Happy Campus: Masalah Idealisme

Di suatu siang yang menyengat di kota Depok dan di suasana ramai kantin sastra FIB UI yang pengap. Dua orang mahasiswi tingkat tiga, tengah serius membicarakan masa depan mereka. Skripsi.

“Gue mau ambil pengutamaan sastra ah. Kyoumi ga aru kara*,” ujar Denna, seorang gadis berjilbab putih, sambil asyik mengaduk Torabika Capuccinonya, lalu menyesapnya. Raut wajahnya terlihat mantap.

“Hmm…gue justru menghindari sastra. Soalnya gue merasa nggak ada yang bisa gue gali lagi dan berikan untuk Indonesia.” Fika, sahabatnya, berkata enteng. Denna terhenyak.

Hmm…gitu ya? Kalau begitu apa ya yang bisa gw sumbangkan?

*Karena aku punya ketertarikan di bidang itu

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer poseidon3104
poseidon3104 at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 16 weeks ago)

sebagai manusia yang pernah merasakan, bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang bisa saia berikan untuk orang lain, ini cukup membuat berpikir ulang dan ber-flashback ke masa-masa itu lol~

intinya cuma perenungan yak?
*digiles*

ciyeee..hohoho..asiknyoo yg udah lulus, wkwkwkw
yah, bisa dibilang begitu :P

Makasih udah mampirrrr;))

Writer suararaa
suararaa at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 19 weeks ago)
60

Saya awalnya ga nangkep apa kaitan antara judul dan isinya.terutama di bagian idealisme..
Tapi setl baca koment2 di atas dan pertnyaan2 serupa,saya baru ngerti..hmm jadi gitu...
Menurt saya,skripsi dg tema apapun psti berkontribusi bg bangsa.dg membuat skripsi,psti nanti akan ad adik2 angkatan yg akan melanjutkan penelitian serupa dg yg lebh maju lagi berdasar skripsi sebelmnya.jdi jngn khawatir skripsi jk skripsi hnyalah alat utk skedar lu2s.aplgi UI kan skripsiny bs didonlot mhsiswa dr univ lain

huhuhuhu, makasih ya kak >.<

Writer 16072003
16072003 at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 20 weeks ago)

assalamu'alaikum salam kenal

Waalaikumsalam, ya..salam kenal jg. Er.. gimana menurutmu ceritanya? hehehe :P

Writer terhable
terhable at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)
80

kakak tabah bener ya dapet komen sebanyak itu masih senyum :) salut deh. Mampir ya kak http://www.kemudian.com/node/253413

hehehe.. ya mencoba tabah,xD. Lagipula aku pun sadar, memang masih banyak kekurangan. Lain kali harus lebih hati-hati lg kalau mau posting, jangan main asal posting tanpa edit :P #belajardarikesalahan. Tunggu aku di lapakmu ya :). Salam kenal^^

Writer cnt_69
cnt_69 at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)
50

ngekor komen yg lain. aku juga belajar banyak nih.

halo kak..hehehe. Silahkan mampir dan belajar di lapak ini. Banyak masukan dari kakak2 senior, hehehe

Writer dewisun
dewisun at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)
100

cuma mau nabur bintang, aku ga mau komen apa2 secara dirimu telah di bantai sama para senpai ( pdhl ga ngerti mau komen apa :P ) devi !! semangat ^_^

Makasih kakak >.<
Sip, semangat! \(^o^)/

Writer Shinichi
Shinichi at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)
50

Hmm... saia coba berkomentar ala saia pribadi.

saia tau cerpen ini dari twitter siy, sempat dirimu kicaukan kan, dev? dan saia membacanya jugak, tapi liwat hape. jadi, belom sempat komentar. secara, saia tergelitik buat koment. lalu, ada yang meminta saia buat mampir dimari. ywd, saia samperin sebelum pergi pagi menjelang siang ini.

sebelumnya, saia melihat cerita2 sangat pendek karya kamu, dev. apa yang saia lihat bukan hanya pada isinya, tetapi komentar yang kamu terima (khususnya berupa kritik dan saran). saia pikir udah cukup banyak, apalagi dalam cerita kali ini, ada rivai yg ngasiy petunjuk, atau saia yg salah baca.

minus, dev. cerita ini, terlepas dari pesan yg ingin kamu sampaikan, sangat jauh "kualitasnya" dari cerita-cerita kamu yg sejenis (cerita yg sangat pendek atau 100 kata seperti dirimu bilang). saia pikir, kritik yang datang buatmu itu, jg reply2mu di tulisan2 serupa, sudah cukup membuatmu mengerti. ahak hak hak. sepertinya saia terlalu yakin awalna :D

misalnya, kalimat pertama dalam paragraf awal ini saja, saia pikir masih terlalu rancu polanya. mendasar, lho. mungkin, cara membaca saia yg salah, tetapi, titik setelah kata "pengap" rasanya gak cocok. belum lagi, kalimat itu sangat klasik digunakan untuk pembuka cerita. "di suatu siang", apa nggak ada lagi yang lebih menarik ketimbang ngomongin deskripsi setting (cuaca)? menurut saia, akan lebih "bernilai" jika dirimu buat.

