Achun dengan Nada-Nada Cinta Pelipur Lara dan Dahaga

Semilir angin laut menyapu wajah sendu pemuda bermantel cokelat itu. Pipinya memerah menahan lembab yang pekat di kulitnya. Tiba-tiba bulir-bulir garam dari uap air laut yang mengambang, tertiup halus membasuh rambutnya yang berwarna kemerahan.

CLESS!

Pemuda itu meringis pilu. Bibirnya sedikit terangkat dan segera ia basuh dengan punggung lengannya.

Pemandangan yang begitu menakjubkan!

Achun, pemuda itu, duduk di bangku kayu yang berdiri kokoh di ujung pantai. Sambil memegang sebuah diari kuno peninggalan Nenek, Achun kembali menulis sebuah puisi sendu di atas kertas tua tipis yang terbuka pada diari yang nyaris terbang terbawa angin.

Langitnya menawan. Ronanya lembut dengan awan yang temaram. Angin membuatku syahdu, namun derainya bertenaga. Membasuh pilu wajahku yang penuh duka. Seandainya laut mau berbicara, aku ingin minta sesuatu. Satu saja…

Achun pun mengeluarkan suara lantangnya.

“Wahai Raja Laut! Andaikan kau benar-benar ada, aku ingin memohon sesuatu. Hanya satu permintaanku. Tolong izinkan aku untuk melihat pemandangan yang luar biasa indah ini dengan lebih berwarna. Berikan laut warna biru yang jernih. Warna langit yang benar-benar cerah. Awan putih yang lembut. Angin yang berdesis tanpa jejak. Aku mohon! Aku… hmm… aku kini tidak dapat menikmati semua itu karena di mataku, hanya ada hitam putih. HITAM dan PUTIH! Aaaaarggghhh! Apakah aku… aku… BUTA WARNA?!” pekik Achun sedih dan nyaris menitikkan air matanya yang sendu.

Saat suasana hening menghanyutkan hatinya yang kalut, tiba-tiba seuntai suara muncul dengan begitu hangatnya.

“Tenang, Tuan. Anda tidak buta warna,” kata suara itu yang terdengar begitu dekat dengan Achun.

Bulu kuduk Achun seketika itu juga berdiri dengan hebatnya. Ketakutan langsung menyergap dan khayalan magisnya langsung muncul menggantikan deru-deru sedihnya yang tadi.

“Tuan? Apakah… kau adalah Raja Laut? Apakah ini suara Raja Laut?” tebak Achun antusias. Dia mengitarkan pandangan ke sekelilingnya dan mulai yakin bahwa suara itu adalah magis karena di sekitarnya saat ini hanya ada air laut, pasir, batu kerikil, rumput, bangku kayu yang ia duduki, buku diari Nenek dan juga anjing berbulu abu-abu metalik yang tampak melankolis.

Hah? Kenapa ada anjing??

“Bukan, Tuan. Tadi saya yang berbicara…” kata anjing itu pelan.

“HYAAA!! Anjing kunyuk! Kenapa tiba-tiba bisa ngomong??” pekik Achun lebay sembari menjauhkan dirinya dari si anjing yang tiba-tiba muncul seenak jidat di sebelahnya.

Si anjing mengangguk sok manis. “Iya, Tuan. Kalau sedang berduaan, saya bisa berbicara,” jawab si anjing.

“MAKSUDNYAAA??!” Achun kesal dan ingin sekali melempar anjing itu ke laut.

Ngeri banget hari gini ada anjing bisa ngomong! Mana naksir gue pula! Amit-amit sabang sampe merauke!

Entah kenapa, si anjing malah menjulurkan lidahnya seperti hendak meledek Achun yang kebingungan dan norak karena baru pertama kali melihat anjing bisa bicara.

“Tidak apa-apa, Tuan. Never mind…

Achun bengong.

“Dih, kok ngomongnya pake bahasa Inggris?? Ini anjing siapa, deh??” tanya Achun mulai nyolot dan lupa aura melankolis yang tadi sempat terbangun melalui diari Nenek.

“Perkenalkan, nama saya Bendi, Tuan. Mungkin kalau Tuan ingat, dulu saya pernah main film Hollywood judulnya Buddy. Tapi saya jadi stuntdog alias pemeran pengganti khusus anjing. Itulah sebabnya sosok saya kurang terkenal. Tapi yang penting, bahasa Inggris saya tetap bagus, kok,” terang Bendi senang dan mulai tersenyum bangga.

