Quête Pour Le Château de Phantasm - Episode 11

Le Château de Phantasm, carilah gadis yang kalian cari. Dia adalah kuncinya. Carilah terang yang abadi, ia pun kuncinya. Hatimu adalah petamu. Nuranimu adalah kompasmu. Bersatulah, maka kalian akan menemukannya. Ujung barat timur utara dan selatan menjadi angkamu.

Sejak pertemuan dengan kuartet roh kebijaksanaan, rangkaian kalimat itu tanpa henti menggelitik benak Edgar.

Pastilah maksudnya Wendy. Tapi selanjutnya apa lagi? Apa hubungannya arah mata angin dengan angka?

Di satu sisi seolah menawarkan jalan keluar. Tapi di sisi lain, penuh teka-teki dan begitu sulit dipahami. Tapi yang pasti, kalimat itu sukses membuat Edgar terjaga di tengah malam. Selanjutnya tidaklah mudah untuk kembali terlelap.

“GROOOOOOK!!!”

Sambil mengutuk kesal, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri tepian sungai yang melintasi hutan seribu pinus, yang terletak tak jauh dari lokasi peristirahatannya. Gemerciknya memang tenang. Tapi tidak bisa mengusir kegalauan yang menyesaki seisi kepala Edgar.

Ya, jikalau hanya Wendy, itu sih mudah saja. Tapi masalahnya, sosok si babon keparat itu juga turut terbayang. Si babon yang aura esnya masih terasa merasuk hingga inti tulang. Si babon yang mengejeknya “bukan siapa-siapa”. Si babon yang tidak cukup dihabisi hanya dengan memenggal kepala atau menusuk jantung, tapi harus terlebih dulu direbus mendidih, diparut, ditaburi garam, dijemur, dipanggang…

Direbus lagi, diparut lagi, ditaburi garam lagi, dijemur lagi, dipanggang lagi…

“Haaaaahhhhh~~~,” Edgar mendesah panjang sambil melemparkan batu-batu kecil ke sungai.

Namun sayang, kenyataannya, ia memang bukanlah siapa-siapa di hadapan si babon keparat itu. Peristiwa memalukan di pasar Porte Nord yang tidak akan pernah terlupakan. Hanya separuh jalan merapal mantera, lidahnya sudah kelu. Benar-benar tak berkutik.

“Haaaaahhhhh~~~”

Tapi masa lalu biarlah berlalu. Masa kinilah yang penting. Dan yang lebih penting lagi, siapa yang akan tertawa paling akhir nanti. Si babon itu melakukan kesalahan terbesar karena membiarkannya tetap hidup. Sesuatu yang akan disesali seumur hidup karena memberinya kesempatan membalas dendam seribu kali lipat.

Direbus, diparut, ditaburi garam, dijemur, dipanggang…

Tema utamanya adalah adu domba. Karena selalu ada langit di atas langit. Lagipula dengan begitu, tidak perlu sampai mengotori tangan sendiri untuk menghajar si babon brengsek itu. Brilian, bukan? Siapa bilang setiap masalah harus diselesaikan dengan adu tenaga? Ilmu pengetahuan adalah kunci kemenangan alam semesta.

Tapi masalahnya bagaimana cara menemukan langit yang lebih tinggi atau minimal setara itu?

Edgar berjalan menghampiri tepian sungai. Sebegitu jernih airnya, sehingga meski cahaya obor remang, namun Edgar bisa melihat dasarnya yang dangkal. Namun tentu saja yang kini menarik perhatian Edgar bukanlah kejernihan air atau batu-batuan yang tergeletak di dasar sungai.

Hm, rasanya semakin hari aku semakin rupawan saja.

Edgar berjongkok untuk mengagumi keindahan parasnya lebih jelas. Tanpa henti ia menebar senyum sambil mengusapi wajah sendiri. Namun tiba-tiba saja ia terkejut.

Eh, apa ini?!

“KYAAAAAA!”

“KYAAAAAA!”

