ia akhirnya sadar, setiap kali ia mengayunkan tubuhnya, tubuhnya semakin menderita.

Akhirnya… Sora berniat menggunakan pertolongan terakhirnya. Sesuatu yang hanya ia punya. Sebuah senjata mutlak untuk menangani manusia. Dan senjata itu… adalah apa yang ada dalam dirinya.

Sora mengulurkan tangan kanannya tepat ke depan mata penyerangnya. Sora mengambil nafas kecil yang masih mungkin ia hirup dan memejamkan matanya.

Lalu ia membuka matanya dengan tiba-tiba. Sebuah tekanan besar keluar dari tubuh Sora, mengalir lewat tangan kanan dan jari jemari Sora. Lalu terhantarkan ke tubuh Gin. Gin tersentak hebat bagaikan terarusi listrik ribuan volt. Genggaman tangannya lepas dari leher Sora.

Kini jarak berhasil terbuat di antara mereka berdua. Sora bangkit dari tanah dan berjalan menghampiri Gin yang diam membatu.

“Maafkan aku Gin… Aku nggak mau berbuat seperti ini padamu… Tapi…” Sora mengelus wajah Gin. Jari lentiknya ia ajak menari di kening, pipi, dagu dan bibir sahabatnya itu.

Lalu–

Satu tangan Sora memegang erat kepala belakang Gin, sedangkan satu tangannya lagi ia mencengkeram seluruh wajah Gin.

“Listen to my voice…! This is the NOISE!!”

Sora menatap dalam kedua mata Gin.

“THE HIDE AND SEEK IS OVER”

Sama seperti beberapa saat lalu, tekanan mengalir dari kedua lengan gadis itu. Gin jatuh tersungkur begitu Sora melepaskan genggamannya.

“Harus pergi… kabur… lalu hancurkan... hancurkan tempat ini dari luar sana… harus.. HARUS!!!”

Sora berjalan mendekati dinding itu lagi. Memanjat menuju lubang di langit-langit dan mengeluarkan tubuhnya keluar dari lorong itu. Pancaran cahaya bulan merah menembus helaian rambut Sora, lalu membasahi tubuh Gin yang tersungkur di tanah. Sora mengucapkan kata-kata ini sebelum akhirnya pergi menuju dunia luar:

“さよなら(Sayonara)”

Setelah itu lorong itu kembali sepi, kecuali adanya suara burung hantu dan hembusan angin menyentuh dedaunan di luar sana. Terkadang sang bulan tertutupi oleh awan hitam, namun dengan senang ia kembali membiarkan tubuh Gin bermandikan cahaya merahnya.

Tubuh Gin masih tersungkur di tanah. Status quo.

Hingga akhirnya suara langkah kaki merayap di setiap gema. Seorang pria bertubuh besar dan berpakaian baju safari hitam kini tepat berada di samping Gin. Ia hanya diam memandangi sekitar, mencoba memahami apa yang sempat terjadi di tempat itu.

Lalu ia berbalik memandangi Gin.

“Check NOISE” ucapnya dengan suara teramat dalam.

“NOISE: ‘THE HIDE AND SEEK IS OVER’” mulut Gin akhirnya berbicara.

Pria itu terdiam. Lalu senyum mengembang di bibirnya.

“Hmm… Seems like I should re-implement it to you, heh?… ”

Pria itu memandangi bulan merah dari balik celah dinding besar itu.

“Haha… That girl…”

Ekspresinya berubah drastis. Senyuman penuh rasa puas tergambar di setiap sudut mukanya.

“にげられないよ(You can’t escape)”

Kemudian, sang bulan merah, burung hantu, dan ladang mawar ikut tertawa bersamanya.

