Tantang Gambar--Nada-Nada Adam Kadamon

Seorang pria tua buta tengah menggandeng seorang gadis kecil berkuncir dua dan tali kekang yang ujung lainnya melingkari leher seekor anjing penuntun. Mereka berjalan pelan-pelan menuju sudut favorit mereka di taman itu. Sudut itu tersembunyi di balik dinding tinggi berlumut dan berbalut sulur-sulur ivy dan honeysuckle yang tengah berbunga. Namun, bila kau memperhatikan dengan seksama, ada sebuah celah dibalik dedaunan yang membawamu ke surga rahasia yang tampak begitu berbeda. Sudut itu tak terawat, ilalang dan rumput liar tumbuh seenaknya di sela-sela bebatuan dan kaki-kaki reyot satu-satunya bangku panjang di sana. Tak ada seorang pun di sana selain pria tua yang rambutnya mulai beruban itu dan gadis yang menuntunnya ke arah bangku tadi.

Mereka menyukai tempat itu karena sudut itu berada tepat di pinggir danau di belakang taman yang seolah hanya milik mereka. Tak ada orang lain, tak ada keributan yang membayangi nada lembut yang diuntai gemercik air dan kicau burung sayup-sayup. Pria tua itu duduk, mendengarkan nada-nada yang selalu mampu menghibur hatinya itu, sementara si gadis duduk di sebelahnya, memandangi awan-awan oranye yang menaungi langit senja.

“Apa yang kau lihat, Jennifer?” tanya pria tua itu lembut. Satu tangannya masih menggenggam tangan gadis yang ia panggil Jennifer itu, sementara yang satu lagi membelai golden retriever yang telah bertahun-tahun menemaninya.

“Matahari terbenam, Kek!” jawab Jennifer dengan ceria.

“Matahari terbenam, ya… Seperti apa?”

“Semuanya tertutup awan warna oranye dan pink, mirip gulali yang dibelikan Victor kemarin!” ujar Jennifer penuh semangat, “Mataharinya juga oranye, oranye tua seperti isi kue yang biasa kita makan kalau ke China Town dengan Dokter Ling!”

“Ah… Seperti isi kue bulan?”

“Iya! Kue bulan! Tapi sekarang mataharinya tertutup awan…,” gadis itu kedengarannya agak kecewa.

“Tidak apa-apa, Jennifer,” suara renta itu terdengar begitu bijak, “Walau matahari tertutup awan, cahayanya masih nampak, kan?”

“Wah... Kakek benar! Cahayanya masih ada… Seperti hujan emas!”

“…Hujan emas?”

“Iya, Kek. Cahayanya menembus awan seperti hujan emas!”

“Ah…,” pria tua itu mendesah, “Kau tahu, Jennifer? Tepat ketika aku kehilangan penglihatanku, aku melihat hujan emas.”

“Ceritakan, Kek!” ujar Jennifer. Pria itu menceritakan kisah itu pada Jennifer ribuan kali, namun gadis itu tidak pernah bosan mendengarkannya. Bagi pria itu, setiap kali ia bercerita terasa seperti pertama kali. Ia masih mengingat semuanya dengan jelas—hujan emas, cahaya yang membutakan matanya, keagungan yang menyelimuti dirinya yang sekarat… Dan sosok itu… Ia mungkin tak lagi memiliki berkat untuk melihat, namun sosok itu masih terpatri dalam otaknya, dan ia masih bisa melihat potongan itu dengan jelas meski puluhan tahun telah berlalu sejak saat itu… Dan nada-nada itu… Nada-nada yang terdengar semakin tajam di telinganya, apalagi sejak cahaya terakhir meninggalkan kedua matanya… Nada-nada yang mengantarkan sosok itu ke hadapannya… Nada-nada yang belakangan ini semakin sering terngiang dalam hatinya.

“Saat itu ada perang di tanah kelahiranku, Jennifer. Perang yang mengerikan… Aku juga ikut berperang bersama dengan teman-teman prajuritku. Kami sedang naik kapal menuju negara musuh, tapi kapal kami diserang. Kapal kami hancur, tenggelam bersama sebagian besar rekan-rekanku. Segelintir yang selamat lebih memilih mati daripada menanggung luka parah dan terkatung-katung di tengah lautan… Daripada menanggung kekalahan dan pemandangan ombak bercampur darah…

“…Mereka melepaskan pegangannya pada sisa-sisa kayu kapal yang terapung. Aku melihat mereka menggelepar dan mencoba kembali mereguk udara sebelum akhirnya menghilang selamanya dalam lautan.