Edgar pun terkejut untuk kedua kalinya. Ada satu teriakan lain dari balik punggungnya. Jelas bukan gema dan jelas pula bukan suaranya. Setelah sejenak mengatur rambut hitam panjangnya agar menutup sebagian wajah, barulah ia mengangkat obor dan menoleh ke belakang.

Sepintas tidak terlihat siapapun di sana. Tapi ditelisik lebih lanjut, ia menemukan satu jejak. Tapi di mana gerangan sang pemilik jejak? Ternyata jauh di belakang, ia melihat satu sosok yang sedang bersembunyi di balik pohon. Edgar mendengus dan cukup dari baunya saja, ia sudah tahu siapa sang penguntit itu.

“Hei, Sion, keluarlah,” tegur Edgar. “Mengagetkan saja.”

Sion tersentak saat menyadari persembunyiannya terlacak. Padahal siapapun bisa tahu karena batang pinus yang dipilihnya itu terlalu ramping dan tidak cukup menampung seluruh tubuhnya. Hati-hati kepalanya melongok, menatap Edgar. Lalu sekonyong-konyong ia menghunus katananya.

“Se-se-setan sungai yang jahat,” Sion berkata gemetar. “Pe-pe-pergilah kau!”

“Setan sungai?” Edgar menggumam bingung.

“Ja-ja-ja-jangan ganggu dan rasuki raga sahabatku…”

Edgar menarik nafas panjang gusar. Sejenak kepalanya menggeleng-geleng. Lalu tanpa membidik lagi, ia melemparkan senjata andalannya.

BRUK!

“Aduuuuuh,” erang Sion yang terkapar dengan buku raksasa yang masih menindih wajah.

“Sudah selesai mimpinya?” hardik Edgar sambil memungut lalu membersihkan bukunya. “Aku ini terlalu cantik dan terhormat untuk dirasuki setan rendahan macam setan sungai, kau tahu itu?”

“Aduuuuuh…”

“Atau apakah ini kebiasaan barumu sejak bermata satu?” Edgar lanjut mencecar. “Menguntit orang cantik malam-malam?”

Perlahan Sion bangkit berdiri sambil tetap merintih dan memegangi dahi benjolnya. “Bukan begitu,” lirihnya. “Tadi aku melihat satu sosok hitam misterius melompat-lompat di atas pohon.”

Edgar memutar kedua bola matanya. “Setan pohon, eh?”

“Aku serius,” nada Sion menekan lebih dalam. “Diam-diam aku mengikutinya dan sepertinya ia tidak sendiri. Ada sesuatu yang menyala redup dalam genggaman tangannya. Seseorang.”

Seketika Edgar terkesiap. “Wendy?!”

“Kukira juga begitu.”

Edgar menggosok-gosok dahinya sementara kedua alisnya berkerut tajam. Tidak, ini terlalu cepat. Tidak. Aku belum bersiap.

“Edgar, kau…,” ucap Sion sambil menunjuk separuh wajah Edgar yang tanpa sengaja tersingkap. “Pipimu kenapa?”

“Jangan banyak bicara!” jerit Edgar sambil panik menata ulang rambutnya agar menutupi separuh wajah. “Cepat bangunkan si monyet bulukan! Kita harus segera mengadakan rapat darurat!”

Sion langsung berlari pergi terbirit-birit. Tak lama kemudian ia pun kembali sambil menuntun Eik yang berjalan dengan kedua mata tertutup rapat. Edgar segera merapal mantera Poseidon. Air entah dari mana langsung mengguyur dari atas kepala Eik.

“Puih,” Eik terbatuk-batuk. “Hujan apa ini? Asin!”

“Jangan banyak ribut, ini serius,” hardik Edgar. “Ini tentang Wendy.”

Eik terhenyak diam. Dengan dua mata yang kini terbuka lebar, ia duduk bersila rapi.

“Nah,” Edgar menoleh pada Sion. “Jadi ke arah mana setan pohon itu pergi?”

“Selatan,” jawab Sion. “Tapi aku yakin, ia bukanlah setan pohon…”

“Apa?” Eik merinding. “Se-se-setan pohon?”

