Belajar Cinta

Ini adalah kisahku ketika aku menjadi peran utama yang menurutku paling mengesankan sepanjang umurku yang masih belia ini, seperti sinetron kehidupan, akan kubagi kisah nyataku pada kalian.

Bagian 1

Sungguh, aku masih naif, buta, atau apalah istilahmu untuk memanggilku―aku tak keberatan―bahwa aku belum mengerti sama sekali tentang cinta. Cintaku kepada seorang lawan jenis. Rasa kagum. Senang apabila melihatnya. Senang ketika ia menatap kita dan hal-hal semacam itu. Aku belum berpikir bahwa itu adalah perasaan aneh yang orang bilang ‘jatuh cinta’. Indah, seperti langit jingga di sore yang cerah. Manis, seperti marshmallow rasa anggur favoritku. Lezat, seperti cokelat Swiss―yang sering dibawakan tanteku jika kembali ke Tanah Air―yang tengah meleleh di atas lidahku ini.

Cinta monyetku dulu, atau orang bilang cinta pertama, yah, terserahlah mereka akan menyebutnya dengan istilah yang mana, tapi aku pertama kali merasakannya ketika aku masih SD. Dia, seorang bocah ingusan yang manis. Bukan tetanggaku, bukan teman sekelasku, bukan teman sekolahku, bukan teman lesku. Ia hanya seorang bocah manis yang tinggal di rumah penjaga sekolah. Tapi ia bukan siswa yang sekolah di sekolah yang sama denganku. Manis, wajahnya enak dipandang. Lugu, sikapnya cukup santun untuk ukuran bocah kelas 5 SD. Misterius, sifatnya pendiam sekali.

Entah, aku lupa bagaimana awalnya. Aku minta tolong kepada Pak Jojo, si penjaga sekolah untuk membenahi pintu kamar mandi yang rusak karena teman sebangkuku, Lisa, terjebak dan menangis di dalamnya. Mendengar itu, Pak Jojo langsung bergegas ke kamar mandi sambil membawa perkakasnya, diikuti oleh si manis itu. Sejak saat itu, tiba-tiba aku senang melihatnya. Namun kami tidak pernah bicara. Aku hanya memandangnya malu-malu dan berpura-pura cuek karena gengsi apabila ia menangkap curi-curi pandangku.

Tapi suatu saat, suasana berubah seperti mendung pekat yang tiba-tiba menjadi benderang karena sang surya keluar dari persembunyiannya. Aku bermain rubik ketika jam istirahat di dekat rumahnya. Mungkin dia penasaran sehingga ia menghampiriku dan bertanya tentang permainan apa yang sedang kumainkan. Rubik. Rubik warna-warni. Kubus acak yang memusingkan itu berhasil membuka hubungan antara diriku dengannya. Aku tak hanya meminjaminya, tapi memberikan rubik itu padanya. Saat itu, senang bukan main rasa hatiku ini. Pertama kalinya ia bicara padaku. Pertama kalinya ia tersenyum padaku. Pertama kalinya ia menyentuh tanganku tanpa sengaja ketika mengambil rubik itu dari tanganku. Itulah pertama kalinya aku merasakan tubuhku mensekresikan hormon cinta neuropinephrine berlebihan.

“Hei, aku nggak bisa-bisa maininnya. Ajarin dong.”

Lihat! Betapa hebatnya rubik itu! Benda ajaib itu membawaku kembali kepada si manis. Ia menghampiriku yang sedang asyik bermain lompat tari dengan teman-temanku pas jam istirahat. Ia sekolah di siang hari.

“Aku udahan, Lis,” pamitku pada Lisa dan tanpa peduli lagi aku langsung pergi dengan si manis, menuju teras rumahnya.

Penuh canda, tawa, sabar, gemas, dan segala emosi berpadu saat aku bersamanya. Bermain rubik. Benda yang ajaib sekali. Waktu berlalu begitu cepatnya. Aku baru menyadari bahwa waktu yang kuhabiskan mulai dari pertama kali bicara dengannya hingga ia pergi sangat singkat. Kebetulan aku dekat dengannya menjelang akhir semester dan tahun ajaran baru menjelang, ia tak pernah tampak lagi. Kelas 6. Ia pergi. Sekolah di desa, tempat asal ibunya, bersama neneknya, mungkin hingga ia dewasa. Karena lewat beberapa tahun selanjutnya, aku tak pernah memikirkannya.

Bagian 2

Sekali lagi, pada saat itu aku masih belum mengerti tentang perasaanku. Waktu berganti. Aku memasuki pra-remaja. Aku mulai melihat kalau orang dewasa berlainan jenis yang memiliki perasaan saling suka akan bersama. Itu pemikiranku pada saat itu. Aku mulai kagum ketika melihat teman-teman lelakiku yang berwajah menyenangkan dan bangga jika bisa bergabung dengan mereka.