Mendengar ini, Achun ingin sekali memotong lidahnya sekarang juga. Itu wajar karena sekarang ia merasa amat malu bahasa Inggrisnya lebih parah dibandingkan dengan anjing kampung model si Bendi ini.

“Terus situ ada perlu apa? Tiba-tiba muncul, ngeganggu saya pula. Apa maksudnya? Saya ini lagi serius, ya. Ada tugas kuliah belajar drama tentang Raja Laut dan Peri Naga. Please banget jangan ganggu!” mohon Achun sambil memungut kembali diari Nenek yang tadi hampir dibuangnya karena takut-takut bisa bicara juga.

Anehnya, Bendi terkikik geli. Achun jadi makin merinding.

“Saya hanya ingin memastikan pada Tuan, apakah Tuan baik-baik saja?”

Achun mengangguk cepat. “I’m fine. You go-laaah!”

Bendi mengitari bangku yang diduduki Achun dengan perlahan, lalu berhenti tepat di depan Achun.

“Tuan benar-benar tidak apa-apa? Tapi mengapa tadi Tuan berteriak?” tanya Bendi ‘mau tauuuu aja’ urusan orang.

Rasa malas berdebat, sudah membubung dalam benak Achun. Tetapi emosinya meningkat lebih cepat daripada yang ia duga.

“Eh Ben, please deh jangan panggil saya Tuan! Saya masih muda! Lagian ya, saya akan baik-baik aja kalau kamu tadi enggak muncul. Udah nongolnya tiba-tiba, kakinya empat, berbulu, bisa ngomong, sok tau, warnanya abu-abu… metalik lagi! Anjing jadi-jadian, ya? Bulunya ngecat sendiri??” tuduh Achun jahat sambil menunjuk-nunjuk tubuh Bendi yang kelihatan tidak normal jika dibandingkan dengan anjing lainnya yang pernah Achun lihat di TV. Apalagi kalau dibanding Buddy yang bulunya berwarna cokelat keemasan, Bendi ini waktu syuting pasti pake wig bulu palsu. Warnanya beda parah!

Karena dihina oleh Achun, Bendi pun angkat kaki. Ehem, maksudnya angkat tangan untuk menjawab. Tetapi berhubung anjing tidak punya tangan, ia pun mengangkat kaki yang disebut-sebut Achun ada empat jumlahnya.

Sorry ya, Tuan. Saya ini anjing asli. Belum pernah ke salon apalagi mengecat bulu sendiri. Menurut agama, itu haram hukumnya. Lagipula, warna bulu saya cokelat keemasan, Tuan. Tidak pernah abu-abu… apalagi metalik. Itu fitnah!” teriak Bendi sewot membela diri.

Mendengar ini, Achun jadi panik. Bukan karena Bendi tiba-tiba jadi agamis, tetapi klaim Bendi soal bulunya yang berwarna cokelat keemasan, kenapa berbeda dengan yang ia lihat? Dalam matanya yang normal, bulu Bendi berwarna abu-abu metalik. Lalu pasir-pasir juga berwarna putih tua. Air laut… langit… awan dan semuanya berwarna monokrom. Hitam dan putih. Hitam dan…

“AAAARRRRGGHHHH!! Jangan-jangan gue buta warna?? Bendi! Apa jangan-jangan saya BUTA WARNA??! Kenapa semuanya jadi hitam dan putih??” Achun berteriak-teriak panik seolah-olah ia baru saja ditinggal orang terkasih ke pelukan pria lain. Eits, itu namanya diselingkuhin!

Tiba-tiba Bendi berteriak.

“Tidak, Tuaaaan! Tuan tidak buta warna. Tadi kan saya sudah bilang sejak awal pertama kali kita bertemu.”

“Iya saya dengar. Tapi buktinya saya tidak bisa melihat warna selain hitam dan putih. Apakah saya... dihukum Raja Laut karena teriak-teriak sembarangan?” ucapan Achun menggantung.

“Eh Tuan, mata Tuan itu tidak apa-apa. Tapi otak Tuan yang sepertinya agak kurang waras,” kata Bendi sok tahu.

Achun ngamuk dihina anjing kampung. “Heh, kampret! Sembarangan! Ada juga situ tuh anjing ngomong enggak pake otak! Aaaarghhh! Ini kenapa mata saya begini? Harus ke rumah sakit ini!”

“Tuan, tidak perlu ke rumah sakit. Saya tahu solusinya.”