“Aku juga tahu. Memang bukan setan pohon,” potong Edgar. “Tapi kita namai saja begitu. Yang pasti, bukan Alcyon ‘kan?”

Sion langsung menggeleng. “Aku tidak melihat pedang aneh tersampir di pinggangnya. Wajahnya pucat. Rambutnya perak mengkilat. Dan juga berkacamata.”

Eik menghela nafas selega-leganya. “Ya, ya, mana ada setan berkacamata?”

Edgar menoleh Eik dan memelototinya tajam seperti hendak mencungkil keluar kedua biji matanya.

“Maaf, maaf,” ucap Eik ngeri. “Aku diam, aku diam.”

Edgar mengatur nafas sejenak. “Waktu kita mendesak. Oleh karena itu, dengarkan aku baik-baik,” tuturnya. “Sebagaimana kita tahu, Alcyon juga sedang berkeliaran di daerah ini. Dan kita juga tahu benar seperti apa kesaktian si babon putih itu. Jadi perkiraanku, cepat atau lambat ia pasti akan berpapasan dengan si setan pohon itu.”

“Wah, perhitungan yang sungguh hebat,” Sion berbinar-binar. “Pastilah persis seperti skenario adu domba yang kaurencanakan itu.”

“Lalu siapa yang menjadi bagianku?” Eik melonjak penuh semangat. “Kedua lenganku sudah sangat gatal. Alcyon tidak masalah. Aku sudah belajar dari kekalahanku yang lalu. Kali ini, kujamin aku tidak akan kalah sememalukan waktu itu. Si setan pohon pun tidak masalah, asalkan ia cukup tangguh.”

“Kepercayaan diri yang sungguh luar biasa, sahabatku,” Sion terbahak sambil menepuk-nepuk bahu Eik. “Tenanglah, kali ini aku tidak akan gemetar lagi. Aku pasti akan membantumu karena bersatu kita teguh….”

“Bercerai kita ke penghulu.”

Dua sahabat itu tidak sempat tertawa gila karena sepasang mata lebih dulu membelakak sangat lebar, memancarkan hawa pembunuh. Selanjutnya adalah dua timpukan keras sambil diiringi bentakan menggelegar, “Tutup mulut! Atau perlu kupanggil Hephaestus untuk menempa rapat bibir kalian?!”

Seketika Eik dan Sion tertunduk membisu. Sejenak Edgar mendengus gusar sebelum lanjut berkata-kata, “Situasi kritis ini datang terlalu cepat. Sementara segalanya masih belum jelas. Aku tidak tahu seberapa sakti si setan pohon. Jikalau ia bisa mengimbangi Alcyon, itu bagus. Kita bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi jika tidak, itu gawat. Dan intuisiku mengatakan si setan pohon bukan tandingan Alcyon.”

“Oleh karena itu, masih terlalu dini untuk menerapkan adu domba. Aku belum tahu siapa saja pihak yang terlibat dalam hal Wendy dan Chateau de Phantasm-nya. Aku juga belum tahu pemetaan kekuatan mereka.”

“Jadi,” sela Eik. “Tidak ada cara selain menghadang mereka langsung, begitu?”

Satu timpukan mendarat lagi telak di wajah Eik.

“Sadarlah, saat ini, otot bukanlah kawan terbaik kita,” tegas Edgar. “Tapi bersyukurlah, ada aku di sini yang masih mempunyai otak.”

Sion tertawa-tawa sambil bertepuk tangan sementara Eik meringis sambil mengusapi pipi kanannya.

“Ada apa?” Sion berhenti tertawa saat menyadari raut wajah Edgar yang kusut.

“Karena sejujurnya otak saja juga tidak cukup,” desah Edgar sambil menggigit bibir bawahnya. “Kita juga butuh keberpihakan takdir.”

“Takdir?” Sion bertanya lebih lanjut. “Apa maksudmu?”

Edgar menolak menjelaskan dan segera mengalihkan pembicaraan. “Yang pasti, inilah rencana kita. Kita akan menciptakan situasi chaos.”

Chaos?” Sion dan Eik menggumam nyaris bersamaan.