Aku mengagumi banyak lelaki saat itu. Setiap aku bersama dengan orang yang kukagumi, aku senang, meski dalam sehari aku bisa bersama dengan lima orang yang kukagumi sekaligus. Aku masih tak mengerti membedakan mana perasaan suka yang sebenarnya. Hingga suatu saat, arah magnet berubah. Utara menjadi selatan dan sebaliknya. Ada orang yang menyukaiku.

Kau tahu, bunga selalu mengharapkan kupu-kupu yang datang meskipun kumbang juga pasti datang. Sama seperti diriku di masa itu. Aku mengagumi banyak bocah lelaki tapi bukan diantara mereka yang menyukaiku. Ia, tidak manis, tidak tampan, tidak pendek, tidak tinggi, biasa saja. Satu hal yang kusuka dan yang membuatku iri: dia memiliki bulu mata yang lentik dan panjang.
Mulanya, ketika aku sedang menikmati sastra lama Siti Nurbaya di perpustakaan, Hans, salah satu teman lelakiku yang berkulit putih dan menarik membisikiku.

“Ada yang mau deket tuh. Eheeeem...” Lalu ia menjauhkan kepalanya dari telingaku. Menunjuk ke arah sudut perpustakaan. Seorang cowok yang awalnya membuatku berdegup seketika. Suka sama aku? Begitu pikirku kala itu, tak percaya, kaget, sedikit bangga, dan ingin mengenalnya juga. Ia tak melihat ke arahku. Ia membelakangiku. Hans dengan cepat berpindah tempat dan kini sudah berada di dekat cowok itu. Ia melakukan hal yang sama padaku. Aku menunggu.

Kurang dari satu detik, si cowok menolehkan kepalanya ke arahku. Tanpa senyum. Ia langsung menyodok rusuk Hans dengan sikunya dan kembali membelakangiku. Aku tahu namanya, tapi aku belum mengenalnya. Dia... Rene. Duduk di kelas tetangga. Saat itu, masih tahun pertamaku di SMP.

Cantik sekali tak-tik Hans. Ia membuatku penasaran dengan sosok Rene. Aku sempat memperhatikannya. Ia memang terlihat cuek, tapi aku berhasil menangkap curi-curi pandangnya. Ia masih belum berani menyapaku. Kenapa? Aku sendiri malas memikirkan alasannya. Yang jelas, aku yakin, perasaan malunya pasti lebih besar dari keberaniannya.

Sejak saat itulah, aku mulai bercermin. Bersyukur kepada Tuhan bahwa aku memiliki wajah yang lumayan. Aku memang nggak secantik dan seanggun Gita Gutawa masa itu, tapi buktinya, ada orang yang menyukaiku. Sejak saat itulah, aku bangga pada diriku. Anehnya, aku merasakan jantungku juga berdegup jika cowok menarik lainnya masih dekat denganku.
Kau tahu kenapa? Rupanya Hans adalah sahabat kental Rene. Ketika Hans dan yang lainnya sedang asyik ngobrol denganku di kantin, ia ikut bergabung dan mulai berbicara padaku. Meskipun sekali-kali Hans iseng meledek kami. Seperti aku telah mencium pheromone-nya, aku pun mendekat dengannya. Tanpa kusadari. Jantungku berdegup lebih cepat jika ia berbicara padaku, menatapku, atau berada di dekatku. Dan merasa sangat konyol jika aku tak berhasil menangkap kata-katanya. Merasa sangat konyol ketika aku ketahuan masih mengemut Choki-choki.

Konyolnya lagi, aku menangis ketika dia mengatakan, “Aku suka sama kamu. Mau jadi pacar aku?”

Maka, terjalinlah hubungan singkat itu. Ketika itulah aku merasakan betapa baiknya sisi cowok. Betapa perhatiannya ia. Betapa manisnya ia. Betapa indahnya ia. Ketika aku menatapnya lekat-lekat, ingin rasanya menukar bulu mataku dengan bulu matanya. Namun, manisnya cokelat yang kurasakan hanya sesaat. Sebulan berlalu, lalu kami bubar.

Konyol sekali. Kami putus hanya karena aku merasa perhatiannya padaku berkurang dan ia beralih ke gadis lain dua hari setelah kami putus. Lihat? Betapa hebatnya dia! Wajah dia pas-pasan, hanya bermodal bulu mata lentik seperti seorang puteri. Maka, persahabatanku dengan Hans-pun pupus sementara. Di tahun kedua dan ketiga, aku mulai akrab lagi dengannya. Meskipun aku masih merasa tersakiti oleh tingkah Rene. Dan sejak saat itu aku memutuskan: aku tidak akan punya pacar lagi!

