Ilusi (roman5)

Lana tertegun menatap punggung Yosi yang semakin menjauh. Sikapnya aneh. Lana tak tahu kenapa dan rasanya tak mampu memikirkan sebabnya. Kepalanya terasa penuh terpengaruh jantungnya masih berdebar kencang akibat sentuhan pemuda itu yang tak disangkanya.

Kamu menghindariku.

Yosi menyadarinya. Tentu saja. Memangnya sudah berapa tahun mereka bersahabat? Mereka bisa saling mengetahui apa yang dirasa satu sama lain tanpa mengucap sepatah kata pun. Karena itu Lana merasa takut bila Yosi atau Jenny sampai menyadari perasaan barunya ini.

Bekas sentuhan tangan Yosi masih terasa hangat di jemarinya. Betapa konyol rasanya, sedikit sentuhan pemuda itu dapat mempengaruhi jiwanya seperti ini. Ia pasti sudah terkena pengaruh film seri drama Asia kegemaran Jenny. Temannya itu sering sekali menumpang nonton DVD pinjaman di kamarnya.

"Lana?"

Lana tersentak oleh panggilan itu. Dilihatnya William dan Jazz-nya entah sudah berapa lama berada di sebelahnya. "William!" Serunya terkejut. Rasa bersalah menghinggapinya. Baru saja ia memikirkan pemuda selain kekasihnya.

Di balik kemudi, William mengerutkan dahi heran. "Ngapain kamu di tengah jalan begini, say? Habis fotokopi?"

Lana mengangguk.

William membuka pintu penumpang depan. "Ayo masuk. Aku antar kamu pulang."

Lana menurutinya. Semburan hawa dingin AC sedikit menenangkan hatinya. William membimbing Jazz-nya segera meluncur ke jalan besar. Pemuda itu menanyakan bagaimana stase ilmu penyakit mata yang sedang dijalaninya dan Lana menjawab sebisanya tanpa mengungkit-ungkit keberadaan Yosi yang mereka sama-sama tahu berada dalam kelompok stase yang sama, kemudian menanyakan pula bagaimana stase neurologi yang sedang dijalani William.

Begitu sudah mulai dekat rumah kosnya, barulah Lana menyadari William nampak berpakaian santai, bukan seperti mahasiswa kedokteran yang akan pulang sehabis bertugas. "Kamu mau jenguk papamu, Wil?"

William mengangguk. "Iya."

"Kok tidak ajak aku?" Lana mengerutkan dahi.

"Karena hari ini aku mau gantian dengan tanteku, menjaga Papa. Kalau aku mengajakmu, nanti tak ada yang bisa antar kamu pulang."

"Aku bisa pulang sendiri, Wil." Lana masih tak mau kalah. "Lagipula bukannya besok kamu tugas jaga malam? Stase neuro memang termasuk bagian minor, tapi tak boleh diremehkan lho."

William tertawa. Sebelah tangan diulurnya, hendak mencubit jahil pipi Lana yang langsung ditepis gadis itu sebal. "Buatku sudah cukup mendengar gadisku mengkhawatirkanku. Tenang saja, say. Bisa kuatasi kok."

Lana tidak berkata apa-apa lagi karena hampir tak mungkin mendebat William yang keras kepala dan juga karena mereka telah tiba di rumah kosnya.

"Nah, kita sampai juga," ujar William tersenyum simpul berusaha menghibur Lana yang masih cemberut. "Nanti malam aku telepon ya. Besok aku akan menjemputmu kalau kamu mau menjenguk Papa."

Begitu William mencondongkan tubuh hendak mengecupnya, Lana menghindar. "Kamu tunggu di sini ya. Aku masuk sebentar ambil baju. Sama-sama kita akan menjaga papamu."

William menatapnya terkejut. Sebelum kekasihnya mengucap sesuatu, buru-buru Lana menambahkan. "Aku juga menginap di rumah sakit papamu. Besok pagi, kita bisa berangkat tugas bersama."

"Tapi.."

"Aku juga sekalian menjagamu," potong Lana cepat.

William mengerjap bingung. "Menjagaku?"

"Ya, kamu pasti tak akan makan dan tidur dengan benar. Sedangkan kamu butuh stamina untuk tugas malam besok."

William pun terdiam menatapnya, sementara Lana mengerahkan seluruh tenaganya untuk membalas tatapan itu dengan menampilkan wajah kau-tak-akan-mungkin-bisa-mengubah-pikiranku. Beberapa detik kemudian pemuda itu mendengus tawa. "Kamu tahu tidak? Kamu baru saja membuatku makin sayang padamu."

Lana merasakan wajahnya memanas. "Ah, kamu jangan bicara macam-macam! Tunggu sebentar." Ditepisnya tangan William yang hendak menakali pipinya. Ia membuka pintu mobil, tak menghiraukan derai tawa kekasihnya.

