Kelinci

Bisa saja riuh rendah di siang itu berganti menjadi keributan. Bisa saja, jika pria yang berada di pinggir atap gedung ini memutuskan untuk terjun ke jejeran mobil yang terparkir di jalan. Bahkan jika pria tersebut pada akhirnya terjun juga, keributan yang terjadi akan bersumber pada dua hal: tubuh hancur bersimbah darah yang tiba-tiba hadir di tengah kesibukan kota, dan suara alarm dari mobil mahal yang remuk. Bisa juga tiga hal; yang ketiga datang dari teriakan pemilik mobil yang baru sadar bahwa alarm tersebut berasal dari mobilnya.

Tetapi tidak. Pria itu hanya diam di pinggir atap gedung. Ia seakan bertengger. Lalu pria itu bangkit dan memasang headset ke telinganya: dua lingkaran putih berbulu yang disambung oleh lengkungan putih serta memiliki juntaian putih yang menghadap ke atas dari masing-masing penutup telinga. Ia juga memasang sebuah topeng hockey, sehingga kini wajahnya sama sekali tidak terlihat. Bukan hanya tidak terlihat, melainkan sekarang ia malah terlihat seperti berwajah-kelinci. Tertutupnya mulut dan hidung serta juntaian putih di atas telinganyalah yang membuatnya terlihat demikian.

Si kelinci merapikan jasnya. Ia berpakaian laiknya pengusaha muda yang akan mengikuti rapat, jika gadis SMU yang melihatnya. Menurut ibu rumah tangga mungkin ia lebih mirip dengan door-to-door salesman. Tetapi tidak ada pengusaha muda maupun salesman yang membawa pistol. Tidak ada juga yang memakai sarung tangan kulit dan menyelipkan pisau di pinggang, memakai perisai tubuh di balik jas dan sepatu lari.

Sekarang si kelinci menoleh ke kanan. Ia memandang ke sebuah persimpangan yang tidak jauh dari tempatnya. Tampak sebuah kedai yang menjorok keluar dari dasar suatu gedung. Si kelinci melihat ke satu meja yang berada di luar, di samping trotoar lebar persimpangan tersebut. Di meja itu duduk seorang pemuda. Pemuda tersebut tentunya tidak tahu bahwa ada seseorang bertopeng kelinci yang sedang memerhatikannya.

“Ini dia pesanan Anda, Tuan Dimas,” secangkir teh diturunkan dari nampan oleh pramusaji kepada pemuda yang si kelinci perhatikan. Pemuda itu, yang bernama Dimas, mengangguk dan tersenyum kepada pramusaji. Lalu ia mengaduk-aduk teh sambil menggigit ujung dari sebatang wortel yang dari tadi ia pegang di tangan kirinya.

Dimas bersandar dan mengeluarkan sebuah lipatan kertas. Ia membuka lipatan itu dengan satu tangan (dikibas-kibas, lebih tepatnya) dan terlihat bahwa ternyata secarik kertas itu hanya berisi dua kata.

Aku pergi.

Seteguk teh mengalir di kerongkongan Dimas. Ia taruh cangkirnya kembali dan ia gigit wortelnya sekali lagi, lalu ditataplah kertas yang berisi dua kata tersebut. Mungkin si kelinci tidak bisa melihat dengan jelas dari atas gedung, namun dari seberang kedai bisa terlihat bahwa air muka Dimas sedih. Bisa dibilang bahwa penulis “surat” tersebut sangat berarti bagi Dimas, dan sepertinya Dimas belum menerima kenyataan bahwa penulisnya pergi.

Si kelinci menyusuri pinggir atap gedung, berusaha lebih dekat dengan Dimas. Walau Dimas tidak tahu bahwa ada yang memerhatikannya dari tadi, Dimas melihat bahwa ada bercak warna yang bergerak di atap gedung yang lumayan jauh dari kedai. Ia menggigit wortelnya lagi, lalu memasukkan kertas tadi ke sakunya. Sekarang si kelinci agak jongkok sehingga terlihat seakan bertengger lagi, dan menunggu saja sambil melihat Dimas berjalan keluar kedai.

Pemuda bertopeng-kelinci menoleh ke belakang tubuhnya, ke atap gedung yang dipenuhi lima, enam… delapan tubuh tak bernyawa. Delapan mayat pria, jasnya sedikit sobek sana-sini, beberapa kacamata-hitamnya pecah (bahkan ada yang tergeletak begitu saja), dan masing-masing memiliki luka tembusan peluru. Si kelinci mengalihkan pandangannya ke pistol yang ia pegang: dicopotlah peredamnya dan pistol tersebut ia selipkan ke balik jasnya.