“Hah, benarkah?? Wah, berguna juga ini anjing! Apa? Apa? Punya ramuan ajaib? Secara kamu udah ajaib banget bisa ngomong. Pasti situ punya obat mujarab,” duga Achun semangat. Ia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Bendi tanpa takut terlibat cinta lokasi dan dengan sigap memejamkan kedua matanya memohon kesembuhan.

Melihat kenyataan ini, perlahan Bendi sedikit mengambil langkah mundur karena takut disosor Achun, lalu dengan cepat mengangkat kaki kanannya dan langsung membacakan mantra sambil mengusap wajah Achun dengan kakinya.

Busyeng, muke gue dikasih bulu-bulu apa ini?

“Silakan buka mata Tuan!” perintah Bendi pada Achun yang sedang komat-kamit berdoa, sesaat setelah mengobati Achun.

Dengan gestur tubuh lemah lembut, Achun pun membuka matanya dan…

“UHWAW!! Sekarang saya sudah bisa melihat lagi dengan jernih! Warna air dan langit yang biru, awan putih… pasir putih… dan bulu kamu yang warnanya cokelat keemasan, semua bisa saya lihat dengan jelas! Terima kasih, Bendi! Kamu memang anjing sakti bin ajaib! Harusnya kamu habis ini buka praktik aja!” saran Achun sembari hendak memeluk Bendi sok mesra.

Bendi meringis dan buru-buru menghindar. Takut jatuh cinta.

By the way, kamu pakai ramuan apa? Jampe-jampenya belajar dari mana? Kok tiba-tiba saya bisa sembuh dalam sekejap?” tanya Achun super curiga.

“Ini Tuan, masalahnya! Sebenarnya Tuan itu tidak sakit apa-apa. Tetapi kacamata hitam Tuan ini terlalu jelek kualitas cahayanya. Jadi semua pemandangan indah di hadapan Tuan, warnanya berubah menjadi hitam dan putih. Lebih baik sekarang Tuan buang kacamata Tuan ini ke laut, lalu Tuan menikmati pemandangan surgawi ini dengan mata telanjang,” saran Bendi sambil membuang kacamata Achun ke laut tanpa persetujuan pemiliknya terlebih dahulu.

Dasar anjing nggak sopan!

“APA??! TELANJANG??” Achun memekik kaget tidak percaya. Selain sok tahu dan sok agamis, ternyata anjing di hadapannya itu mesum.

Bendi buru-buru menggeleng. “Eits, Tuan! Bukaaaan! Maksud saya, dengan mata asli Tuan. ‘Mata telanjang’ itu hanya istilah perumpamaan dalam bahasa Indonesia. Lagipula, lain kali Tuan jangan memakai kacamata hitam lagi, ya! Kerenan begini saja, Tuan. Mirip salah satu teman saya, pemain film Hollywood yang judulnya Men in Belek,” seru Bendi semangat.

Achun jadi penasaran. “Lha? Kamu punya kenalan manusia juga selain saya? Gaul amat! Kirain saya doang yang kenal anjing ajaib bisa ngomong kayak kamu.”

Padahal tadinya mau gue orbitin jadi seleb, lho…

Dengan lemahnya, Bendi menggeleng. “Bukan, Tuan. Teman saya anjing juga.”

Achun menelan ludahnya hampa. Dia kira masih ada makhluk lain berupa manusia yang bisa menerima kehadiran Bendi dengan kemampuan berbicaranya yang abnormal. Tetapi ternyata, memang hanya Achun yang sarap. Hanya Achun yang ‘beruntung’ bertemu Bendi. Dan mungkin cuma Achun yang nantinya dianggap gila jika ia bercerita kepada orang-orang soal pengalamannya bertemu dengan anjing sakti macam Bendi yang ngobrolnya fasih banget kayak anjing ter-akreditasi lulus sekolah.

“Baiklah Tuan, tugas saya membantu Tuan memecahkan masalah sudah selesai. Sekarang sudah saatnya saya kembali. Masih ada banyak tugas yang harus saya kerjakan di tempat lain,” ujar Bendi memohon pamit.

Entah kenapa, Achun merasa tidak rela.

“Eits! Kenapa buru-buru?? Ngopi-ngopi dulu, laaah. Nongkrong kek, nangkring bareng di sini. Kapan lagi, coba, kita bisa ketemuan? Besok-besok, belum tentu saya ada di sini dan kamu juga mungkin ada di tempat lain. Lagipula, saya nggak punya kontak kamu. Ini mana BBM (blackberry messenger) saya mati nggak ada pulsa,” curhat Achun pedih.