Bagian 3

Umurku semakin beranjak dan aku menginjakkan kakiku di SMA. Masa yang paling indah kata orang. Persahabatanku dengan Hans tetap berlanjut meski persahabatan Hans dengan Rene tak berlanjut karena mereka menyukai gadis yang sama waktu tahun kedua SMP. Sekali lagi, unik sekali efek cinta, bisa menghilangkan cinta yang lainnya. Oke, aku memang masih buta tentang cinta.

Aku membiarkan diriku akrab dengan teman lelakiku yang menarik tapi aku tak membiarkan mereka memasuki hatiku jauh ke dalam. Permainan cinta. Aku menciptakannya sendiri. Aku membiarkan diriku hanyut di antara mereka. Namun aku juga berusaha untuk berhasil mengelabui mereka. Hari-hariku penuh akrab dengan mereka. Ada sebagian yang menyukaiku tapi kutantang mereka:

“Kalau perasaanmu bertahan padaku sampai kita lulus, aku baru mau jadi pacarmu.”

Dan tentunya mereka akan berpikir pada awalnya. “Pasti perasaanku nggak akan berubah sama kamu.” Itu jawaban mereka yang benar-benar berperasaan. Indah, membuatku melayang tapi di baliknya tampak jelas tipuan.

Untuk sebagian yang lain, mereka akan bilang, “Hei, gadis, sadar dong, di dunia ini tuh masih banyak gadis cantik lainnya. Buat apa aku menunggu kamu kalau kamu saja meninggalkanku?”
Mereka malah yang kejam menurutku tapi mereka jujur.

Dan Hans berkomentar, “Jangan begitu. Terima aja dia, kalau dia setia, kalian juga bakal langgeng kok. Aku nggak tahan melihat kamu jomblo terus. Kita jadi nggak bisa kencan dobel deh.” Lalu ia mengakhirinya dengan terkekeh seperti nenek sihir.

Terkadang aku berpikir bahwa Hans benar dan aku salah. Egoisku, membuatku terjebak dalam permainanku sendiri. Aku malah semakin tertikam. Ada seorang cowok yang mengaku akan menungguku hingga lulus, tapi di tahun berikutnya, ia sudah berpacaran dengan teman sekelasku yang cukup dekat denganku. Hal itu membuatku semakin membenci para lelaki. Sumpahku, aku tidak akan memilih siapapun hingga orang yang tepat datang atau sebaliknya. Dan asumsiku, semua cowok di sekolahku brengsek! Aku keterlaluan, memang.

Hingga tahun keduaku di SMA, aku baru menyadari bahwa teman SD-ku Lisa duduk di kelas yang sama denganku. Namun ia berubah. Ia jarang bicara padaku. Namun aku kagum padanya bahwa ia kini cantik sekali. Bagaimanapun, aku pernah dekat dengannya sehingga aku berusaha agar bisa dekat lagi dengannya.

“Lisa?”

Ia hanya tersenyum. Kudekati dirinya dan kuketahui bahwa dia pucat sekali. Hanya seminggu sekolah, ia menghilang. Dan menurut kabar, ia menderita leukimia dan tidak masuk karena kemoterapi. Jelas aku syok sekali mendengarnya. Itulah sebabnya ia jarang masuk. Itulah sebabnya ia jarang tampak. Itulah sebabnya aku baru menyadari kalau ia satu sekolah denganku.

Aku dan Hans mengunjunginya di rumah sakit ketika ia sedang kemoterapi. Selain Ibunya, ada orang lain yang menunggunya. Kukira ia pacarnya. Dan benar saja. Ia pacar Lisa. Hatiku meringis iri. Lisa berhasil menemukan orang yang tepat. Yang baik padanya, sepenuhnya peduli dan perhatian. Cowok itu tampak kelabu namun ia tersenyum begitu kami menghampiri mereka. Cowok yang ramah.

“Sina.”

Dia mengenalku dan aku mengenalnya.

“Galih.”

Hans tercengang. Dia si manis. Si manis yang baik santunnya. Cinta monyetku, kini berubah menjadi pria yang setia. Dan dia milik teman kecilku juga. Aku... harus menahan perasaanku. Dan Hans seperti mengerti apa yang terjadi, ia merangkulku dan mengajakku duduk. Menatapku lekat. Sementara air mataku mengumpul di pelupuk mataku. Rupanya, aku masih mencintai masa laluku...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rainy Oktavia Langitan
Rainy Oktavia L... at Belajar Cinta (9 years 29 weeks ago)

penyampaiannya enak banget hihi
salam kenal ya ^^

Writer pradjas
pradjas at Belajar Cinta (10 years 33 weeks ago)

