Suara

Malam itu berangin, dingin dan sepi.

David duduk di atas motor, menunggu rekan kerjanya selesai menurunkan dan menggembok kerai toko. Hawa sejuk dan suasana hening membuatnya membayangkan sebuah bantal di antara stang, menumbuhkan keinginan untuk tidur di atasnya selama beberapa menit, yang pasti akan mengendur jadi beberapa jam. Untung ada yang mengalihkan perhatiannya. Sekelompok anjing keluar dari dalam gang di seberang jalan, bergerak bersama menuju tong sampah besar. Satu yang berekor putih memandangi David sekilas, sebelum bergabung dengan kawanannya mengaduk-aduk isi tong sampah, mencari hiburan dan makanan di dalamnya.

“Merhatiin apa Vid, serius amat?”

David berpaling dan menemukan Hendi, rekan kerjanya, yang ternyata sudah selesai mengamankan pintu toko. Memutuskan tidak ada salahnya berbincang sedikit sebelum pulang, David menjawabnya.

“Anjing.”

“Anjing...?”

Hendi melirik ke seberang jalan dan memasang mimik cerah setelah melihat apa yang David maksudkan.

“Oh, geng anjing itu? Emang knapa? Mau lo piara satu?”

David mendengus, sebagai respek pada usaha rekan kerjanya menebak.

“Ya enggaklah, mikirin makan ma lunasin duit semester aja udah pusing, masa gue masih mau miara anjing.”

Gantian Hendi yang mendengus, entah merasa lucu oleh nada suara David, atau ironi yang tersirat di dalamnya. David lanjut menyelesaikan jawabannya, “Anjing itu...“

“Geng anjing.”

“Iya, Geng Anjing itu,” kata David tak sabar, “Kok rasanya makin dikit ya?”

Hendi langsung terbahak keras-keras.

“Waduh... Mending otak lo buat nyari pacar aja, Vid; lebih guna daripada dipake buat merhatiin silsilah keluarga anjing kampung!”

Seandainya tidak sedang kelelahan, David sudah akan memberi Hendi balasan pedas. Namun kegiatan kerja hari itu menguras lahir batinnya. Diawali dengan kedatangan manajer toko, tanya jawab laporan penjualan, dan berakhir dengan sesi ceramah "peningkatan motivasi kerja" selama satu jam penuh, di mana beberapa kosa kata di dalamnya tidak pantas untuk anak kecil dengarkan.

Sebenarnya, bukan salah mereka toko itu begitu sepi. Lokasinya parah. Jalan rayanya berlubang-lubang, seolah sering dihujani granat tangan. Dekat sana, ada bekas pabrik kimia yang kuar bau memuakkannya bisa tercium sampai seribu meter jauhnya. Dan untuk melengkapi ‘kekurangan’ tempat itu, adalah genangan kotor setinggi tumit di sepanjang jalan raya. Genangan itu abadi, tak membanjir ketika hujan turun, namun tak kering ketika hari-hari panas tiba.

Jika bukan karena gajinya, David lebih memilih jadi penjaga warnet. Sayang, ia perlu uang. Ia ingin ikut berwisata ke luar pulau bersama teman-teman kuliahnya.

Dua hari lagi, pikirnya, dan aku tak usah lagi menyerok kotoran anjing tiap pagi saat giliran shift tiba.

David melemparkan helm pada Hendi, yang langsung memasangnya dan duduk di jok belakang. Lalu mesin dinyalakan, gigi dimasukkan, dan motor itu meluncur membelah genangan di jalan. Beberapa anjing melompat menghindar saat kaki mereka nyaris terkena hempasan ombak kecil itu.

Lampu-lampu jalan berjejeran dan menyala terang, namun kuasa malam yang begitu besar menjadikan kota itu tetap temaram. Di jalanan tinggal ada beberapa motor, dan lebih sedikit lagi mobil. Begitu pula penghuni kota, tidak ada yang menjelajah malam menjelang fajar itu kecuali anak jalanan, penikmat hiburan malam, dan para pekerja yang baru bersiap-siap hendak pulang.

Bila bosan dengan marka jalan, David akan berpaling dan memperhatikan para penunggu angkutan umum di halte-halte. Yang pria dan wanita, tua dan muda, capek dan cemas. Semuanya sama, menunggu dijemput dan diantar sampai tempat tidur mereka masing-masing. Saat meluncur di jalan yang relatif sepi, pikiran David pergi mengembara.

Kapan mereka baru akan sampai rumah? Apa yang akan mereka lakukan bila jemputan mereka tak kunjung tiba?

“WOI!”