Edgar mengangguk mantap. “Kita akan mengerahkan segala kemampuan untuk menciptakan kekacauan. Sekali lagi, kekacauan adalah fokus utamanya. Pembebasan atau penaklukan adalah urusan belakangan. Jadi, Eik, tugasmu adalah membakar hutan timur. Merahkan langit dan semoga perhatian pasukan Set tertarik kemari.”

“Siap!” jawab Eik penuh semangat.

Mendengar kata Set, Sion pun menelan ludah. Namun belum sempat ia memprotes, Edgar sudah berkata lebih dulu, “Kau akan mengawasi dari sisi Alcyon. Siapapun pihak tak dikenal yang terpancing datang, arahkan pada Alcyon.”

Sion mengangguk-angguk tanpa suara.

“Sementara aku akan memantau dari sisi si setan pohon,” ucap Edgar.

“Apakah aku boleh menghadang Alcyon?” tanya Eik. “Sedikiiiiiit saja?”

Edgar menatap Eik sangat serius. “Apakah kata-kataku kurang jelas? Tujuan utama rencana ini adalah menciptakan kekacauan sebesar-besarnya, menciptakan sesuatu yang menarik perhatian, dan mengundang semua pihak yang terlibat untuk berkecimpung di dalamnya. Mengerti? Jadi, jangan bertindak aneh-aneh. Jangan sembrono. Jangan mengambil resiko kematian.”

Eik terpekur. “Aku mengerti. Maafkan aku. Aku hanya sedang sedikit bersemangat.”

“Tidak ada masalah dengan semangatmu. Malah aku yakin semangatmu itu akan menjadi salah satu penentu keberhasilan rencana kita,” ucap Edgar. “Tapi sekali-kali gunakan pula otakmu. Jangan sampai semangat berlebih itu menuntunmu pada celaka.”

Eik mengangguk-angguk lalu tersenyum sangat lebar. “Ya, ya, aku mengerti.”

“Lalu bagaimana dengan Wendy?” sela Sion.

Edgar menghela nafas. “Jika beruntung, kita akan memperoleh kembali Wendy. Tapi sekalipun kita tidak berhasil menyelamatkannya, pasti akan ada kesempatan lain yang lebih baik. Dan marilah kita berharap yang terbaik. Lagipula meski kerdil dan suka meraja, tapi si peri cerewet syahaha itu sanggup menjaga diri.”

Eik menggaruk-garuk kepalanya yang kebetulan tidak gatal. “Kita ini sungguh jajaran pengawal yang payah, ya?”

Sebenarnya Edgar tersinggung dengan pernyataan Eik itu. Tapi apa boleh buat, memang itu faktanya. Lagipula waktu sudah kian mendesak dan sudah saatnya bergerak.

“Baiklah, begitulah rencananya,” Edgar menutup pembicaraan. “Jalankan tugas sebaik-baiknya. Jaga diri. Jangan sampai mati. Dan jika sampai terberai, biarlah kita bertemu lagi di Magma Culmina.”

Eik mengulurkan tangannya pada Sion dan Sion segera menyambutnya.

“Jaga dirimu,” ucap Eik.

“Kau juga, Eik Moonfang,” balas Sion.

Sejenak Eik menggeliat sambil menggaruk-garuk punggungnya sebelum menjulurkan tangannya pada Edgar, “Jaga dirimu juga, sahabatku Edgar.”

Tentu Edgar menampik uluran tangan itu. Sebaliknya ia malah menatap curiga. “Jangan katakan bahwa kini kau tidak sekedar bulukan tapi juga kudisan.”

Eik malah terkekeh. “Padahal aku sudah berselimut rapat. Tapi sepertinya ada-ada saja akal bulus nyamuk-nyamuk itu. Salah satunya berhasil menyelinap ke pantatku.”

“Aku juga,” timpal Sion lalu tiba-tiba membuka sepatunya dan menunjukan satu bulatan merah tepat di telapak kaki. “Sampai-sampai aku terbangun.”

“Nyamuk seribu pinus benar-benar ganas, ya?” ucap Eik.

