<romance fantasy> ANGEL

Judul: ANGEL

Author: PINKY CHAN

Genre: fantasy romance

 

Yah... ini cerita fantasi romance saya... abal2 abis.. dibuat taun lalu... mohon dikomen. kalo lumayan mau saya reparasi...

 

 

 

I remember what you wore on the first day

You came into my life and I thought

“Hey, you know, this could be something”

‘Cause everything you do and words you say

You know that it all takes my breath away

And now I’m left with nothing

 

(Two is Better than One-Boys like Girls ft. Taylor Swift)

 

PROLOG: SACRED

 

Penuturan Ellectra Woods

 

                Aku tidak tahu banyak tentang kehidupan, namun aku tahu banyak tentang kematian.

                Kematian itu tidak menyakitkan. Kematian itu sederhana dan mudah. Nyaris tidak ada transisi berarti saat menghadapinya. Tidak seperti yang diceritakan dalam film ataupun buku-buku tertentu.

                Awalnya kau akan kehilangan kepekaan alat inderamu, berawal dari pendengaran dan diakhiri dengan penglihatan. Setelahnya, tidak butuh waktu lama sampai semuanya berubah menjadi gelap, sebelum jagat raya seakan diledakkan tepat di depan matamu dalam puluhan warna-warni cemerlang yang berubah menjadi spektrum putih hampa dalam sepersekian detik.

                Mengapa aku mengetahuinya?

                Karena sekarang aku sedang menghadapi apa yang disebut dengan kematian.

                Namun  kematian bukan  berarti akhir―kali ini semua buku dan film itu mengatakan kebenaran. Aku bisa merasakan tubuhku memberat, menjadi semacam benda lain yang terpisah dari diriku seutuhnya. Aku bisa merasakan diriku―apa pun aku sekarang―menjadi luar biasa ringan sehingga nyaris melayang lepas dari tubuhku yang berat itu, yang tergeletak begitu saja di meja operasi dikelilingi oleh dokter bedah ahli; semuanya berusaha membawaku kembali ke kehidupan sementara kardiogram menunjukkan garis lurus mendatar. Garis lurus mendatar itu menjadi penanda bahwa aku sudah mati, bahwa operasi cangkok jantungku gagal dilakukan karena suatu faktor: rusaknya alat pemompa darah, kesalahan pemberian anastesi, imunitas berlebih, apa pun.

                Aku yang sekarang―jiwa tanpa tubuh, roh, arwah, makhluk spiritual, apa pun sebutannya―lantas melayang cepat menuju spektrum putih yang kulihat. Betapa menakjubkan bagaimana aku bisa memperoleh visi akan tubuhku di meja operasi dan cahaya putih membutakan itu di saat yang sama.

Cahaya terang itu lalu perlahan memudar, dan mulai terfokus menjadi gumpalan cahaya yang lambat laun berubah menjadi sosok seorang pemuda bersayap hitam yang berpakaian serba putih. Dia tidak mengenakan alas kaki, dan tangannya membawa sebuah sabit dengan tangkai baja panjang yang kukenal sebagai sabit malaikat pencabut nyawa.

                Bawa saja aku. Aku tahu aku sudah mati. Kau datang untuk menjemputku, bukan? Jika iya, laksanakan saja tugasmu, pikirku sambil menatap wajah tampan tak bercela si malaikat pencabut nyawa. Garis wajahnya tegas sekaligus rapuh, dan matanya yang berwarna tembaga menjadi satu-satunya aspek menonjol dalam penampilannya yang monokromatis.

                Aku tak akan mencabut nyawamu. Tidak sekarang..., suara si malaikat terdengar langsung di dalam pikiranku. Suara itu seperti simfoni yang terbuat dari kata-kata, atau seperti kalimat yang dilagukan, atau apalah. Suara itu adalah hal terbaik yang pernah kudengar dalam hidupku.