Rekan David berseru tepat waktu. David tak melihat anak itu, dan sudah pasti akan melindasnya kalau tak segera membelokkan laju motornya. Hampir ia terjatuh, tapi keseimbangan kembali padanya tepat waktu. Ia menghentikan motornya dan menyusun serangkaian makian dalam kepalanya, lalu turun untuk mengamuki anak iseng itu.

Tapi tak ada omelan yang keluar. David terdiam dan memandang sekitar. Kanan, pagar seng pembatas proyek pembangunan gedung baru. Kiri, parit di ambang banjir di bawah jembatan layang. Tak terlihat tanda-tanda keberadaan si bocah, selain serpihan-serpihan hitam seperti bekas sobekan kain kotor di atas jalan.

David menggumam bingung, “Tadi ada anak kecil...,” saat Hendi memanggilnya, “Sudahlah, paling anak iseng. Kali dia udah lompat pagar terus kabur. Yang penting kita enggak sampai ngelindas dia sampai mati‘kan?”

David ingin membalas pedas temannya untuk kedua kalinya, tapi tak satupun kalimat tersusun dalam benaknya. Ia sudah terlalu lelah; untuk mendebat, juga untuk mencari anak itu. Akhirnya yang ia lakukan adalah berbalik dan menjalankan motornya kembali, walau dalam hatinya ia bertanya-tanya ke mana anak itu pergi menghilang.

Tak lama, mereka sampai pada emperan ruko penuh warung seafood. Mereka berbelok masuk jalan kecil, lalu berbelok lagi dan masuk ke dalam jalan lebih kecil, yang sebutan tepatnya adalah gang, yang lebih pantas ditempuh memakai kaki, bukannya motor.

David melaju pelan, berhati-hati agar tidak nyemplung masuk ke dalam got sebelah kirinya.

Entah kenapa, kata “got” selalu membuat David bergidik ngeri sendiri. Ia tidak suka kata itu, juga perwujudannya. Kapanpun ada ciplakan di permukaan airnya, otaknya selalu menolak bilang itu ikan atau anak katak. Kalau bukan setan, pasti mayat hidup bermata putih yang memakani daging manusia.

Tentu saja itu pemikiran yang konyol dan kekanak-kanakan. Tapi David, yang tidak tumbuh besar di kota itu, punya alasan pembenarannya sendiri.

Air di gunung mungkin penuh bakteri, ada cacing dan sidatnya, dan beberapa kali pernah dikencingi rusa. Tapi air itu selalu mengalir. Tak pernah berhenti. Tiap detik digantikan oleh air yang lebih bersih, lebih jernih dan lebih murni, yang turun mengalir dari lereng-lereng bukit yang lebih tinggi.

Tapi bagaimana dengan air got? Air yang mengendap di satu tempat selama berpuluh-puluh tahun, diacuhkan dan dibiarkan, menerima asupan gizinya bukan dari ekosistem alami penghuninya.

Deterjen. Pewarna tekstil. Tikus dalam jeratan. Makanan dan minuman basi. Kotoran dan kencing manusia yang harusnya masuk lubang kakus. Bayangkan, ikan dan anak katak macam apa yang bisa hidup dalam kubangan limbah semacam itu?

Berkat itu, kata “got” dalam kepala David punya tempat kehormatannya sendiri, tepat di antara “pedofil” dan “mutilasi”, pada rak yang berlabel kata “NAJIS” dalam huruf kapital dicetak tebal.

Tentulah siksaan tersendiri bagi David, mengingat got-got semacam itu bertebaran hampir di seluruh penjuru kota, dan juga di sekeliling tempat tinggalnya sekarang: sebuah ruko berlantai tiga yang merangkap tempat kos-kosan, langsung berhadapan dengan gang sempit penuh selokan lebar tanpa penutup.

Hendi turun duluan dan membukakan pagar. David masuk dan parkir di belakang deretan motor lain. Segera ia matikan mesinnya sebelum para tetangga dan seisi penghuni kos terbangun dan ngamuk-ngamuk. Mereka masuk rumah lalu berpisah serta bertukar ucapan selamat malam di depan kamar David.

