The way of light and clay - C1. Perkenalan-

“Hei, ada kucing.”

Entah mengapa, di taman yang diapit dua gedung di tengah kota, siang itu, sesosok gadis berhenti dan menunduk ke seekor kucing. Gadis tersebut mengamati kucing tersebut, yang hanya duduk, sambil sesekali menjilati kaki depannya.

Tidak banyak orang yang lalu-lalang di daerah itu. Sesekali ada mobil lewat dan terkadang dua-tiga orang berpakaian rapi juga terlihat hanya lewat. Tetapi hanya itu. Jalanan ini memang sepi. Hanya si gadis dan kucing itu yang rutin terlihat di taman pinggir jalan utama itu.

Suatu ketika, Si Gadis melihat si Kucing terbujur kaku. Semua perasaan tidak enak menyatu dalam perutnya yang mual. Setelah sekian lama akhirnya kucing itu mati juga. Dunia berputar seperti bola bowling yang menggelinding. Manusia, hewan, dan tumbuhan semua sama dalam bola bowling yang menggelinding menuju lubang yang sama, kematian. Si gadis berpikir keras untuk menghidupkan kucing itu lagi, tetapi tidak keluar juga ide yang bagus. Si gadis kemudian bertanya-tanya dalam hati adakah yang abadi di dunia ini.

Lamunan si gadis pecah. Sebuah penampakan menawan melintas taman sepi itu. Pria muda seumurnya dengan rambut pirang keemasan dan mata biru langit berjalan dengan elegan dalam balutan kemeja putih dan celana hitam panjang rapi. Orang ini seperti malaikat yang turun dari langit untuk menjemput manusia menuju surganya sendiri. Kalau laki-laki tadi adalah malaikat kematian, maulah si gadis mati saat itu juga agar bisa bercakap dengannya.

Kemudian semua berlalu, taman sekali lagi sepi hanya si gadis dengan mayat kucing itu.

Gadis itu berdiri di depan gundukan tanah. Semoga kau bisa beristirahat dengan tenang pikirnya. Seragam SMAnya kotor akan noda tanah. Ternyata matahari sudah ada di antara batas malam dan siang, langit telah memerah.

Gadis itu masuk ke halaman sebuah rumah yang lampunya belum dinyalakan lalu membuka kunci rumah itu. Isi rumah itu tidak seterang halamannya yang setidaknya masih terkena percikan cahaya lampu jalan. Setelah meraba-raba dinding di dekat pintu masuk, ruangan itu menjadi terang dan perabotnya yang sederhana tertata rapi meski agak berdebu.

Gadis itu tinggal dengan Ibunya yang berkerja sebagai pengacara. Malam ini Ibunya lembur lagi dan tidur di kantor, setidaknya itu lah yang dia katakan tadi pagi. Foto gadis itu dan ibunya menghiasi ruang keluarga rumah itu. Ibunya adalah seorang ibu muda yang umurnya hampir empat puluh tahun. Dengan rambut kecoklatan dan pipi yang halus Ibu gadis ini masih cukup cantik untuk umurnya.

Setelah mandi dan berganti pakaian dengan yang lebih bersih, gadis itu menyalakan televisi lalu melahap roti yang sudah disediakan sebagai makan malamnya. Dia bosan dengan siaran televisi yang yang mudah ditebak alurny dan sinetron-sinetron tidak masuk akal yang penuh animasi murahan. Ketika roti pertama habis Dia lahap roti kedua sambil mengamati isi ruang itu yang berisi fotonya dan ibunya pada berbagai kesempatan, ada foto saat Dia masih SD, ada foto saat Dia lulus SMP, dan yang paling mencolok adalah saat Dia menerima sebuah piala dari seorang berseragam tentara.

Pagar berbunyi lalu ada suara seperti karung yang dijatuhkan oleh kuli angkut di pasar. Ada orang yang melompati pagar pikir gadis itu.

Cepat-cepat dia berlari ke kamar ibunya, menekan-nekan tombol lemari besi ibunya, lalu membuka pintunya. Di dalam lemari besi itu ada beberapa berkas berharga, tetapi bukan itu yang gadis itu cari. Gadis itu segera menemukan apa yang Ia cari, sebuah pistol magnum.

