Tantangan Gambar: Alunan Nada-Nada Ceria

Lagi-lagi aku melihat jam tanganku, pukul lima belas pas dan kemacetan di simpang jalan ini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Dengan gelisah aku menyandarkan tubuhku di jok tua sedan Datsun ini, jemariku menghentak-hentak di setir mengikuti irama musik yang mengalun dari radio bobrok yang tertempel di dashboard. Perjalanan menuju pantai masih sangat jauh.

Masih terukir jelas dalam ingatanku ketika pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMU, lalu wali kelas memperkenalkanmu sebagai murid pindahan yang baru masuk. Pemuda kurus yang berkacamata, pasti kutu buku, itulah kesan pertamaku terhadapmu.

Para guru bilang kau terlahir dengan fisik yang lemah, maka kau lebih memilih untuk pergi ke perpustakaan dari pada bermain bola atau basket seperti anak laki-laki lainnya saat jam istirahat. Walaupun aku seorang perempuan, tapi aku masih lebih suka melakukan kegiatan olahraga ketimbang cuma duduk-duduk diam saja. Lelaki lemah, begitu pikirku saat melihatmu.

Kemudian pada suatu hari aku terlambat datang ke sekolah, maka pada jam istirahat guru menghukumku untuk membereskan buku di perpustakaan. Dan betapa terkejutnya aku ketika tahu yang dimaksud ‘membereskan’ berarti mengurutkan buku sesuai kategori dan alphabet, berbagai sumpah-serapah hampir meluncur keluar dari mulutku. Jauh dalam lubuk hati aku mengutuk guru itu.

Jam pelajaran berikutnya kosong karena rapat guru, sementara teman-temanku pulang, aku terjebak di perpustakaan, masih ‘membereskan’ buku. Saat itulah kau datang menghampiriku hanya untuk mengkritik hasil kerjaku, kau bilang bahwa novel Triffid seharusnya berada di kategori ‘Sci-Fi’ dan bukan ‘Fantasy’. Tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata kekesalan yang kurasakan saat itu, saat dikritik oleh lelaki lemah, kurus, kutu buku, rabun, dan sok tahu sepertimu.

Setelah beberapa saat kau pun kembali lagi, lagi-lagi kau protes tentang mengapa Kamus Besar Bahasa Indonesia terjatuh dekat rak yang bertuliskan ‘Biologi’. Ingin sekali kujawab, kalau barusan aku mencoba membunuhmu dengan melempar kamus tebal itu. Tapi kuurungkan niat itu.

Suara klakson yang semakin keras bersahut-sahutan menyadarkanku dari lamunan, aku pun melepas rem tangan dan mulai menjalankan mobilku. Setelah persimpangan itu jalanan ternyata cukup lancar walau tidak lama, karena setelah sekitar lima ratus meter mobilku kembali terjebak di persimpangan lain. Dengan frustasi aku membenturkan kepalaku ke setir dan tanpa sengaja membunyikan klakson.

Kembali pikiranku menerawang.

Hampir setahun sejak pertama kali aku mengenalmu. Setelah tidak terhitung lagi aku terlambat dan mendapat hukuman yang sama di perpustakaan, aku pun mulai terbiasa dengan kehadiranmu, begitu juga dengan dirimu. Entah sejak kapan kita berdua mulai akrab, berkali-kali aku mencoba untuk mengingat-ingat tentang hal yang mendekatkan kita berdua, namun terus gagal.

Sejak duduk di kelas tiga, kita berdua selalu pergi ke perpustakaan saat jam istirahat dan jam pulang sekolah. Pada jam pulang sekolah kau selalu membantuku ‘membereskan’ buku-buku itu, agar keesokan harinya kalau aku terlambat hukumanku tidak terlalu berat.

Semua teman-temanku menganggap kalau kita berpacaran, tapi tidak pernah ada pengakuan resmi dariku maupun dirimu. Entahlah, kita saling merasa nyaman ketika kita bersama, walaupun tak pernah terucap kata-kata cinta di antara kita.

