Tak Ada Nada di Udara

Mungkin saja sebuah tangan telah mencuri matahari dari langit tadi, beberapa saat sebelum aku duduk di kursi ini. Bekas sinarnya masih menyeruak kasar di antara mendung. Mungkin saja matahari ditawan dan diseret sedemikian rupa dan sinar-sinar itu adalah darah yang tercecer seperti jika seorang maling dibacok setelah mencuri seekor ayam. Jika dia diseret pun yang tersisa membentuk alur di jalanan hanya darah. Namun bedanya matahari bukan si pencuri itu. Justru dialah yang dicuri.

Aku berusaha tetap tenang, meski sudah jelas jika hari ini senja juga tak akan datang. Aku mencoba berpikir positif, matahari pasti dikembalikan lagi ke tempatnya esok hari. Saat mendung-mendung itu sudah hilang dan hujan yang mengguyur dengan angin-anginan berhenti mempermainkan hati dan masa depanku.

Ah, terlalu lama hidup sendirian pasti membuatku berpikir macam-macam. Aku bisa mendengar ejekan mendung yang seringkali bercanda dengan gerimis yang dibuatnya. Dia bisa saja datang dengan deras dalam satu sapuan, namun hanya bertahan sebentar saja. Tapi dia lebih suka memberiku hujan yang tipis, liris, dan turun sangat lama. Andai saja aku masih menjadi seorang pecinta, aku pasti akan sangat berbahagia dengan hujan seperti itu. Tak ada yang lebih romantis dibandingkan dengan hujan gerimis yang dinikmati dengan seorang kekasih. Pasti akan ada banyak puisi dan ciuman yang tercipta. Dan jika beruntung akan ada percintaan hangat diselimuti jarum-jarum hujan itu. Barangkali di saat-saat seperti itulah, seorang kekasih bisa melakukan apa saja. Termasuk membakar jari manisnya untuk menjadi lilin yang bisa menerangi dan menghangatkan suasana.

Tapi aku bukan seorang pecinta sekarang. Karena itulah, aku lebih suka berdiam diri di pantai ini dan menunggu cerita-cerita. Ya, udara bersuara di sini. Memberi nada-nada berirama merdu namun menyimpan cerita-cerita dari tanah seberang. Kisah-kisah yang seolah memberi kesan padaku bahwa aku tidak hidup seorang diri di dunia ini. Bahwa masih ada banyak orang yang hidup dan berjuang untuk itu, meski tidak memilih mengasingkan diri sepertiku.

Banyak hal yang aku dengar dari angin yang berhembus. Kadang hal-hal yang baik dia ceritakan padaku. Misalnya saja saat kawan-kawanku berhasil merebut gudang senjata yang merupakan aset penting untuk sebuah perjuangan. Aku bisa mendengar teriakan dan dentuman bom berbaur indah dengan nada-nada dari rentetan senjata dan teriakan manusia. Paduan suara surgawi yang tak ayal membuatku terlelap. Dan begitu aku terbangun, air mata akan membasahi mataku. Dan dalam beberapa kejadian, darah akan mengucur dari keningku. Anyir.

Dalam kesempatan lain, saat berita duka yang angin kabarkan. Dia akan menyusun nada-nadanya dengan hati-hati. Irama melankolis dan menyentuh akan diperdengarkan sejalan dengan berita kematian, kekalahan, pembantaian, atau hal-hal miris lainnya. Mungkin itulah yang membuatku tak terlalu berurai air mata saat angin memberitakan kematian orang tuaku. Katanya mereka meledak bersama kota tempat tinggalku dulu. Padahal aku sudah memperingatkan mereka untuk menyingkir. Tapi mereka bersikeras bertahan. Dan karena perihal yang satu ini juga, aku harus berpisah dengan Mi dan mengakhiri takdirku sebagai seorang pecinta.

Karena Mi-lah aku merasa tuhan tak menjadikan dunia ini terlalu indah. Karena Mi-lah cinta itu seperti indera baru yang membuatku bisa berbicara dengan dunia. Sebegitu besarnya cintaku padanya, hingga rasa cinta itu masih berbekas sama dalamnya seperti sebelumnya. Membuatku masih bisa mendengar sekedar suara udara dan teman-temannya. Dan terkadang menitipkan salam kepada Mi lewat angin dan gerimis.

Aku tak pernah menyalahkan Mi yang mengumpatku sebagai seorang pengecut. Aku memang begitu. Karena untuk sekedar menemui orang tuanya saja aku tak berani. Ayahnya yang seorang walikota memberi sugesti ketakutan tersendiri bagiku. Lagipula aku pikir cinta tak membutuhkan pembuktian apapun. Aku tak perlu melakukan apapun untuk dicintai seseorang seperti aku ingin orang lain mencintai diriku yang tak melakukan apa-apa.

Aku mungkin pengecut, tapi Mi juga bodoh. Dia begitu bodoh karena menolak ajakanku untuk pergi dari kota. Padahal orang-orang sipil diperbolehkan mengungsi ke tempat yang aman. Namun begitu bodohnya dia yang menghardikku sebagai pengecut paling hina dan melemparkan cincin yang aku berikan kepadanya ke dahiku begitu kerasnya hingga membuatnya bengkak. Bekasnya masih tersisa sampai sekarang. Dan bekas luka itu kembali terbuka ketika kabar-kabar butuk menderaku dan membawaku tidur. Mi memilih bertahan dengan orang dewasa dan beberapa pemuda. Pejuang juga membutuhkan perawat, katanya tapi aku tidak peduli. Aku telanjur kecewa.