Siang hari, Depok cukup menyengat. Suasana kantin FIB UI pun pengap.

dengan kalimat seperti itu saja, pembaca pasti mampu berimajinasi sendiri. Depok itu apa siy? nama kota ya? (dengan kata lain kata "kota" di kalimat yg kamu buat bisa dihilangkan kan?), FIB UI itu apa ya? kek nama fakultas? UI kan singkatan Universitas Indonesia. Lalu, penjelasan secara rinci tentang "sastra" cukup pada dialog. toh, dengan dialog itu kan dah ketahuan mereka itu mahasiswa jurusan apa secara rincinya. mendasar lho. show not tell.

seperti yg saia bilang, mungkin pernah atau saia lupa, pada cerita 100 kata, penulis hanya diberikan sedikit ruang untuk berkreasi. 100 kata! sedikit kan? jadi, dalam 100 kata tersebut, penulis harus jeli melihat unsur apa yang harus ia tekankan pada ceritanya. apakah pengkarakteran, setting, narasi, konflik, atau unsur2 ekstrinsik pada karya?

nah, ini pendapat saia : bahwa semua unsur yg barusan saia sebutin di atas, tidak terlalu menguntungkan jika dieksplor pada cerita 100 kata. kenapa? karena sejatinya penulis butuh lebih banyak ruang untuk "mengerjakan" itu. dalam arti, menonjolkan bagian-bagian tadi butuh lebih dari pada 100 kata. nah, makanya saia bilang jeli. jadi unsur apa yang yg cukup menguntungkan jika ingin menulis 100 kata? menurut saia, siy : ending, atau katakanlah sesuatu yang tidak biasa. ending yang gak diduga. tidak terduga ini bukan pada "mewahnya" ide cerita, atau sisi uniknya sebuah konflik. kagak, ah. sesuatu yang tidak disangka pembaca, itu sudah disebut "tak terduga". setelah itu, dirimu tinggal mencari kesan "greget".

jelasnya siy, greget itu dibangun pada kekuatan narasi. tentang bagaimana penulis memilih dan memilah kata2 atau kalimat2 pada ceritanya untuk membuat pembaca "tanpa sadar" berusaha menerka (atau sama sekali gak bisa menerka) bagaimana selanjutnya cerita itu. penulis thriller bilang, penting sekali membuat pembaca terus menebak apa kalimat berikutnya, setelah kalimat yg ia baca :) | lebih lanjut soal narasi, saia pikir sudah diomongin rivai pada komentarna (tentang pilihan kalimat yg tepat).

secara khusus, saia mo ngomongin dialog ini,

"Gue mau ambil pengutamaan sasra ah. Kyoumi ga aru kara*," ujar Denna, seorang gadis berjilbab putih, sambil asyik mengaduk Torabika Capuccionnya, lalu menyesapnya. Raut wajahnya terlihat mantap.

kata seruan "ah" membawa saia pada sebuah kesan, bahwa kalimat yang disertainya itu merupakan sebuah obrolan yg nggak serius. misal, "pergi, ah", "makan, ah", "pengutamaan sastra, ah". kesan ketidakseriusan itu ternyata berbanding terbalik dengan kalimat kalimat ini : "Raut wajahnya terlihat mantap". Saia sulit mengimajinasikan dialog ini. tapi, ini pendapat saia aja kali. ahak hak hak. kata seruan "ah" saia pikir tidak terlalu cocok :)

lalu, kalimat penjelas pada dialog itu disebut kalimat apa ya? bercabang, majemuk, beranak-pinak, yg lain? yang lain? itu terlalu kaku dan cukup boros, menurut saia. kenapa kaku? kalimat tersebut menimbulkan kesan bagi saia, bahwa penulis berusaha keras membuatnya sedemikian rupa. kaku kan? yang begitu gak usah dipaksa. buatlah yang alami, meski itu memang alami buat penulis.

boros dalam arti, mungkin polanya yang nggak menarik. coba penulis posisikan dirinya sebagai pembaca dan meneliti tulisannya ini. bagaimana nafasmu ketika membaca kalimat penjelas ini : Ujar Denna, seorang gadis berjilbab putih, sambil asyik mengaduk Torabika Cappucinonya, lalu menyesapnya.

ringkas saja :

... ujar Denna sambil mengaduk Cappucinonya.

kenapa begitu menurut saia? sebab, kembali ke awal komentar saia yg kayak cerpen ini, kekuatan cerita 100 kata lebih pada endingnya. narasi? sangat sulit. pengkarakteran, apalagi.