Kau yang selalu menyemangatiku ketika aku sedang muram, kau juga yang menghiburku ketika aku sedih. Kau selalu siulkan nada-nada ceria melalui bibir tipismu. Yang bisa kulakukan untukmu hanyalah satu, melindungimu dari apapun yang ingin melukaimu.

Walaupun aku wanita, tapi sejak duduk di bangku SMP aku sudah terkenal galak. Di SMU, selain galak aku pun pemegang sabuk hitam Karate dan juara tiga kejuaraan nasional tingkat propinsi. Itulah mengapa aku sangat yakin dapat melindungimu, teman-temanku yang selalu mengganggumu pun saat itu menjadi lebih ramah terhadapmu.

Ketika mendekati masa-masa akhir SMU kondisi tubuhmu semakin melemah. Walaupun kau tidak pernah membicarakan tentang kodisi tubuhmu padaku, tapi aku dapat melihat kalau kesehatanmu semakin menurun. Ironis, aku adalah orang yang paling dekat denganmu di sekolah, tapi kelihatannya para guru lebih mengetahui soal kondisi kesehatanmu daripada aku. Kau pun selalu menghindar saat aku bertanya soal kondisimu, kau memaksakan senyum seolah tak pernah terjadi apa-apa, lalu mulai bersiul melantunkan nada-nada ceria itu lagi.

Pada hari setelah kelulusan kau mengajakku pergi ke pantai, kita berdua menghabiskan waktu menyaksikan terbenamnya matahari. Saat itu kau berkata padaku, kalau setelah ini kau akan pergi ke luar negeri untuk kuliah dan menjalani pengobatan. Jujur saja, ketika itu aku merasa sangat bersalah, di satu sisi aku benar-benar tak ingin kehilanganmu, tapi di sisi lain aku juga ingin kalau kau bisa membaik.

Di sore itu aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, tapi aku gagal dengan sangat menyedihkan. Aku pernah merasakan dibanting, dipukul, dan ditendang, tapi rasa kehilangan lebih menyakitkan dari itu semua. Lagi-lagi kau bersiul dan melantunkan nada-nada ceria itu untuk menghiburku, aku pun berusaha memaksakan senyum untukmu.

Kusandarkan kepalaku di bahumu sampai saat sang mentari benar-benar menghilang dari batas cakrawala, ketika itu kurasakan hangatnya bibir tipismu di keningku. Saat itu aku berharap sang waktu akan berhenti berputar, dan saat ini akan tetap seperti ini selamanya. Tapi kutahu saat ini tak akan berlangsung selamanya, dan ketika aku memikirkan hal itu mendadak dadaku terasa hampa.

Apa kau juga merasakan sakit yang kurasakan? Ataukah rasa sakit yang kurasakan memang terpancar darimu? Saat ini aku benar-benar merasa lemah dan tidak berguna, seharusnya aku dapat menghiburmu seperti saat kau menghiburku di kala aku sedih.

Kau selalu baik padaku, kau terlalu baik untukku. Maafkan keegoisanku. Air mata yang sudah susah-payah kubendung kembali untuk menjebol pertahananku, tapi saat itu kau membiarkanku untuk menangis.

Aku akan benar-benar merindukan nada-nada ceria itu.

Aku kembali melihat jam tanganku, sudah pukul enam belas lewat lima belas menit. Lalu-lintas saat ini padat-merayap karena beberapa ruas jalan masih tergenang air akibat hujan yang mengguyur kota ini dari pagi. Rasa frustasi membuatku ingin sekali berteriak mengutuk pemda yang tidak becus mengurus tata-kota, juga jumlah pengguna mobil pribadi yang terus bertambah.

Hari ini adalah hari yang kau janjikan, tepat lima tahun setelah hari terakhir kita bersama di pantai itu. Aku cukup terkejut ketika seminggu yang lalu, sebuah surat untukku tiba di rumah orangtuaku, ternyata itu surat darimu. Kau tulis di surat itu kalau kau akan pulang, dan kau akan menungguku di tempat terakhir kita berpisah. Kau akan ada di sana pada tanggal dan bulan yang sama, pada pukul empat belas.

