Age Five : Prolog

“Wow, tinggi sekali!”

Mereka sedang berdiri di halaman sangat luas berlantaikan keramik. Di beberapa bagian ada taman kecil yang dikelilingi balok panjang sebagai tempat duduk. Bersama mereka berdua ada ratusan manusia lainnya yang berlalu lalang, atau pun duduk, atau melakukan hal lainnya. Dan dihadapan mereka, tiga bangunan hitam kembar yang tinggi menantang langit, dengan puncak berbentuk kerucut dan mengeluarkan api.

”Sungguh, ini indah sekali paman!” Sang pemuda, yang berpakaian panjang dengan sarung tangan dan penutup kepala, menatap kagum pada bangunan di depannya.

”Ya, dan luar biasa. Kau mungkin tidak percaya, tapi dulu sekali, kota ini pernah mati. Semua bangunan hancur dilalap alam, lima baris dinding besar kota ini juga rusak parah. Konon, saat itu kota ini terlihat seperti hutan di atas bukit. Tapi ketiga menara ini, tetap utuh tanpa kerusakan sedikit pun.” Seorang pria tua berjubah tebal berwarna keabu-abuan menjelaskan dengan bangga.

”Tridalry, alias Tiga Menara. Benar, memang tidak dapat... di... hachii!” Pemuda itu merogoh sakunya, mengeluarkan selembar sapu tangan dan membersihkan ingusnya. Dia lalu menangkap adanya tatapan aneh dari pria tua didekatnya. ”Kenapa, paman?”

Pria tua itu menghela nafas, tatapan sayu matanya seperti memancarkan keputusasaan. ”Ternyata memang bukan hanya perasaanku saja, keadaan benar-benar bertambah dingin.” Pria tua itu memandang ke langit, lalu ke arah barat, ke bulatan merah raksasa yang kesepian tanpa ditemani satu pun awan di langit yang kekuningan itu. ”Dan mulai jarang terjadi hujan.”

”Eh, sebenarnya aku memang sedang kurang enak badan tapi, benarkah?” Pemuda itu ikut mengalihkan wajahnya pada mentari sore, tapi ia segera menyadari ada yang tidak biasa dengan lingkaran langit. Meskipun samar, ia melihat ada garis-garis lebar cahaya berwarna hijau, bergerak-gerak pelan seolah menari. ”Paman, cahaya apa itu?”

Sang pria tua ternyata tidak terkejut ketika cahaya tak biasa itu tertangkap matanya. Ia hanya mengamati sebentar, lalu menoleh pada si pemuda. ”Sebelum perang besar pecah, aku pernah berkelana jauh ke selatan, dan melihat pemandangan seperti ini. Cahaya ini seharusnya hanya terlihat di daerah dekat kutub.”

”Lalu, bagaiamana bisa ada di sini? Kota ini dekat katulistiwa, bukan?” tanya pemuda itu.

Sang pria tua menatap sang pemuda, dan memperhatikan wajah penasarannya. Ia mengerti betapa pemuda itu ingin tahu, tapi ia sendiri masih bertanya-tanya. ”Kuyakin kau akan lebih terkejut mendengar bahwa ini bukan yang pertama kali. Akhir-akhir ini dunia mulai aneh. Salah seorang temanku menuduh perang besar kerajaan-kerajaan di luar sanalah yang menjadi penyebab semua ini. Tapi ia sendiri tak punya bukti yang meyakinkan.”

”Oh, .. ha ... hachi!”

”Mungkin sebaiknya kau segera pulang keponakanku, sebelum semakin dingin. Aku tidak ingin kau sakit di hari pertamamu pindah kemari.”

”Baiklah, dan paman?”

”Aku akan menyusul sebentar lagi.” Pria tua itu tersenyum, sambil menyaksikan si pemuda berjalan menjauhinya.

Matahari akhirnya terbenam, tapi pria tua itu tak kunjung pergi dari tempat itu. Ia hampir seorang diri di sana. Beberapa orang memang masih terlihat, tapi sebagian besar berjalan menuju menara, untuk berlindung dari sengatan udara senja yang semakin dingin. Sebagian yang lainnya mungkin pulang ke rumah masing-masing. Sambil menikmati taman kecil itu, sang pria tua duduk, dan termenung. Mencoba mencari dan menerka jawaban atas segala keanehan yang dilihat dan dialaminya. Ketika wajahnya tengah mendongak, memudahkan matanya melihat cahaya-cahaya hijau yang belum juga hilang dari langit yang menghitam bertabur bintang, seorang pria tua lain menghampirinya.

”Jangan katakan kau belum bisa menjelaskan itu!” Pria tua lain yang berpakaian hampir sama itu duduk, dan ikut memandang ke atas.