Sekali lagi si kelinci melihat ke mayat-mayat yang tergeletak. Ia pun berpikir bahwa yang namanya penyamaran pasti akan terbongkar. Benar, terbongkar karena mereka sadar bahwa si kelinci malah mengarahkan mereka ke gedung yang salah. Ia pikir lagi bahwa terbongkarnya penyamaran dirinya lumayan pas, di atas gedung tinggi yang tidak semua orang bisa lihat. Suara tembakan pun bisa hilang terbawa embusan angin dan luasnya langit.

Pandangan si kelinci balik lagi ke Dimas. Kali ini terlihat bahwa Dimas sedang bercengkrama dengan dua orang berjas—jas yang sama dengan mayat-mayat di belakang si kelinci. Dua orang tersebut lebih terlihat menghadang daripada bercengkrama, sebenarnya.

Dimas tercengang saat salah satu penghadang menunjukkan secarik surat: surat pernyataan bahwa ia bersedia ikut mereka ke suatu tempat yang tidak ia ketahui untuk hal yang tidak ia mengerti. Dimas merasa bahwa ia tidak pernah menandatangani surat pernyataan macam ini. Bahkan nama tempat dan perihalnya pun ia tidak tahu. Sesaat ia berpikir untuk lari, tetapi melihat perawakan para penghadang sepertinya ia tidak akan bisa kabur begitu saja. Tidak, bahkan di persimpangan ramai ini.

Sangat cepat, bahkan Dimas pun sadar belakangan, bahwa sebuah peluru menembus dahi si penghadang yang memegang surat. Baru pada saat orang di trotoar teriak melihat mayat, Dimas mulai lari. Ia lupa bahwa masih ada penghadang lain. Dimas sama sekali tidak memperhitungkan bahwa penghadang yang lain bisa saja membawa senjata.

Tak perlu diperhitungkan, mengingat si kelinci juga telah menghabisi penghadang lain dengan senapan sniper yang telah ia keluarkan dan rakit dari dalam tas yang sedari tadi tergeletak di sebelahnya; ia merakitnya saat Dimas masih tercengang terhadap surat yang ditunjukkan. Pengunjung kedai dan orang lewat berhamburan serta berteriak di kekacauan yang baru saja terjadi. Dimas berlari menuju pertigaan yang dekat dari gedung tempat si kelinci bertengger, menemui dua penghadang lain yang juga langsung dihabisi si kelinci. Dengan cepat Dimas mengambil pistol salah seorang penghadang yang tumbang, dan menembak kaki dari seorang penghadang yang mengejarnya. Salah seorang penghadang lagi tidak ia hiraukan: si kelinci menumbanginya tepat sebelum penghadang itu mengeluarkan pistol.

Dimas masuk ke sebuah gang yang diapit dua gedung tinggi dan masuk lagi ke gang-gang lain yang simpang-siur, berharap para penghadang terkecoh ataupun terkena tembakannya. Si kelinci meninggalkan senapannya dan mulai berlari melompati gedung demi gedung sambil mengeluarkan pistol dan mengganti magasinnya. Mereka berdua sekarang hanya terpisah oleh tembok tinggi.

“Hei, ‘makasih!” teriak Dimas kepada si kelinci yang berdiri di atap gedung di sebelahnya. Si kelinci lalu mengisyaratkan bahwa ada musuh datang, dan Dimas berlindung di balik tempat sampah besar. Satu musuh pun tumbang berkat bidikannya.

Sepertinya musuh telah habis, dan musuh tambahan tidak akan sampai lebih cepat sebelum mereka berdua menghilang. Si kelinci turun melalui tangga yang saling-silang (ternyata gedung tersebut adalah apartemen) dan membantu Dimas naik. Mereka berdua langsung naik menuju atap dan mungkin ke atap-atap gedung lain. Dengan cepat, tentunya.

Setelah yakin bahwa mereka berdua sudah cukup jauh dari pandangan musuh, Dimas dan si kelinci kini berada di sebuah gudang kosong di pelabuhan. Dimas menggigit wortel, wortel yang baru dan masih utuh, sambil mendengar si kelinci berkata.

“Jadi Lola menghilang tiba-tiba?” tanya si kelinci dengan suara serak (yang pasti dibuat-buat, menurut Dimas). Tangan si kelinci memegang secarik kertas yang tadi Dimas baca di kedai. “Dan kaurasa orang-orang yang menghadangmu ada hubungannya dengan alasan Lola menghilang?”