Pekerjaan sang Ibu sebagai pengacara membuat keluarga itu kadang terancam bahaya. Pernah seorang yang tidak dikenal melempar rumah mereka yang lama dengan botol-botol miras dan mengirim bangkai ayam tanpa kepala dalam kado yang terbungkus rapi. Ibunya memutuskan untuk mempersenjatai diri sejak itu. Ia membeli dua senjata api untuk dirinya sendiri dan anaknya, meskipun dia daftarkan untuk dirinya sendiri juga dan selalu ditinggal di rumah, dan semprotan merica untuk anaknya bawa ke sekolah. Ibunya kadang mengajak si gadis berlatih menembak sehingga keluarga itu memang bukan keluarga yang sederhana seperti rumahnya.

Si Gadis mengendap-endap mendekati pintu samping lalu dibukanya dengan hati-hati sambil tangan-kanannya masih menggenggam senjata. Gadis itu mengintip ke luar. Dia melihat seseorang sedang terbaring lemas, dia berdarah. Gadis segera menodongkan pistolnya pada orang itu dengan kedua tangannya. Orang itu berrambut pirang dan acak-acakan sampai menutup wajahnya.

“Kau, masuklah ke rumah! ini bukan urusanmu! kau tidak perlu terlibat!” kata orang itu.

“Siapa kau? Apa maumu?”

“Aku hanya...” ucapan orang itu terhenti seketika dan menoleh ke samping.

Suara langkah mantap bersepatu bergema di jalan samping rumah, seseorang sedang berjalan di sana. Suasana menjadi hening, hanya langkah itu yang mewarnai suasana, kemudian udara makin terasa dingin di kulit. Lampu-lampu jalan sedikit meredup seakan memberi hormat pada raja kegelapan. Gadis tadi mersakan sesuatu yang aneh, perutnya terasa mual, kakinya seakan mati rasa, nafasnya memburu, dan instingnya menjerit untuk lari.

Gadis segera memperoleh kembali kewarasannya dan berpikir cepat. Ada bahaya yang jauh lebih besar dari pria yang terluka ini, pikirnya. Dia menarik lengan laki-laki tadi dan Ia sandarkan pada punggungnya lalu Ia tuntun laki-laki itu masuk ke rumah.

Setelah di dalam rumah si gadis kebingungan. Dia pernah terluka waktu kecil, tetapi dia belum pernah menghadapi orang yang terluka. Kelihatannya pria pirang itu banyak kehilangan darah. Sewaktu dia putuskan untuk menelpon rumah sakit tangan si gadis ditahan oleh tangan si pria.

“Tidak, itu tidak perlu. Yang kau lakukan sudah lebih dari cukup.” Kata pria itu.

“Lukamu terlihat parah!” kata gadis tadi, masih menggenggam pistol di tangannya.

“Aku berbeda denganmu.” Balas Pria itu sambil berdiri.

“Apa yang kau lakukan? Lukamu itu palsu ya?” kata gadis tadi sambil menodongkan pistolnya pada pria tadi yang kini melepas kemejanya.

Pria itu tidak memperdulikan gadis yang menodongkan pistol di depannya. Kinia dia telah bertelanjang dada. Dia kemudian merapikan rambutnya. Muka pria ini familiar bagi si gadis. Matanya berwarna biru langit dan tidak terlihat tua, umurnya kira-kira sama dengan si gadis. Dia adalah pria tampan yang tadi gadis itu lihat di taman.

Pria itu memandang si gadis kemudian ada sesuatu mengembang dari balik punggungnya. Benda itu berwarna putih polos dan berbulu, benda itu adalah sepasang sayap putih. Sayap itu membentang sangat panjang dari tembok yang satu ke tembok yang lain.

“Perkenalkan, namaku Aristokarus, Aku adalah seorang malaikat. Panggil saja Aris” kata malaikat tadi.

“Ti-, -dak, mung-, -kin” bisik gadis itu sambil merendahkan pistolnya karena sangat kaget.

“Siapa namamu gadis cantik penolongku?”

“A-ku, namaku Sophia, Sophia Redland, panggil saja Sophi.” Jawab gadis itu.

Dan begitulah dua makhluk yang berbeda dari dunia yang berbeda bertemu dan saling mengenal. Apa yang ada sekarang hanyalah ketakjupan dan keterkejutan, tetapi apa yang ada di pikiran takdir selalu sulit untuk ditebak.