Begitu masuk kamar, David langsung melepaskan dan melempar jaketnya ke atas meja kayu kecil, dan menghempaskan dirinya ke atas kasur kapuk. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menatap sekilas angka tiga pada layarnya, sebelum jatuh tertidur dan nyaris menjatuhkan benda itu ke atas lantai.

~~~

Serasa baru semenit lewat ketika David terbangun. Otomatis tangannya menggapai-gapai, mencengkram ponselnya dan melirik angka di layarnya. Dalam kegelapan matanya membelalak terkejut.

Masa aku ketiduran sampai jam lima sore?

Namun jendela kecil di atas kamarnya masih gelap, dan David langsung tahu saat itu matahari belum mengambang di langit.

Ternyata jam lima pagi... Tapi kenapa aku terbangun?

Samar-samar, David mendengar suara orang bicara di luar kamarnya. Bukan hanya satu, tapi banyak orang. David merasa aneh, karena ia dan semua penghuni lain tahu, setiap ada orang berbicara di lorong, suaranya bisa menyelinap masuk tiap kamar sepanjang lorong, walau pintunya telah tertutup rapat-rapat.

David bangkit perlahan, membuka pintu kamar, dan para penghuni kamar berkumpul di ujung lorong, tengah berdiskusi dengan nada cemas dan cepat. Merekalah sumber suara yang ia dengar dalam kamar. David menghampiri mereka dan bertanya ada apa, tapi mereka ternyata tidak tahu banyak dan hanya mengatakan ada sesuatu di halaman depan. Ke sanalah David pergi, walau dirinya bertanya-tanya kenapa ia tidak balik ke kamar saja dan tidur kembali.

Di teras depan David menemukan Hendi, sedang menghibur seorang perempuan yang menangis sesenggukan. Menyadari keberadaan David, Hendi menoleh dan memberinya tanda agar mendekat. David menurutinya.

“Hei, gue pikir lo kecapekan, jadi enggak gue bangunin.”

“Memang ada apa sih?”

Hendi tidak menjawab, tapi menoleh ke arah pagar, memberi David petunjuk tanpa kata. Di sana tampak beberapa orang yang tengah kerasukan Setan Eksis, sibuk memenceti tombol ponsel mereka masing-masing. David mendekati mereka, dan berhenti melangkah tepat setelah keluar pagar. Ia mencium bau sangit, bau yang mengingatkannya pada lapak penjagalan ayam di pasar-pasar tradisional. Perasaannya jadi tak enak, tapi ia tidak berbalik kembali. Ia terus berjalan menerobos kerumunan itu dan melihat....

Sesuatu menggelegak di ujung tenggorokan David. Sesuatu yang ia kira adalah sendawa tertahan dari dalam perut menuju pangkal lidahnya.

David berbalik, dan muntah ke atas tanaman pandan dalam pot kotak-kotak.

~~~

Keesokan harinya David bangun jam sebelas siang, terganggu oleh tidur fajar yang gelisah dan tak nyenyak. Ia keluar dan menemukan Hendi di ruang tamu, tengah memainkan sebatang rokok di tangannya. David duduk di depannya, mengambil satu batang dari bungkusnya dan ikut menyulut rokok.

“Gue kira lo udah stop ngerokok?”

David tak menjawab. Ia menghisap puntung itu dalam-dalam, sempat tercekik dan batuk-batuk sebelum akhirnya terbiasa di hisapan ketiga atau keempat. Pepatah lama pamannya menyelinap masuk telinganya. Sekali mencandu, selamanya pecandu. Hendi menghembuskan asap rokoknya pelan-pelan.

“Anjing itu udah dibawa ama tukang sampah.”

David diam, menunggu lanjutannya.

“Kejem bener... sampe dimutilasi kayak gitu. Tadi aja wartawan sempet datang, tau mereka tau dari mana.”

David menghisap dan merasakan pahit asap rokok itu dalam mulutnya, lalu menghembusnya kuat-kuat, seolah asap itu bisa membantu membuang ingatan pagi tadi dari dalam kepalanya.

“Anjing itu...”

“Hm?”

“Kayaknya itu anjing yang kemarin malam...”

“Yang geng anjing itu?”

“Iya... yang ekornya putih.”

Hendi tak memberi komentar. David tak berbicara lagi. Ia memandang ujung rokoknya lama-lama. Dalam kepalanya, ia teringat pada temuan bangkai anjing dalam got pagi tadi. Kulit dan dagingnya kebanyakan lenyap, sampai nyaris tinggal tulang. Itupun kebanyakan sudah remuk. Tanpa kepala yang masih utuh, tak akan ada yang mengira bongkahan tercabik-cabik itu dulunya adalah seekor anjing.