                Dan sebelum aku sempat berkomentar, si malaikat menyodokkan gagang sabitnya yang terbuat dari baja langsung ke dadaku. Rasanya tidak sakit, melainkan menyerupai sentakan aneh yang menggelitik, seakan-akan tumbuh sesuatu dari tempat yang disodok sabit si malaikat.

                Aku menunduk, dan melihat seutas rantai emas panjang muncul dari dadaku. Rantai emas itu terhubung dengan tubuhku. Benda berat yang tadi kutinggalkan. Diriku yang sedang terbaring kaku di meja operasi.

                Kembalilah, simfoni kata-kata itu kembali terdengar di dalam pikiranku. Itu tubuhmu. Jika kau kembali sekarang, kau tidak akan mati.

                Sesudah mengatakan itu, si malaikat tersenyum padaku. Bulu sayap hitamnya perlahan berguguran satu per satu, dan akhirnya sayap itu hancur. Sementara itu, kardiogram di pojok ruangan mulai menampakkan garis bergelombang yang halus...

 

***

 

 

 

He was like frozen sky

In October night

Darkest cloud, endless storm, raining from his heart

Coldest snow, deepest chill

Tearing down his will

October and April...

 

                                                  (October and April-the Rasmus ft. Annette Olzon)         

 

CHAPTER 1: HEART

 

                PIPIPIPIPIPIPIPIPIPIP!!!!

                Suara alarm ponselku membuatku terlonjak bangun. Mimpi itu lagi. Sekarang sudah satu setengah bulan berlalu sejak operasi cangkok jantungku dilakukan. Namun kenangan akan saat-saat menyakitkan itu sama sekali tak bisa lenyap dari otakku dan rutin datang dalam bentuk mimpi setidaknya seminggu sekali. Bukan hal yang menyenangkan. Rasanya seakan aku disuruh mengalami kembali operasi itu tiap malam.

                Namun bukan berarti aku tak suka keseluruhan mimpiku. Jauh di dalam hatiku, aku harus mengakui bahwa aku menyukai bagian mimpi ketika si malaikat tampan muncul. Namun, saat aku terbangun, aku tak bisa mengingat apa-apa tentangnya. Aku ingat bertemu dengannya di dalam mimpiku, namun aku tak ingat aspek spesifik dirinya. Satu-satunya yang tertanam di ingatanku tentang sosoknya adalah matanya yang berwarna tembaga, seakan api sedang menyala disana...

                Aku kembali berusaha mengingat sosoknya secara spesifik untuk keseratus kalinya, dan untuk keseratus kalinya pula usahaku gagal. Seakan kenangan akan si malaikat tertulis di otakku dengan pensil murahan dan seseorang berusaha menghapusnya. Hasil hapusan itu tidak terlalu bersih, namun aku juga tetap tak bisa mengetahui tulisan awalnya.

                Letih sendiri, aku segera beranjak ke kamar mandi untuk mencuci mukaku dan berangkat ke sekolah. Ini adalah hari pertamaku bersekolah setelah setahun absen karena orang tuaku mencemaskan jantungku yang lemah. Jadi, selama setahun itu, aku mendekam di rumah dan hanya belajar privat dengan sistem sekolah internet, dengan dibimbing oleh tutor yang ditunjuk sekolahku. Awalnya, aku belajar dengan Cathy Marshall, senior perempuan yang pencemberut dan pemarah. Dia selalu menjejaliku dengan bahan bacaan yang luar biasa banyak, yang harus habis dibaca sebelum hari berganti. Hanya Tuhan yang tahu betapa leganya aku saat Cathy lulus dan digantikan oleh tutor yang lain tepat setelah operasi jantungku dilangsungkan. Namun, seperti pepatah lama, aku lolos dari kandang harimau dan masuk ke mulut buaya. Tutor baruku ini, yang menggantikan Cathy mengajariku selama satu setengah bulan terakhir, adalah seorang senior yang menyebalkan minta ampun. Dia tidak pernah kurang ajar padaku, tidak pernah menggangguku, dan tidak pernah bersikap buruk padaku.