***

Read previous post:  
Read next post:  
100

Wah, kereeen... Saya baca ini berdasarkan tag multilingual dan yah, rupanya memang multilingual di dalamnya. Akan adakah bahasa lain selain inggris dan jepang nantinya?
.
Oh ya, saya agak bingung bagian ini :

Quote:
:Sora mulai memanjati dinding tadi. Giginya bergemetar tiap kali Gin langkah demi langkah mendekatinya.
.
Tiba-tiba dinding tempat Sora berada bergetar kencang. Begitu pula bunyi dentuman keras mengiang di telinga Sora. Nyatanya, Gin memukul dinding itu dengan tangan kosongnya –menimbulkan retakan baru yang lebih besar.

Umm, itu maksudnya mereka berdiri di dinding gitu, bukan di tanah?
Terus gimana si Gin nonjok dindingnya kalau dia berdiri di situ?
(hehehe, maapkan kelemotan saya, saya memang agak sulit berimajinasi)
.
Btw, ada typo.
Quote:
Tak ada kata yang cocok itu menjelaskan bagaimana ekspresi yang berada di wajah Sora saat itu
---> 'itu' yang pertama harusnya 'untuk' kan?
.
Anyway, saya suka ceritamu. Menegangkan! Dan paduan kata yang kamu gunakan juga mempesona. Saya suka paduan kata 'bulan merah'. :)
Saya pasti ngikutin cerita ini. Penasaran soalnya.
.
Oh ya, belum kenalan, hehe, nama saya Mel. ;)

haloooo salam Kenal Mel ;D Silahkan panggil aku Chloe ^^ makasiiih banyak banget buat komennya *give cookies*

ceritanya Sora sedang memanjati dinding, sedangkan Gin muncul dari belakang (di tanah) dan berjalan mendekatinya dengan aura menakutkan. Makanya Sora ketakutan hingga giginya bergemetar hebat ^^

ini bisa jadi pelajaran buat aku supaya memberi deskripsi lebih jelas lagi nih Mel. Sekali lagi, arigatou ne! ^__^

Cerita ini sudah dibuat lanjutannya. Bagian chapter 1 baru menjelaskan siapa karakter utama kita dan bagaimana sifatnya secara general. Bahasa-bahasa lain ikut menyusul kok hehe

CHAPTER 1 :
http://www.kemudian.com/node/252363

Dukung terus yaaa~ Aku pasti berkunjung ke tempatmu juga ^^

makasih typo-nya, aku akan segera edit =)

80

Pacing yg bagus... Menegangkan... Hey, tunggu tunggu... Jadi Sora & Gin ini bukan manusia?
Oya, kalo' nanti ceritanya Sora & Gin ini adalah manusia yg memiliki kekuatan khusus, kekuatannya disesuaikan sama namanya aja:
Sora = Langit
Gin = Perak

hehehe makasiiiih~~

hoho kalau masalah itu baru bisa dijelaskan perlahan-lahan lewat cerita2 selanjutnyaa *blink* XD

hm.. bisa juga jadi masukan. Sankyuu~
oiya, aku baru sadar kalau Gin artinya perak :P

dibaca yaa kisah lanjutannya! sekali lagi, makasih komennya! ^^

Bingung ^^a

Otakq nggak nyampe kyax TT.TT

nggak kok Hyun Ae, mungkin ini malah kesalahannya ada dari sisi aku yang bikin ini masih misterius. (-_-' )

kisah ini masih terus berlanjut, lama kelamaan akan terkuak jelas tentang apa yang terjadi :D

makasih komennya~
dan silahkan dibaca kisah selanjutnya ;)

exelent!!!

thanks so much!

80

good story

Thanks!! :D

100

noise noise noise...
senang membaca-nya...

Makasih banyak~ :D

40

cerita yang membuatku berkali-kali menahan nafas,,
bagus,,

hihihi makasiiih~ *guling2 kegirangan* XP

thx juga udah sempat berkunjung ^^ Ada saran kah buat saya?

90

wow .. ada pake huruf asingnyaaaaaaaaaaa wah wah wah

Makasih Kak Cat udah mau berkunjung ^^
hehe, iya Kak. Muncul ide kalo jangan dicampur sama bahasa inggris aja, tapi bahasa lain juga masukin aja sekalian hehe

Thanks ya Kak! :D Ada saran buat improvement? :)