David menggeleng, menghisap rokoknya dalam-dalam, dan mengembusnya kuat-kuat. Matanya menerawang. Ia teringat pada ceceran kotoran hitam di samping got itu, dan entah kenapa, pada bocah yang hampir ia lindas di jalanan, yang menghilang dengan meninggalkan jejak potongan kain hitam itu.

~~~

Shift kerja mereka kembali, begitu pula jadwal mereka, yaitu membersihkan kotoran yang berceceran di depan toko. Kotoran itu selalu muncul setiap hari, sampai-sampai tugas membersihkannya serasa menjadi satu dengan rutinitas pekerjaan mereka. Biasanya tugas itu cepat selesai (walau perlu usaha keras agar tidak sampai muntah selama melakukannya), tapi hari itu berakhir dengan buruk. Semuanya dimulai ketika Hendi mulai mengutarakan teori asal-muasal kotoran itu.

“Kayaknya sih ini bukan kotoran anjing atau kucing...”

“Jadi apa?”

Hendi mencapit satu gumpalan kotoran hitam itu, tapi alih-alih memasukkannya ke dalam kantong yang David pegang, ia menyodorkannya pada David, agak jauh agar temannya tidak perlu muntah-muntah mencium baunya, dan berkata, “Coba liat.” Walau enggan, David mencondongkan tubuhnya dan mengamatinya.

Apa yang harus ia lihat? David menganalisis benda tersebut sebagai gumpalan lembek penuh lendir, yang terbuat dari belitan rambut, timbunan lumpur, korekan lumut hitam kehijauan, juga... sesuatu yang putih, panjang, dan padat.

“...Pipa air?”

Hendi mendengus, lalu memasukkannya ke dalam kantong di tangan David.

“Tulang anjing.”

“Oh,” keheningan merebak, “Terus?”

“Terus kenapa, tanya lo?” Hendi amat terkejut, seolah David baru mengatakan dirinya akan menikahi anak kecil berumur sebelas tahun.

“Apa enggak kepikiran sama lo kalau yang ngebunuh anjing itu mungkin tinggalnya dekat-dekat sini?“

David tidak sampai kepikiran ke situ, juga tidak sempat membalas, karena sebuah panggilan, “Hendi,” membuat mereka menoleh dan melihat sang manajer berdiri dekat mereka. Ada corengan tebal di kemejanya, yang tampaknya tercipta dari aksi penjelasan Hendi yang terlalu heboh, sampai lupa ada penjepit berlumuran kotoran basah di tangannya.

“Hendi,” ulangnya, “Kamu, keluar, hari ini juga.”

Begitulah kejadian yang mengakibatkan David seharian menjaga toko. Tanpa ada teman bicara, ia memperhatikan matahari naik tinggi, pelan-pelan hilang di balik gedung-gedung, hingga malam datang membawa bulan yang bulat dan cemerlang bersamanya.

David tak menikmati pemandangan itu. Teori temannya itu, betapapun absurd-nya, membuatnya gelisah sejak matahari terbenam. Saat angka di jam dinding bergulir dari delapan ke sepuluh, ia memutuskan sudah saatnya pulang. Ia menghitung pendapatan hari itu, mematikan lampu, menutup pintu dan menggembok kerai toko.

Suasana gelap di jalanan jadi luar biasa mencekam tanpa kehadiran teman. Yang membuatnya tidak panik dan langsung ngebut pulang adalah gerombolan anjing di seberang jalan. Kalau ada sesuatu, pasti mereka akan menyalak kuat-kuat’kan?

David menghela nafas, menaiki motor yang ia taruh di trotoar dan memandang sekilas ke seberang jalan. Yang ia lihat membuat tengkuknya merinding.

Kemarin-kemarin ada berapa ekor? Enam atau tujuh? Apa memang kebetulan hari ini cuma datang empat?

