Nurani (?)

“Apa kita melakukan hal yang benar, Mike?”

Mike menoleh kesal dari bahunya. Seorang laki-laki, dengan tinggi tubuh yang hampir sama dengannya, berdiri di belakangnya. “Kenapa kau bertanya lagi?” geramnya. Tangan kanannya berpindah, dari pegangan senapan laras panjang yang ditentengnya, ke topeng di wajahnya. Ia menarik topeng hitam itu sampai terlepas.

“Aku masih belum yakin, Mike.” Laki-laki itu turut melepas topeng hitamnya, menampakkan ekspresi wajah yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari Mike – kekhawatiran, keraguan, keputusasaan tergambar di wajah Greg. “Maksudku, kita baru saja merampok – ”

“Kau tidak perlu memberitahuku, Greg. Aku tahu kita merampok sebuah bank.” Mike mengangkat senapan dan topeng di tangannya tinggi-tinggi, di depan wajah laki-laki lain yang bernama Greg itu. “Dan, ini ketiga kalinya kau menanyakan pertanyaan yang sama.”

“Aku masih – ”

“Ragu.” potong Mike tak sabar, yang hanya mendapat anggukan lemah Greg. “For Heaven’s sake, Greg. Kau sudah lupa dengan kata-kataku tadi?”

Greg menghela nafas. “Kita melakukan semua ini demi negara kita.”

“Kita, the Shadows, harus melindungi negara ini dari segala macam bentuk ancaman.”

“Untuk melindungi negara ini, kita membutuhkan senjata – ”

“ – dan untuk itu, kita harus bisa membuat sendiri senjata kita, atau membelinya. Dari siapa saja.”

“Untuk mendapatkan senjata, kita membutuhkan banyak uang – ”

“ – dan ini adalah satu-satunya cara kita mendapatkan banyak uang!”

Greg terkesiap, hampir melompat dari tempatnya berdiri. Wajah gusar Mike membuatnya sedikit ngeri. Mungkin seharusnya dia tak bertanya pada Mike. Tidak untuk ketiga kalinya, dan dengan pertanyaan yang sama. Masih belum bergerak dari tempat, Greg memberanikan diri mengangkat dagunya. Ia lelah terus-terusan menundukkan kepala, dan, selain itu masih ada satu pertanyaan yang mengganggunya. Ia tak hanya membutuhkan jawaban untuk pertanyaan tersebut, namun juga sebuah kepastian.

Kepastian yang hanya bisa ia dapatkan dari kedalaman sorot mata pemimpin kelompoknya itu.

“Satu saja, Mike.” Greg menatap Mike hampir tak berkedip. Ia tak ingin kehilangan momen itu. “Bukankah yang kita lakukan ini kejahatan?”

Iris mata Mike melebar; Greg melihatnya dengan jelas.

“Pertanyaan macam apa ini?!” gusar Mike dengan nada meninggi. Tangannya meraih kerah jaket kulit yang dikenakan Greg, menarik ‘rekan kerja’-nya itu lebih dekat. “Aku sudah mengatakannya ribuan kali, Kawanku. Kita membela negeri ini, kita tidak sedang melakukan kejahatan! Sekarang pergi dari hadapanku! Aku tidak mau lagi mendengar pertanyaan bodohmu!”

Greg terjengkang, dorongan kuat tangan Mike membuatnya mundur beberapa langkah. Pistolnya lepas dari jangkauan, meluncur dari tangannya dan jatuh, menimbulkan bunyi keras berkeletak ketika beradu dengan lantai. Serta merta dia membungkuk, memungut pistol itu, dan segera beranjak dari ruang penyimpanan puluhan safe deposit box itu.

Greg tak mendapatkan kepastian itu.

===

Greg melangkah ke depan pintu kayu besar dengan papan kecil bertuliskan ‘ruang tunggu’. Ditariknya handel pintu perlahan. Puluhan orang, dengan tangan terikat, mulut disumpal, duduk berkelompok di dalam ruangan itu – inilah ruang tunggu klien bank yang telah disulap menjadi ruang sandera. Tiga orang berjaket kulit, bertopeng hitam, dan bersenjata – persis seperti Greg – berjaga di sisi-sisi ruangan. Greg bukan seseorang dengan kemampuan membaca pikiran, tapi dia tahu, wajah-wajah di balik topeng itu berjenggit ke arahnya, seolah apa-yang-orang-ini-lakukan-di-sini tertulis di atas topeng mereka dan terbaca oleh Greg. Greg tidak peduli.

“Aku ingin mengobrol,” kata Greg keras-keras pada kawan se-‘profesi’-nya. “Masih ada tiga sampai empat jam sebelum polisi membawakan helikopter kita. Aku hanya ingin sedikit menghilangkan kebosanan.”

Ketiga penjaga hanya menatap bingung satu sama lain, dan akhirnya mengangkat bahu.