Ah, andai saja Mi tahu kalau aku tak sepengecut itu. Buktinya aku juga bisa berjuang dan bertahan. Karena ketika rombongan pengungsian bergerak dan diserang, aku juga bisa memperlihatkan keberanianku dalam membunuh musuh. Memang sebagian besar pengungsi mati, sementara yang selamat berpencar. Namun sekali lagi aku memperlihatkan keberanianku dengan berenang ke pulau ini walau hanya dengan menggunakan sebuah papan.

Meski saat di rombongan pengungsian aku tahu jika sebuah serangan besar-besaran telah dilakukan ke kota hingga menewaskan semua orang, namun angin menghiburku dengan memberikan berita kematian satu demi satu, orang per orang, berbaur dengan kisah-kisah kemenangan masa lalu. Tak ada lebih dari sebuah berita kematian yang aku dengar dalam sehari. Dan aku merasa beruntung karena hingga saat ini, aku belum mendengar berita apapun mengenai Mi.

Angin sama sekali tak bertiup dan nada-nada juga tak terbentuk. Aku melihat ke rerumputan, barangkali angin menitipkan sesuatu pada mereka. Namun mereka sama sekali tak bergerak. Diam dalam kesunyian. Aku kira jika seseorang memotret kami dari belakang sekarang, maka dia akan mendapatkan karya seni yang indah dan proporsial. Tidak seperti perang. Karena perang adalah sebuah karya seni yang berlebihan.

Terdengar suara geraman halus. Ah, hampir saja aku lupa. Seekor anjing telah mengikutiku dari tadi dan kini telah duduk di sebelahku. Aku heran, beberapa hari berkeliling pulau dan hanya bertemu tikus atau ular atau kucing, atau binatang kecil lainnya, baru hari ini aku bertemu dengan anjing. Aku bertemu dengannya sedang mencangkung di balik semak di samping tenda yang aku dirikan sejak aku tinggal di sini. Mungkin masih banyak yang lain di sisi pulau yang belum aku kunjungi.

Sebenarnya aku ingin menunjukkan kepada anjing ini cahaya senja yang keemasan dan nada-nada yang terdengar dari angin yang berhembus. Namun aku menyesal, matahari telah tercuri dan angin tak juga berhembus. Semua batal sore ini, padahal mungkin saja hari ini adalah hari terakhir bagi anjing itu menikmati hidupnya. Aku telanjur mencintai anjing itu sebagai temanku.

Namun sekarang aku lebih mencintai kelangsungan hidupku dari pada temanku, cintaku, duniaku, bahkan Mi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer humerus
humerus at Tak Ada Nada di Udara (9 years 51 weeks ago)
80

Entah nasib atau memang lagi model. Bung, AKu rasa ini harusnya bisa lebih bagus kalau jadi puisi.

tolong kritik dan saran yang membangun pada cerpen pertama saya yang juga diangkat dari puisi saya. http://www.kemudian.com/node/25361

Writer cloudiath
cloudiath at Tak Ada Nada di Udara (9 years 51 weeks ago)

wah, gitu ya.
trims ya...
tapi, link-nya kok gak aktip ya???

Writer aimie keiko
aimie keiko at Tak Ada Nada di Udara (9 years 51 weeks ago)
80

bahasa yang memikat :) suka!

Writer dewisun
dewisun at Tak Ada Nada di Udara (9 years 51 weeks ago)
90

wow...berat euy.....judulnya tak ada nada, endingnya mengisahkan sebuah nada : kehidupan ^_^

dadun at Tak Ada Nada di Udara (10 years 6 hours ago)
80

gaya bahasanya berat dan kuat. memikat. perumpamaan sebuah tangan mengambil matahari itu unyuh *halah istilahnya* ckck

Writer cloudiath
cloudiath at Tak Ada Nada di Udara (9 years 51 weeks ago)

halah, unyuh. apaan tuh??

Writer fachrunnisa eva
fachrunnisa eva at Tak Ada Nada di Udara (10 years 15 hours ago)
70

saya sependapat dengan kak lav,, heheheh lam knl

Writer petaktujuh
petaktujuh at Tak Ada Nada di Udara (10 years 19 hours ago)
90

salam kenal

Writer anggra_t
anggra_t at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)
80

Wow. Boleh juga. Tentang perang ya? Bahasanya keren :D

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)
80

wow, tentang perang? tema yang lain lagi ^^
idem dengan mba Lav, bahasanya tinggi :D
ada typo pada penulisan Tuhan - memakai huruf kapital ^^

Writer septy
septy at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)
90

ceritanya bagus, kak ^^
aku suka.
hehehe

Writer lavender
lavender at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)
80

Bahasanya tinggiiii

Writer seablue
seablue at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)
80

Aku suka sekali dengan deskripsinya. Apalagi yang bagian matahari.. Tak pernah terpikirkan sampai sejauh itu pengandaiannya..

Writer cloudiath
cloudiath at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)
100

point pol dulu (halah)
wah, lagi gaptek ni.
kode yang aku masukin ternyata gak bener.
gambarnya gak bisa masuk.
tolong dibantuin.

Writer nixyan
nixyan at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)

udah dibahas sama shinichi to..

Writer cloudiath
cloudiath at Tak Ada Nada di Udara (10 years 1 day ago)

iyakah?
dimana?
kasih link-nya donk