Cplak.

Tadi itu suara apa?

Leher David membeku. Nafasnya berhenti. Keringat mulai membasahi dahinya.

Suara ciplakan lagi.

David menoleh.

Tak ada apapun. Muka toko tertutup sempurna. Remang-remang karena bohlam lampu terasnya sudah tua. Tak ada pembunuh bertopeng kain dengan pisau daging di tangannya. Juga tak ada makhluk antah berantah yang hanya hidup dalam imajinasi orang-orang dengan mental terganggu.

Namun David melihat sesuatu, seperti bekas seretan sesuatu yang besar dan basah. Dari lorong samping toko menuju belakang motornya. Dalam keremangan itu, ia berharap telah salah melihat gumpalan-gumpalan hitam di atas jejak itu. Gumpalan serupa benda benyek tanpa bentuk yang biasa orang tarik keluar dari got mampet. Gumpalan yang tiap pagi ia bersihkan dan ia kira sebagai kotoran anjing atau kucing.

Ini bukan kotoran anjing atau kucing...

Mendadak anjing-anjing ribut. Mereka mendengking dan menggeram dan menyalak ganas, seolah ingin menakuti dan mengusir sesuatu yang ada di dekat mereka.

Yang ngebunuh anjing itu.

David bisa mendengar suara dengkingan tertahan, lalu kertakan keras. David melihat anjing-anjing berlarian serabutan menuju kota, dan ia sempat menghitung jumlahnya yang cuma tinggal tiga.

Cepat nyalakan motormu, bego!

Tapi David tak kuasa menggerakkan badan. Jemarinya seolah membeku, tak mampu bergerak barang seincipun. David mendengar suara yang seperti nafas, tapi juga seperti desah yang serak dan basah. Suara yang becek itu berkeriut dan mendecap, seolah tengah mengisapi sebuah pipa mampet.

Pipa air?

Tulang anjing.

Hus, diam David.

Sekarang David bisa melihat makhluk itu. Bergerak lambat ke depan motornya, menyeret seekor anjing di tentakel bercakarnya yang pucat. Tingginya mencapai spion motor. Bekas jalannya basah dan meninggalkan jejak berupa ceceran kotoran hitam.

Dan wujud makhluk itu... Entahlah. Bocah? Ikan? Kepala gepeng berambut lumut? Mata tanpa kelopak. Lubang hidung besar serupa rongga mata tambahan. Kulitnya keriput, berkilau, dengan sisik hitam, hijau, dan putih, warna-warni dinding got kota itu.

Makhluk inilah yang mengotori teras toko mereka setiap hari. Yang membunuh si anjing berekor putih. Penghuni selokan dan parit-parit dalam kota. Jejadian yang berevolusi sendiri dari jalan pintas berupa limbah industri dan kimia pabrik obat. Lahir dan besar dalam parit-parit hitam, di kedalaman pekat yang tak pernah sekalipun matahari hampiri.

Entah evolusi atau ilham hewani, penyebab jejadian itu kini berjalan ke luar air, mencoba mencari makanan yang lebih bergizi, lebih besar daripada jentik-jentik, ikan kecil, katak, kecoak, dan tikus yang sesekali tercebur masuk ke dalamnya.

Makhluk itu berhenti di depan motor David, tampak seakan sedang berpikir, kemudian berpaling, menatap David.

Dia melihatku.

David memutar kunci motor. Tapi tidak sampai menyalakan mesin. Makhluk itu melompat tinggi. David sempat melihat tungkai-tungkainya yang seperti kaki katak, sebelum ia melihat gigi-gigi seruncing jarum, leleran lendir beserta kotoran hitam, dan suara lengkingan tinggi yang membelah malam.

Singkat, lalu hening.