“Aku bertahan. Kutahan pedih luka-luka dan rasa letihku. Kutahan semua rasa sakit, murka, merana… Kutahan semuanya. Aku mulai kehilangan akal sehat… Yang ada dalam pikiranku hanya jeritan-jeritan prajurit-prajurit lain yang mendahuluiku dan jeritan-jeritanku sendiri… Jeritan-jeritan ketakutan bahwa aku akan berakhir seperti mereka…

“…Dan ketika aku terdampar di daratan, rasa sakit yang telah kutahan mengalahkan ketakutanku. Serpihan-serpihan batu, pancang-pancang kayu, kuhantamkan apapun yang masih bisa kugenggam ke jantungku, karena kala itu aku tahu… Aku mengerti mengapa mereka memilih membiarkan lautan merenggut nafas dan nyawa mereka… Karena luka-luka yang menganga di raga dan jiwa juga melakukan hal yang sama—sama-sama membunuh, hanya lebih pelan dan jauh lebih menyiksa…

“Dan ketika aku merasakan nada-nada kematian berdenging semakin nyaring… Ketika aku merasakan bahwa akhir telah tiba…”

Mata bulat Jennifer melebar penuh antisipasi yang menyenangkan. Ia tidak pernah benar-benar mengerti awal dari kisah pria tua itu, ia tidak pintar seperti Victor, tapi ia tahu bahwa itu bukanlah kisah yang menyenangkan. Tapi kelanjutannya merupakan bagian favoritnya—bagian yang sangat ia sukai, bahkan melebihi bagian di mana putri dan pangeran hidup bahagia selamanya dalam cerita-cerita dongeng Dokter Ling kesayangannya. Bukan hanya kisah itu berlanjut dengan indah, namun juga karena wajah si pria tua yang mengisahkannya tampak begitu tenang dan bahagia ketika mengulang satu bagian itu…

“Aku mendengar nada-nada itu, Jennifer. Setelah berminggu-minggu terlunta-lunta dengan rasa sakit yang menyayat-nyayat, hampir tanpa makanan maupun air setetes pun, seluruh indraku telah mengabur… Aku tidak bisa lagi melihat dengan jelas, mendengar dengan jelas… Namun nada-nada itu terdengar begitu nyata saat itu. Nada paling merdu yang pernah kudengar… Ah… Aku masih bisa mendengar nada-nada itu sampai sekarang…

“Nada itu… Nada-nada dari terompet malaikat-malaikat kecil seperti dirimu yang turun di hadapanku senja itu, bersama dengan cahaya-cahaya yang bahkan tampak bagaikan hujan emas yang mengintip dari awan-awan yang merekah… Persis seperti yang kauceritakan tadi, Jennifer…

“…Bersama nada-nada dan cahaya itu, turunlah sosok paling agung yang pernah menampakkan diri di muka bumi ini… Kulit dan pakaian yang dikenakannya putih bersih, melambangkan kesuciannya. Helai-helai rambut dan bulu-bulu sayapnya yang mengembang bersinar keemasan di bawah mentari senja... Mata birunya menatapku, tampak begitu teduh…

“Dan suaranya… Suara makhluk agung itu bahkan lebih merdu dari nada-nada surgawi yang mengiringi kedatangannya… Kehangatan suara itu menyembuhkan semua luka-luka tubuhku dan luka-luka hatiku, kehangatan suara yang berbisik lembut, membelai telingaku yang hampir tuli…

“Makhluk agung itu berkata padaku bahwa ia akan memberiku hidup, seperti yang ia berikan kepada semua makhluk di muka bumi ini… Ia juga berkata bahwa ia pulalah yang akan menjemputku di akhir hidupku nanti, merangkulku dalam nada-nada dan cahaya yang juga menyelimutinya…

“Aku bertanya kepadanya ia memilihku dan menyembuhkanku. Jawabannya adalah bahwa ia merupakan makhluk suci Adam Kadamon, asal dari segala kehidupan… Dan ia mencintai semua kehidupan bagaikan anak-anaknya yang ia lahirkan murni tanpa dosa… Dan kemanapun anak-anak itu melangkah, ia akan selalu menyertai dan menuntun mereka apapun yang terjadi…”

Jennifer membisikkan nama itu seolah mengucapkan sepatah kalmiat doa.

“…Adam Kadamon.”

“Ya, Adam Kadamon,” lanjut si pria tua, “Itulah nama makhluk agung itu. Setelah menyampaikan itu, ia kembali naik ke atas langit bersama nada-nada merdu dan cahaya-cahaya keemasan yang datang bersamanya… Menghilang bersama cahaya surgawi yang membutakan kedua mataku…

“Tidak ada yang percaya, Jennifer… Orang-orang bilang aku sakit jiwa. Tidak ada yang percaya bahwa aku pernah bertemu dengannya…”

“Aku percaya, Kek… Dan Dokter Ling, Victor, dan semuanya di Sunny Side House. Kami percaya bahwa Kakek pernah bertemu Adam Kadamon!” ujar Jennifer ceria.

Senyum si pria tua makin melebar, “Ya… Hanya kalian yang percaya…Dan aku tidak menyesal telah kehilangan penglihatan, karena aku telah menerima berkat yang jauh lebih besar… Berkat untuk mendengarkan nada-nada suci Adam Kadamon… Aku rela kehilangan semuanya demi bertemu dengannya lagi…

Pria tua itu berhenti berbicara. Matanya yang mati tiba-tiba tampak bernyawa kembali… Nada-nada itu terdengar semakin nyaring dalam ingatannya. Tiba-tiba cahaya menembus dunia gelap yang menyertainya selama puluhan tahun… Tiba-tiba ia bisa melihat senja itu… Tiba-tiba ia bisa melihat hujan cahaya emas yang jatuh dari ufuk barat langit yang berwarna oranye itu…

…Dan tiba-tiba nada para malaikat itu terdengar semakin nyata… Seiring dengan turunnya sosok yang telah lama pria itu rindukan…

Adam Kadamon.

