LABYRINTH’S NOISE - Chapter 2 // Please read the edited version//

Welcome to Gretel Youth Detention Center

Itulah kata pertama yang menyambut kami, diucapkan oleh sebuah papan kayu yang hampir lapuk; bukan seorang manusia yang bernyawa dan bernafas. Wajah orang-orang yang ada di sekitar kami lebih seperti patung, malas tersenyum. Tapi itu memang normal, justru sikap seperti itulah yang pantas ditujukan pada kami –para sampah masyarakat. Kami yang sesungguhnya masih berupa tunas ini, dengan beragam sebab dan resiko, sudah menghabiskan waktu hidup kami dalam kegelapan bernama : kriminalitas.

Tiga tahun lalu, aku tiba di penjara anak dan remaja ini bersama dengan sejumlah anak-anak lain. Wajah yang kami pasang saat itu benar-benar suram –kontras sekali dengan wajah para petugas penjara yang sinis dan kaku. Aku terkesima melihat banyaknya jumlah anak-anak yang menghadapi takdir serupa tapi tak sama denganku. I’m not alone, afterall.

Di tempat itu, aku bertemu dengan seorang anak perempuan. Seseorang bernama Sora sudah masuk ke dalam hatiku. See? I can even find my true love in this living hell.

Setelah bertemu dengannya, duniaku berubah seindah langit biru. Tahun-tahun yang sudah kami alami bersama, semakin mengikat kuat ikatan yang ada di antara kami. Aku yakin adanya seutas tali kasat mata benar-benar menghubungkan jari kelingking kami. Dan kalau saja benang dari jariku tak berujung pada kelingking gadis bernama Sora itu, lebih baik benang ini musnah sajalah dariku. Tak perlu ia cari pengganti kelingking seseorang yang lain. Useless, I won’t accept it anyway.

Tapi… kini muncul pertanyaan baru dariku. Bagaimana dengan perasaan Sora sendiri?

Aku tahu kalau ia lebih menganggap diriku seperti seorang kakak. Tapi… oh please… Ini bukan kisah klasik yang menjadikan ikatan antara dua sahabat karib lebih ke arah persaudaraan daripada percintaan. Nggak, nggak sama sekali. I love her so much and God knows it’s true.

Pada hari itu, kami berdua berjalan di atas rumput hijau. Kupu-kupu mengelilingi kami berdua. Di sekeliling kami hamparan mawar beragam warna tersenyum pada kami. Tangan kami saling berikatan sembari wangi bunga membawa kami pada kehangatan.

“Lihatlah… Mawar ini begitu cantik…” ucap Sora. Ia memetik satu tangkai mawar merah dan menunjukkannya padaku.

“Ya…,” aku memandang lembut bunga di hadapanku itu. Kemudian aku beralih fokus, memandang erat wajah di balik setangkai bunga itu. “Cantik sepertimu” ucapku.

Gadis di hadapanku itu hanya tersenyum kecil.

Lalu ia memetik bunga mawar putih dan menjejerkannya di samping mawar merah yang satu lagi. “Di antara dua mawar ini, manakah yang menurutmu lebih cantik?”

Oke. Ia mengujiku. Lagi. Ini sama sekali bukanlah yang pertama kali. Anak perempuan yang aku sayangi itu seringkali memberiku pertanyaan dan pernyataan filosofis. Sayangnya, dengan otakku yang serba terbatas ini, tampaknya belum pernah ada jawabanku yang memuaskannya.

“Bukankah sama cantiknya?” jawabku.

“Begitukah? Lalu bagaimana dengan mawar merah muda hasil buah cinta kedua mawar ini? Apakah kau masih sebut ia cantik, meskipun ia tidak punya warna sendiri?”

Di saat seperti itu aku sudah tidak mau memperpanjang percakapan filosofis ini. Aku bukan seorang pujangga, juga bukan seorang romantist. Aku hanya seorang pejuang cinta. Begitu saja sudah cukup kan?

Angin sore berhembus ke arah kami. Kelopak-kelopak mawar yang rapuh berterbangan ke segala arah. Siapa bilang pelangi hanya bisa ditemukan seusai hujan di langit? Aku menyaksikan sendiri pelangi bernama kelopak mawar itu berdansa dengan gemulai terbawa angin. And Sora is the sky.

“You know, Gin… Even the most beautiful rose has torns.”
Aku menatapnya lekat. Wajah yang ia pasang saat itu…, seperti hendak menangis.