~~~

Pagi tiba. Angin enggan bertiup. Walau samar, bau apak dan tengik menggantung di udara. Supir truk pertama datang. Dia melihat sesuatu, lalu berhenti sejenak dan mengamati sebuah motor yang pemiliknya tidak tampak di mana-mana.

Astaga, jorok sekali motor itu, pikir si supir truk, ceceran hitam apa itu di atasnya?

~~~

Aku menenggak bir, lalu mengetik kata “TAMAT” besar-besar pada akhir cerita yang kutulis.

Akhirnya, selesai juga. Setelah melewati ratusan revisi, setelah menerima serangkaian kritik dan saran dari teman-teman di forum penulisan, dan hari-hari penuh melek di larut malam, akhirnya cerita ini terselesaikan juga.

Jujur saja, kurasa aku agak berlebihan. Semua temanku mengira aku amat ingin menang dan mendapatkan hadiah utamanya. Memang menggiurkan sih. Uang saku dua juta rupiah, trofi, dan tayang perdana di rubrik cerpen khusus tulisan anak-anak muda di bawah usia dua puluh lima tahun.

Aku betul-betul berharap bisa menang.

Tentu saja, akhir ceritaku sendiri berbeda. Mesin motorku menyala, dan makhluk itu langsung menghilang masuk ke dalam got, meninggalkanku sendirian tanpa bekas luka maupun lendir. Tampaknya jejadian itu belum tahu kalau manusia bukanlah predator berbahaya tanpa bantuan alat-alat tertentu.

Pulangnya, aku mengajak Hendi pindah tempat kos. Ia percaya ceritaku tanpa meminta detil, dan kami pindah hari itu juga. Tempat kos baru ini lebih mahal, tapi setidaknya punya penutup got yang tebal-tebal dan bagus-bagus di gang-gangnya.

Tapi sekarang Hendi telah pulang ke rumah asalnya di seberang lautan. Aku tak pernah mendengar kabarnya lagi. Mungkin ia meneruskan pendidikannya di sana, mungkin ia mencari tahu lebih banyak soal makhluk itu, atau mungkin ia menikah dengan pujaan hatinya yang selalu ia ceritakan padaku. Entahlah. Yang jelas, kini aku sendirian di sini.

Belum ada seorangpun yang sadar. Belakangan ini jumlah anjing dan kucing liar berkurang drastis. Beberapa anak kecil menghilang atau diculik. Semuanya setelah lewat tengah malam. Berita dan wawancara televisi tidak banyak membantu, karena mata dan telinga para pejabat negeri ini sama buta dan tulinya seperti foto potret diri mereka sendiri.

Aku membaca ulang seluruh ceritaku, memperbaiki beberapa kesalahan ketik, dan kusimpan datanya dalam flashdisk-ku. Besok saja kukirimkan ke penyelenggara lombanya. Kumatikan laptop dan melirik layar ponsel, melihat angka 2.00 AM di layarnya. Saatnya tidur. Aku mematikan lampu, bergeser ke atas kasur, berbaring dan memejamkan mata.

Tapi dalam kegelapan itu aku terus mendengar bisikan lirih. Bisikan bernada putus asa yang terus menerus berulang-ulang dalam kepalaku setiap malam.

Mula-mula katak. Kemudian anjing. Lalu anak-anak kecil. Mereka pasti sudah semakin banyak. Terus bertelur dan beranak dalam air, menyamai jumlah ikan dan katak yang sudah habis mereka makan. Tinggal tunggu waktu, sampai mereka memutuskan keluar, mencari tempat hidup yang lebih luas daripada parit-parit kecil dan got-got sempit di bawah aspal jalanan.

Mungkin aku salah dengar? Tapi ada suara ciplakan samar dari arah luar jendela. Ah, mungkin itu kucing yang melintasi genangan air. Tapi kapan terakhir aku melihat kucing liar berkeliaran di daerah sini?

Aku membuka mata. Gambaran itu menggantung di kegelapan depan mataku.

Bulan menggantung di langit. Mereka keluar. Membuka penutup got dan merayap dari dalam parit. Beratus-ratus jumlahnya, menyebar ke seluruh penjuru ibu kota ini...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer justolsen
justolsen at Suara (8 years 5 weeks ago)
80

love it...

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (8 years 1 week ago)

Thanks. Senang Anda menyukainya.

Writer neko-man
neko-man at Suara (9 years 19 hours ago)
100

Deskripsinya keren abis. Kuacungi jempol deh

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (8 years 1 week ago)

Oh, terima kasih. Senang Anda menyukainya.

Writer smith61
smith61 at Suara (9 years 5 days ago)
90

Ini asik.

ayo tulis horror lagi

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 5 days ago)

*salute*
yessir!

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 5 days ago)

aduh. makasih kk Shark, tpi maaf mengecewakan, cerita yg ini ak gag ada rencana mo lanjutin, cukup jadi cerpen satu bagian ini aja, hahahah ^^;

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 4 days ago)

Oke dah, nembak momon2 akan daku tambahkan porsinya di cerita Jurnal versi panjangnya, wkwk, nantikan~

Writer Chie_chan
Chie_chan at Suara (9 years 1 week ago)
100

Kak Vontje! Ini keren banget! Ah, dikau emang keren. T_T