                Yang membuatnya menyebalkan adalah caranya menatapku. Kombinasi antara mengejek dan mengasihani, disertai ekspresi dingin yang tak pernah sekalipun mencair. Baiklah, saat itu aku memang menderita kelainan jantung akut. Tapi tak seharusnya dia menatapku dengan sorot mata menyebalkan begitu.

                Mengingat-ingat si menyebalkan membuatku mual. Aku tidak ingin muntah di pagi hari begini, jadi sebaiknya aku mengalihkan perhatianku. Aku berusaha melupakan soal dirinya dengan fokus menata rambut hitamku, yang dipotong panjang sepinggang dan dibuatkan poni rata. Kata orang-orang, rambutku bagus. Tapi kataku, rambutku membosankan. Lurus seperti penggaris dan jatuh begitu saja, tanpa ikal sedikit pun.

                Dengan asal, aku mencomot sebuah bando putih berenda dan memakainya begitu saja. Cukup bagus. Setidaknya tidak semembosankan biasa―bagaimanapun aku ingin membuat kesan baik di hari pertamaku sekolah. Membosankan, penyakitan, dan kuper adalah tiga kata yang cukup untuk membuatku menjadi target penggencetan, dan aku sama sekali tak ingin itu terjadi padaku.

                Sesudah menata rambut, aku memilih kemeja putih lengan panjang berenda dan rok krem kotak-kotak selutut. Seperti biasa, aku tampak seperti gadis-gadis dari novel Jane Austen: kelewat konservatif dan kuno. Tapi semua bajuku seperti ini, jadi sudahlah. Pasrahkan saja.

                Seusai bersiap-siap, aku menyempatkan diri menyantap setangkup sandwich tanpa daging. Sesuai pepatah “apa yang kau makan mencerminkan siapa dirimu”, seperti itulah aku. Sandwich tanpa daging adalah salah satu makanan paling membosankan yang dikenal umat manusia, dan aku pun seperti itu: membosankan dan sangat biasa.  Aku mengunyah sandwich yang merupakan refleksi diriku itu dengan bosan, tepat ketika pintu depan rumahku diketuk. Aku menunggu Mum atau Dad datang dan membukanya, namun mereka tidak muncul-muncul juga. Jadi, dengan malas, aku beringsut ke ruang depan sambil membuka pintunya asal-asalan.

                Ternyata, yang datang adalah D.A Vanderson, senior yang menjadi tutorku. Si menyebalkan yang terlalu tenang dan dingin. Tak ada yang tahu D.A itu adalah singkatan dari apa. Dia selalu mengenalkan diri pada tiap orang dengan nama keluarga, dan jika dipanggil, dia akan meminta agar dipanggil D. Aku sudah sering berspekulasi tentang kepanjangan D.A, dan sejauh ini, jawaban paling masuk akal yang muncul adalah Dingin Abis atau Dungu sok Alim.

                “Hai, Ellectra. Kau tampak cantik hari ini,” pujinya. Aku tahu kalau pujiannya itu palsu, karena nadanya sedatar biasa dan ekspresinya tetap sama dengan sebelumnya―setenang dan sedingin danau di musim salju.

                “Hai, D,” sapaku balik. “Kau juga tampan hari ini.” Pujianku itu sebenarnya merupakan sindiran balik padanya. Baiklah, meski tidak bohong-bohong juga. D sebenarnya tampan, jika aku mau bersikap objektif dan menyingkirkan sentimenku. Rambut hitamnya dipotong model fringe membingkai wajah, dengan ujung yang menjuntai menyentuh kerah kaus polo putih Lacoste-nya. Dan dia memakai model jeans yang kusukai―True Religion hitam dengan potongan lurus. Namun, di atas semua itu, yang paling menakjubkan adalah matanya. Mata D berwarna cokelat tua, nyaris hitam―kontras dengan kulit pucatnya. Mata itu seperti lubang hitam, menyerap apa saja ke dalamnya, namun tak memantulkan apa pun. Jadi, apabila aku tidak sebal padanya, dengan senang hati aku mengakui ketampanannya.  “Ada apa? Kau tak biasanya datang sepagi ini.”