”Sayangnya, keadaannya memang demikian, Yinzir. Sangat membingungkan, bagaimana denganmu?”

”Aku sudah selesai membaca kembali buku itu. Dan sekaranh aku punya dugaan lain, hampir sama, tapi eh, kira-kira lebih masuk akal mungkin.” Yinzir tak segera melanjutkan, ia malah tampak berpikir.

”Baiklah, kau membuatku penasaran.”

Yinzir menatap pria tua kawannya itu sambil tertawa kecil. ”Perhatikan, Gaojhi!” Yinzir mengangkat tangan kirinya, dan menyingkapkan lengannya yang kecoklatan. Lalu muncul kabut-kabut ungu, yang bergerak mengelilingi lengan kiri Yinzir. Kabut itu lalu berpendar, dan tak lama kemudian warna coklat kulit Yinzir telah tertutup pendaran ungu kabut itu. Ketika kabut itu akhirnya lenyap, tangan kiri Yinzir telah berubah seperti terselimuti metal berukir, dengan sepasang rantai mencuat keluar dari punggung telapak tangannya, dan dengan sebuah bola logam berduri di ujung masing-masing rantai tersebut.

Yinzir lalu mengalihkan pandangannya pada Gaojhi, yang masih belum sepenuhnya paham yang dimaksudkannya.

”Aryunai?”

”Benar. Salah satu hal yang membedakan kita dengan pendahulu kita, bangsa Namsaryan, adalah kekuatan ini.” Yinzir mendekatkan tangan kiri mengkilapnya pada Gaojhi. ”Tapi sekarang, kita mampu menguasainya lagi. Membuat perbedaan antara kita dan mereka semakin tipis.”

Gaojhi mengangguk-angguk.

”Persamaan yang lain, adalah bangsa kita, dengan klan yang lain, juga memicu perang besar.”

”Hmm, jadi kau masih menyalahkan perang ini?”

”Yah, bagaimanapun juga perang adalah masalah. Aku berasumsi bahwa Aryunai ini, seperti eh, ... semacam kekuatan terlarang. Dan sekarang, kekuatan ini dipakai secara besar-besaran dalam perang. Persis seperti yang pernah dilakukan bangsa Namsaryan.” Yinzir sesekali mengernyitkan dahinya, seolah ia belum sepenuhnya yakin dengan teorinya.

”Dan biar kutebak, kedua persamaan yang sudah kau sebutkan tadi selanjutnya akan membawa kita pada akhir yang juga serupa, musnah. Begitu?” Kali ini Gaojhi sudah paham.

”Semacam itulah, kita tengah mengikuti jejak pendahulu kita menuju kehancuran.” Yinzir menonaktifkan Aryunainya, dan lengan kirinya kembali seperti semula.

”Hmm jadi, menurutmu sekarang ini sudah ada seorang terpilih di luar sana yang akan melaksanakan eksekusi pemusnahan kita?”

”Kupikir tidak, Gaojhi. Buku itu jelas mengatakan bahwa kekuatan yang mengakhiri masa para Namsaryan, atau kita sebut saja ’Jurus Pemusnah’, diberikan oleh dewa pada si terpilih, yang saat itu adalah seorang Namsaryan bernama Azraliel. Dan buku itu juga dengan jelas mengatakan bahwa, bahkan sebelum misi selesai, para dewa sudah pergi. Tidak ada dewa berarti tidak ada Jurus Pemusnah. Jika kita benar-benar akan berakhir, pasti dengan cara yang lain.”

Gaojhi mengangguk, dan mengalihkan pandangannya ke depan, lalu ke arah langit hitam yang kini terbebas dari jerat cahaya hijau tadi. ”Hanya perasaanku saja, atau memang langit malam bertambah gelap tiap harinya?”

”Mungkin dari atas sanalah ’Jurus Pemusnah’ untuk kita kelak akan diturunkan. Yah, apa pun itu, kupikir cukup erat kaitannya dengan perubahan-perubahan aneh lainnya yang terjadi di planet kita ini. Tapi uh, aku belum bisa ...” Segaris cahaya merah tiba-tiba melintas secepat kilat di hadapan mereka, lalu menghilang kala menyentuh barisan pegunungan di jauh sana. Dan sesaat setelahnya, mereka merasakan gempa kecil. ”Meteor?”

”Ah, aku ingat. Astronom kita meramalkan akan terjadi hujan meteor malam ini.”

”Dan apa mereka bilang sesuatu tentang ’meteornya mencapai tanah’?” Yinzir masih mengarahkan wajahnya pada tempat jatuhnya meteor tadi, dan terlihat berpikir.