Bendi menggaruk kepalanya dengan kaki.

“Saya malah tidak punya BB, Tuan,” aku Bendi jujur.

Oh iya, bener juga!

Dengan cepat, Achun segera memutar otaknya. “Nah, kalau begitu, daripada nanti kita nggak bisa bertemu lagi, lebih baik sekarang kita habiskan waktu yang ada bersama-sama! Kamu kan belum membantu saya latihan drama Raja Laut dan Peri Naga secara utuh. Jadi sekarang, kamu berakting menjadi Peri Naga, ya?” bilang Achun sumringah.

Okay. Terus Tuan jadi apa?”

“Kalau saya jadi Kumba-Kumba, yaitu makhluk blasteran kura-kura plus lumba-lumba. Si Kumba-Kumba ini asisten pribadinya Raja Laut yang bertugas sebagai juru bicara kerajaan,” jawab Achun.

Wajah Bendi tiba-tiba berkerut.

“Lalu, siapa yang jadi Raja Laut?”

Amit! Ini anjing nanya mulu. Mau tauuuu aja!

“Ehe, tidak ada yang jadi Raja Laut. Soalnya Raja Laut kan terbuat dari air. Jadi dia tidak bisa bicara. Bisanya hanya mengeluarkan ombak dan gelombang-gelombang riuh karena tertiup angin,” terang Achun panjang lebar.

Mendengar penjelasan Achun, Bendi pun manggut-manggut pura-pura mengerti.

Akhirnya mereka menghabiskan sore dengan meriah. Meskipun hanya berdua saja, antara anjing dan manusia, suasana yang terbangun di antara mereka begitu akrab dan nyaman. Di luar dugaan Achun, Bendi sangat menghayati peran Peri Naga dan sempat mencontohkan gerakan naga menari-nari dengan tubuhnya yang berjinjit dan berputar-putar mengelilingi Achun. Melihat ini, Achun jadi tertawa kegirangan. Apalagi dialog-dialog Peri Naga diucapkan Bendi sambil sesekali menggonggong. Lucu juga membayangkan ada naga cantik dan centil yang mengeluarkan suara… GUUK! GUUK!

Tidak terasa, hari sudah semakin sore. Achun mulai mengantuk terbawa angin laut yang mulai hening. Suara ombak pun nyaris tidak terdengar. Begitu juga Bendi yang pelan-pelan tertidur di bangku kayu sebelah Achun.

Waw! Suasanya romantis sekali. Coba gue ngabisin waktu bareng pacar, bukannya sama anjing sarap model Bendi begini.

Dalam suasana syahdu yang kian menyayat, tiba-tiba Bendi bernyanyi. Lagu yang dinyanyikan Bendi juga kebetulan adalah lagu kesukaan Achun, yaitu milik Ridho Rhoma. Judulnya adalah Nada-Nada Cinta Pelipur Lara dan Dahaga.

“Cekian lamaaaa…. aku mencariii…. pacaaaaar, cucaaaah cekaliiiii…” pekik Bendi dalam alunan nada yang terdengar fals tapi seru.

“Wakakakakak!” Achun tertawa girang. “Lagunya keren banget, Ben! Sesuai sama nasib saya. Kamu tahu dari mana kalau saya lagi cari pacar?”

Bendi melanjutkan menyanyi. “Na…na…na…”

“Woy, Bendi! Jawab dooong! Jangan aneh!” Achun sewot.

Bendi pun menjawab. “Saya nyanyi buat diri saya sendiri kok, Tuan. Bukan untuk Tuan. Soalnya saya juga suka Ridho Rhoma. Kalau kebetulan nasib kita sama, ya bagus lah, Tuan.”

“MAKSUDNYAAA??!” Achun melotot. Ia mulai merasa Bendi punya maksud-maksud tertentu dengan ‘mendekatinya’ seperti ini.

“Ehe, maksudnya kita bisa memulai persahabatan, Tuan. Karena sama-sama jomblo, jadi kita… bisa cari pacar bareng! Bagaimana, Tuan??” tawar Bendi genit.

Alis Achun agak berkerut. Baiklah, Bendi selain sok tau, sok agamis, mesum dan juga genit. Lengkap sudah kriteria ‘anjing aneh’ tersemat pada sosok Bendi.

“OKE! Kita lomba ya, Ben?? Siapa yang duluan bisa dapat pacar, harus loncat ke laut!” pekik Achun garing.