                “Aku mau meminta izin untuk memajukan waktu privat kita. Aku harus memperbaiki komputer Bryan Adams pada pukul 05.00 p.m, dan aku ingin agar kegiatan kita dimulai pukul 03.00 p.m...,”

                “Tidak usah,” potongku buru-buru. “Hari ini aku sudah akan bersekolah lagi―secara normal, jadi kurasa kegiatan privat kita harus diakhiri. Maaf sudah merepotkanmu selama satu setengah bulan terakhir.”

                D mengangkat bahu. “Bukan masalah. Lagipula sekolah membayarku untuk itu. Jadi tak usah merasa memberatkan,”ujarnya. “Nah, bagaimana? Kau mau kuantar?”

                “Apa?” ulangku, tak percaya pada pendengaranku. D mau mengantarku ke sekolah? Yang benar saja!

                “Ayo, berangkat bersamaku. Hari ini aku membawa mobil,” dia mengedikkan dagu ke arah mobilnya―sebuah sedan hitam yang meski tua namun tampak terawat.

                “Tidak usah. Kurasa aku akan berjalan kaki saja... kata dokter itu baik untuk melatih jantungku,” kataku, mencari alasan medis yang dapat dipakai mendukung argumenku. Bersama si Dingin Abis dalam satu mobil tampaknya bukan ide yang baik.

                “Jalan kaki? Hari ini awal bulan Oktober, demi Tuhan. Hari terdingin sepanjang tahun. Kau ingin mati beku?”

                Aku baru saja akan menyangkal, ketika alam tampaknya membela perkatan D. Hujan perlahan turun dalam bentuk gerimis, dan berubah menjadi hujan deras dalam waktu kurang dari 5 detik.

                Tak ada pilihan lain. Dengan berat hati, aku mengikuti D ke mobilnya, dan kami pun berangkat.

***

 

                Seharusnya aku jalan kaki. Seharusnya aku naik bis. Seharusnya aku meminjam Volvo Dad. Seharusnya aku menunda muncul ke sekolah... Seribu satu ‘seharusnya’ menari-nari dengan liar di benakku. Keputusanku untuk menumpang mobil D terbukti menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku, karena D sendiri tampaknya tidak benar-benar ikhlas. Terbukti dari raut wajah dinginnya yang tampak semakin dingin, bahkan cenderung waspada. Ada apa sih dengannya? Apa dia pikir aku akan menyerangnya lalu merampok mobilnya? Gayanya seperti sedang duduk bersebelahan dengan pembunuh kelas kakap saja.

                Namun, gerutuan dalam hatiku mendadak terhenti ketika aku mendengar sebuah suara masuk ke dalam pikiranku.

                Serahkan dia pada kami...

                Aku tersentak  kaget saat mendengar suara itu masuk ke dalam pikiranku. Dengan panik, aku otomatis menoleh kanan kiri untuk mengecek siapa yang bicara. Namun tidak ada siapa pun. Hanya D, yang tetap setenang dan secuek biasa.

                Apa kau tuli?! Angel, serahkan dia pada kami..., suara itu kembali terdengar. Suara itu terlalu datar dan tanpa nada, sehingga aku sama sekali tak bisa mengidentifikasi apakah itu suara laki-laki atau perempuan.

                Tidak. Belum saatnya, kali ini  terdengar jawaban dari suara lain―berbeda namun tetap sama datar dan setanpa nada suara pertama.

                Kumohon. Ini demi Azalea...

                Namun mendadak, sebelum seseorang bernama Angel itu menjawab,seluruh  percakapan yang masuk ke pikiranku itu lenyap.

                “Sudah sampai,” sentak sebuah suara datar yang sudah sangat familier bagiku. Aku menoleh ke kiri, dan melihat D yang sedang menatapku dingin.

                “A... apa itu tadi?” geragapku panik. “Ada... ada suara yang masuk ke dalam pikiranku!”