Bodohnya aku, harusnya aku tidak meremehkan kondisi lalu-lintas di kota ini. Seharusnya aku berangkat dari pagi dan menunggumu di sana, di pantai itu. Sudah lewat dua jam dari waktu yang dijanjikan, tapi entah mengapa aku masih tetap ingin menuju ke pantai itu, walaupun mungkin kau sudah tidak lagi berada di sana.

Air mataku tak terasa mengalir.

Kalau kau masih berada di sana dan menungguku, kumohon pulanglah, sungguh aku tidak tega membayangkan tubuh kecilmu yang lemah terus menungguku di tengah dinginnya angin pantai pada musim hujan.

Akhirnya aku pun tiba di pantai, lahan parkir ini terlihat sepi karena hampir seharian turun hujan. Aku pun mengambil sebuah cermin, lalu menghapus jejak-jejak air mata dan merapikan dandananku. Saat akan mematikan mesin mobil, tiba-tiba aku mendengar siulan dengan nada-nada ceria itu dari radio. Ah iya, sejak beberapa tahun lalu aku mulai mencari tahu nada-nada ceria yang selalu kau siulkan itu, nada itu adalah intro lagu Bobby McFerrin yang berjudul Don’t Worry, Be Happy.

Aku pun mulai berjalan menuju pantai berbatu itu. Sang mentari terhalang oleh awan mendung yang menggelantung manja di langit, namun sedikit sinarnya tampak lolos dari sela-sela awan itu. Seorang pria berbalut jaket kulit berwarna hitam tampak sedang duduk di bangku panjang tempat kita dulu. Awalnya aku ragu untuk mendekatinya, karena ada seekor anjing yang sedang duduk di sebelahnya, dan dari dulu aku selalu takut anjing.

Aku merasa tidak mungkin kalau pria itu adalah kau, karena tidak mungkin kau kau kuat menungguku dalam balutan udara sedingin ini. Aku berbalik dan hendak melangkahkan kakiku pergi, saat itu samar-samar aku mendengar siulan nada-nada ceria itu lagi. Aku pun menoleh ke arah pria itu, pria itu terus-menerus bersiul dengan gayanya yang khas. Ketika itulah aku sadar bahwa pria itu adalah kau.

Air mataku menetes lagi, tak kusangka kalau kau masih menungguku sampai saat ini. Tanpa memperdulikan rasa takutku akan anjing, aku berlari menuju dirimu yang sedang duduk di sana.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer heinz
heinz at Tantangan Gambar: Alunan Nada-Nada Ceria (10 years 36 weeks ago)
80

Karena deket jadi suka. Tapi dasarnya tetep saja beda. Mungkin ada bagusnya alasan dan latar tentang ini lebih diperkuat. Mungkin bisa dihubung-hubungkan dengan kejadian pantai. Karena sepertinya kejadian pantai itu cukup 'fenomenal' tapi hanya disinggung pas akhirnya doang.

But still i feel warm.

Bener juga sih, Om... Saya mati kalau bikin setting dan nyelipin narasi deskripsi dalam cerpen, terlalu kebiasaan bikin yang panjang2... XD

Makasih masukannya, Om. Saya akan belajar bikin cerpen roman lagi.

Makasih juga dah mampir... ^^

50

dilihat dari komen-komen sebelumnya ini debut pertama buat romance ya? Haha, bagus banget lho, aku suka. Walaupun temanya sederhana tapi nggak bikin bosen.
Makasih ya udah memberi saran di cerpen untitled, dilihat dr komputerpun cerpen itu emang paragrafnya nyambung -_- masih pemula jadi ga tau gimana cara bikin pragraf 'normal'
Btw, POV apaan ya kak? Maaf masih baru juga nih di dunia tulis menulis jadi ga ngerti :p

Wah, makasih dah mampir... ^^

Iya, ini debut pertama bikin romance... ^^

Kalau untuk paragraf, diberi satu ruang kosong dengan Enter saja, jadi setelah selesai satu paragraf tekan tombol Enter dua kali (biasanya cuma sekali kan?).