Greg, setelah mendapat izin dari tiga rekannya, melangkah mendekat ke kelompok sandera. Setelah beberapa saat mengamati mereka, ia akhirnya memutuskan siapa yang akan menjadi teman bicaranya. “Kau,” tunjuk Greg dengan pistolnya ke arah seorang laki-laki muda di tengah kelompok. Dilihat dari kemejanya, tampaknya laki-laki muda itu adalah salah satu pegawai bank. Sementara itu si laki-laki muda malah menyipitkan mata ketika ditunjuk, seolah tidak merasa takut; Greg tahu, dia memilih orang yang tepat. Ia merangsek ke tengah-tengah, mendekat ke arah si laki-laki muda. Dilepasnya kain penyumpal mulutnya.

“Apa maumu?” tanya si laki-laki muda, agak terengah.

Benar-benar tak mengenal tunduk, takluk, atau takut, pikir Greg. “Aku bukan seorang pembohong, dan aku tak akan mengingkari janjiku. Aku hanya membutuhkan jawabanmu, yang paling jujur.”

Si laki-laki muda mengernyitkan dahinya, bingung. Pandangannya beberapa kali beralih dari wajah tak bertopeng Greg dan pistol yang menggantung di tangan di sisi tubuhnya.

“Aku tahu, kau pasti berpikir aku aneh, tapi percayalah padaku.”

“Cih, bagaimana bisa aku mempercayai orang dengan senjata di tangannya dan beberapa menit yang lalu menguras habis uang di brankas bank ini? Bagaimana bisa?”

Greg menoleh ke arah rekannya ketika ia mendengar bunyi senapan yang di-kokang. “Baiklah, tak masalah. Tapi kau akan tetap menjawab pertanyaanku dengan jujur.”

Kini Greg dan laki-laki muda itu saling tatap.

“Kami melakukan semua ini demi negeri kita,” kata Greg akhirnya, memecah keheningan sempurna yang sempat tercipta.

Sedetik.

Lima detik.

Sepuluh detik kemudian terdengar suara tawa yang tertahan di tenggorokan. Lawan bicara Greg telah memalingkan wajahnya yang memerah – sewarna dengan kepiting yang baru saja diangkat dari air mendidih. Matanya terpejam, bibirnya terkunci rapat membendung udara yang tersimpan di belakangnya, siap meledak menjadi tawa. “Lucu.” Hanya satu kata itu yang berhasil ia ucapkan dalam satu helaan nafas. Berikutnya ia sibuk menahan ledakan tawanya lagi. Namun kali ini ia tak berpaling.

Greg tahu, laki-laki muda ini tengah menertawakannya. Satu hal yang tak dimengertinya: bagian mana yang lucu?

===

“Kau mau tahu bagian mana yang lucu? Benarkah?”

“ ... ”

“Kau baru saja dibodohi, Dungu!”

“ ... ”

“Buka matamu! Kau bilang kau melakukan semua ini demi negaramu? Jangan bergurau! Kau pikir kau Robin Hood? Cih! Tanyakan pada bosmu kemana larinya kantong-kantong uang dan barang-barang berharga yang kalian curi. Bisa kupastikan: ke sakunya sendiri! Jangan membual ‘demi negara’ dan sampah-sampah lainnya! Aku muak dengan orang-orang macam kalian – yang mengaku membela negara sebagai kedok untuk memenuhi perut buncit kalian yang tak kenal kata ‘kenyang’! Oh Penjahat yang Budiman, kalau kau mengira aku ini orang baik, percayalah, aku bahkan sama jahatnya denganmu! Tidak ada lagi manusia baik di dunia ini! Jadi hentikan omong kosongmu yang membuatku muak – ”

DOR DOR DOR!

===

Read previous post:  
Read next post:  
Nunu Nhunaiya at Nurani (?) (9 years 29 weeks ago)

alurnya santai, tp cerita'a bagus..
dunia skrg bgt..
ngelakuin aneh-aneh "demi negara" atau apa lah..
suka jg dor dor dor nya hhe

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)

Salah post... XP

Writer Riesling
Riesling at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)
80

Saya suka~~ Ayo lanjutin, syn-nii~~ xDD

Writer synrio
synrio at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)

Siap!

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)
90

Ayo dilanjutkan lagi. Udah bagus lor ^^
Btw, yang ngedor sapa neh, masakan greg?

Writer synrio
synrio at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)

Oho, saya simpan dulu siapa yang nembak XD

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)
100

Ini dah bagus walau ada beberapa typo. Dan tergantung Synrio sendiri, apakah cerita ini plotnya bakal rumit atau sederhana. Pilih bermain aman dengan plot sederhana tapi selesai, atau nekat pilih plot rumit dengan resiko gantung? Follow your heart, not your mind.

Selamat berjuang, Syn... ^^

Writer synrio
synrio at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)

Yang rumit misal kayak apa om?
Saya udah ada kelanjutan plot-nya di kepala, tapi nggak berani lanjut (takut klise dan udah ketebak =,=) << masih memutar otak bikin twisted end

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Nurani (?) (9 years 30 weeks ago)

Banyak contohnya. Bisa ngikut model Travolta di Swordfish (mereka bener2 ingin ngelindungi negara), atau mereka cuma dimanfaatkan untuk menghancurkan negara (model Fight Club)... ^^

Writer synrio
synrio at Nurani (?) (9 years 29 weeks ago)

Oke! Makasih inspirasinya om! X)