                Kini, seluruh ekspresi datar D digantikan oleh ekspresi heran―tepatnya ekspresi yang seakan menyuarakan kau―sudah―kehilangan―kewarasanmu. “Apa? Menurutmu itu bukan sekedar mimpi belaka? Tadi kau sempat tertidur pulas, Elle.”

                Aku terperangah mendengar ucapannya. Aku? Tertidur? Tidak mungkin. Jika iya, aku pasti sudah menyadarinya. Tapi penjelasan masuk akal apa lagi yang sesuai dengan  percakapan asing yang berlangsung di kepalaku?

                “Kau mau tetap berdiam  disini, atau segera turun dan mencari kelasmu?” sergah D cepat.

                “Maaf...,” ujarku gugup sambil melompat turun dari mobil.

                Kami lalu berjalan beriringan menuju ke gedung utama. D mengantarkanku sampai ke depan kelas baruku, sebelum berkata, “Semoga beruntung dengan hari pertamamu.”

                “Trims,” jawabku ala kadarnya. Aku memang membutuhkan setiap keberuntungan yang mungkin kudapat. Aku bahkan rela sial selama seminggu ke depan agar bisa beruntung hari ini, pikirku sambil mempersiapkan diri masuk ke dalam kelas.

 

***

 

                Ternyata, kekhawatiranku tidak bisa beradaptasi terbukti berlebihan. Sejauh ini, tidak ada yang terlalu memperhatikan kemunculanku kembali. Waktu satu tahun terbukti cukup bagi setiap orang di kelas ini untuk melupakan Ellectra Woods, yang sedari dulu selalu berdiam diri di pojok belakang kelas, sibuk mencatat dan tidak berinteraksi dengan siapa pun. Aku bahkan ragu mereka pernah memperhatikan kalau aku ada.

                Lima menit sebelum bel masuk berbunyi, seorang pemuda tampan berambut pirang berjalan santai ke arahku dan menghempaskan diri di bangku sebelahku. “Disini kosong, kan?” tanyanya tanpa basa basi. Wajahnya sepintas mirip dengan Brandon Routh versi muda, dan matanya yang berwarna biru menatapku tajam menyelidik.

                Aku menjawab pertanyaannnya dengan anggukan, sambil memperhatikan penampilannya. Dia mengenakan jaket hijau lemon di luar baju kaus putihnya, serta celana panjang  jeans warna hitam keabuan. Penampilan khas anak muda trendy jaman sekarang. Jika dia memang ada di kelasku dari dulu, aku pasti mengenalnya. Tidak mungkin melupakan anak setampan dan semencolok dia.

                “Kau... anak baru?” tanyaku ragu-ragu.

                Dia mengangguk, lalu mengulurkan tangan padaku dengan ramah. “Hai. Aku Eric Cavallari. Panggil saja Eric. Aku pindahan dari London,” cerocosnya dengan aksen Inggris yang mantap. “Harap maklum jika aku canggung atau berbuat keanehan yang berlawanan dengan adat Amerika. Bagaimanapun aku baru seminggu disini.”

                “ Oh, hai,” kataku gugup―kebiasaan lamaku jika bertemu dengan orang baru. “Aku Ellectra Woods. Kau bisa memanggilku Elle. Senang berkenalan denganmu.” Ya Tuhan. Apa sih yang kukatakan? Bicaraku formal sekali, seakan aku baru saja melatih percakapan dalam buku Basic English Grammar...

                “Senang berkenalan denganmu juga. Nah, sekarang beritahu aku. Guru apa yang paling galak disini? Bukannya bagaimana, namun aku ingin siap siaga jika dia mengajar―aku punya kecenderungan mengantuk tingkat tinggi.”

                Aku tersenyum malu-malu sebelum menjawab pertanyaannya. “Eh... Eric... statusku hampir sama denganmu disini. Aku juga semi murid baru, jadi maaf jika aku tidak tahu apa-apa soal kelas ini.” Astaga. Jika tadi bicaraku kelewat formal, kini gaya alien menguasaiku. Apa coba arti pasti dari ‘semi murid baru’? Eric pasti menganggapku tolol.