“Such thing as ‘perfect’ never exists in the world. Everything has their own misery, their own weakness–”

“…What’s your point?”

Well… Mungkin saja kan mawar putih ini tidak pernah berharap terlahir seperti itu? Karena itulah duri tercipta di sekujur tubuhnya. Untuk mengabulkan permohonan para mawar putih yang ingin menjadi mawar merah.”

Sora mengecup lembut mawar putih itu. Sedangkan aku? Aku hanya bisa memandangnya keheranan. Maaf saja ya, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, otakku amat sangat terbatas. Mungkin ucapan ia tadi baru bisa aku cerna penuh setelah 24 jam. Atau mungkin 24/7. Atau mungkin 24/365++. Atau mungkin… Argh, who cares??

Tapi –aku benar-benar tidak habis sangka apa yang ia lakukan setelah itu. Sora, gadis yang kucintai dengan segala keganjilan yang dimilikinya itu, menusukkan telapak tangannya sendiri ke duri-duri mawar itu. Tetesan darah merah segar mengalir deras dari tangannya.

“Sora!! What the heck are you do–”

Tapi ucapanku terhenti begitu ia meneteskan darahnya menuju kelopak sang mawar putih. Dengan darahnya sendiri, ia menyulap sang mawar putih menjadi mawar merah. Dengan darahnya sendiri, Sora berusaha mengabulkan permohonan sang mawar putih.

Begitu aku panik mencari akal untuk menghentikan lukanya, Sora justru mendekapku erat. Ia biarkan mawar merah asli dan merah jejadian itu tergeletak di tanah.

“I wonder… if this paradise has torns too…” ucapnya lirih. Menggema di hatiku.

***

Aku membuka mataku. Kudapati diriku ada di sebuah ruangan yang aku tak pernah kusinggahi. Di sekitarku penuh dengan koleksi bendera, emblem organisasi, plakat penghargaan, dan medali. Semuanya tertata rapi baik di tembok ataupun di meja. Sebuah lemari kaca berisi senjata laras panjang dan peluru-pelurunya terpajang megah. Sepanjang pengetahuanku, hanya ada satu ruangan seperti ini di tempat terkurung ini.

“Ini… pasti ruangan beliau…” gumamku dalam hati.

Lalu seseorang tiba-tiba muncul di belakangku. Seorang pria bertubuh besar dan tegap, berbaju safari hitam dan bertopi baret. Wajahnya enggan memasang senyum, dan matanya memandang rendah diriku yang masih terduduk di sofa –menganga.

“M, Monsieur Adrien…” ucapku terbata-bata.

Ia tidak berbicara sama sekali. Ia hanya berjalan mengitari sofa tempatku berada, lalu mengarah ke lemari kaca berisikan senjata laras panjang itu.

Dengan kunci yang ia sangkutkan di bingkai dinding, ia membuka lemari itu. Diambilnya lah senjata itu dan sehelai kain yang turut ada di lemari itu.

Kini ia memandangku dengan mata tajamnya. Melihat lirikannya yang teramat mengerikan, aku segera bangkit dan siap pamit untuk keluar ruangan namun–

“Kau. Duduk.” Perintahnya.

Aku langsung kembali ke sofa tempat aku berada, dan duduk tegap ke arahnya.

“Terima kasih atas bantuan yang anda berikan, Monsieur

“Hmm…” Hanya itulah balasan yang ia keluarkan dari mulutnya. Tampaknya ia lebih senang mengelap senjatanya itu dibandingkan dengan berbicara padaku. Segelintir hatiku merasa kesal, tapi ini adalah Monsieur Adrien di hadapanku. Segala pikiran buruk tentangnya harus segera aku hapus!

“Heh…” Tiba-tiba ia tersenyum sinis kepadaku. Alangkah kagetnya aku, dia tersenyum seakan tahu benar apa yang aku pikirkan saat itu. Gawat… Aku tahu kalau Monsieur Adrien ini orang yang amat berbahaya dan mengerikan. Rasanya setiap tatapan matanya seperti ajakan menuju “dunia sana”.

“AH! Aku harus stop berpikir yang nggak-nggak!!” ucapku dalam hati, lalu kembali membetulkan posisi dudukku.