Eh, ini cerpen cadangan buat FF?
Cuma ada satu hal yang pengen kutanyain sih, yaitu tentang "2.00 PM" di atas sana. Itu adegannya udah menjelang pagi kan? Bukannya kalo gitu yg bener "2.00 AM"?

Peace. XD

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 1 week ago)

iyak, Ratu benar XD ak sering bingung angka yang benar untuk tengah malam sampai pagi hari itu PM atau AM, makanya yg di cerpen ini ketuker n aku lum sempet ganti lagi, hahaha, makasih sudah ingetin ak yah :)

er, yap, ^^, sebenarnya ini yang pertama mau ak kirim untuk FF2011, tapi karena banyak yg bilang klo unsur fantasinya dikit, jadi ak bikin lagi deh yg Jurnal-Satu itu, hehehe ^__^

aniwai, makasih sudah datang, baca, komen, dan kasih bintang, Ratu Chie XD

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Suara (9 years 1 week ago)
100

Wah Vontje...
.
Sa-saia sepicles.

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 1 week ago)

ah... iya...

*ikut2an sepicles*

wkwkwk, makasih sudah datang, baca, komen, dan kasih bintang ya :)

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Suara (9 years 1 week ago)
90

Waktu liat komen2 baru sadar... Ini ternyata punya Kak Ivon yg di FF2011 itu, toh? Pantas gaya menulisnya sama.. Keren lho, cerita ini. Endingnya juga bikin tercengang..

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 1 week ago)

tepat sekali~ ini Ivon, aka Dream Catcher, aka nagabenang, hahaha~ ^__^

wah, terima kasih untuk komentar dan bintangnya, ya! ;) nantikan cerita-cerita seram saya selanjutnya! XD

Writer phara
phara at Suara (9 years 3 weeks ago)
80

bagusnya: adalah tema yang diambil dekat dengan kondisi sekitar. bagian akhirnya antiklimax hehehe

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 1 week ago)

hehehe, iya, sangat dekat karena setting yang ak pakai adalah selokan sempit tanpa penutup got di dekat rumah, ^^;

makasih sudah baca dan komentar dan memberi bintang, Phara :)

Writer Zhang he
Zhang he at Suara (9 years 6 weeks ago)
100

Rupanya ini ivon toh XD
Dan cerita ini sukses bikin aku merinding >.<
Setuju ama kurenai, gak kerasa bacanya, soalnya ngalir enak banget kalimat2nya. Klimaksnya pas, endingnya nendang. Mantap deh!

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 1 week ago)

ah, makasih sudah komen n kasih bintang, Zhang He! XD dan eaaa, ini Ivon, wkwkwk, udah ah, gag main rahasia2an ID lagi deh habis ini, ketahuan semua habisnya, hahahah~ XD

hmm, baru merinding? musti latihan lebih keras biar bisa bikin yg bacany mimpi buruk nih, wkwkwk XD

(eh, ralat, sudah ada yang mimpi buruk gara2 baca cerpen ini kok, wkwkwk XD)

Writer stezsen
stezsen at Suara (9 years 6 weeks ago)
90

Hizz sekali lagi ku beruntung karena baca ini sebelom makan XD
Keren sangat. Meski ku bukan penggemar horror ehehehe

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 1 week ago)

ah, nasib temanku tak sebaik anda sayangnya, wkwkwk, XD, thx untuk komen dan angkanya~ :)

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 7 weeks ago)

@Liza: hahahah, senang mengetahui cerita ini bisa 'menghibur' anda ^^ terima kasih untuk komentarnya :)

@UntukPendidikan:
ahh, terima kasih banyak untuk saran-sarannya :D
jadi, ini masalah mood yang berubah-ubah ya, sesuai penempatan paragraf twist cerita ya... hmm, oke, noted! sekali lagi, terima kasih ya! ^^

Writer untukpendidikan
untukpendidikan at Suara (9 years 8 weeks ago)
90

tepok tangan dulu.. cara kau ngasi gambaran bahwa cerita ini akan berakhir 'jorok' sangat bagus, dengan gambaran2 suasana kota yang dipenuhi polusi dan segala macam rupa kejorokan berhasil memberi saya imajinasi kota yang kumuh dan menjijikkan.
.
tulisan ini ngomong-ngomong, sekedar saran, harusnya dieksekusi pada kalimat,"Singkat, lalu hening."
.
karna, terutama sy, jadi lebih merasakan 'teror' si mahluk mutan tersebut kalo seandainya tulisan ini disudahi di situ. jadi kerasa lebih 'membekas'. pembaca, tanpa dikasi tau pun sudah menebak-nebak (dengan gaya mereka sendiri) bahwa kisah ini ditutup dengan kematian david. jadi lebih seru.
.
pertimbangan lain, karena pada paragraf2 selanjutnya setelah monster itu menyerang david, gaya bahasanya jadi berubah drastis seolah terpisah dari tulisan2 di atasnya. akhirnya jadi menurunkan mood pembaca yang sebelumnya sudah terbangun oleh jalan cerita yang seru.
.
atau kalopun pun mau ditambahkan penutup seperti pada paragraf2 terakhir, menurutku, agak lebih cocok dikasi pengantar dari david tentang mengapa ia menulis catatan tersebut di awal-awal tulisan.

Writer liza is rin
liza is rin at Suara (9 years 9 weeks ago)
