Quête Pour Le Château de Phantasm - épisode 14

Malam panjang penuh pertarungan telah berlalu berganti pagi. Fajar pun menyingsing menggantikan gelapnya malam dengan bilah – bilah sinar hangatnya yang menyelinap di antara pepohonan pinus yang menjulang menyambutnya. Sebuah hari yang baru telah lahir.

Edgar perlahan membuka mata saat salah satu bilah sinar matahari menerpa wajahnya. Saat ia mengenyam situasi dan kondisi lingkungannya, ia menemukan dirinya duduk bersandar pada pohon pinus bebatang besar dan rimbun. Di kiri dan kanannya masih terlelap Eik dan Sion dengan posisi yang tidak nyaman. Sejak dirinya tak mengingat persis kejadian terakhir sebelum ia tidur, maka siapa yang menempatkan mereka di tempat ini dan apa yang terjadi setelahnya menjadi pertanyaan besar dalam pikiran sang Summoning Scholar. Satu hal lagi, luka – luka yang mereka terima dalam pertarungan besar semalam seakan lenyap tak berbekas. Pemuda itu tak pernah ingat dirinya memanggil dewa manapun untuk menyembuhkan lukanya. Seseorang telah melakukannya untuk mereka.

Saat Edgar menggaruk kepala memikirkan hal tersebut ia tiba-tiba merasa kecewa dan kesal saat menyadari dan mengingat rambutnya yang telah terpotong habis menjadi cepak.

“Sialan kau Hades...”. Edgar merasa ingin terus memaki dan menyumpah Dewa Kematian yang telah menumbal rambut panjang dan indahnya untuk menebus kematian anggota keluarganya yang tersisa dan di saat yang sama ia mengkhawatirkannya. “Kuharap ia selamat.”

Topi toga favoritnya berada pada sebuah meja dari batang pohon yang dipotong rata, begitu juga dengan buku mantera yang telah menjaga hidupnya hingga saat ini. Saat ia berjalan untuk mengambil keduanya, terdengar suara seseorang yang sangat akrab di telinganya.

“Yuuhuu....sang putri tidur sudah bangun yaa..ups ternyata putri sudah botak ya....syahahahahaha..”

Tawa yang khas itu...Edgar melihat ke atas dengan rasa kesal. Dia di sana, seorang peri mengaku ratu bernama Wendy, sedang berbaring malas pada dahan pinus dan menatap rendah sang scholar dengan mata hijaunya.

“Apa kau bilang, lalat jelek!? Turun kau! Biar kurobek-robek sayap dekilmu!” balas Edgar mengacungkan kepalannya.

“Syahahaha sang puteri marah lantaran rambut indahnya berubah jadi daun pinus ! Syahahahaha..” ledek Wendy bereferensi pada dedaunan jarum pinus yang tak jauh darinya. “Kasihan sekali, kacungku yang satu ini, syahahahaha!!”

Edgar naik pitam. Gelap mata ia memanjat pohon pinus tempat peri itu berada namun dengan cara barbar yang menghilangkan keanggunannya. Tanpa ia sadari sepasang mata terbuka lebar menatapnya.

“Wahahahaha! Monyet! Monyet!”

Dia adalah Eik yang baru saja terbangun dan menunjuk-nunjuk sang Scholar merangkul batang kayu dengan kedua tangan dan kakinya. Ia tertawa terpingkal-pingkal sebelum terpental ke belakang akibat hantaman jilid buku yang dilempar Edgar tepat menonjok mukanya dan hampir membuatnya kembali tidur.

“Siapa yang kau sebut monyet!? Dasar monyet!” geramnya menghunus kepalan.

Eik bangkit kembali sambil meringis memegangi hidungnya yang berdarah.

“Sakit tahu! Kau mau buku ini kubakar, hah!?”

“Jangan coba-coba lakukan itu. Sentuh sedikit saja kau bakal mampus dibunuh Dewi Penyihir.”

“Tapi kau yang membuatku menyentuhnya, landak!”

Ejekan yang terlepas dari mulut Eik kembali memanaskan darah Edgar. Mukanya memerah dan urat-urat menonjol di dahinya.

“Kamu benar-benar mau mati ya?”

“Tidak sebelum mayatmu.”

Keduanya saling menatap tajam. Aura membunuh yang amat kuat terpancar dari mereka. Satu percikan api di antaranya akan berakhir pertumpahan darah dan Wendy tak ingin itu terjadi. Dengan sayap kecilnya ia segera terbang ke tengah mereka untuk melerai.

“Hentikan pertengkaran ini, dasar kalian para kacung. Kalian membuatku malu. Harusnya kalian tunduk padaku sang ra....”

“Aku membawakan sarapan, tuan Eik!”

Tensi Eik dan Edgar menurun drastis bukan berkat usaha Wendy melainkan ucapan Senri yang menyela pidatonya. Saat mereka berdua mengalihkan pandangan, terlihat gadis itu menyeret seekor babi hutan besar dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya.

Kini giliran Wendy menggeram. Serta merta ia menempeleng kepala Eik dan Edgar dengan bakiak.

“Kacung lancang! Dengarkan aku selagi bicara, dasar kalian monyet!”, demikian gerutu sang peri ratu seraya membalikkan badan dan mendengus, hanya untuk diabaikan oleh keduanya.

Keributan di pagi hari ini turut membangunkan Sion. Ia tersenyum melihat tingkah laku teman seperjalanannya yang riuh. Setelah apa yang ia dan mereka alami hingga semalam, ia bersyukur masih bisa hidup dan melihat hari baru yang penuh harapan dengan satu matanya yang tersisa. Saat ia menemukan katana yang tersanding di sisinya, ia teringat akan sang “Pemilik Toko” dan orang tua yang bernama Semit yang memperebutkan dirinya. Mereka masih aneh dan asing dalam pikiran pemuda berkuncir itu.
***

Sebuah anak panah melesat dan tertancap tepat di sela-sela jari Edgar saat ia berniat mengambil potongan daging babi liar panggang, membuatnya urung. Ia menyadari Senri yang melakukannya saat mendapati dirinya melepaskan tali busur yang ia genggam.

“Berbahaya sekali. Apa yang kau lakukan nona? Mencoba membunuhku?”

“Sarapan itu milik Tuan Eik. Tak ada yang boleh menyentuhnya selain Tuan Eik sendiri.”

Apa yang dikatakan Senri membuat Edgar mengalihkan sorot matanya pada Eik.

“Heh,monyet. Sebenarnya dia siapamu sih? Apa hubunganmu dengannya?”

“Agu uja ga tabu (aku juga nggak tahu)..” jawab Eik dengan mulut sibuk mengunyah daging dan membuat Edgar mendaratkan telapak tangan ke mukanya sendiri.