                “Semi murid baru? Maksudnya?”

                “Aku sakit. Jantungku lemah, jadi selama setahun aku bersekolah di rumah, dibimbing oleh tutor dari sekolah. Ini hari pertamaku kembali ke sekolah,” terangku.

                Eric mengangguk-angguk paham mendengar ceritaku. “Oh, begitu rupanya... Baiklah, kalau begitu kita harus saling bantu. Semoga kita bisa menjadi  teman baik,” ucap Eric ramah.

                Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena aku tak harus sendirian di hari pertamaku sekolah. Terima kasih karena kau telah mengirimiku malaikat penolong dalam wujud Eric..., doaku dalam hati. Namun belakangan, aku akan menyadari kalau doaku keliru...

 

***

 

                Mr. Parton sedang bad mood. Dia memberi kami ulangan dadakan. Aku pulang jam 4. Kalau mau menumpang, tunggu aku di perpustakaan.

-D.A.V-

 

     Aku membaca pesan itu sambil menggerutu pelan. Mr. Parton si penyiksa murid benar-benar memilih waktu yang keliru untuk mengadakan pembantaian. Jika D ditahan di kelas karena ulangan dadakannya, bagaimana caraku pulang sekarang juga? Aku lupa membawa obatku, dan kini dadaku mulai terasa berat. Aku tak mungkin sanggup menunggu selama 2 jam lagi... Aku sedang memutuskan apakah sebaiknya aku pulang naik taksi saja, ketika seseorang memanggil namaku.

                “Elle!”

                Aku menoleh ke belakang, dan melihat sosok Jenny McCaughill yang berlari riang menghampiriku. Dia adalah gadis dengan tinggi menengah dan berwajah manis berbentuk bulat telur. Rambutnya yang cokelat ikal dipotong bob sedagu. Aku sekelas dengannya di kelas kimia, Bahasa Inggris, dan biologi, sementara sisanya aku bersama dengan Eric.

                “Hai, Jen,” sapaku. “Jaket yang bagus.”

                Jenny tersenyum sumringah mendengar pujianku, sambil mengangkat kelepak jaket birunya dengan penuh gaya. “Hadiah kupon undian di mall. Jangan bilang-bilang.”

                Aku tertawa mendengar ucapannya. Jenny adalah gadis paling ramah yang kukenal. Sikapnya padaku sungguh apa adanya dan tanpa basa-basi, tidak seperti orang-orang lain yang cenderung menjaga jarak denganku. Namun aku tidak suka matanya. Mata Jenny yang berwarna kelabu seakan siap menelanku bulat-bulat, bahkan ketika ekspresinya sedang berada di titik paling ramah sekalipun. Sorot mata itu... membuatku takut.

                “Kau belum pulang?” tanyanya.

                Aku mengangkat bahu. “Belum. Hari ini aku menumpang dengan kakak kelas, dan dia sedang menghadapi ulangan dadakan Parton. Sungguh hadiah selamat-datang-kembali yang manis dari guru terbaik di sekolah ini,” sinisku sarkastis.

                Mata Jenny kontan melebar. “Oh wow... kau pacaran dengan senior?”

                Aku memutar bola mataku. “Jenny, adakah konteks kata ‘menumpang’ yang terasa ambigu atau tidak jelas untukmu? Aku hanya menumpang mobilnya, titik. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.”

                Namun Jenny tak terhentikan. “Ah, itu kan hari ini. Bisa saja besok kalian sudah jadian. Memangnya siapa orangnya?”

                “Seseorang dengan nama D. A Vanderson, yang praktis bisa diberi gelar pemuda terdingin dan tertenang di seantero Thunderough High School,” jawabku.

                Mendengar nama itu, entah aku mengkhayalkannya atau tidak, mata kelabu Jenny mendadak tampak berapi-api. Namun, ketika aku memastikan ulang, mata kelabu itu kembali normal―tampak ramah dan ceria, namun tetap dengan kesan lapar.