POV itu kependekan dari Point Of View atau Sudut Pandang. POV ada 3,
POV1 tokoh utama dalam cerita digambarkan dengan kata 'aku' atau 'saya'.
POV2 digambarkan dengan kata 'kau' atau 'kamu'.
POV3 digambarkan dengan kata 'dia'.

Moga2 bisa membantu dan tidak terkesan menggurui... ^^

70

asoyy dahh

Tengkyu dah mampir... ^^

90

wah, baru tahu saya kalau Bang Zoel bisa bikin roman juga.. keren, Bang >_<

bener-bener heartwarming >_<

Haha... Makasih Ao, padahal awalnya ga yakin... ^^
*makin berbunga-bunga*

Hanya sekedar belajar dan bereksperimen, biar cerita yang kutulis ga terlalu monoton... XD

100

hiyaaaa....keren ^_^

Makasih dah baca, Tsuki... ^^

80

Suka~~ Ternyata Kak Zoel bakat romance juga :p. Ceritanya 'normal', tapi saya suka POV sama endingnya. Ada beberapa bagian yang kurang pas, mungkin karena belum biasa, yah? (saya juga sering ngalemin xDD). Bagus kok~~

Ries mampir juga, makasih... XD

Haha... agak berlebihan kalau dibilang berbakat. *berbunga-bunga*

Hoo... bagian yang kurang pasnya di mana?

100

cerita yg manis...
Salam Senja

Makasih dah baca, salam juga Senja... ^^

90

Aaaaaah, manis sekali ceritanya >.<
Halo kak Zoel, maaf aku baru mampir hehe :P
Aku sukaaaaaaaa >.<
Hemmm,ceritanya simple, begitu jg endingnya. Tadinya aku pikir bakal gimana gitu, tp gpp kok, hehe. A Simple and warm story :).

Waa... Makasih dah mampir Dev... ^^

Iya nih simpel, habis baru nyoba nulis roman sih... XP

80

heuheu,,saya ga tau komen apa2...yg jelas,,kamu berhasil bikin roman tanpa embel2 fantasy atau horor atau misteri :p

Hoho... Makasih Om... ^^

Mungkin saya termasuk penulis yang fleksibel... *ngarep.net XP*

80

i like this story

Wah, makasih dah mampir Om... ^^

80

wah, kak Zoel ikut juga ^^
manis :)

Iya, mau coba nulis cerita roman... XD

Makasih dah baca Kumiiko_chan... ^^

90

Woaaaahhhhhh bener-bener deh om Zoel hebat! Sundul tante cat, endingnya bagus...
.
Btw, setau saia yang benar itu "frustrasi", bukan "frustasi". Dan yang terasa aneh (masalah selera haha) adalah si cowok... ah mengapa terlalu stereotip cupu? Saia sering kesel melihat stereotyping seperti ini ahahah

'Frustrasi'-nya honest mistakes, bener2 ga tau... XP

dan stereotipe-nya, hmm... jujur saya juga bingung kepengaruh apaan... XD

Makasih dah mampir Om... ^^

80

Wehehe... Ternyata Ka Zul bisa bikin beginian juga toh? Mantap Ka, sy suka~
.
Suka alur maju-mundurna, rasana ditaro di t4 yg pas!
Suka gaya penceritaanna, bikin karakter "aku" jadi hidup!
.
Hehe.. Sepertina Ka Zul berbakat jg bikin cerita cinta yg sederhana gini ;)

Ahahah... *blush* masasih? Tadinya ga pede bikin roman, takut fail... XP

Makasih dah baca, Gie... ^^

Writer cat
cat at Tantangan Gambar: Alunan Nada-Nada Ceria (10 years 38 weeks ago)
80

eniway aku suka endingnya he5 ..

selamat bergabung dalam cerita tantangan ..

horeee ..

aku agak sibuk jd susah ngelist ...

ada yg mau bantu diriku ngelist jumlah cerita tantangan??

Haha... Makasih tante Cat... ^^

Duh maaf tante, keadaan saya juga sama, kerjaan numpuk dan deadline mepet semua nih... Ini saja sampai minjem modem temen, habis ga sempat2 ke warnet... ^^'
*bows*