Melankolia Kota

sebuah perempatan menampung segalanya
di kota ini. langit bisu. lampu-lampu gagu.
deru mesin terasa asing bagi jiwa yang miskin.
kau tahu, hampir saja kuputuskan untuk bermalam
di sebuah mesjid. ketika mataku yang lemah
ingin menyerah pada sajadah. tapi batal. sebab air wudhu yang
mengucur dari keran, tiba-tiba membasuhkan kenangan,
membasahi lagi masa silam. dan kembali,
tubuh yang membayang di mataku adalah tubuhmu
: kampung halaman tempat aku dilahirkan.

seseorang pernah berkata padaku:
apa yang kau tinggalkan adalah apa yang kau
rindukan. aku tak percaya. sebab bagiku, rasa rindu
bukan milik para peragu. sedang jarak, selalu terhampar
bagai sebuah garis yang panjang tergambar.
selalu, ada ujung-ujung yang tak teraih oleh apapun.
yang membuat kita paham dan yang menyesatkan kita,
bisa jadi adalah hal yang sama. antara
meninggalkanmu dan menujumu, aku pun
sudah tak mampu membedakannya.

rasanya memang sudah begitu lama
aku memeram rahasia. untuk tak seorang pun
tahu apa yang sesungguhnya terjadi di antara kita.
janji-janij berulang kali disepakati. namun
kesetiaan, terlanjur jatuh cinta pada pengingkaran. kau tahu,
untuk sekedar mengemas ulang peristiwa hari ini saja,
aku bahkan harus bersusah payah memanggil debu-debu
untuk memungutinya satu-satu. Ingatan-ingatan
lindap jadi abu, dan api tak ingin lagi menyapanya.
mereka sudah lelah. kita seperti mereka
: sudah lelah.

maka sebuah kota setelah tiga jam perjalanan,
barangkali adalah sebuah gelisah.
rasa yang payah. kilometer-kilometer dilalui hanya untuk
dilupakan. trotoar dan jalan, seperti mawar terkena hujan,
mengutuki siapa saja yang berdiri sendiri di persinggahan.
siapa-siapa yang telah datang, barangkali adalah
mereka yang akan pergi suatu hari. kenangan, ingatan,
kerinduan, setia bersama mereka.
engkau, aku, kita, setia pada jeda, pada derita.

sebuah kota, adalah
sebuah istirah. segugus haus
bagi janin yang rakus.

Cianjur-Bogor.Mei.2011

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sebutsajakamu
sebutsajakamu at Melankolia Kota (11 years 19 weeks ago)
90

maka sebuah kota setelah tiga jam perjalanan,
barangkali adalah sebuah gelisah.
rasa yang payah. kilometer-kilometer dilalui hanya untuk
dilupakan. trotoar dan jalan, seperti mawar terkena hujan,
mengutuki siapa saja yang berdiri sendiri di persinggahan.
siapa-siapa yang telah datang, barangkali adalah
mereka yang akan pergi suatu hari. kenangan, ingatan,
kerinduan, setia bersama mereka.
engkau, aku, kita, setia pada jeda, pada derita.

sebuah kota, adalah
sebuah istirah. segugus haus
bagi janin yang rakus.

* Suka dengan bagian yang saya kutip ini. Epic!
Puisi yang membaur dalam skema cerita atau sebaliknya, yang pasti tulisan ini menghadirkan kedua-dua skema tersebut. seperti membaca cerpen dengan bahasa yang indah. Sangat berhasil! bravo bro!

Writer crenata011
crenata011 at Melankolia Kota (11 years 19 weeks ago)

terima kasih... :D

Writer ryuusoultaker
ryuusoultaker at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)
100

penggambarannya bagus banget..
jadi terbuai sama puisinya..
keren :D

Writer crenata011
crenata011 at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)

wah.. hati-hati ntar mabok.... hahaha...
thanx anyway... :D

Writer fairynee
fairynee at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)
90

Setuju sama brada wacau, endingnya kerasa bgt.

Salam

Writer crenata011
crenata011 at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)

makasih... :)

Writer wacau
wacau at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)
100

di bait ke-4 paling berassa melankolia kota :D

Writer crenata011
crenata011 at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)

terima kasih sudah mampir.. :D

Writer fendyhape
fendyhape at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)
100

aku suka nih yang kayak gini. seakan-akan makna tertutupi. sehingga pembaca akan penasaran untuk membacanya. nice ^^

Writer crenata011
crenata011 at Melankolia Kota (11 years 20 weeks ago)

well, pada dasarnya puisi adalah jalan memutar. hehe...
terima kasih sudah komen.. :D