Sambil membereskan barang-barang keperluan pribadinya, Lana sempat merenungkan tindakannya. Ada sebersit rasa bersalah yang sulit dienyahkan dalam dirinya. Ia ikut William memang untuk mengawasi pemuda itu menjaga diri, itu memang benar. Tetapi hati kecilnya tahu. Ia pun ingin mengenyahkan bayangan Yosi dari hatinya. Hal yang sulit dilakukannya bila sendirian di kamar kos yang tiba-tiba terasa luas ini.
***

Oom Rinto baru saja tidur. Tepat setelah visite dokter dan makan malam yang segera dihabiskan ayah William itu dengan lahap. Keadaan beliau sudah mulai membaik. Tangan dan kaki kirinya sudah bisa digerakkan walaupun tak sesempurna sebelumnya. Beliau juga sudah bisa bicara lancar walaupun masih lemah. Menurut dokter yang merawatnya, bila keadaan Oom Rinto sebaik ini besok, maka lusa beliau sudah boleh pulang.

Di sofa panjang kamar VIP itu, William sudah terkulai dan terdengar dengkuran halus yang hampir senada dengan dengkuran ayahnya. Kelelahan sangat kentara di wajahnya. Wajar saja, karena seminggu belakangan ini, keadaan memang kurang ramah bagi pemuda itu. Sebagai anak tunggal, ia lah yang harus merawat ayahnya yang sakit kini. Sementara ibunya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Lana masih ingat suasana kacau seminggu lalu ketika Oom Rinto terkena serangan stroke ini. Serangan itu terjadi di rumah mereka saat William sedang bertugas malam. Untunglah saat itu Tante Rima, adik ayah William, sedang bertandang ke rumah mereka sehingga bisa cepat membawa Oom Rinto ke rumah sakit. Kini William bergantian dengan Tante Rima menjagai ayahnya.

Ditebarnya selimut yang sudah disiapkannya dari kos ke tubuh William karena ia nampak kedinginan. Kemudian dibelainya lembut sekilas rambut pemuda itu yang menutupi wajah. Lana tersenyum merasakan betapa berlimpah rasa sayangnya terhadap kekasihnya.

Inilah perasaan yang harus dipercayainya. Perasaannya terhadap Yosi pastilah hanya ilusi belaka yang terbentuk tiba-tiba gara-gara demam dan hujan. Sedangkan dengan William, ia sudah memupuknya sedari awal pemuda itu mendekatinya. Yang tiba-tiba datang tak mungkin dapat lebih kokoh dari yang sudah dibangun sejak awal, bukan?

Merasa lega dengan pemikiran barunya, Lana mendesah senang. Suara keruyuk di perutnya membuatnya teringat bahwa ia belum makan malam. Nampaknya Diliriknya jam di dinding. Sudah pukul delapan lewat sedikit, kantin rumah sakit mungkin masih buka. Ia pun beranjak dari tempat duduknya menuju kantin rumah sakit.

Sewaktu pintu dibuka, betapa terkejutnya Lana, melihat sosok yang tak disangka-sangkanya ditemuinya di tempat ini. “Yosi?”

Pemuda itu berdiri tak jauh dari pintu kamar ayah William. Berbeda dengan Lana, Yosi tak nampak terkejut melihatnya. Malah sepertinya... gugup? Ia tersenyum kaku. “Eh, Lan. Kebetulan sekali.”

Lana mengutuk dalam hati. Debaran sialan itu yang muncul tanpa permisi. Ia pun terpaksa melipat kedua belah tangannya untuk mengendalikan diri. Bagaimana pun juga, pemikiran barunya tadi harus tetap dipertahankan. “Sedang apa kamu di sini?”

“Aku.. mengunjungi kerabat yang sakit.”

“Sendiri?”

Yosi mengangguk. “Aku.. aku baru akan pulang. Kamu mau pulang juga? Mau diantar?”

Lana menggeleng. “Aku menginap di sini. Menemani William.”

“Oh.”

Yosi tersenyum tipis. Wajahnya tetap datar, tetapi Lana bertanya-tanya. Apa Yosi cemburu? Sekali lagi Lana memaki dirinya sendiri. Tak pantas ia mengharapkan hal bodoh seperti itu. Ya ampun! Yosi sekarang sudah memiliki Herlina dan ia sendiri. Ia memiliki William.

“Lalu kamu mau kemana?”

Pertanyaan selanjutnya membuat Lana tersentak dari lamunan singkatnya. “Ah.. Aku mau ke kantin.”

“William tidur?”

Lana mengangguk.

“Mau kutemani?”

Sejenak Lana ragu, takut dan tak percaya dengan hatinya sendiri tetapi ia sadar. Walaupun ia ingin mengenyahkan perasaan ilusi ini tetapi ia masih menginginkan Yosi menjadi sahabatnya. Maka sekali lagi ia mengangguk.
***

Kantin mulai sepi pengunjung, mengingat hari sudah malam. Para pelayan kantin pun sudah mulai memberesi barang dagangan mereka. Untunglah masih ada makanan yang layak disantap. Semangkuk sayur asam hambar dan nasi putih hangat. Lumayan daripada tidak ada, pikir Lana. Lalu diliriknya pemuda yang duduk di hadapannya. Sedang diam menatapnya. “Kamu tidak makan, Yos?” Lana bersyukur ia berhasil mengajukan pertanyaan itu tanpa bergetar.