”Seharusnya bebatuan hujan meteor terlalu kecil untuk bisa menyentuh daratan.” Gaojhi juga merasakan hal yang lagi-lagi tidak biasa.

”Tepat!” teriak Yinzir. ”Dan aku punya firasat buruk tentang ini, kita harus berlindung. Ke menara!”

Dua pria tua itu segera berlari secepat yang mereka bisa menuju salah satu dari tiga menara yang sehitam malam. Selain karena itu adalah bangunan terdekat dengan mereka saat ini, menara ini diyakini sebagai peninggalan ajaib yang takkan pernah hancur. Beberapa penelitian pernah dilakukan, dengan hasil yang mencengangkan. Meskipun sudah ribuan tahun menara Tridalry ini berdiri, tapi tak segaris retakan pun ditemukan.

Sebelum sempat mencapai pintu besar menara, dua pria tua itu melihat meteor lain melesat. Mereka berdua sempat terhenti sebentar untuk menengok. Sedetik kemudian, Gaojhi sudah siap untuk kembali berlari tapi Yinzir malah tetap mematung.

”Apa menurutmu kita bisa menghentikan meteor-meteor itu?” tanyanya.

”Secara teori tidak, mereka terlalu cepat. Jangan gila, Yinzir!”

Mereka berdua lalu merasakan hal yang lain, semacam gelombang energi kecil, yang biasanya dipakai untuk memanggil jika teriakan biasa tidak cukup keras. Dan benar saja, di atas sana, di salah satu dari ratusan balkoni yang ada di setiap lantai menara, seseorang melambaikan tangan pada mereka. Dan dari gerakan tangannya, tampaknya ia ingin Gaojhi dan Yinzir segera menyusulnya di atas sana. Gaojhi memanfaatkan ini untuk segera mengajak Yinzir masuk.

Meteor lain terlihat melesat dan menembus lautan ketika Gaojhi dan Yinzir akhirnya sampai pada orang yang tadi memanggil mereka. Dengan pakaian yang hampir sama, pria tua ini terlihat mirip Gaojhi dan Yinzir.

”Oh, ini buruk. Hujan meteor tak pernah seperti ini sebelumnya.” kata pria tua itu panik. ”Menurut kalian, bagaimana bisa begini?”

”Entahlah, setidaknya kita aman di sini, Aotay.” balas Gaojhi.

”Ya, tapi... tapi bagaimana dengan yang lain?” Aotay tampaknya cukup khawatir, dan itu mengingatkan Gaojhi akan keponakannya yang mungkin masih di rumah. ”Mereka seharusnya sudah berlarian kemari.”

”Langit.” Dalam kondisi terengah-engah, Yinzir masih sempat berpikir.

”Teori baru, huh?”

”Udara yang semakin dingin, awan yang menghilang, cahaya hijau itu, dan meteor ini. Aku yakin sekali Gaojhi, langit kita yang bermasalah.” Yinzir lalu menatap Gaojhi, meminta pendapatnya.

”Sudahlah, sebaiknya kita jangan terlalu menyalahkan alam. Aku lebih setuju teorimu yang sebelumnya, kitalah yang mengacau.” Gaojhi menyandarkan punggungnya pada dinding menara. Ia terlihat lelah dan pasrah. ”Dan sebaiknya kita masuk ke dalam.” Gaojhi melangkahkan kakinya menuju pintu, membiarkan kedua temannya yang masih berdiri di balkoni menara.

Tapi Yinzir segera mengikuti. ”Sepertinya aku mulai sedikit mengerti, punahnya bangsa Namsaryan dulu, tampaknya seperti semacam pencegahan agar hal yang lebih buruk tidak terjadi.”

Gaojhi membalikkan badannya, dan mengalihkan pandangannya pada kawannya yang masih berjalan mendekat, seraya berpikir. ”Lalu, apa yang kau maksud dengan ...” Tapi tiba-tiba Gaojhi merasakan ada sesuatu yang amat aneh. Waktu terasa lebih lambat. Dan entah kenapa Gaojhi merasa harus memalingkan wajahnya ke kanan. Ia melihat cahaya, merah kekuningan. Dan seiring terus membesarnya cahaya itu, kelopak matanya semakin terbuka lebar, dan detak jantungnya makin kencang. Gaojhi tiba-tiba merasa bahwa ia begitu dekat dengan kematian.

”Aargh!” Teriakannya tak sebanding suara benturan dahsyat antara menara dengan meteor itu. Gaojhi oleng dan jatuh ke lantai oleh guncangan akibat tabrakan. Untunglah ia masih punya cukup tenaga untuk bangkit. Sayangya, ketika ia hampir berhasil berdiri, secuil fragmen lantai yang diinjaknya runtuh dan hampir membawa dirinya ikut jatuh. Kini dengan susah payah Gaojhi berpegangan erat pada bagian lantai lain didekatnya.