Sementara Edgar langsung beringsut jauh ke belakang sambil menjepit rapat kedua lubang hidungnya. “Dasar jorok! Berapa tahun sekali kaucuci sepatumu?”

Sion tertawa sambil mengenakan lagi sepatunya. “Apakah nyamuk pula yang membangunkanmu, Edgar?”

“Eh?” gumam Eik. “Jadi Edgar juga digigit nyamuk?”

Sion tertawa. “Tepat di pipinya.”

Sejenak Eik memperhatikan wajah Edgar yang separuhnya terhalang rambut. “Kupikir itu model rambut khusus untuk malam hari, tapi ternyata…,” Eik terkekeh jahil. “Tapi, ya, di dunia ini memang tidak ada gading yang tidak retak.”

BRUK! BRUK! BRUK!

***

Tiga sekawan itu pun berpisah untuk menjalankan tugas masing-masing. Dengan berkah Hermes, Edgar menyusuri jalur setapak ke selatan secepat mungkin. Hingga akhirnya, di dekat suatu tebing terjal, ia menemukan sosok setan pohon itu. Berambut perak, berjubah serba hitam, berwajah pucat, dan berkacamata. Alangkah terkejutnya saat ia menyaksikan si setan pohon itu hendak menjatuhkan Wendy ke jurang.

“Panggil Titania atau kujatuhkan kau,” setan pohon itu mengancam.

“Ini tak akan berhasil!” Wendy memberontak keras.

Sejenak Edgar menguping perdebatan sengit antara kedua makhluk berbeda ukuran itu. Ia mulai cemas dan berniat keluar dari persembunyiannya untuk menyelamatkan Wendy. Namun langkahnya terhenti oleh desiran dingin tidak wajar. Desiran dingin yang serta merta memberdirikan sekujur bulu kuduknya. Desiran dingin yang serta merta menciutkan nyali.

“Haha, kau pikir dengan cara seperti itu Titania mau datang untuk bertemu denganmu?”

ALCYON?!

“Vincent. Vincent Gunnhildr. Sebaiknya kau menggunakan nama itu atau – ”

Situasi merunyam cepat. Tanpa banyak basa-basi, baik Alcyon maupun si setan pohon yang bernama Vincent itu menghunus senjata pusaka masing-masing. Pertarungan segera berlangsung namun sepertinya tidak perlu waktu lama untuk menentukan siapa yang lebih sakti di antara keduanya. Pelipis Edgar berkedut-kedut seiring dilema pelik hadir ke hadapannya.

Apakah aku hanya akan tetap diam memantau?

Ataukah sebaiknya aku membantu si setan pohon melawan Alcyon?

Ataukah aku hanya akan sekedar berdalih membantu dengan maksud menyelamatkan Wendy?

Sementara di barat sana, langit mulai merona merah. Edgar mengucap syukur dalam hati. Rencananya mulai berjalan. Mungkin ia bisa berharap di seberang sana, Sion pun akan membantu dengan caranya sendiri. Sungguh persahabatan yang terjalin aneh, tapi entah kenapa ia menaruh kepercayaan sangat dalam.

Ya, ini akan menjadi duel keduanya melawan Alcyon. Apapun yang terjadi, kali ini ia akan membuktikan kemampuannya. Ia akan membuktikan bahwa ia adalah siapa-siapa.

Edgar sudah memutuskan. Maka dibukanya lembaran kitab raksasa itu. Rencananya ia akan berhenti pada satu halaman yang bergambar dewa lalu pada satu halaman lain yang bergambar monster. Beberapa saat kemudian, bibirnya mulai berkomat-kamit.

Ares! O dominum omnes uictoriam militiam…

***

Read previous post:  
165
points
(1110 kata) dikirim synrio 9 years 34 weeks yg lalu
82.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | Le Château de Phantasm | synrio
Read next post:  
80

ugh,kalian ini..
Motongnya jago amat yah?
Anyway,getting more and more interesting here.
Keep it up!

100

hohohoho, puas...