Monsieur Adrien masih sibuk dengan senjatanya, hingga kemudian ia bergerak lagi kea rah lemari kaca dan mengambil sejumlah peluru. Ia mengelapi pula peluru-peluru itu layaknya seorang ibu memandikan bayinya.

“Sahabatmu itu…,” sang Monsieur mulai berbicara, “dia melarikan diri”

“!?”

“Ia kabur lewat celah dinding tambang bawah tanah”

“……”

Ya, aku hanya bisa terdiam. Lorong itu… menyimpan banyak memori mengerikan kami.

“Celah itu sudah kami blokir. Don’t you ever hope to be able to do the same.

“… I, I am not…”

Monsieur Adrien memandangku dengan tatapan mautnya. Seketika ia masukkan peluru-peluru yang sudah ia bersihkan ke dalam senapan itu. Lalu, ia angkat senapan itu setinggi bahunya. Matanya melirik ke lubang sasaran. Dan… senapan itu ia arahkan padaku. Lengkap dengan jarinya sudah siap menekan pelatuknya.

Aku menahan nafas dan bisu.

“Re-order the instruction. NOISE.”

Hitam.

Semuanya berubah gelap. Tak ada suara yang bisa kudengar. Tak ada suara yang keluar dari mulutku. Tapi aku masih bisa merasakan tubuhku masih ada disana, terduduk di atas sofa dengan tegapnya. Aku masih bisa mencium dan merasakan aroma angin musim semi yang berhembus dari jendela ruangan Monsieur. Ya, aku masih ada dalam tubuhku. Tapi… rasanya seperti jiwaku terkunci di sebuah kotak, mengekangku untuk mengendalikan tubuhku sendiri.

Lalu… aku kembali ke duniaku semula. Kutengok jam, dan ternyata setengah jam sudah berlalu. Tanda tanya memenuhi isi kepalaku. Tapi rasa penasaran itu langsung sirna begitu sadar bahwa senapan Monsieur masih diarahkan padaku. Matanya lebih tajam dari sebelumnya.

“Do what you have to do.”

Kembalilah aku dalam warna hitam. Lalu aku dengar sendiri suaraku datang entah dimana.

“Order accepted.”

Suara itu seperti bunyi radio rusak, kasar dan rapuh. Kemudian, badanku bangun dari tempatnya tadi dan berlari. Aku rasakan hentakkan kakiku menyentuh lantai. Tak lama kemudian, penglihatanku kembali.

Dari jendela luar, aku bisa menengok ruangan Monsieur Adrien. Kulihat ia sedang berdiri di depan sebuah cermin besar, menatap bayangannya sendiri.

“Heh… Aku tahu ini ulahmu. Kau kira bisa menggagalkan rencanaku semudah itu??”

Dalam waktu kurang dari satu detik, senapan di tangannya ia bidikkan ke jantung bayangannnya di cermin.

“I’ll get rid of you for sure. I don’t care whoever you are. “Cette” est le mien!! (“This” is mine!!)”

Ia kini serius menarik pelatuk senapannya itu. Setelah bunyi praaaang yang keras, retakan cermin yang tertembak peluru jatuh berserekan di lantai. Monsieur tertawa melihat bayangannya sendiri terpecah-pecah di setiap kaca yang bertaburan bagai debu.

Instingku bilang aku harus berlari saat itu juga. Tapi ternyata sebelum aku sempat mengangkat kakiku dari tanah, warna hitam kembali menyeliputiku. Hanya saja untuk kali ini, aku benar-benar terlepas dengan kesadaranku di dunia nyata.

***

Test, test… Uhm, one two three… Can you hear me?

Oh. Good. Thanks God, finally I can use “this”. That person is such a jerk, always forbid me from using “this”.

Well,

Hello ****~name censored~****, let me introduce myself.

I am… someone. But also no one. That’s all what I will say, okay? *blink*

I want to give you clue about NOISE.

I only have a very limited time, so I will make this fast.

It’s something everybody has. Something hidden.

In something you call as “mind”, there are many holes. People use this holes to take over the whole body.

Therefore, NOISE.

Only few people can do it. Including you. *smile*

Now you can get a very large image of this madness, right?

That’s good. *nod*

My time is running out. I should go back to where I was.

I don’t really care what decision you choose. I just want to watch.

And I also want to survive.

Take your time to think, madness is everywhere.

I will surely come back, when no resistance coming from that person.

Well, see you later…

Good bye.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.

Semoga bisi dinikmati~ :)