Bendi mau nangis. “Saya tidak bisa berenang, Tuan. Kalau saya tenggelam, bagaimana?”

Achun langsung merengut. “Ya sudah. Bagaimana kalau… yang berhasil dapat pacar duluan, dapet tiket nonton film gratis bareng pacar?”

Bendi hanya meringis. Baginya, tawaran Achun tidak ada yang normal untuknya. Bagaimana mungkin Achun menawari tiket nonton film pada seekor anjing?

“Begini saja, Tuan. Barang siapa yang mendapat pacar duluan, boleh mendapatkan tiket konser Ridho Rhoma untuk album 'Nada-Nada Cinta Pelipur Lara dan Dahaga' bulan depan! Bagaimana??” Bendi menawarkan solusi yang sebenarnya tidak masuk akal.

Tiket konser Ridho Rhoma? Itu idola gue!

Mendengar ini, Achun senang. “Hahahaha! Baiklah! Kita sepakat, ya? Sebulan lagi, kita bertemu di sini, harus sudah membawa pacar, ya? Oke! Got you, Boy!” Achun mengelus-elus kepala Bendi.

Sejak saat itu, mereka sepakat untuk bersahabat dan saling curhat mengenai kisah kehidupan dan petualangan mencari pacar masing-masing. Meskipun terdengar tidak masuk akal, setidaknya Achun telah mendapatkan sahabat baru yang ajaib, sangat mengerti dirinya dan bisa dijadikan tempat berbagi suka dan duka bersama.

Dan Bendi?

Ia juga senang bersahabat dengan Achun karena Achun adalah jenis-jenis manusia lucu yang kadang melankolis tapi kebanyakan narsisnya. Lucu juga membayangkan Achun bersahabat dengan Bendi, si anjing sakti tapi konyol. Ya, itu misteri Tuhan. Soal siapa pemenang tantangannya… hanya Achun, Bendi dan Tuhan yang tahu. Oh iya, Ridho Rhoma juga harus tahu!

“Sebentar ya, saya BBM-in Ridho Rhoma dulu!” pekik Achun heboh dengan gaya 'rempong' kayak mau arisan.

JEGERRR!

The End

*maaf yaa ceritanya paling gak jelas sedunia,,sayaa sedang labil dan penuh dusta,,mohon bimbingannya,,ending masih tentatif dan memungkinkan untuk diubah,,terima kasih

oh iya,,jika ada yang berminat untuk menambahkan,,sangat amat diperbolehkan

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Hahahaha kereen. Ini benar-benar membelokkan imej di foto. Jadi pengen bikin komedi juga nih. BTW, kalo menurut saya sih, ceritanya mendingan ditamatin pas adegan Achun melepas kacamata hitamnya, karena di situ klimaksnya. Kalo berhenti di situ jadi lebih berkesan aja :p

makasih lho kak vai udah mampir,,wkwkw
ayo laaah bikin komedi,,makin rame makin seru
itu tadinya emang si devi udah bilang potong di situ ajaa,,tapi aku genit ama Achun,,jadi pengen Achun muncul lebih lamaaa,,ahahahahaha

setuju dengan kak Vai :D
hmm, sepertinya ada yg jadi pengen bikin komedi..terus, si riri bilang di catatan kakinya, menyilahkan siapa pun yg ingin melanjutkan.

hmmm..*uhuk uhuk* :D

permisi..*ngacir*

iya sih dev,,lanjutin gih sana~~~
*nyuruh2 pake bawa pohon...

100

Mau Tanya nih......
1. Klo sebulan kemudian.... masing2 bawa pasangan.... Apakah pasangannya Achun dapat nerima klo Achun taruhan ama Anjing dan ngomong ama Anjing........ (Nggak kebayang)
2. Buat Endingnya........ Nggak ada yg menang....... jadi nonton konser Ridho Rhoma Bareng2.......