100

huaaa chapter yang ini keren banget. pintarnya edgar keliatan, sion-eik juga seru. huaaaaaaaaaa

100

K-ke-KEEEERREEEEEENN~~ :O :O

100

Kerapian strategi, ending yang nanggung, dan kesempurnaan dalam merasuki jalan cerita!!!
Bener2 100 poin deh buat k'Heinz!!!
Cerdik banget manggil Ares--lanjutin dengan Athena sekalian dong kak :P
dewa perang+Dewi Kemenangan=Menang Mutlak
.
TOP deh!

Hm, seharusnya rikues-nya ke si smith.
Hehe, hepinya dipuji langsung ama maminya Edgar.

Mendengar kata Set, Sion pun menelan ludah. Namun belum sempat ia memprotes, Edgar sudah berkata lebih dulu, “Kau akan mengawasi dari sisi Alcyon. Siapapun pihak tak dikenal yang terpancing datang, arahkan pada Alcyon.”

Sion mengangguk-angguk tanpa suara.

“Sementara aku akan memantau dari sisi si setan pohon,” ucap Edgar.

++++++

bos, kalo begini, sion dan edgar bakal langsung ketemu lagi dong kalo ada cekcok langsung... mana si edgar pakek baca mantra lagi...

mestinya si sion tugasnya yang lain gitu, duluan ke magma culmina buat nyegat atau apa..

huh hoh huh hoh saya bingung

Benernya aye juga bingung si Sion mo dikasi tugas apaan.
Hehe, situ nyadar juga.
Tapi ya kupikir mereka berdua kan terpisah jurang. Jadi ya, Edgar bertarung di tepi Vincent, mungkin rencananya Sion siap membokong Alcyon dari belakang.

terpisah jurang? bagian mana nyebutin mereka terpisah jurang? oh, soal sion saya udah ada rencana kok, hehe

Huh?
Aku nemunya di Synrio

Kutip: Wendy menoleh ke arah Seribu Pinus. Seseorang dengan tubuh tegap berdiri di dekat bayang-bayang hutan, tak jauh dari tepi jurang tempat mereka berdiri.

Astaga. Aku salah tangkep gitu? Kupikir seberang-seberangan jurang.

enggak kayaknya, hah saya udah kelewat deadline... biarlah, belum ada ng nuntut sampe muntah-muntah ini... mata lagi perih melulu nih om

100

Oh, mamen, so nanggung!!!!
tapi ashben lah, yg penting bagus
.
mungkin nanti si mith bakalan ngundang super kukang, eh kukar xD

Biar ditunggu-tunggu.

100

om, nanggung amat? lanjutin dong adegan serunya >.<

by the way, belum ada yang bs memcahkan teka-tekiku? xixixi :P

Hehe, tadinya mau iseng munculin para super villain.
Tapi dipikir-pikir, aku gak ada yang cukup ngeh ama satu pun. Macam Daisus, Xalvadur, Mephisto, Oviaz, de el el.
Summon-nya model FFVII ato FFX ato FFXIII pun aku juga gak cukup jelas.
Yah, akhirnya wait and see saja lah. Kuserahkan pada Semit.
*
Iya nih. Takluk ama teka-tekinya.
Ini aja udah bikinnya sambil uratan.
*

yaaa... pdahal aku sudah menikmati nih. diputus tiba2.. T.T
.
soal teka-teki, ya sudah. ntar siapa yang mau nampilin teka-tekinya di cerita. pm saya aja. (kayanya kudu pengumuman di fantasi OOT deh.. :P)

Butuh clue.
Tapi lagian giliranku masih satu loop lagi.

100

Keren!!! Saya suka bagian ini~~
"Direbus, diparut, ditaburi garam, dijemur, dipanggang", bukannya taburin garam dulu baru diparut? Ntar ga rata asinnya, ga enak **dihajar**.
.
Saya suka rencana-rencananya, terutama ngejauhin Eik dari Alcyon dan ngebikin dia ngebakar hutan (tapi ga baik loh, pencemaran plus bikin banjir *ditimpuk gara2 kebawa bikin pidato global issue*). Edgar sama pasangan bodoh Eik-Sion dapet banget feelingnya. Satu hal: rambut Edgar itu hitam, hhe. Selain itu udah disebutin semua.
.
Plus ini lumayan bagus juga buat pengantar ke Blood Fiesta-nya Kak Smith xDD. CALL FORTH CHAOS!!!