“Demi Thoth! Tak bisakah kau lakukan sesuatu terhadapnya?! Ia bisa membuat kita terbunuh sebelum kita mencapai Le Chateau de Phantasm atau mengalahkan babon kutub itu (Alcyon)!” teriak Edgar saat menarik kerah baju Eik dan menyemburkan ludah ke wajahnya namun pemuda api itu hanya menjawabnya enteng.

“Kita? Kau saja kali, aku nggak...”

Sekali lagi aura membunuh kembali terpancar dari mereka namun berhasil diredam oleh hantaman bakiak Wendy ke kepala.

“Berisik! Berlaku sopan saat makan di hadapan ratu!” tegas Wendy.

“Ya sudah! Lakukan sesuka kalian!”

Edgar yang terlanjur kesal berjalan menjauhi mereka untuk menenangkan diri.

Di balik sebuah batang pohon pinus, Edgar duduk bersandar merenungi berbagai peristiwa. Betapa banyak pengorbanan yang ia lakukan baik untuk memenuhi tuntutan sebagai Summon Scholar maupun yang tak ia harapkan, bahkan mengorbankan rambutnya yang selama ini ia pelihara keindahannya. Walaupun awalnya untuk memenuhi persyaratan Aphrodit namun lama kelamaan ia menikmatinya. Ia merasa memiliki sesuatu yang dapat ia jaga, yang ia sayangi dan banggakan. Namun sekarang, sejak kehilangannya demi menyelamatkan wanita yang menjadi satu-satunya anggota keluarga Maxwell yang tersisa, ia merasa sesuatu telah berubah dalam dirinya. Ia belum mengetahui dengan jelas apa itu namun yang pasti, hal tersebut mengganggunya.

“Setelah kehilangan rambutmu, kau semakin emosian, Edgar”

Dan pertanyaan yang ia cari telah ia dapatkan jawabannya, namun tidak berasal dari dirinya. Saat ia menoleh, Sion berdiri tersenyum bersandar pada pohon yang sama.

“Rupanya kau, Sion. Mau apa ke sini, meledekku juga?”

“Sejujurnya itu memang niat awalku, hahaha.” Jawab Sion sedikit tertawa “Saat kupikir hal itu bisa menyegarkan suasana hatimu. Namun sepertinya kau sensitif tentang hal ini, jadi kuurungkan.”

Edgar tak merespon dan sepertinya ia tak akan mau bicara untuk sementara waktu.

“Dasar Eik. Ia juga tidak mengizinkanku untuk menyentuh sarapannya, melalui gadis itu maksudku. Tetapi aku iri terhadapnya.”

“iri?” rupanya tak membutuhkan waktu lama bagi Edgar untuk kembali membuka mulut. “Apa yang membuatmu iri dari monyet bulukan itu?”

“Aku juga nggak tahu sih, namun aku merasa dia hidup bebas. Tak Mencemaskan apapun, tak ada beban dalam hidupnya dan ia pergi ke mana hati akan menuntunnya dan semangat itu...bagaikan bahan bakar yang tak pernah habis. Aku tak tahu bagaimana masa lalunya, atau apa yang memotivasinya untuk mencari Le Chateau de Phantasm, namun aku melihat dirinya sebagai petualang sejati.”

Sang scholar tak menjawab kecuali menatap Sion tajam. Sebuah tatapan yang seolah berkata “Kau berada di pihak siapa?” dan mantan pembunuh dapat membacanya. Ia pun segera merevisi arah pembicaraannya.

“Ah...aku bukan bermaksud memuji Eik atau sebagainya...walau aku baru saja melakukannya. Aku hanya merasa....sejak bertemu kalian di Porte Norde, aku merasa berubah...lebih hidup. Kau tahu di masa lalu, saat menjadi anggota pasukan Morket, aku membunuh banyak orang. ‘Blood-Eyed Sion’, kau pasti tahu reputasiku.”

Seiring Sion melanjutkan cerita lebih jauh, kedua tangannya terjalin erat. Tampak di wajahnya gambaran akan masa lalunya yang kelam.

“Aku membantai banyak orang dengan tanganku sendiri. Aku merasakan darah hangat terciprat pada wajahku dan anggota-anggota tubuh yang terpisah, terburai, dan berceceran terlihat langsung oleh mataku dan hal yang paling kejam adalah...bahkan aku tak merasakan apapun melihatnya. Tak muak sekalipun apalagi penyesalan. Yang kupikirkan saat itu adalah tanda bahwa musuh telah mati dan misi selesai. Aku telah menjalankan misi untuk negara yang kupercaya memihak pada kebaikan. Semua musuhku adalah pihak yang jahat. Orang-orang yang akan membunuh rakyat kerajaan Set. Guruku selalu bilang bahwa apa yang kulakukan adalah tindakan yang benar. ‘Kau berjuang demi negara’, ‘Kau berjuang demi kebahagiaan’, demikian guru selalu memujiku. Namun ketika semakin banyak orang yang kubunuh, aku merasa sesuatu dalam diriku telah bangun.”

Mata Sion menjadi merah dan wajahnya berubah. Ia mengeluarkan aura membunuh yang amat kuat dan membuat Edgar meningkatkan kewaspadaannya.

“Aku ingat di suatu malam di musim semi, dalam sebuah peperangan melawan hyraphter. Kami memenangkan perang dan sebagian besar adalah berkat perjuanganku membantai sebagian besar pasukan musuh. Aku tidak merasa bangga sedikitpun. Saat itu entah kenapa aku mendengar prajurit yang kubunuh bergumam memanggil nama seseorang ketika ia sekarat. Aku tak tahu siapa nama-nama itu namun aku yakin mereka adalah orang-orang yang amat disayanginya. Mungkin ibunya, istrinya, anaknya, kekasihnya, keluarganya, dan apa yang kulihat selanjutnya sulit kupercaya. Dengan mata merah menyalaku, aku melihat bayangan-bayangan ingatan akan kebahagiaan hidup mereka melayang ke udara. Istri dan anak yang amat menyayangi suaminya, yang berharap dan berdoa untuk kepulangan sang ayah dengan selamat dari medan perang. Seorang pria prajurit yang berjanji akan menikahi kekasihnya seusai perang. Serta keinginan seorang pemuda untuk membanggakan ayah dan ibunya dengan menjadi pahlawan. Dan semua harapan itu telah pupus, direnggut, dikoyak oleh tanganku. Yang tersisa hanyalah darah yang menempel di bilah pedangku. Aku merasa selama ini diriku telah mati.”

Kewaspadaan Edgar mengendur ketika air mata tumpah dari mata merah Sion. Ia memutuskan untuk mendengarkan kelanjutan ceritanya.

“Aku merasa pedang yang kugenggam menjadi sangat berat, lalu terlepas dari genggamanku. Ketika kami kembali ke basis dan merayakan kemenangan dengan berpesta pora meminum arak, aku hanya terduduk lesu dalam bangku barak. Aku melihat kedua tanganku gemetar dan meragukan kebenaran dari apa yang kulakukan selama ini. Air mataku tak berhenti tumpah. Aku merasa beban ini semakin berat dan terlalu berat untuk kupikul. Guruku menyadari dan merangkulku. Aku bilang padanya bahwa aku sudah tak ingin lagi membunuh. Sebab aku merasa tersiksa karenanya. Aku pun mengutarakan keraguanku tentang kebenaran yang selama ini ia ajarkan padaku.”