ywd. saia pikir saia udah kebanyakan nyerocos disini. mohon maap jika komentar saia kurang berkenan. met mencoba lagi, dev. gimana kalau dirimu berusaha membuat diriku memberikan poin 10 pada 100 kata karyamu, dev? saia penasaran dengan semangatmu yang berapi-api itu, terkait membuat cerita 100 kata. hmmm...

kip nulis


ahak hak hak

Writer lim omekimai
lim omekimai at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 19 weeks ago)

buset dah. ini bisa jadi bahan skripsi. wkwkwk

eheheheheheh,, ka Shin bikin cerpen di komen devy yah?? panjang bener,, hihihihih,, salut aku kak, ampe kata "ah" pun kliatan salah peletakannya,, hihihih MANTAB JAYA!!!

Writer tonie_rev.
tonie_rev. at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)

mana? Mana yang punya komen ni, tanggung jawab.
Semaleman aku ga bisa tdur nahan ktawa,.
Kwakakakakakaka

buat si penulis, maap saya ga tau menau soal cerpen, ni cuma iseng liat juragan komen ginian.

he? cuma pengen liat komen kak Shin? wkwkkw. oke

hehehe. Makasih kak, xD. Waww..bahkan komentar kakak melebihi 100 kataku, wkwkw. Gpp si, hehe. Karena dapet banyak masukan jg, :P. Hmm..bentar kak, "kicaukan" saya berasa burung :)).
sip deh, saya save komennya, buat bahan perenungan, hehe.
Mmmm.. baiklah, membuatmu memberikan 10 poin? hehehe. Coming Soon, halah, wkwk. Yang penting, saya memang masih akan penasaran dengan 100 kata yang baik dan benar, xD.
Makasih udah datang ^^

Tegarkan dirimu, Dev.
Maaf jika kamu harus menanggung luka (kritikan). Maaf, adik.
Namun ini adalah pembelajaran...Buat saya juga :)

Ya kak, tenang saja. Nggak apa-apa, hehe. Pengalaman dan pembelajaran, ^^. Makasih kak, hehe

80

saya datang... saya setuju dengan estehpanas klo ini kerasa banget curahannya, hehhehe dan saya juga setuju dengan bang vai, soal rasa yang "hambar"...
*maaf kalo kurang berkenan
#AyoooNuliisLagi :D

wkwkwk, emang curhat. Nggak apa-apa. Sepertinya mungkin permasalahannya ada pada aku yang ga ngolah lagi idenya. Maksudku aku terlalu mentah-mentah memindahkan percakapanku dengan temanku ini ke dalam 100 kata. Hehe. Makasih Va udah mampir ^^

60

Hmm saya rasanya jauh lebih suka cerpen 100 kata kamu yang sebelumnya (Catatan Tangan Kanan). Cerpen yg ini rasanya apa ya, hambar gitu. Manis nggak, pahit juga nggak. Sebenarnya ada permasalhan yg mau kamu angkat dalam cerita ini, tapi kurang tersampaikan. Dari yg kamu ceritain di chat tadi, masalah yg mungkin ingin disampaikan adalah pertanyaan, "apakah benar ulasan sastra tidak memberikan sumbangsih bagi kepentingan bangsa?"

Ini pertanyaan yg sangat bagus, masalahnya, bagaimana caranya untuk menampilkan pertanyaan itu dalam fiksi 100 kata secara menarik?

Menulis 100 kata memang harus kreatif, kalau perlu utak-atik susunan kalimat dan paragraf sampai ketemu yang pas. Jadi jangan buru-buru.

Kalimat terakhir "Kalau begitu apa ya yang bisa gw sumbangkan?" rasanya terlalu naif. Bagaimana sih membuat tulisan yg menggugah pertanyaan pembaca tanpa membuat kalimat yang seperti soal ujian? Memang sulit, harus dipikirkan dulu masak-masak.

Dan dalam 100 kata, memang kalimatnya harus padat. Hindari semua kalimat basa-basi yang tidak berkontribusi terhadap inti cerita. Paragraf pertama cerita ini malah menurut saya tidak terlalu penting, bisa dihapus, karena soal latar bisa diselipkan dalam dialog secara lebih ringkas. Sisa ruang kosongnya bisa dimanfaatkan untuk menggali lagi pertanyaan kamu soal idealisme itu.

Tapi di balik kekurangan itu, sebenarnya cerpen ini punya ide yang menarik. Bahkan sangat berbobot: tentang peranan sastra asing terhadap kemajuan budaya bangsa Indonesia. Keren nih.

Mm..saya mengerti kak dari penjelasanmu. Sepertinya memang saya yg kurang dalam mengolah idenya ^^. Makasih banyak kakk atas sarannya.

