Tantangan Lagu: Untuk Bintang Yang Dulu Pernah Kumiliki

Untuk Bintang Yang Dulu Pernah Kumiliki
oleh Amarillo Heinz

Untuk kesekian kali, aku kembali temangu di titik perjanjian ini. Terduduk sepi pada bangku reyot di pesisir pantai, memangku bungkusan hitam seukuran kepalan tangan, menyaksikan perbatasan hari yang kian mengelabu.

Ah, Edward, mustahil aku sanggup menyangkal. Setiap kali namamu tersenandung sengaja ataupun tidak, kedua mata ini tiba-tiba saja terasa panas berkunang. Segenap relung jiwa berkecamuk gembira, marah, sedih, dan juga sinting. Berbagai kenangan tentang dirimu sungguh terlalu indah untuk disia-siakan dan pula terlalu perih untuk dilupakan.

Sebenarnya entah sudah berapa banyak bintang lain yang berlabuh dan berlalu. Semuanya merah sepertimu. Semuanya menawarkan pelipur lara. Semuanya rela memerankan pengganti yang pantas. Tapi tetap saja, belum kuperoleh merah memikat seperti yang kaumiliki.

Ah, Edward, betapa merahmu membuatku tergila-gila. Selamanya kau tidak akan pernah tergantikan. Tapi bagaimanapun juga, dengan atau tanpa dirimu, hidup ini akan terus berjalan.

***

Kaulah sang mentari, bintang merah yang terlalu mempesona. Pusat segala semesta. Tidak terhitung bintang jelita yang mengitar patuh di sekelilingmu. Semuanya berkelip genit merayumu. Sementara aku hanyalah bintang kecil berekor yang tidak layak dipandang sebelah mata. Yang selalu berdiam rapuh di sudut kelam. Yang selalu memendam kekaguman sunyi tanpa tercurah. Yang selalu bermimpi melebihi batas. Yang selalu cemburu dalam bisu.

Namun siapa sangka, ada suatu masa ketika takdir mempertautkanku denganmu. Rasa ini berdegup tak menentu. Sungguh, berada di dekatmu mau tak mau membuatku berkilau hidup. Cahaya putihku sekonyong benderang memanjang. Kesempatan langka yang hanya muncul sekali seumur hidup.

Adalah keberuntungan, kau menoleh padaku. Adalah keajaiban, kau menarikku lebih dekat. Dan adalah mujizat teramat luar biasa, di antara milyaran bintang lain yang jauh lebih gemerlap, kau meminangku.

Tapi siapakah aku hingga layak mendapatkanmu bagai kenyataan yang melampaui mimpi? Kau terlalu elok. Tanpa cela. Jadi walaupun hasrat ini melayang ringan, namun logika masih cukup membumi. Aku yakin, kau sedang berolok-olok.

Maka segera kaubuktikan keteguhan. Setinggi apapun pagar yang kudirikan, kaulompati dengan ketulusan dan nafsu. Sekokoh apapun tembok yang kubangun, kaudobrak dengan janji kehangatan dan kemapanan tanpa batas. Pertahananku luluh lantak. Aku tidak berdaya. Aku takluk. Dan akhirnya di tepi pantai di malam yang sangat panas itu, kupasrahkan diri seutuhnya padamu.

Setelah itu, tidak kauijinkan lagi aku kembali ke pojokan. Ke atas singgasana agung kau mengundangku. Bersanding denganmu, bersama-sama mereguk segala kebahagiaan yang mungkin ditawarkan dunia. Ah, sensasinya sungguh tak terlukiskan kata. Tidak pernah terbayangkan hidup semegah ini adalah nyata adanya.

Aku tidak ingin mati. Bahkan aku tidak ingin terlelap sedetik pun.

Aku ingin terus merasakan kenyamanan ini dalam kekal.

Edward, kaulah raja atas segala raja. Sang dewata maha mulia.

Ijinkan aku selalu berada dalam pelukanmu. Selamanya.

Tapi sebagaimana takdir mempertemukan, akhirnya takdir pula yang memisahkan. Janji tinggallah janji, sebagaimana yang terjadi pada bintang-bintang yang hadir sebelumku. Musim berahi berganti, saatnya jabatan ratu beralih. Saatnya untuk menyambut kedatangan bintang baru yang masih bening gemerlap.

Meski jiwa ini murka berkeping, tapi kucoba untuk mengerti. Waktu berlalu, kau masih saja tetap indah. Masih saja terlalu sempurna, malah semakin merah. Sebaliknya sinarku semakin redup. Setelah segalanya yang kutitipkan padamu, tidak ada lagi tersisa yang bisa kubanggakan. Kita tidak lagi sepadan.

Ya, kukira aku bisa mengerti. Bahwa mungkin yang kaudambakan adalah tropi kehormatan. Kebanggaan buta. Kenikmatan sesaat. Lagipula tidak pernah kusesali sedikit pun momen-momen surgawi itu. Harta warisan kebersamaan kita yang paling berharga. Hanya mengingatnya dalam angan, walau fana, sudah lebih dari cukup untuk mengangkatku ke atas puncak kenikmatan.