Sion rehat sejenak untuk menenangkan isaknya dan mengambil napas dalam. Edgar yang menjadi antusias penasaran akan lanjutannya.

“Lalu apa yang gurumu katakan?”

“Tidak. Ia tidak menjawab secara langsung kecuali berkata bahwa waktuku semakin dekat pada kehidupan. Ia tidak menyangkal akan sanggahanku terhadap ajarannya maupun ikut setuju denganku. Meski demikian tak ada niat sama sekali diriku untuk menyalahkan dirinya. Aku sangat menghormatinya. Ia telah membesarkanku, mengajariku untuk hidup, dan mengajariku akan kebenaran meski pada akhirnya aku tahu bahwa kami telah menempuh jalan yang salah. Kami diperalat oleh pemerintah kerajaan.”

“Itu sebabnya kau melarikan diri dari kerajaan?”

“Kurang lebih seperti itu. Hanya semalam sebelum aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan membunuh ini, panglima pertahanan pusat kerajaan mempromosikanku menjadi pemimpin pasukan Morket, menggantikan guruku. Dan untuk itu aku harus membunuh guruku. Aku menolak tawaran itu dan mengajak guru untuk keluar dari kerajaan namun beliau tak ingin mengkhianati negara. Maka dari itu, beliau mengorbankan dirinya dengan menyerang pasukan yang mengejarku hingga terbunuh. Berkat pengorbanannya, aku bisa lepas dari kerajaan Set. Namun menghentikan diriku sendiri dari dunia bunuh membunuh tak semudah yang kubayangkan. Banyak orang yang takut padaku, dan menginginkanku sebagai Blood-Eyed Sion. Mereka menginginkan diriku yang lama dan bahkan berusaha mengembalikannya dengan mencoba membunuhku. Aku tak bisa melepaskan diri dari Blood-eyed Sion bahkan jika aku menjadi penakut sekalipun. Meski demikian aku percaya suatu saat nanti aku bisa hidup sebagai diriku yang aku inginkan, dan untuk itu aku perlu tujuan hidup, aku perlu seorang teman yang dapat berbagi suka dan duka. Saat itulah aku bertemu Eik, ratu Wendy, dan dirimu. Melalui kalian aku merasakan kembali kegembiraan, kebahagiaan, bahkan rasa takut, cemas, dan kesedihan. Hal itulah yang membuatku hidup. Terus terang aku tak tahu apa yang kuinginkan saat kita menemukan Le Chateau de Phantasm nanti, namun aku hanya ingin ikut mewujudkan obsesi kita bersama. Inilah yang semakin membuatku lebih hidup. Atau mungkin ini yang ingin kuwujudkan jika memperoleh kekuatan sang kastil khayalan itu, membuat diriku ‘hidup’.”

Seiring dengan akhir cerita Sion, matanya kembali normal dan aura membunuh itu lenyap. Kini hanya tinggal senyuman yang tersungging di bibirnya dan menular pada Edgar.

“Jadi tak usah membenci Eik hanya karena ini, Edgar. Itu hanya ciri khas hidupnya yang membuat kita hidup. Aku senang bersama kalian.”

Sion menepuk bahu Edgar hingga membuat sang scholar melupakan amarah dia sebelumnya, sesaat sebelum Senri datang menghampiri mereka dan berseru tanpa menatapnya.

“Tuan Eik mengizinkan kalian menyantap sarapannya. Sebaiknya kalian kembali ke sana sebelum dagingnya habis.”

Edgar dan Sion saling berpandangan sejenak dan tersenyum. Keduanya kemudian bangkit untuk berjalan menuju panggangan.

“Terima kasih, Nona Senri.” ucap Edgar ketika melewati gadis itu.

“I-ini bukan kebaikanku...ini perintah Tuan Eik!” ucap Senri berusaha menutupi wajahnya yang tersipu.
***

Beberapa saat telah berlalu dan satu ekor babi liar panggang kini tak bersisa lagi kecuali tulang belulang. Dagingnya telah habis disantap oleh para pengembara. Eik yang menghabiskan paling banyak merebahkan tubuhnya kekenyangan. Terlihat perutnya menggembung dari balik bajunya.

“Hei monyet. Nggak sehat langsung tiduran sehabis makan. Jalan-jalan dulu sana biar makanannya cepat dicerna!” ucap Edgar yang risih melihat kelakuan Eik yang tak lazim dilihat di lingkungan scholar-nya.

“Halah biarkan saja seperti ini.” sanggah Eik enteng. “Aku sudah berhari-hari tidak makan. Sayang kalau cepat-cepat dicerna. Simpan saja dulu, nanti kalau lapar bisa dicerna lagi.”

“Memangnya kau ini apa? Sapi!?”

Pertengkaran antara Eik dan Edgar kali ini hanya membuat tawa di tengah-tengah mereka. Edgar tak harus tersinggung lagi seperti sebelumnya. Ini berkat motivasi dari Sion.

“Kita harus berterima kasih pada Nona Senri yang telah menyediakan kita sarapan.” Ujar Sion sambil mengarahkan semua pandangan pada Senri yang duduk bersandar pohon tak jauh dari mereka.

“Hmpp, tak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya melakukannya demi kepentingan Tuan Eik.” Gadis itu menyikapinya dengan angkuh namun sanggahan yang ia ucapakan justru mengundang rasa penasaran Edgar.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Eik, Senri? Mengapa kau rela melakukan apapun demi monyet api yang bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri seperti dia?”

“Hei, kau tak perlu menyebutku monyet, Edgar!”, timpal Eik yang keberatan.

Senri memandang Eik, melakukan kontak mata sejenak hingga ia tersipu dan memalingkan wajah.

“Tak ada alasan khusus. Aku hanya melakukan yang kuinginkan dan tak punya kewajiban untuk menjawabmu.”

Dengan jawaban singkat itu, Senri kemudian menyilangkan tangan di dadanya dan membiarkan para pengembara itu melongo. Bahkan ketika menanyakan hal yang sama pada Eik, pemuda itu hanya bisa mengangkat bahu dengan ekspresi bingung.

“Ngomong-ngomong soal terima kasih...” kali ini Wendy yang berbicara dari atas singgasana toga Edgar. “Kita seharusnya berterima kasih pada wanita misterius yang menggunakan baju zirah besi itu.”

Wendy mengacu pada Lavinia yang tiba-tiba muncul mengalahkan Vincent. Hal ini membuat Edgar kembali ingat akan hal penting yang terlintas di kepalanya saat ia bangun di pagi ini. Entah kenapa ia tak bisa mengingat apapun sejak Sion berteriak mengabarkan kedatangan satu batalyon pasukan kerajaan Set. Semuanya seakan hilang begitu saja.