Top bgt,udh byasa brcrita jd enak d baca , beri petunjuk bg sy yg ingn bljr

Writer dian k
dian k at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)
80

Enak! Ngalirnya lancar, dan kamu juga udah bagus dalam memilih kata. Cuma endingnya aja yang kurang klimaks. Gimana kalau moment of truth--Galih ternyata pacar Lisa ditaro paliiiingg belakang? Hmmm ... lebih shocking? Atau nggak? gimana menurutmu? ;)

Writer aimie keiko
aimie keiko at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)
90

halo cantik :)
aku suka tentang cintacintaan masa kecil..
tapi aku agak bingung saat mulai masuk ke tokoh Lisa di paragraf2 terakhir, aku rasa seperti ada yang 'miss' di sana, entahlah, tapiii akhirnya aku engeh kalo Lisa itu ternyata teman main lompat tali... hehhehe.. *dicubit Veby..

totaly ini asik! :D

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

senangnya kak ai bersedia mampir, hehehe ^^
well, untuk si lisa, aku niatnya mau buat dia sebagai kejutan di belakang. tapi ternyata malah ada yang 'miss' ya kak?
hmmm... wokeh deh, matur nuwun sekali untuk koreksinya.
bisa buat bahan belajar lain kali ^^
:)

makkie at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)
70

hem,,hem,,dapet suasananya, tapi kurang dapet perasaannya Sina,,pergolakan emosinya kurang greget,,,tapi aku cukup menikmati,,

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

wah, membangun sekali makkie ^^
bolehkah saya minta ilmumu gimana cara membangun efek emosinya? :)
terima kasih :)

Writer cat
cat at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

Hem bener aku awalnya agak bingung dgn karakter si aku.
Lalu terlalu byk tokoh yg muncul jd karakternya nda kuat.

Tp aku cukup menikmati. Thx.
Maap pointernya erot. Poin 7.

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

waaah, kak cat mampir
wokeh deh sis, thanks yooo
kebanyakan toh tokohnya? hehehe...
memangnya bagian mana to yang membingungkan, kak cat?
*masih dodol :)

Writer lavender
lavender at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)
90

Hmmm dulu aku jg pernah bikin yg seperti ini tapi nggak pernah kelar ixixixixi..
Aku sukaaa, enak dibaca dan menarik, terasa riil..
Aku paling suka kalimat ini : Itulah pertama kalinya aku merasakan tubuhku mensekresikan hormon cinta neuropinephrine berlebihan

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

waaaah, kak lav ^^ terima kasih
hihihihi, hormon cintanya kan aku googling dulu :)
nggak kusangka, ternyata ada yang suka, ihihihihihi *senangnya

Writer dieka2501
dieka2501 at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)
70

aduh.. harus baca bbrapa kali uyy.. bingung.. :hammer:

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)

bingung kenapa, kawan? hehehe...
makasih atas komennya
salam kenal ya

Writer dieka2501
dieka2501 at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

haha.. gtw.. blm ngeh aja jalan ceritanya :D

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

tapi sekarang udah ngeh kan? ^^ *ngarep :p

Writer H.Lind
H.Lind at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)
80

Menurutku ceritamu tidak kaku koq, malah mengalir lancar.
Dan saya suka sekali judulnya : Belajar Cinta. Punya makna dalam. XD

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)

wah, trim's, senior ^^

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)
90

Cerita ini begitu nyata. Ckckck....

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)

makasih kak midori :)
kritikannya adakah, senior?

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Belajar Cinta (10 years 34 weeks ago)

saya tidak mampu mengkrtik, Jade. Maaf...saya tidak capable soal ini. Saya hanya pembaca :D

Writer bungarumput
bungarumput at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)
80

nice, jadi pengen cerita tentang pengalaman jatuh cinta juga, hehehehe... halah2...

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)

thengs, kawan ^^
silakan atuh, nanti saya mampir
kabar-kabar ya :)

Writer labirinsenja
labirinsenja at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)
90

nice true story...

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)

terima kasih, labirin senja ^^
salam kenal ya

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)

wah, kritik yang membangun! terima kasih ya ^^
hmm... saya juga baru menyadari kalau karakterisasi saya masih nggak jelas. maklum, aku ngerjainnya pas insomniaku kumat jadi ngawur deh. hehehe...
iya, Hans dan Sina adalah sahabat tapi saya nggak ada pikiran buat menjadikan mereka saling naksir atau naksir ke salah satu, hehehe :p
okeh, tetap semangat menulis yaaa ^^

Writer idlsoexrie
idlsoexrie at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)
50

nice story, waktu kecil aku cuma maen lumpur dan baru skarang bisa maen rubik. hakhakhak

salam kenal :)

Writer miss.jade
miss.jade at Belajar Cinta (10 years 35 weeks ago)

makasih ya ^^
salam kenal juga