Dimas mengunyah wortel sambil mengangguk. Ia menatap mata si kelinci, yang terkubur dalam topeng hockey. “Pekerjaan” baru Dimas membuatnya harus berhadapan dengan orang-orang aneh. Mau-tak-mau, mengingat inilah satu-satunya cara untuk tetap dekat dengan Lola sekaligus apa yang Lola kerjakan. Semacam obat atau apalah itu.

Dan rupanya Dimas gagal dalam menjaga Lola. “Ya, bisa saja orang-orang itu ingin hasil penelitian Lola.”

“Benarkah hanya itu? Jika iya maka tidak perlu sampai menculik Lola. Lagipula kaubilang sendiri bahwa goresan di kertas ini merupakan tulisan tangan Lola. Dari situ rasanya tidak mungkin Lola diculik, karena kertas ini berkata sebaliknya.”

“Kalau begitu mengapa ada para penghadang?” Dimas bertanya balik.

“Tadi aku menyamar ke dalam salah satu tim mereka, sayangnya tidak ada yang bisa kukorek selain bahwa mereka ditugaskan untuk menangkap seseorang. Ternyata jumlah sebanyak itu hanya agar si ‘paket’ bisa dipindahkan berkali-kali supaya tidak terlacak, padahal kukira mereka hanya kelebihan sumber daya.”

“Paket itu… aku. Apakah mereka ingin aku, orang yang terdekat dengan Lola, menjadi umpan agar Lola mau datang?”

“Untuk apa mereka mau Lola: tadi aku sudah bilang itu. Tidak mungkin yang mereka inginkan itu Lola, karena yang berharga adalah obatnya.”

“Bisa saja mereka ingin Lola membuat obat yang lebih kuat,” jawab Dimas.

“Mereka bisa memakai ilmuwan biasa untuk mengembangkan obat yang sudah jadi. Tidak perlu pencipta-asalnya untuk hal itu,” sanggah si kelinci. Ia melipat secarik kertas yang tadi dan melanjutkan, “Masih ada pertanyaan lain. Mengapa orang-orang tadi ingin menculikmu?”

“Entahlah. Aku tidak bisa berpikir alasan lain selain yang tadi,” jawab Dimas. Ia benar-benar tidak bisa menghubungkan hilangnya Lola dengan datangnya orang-orang berjas.

Si kelinci berjalan mendekat ke tempat di mana Dimas bersandar. Bayang-bayang jatuh menimpa topengnya, membuat seakan air muka si kelinci berubah tegang. “Ataukah seperti ini,” katanya. “Orang-orang tersebut menculikmu agar bisa dijadikan bahan percobaan. Lola pun menghilang karena harus melakukan beberapa pengaturan bagi percobaannya terhadapmu—ingat, ia menulis ‘aku pergi’; ia memberitahu alih-alih hilang begitu saja. Dan di sinilah kau, berhasil kabur darinya. Benar, kaulah yang menghilang, bukan Lola.”

“Cerita bagus,” ujar Dimas. “Tapi jika memang benar, bisakah kupercayai dirimu? Dari mana kutahu bahwa bukan kaulah yang sebenarnya diutus Lola untuk menculikku? Bisa saja orang-orang tersebutlah yang sebenarnya ingin membantuku.”

“Lantas mengapa mereka menembakimu?”

“Mereka tidak menembakiku. Mereka hanya kaget dari mana peluru bisa datang menghabisi mereka. Mereka mengeluarkan pistol karena ingin membela diri dari penembak yang bisa saja datang dari sudut manapun.”

Dimas bisa merasakan bahwa si kelinci tersenyum. “Dan sekarang kau menganggap bahwa Lola-lah tokoh jahatnya.”

“Tidak juga,” sanggah Dimas. “Bisa saja ia tidak jahat, tetapi aku tidak bisa memikirkan cerita yang bagus.”

“Ya, bisa saja. Bisa segalanya.”

Seiring condongnya Matahari ke barat, sinar menyengat yang masuk ke gudang tersebut menimpa belakang tubuh si kelinci, membuat topengnya kalah terang. Dimas hanya melihat bayangan hitam yang membelakangi jingga. Dimas juga tidak tahu apakah si kelinci mengarahkan pistol ke bahunya, ataukah ia yang berlaku demikian.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nagabenang
nagabenang at Kelinci (10 years 47 weeks ago)
90

wahahaha~ kick-ass rabbit :D

Writer H.Lind
H.Lind at Kelinci (11 years 4 weeks ago)
90

Hoho keren2. Cerita tentang asasin berbaju kelinci.
Saya suka pembukaan ceritanya.
Meski saya merasa agak ngegantung endingnya. :)

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 4 weeks ago)

Wahahaha makasih makasih

Writer Riesling
Riesling at Kelinci (11 years 9 weeks ago)
80

Suka. Apalagi endingnya. Tapi 'menumbanginya' apa nggak jadi 'menumbangkan' tuh? Hhe.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 9 weeks ago)

Oia ya hha bener, bener... Makasih tante Ling!