“Wendy! Apa kau tahu apa yang terjadi pada wanita itu selanjutnya?!” tanya Edgar dengan rusuh.

“Syahahahaha, apa kau sedang resah akan kisah Wendy yang cantik ini?”

“Hentikan omong kosongmu dan mulailah bercerit.....BUAAAAAGG!”

“Lancang kau! Sekarang diam dan dengarkan ceritaku!” seru peri setelah menancapkan bakiak pada wajah Edgar.

“Dia adalah wanita misterius. Aku juga belum tahu siapa namanya tetapi aku mengenalnya dengan julukan ‘The Guardian of Light’. Sepertinya masih berhubungan dengan Vincent, orang yang ia kalahkan. Setelah kita bereuni dengan Sion, wanita itu segera melepaskan sihir penidur sekaligus penghilang ingatan sementara pada kalian. Aku pun melihat ia men-teleport kalian ke tempat ini sebelum kedatangan pasukan Set. Sepertinya ia juga memberikan sihir penyembuh pada kalian. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena wanita itu memancarkan aura yang aneh. Tidak terasa membunuh, tapi juga tidak menyenangkan. Semacam aura misterius yang entah kenapa seakan menciptakan teror tersendiri dalam diriku”.

“Jika dia melepaskan sihir penidur, mengapa kau tetap terjaga dan mengetahui semuanya?”, Edgar bertanya dengan nada serius hanya untuk dijawab Wendy dengan ledakan tawa.

“Syahahahaha, karena aku adalah ratu peri dan sihir macam itu tak mempan terhadapku, syahahahahaha...”

“Bohong, sepertinya wanita itu bahkan tidak menganggap keberadaan dirimu sama sekali.” Celetuk Eik tiba-tiba yang sukses menembakan panah menembus hati Wendy hingga ia duduk terpekur di atas singgasananya.

“Syahak....kau kan tak perlu berkata segamblang itu....” nada Wendy terdengar seperti mau menangis.

Cerita sang ratu peri membuat Edgar semakin curiga terhadap Lavinia. Ada sesuatu yang tak beres dengannya dan membuatnya gelisah. Pada siapakah ia berpihak? Apa tujuan sebenarnya? Apakah ia akan menjadi ancaman? Ketika pemuda itu memikirkannya, Sion bereaksi.

“Aku mendengar sesuatu.” ucapnya ketika indera pekanya yang sudah terlatih aktif kembali.

“Apa itu, Sion?”, tanya Eik meningkatkan kewaspadaan.

“Aku tak tahu persis tetapi....sepertinya tak jauh dari sini.”

Aneh. Biasanya Sion langsung merinding ketika merasakan kehadiran sesuatu yang asing seperti saat merasakan kehadiran Vincent yang ia anggap sebagai ‘Hantu Pohon’, namun kali ini berbeda. Ia mendengarkan suara itu bukan sebagai ancaman melainkan sebuah panggilan yang lembut dan ramah. Yang mengundang siapapun yang mendengarnya untuk datang.

“Sebuah lagu! Datang dari arah sana” cetus Sion menyimpulkan apa yang ia dengar.

Bergegas, mantan pembunuh itu bangkit dan berlari ke arah yang ia yakini sebagai sumber suara.

“Hei tunggu dulu!”

Ia bahkan tak menghiraukan seruan Eik yang akhirnya membuat para pengembara mengikutinya.

Langkah Sion terlihat sangat tergesa-gesa seakan tak sabar ingin tiba di tujuan. Edgar, Eik dan Senri mencemaskan apa yang menunggu mereka adalah sesuatu yang di luar mereka inginkan. Entah itu jebakan atau ancaman yang akan membahayakan diri mereka. Tetapi rasa penasaran membuat mereka mengesampingkan hal tersebut. Semakin jauh mereka mengikuti pemuda itu, suara deru air mengalir semakin jelas terdengar. Mereka mendekati bibir sungai.

Sion menghentikan langkahnya tepat di luar hutan, diikuti dengan Eik dan kawan-kawan. Di hadapan mereka terbentang sungai Flumine yang mengalir cukup deras dan di tengahnya terdapat sebuah perahu yang dinaikkan sebagian lambungnya ke darat. Tak jauh dari perahu itu, terlihat seorang wanita cantik dan anggun duduk di atas batu sungai sambil bersenandung.

“Rupanya dia...” ucap Sion dengan ekspresi terkesima. “...wanita yang kudengar senandungnya.”
***

Menyadari kedatangan para pengembara, wanita itu menghentikan senandungnya. Ia turun dari batu dan menyambut mereka dengan senyum.

“Selamat datang para pengembara yang dipandu oleh sayap-sayap kecil.” Sapanya dengan nada ramah. “Saya telah menunggu kalian.”

Mereka menatap wanita itu dengan ekspresi heran. Ia mengenakan pakaian panjang dengan dominasi warna biru dan putih dan jubah pendek tipis dari sutera di belakangnya. Wanita itu terlihat berumur dua puluhan. Ia tidak mengundang kesan misterius dan mengancam malah sebaliknya, hangat dan ramah. Meski demikian bukan berarti harus menurunkan kewaspadaan.

“Siapa kau?” tanya Edgar dengan buku yang terkesiap di tangannya.

“Nama saya Granchezta. Saya adalah pendayung gondola (perahu) dari Shanri-la.”

Jawaban dari Granchezta tampak sedikit menurunkan tensi para pengembara kecuali Eik yang untuk alasan khusus mendapat teror dari kata gondola.

“Pendayung gondola?”

“Benar. Saya diminta secara khusus oleh Mahaguru Bijak Tuan Sidatta untuk menjemput kalian dan mengantarkan kalian ke Shanri-la.“

Mendengar jawaban Granchezta, para pengembara saling pandang. Mereka berdiskusi sejenak mengenai sang penjemput ini dan Eik memutuskan untuk bertanya padanya.

“Apakah kau bisa dipercaya untuk mengantar kami ke sana? Apa buktinya kalau kau bukan musuh?”

“Jika anda meminta bukti...”, Granchezta tampak berpikir sejenak. “Aku tak punya bukti apapun, hahahaha”. Sebuah jawaban yang sukses mengecewakan para pengembara.

“Tugas saya hanyalah mengantar kalian semua menemui Mahaguru Besar Tuan Sidatta dan beliau berjanji akan membayar saya jika saya telah melakukannya.” lanjut sang pendayung dengan nada serius. “Namun jika kalian menolak untuk kuantarkan, saya tidak keberatan hanya saja kalian harus membayar biaya pembatalan.”

Eik langsung terkejut mendengar kata “biaya” dari mulut Granchezta. “Biaya pembatalan? Berapa?”

“24.000 Zeni belum termasuk pajak.”

“Tak masuk akal!” tandas Edgar. “Mengapa mahal sekali? Ini kan hanya pengantaran.”

