Merry-Go-Round : #1 - Candle and (Love) Magic

“Di tempat ini, tahun depan, di tanggal yang sama, temuilah aku.”

Suara itu menggema di kepalaku. Suara yang terdengar seperti bisikan kecil, namun penuh dengan ketegasan. Lalu pemilik suara itu berlalu di sampingku. Melangkahkan kakinya dengan ringan, menjauhi tubuhku yang berdiri kaku. Sekali lagi, suara langkah-langkah sepatu high-heels-nya menggema di kepalaku.

“ Di saat itulah, aku akan memberimu jawaban.”
Kemudian, ia sepenuhnya lenyap dari hari-hariku.

Namun meski begitu, tiap hari aku lalui dengan penuh penantian. Hari-hariku tetap kuhabiskan dengan hati dipenuhi rasa cintaku padanya. Setahun penuh aku tetap simpan rasa cinta yang belum terbalaskan ini.

~*~

“Ras, gimana kabar Ara?” Koo tiba-tiba menepuk bahu-ku dari belakang, “Sudah setahun kan?”

Aku hanya merunduk menatap tanah, dalam hati aku teringat lagi tentang siapa Koo di masa laluku. Ia kemudian merangkulku dari belakang, meletakkan tangan kananya di bahuku. Lalu ia tolehkan wajahnya padaku. Senyum tipis muncul di permukaan wajahnya.

Ah… apa maksud dari senyummu itu Koo? Puaskah kau sekarang melihatku tersiksa…, begitu ucapku dalam hati.
Ingat betul aku bagaimana besarnya perang kami dalam memperebutkan hati Ara, gadis pujaan hati kami berdua.

Sesungguhnya tragis sekali begitu menyadari sahabat karib berubah menjadi musuh hanya karena seorang “perempuan”. Tapi… perasaan kami berdua kepada Ara bukanlah permainan. Boleh diakui, bagi kami, Ara memang lah seorang “perempuan” mengagumkan yang sebegitu pantasnya untuk menghancurkan persahabatan kami berdua.

It’s a bit complicated, but that’s just the way it turns out to be.

Dan demi ego sebagai seorang lelaki, kami tak pernah mengakui menyerah ataupun meminta maaf. Yah, tidak satupun di antara kami berdua yang keberatan dengan status “bermusuhan” seperti ini.

Karena, di hatiku sekarang, Ara lebih penting daripada siapapun.

“Ingat Ras, meski sampai sekarang posisimu lebih menguntungkan daripada aku, sampai saat ini pun Ara belum berkata ‘tidak’ kepadaku” ia berkata itu tepat di telingaku. Bisikan yang tegas.

“Aku tahu,” Aku lepaskan tangannya yang mencengkeram keras bahuku, “hari ini ia akan memberikan kita keputusan.”

“Hmm.”

Kami berdua termakan keheningan. Lalu, tanpa sadar, aku lepaskan isi hatiku.

“Aku berharap ‘masalah kita’ ini segera berakhir dengan cepat”

“Ya.” Ia menatap mataku tajam, namun di sudut matanya tampak seberkas kelembutan. “Yang kita butuhkan hanyalah penjelasan.”

Well, no matter how is our situation now, we were friends actually.

And after everything becomes clear, we know that we will eventually become friends once more. We know it, even though we are now in a war.

~*~

Koo menatap tajam punggungku yang perlahan menjauhinya. Aku tidak berani memandang wajah seperti apa yang ia pasang saat ini. Hanya saja, punggungku menyadari satu hal, matanya kini pasti sedang mengarah tajam padaku seakan melontarkan berjuta kutukan. Ia tahu, setelah ini aku akan bertemu dengan Ara. Ara, setahun yang lalu mengucap janji padaku kalau ia akan memberi kami jawaban. Namun, janji itu hanya ia buat untukku. Tidak untuk Koo. Dalam waktu setahun hidup kami tanpa Ara, pastilah Koo merasa jatuh dan terhempas.

Entah doa seperti apa yang ia lantunkan dalam hatinya kini, ucapku dalam benak hati. Aku merapatkan jaketku lekat ke dalam badan, malam itu terasa lebih dingin daripada biasanya.

Tempat kami berjanji untuk bertemu adalah sebuah taman bermain. Setahun yang lalu, Fairytale Amusement Park selalu dipenuhi dengan kerlipan lampu arena permainan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, segala sihir dalam taman bermain itu musnah. Fairytale Amusement Park sungguh berakhir menjadi sebuah Fairytale. Bekas-bekas atraksi permainan masih tersisa di antara semak-semak yang tumbuh riang selama hampir setahun penuh.

Taman itu sungguh gelap gulita. Lalu, aku menerobos masuk pagar-pagar yang kini telah berulir rerumputan. Berjalan melangkah pelan dengan segala ingatan pudarku tentang denah taman ini, aku berjalan menuju atraksi Horse Carousel, Merry-Go-Round. Aku berdiri di samping salah satu kuda yang berpose meringkik menuju langit. Dari dalam saku jaketku, aku mengambil sebuah lilin kecil dan pematik api.

Aku nyalakan lilin itu dan kemudian mengarahkannya ke sekitarku.

Tempat itu terasa hening, dan gelap. Hingga akhirnya, seseorang muncul, sebuah lilin kecil ia pegang di tangannya, ia terduduk di salah satu kuda yang ada.

“Kau datang, Ras.” Itulah kalimat pertama yang ia ucapkan.

Aku tersenyum. Beban berat yang menggantung di hatiku kini lenyap begitu saja. Gadis yang aku cintai kini ada di hadapanku.

“Ara…” aku berjalan mendekatinya. Ia pun turun dari kuda yang ia singgahi.

Kami saling menghampiri hingga akhirnya jarak di antara kami begitu dekat. Di wajah dari masing-masing kami mengembangkan senyum yang sama. Lalu kami berdua saling menyodorkan lilin yang kami pegang. Bersamaan, kami memejamkan kedua mata kami –masih dengan tersenyum. Lalu…

Fuuh…

Kami saling memadamkan lilin yang disodorkan. Dan seketika itu juga, lampu kerlap kerlip Merry-Go-Round itu menyala. Lantunan musik mengalun mengiringi kuda-kuda yang kini bergerak naik dan turun dan berjalan dalam lingkaran. Merry-Go-Round yang seharusnya telah hilang fungsinya ini sekarang kembali hidup.

Inilah… sihir (cinta) kami.

~*~

Bersambung…

~*~

Read previous post:  
Read next post:  
80

Eh lampu yang muter2 itu namanya juga Merry Go-Round Ya? *baru tau*
.
Ditunggu kelanjutannya deh.
Salam kenal

:P
Salah haha.. Merry-Go-Round itu kuda yang muter2 XD Atau lebih sering disebut Horse Carousel :)

ok! Makasih sudah berkunjung~

di tunggu kelanjutannya :D

90

aku juga tunggu kelanjutannya deh hehehe ^_^

100

aku suka jenis2 cerita seperti ini, meski aku sendiri gak bisa buat cerita, hanya menjadi penikmat

*eum...sepertinya ada salah ketik sedikit (tapi pastinya aku lebih sering lagi salah ketik heheh)

berhubung cerita bersambung, tentu saja ditunggu kelanjutannya

salam kenal