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Kelinci (11 years 10 weeks ago)
80

dude, you never fail to amaze me with your writing style. that's all
keep writing, bunny~!

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Makasih tante Sam! Btw, ini coba-coba loh... kisah aslinya maish digodok, dan bakal jadi dua cerita berbeda. Haha, cerpen ini tuh gabungan dua ide^^ <--ketauan nulisnya buru-buru

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Kelinci (11 years 10 weeks ago)
90

Unik, unik, unik seperti biasa. dan seperti biasa aku juga suka
Dikembangin donk, biar gak cuma jadi sekedar cerpen
Satu saran aja, hati-hati dalam perpindahan POV, kadang2 pembaca sampai tidak menyadari, but anyway, aku suka ceritanya

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Hahaha, dikembanginnya kapan-kapan aja deh...
.
Iya deh hha, perpindahannya terasa aneh ya... padahal saia ngebayanginnya seperti kamera yang ada banyak dan tinggal di-switch, ternyata bikin bingung

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kelinci (11 years 10 weeks ago)
90

Suka endingna. Suka gaya berceritana yang mengesankan 'sunyi' si kelinci.
Kritikna sama dg komentator" sebelumna. Ati" klo pake POV 3 limited, rentan pindah POV tanpa disadari.
.
Tapi yah cerita ni tetep unik~ ;)

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Iya, makasih tante! Saia membayangkan ini sebagai film yang kameranya berpindah-pindah (supaya tegang gitu), ternyata kalo di cerpen rasanya jadi aneh ya...

Writer Dark__Moon
Dark__Moon at Kelinci (11 years 10 weeks ago)
90

judulnya menipu ,hehehehehe

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Maaf ya tertipu hehehehehe. Padahal ada kelinci juga kan di sini? Dan si Dimas itu suka makan wortel... ahahahah *maksa mode on*

Writer brainhacker
brainhacker at Kelinci (11 years 10 weeks ago)
80

Ah, aku suka cerita seperti ini. Apa memang cuma mau jadi cerita pendek?

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Iya, cuma cerpen. Padahal ide awalnya beda banget loh. Sebenernya ini dua ide cerita digabung jadi satu. Haha.
.
Tadinya si kelinci itu bakal jadi karakter utama di serial adaptasi Alice in Wonderland, dan Dimas itu karakter utama di serial yang penuh tembak-tembakan (macam filmnya John Woo). Mungkin lain kali saia akan posting cerita aslinya...

Writer humerus
humerus at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Maksudnya dia minta cerita ini dilanjutin sama orang lain. sayang saya belum terlalu berminat mbikin genre kayak gini jadi males nglanjutinnya.

ini ada cerita develop saya dan rea_sekar bisa diintup dulu lah http://www.kemudian.com/node/253803

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Kelinci (11 years 10 weeks ago)
100

What's up, Doc? XD

Saya suka cerita ini, terutama si Assassin Bunny, harusnya dia yang ngunyah wortel... ^^

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Hahaha, si kelinci asinan mana mungkin bisa ngunyah wortel (kealang topengnya wkwkwkwkw)... tapi iya juga ya, kesan kelinci malah melekat di Dimas, hm... Makasih om Zoel!

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Argh, kepencet duluan...

Satu kritik aja, menurutku POV-nya yang loncat2 antara si Kelinci dan Dimas jadi bikin bingung bacanya.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Saia emang lagi coba-coba ini om, hehe... POV-nya jadi kaek gini soalnya waktu nulis kepikiran film-film action Hollywood ahahahahaha. Ternyata jadi bingung ya, okedeh lain kali enggak

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

*malah double post*

Writer humerus
humerus at Kelinci (11 years 10 weeks ago)
80

hmmm gimana ya? kok kayaknya semua properti si kelinci muncul dari gelap ya? coba tas tempat sniper riflenya udah disebutin dari pertama mungkin gak muncul kesan bahwa 'penulisnya terlalu tuhan' barang yang gak ada2 tau2 ada.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

Saran diterima. Hehe, soalnya kalo langsung dijelasin dari awal kesannya seperti over-description

Writer humerus
humerus at Kelinci (11 years 10 weeks ago)

iya nie, cerita gw emang suka over description karena gak pengin memberi kesan "The writer really are god" tapi kayaknya harus sedikit dikurangi. mau liat cerita capter duanya light and clay gak? udah ada.