“Perjalanan dari dan menuju Magma Culmina adalah sangat sulit dan penuh resiko, terutama bagi kami para pendayung. Kami harus menguasai kemampuan sihir mengendalikan air dan kekuatan untuk mengendalikan agar tetap stabil demi keselamatan penumpang. Belum lagi ditambah biaya perawatan gondola agar tetap prima”

“...dan jika kami tak mau bayar?”

“Saya akan memanggil Sheryu sang naga air untuk melumat kalian. Kalian akan diperas dan dipuntir hidup-hidup. Kalian akan melihat organ dalam tubuh kalian terburai dengan mata kepala kalian sendiri.” Granchezta menjawab dengan melepaskan aura membunuh yang sangat kuat dan sukses membuat para pengembara bergidik kecuali Eik.

“Ya sudah! Panggil saja naga itu!” tantang Eik mengagetkan teman-temannya. “Bagaimanapun juga aku tak sudi naik perahu jelek itu. Tidak sama sekali!”

Di luar dugaan, Granchezta justru menanggapinya dengan tenang dan aura membunuhnya lenyap.

“Anda tak perlu khawatir tuan Moonfang. Saya menjamin perjalanan ini tidak akan membuat perut anda bergejolak dan anda akan merasa nyaman. Kami terlatih untuk membuat nyaman penumpang apapun kondisinya.”

Eik melongo mendengarnya dan tensinya turun kembali. Para pengembara kemudian saling berdiskusi selama beberapa saat yang akhirnya membuat suatu keputusan.

“Kami percaya padamu untuk mengantar kami ke Shanri-la. Namun jika nanti kau berkhianat, kami tidak akan membayar dan akan melawan naga airmu dengan kekuatan kami.”

“Baik. Kalau begitu kita segera berangkat.”

Sang pendayung dengan penuh semangat berjalan menuju gondola dan mendorongnya kembali ke sungai namun setelah beberapa saat perahu itu tak juga bergerak. Granchezta menoleh pada para pengembara dengan senyum kepayahan di wajahnya.

“Bisa kalian bantu saya dorong? Berat nih...” dan ia sukses mendaratkan telapak tangan para pengembara ke wajahnya masing-masing.
***

“Maafkan saya telah merepotkan anda semua!” ucap Granchezta seraya membungkuk pada para pengembara yang sudah mendorong gondola bersama-sama.

“Jika kau tak kuat mendorong perahu ini, kenapa kau mendaratkannya di daratan?” ketus Edgar.

“Ah, itu karena saya tak menemukan tempat untuk mengikat tambang penahan di daerah ini. Seperti yang anda lihat, gondola ini cukup besar dan berat untuk kutahan dengan kekuatan saya sendiri. Jadi saya putuskan untuk menaikannya ke darat sambil menunggu kalian, he he he.”

“Oh begitu..” respon sang scholar dengan wajah masam. “Lalu, kapan kita berangkat? Lihat Eik sudah tak sabar” lanjut lagi sambil melihat Eik yang menyandarkan kepalanya pasrah untuk situasi yang terburuk.

Setelah melihat sekitar dan memastikan semua telah siap, Granchezta sang pendayung gondola memulai perjalanan membawa Eik, Edgar, Sion, Senri, dan Wendi mengarungi sungai Flumine menuju Shanri-la di Magma Culmina.

Kayuhan pertama Granchezta membuat para pengembara sangat terkesan. Bagaimana tidak, mengarungi sungai berarus deras menuju hulu dengan melawan arus tetapi sama sekali tak terasa guncangan apapun. Perjalanannya datar dan mulus seperti mengarungi sungai tenang, bahkan seperti berjalan di darat. Eik pun tercengang heran merasakan tak ada gejolak dari perut maupun kepalanya. Ia bahkan merasakan nikmatnya hembusan angin gunung yang bertiup bersama aliran air.

“Mengesankan!”, Sion berkomentar. “Bagaimana kau bisa melakukan ini Nona Granchezta?”

“Saya bekerja sama dengan para roh air untuk menenangkan arus air dalam radius tiga puluh meter dari gondola ini.”

“Roh air? Maksudmu Undine?” Edgar menimpali.

“Benar sekali tuan Maxwell, dan saya juga meminta Sylph, roh udara untuk berdamai dengan lambung tuan Moonfang agar tak bergejolak selama perjalanan. Jadi meskipun Tuan Moonfang sengaja membuat dirinya muntah. Lambungnya tidak akan bereaksi.”

“Profesional sekali nona pendayung” giliran Wendy berkomentar. “Aku suka denganmu, maukah kau menjadi kacungku? Syahahahaha”

“Terima kasih atas pujian anda yang mulia ratu. Maaf saya sudah mengabdi pada Mahaguru Besar Tuan Sidatta dan pemerintahan kota Shanri-la. Saya tak bisa menerima tawaran anda.”

“Owhh..” Wendy sedikit kecewa namun ia memahaminya saat melihat senyum ramah yang diperlihatkan Granchezta padanya.

Beberapa saat telah berlalu namun perjalanan terasa mulai membosankan. Pemandangan sekitar sungai masih didominasi pepohonan pinus. Sepertinya mereka masih belum keluar dari area hutan. Di antara para pengembara, Eik paling menunjukkan ekspresi kebosanan sedangkan yang paling terlihat tenang adalah Senri. Ekspresinya tak berubah sejak awal perjalanan. Ia duduk tenang memangku busur panah kesayangannya.

“Hei, Senri!” Eik memanggilnya tetapi gadis itu hanya melirik dari ujung matanya.

“Apa?”

“Kenapa kamu ikut kita? Kamu tahu ke mana kita pergi? Tujuan kita?”

“Kita semua pergi ke Shanri-la untuk bertemu dengan pendeta Sidatta untuk mendapat petunjuk jalan menuju Le Chateau de Phantasm. Begitu kan? Aku hanya ingin ikut saja. Tak ada alasan khusus.” jawab Senri ketus.

“Kamu tahu nggak perjalanan seperti apa yang kita lalui? Penuh dengan bahaya. Bahkan kami hampir kehilangan nyawa menghadapi orang es itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadapmu? Kami tak menjamin keselamatanmu.”

“Aku tahu hal itu. Apa yang akan terjadi padaku nanti bukan urusanmu. Nyatanya kau pasti akan membutuhkan bantuanku suatu saat nanti. Aku yakin itu.”

“Kenapa kamu yakin sekali? Dan kenapa kau selalu mengaitkan masalahmu denganku? Apa kita pernah sebelumnya? Apa kita satu keluarga? Teman? Kekasih?”

“Kau terlalu banyak tanya!” nada Senri terdengar kesal. “Diam dan lihat saja nanti, kau akan menemukan jawabannya.”