Yosi menggeleng. “Aku sudah makan, Lan.” Ia diam sejenak, kemudian berkata. “Rasanya seperti dulu ya.”

“Maksudmu?”

Yosi tak langsung menjawab. Ia menggeleng. “Bukan apa-apa. Aku hanya merasa kangen saat-saat seperti ini. Belakangan ini kamu...” Ia menghentikan kata-katanya sejenak, seakan memikirkan kata yang tepat untuk melanjutkan. “..sibuk.”

Lana tersenyum kecil. Pemuda itu nampaknya ingin membahas persoalan tadi siang yang terputus karena... tiba-tiba saja Lana teringat dengan sikap aneh Yosi tadi siang saat ia menyebutkan tentang ayah William. Benar juga. Bahkan kini pemuda itu sama sekali tidak menanyakan mengapa Lana ada di sini, seakan tahu ia di sini karena menjenguk ayah William. Terbersit perkiraan konyol di kepalanya.

“Apa kamu mengenal ayahnya William?” Akhirnya perkiraan konyol itu ditanyakannya juga. Mengingat kedua pemuda yang sudah menjadi musuh bebuyutan itu, Lana memperkirakan Yosi mungkin akan mengernyit atau mungkin mengangkat alis setidaknya.

Tetapi itu tidak terjadi. Pemuda itu malah nampak termenung sebelum kemudian menjawab, “Bisa dibilang begitu. Oom Rinto itu... teman lama orangtuaku.”

Ini pengetahuan baru yang mengejutkan Lana. Dua musuh bebuyutan itu ternyata memiliki orangtua yang saling berteman. Apa mungkin kedua orangtua mereka berseteru sehingga akhirnya mengikutsertakan kedua anak mereka? Rasanya Lana tak percaya, Oom Rinto yang sabar dan baik hati itu bisa berbuat setega ini.

“Lalu apa kamu di sini untuk mengunjungi Oom Rinto?”

Lana dapat merasakan mata Yosi bergerak gelisah saat pemuda itu menjawab, “Tidak.”
***

------------------------------------------------------------
Note:
Jazz: maksudku mobil Honda Jazz XD
Neurologi: Ilmu penyakit saraf
Bagian mayor: cabang ilmu kedokteran besar yang terdiri dari 5, yaitu: Ilmu penyakit dalam, ilmu penyakit anak, ilmu bedah, ilmu kebidanan dan ilmu kesehatan masyarakat.
Bagian minor: cabang ilmu kedokteran kecil, terdiri selain lima keilmuan yang disebutkan di atas. Neurologi termasuk dalam bagian ini.

Read previous post:  
19
points
(1188 words) posted by anggra_t 10 years 10 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | koas | lanayosi | persahabatan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arrhea.arra
arrhea.arra at Ilusi (roman5) (9 years 43 weeks ago)
90

nggak diterusin?? bagus lo.. aku nungguin endingnya nih.. :))

Writer anggra_t
anggra_t at Ilusi (roman5) (9 years 43 weeks ago)

nunggu mood hehe...
makasih udah baca :)

Writer aau chan
aau chan at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)

bagus

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)
80

Eh, ada nama saya? Maaf belum bisa banyak komentar karena belum baca bab-bab sebelumnya. Tapi intinya, tulisannya mengalir dan enak dibaca.

Writer anggra_t
anggra_t at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)

hyaaa... ga sengaja minjem nama XD aku juga punya teman namanya yosi dan dia cewek XD
.
thanks, yosi. kapan2 kalo sempat baca aja dari awal. mudah2an gak pusing XDD

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)
100

Menurut KBBI, yang benar itu Om.

Kemampuan Tante masih ada, jangan khawatir... ^^

Cuma bagian ini terlalu pendek, jadi kurang nendang (apasih?). Tapi serius, chapter ini menurutku agak datar. Yah, setidaknya chapter yang sebelumnya cukup bikin geregetan... ^^

Writer anggra_t
anggra_t at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)

ow.. baiklah. nanti akan kuedit...
emang kurang nendang kok. yang nulis aja nguap beberapa kali waktu nulis ini. (WHAATT??)
.
thankss! ^^

Writer cat
cat at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)
80

Tulisan Oom nya sengaja double O yak?

Lanjutkaaaan lagiii.

Writer cat
cat at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)
80

Tulisan Oom nya sengaja double O yak?

Lanjutkaaaan lagiii.

Writer anggra_t
anggra_t at Ilusi (roman5) (10 years 10 weeks ago)

bukannya yang benar itu Oom ya? bukan Om, kan? @.@
.
aaa.. segini dulu dee! cerpen mimpinya ntar gak jadi2. XD