Dalam kepayahannya, nafas terengah-engah dan keringat bercucuran, pikirannya yang sempat kaget setengah mati perlahan mulai sadar. Ia memutar pandangannya, dan malah menyulitkan kembali kesadarannya. Pemandangan yang baginya tak mungkin, tersaji begitu dekat dengan mata kepalanya tapi tetap saja tak bisa diterimanya. Sungguh, menyaksikan menara ini retak saja seperti melihat manusia tinggal di dalam lautan. Dulu ia bahkan pernah berikrar, ”Jika menara Tridalry hancur, itu tandanya kiamat.” Begitu terpukulnya dirinya, sampai ia tak sadar bahwa ia telah kehilangan kedua temannya.

Tak berselang lama, beberapa orang berdatangan. Sebagian besar dari mereka adalah pria tua seperti Gaojhi. Mereka yang awalnya berniat menonton hujan meteor, kini juga hanya bisa melongo melihat menara kebanggaan mereka berlubang. Tapi untunglah, Gaojhi segera ditolong oleh seorang dari mereka yang membawa tongkat. Ia diangkat menggunakan sihir, dan ditidurkan di tempat yang lebih aman. Saat itu Gaojhi sudah hampir pingsan, lelah dihantam berbagai hal yang begitu tiba-tiba dan menurutnya mustahil. Sedetik saja ia terlambat diselamatkan, ia pasti sudah menyusul Yinzir dan Aotay yang tergeletak tanpa nyawa di bawah sana.

Kota besar ini, Eycalistreum, selamat untuk sementara. Tapi Gaojhi tidak. Nyawanya melayang di pagi hari setelah peristiwa itu. Tapi berita baiknya ia tak harus menyaksikan keanehan-keanehan lainnya, karena keadaan planet ini benar-benar bertambah buruk.

Penyakit aneh juga bermunculan, dimana muncul bercak-berak hitam nan keras di kulit. Hujan tak pernah turun, dan hembusan nafas setiap orang selalu mengembun. Cahaya hijau yang menari-nari di langit muncul lebih sering, dengan warna yang kadang berubah-ubah. Langit siang tak lagi cerah, dan bintang-bintang mulai bermunculan, tak lagi takut pada mentari. Kondisi udara di atas permukaan laut, kini seperti di puncak gunung, dingin dan sesak. Semuanya berubah menjadi begitu ekstrim, dan satu per satu, seluruh makhluk yang mendiami permukaan planet ini menghilang, mati. Gaojhi benar, dunia kiamat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer AndravaMagnus
AndravaMagnus at Age Five : Prolog (11 years 26 weeks ago)
80

hmm,cerita yg bagus, tidak berbelit dan simple.
Dan, tepat,kita tidak bisa menyatakan judul berdasarkan kepada prolog. Lanjutkan saja, judulnya pasti muncul ;)

Writer musthaf9
musthaf9 at Age Five : Prolog (11 years 26 weeks ago)

uda mulai kepikiran judulnya, tapi masi nyusun kata-katanya
thnx dah mampir ^_^

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)
80

Wah keren, saia suka! Istilah-istilah yang tiba-tiba muncul ternyata ga bikin bingung, saia terkesima. Oia, tag-nya kan fanfic... emangnya ini fanfic apa? Saia ga tau, hehe

Writer musthaf9
musthaf9 at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)

ah iya, fanfic, emang sebenernya bukan sih, sekedar fantasy biasa (bakalan sci-fi malah). kupilih fanfic soalnya untuk kasus ini cuman itu yg paling mendekati :D

Writer milfeule
milfeule at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)
80

asik. kiamat. :D

Writer musthaf9
musthaf9 at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)

yup, bencana itu indah (dilihat, bukan dialami) XD

Writer Riesling
Riesling at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)
80

Kayaknya bakal keren~~

Writer musthaf9
musthaf9 at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)

yah, doain ajah ^^

Writer Yafeth
Yafeth at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)
90

Cara menulisnya bagus. Enak dibaca.

Writer musthaf9
musthaf9 at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)

thanx ^^

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)
100

Ada typo => semkain

Ini menarik, sebaiknya segera diputuskan judulnya... ^^

Writer musthaf9
musthaf9 at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)

typo uda exterminated
lha itu masalahnya bang zoel, intinya blon kepikiran (masa bikin judul berdasarkan prolog doang...)

Writer musthaf9
musthaf9 at Age Five : Prolog (11 years 27 weeks ago)

bakal ada penjelasannya lho, perhaps :D