Percakapan mereka berakhir kurang baik. Eik membuang muka kesal sedangkan Senri kembali ke ekspresi sebelumnya. Dari dialog tersebut, Edgar menangkap bahwa gadis itu menyembunyikan sesuatu. Suatu hal yang cukup dalam dan rumit antara mereka berdua hanya saja ia tak mau mengutarakannya sebelum waktunya tiba. Untuk sementara ini ia membiarkan mereka seperti itu.

Dari tempat pendayung di bagian belakang gondola, Granchezta yang sejak awal tampak menikmati perjalanan sendiri pun berseru.

“Lihat, kita semakin dekat ke tujuan!”

Pendayung itu membuat semua mata tertuju pada arah ia menunjuk di mana serangkaian pegunungan yang berwarna abu-abu dan gunung tertinggi dan terbesar adalah Culmina dengan awan gunung yang menutupi puncaknya.

“Jadi kota Shanri-la ada di puncak gunung itu ya!?” tanya Sion dengan suara keras melawan deru arus sungai yang semakin deras.

“Tepatnya di bawah!” jawab Granchezta turut berteriak dan mengundang reaksi heran para pengembara.

“Shanri-la berada di dalam kawah Culmina. Tepatnya pada kantung magma (magma chamber) yang kosong setelah letusan ribuan tahun yang lalu!”

Pernyataan sang pendayung membuat masuk akal. Makna “Magma Culmina” adalah sesuai dengan harfiahnya yaitu di dalam magma gunung Culmina. Itulah mengapa banyak pengembara kesulitan menemukan kota tersebut.

Mendekati gunung, terlihat sebuah air terjun besar dari lereng gunung Culmina dan perahu mereka tepat menuju ke sana.

“Itu adalah gerbang air menuju Magma Culmina” seru Granchezta.

“Apa kita akan menembusnya?” tanya Edgar ragu melihat deras dan tebalnya dinding air pada air terjun itu yang mungkin akan menghancurkan bahkan kapal sekalipun.

“Tidak, tuan Maxwell! Mereka yang akan membuka jalan untuk kita!”

Sesaat kemudian apa yang mereka lihat sangat mencengangkan. Dinding air itu terbelah dan membuka jalan air yang tenang untuk masuk ke gua besar di belakangnya. Gondola yang mereka tumpangi dengan tenang melewati air terjun tersebut tanpa tetesan sama sekali dari atas. Air terjun pun menutup kembali saat mereka berada di dalamnya.

“Luar biasa Nona Granchezta” puji Maxwell penuh kekaguman.

“Terima kasih, itulah kemampuan kami para pendayung Gondola dari Shanri-la”.

Para pengembara bertepuk tangan pada pendayung tersebut tetapi Granchezta malah berdehem.

“Masih terlalu dini untuk tenang, saudara-saudara. Masih ada satu rintangan lagi.”

Sekali lagi mereka dibuat heran dengan pernyataannya. Ketika arus air menjadi tenang di dalam gua, namun beberapa meter ke depan mereka merasakan arus semakin deras dan kali ini mengalir searah perahu ke dalam gua.

“Para penumpang yang terhormat.” Lanjut sang pendayung seperti mengumumkan sesuatu. “Kita mendekati jeram Culmina. Mohon kembali ke tempat duduk anda masing-masing dan memasang sabuk pengaman. Bersiaplah untuk melewati jeram.”

Tiba-tiba sebuah sabuk kulit terpasang dengan sendirinya melingkari pinggang mereka di tempat duduk masing-masing. Saat akan menanyakannya pada Granchezta, tampak pendayung itu berkonsentrasi dan memajamkan matanya. Batang dayung ia sibakkan ke air dan mengangkatnya tinggi-tinggi, melayangkan butir-butir air tanpa terjatuh kembali. Hal yang sama ia lakukan pada sisi sebelah kanan hingga butiran air itu membentuk setengah lingkaran di atasnya.

Granchezta kemudian merentangkan dayung itu di depan dada dengan kedua tangannya sambil mengucap mantera.

“Wahai para Undine penguasa air Flumine yang bijak. Datang dan dengarkan pintaku. Bersatulah dan lindungi kami para entitas murni dari raungan zat seribu bentuk. Berkati kami dengan kemurnianmu.”

Serta merta butir-butir air dari sungai beterbangan ke udara, bersatu dengan butir setengah lingkaran sebelumnya. Para pengembara memandang takjub saat masing-masing dari mereka mengembang dan membentuk dinding air tipis. Perahu itu kini berada dalam dinding bola air.

“Dan..kita mulai!” seru sang pendayung mengakhiri ritual.
***

Saat gondola melewati atap gua yang semakin rendah. Para pengebara merasakan laju semakin cepat dan terus bertambah cepat.

“Awas!!” teriak Eik menemukan gondola berada di mulut lereng turunan curam. Sungai mengalir deras ke bawah dan penuh dengan jeram-jeram terjal. Perahu pun berjalan dengan kecepatan luar biasa melewati jeram-jeram kuat tersebut dan menyenggol batu dan dinding gua.

Para penumpang merasakan bantingan-bantingan hebat namun tak satupun dari mereka terpental dari tempat duduknya berkat sabuk pengaman kulit. Dinding air itu dengan luar biasa melindungi mereka dari benturan, bahkan cipratan air. Dan permukaan air khusus di bawah perahu yang tenang menjaga gondola tetap stabil dan tidak terbalik. Semacam waterpass besar yang menjaga objek di atas air tetap datar..

“Keren! Woohoo! Ini menyenangkan sekali!” Dan untuk pertama kalinya Eik merasakan keasyikan berkendara dengan transportasi air karena tak sedikitpun asam lambungnya bergejolak kecuali adrenalin yang meningkat. Begitu juga dengan para penumpang lain.

Di sisi lain, Granchezta tampak berusaha memegang erat batang pendayung. Ia mengendalikan laju gondola dengan menggerakkan batang itu ke kiri dan ke kanan menghindari benturan semaksimal mungkin. “Apa anda menikmatinya Tuan Moonfang!?”

“Sangat! Kau hebat Granchezta!”

“Kalau begitu bersiaplah untuk lompatan terakhir!”

Tepat beberapa saat setelah seruan sang pendayung, sebuah ngarai air terjun menganga. Arus semakin deras yang akhirnya membuat gondola terbang melompati ngarai. Jantung para pengembara seakan berhenti saat perahu berhenti di udara dan menukik tajam menuruni lereng dengan kecepatan yang sangat tinggi.

“Huwaaaa!!!” teriak mereka serempak ketika melawan gravitasi yang sangat hebat hingga rambut mereka berkibar kencang. Sion bahkan hampir pingsan. Gondola terus menurun menyusuri arung jeram turunan jalan ventilasi vulkanik yang curam tepat menuju Magma Culmina. Dan ketika di ujung pandangan mereka terlihat sebuah cahaya yang semakin terang, mereka hampir tiba di tujuan.

bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
80

yoosh..
Next,next,next

100

Bagian ini keren. Terutama yg paling terakhir, jadi mengingatkanku pada arung jeram..