Saya telah mengundang Kak Kudo untuk datang ke lapakmu, Dev. Semoga beliau berkenan hadir :)

oke, makasih kak, xDD. *gugup*

Writer estehpanas
estehpanas at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)
50

hmm, ku pikir isinya lebih mendalam tentang Idealisme...ternyata hanya awalan. cenderung seperti curhatan ku pikir. kenapa dibuat cuman segini? atau punya alasan khusus?

Baiklah, jadi kaitannya antara idealisme dan masalah skripsi itu, awalnya memang curhatan.well..memang curhatan. Idealisme di sini adalah ttg skripsi yang dibuat itu mau jadi skripsi yg kayak gimana. Mau sekedar skripsi (yg penting lulus) atau skripsi yang memang menjadi sebuah penelitian yg bisa jadi sumbangsih buat negara. Idealisme mahasiswa bermain di sana. Itu inti dari percakapan saya dan seorg teman, hehe. Dia sih yg udah inspirasi saya.Makanya diending Denna mikir lg. Meski saya jg ga bilang skripsi tema sastra itu nggak ngasih sumbangsih buat negara,tergantung ngelolanya, xD. Waah, ini kalau saya curhatin agak panjang, hehe. Maap, labil xD. Makasih udah mampir. Maap saya mau permisi buka KBBI dulu >.< *kaburr*

70

Gw ---> gue ??

Menimbang:
1. Saran dari Rivai yang jauh lebih capable (daripada saya) tentang ketidakharusan twist, namun ending yang berkesan,
2. Dian K.dengan pola pembukaan--> konflik--> klimaks--> antiklimaks -->endingnya,
3. Kak Kudo yang meminta unsur 'greget',
5. Selera saya yang selalu mau dipuaskan dengan elemen 'WAH'(dalam setiap tulisan),
maka dengan ini saya menyatakan: SAYA TIDAK BISA KOMENTAR AP-APA.

Mungkin bisa minta contohnya dari salah satu Master di atas, kemudian dipelajari bersama-sama. Seperti apakah itu tulisan 100 kata yang baik dan benar.
Atau mereka bisa diundang kembali ke sini untuk meberikan petuah.
Ok, Dev?

Oke, maaf kalau yang ini tidak memenuhi ekspektasimu. Well, Saya cuma menulis apa yang saya rasakan, pengalaman saya. Maaf sekali lagi ya Kak Burhan :(

Bukan seperti itu, Dev. Saya sadar kalau menulis dalam bentuk seperti ini, diperlukan pengalaman dan 'kemampuan' yang mumpuni. Ini mungkin hanya masalah selera. Jika Master mengatakan "bagus", atau dengan kata lain telah memenuhi sebagian syarat 'tulisan 100 kata yang baik dan benar', maka saya memilih untuk tidak mengedepankan 'selera'. Yang jelas, tulisannya telah memenuhi kategori "baik". Itu saja, hehehe (tidak selamanya enak itu,baik bukan?)hehehe

Siapa lagi yang mau saya undang ke sini ya? *berpikir....*

Hmmm.. iya. Saya masih amatir sekali. Jadi grogi nih kak kalau kau ajak2 master2 yg lainnya. xD. Tp saya harus siap, menguatkan mental, demi..masa depan yg cerah, wkwk. apa deh, heheh.
Aduh aduh aduh.. *lap keringet*

Baik..nampaknya ini saatnya saya menjadi ninja

*wuusssshh

Tenang, Dev. Sepertinya Kak Kudo tidak OL malam ini. Ya..hitung-hitung diberi kesempatan untuk mengebalkan diri, hehehe.

Tenang... saya juga penasaran dengan tipe 100 kata yang baik itu :). Vai pun telah saya chat di YM, dan ternyata dia telah memberimu wangsit :D

Tunggu saja, semoga esok atau lusa, Kak Abc ataupun Rey menyempatkan diri OL. Mereka juga akan kuundang ke sini :D

Semoga pengetahuan kita akan semakin bertambah.

Tenang, Dev. Kuatkan dirimu ya...

Writer bdariey
bdariey at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)
80

Deviii,,aku gak ngerti *kekuatan lemot akan menghukumku

Hadooh, wkwkwk.. ni apa gw-nya mungkin yg emang absurd nyeritainnya, xDD. Maklum, ini agak curcol sebenarnya gw, wkwk. Maap kalo absurd >.<
Sankyu ri udah mampir :)

Writer lavender
lavender at Happy Campus: Masalah Idealisme (9 years 22 weeks ago)
80

awalnya ga mudeng tapi dibaca lagi terus mudeng..
hehehe.. *lemot saya*

Halo kak Lav, makasih udah mampir.
Hehe..takut nih aku jg ngasih cerita yg kayak kemaren lagi, catatan tng kanan, keberadaan malaikatnya tidak terdeteksi, eheheh. :)