90

aih riri,,, hahahahah!!! benar ternyata!!! kocak!!! itu si bendi kebayang tampangnya!!!

ya begitulah va,,kalo mau lanjutin,,sok atuh! :))

90

Wkwkwkwkwkwk...
anjingnya mantan pemeran anjing di Dr. Doolittle nih

makasih yaa udah mampir..
salam kenal :))

100

Anjing nyeni dangduter sejati...***nyengir
kreatif bro, lumayan buat ngilangin suntuk ^_^ salam

hooohoh,,makasih kak dewi sudah mampir
*tapi aku cewek,,jangan dipanggil bro,,huwaaaaa T_T

hehehe.......oke deh sis

100

ngakak sengakak-ngakaknyaaa....
ya ampyuuuun... ririii... dikau memang master komedi... ahahahaha...
.
seru juga nemu genre dan nuansa berbeda di acara tantangan ini. :)
.
sebetulnya nggak ada yang perlu di-komplain dari cerita ini, semuanya udah oke.
cuma saya pengen nanya aja :
1. si Bendi itu betina atau jantan?
2. achun itu inspired by yoochun kah?
ohohoho, maap kalo pertanyaannya gak guna.
.
yang jelas, i really love this story.

haloo melzz,,wkwkwkw
yaa sebenernya sih aku bikin cerita komedi karena gak pernah bisa bikin cerita serius,,selalu gagal,,whuuuuaaaa
menjawab pertanyaan nih yaa:
1. Bendi itu jantan,,tapi genit
2. Achun itu adalah Yoochun versi Indonesia,,pkonya penampilan fisik mah ya Yoochun banget lah yaa,,jadi nanti kalo ada cerita ttg Achun2-an lagi,,ya itu pasti Yoochun,,hahhaahah

makasih yaa melzz udah dateng :))

ahahai... oke deh, ri.
nanti kalau ada cerita Achun lagi, saya pasti mampir. ohohohoo

100

Ahahah... Sendu awalnya doang... ^^

Walau klaimnya bikin ngasal, tapi saya ngakak bacanya... XD

ehehehe,,makasih yaa kak zoel :)

90

buat pancingan,,boleh kan yaa ngasih poin diri sendiri,,wkwkwkw,,semangat ayooo Achunwanto!

90

lucuuuuuuuuuu bangeeeeeeeeeeetttttt...
suka bagian ini :
“Sorry ya, Tuan. Saya ini anjing asli. Belum pernah ke salon apalagi mengecat bulu sendiri. Menurut agama, itu haram hukumnya. Lagipula, warna bulu saya cokelat keemasan, Tuan. Tidak pernah abu-abu… apalagi metalik. Itu fitnah!” teriak Bendi sewot membela diri.
AHAHAHAHAHHA..

makasih banget yaa kak lav udah mampir :)) hehee
aku cuman berusaha lucu2 dikit kok,,gak banyak,,heheheeh
:))

90

Wakakakaka,,xD
Hemmm..oke mulai serius.
Hehehe.

Di awal, melankolisnya udah dapet. Beuh Riri, author ATDL, bermelankolis ria, wkwk. Tau-taunya..jeger! Tetep aja dudulisme, xD.

Oh ya, ada sedikit saran di bagian monolog Achun yg ini:

Quote:
Langitnya menawan. Ronanya lembut dengan awan yang temaram. Angin membuatku syahdu, namun derainya bertenaga. Membasuh pilu wajahku yang penuh duka. Seandainya laut mau berbicara, aku ingin minta sesuatu. Satu saja…

Menurut gw diitalic aja bagian yg itu, biar nggak nyaru sama author pov, hhehe. Komedinya dapet seperti biasa, hanya saja mood gw agak turun-naik, hehe. Gw tetep ketawa kok, hehe. Hanya saja ya itu, mood ketawanya turun-naik, hehehe. Mungkin karena agak kepanjangan ^^. Tp tetep oke kok, ri. Secara..gw aja bahkan nggak bisa bikin komedi kayak eluuu, wkwk.Tetep yahud dah. Dan bang Ridho tetep eksis yaaa, xD. Ditunggu lanjutannya, wkwkw. (ada ga, ri?xD)

Share more :)

iya sih,,gak ngakak2 amat emang dev,,gue aja bingung mau buat model apa,,soalnya bikinnya udah tengah malem pulaaa,,huwaaa,,agak jayus2 dikit begitchu deh jadinya,,ada masukan lain?
makasih yaa atas perbaikannya

70

wkwkwk ..saya numpang ketawak duluu

ada masukan,,kritik atau saran kah kak??scaraaa ini cerita gak bener banget,,,huaaaaa..hancur banget bikinnya gak pake perasaan,,kebanting banget dah ama cerita para master buat tantangan ini,,ckckc *namanya juga nyoba yaa,,nyobanya ngasal pulaa T_T
makasih kak cat udah mampir :)

Asli riri aku harus belajar bikin komedi dr kamu cjckck parah keren nya

Asli riri aku harus belajar bikin komedi dr kamu cjckck parah keren nya

ahahakk,,kak cat terlalu melebih-lebihkan,,huwahuwhua