Read previous post:  
59
points
(72 words) posted by humerus 11 years 14 weeks ago
73.75
Tags: Puisi | kehidupan | kesendirian
Read next post:  
90

Yang lain udah komen, tapi entar dulu deh, kasih komennya. hehehe. ada kucingnya..

ha ha ha, jangan protes masalah kucing itu mati mendadak. kalo mau yang kucingnya hidup bahagia. bacalah:
http://www.kemudian.com/node/254111

100

Saya suka ceritanya... ^^

Kritik dikit. Seorang pengacara wanita yang tinggal dengan putrinya, menurutku agak berlebihan kalau mereka mempersenjatai diri mereka dengan Magnum. Biasanya wanita mempersenjatai diri mereka dengan non-lethal weapons (stun gun, pepperspray), atau paling ekstrim dengan 9mm semi-auto.
===
Kecuali kalau kedua wanita itu punya background militer, kurasa akan lebih masuk akal... ^^

hmmm.... kurasa itu pertimbangan baik buat latar belakang kakeknya Sophi. Thanks buat sarannya.

80

Saya suka (apalagi paragraf ketiga). Tapi di bagian deskripsi ibunya Sophi, entah kenapa agak janggal (mungkin cuma saya). Kalimat 'Gadis itu tinggal dengan Ibunya yang berkerja sebagai pengacara.' dan 'Ibunya adalah seorang ibu muda yang umurnya hampir empat puluh tahun.' rasanya bisa dijadiin satu...
.
Lanjut.

Iya juga sih. yap saya gabung saja deh. Thanks banget mbak!

Gadis itu tinggal dengan ibunya yang berkerja sebagai pengacara yang umurnya sekitar empat puluh tahunan. gitu OK gak?

Sip~~

80

hm.....bagus untuk karya kolab, meski gag ada petunjuk nih cerita mau dibawa kemana, seperti lagunya armada
"mau dibawa kemana, cerita ini..."

Hahahahaha, makanya ikutin deh ini cerita nggak bakal kayak cerita yang biasanya. banyak konfliknya. udah ditulis sampe chapter 4.

terimakasih bintangnya.

70

Udah disamber tante anggra kritikannya...
.
Btw, humerus! Kalimat utama saia malah dirusak oleh paragraf-paragraf bikinan Anda! Padahal kan saia inginnya itu kucing jadi tokoh antagonis, kenapa DIBUNUH!? Random abis!!
.
Udah gitu tiba-tiba ada malaikat... hadeuh, bener-bener random...
.
Okedeh, saia akan bikin revisinya! Liat aja nanti, ceritanya akan saia ubah drastis!

ah, gw lempar preparat lu! lu tinggalin gw dengan laptop gw menuju lab begitu saja. tanpa plot tanpa pesan. hanya sebuah pesan "Ni, lanjutin." T.T

Btw, cerita kucing buatan saia udah jadi tuh. Baca gih

60

Idenya oke.
Tapi emosinya terasa janggal dan bertele2.
Misal, membicarakan kucing dan gadis yg berteman akrab, sampai si gadis mau hidupin si kucing lagi. Cukup detail sampai membicarakan roda kehidupan segala. Tapi ternyata kucing yg kukira bakal jadi pemeran penting, cuma hanya sebagai sarana pengelihatan si gadis soal si pemuda tampan.
Lalu tau2 si gadis malah pengen mati juga gara2 kepincut dg si pemuda ganteng. Soal kucing terlupakan sudah...
.
Lalu di ruang makan. Menceritakan detail foto di dinding tanpa maksud. Bila memang untuk deskripsi, kurasa perlu diperhalus narasinya. Jd ngga ada adegan yg sia2.
.
Kip wraiting, pak tulang.(Habisan namanya kaya nama tulang lengan atas XD) Salam kenal yah. :D

ha ha ha, iya nih kayaknya emang terlalu dramatis (pengaruh beberapa penulis klasik) dan terlalu gombal gitu. saya juga mengakui itu. yha, gimana ya emang dorongan batin kali. soalnya emang lagi galau juga waktu nulis ini.

masalah foto di dinding emang ada maksudnya kok, ntar di chapter dua deh. aku emang suka nyembunyiin hal-hal yang trivial gitu.