100

Kika lupa belum komen bagian ini ><
Para senior emang pada master2,, keren semua ^^

lanjutan dari kak tsuki juga belum kika baca XD

100

Baca sekilas ><
Titip poin sementara
BUAGH itu sfx-nya kan? Mungkin kalau dikasih tanda - yang panjang (ada di icon MS word) lebih nampak kalau itu sfx (buru2 ke eps selanjutnya)

90

“Hentikan omong kosongmu dan mulailah bercerit.....BUAAAAAGG!”
Anoo... yang BUAAAAAGG itu kan sfx bakiak Wendy yang mengenai Edgar kan? Bukannya harusnya di luar dialog ya? kalau begitu tampak seperti Edgar sendiri yang ngomong begitu...
.
“Kenapa kamu yakin sekali? Dan kenapa kau selalu mengaitkan masalahmu denganku? Apa kita pernah sebelumnya? Apa kita satu keluarga? Teman? Kekasih?”
yang dibold itu, saya gak ngerti. Apa maksudnya 'Apa kita pernah bertemu sebelumnya?' atau bagaimana?
.
Beberapa kalimat ada yang kekurangan titik dan koma. Terasa aneh saja kalimatnya kalau gak dikasih titik atau koma.
Kata 'anda' kalau berada di dalam dialog, harusnya jadi 'Anda' kan? 'yang mulia ratu' itu panggilan kan? Semestinya jadi 'Yang Mulia Ratu' kan? iya gak sih? CMIIW >_<
.
setuju sama Ling, Senri gak konsisten. Dan flasbacknya Sion itu... jujur saja... emosinya gak dapet, terkesan datar. Dan kenapa malah muncul aura membunuhnya? Saya pikir Sion bakal sesenggukan sampai-sampai nangis meraung-raung dan yang muncul aura sedih/suram/kelam sekalian atau yang semacamnya. Sion jadi serius di sini... >_<
Eik terlalu serius waktu nanyain motivasi Senri ==a
.
Yang arung jeram itu juga sebenernya seru dan keren banget, tapi kenapa saya gak ngerasa apa-apa ya? padahal scene-nya kayak naik roller coaster, tapi ketegangan para penumpangnya gak nular ke saya... terasa biasa saja. Mungkin karena emosi atau ekspresi para penumpangnya cuma disampaikan secara garis besar saja ya ==a
.
Ta-tapi, overall... ini KEREN BANGET >_<
Yang saya sayangkan... banyak adegan yang menguras emosi, tapi feelingnya bener2 kurang dapet >_<

100

hmmm

100

nitip poin dulu, ga yakin sekali baca selsai (>.< hoho, jadi 3 x 5000 T_T)
~~setelah baca~~
aku paling suka lokasi magma culminanya, betul juga, di puncak gunung uda sering^^

90

woah, mantap! tidak tergesa-gesa dari awal sampai akhir d^^b
ada typo satu kak, tp ga ingat dimana :D

100

LIMA RIBU KATA D: D:
/syok/
Saya cuma bisa bantu dongkrak poin XD

100

Bagian di kapal asik banget
'please fasten your seatbelt...' he3...
terus yang main arung jeram juga seru

100

Aku mulai bisa menikmati cerita ini. Gaya penulisanmu bagus. Aku dapet feelnya.

2550

lima ribu kata... *speechless*
.
.
belum sempet baca. bantu dongkrak dulu.

100

ini asli cool banget.....
adem ayem tanpa darah berceceran.....
*mengharapkan nadia lewat dan pinjem bola mata sion yg satunya*
feel nya dapet bgt, konyolnya jg dapet.

100

Ada para pendayung? undine? ada Alicia juga dong! (kebanyakan nonton Aria)...
Sebenarnya dulu di bagianku aku nulisnya Magna Culmina, tapi rupanya sudah berubah bentuk menjadi Magma Culmina. ya sudahlah...
Soal lokasi udah dikomen om Zoel.
Ane cuma bisa bilang ini udah BAGUS BANGET!

90

mantab..mantab,,,walopun sebenarnya mengharapkan adegan bloody ka vq...

shanrila oke..mengejutkan..tapi posisi magma culmina aja yg ga sesuai peta,,dh dikomen om zoel..mungkin karena ka vq ga sempat liat peta y..yasud...

terus,,masalah sion cerita itu juga terlalu kepanjangan dalam satu paragraph..idem kaia ries,,dibikin sepatah2...patah tangan, patah kaki *plak

kesanku si ka vq terburu2 bikinnya...tapi tetap mangstab...

Aneh ya ketika aku menghabiskan banyak waktu untuk bikin cerita ini senyaman mungkin tetapi masih dibilang buru-buru. Ya sudahlah, tentang cerita Sion ini namanya Flash Back dalam dialog karakter (cerita dalam cerita) jadi aku membuatnya singkat,padat dan to the point. kecuali kalo aku membuat paragraf baru yg lengkap dan detail tentang masa lalu Sion. Namun panjangnya bisa 10.000 kata.


Terus terang saja awalnya aku berniat bikin flash back Sion secara lengkap dan detil termasuk adegan2 berdarah-darah, badan putus, usus terburai, otak berceceran (Berserk mode). Tapi sayangnya dia bukan OC buatanku.

Huaa... pengen liat adegan berdarah-darah, badan putus, dll... <3 <3 (loh?)

100

Kasi poin terus tinggalin--lagi nenggelemin diri ama ceritanya Edgar (berusaha keras buat nyembuhin WB).
Ntar pasti kubaca!!!

100

Maaf kalau chapter bagian saya menyusahkan...
T_T
===
Sedikit bahan editan, Om. Toga Edgar dah hancur di chap sebelumnya. Juga soal lokasi Magma Culmina, pegunungan Saxea berada di timur laut hutan seribu pinus, sedangkan Magma Culmina berada di selatan hutan seribu pinus. Jadi berdasarkan peta, Magma Culmina tidak berada di antara Saxea. Mungkin bagian Saxea bisa di ganti kalau mereka melalui hutan seribu pinus bagian selatan yang sudah terbakar, lalu sisanya tetap sama.
===
Lepas dari itu semua, ini dah keren menurutku.

Sekali lagi saya minta maaf karena penutupan yang saya buat dah nyusahin, Om... ^^'
*bows*

Wah maaf kalo salah lokasi. Petunjuk keberadaan Shanri-la yg kupakai adalah dari chapter2 awal cerita di mana Wendy menyebutkan bahwa mereka harus menemui Sidatta di Kota Shanri-la yang ada di Magma Culmina di pegunungan Saxea

2550

Ups. Double post.