Hehe, sebenarnya kelupaan satu lagi: diulek.
*
What?! Hitam? Astaga, padahal udah teliti dibacain identitasnya berulang kali. Tsk, masih aja salah. Tapi bagus, jadi makin mirip Sadako.

100

what the hell ?

joke campur tegang ??

wow

Campur horror.

2550

Part ini Keren kak Heinz!!!
Suka bagian edgar bilang kalo wendy peri cerewet yg syahaha ^^
lanjuut...

Lanjut....

100

Karakter Edgar, Sion dan Eik keluar dg mulus! Mantab!
Suka ngbayangin Cyon direbus, diparut, ditabur garam, dipanggang... Kufufufu~

Tinggal disantap.

100

hyaa... mantap, Bang >_<
hoee, bagus tuh, akhirnya Edgar gak melulu tersia-sia di kelompok itu.. hmm, jadi dia mau manggil Ares ya? terus monsternya siapa?

Tentang Edgar, haha, tadinya mau lebih di-exploit lagi pake POV 1. Tapi pikir-pikir situasi gak cocok. Dan belum cukup menghayati karakternya. Jadi lain kali saja lah.
*
Sebenernya mantera yang pernah dipanggil tuh yah cuma si Ares itu. Sisanya kan gak pernah nongol. Mekanisme atau penampakan fisik summon-nya seperti apapun aku kurang paham. Belum sempet konsultasi ama penciptanya (jarang nongol sih). Ya, cuma iseng aja mo kasih pr tambahan buat si Smith (HEHE). Sama kasusnya dengan monster, kuserahkan pada Smith aja dah.

90

argh pendek sekali~ om, well.. it's up to me to WREAK HAVOC

BLOOD UPON BLOOD

EVERYTHING WILL BE BURNED,

Ow. Ini udah nyaris 2000.
Tadinya niat cuma bikin sekitar 1000-1500.
Ternyata overload.

100

mantap om..kejadiannya sebelum vincent bertarung ma cyon ya...
tapi,,

Quote:
Kau juga, putra Shamash,” balas Sion.

setau saya,,sion ma edgar belum klarifikasi masalah ini,,cuman karena kata2 cyon aja,,mereka ga sempat mikir kalo Eik adalah titisan shamash ato bukan..kalo saya ga salah ingat si...
overall,,muantap..

Hohoho, begitu ya? Thx koreksinya.
Langsung diedit.

100

Keren... keren...
Eik sama Sion kompak banget bikin Edgar keki berat

Tadinya mau bikin POV 1 agar Edgar lebih banyak dikasi kesempatan sumpah serapah dan narsis. Jadi imbang antara ejek dan siksanya. Thx dah mampir.

2550

'setan pohon yang bernama Vincent'... Kan Vincent belum nyebutin namanya, jadi bukankah seharusnya Edgar belum tahu namanya. Eh, ini POV3-nya di Edgar kan?

Menurutku cerita ini dah keren Om... ^^

Hehe, tentang part penyebutan nama itu memang kupotong. Tapi di episode Synrio sebelumnya memang nama itu udah sempat disebut sebelum adegan battle. Tapi nanti coba kutambahin dikit.
*
Yah, rencananya emang POV 3 limited. Tapi gak tau konstan ato ga. Agak payah di tipe POV ini.
*
Thx komennya bro.

Owh yah, smith, saia cukup ampe di sini aja. Silakan situ yang lanjutken. Silakan dipanggil villain ato hero baru mana lagi yang mo ikut serta.

CAUSE THE BLOODY FIESTA IS YOURS!

(Aye sih kurang paham....)

YEAH PRIKITIEUW

Ternyata bisa beres sebelum waktunya.
Yu, silaken-silaken, diliat-diliat, ditilik-ditilik
Maap kalo ada yang geje. Tapi kalo ada yang patut direvisi ato apapun, silaken. Mumpung masih Alpha version.