Sekali lagi, meski perih, aku mengerti. Kuterima lapang dada keputusanmu melengserkanku. Menuju ceruk gelap yang sempat terlupakan, aku pulang. Hari-hariku berlanjut kelabu dan senyap. Nafas terasa berat menggigil. Lambat laun hartaku mulai menyusut habis.

Aku takut. Seiring waktu, ingatanku memudar.

Baru kusadari, segalanya telah berubah. Tidak bisa lagi kujalani hidup seperti aku yang dulu. Karena kini kau sudah menjadi esensi utama hidupku. Merahmu telanjur menjadi candu.

Ragaku memberontak. Tanpamu, aku berat.

Jiwaku gelisah. Tanpamu, aku sekarat.

KAULAH TUHANKU!

Berbagai cara kucoba untuk menghadirkan kembali aromamu. Satu demi satu berujung gagal.

Merah...

Nekat, kucoba untuk kembali padamu. Bertelut. Memohon. Tapi segala jalan telah kaututup rapat.

Merah.

Akalku mulai penat. Putihku bergolak histeris.

MERAH.

Panik dan kalap, kuputuskan menentang takdir.

MERAH! MERAH! MERAH! MERAH! MERAH!

Kucabik dadamu.

***

Senja menggantung kian berat dan sudah saatnya menutup lembaran nostalgia. Kuraih bungkusan hitam yang sedari tadi teronggok lekat di pangkuan. Mustahil aku tidak tergoda mengintip ke dalam.

Sebentuk jantung kaku bergelimang merah busuk.

Ah, Edward, betapa aku merindukanmu. Yang kali ini pun masih belum mampu menyamai merahmu. Tapi lebih baik ada daripada tidak sama sekali. Karena tanpanya, tidak mungkin aku bisa hidup.

Setelah melemparnya jauh ke arah lautan, kukira aku sempat termenung lagi. Tanpa kusadari, seseorang menyapa dari belakang. Lelaki matang, atletis, putih, dan tampan. Merah baru? Mungkin. Lekas-lekas kukenakan cadar kemalangan tersamar.

“Mungkin secangkir teh atau kopi bisa membuat perasaanmu lebih baik?”

Malu-malu kuangkat wajah dan sejenak sorotku menyelam jauh ke dalam bola mata coklatnya. Ya, niatnya memang murni. Tapi tentu, aku harus menggeleng. Pejantan itu tidak menyerah dan mulai membujuk dengan segala cara hingga akhirnya aku tidak punya pilihan lagi selain mengiyakan.

Ia tersenyum lebar. Puas. Penuh kemenangan.

Aku juga. Karena telah kupastikan, ia MERAH.

Edward, kau memang bukanlah satu-satunya. Yang satu pergi, yang lain datang. Dan lihatlah, secepat kilat telah kutemukan lagi yang lain. Meski sepertinya masih belum semerah dirimu, tapi aku sudah terbiasa. Akan kubuktikan, dengan atau tanpa dirimu, hidupku akan tetap bergairah.

Pada akhirnya di antara jutaan bintang merah, pasti akan kutemukan satu yang sepertimu. Merah berkobar liar. Merah surgawi yang dulu pernah kumiliki namun terhilang.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
80

Sadis, ganas, dan berbahaya. Wuooo, anda benar-benar menghayati peran anda sebagai psycho. XD. Keep writing!

100

Puah kereeen, kamu pinter merangkai kata
Iriiiiiiii *cabik-cabik*

90

aku suka merah, wkwkwk
hidup psiko! :D
tapi kurang ngeri kak :D

80

lupa moin :P

Thx

om, maksudnya "Sementara aku hanyalah bintang kecil berekor yang tidak layak dipandang sebelah mata" itu apa ya? semacam merasa tak pantas kah?
karakternya penuh keraguan, plin-plan, rapuh tapi licik, tipe karakter yang bikin saya emosi (tanda pembaca larut dalam cerita anda) :D

Berhubung temanya bintang, jadi ya si cewenya kuandaikan komet sedangkan cowonya matahari. Dan komet kan nyaris gak ada artinya di tata surya.

Jadi ya begitulah, tentang cewe biasa yang jatuh cinta ama cowo primadona. Cowonya suka gonta-ganti. Cewe terlanjur cinta mati dan dalam desperate akhirnya jadi psikopat.

100

Karena terlalu meyakinkan, ini berpotensi menakutkan... XD

Hiiiiiii.....

80

hooooooooooeeeeeeeeee.......cinta seorang psikopat...heuheuehue...keren...mudah2an ga ketemu tu cewek...

Saia juga gak mau.

90

wuaaw... evil queen...
mantap kali cerita ini, kak heinz. #duajempol#
#terpesona#
lagu every heart-nya jadi berkesan suram, waaah, harusnya untuk cerita ini every heart-nya diaransemen jadi gothic rock. hohoho. #maap ngegaje#

Hehe, gak inget lagu every heart yang mana.
Lagian yang laen pada ceria semua.
Thx

80

Astaga sadisnyaaa. Ternyataaaa.

Ternyata oh ternyata.

100

KEREN.

Thx

80

hiks-hiks aku menangis

Yah, kok nangis?

100

Hm, sekedar iseng-iseng mencoba jadi psycho.
Bener-bener cape....