90

woohhoo..!! ceritany berhasil membuatku batal menutup kelopak mata nih! hahahaha..
ak hampir sama dg kak dansou, sama2 agak bingung dgn bagian 'david menulis cerita'. tp stlah membaca komen kk, ak mengerti. hihihi.. :D

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 10 weeks ago)

@Rainie: thanks :)

@Kak El: alow ^^ sengaja, hehehe, itung2 supaya bisa dapat komentar yg anonymous ^^ thx untuk komentarny :))
*caplok kue coklatnya*

Writer elbintang
elbintang at Suara (9 years 11 weeks ago)
90

Widew, kalo gw belum pernah baca tulisan yg ini gw gak ngenalin idnya, lho ^_^

welkam-welkam, naga.

Ini coklatnya. Eh itu crita lain, yah :p

Writer Rainie
Rainie at Suara (9 years 12 weeks ago)
90

suka kak XD

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 12 weeks ago)

@Alfare: wah, makasih~ :D

@Samara Dahana: hahaha, soalnya keluarga aku tinggalnya dekat tempat2 seperti itu... oke, nanti aku jalan2 ke tempat kamu juga ^^

@Dansou: tengkiu juga ^^
mm, ceritanya David itu nulis ulang pengalaman dia sendiri. di cerita yang David tulis itu, dirinya tewas dimakan makhluk itu, sementara pada kejadian sebenarnya, David itu selamat karena bunyiin klakson motornya :)
semoga jelas, hehe

@Naura: hahaha, kamu beruntung kalau begitu, soalnya teman aku baru bilang klo diy dapet mimpi buruk n ketemu makhluk seperti itu di mimpinya...hiiii XD

@Kurenai: hahahah, ak tadinya juga takut kepanjangan dan mau pecah-pecah jadi berapa bagian, tapi setelah dipikir-pikir lagi...ak coba langsung 'tabrak' aja ^^ terima kasih~

oiya, sempat lupa, ini cerita fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama atau orang atau kejadian, itu kebetulan belaka...
aku khawatir di sini ada yang namanya sama dengan ceritanya soalny, hahahah... ^^;

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Suara (9 years 13 weeks ago)
90

deskripsinya keren dan mengalir
padahal sampai 3000 kata, tapi bacanya nggak berasa.
dan endingnya khas horor banget yang sengaja dibuat menggantung. jadi inget serial Goosebumps ;D

Writer naura
naura at Suara (9 years 13 weeks ago)
80

Deskripsi ceritanya jakarta banget, aku agak susah ngebayangin got-got itu karena selalu ku switch dengan suara air sungai yang mengalir supaya gak kehilangan selera makan dan keinginan untuk tidur dengan pulas...
Tapi ceritanya bagus... keep writing...

Writer dansou
dansou at Suara (9 years 13 weeks ago)
80

Deskripsinya luar biasa keren. Mungkin ada beberapa bagian yang sedikit berlebihan, sih, tapi mungkin itu salah perasaan saya.
.
Sebenarnya cerita ini bukan tipe saya loh. Tapi bagus banget kok jadinya saya tertarik. Saya setuju dengan Kak Alfare ada beberapa bagian plothole. Bedanya, saya malah pusing kalau ketemu bagian ini. Hehehe....
.
Eng, btw David ini yang bikin semua cerita horor ini atau gimana sih? Aku lihat ada bagian di mana dia mengetik cerita. Jadi semuanya itu karangan David terus jadi nyata? Gitukah?
.
Selamat datang di k.com

Writer Samara Dahana
Samara Dahana at Suara (9 years 13 weeks ago)
80

Halo nagabenang, salam kenal. Ceritamu sukses membuat aku ga selera makan. Pendeskripsian kamu cukup bagus tentang betapa joroknya got-got, kotoran di depan toko, dan mahluk aneh penghuni selokan. Ditunggu terus tulisannya. Oya mampir-mampir ke lapakku ya ^__^

Writer Alfare
Alfare at Suara (9 years 13 weeks ago)
90

Aku pengen bisa ngegambarin suasana urban sebagus kamu.
.
Plotnya sederhana, tapi penggarapannya beneran bagus. Keenggakjelasan beberapa kejadian di dalamnya, yang sekilas bisa dinilai sebagai plothole, buatku malah jadi suatu daya tarik tersendiri. Keren, keren.

Writer 145
145 at Suara (9 years 13 weeks ago)
100

T_T HEBAAAAAT
Tulisan Horror kayak gini emang yang paling mantap. Ngomong-ngomong di K.com ada group untuk penulis horror kalo gak salah. Mau ikutan?
-
Ini menurutku juga cukup layak diikutkan di even Fantasi Fiesta 2011. Cek: http://kastilfantasi.com/

Writer nagabenang
nagabenang at Suara (9 years 13 weeks ago)

wah, makasih ya sudah posting komen pertama di cerita pertama *halah* aku di situs ini XD

wah, betulan? :D kalau ada bisa minta tolong tunjukkan di mana? aku masih baru di situs ini, jadi belum tahu tempat-tempat nongkrong yang 'tepat' itu yang di mana aj, hehehe

oh, iya, aku tahu event itu juga :D sebenarnya sih, aku pertamanya menulis cerita ini untuk ikutan Fantasy Fiesta, tapi kata teman cerita ini terlalu ke horor daripada fantasi. jadi mungkin nanti aku tulis cerita lain saja, yang lebih 'fantasi' untuk ikut Fantasy Fiesta itu :)

anyway, terima kasih untuk infonya ya! ^^