Saya suka chapter ini. Peralihannya ga separah yg saya kira pas ngeliat komennya xDD. Mungkin bakal ada yg bilang kurang seru kalo dibikin gini, padahal lagi battle, tapi peralihannya rapi kok. Saya suka. Antar karakter lumayan bagus. Ada yg kurang konsisten di senri, pas di kapal sikapnya ke Eik rasanya agak lebih cuek, tapi ga banyak. Tapi pas bagian Sion cerita itu apa nggak terlalu buru2 langsung diceritain semuanya? Dalam dialog lagi. Rasanya kolab kita ini masih bakal mengarah ke Set nanti dan saya pikir detail tentang masa lalu Sion baru bakal kebongkar semua di situ xD. Kayaknya Sion juga ga bakal sanggup cerita se 'komplit' itu, adanya malah udah nangis meraung2 di tengah2 :p. Kalopun sanggup pasti patah2 sambil sesenggukan. Kalo mau/sempet revisi, gimana kalo dibikin sion ngomongnya sepatah2/tersirat aja? Ga usah sampe selengkap itu, mungkin cuma bagian yg dia ngebantai sekeluarga + pesta kemenangan itu? Terus ditambah yg sion dijauhin orang sampe ketemu eik dkk (jangan lupa sambil berderai2 :p). Kalo sempet aja... Sebenernya saya suka adegannya, cuma penyampaiannya rasanya agak kaku :D.
.
Posisi shanri-la... Saya suka... Terutama 'arung jeram'-nya xDD. Masih nyambung kok.

Niat Sion bercerita masa lalunya hanya untuk menghibur Edgar, namun karena jiwanya masih labil keterusan deh. Lagipula kalau aku bikinnya terisak-isak nanti dialognya ga enak dibaca. "Pada...waktu..itu...."


Soal Senri, karakteristik mengacu pada thread OC di group yang bilang bahwa Senri bersifat Tsundere, jadi aku bikin dia se-Tsun-Tsun-Dere-Dere mungkin

Mungkin terisak-isaknya agak diujung-ujung, misalnya pas nyeritain penyerangan ke Hyraphter, yang agak belakang, terus pas nyeritain gurunya 'berkorban', sama yang 'aku senang bersama kalian'...
.
O ya, soal yang nyuruh Sion ngebunuh gurunya, itu bukan panglima kerajaan, tapi ratunya langsung (yang bisa 'mengaruhin orang' kan si ratu xDD). Di trit OC bagian Sion emang belum saya jelasin, tapi ada saya tambahin di bagian Ratu Circe :p.
.
Tsundere-nya bukannya ke semua orang kecuali Eik? xDD. Untuk sifat satu itu ga usah khawatir, udah mantep.

kalo pernah baca tulisan aksi om vq yang sampe ada adegan ngeremes biji, pasti kepengennya baca tulisan aksi lho... hehehe

Lol... Di bayangan saya antara itu atau cooling down versi horor komedi, ada Nadia lewat xDD

saia inget yg itu...XD

90

whoops cooling down... yaaaaaaaaaaah hehe, padahal kepingin bacok2kan lagi sampai magma culmina shingga jadi 'Bloodway to Culmina' XD

hehe okeelah bos, namanya jugak kolab :)

kan adegan itu sudah kau ambil semua.

Karena saya sudah berjanji sebelumnya, saya mampir dulu titip poin ya kak >.<. Nanti aku edit lagi. Dan maaf sebelumnya saya blm jg blm baca chapter2 yg lalu..kalo sempet aku jg mampir deh, hehee :P. (mklum saya udah lama bgt ga bergelut di dunia baca-membaca fantasy :P #berkilah). Kalo yang sejauh aku baca, tadi nemu typo (baru satu) terus...sepertinya gaya bahasanya agak nggak formal dan agak beda dari gaya kak VQ (maap klo agak sotoy, hehe). Save spot dulu :D

aku bahkan sudah lupa gaya bahasa kyk gmn yg pernah kupakai dulu. Akhir2 ini aku bahkan hampir tidak pernah memasukkan dialog dalam ceritaku

aku agak ingat karena kemarin2 suka baca2 karyamu :P
Tapi yg ini aku suka kok kak ^^. Oke, aku edit sekalian ya reply-anku..sudah selesai bacaaa xD

EDIT

Aaaaa, gawat! Nggak bisa edit postingan..TT^TT. Po-poinnya.. maaf kak VQ, poinnya lewat..hiks..

Baik, overall: AKU SUKAAA!! >u<
Padahal aku baru ikutin dari bagian kakak, hehe (ngumpet), tapi aku nggak terlalu lemot bacanya,xD (kekuatan lemot sedang tdk menghukumku, xD). Nyambung dan dapet feelnya mereka, meski terkadang masih harus agak mengingat ini yg orgnya kayak gimana. Hmmm, aku tau kenapa ini beda dari gaya kak VQ (menurutku) yg dulu2 aku baca, soalnya..yang ini dialognya panjang2 ^^v (bahkan ada yg satu paragraf sendiri). Dan aku oke bgt dng hal itu, hidup suasananya. Hmmm, terus petualangannya seru >u<. Aku suka banget yg mereka naik gondola. Aku juga suka "tengkar"nya edgar sama Eik, lucu, wkwkwkwk. Dan suasana persahabatan itu, hangat dan menyenangkan menurutku. Nilai plussss!

Kekurangannya hanyalah pada tulisan kakak yg ga serapi dulu. Beberapa kalimat kehilangan titik/komanya, dan ada typo. Tp alurnya ngalir deras kok kak, hehehe. Kalo lebih rapi penulisannya pasti semakin ok.

Poin: 9.5 (ada ga ya poin segini? berhubung udah ga bisa moin, pake poin suka2 yak, wkwkwk #piss)

Ayo kak, bikin lagi, hohoho. Berjuanglah :D

Writers Note:
Mohon maaf jika kelanjutan yg kubuat ini menyimpang jauh dari alur sebenarnya atau OOC,bahkan OOT. Aku sudah sebisa mungkin mempelajari dari chapter2sebelumnya dan keterangan2 dari grup selama 3 malam ini.


Karena pada chapter2 sebelumnya penuh dengan adegan2 battle intens maka aku berniat cooling down di chapter ini, siapa tahu pembaca lelah dengan adegan pertarungan.



Aku tahu bahwa pembuka dari chapter ini tak sesuai dengan penutup pada chapter sebelumnya karena aku tak bisa memikirkan persis seperti apa kelanjutan adegan saat Xalvadur bangkit lagi (aku merasa penulis sebelumnya
kurang baik dalam menutup chapter). Juga dengan kemunculan Lavinia yg tiba2 pada chapter sebelumnya,sedangkan aku kesulitan mencari tahu motif dan karakteristik tokoh tersebut, jadi pada chapter ini hanya sebagai flash back saja.



Juga pada lokasi Shanri-la yang pada chapter 9 disebutkan berada di puncak Magma Culmina, aku juga merubahnya menjadi di bawah gunung karena alasan selera. Lagian kota suci di atas gunung sudah sering muncul (seperti Tibet).



Lalu bagaimana mengkoreksi ketidaksesuaian lokasi ini?Sebenarnya mudah saja karena aku merencanakan membuat Shanri-la ini adalah kota terapung.