“Aku datang menjemputmu, anakku…”

Pria tua itu memejamkan matanya yang baru saja terbuka kembali setelah sekian lama. Wajahnya tampak begitu tenang, seolah tertidur…

Gelap. Sang mentari telah kembali ke tempat tidurnya dan malam telah menjelang.

Di sela-sela nada-nada surgawi yang makin lama makin memudar, terdengar gonggongan anjing penuntun yang tali kekangnya masih tergantung di antara jemari si pria tua. Gonggongan yang makin lama makin kencang, seolah anjing itu tahu ada yang aneh dengan keadaan tuannya.

“Kakek?” terdengar suara Jennifer yang kebingungan dengan kebisuan pria renta yang duduk di sampingnya.

Dari balik dedaunan yang menyembunyikan celah menuju surga tersembunyi itu, mencullah sesosok wanita muda berambut hitam dan berkacamata yang mengenakan jas putih khas paramedic, “Jennifer? Mr. Kiev?”

“Dokter Ling!” Jennifer melompat turun dari tempat duduknya dan berlari ke arah dokter muda itu, “Ada yang aneh dengan Kakek. Raziel juga terus-terusan menggonggong…”

Wajah oriental Dokter Ling memucat. Ia mendekati si pria tua, jemari lentiknya mencari-cari denyut nadi di leher kurus Mr. Kiev.

“Tadi… Tadi Kakek bercerita tentang Adam Kadamon, lalu…”

“Jennifer?” Dokter Ling berbalik ke arah gadis kecil itu. Tatapannya sayu.

“Iya, Dokter?”

“Mr. Kiev telah bertemu Adam Kadamon.”

Anjing penuntun Mr. Kiev berhenti menyalak. Sayup-sayup terdengar nada-nada surga yang mengiringi kepergian seseorang untuk selamanya.

Read previous post:  
Read next post:  
70

saya bingung, apa yang dilihat si bocah?
matahari terbenam atau matahari tertutup awan?
he, tetap belajar sama-sama.

sila cek milik saya juga di sini

Matahari mau terbenam tapi masih keliatan. Terus matahari yang masih keliatan dikit itu ketutup awan, hhe.
.
Makasih udah mampir~~

80

eh..eh..eh...sunny side up...heuheuheu...moin ajah...

90

kalo nggak salah Adam Kadamon itu malaikat tertinggi yang sayapnya 6 itu?

Yup~~
.
Makasih udah mampir~~

80

Aku moin dulu ya ling. Blkngn ini agak sibuk. Nanti kubaca. Dr idenya si sekls ckp eye catching, jd setor 8 dulu. Kalao keren, nanti kutambah ;D

Writer heinz
heinz at Tantang Gambar--Nada-Nada Adam Kadamon (10 years 45 weeks ago)
80

Ehm, rumah sakit jiwa sunny side up ya? Kapan-kapan kucari ah. Tapi ternyata temanya jauh dari psycho.
*
Btw, nama anjingnya Raziel. Jadi curiga. Jangan-jangan ini jelmaan malaikatnya.
*
Paling hanya ada satu line yang bikin bingung: "...kaki-kaki reyot satu-satunya bangku panjang...."
Ngerti sih maksudnya, cuma sempet stuck sebentar pas nangkep kaki reyot satu. Jadi mungkin aku bakal tulis: kaki-kaki reyot bangku panjang satu-satunya.
Hehe, sori kalo sotoy dan gak penting.

search author-nya di_immortales yah~~~ *dihajar karena ngiklan*
.
*ngakak* Di cerita asli Angel Sanctuary, Raziel tuh anak buah kesayangan malaikat yang jadi inspirasi Mr. Kiev xDD
.
iya juga yah... lebih pas gitu. Makasih~~
.
Makasih udah mampir~~

100

Keren... ^^

Saya baru keingetan lagi sama Sunny Side Up setelah baca cerita ini... XP

Ceplok yah? xDD

Writer cat
cat at Tantang Gambar--Nada-Nada Adam Kadamon (10 years 45 weeks ago)
80

aaa aku subuh
2 hari baca cerita ni .. rasanya agak merinding gimana gitu pas bayangin tuh adam kadamonnya datang ...

hore rieling ikutan tantangan kali ini jugak...

2 hari??? Perasaan saya post baru kemaren. Baca pas tengah malem, ya, kak? xDD
.
Paling nggak Adam Kadamon yang saya munculin yang masih ganteng. aslinya ada versi mayat hidup :p

Writer cat
cat at Tantang Gambar--Nada-Nada Adam Kadamon (10 years 45 weeks ago)

salah ketik .. maaf subuh-subuh hari (wkwkwk itulah suka nyingkat dan kepijit enter jadi subuh 2 hari wkwkwk)

80

waaawwwwwww..