                “Oh... Si D. A yang itu... anak-anak di kelas utamaku meributkannya terus. Mereka bilang dia tampan, misterius, dan sebagainya. Tapi menurutku dia aneh. Lebih baik kau berhati-hati dengannya. Jadi, jam berapa dia pulang?”

                Aku nyaris mengerang mendengar pertanyaan Jenny. “Jam 4―yang berarti aku harus menunggunya dua jam lagi.”

                “Pulang bersamaku saja. Aku akan mengantarmu. Kau tinggal di Broadside, kan? Aku kebetulan ada perlu disana...”

                Aku baru saja akan menyambut tawaran Jenny, ketika seseorang mencengkram tanganku. Aku tersentak, dan melihat sosok tinggi jangkung D. Dia menatap Jenny dengan kebencian yang tak ditutup-tutupi, dan Jenny juga melotot balik ke arahnya. Aku baru pertama kali melihat D kehilangan kendali seperti ini. Dia adalah manusia paling tenang yang aku tahu, bahkan hingga ke inti selnya.

                “Elle pulang bersamaku,” tegas D. Tandas dan tak terbantahkan.

                “Tapi katamu tadi kau ada ulangan dadakan,” sergahku nekat.

                “Dibatalkan. Parton sakit perut. Kami dipulangkan. Ayo, Elle. Jangan membantah lagi. Kau harus segera minum obatmu,” D mengatakannya dengan nada otoriter, dan tanpa menunggu persetujuanku, dia menggenggam tangan kananku dan praktis menyeretku di sepanjang koridor.

                Karena tahu aku tak akan bisa menang berdebat dengan D, aku lalu menoleh ke belakang untuk meminta maaf pada Jenny. Namun gadis itu sudah hilang...

 

***

                “D. A Vanderson,” panggilku pada D, ketika kami memasuki area macet di dekat kafe Starbucks. “Sejak kapan kau memiliki otoritas penuh terhadapku? Kau bahkan lebih parah dari ibuku. Aku bebas pulang dengan siapa saja dan kapan saja!”

                “Tidak dengan Jenny McCaughill,” jawab D tenang sambil menginjak pedal gas. “Dia berbahaya.”

                Mendengar jawaban itu, aku otomatis mendengus. “Hah. Kalian berdua sama-sama menyatakan kalau satu sama lain berbahaya. Sebenarnya siapa sih yang benar? Kalau aku pribadi, aku cenderung memihak Jenny. Setidaknya dia lebih ramah dan tak pernah menyeretku untuk memaksaku pulang dengannya.”

                Sudut-sudut bibir D nyaris terangkat ketika aku menumpahkan semua kekesalanku. “Percayai apa saja yang kau mau, Elle. Namun kepercayaanmu semuanya keliru. Tak satu pun dari kami yang layak kau percayai. Tidak Jenny, tidak juga aku.”

                Mendengar kata-kata itu, otomatis tengkukku terasa dingin. Seakan alarm peringatan bawah sadar yang selama ini tidak kuhiraukan mendadak berbunyi.

                “Apa maksudmu?” tanyaku ragu.

                Mendengar pertanyaanku, D mendadak menepikan mobilnya. Dia lalu menatapku lekat-lekat, menimbulkan sensasi aneh yang bergolak tak lazim di perutku. “Dulu, jarakmu dengan jurang kematian hanya tinggal seujung rambut. Namun, kau berhasil lolos darinya. Tidakkah kau pernah berpikir bahwa sesuatu yang ajaib terjadi padamu? Tidakkah kau pernah mengira bahwa nyawamu itu merupakan komoditas panas? Jaga nyawamu itu baik-baik. Jangan sembarangan mempercayai orang.”

                Aku terpesona mendengar kata-katanya, sehingga aku nyaris tak bisa mencerna artinya apa. Sejak mengenal D, baru kali ini aku mendengarnya berbicara sebanyak ini. Dan untuk alasan yang tak bisa kujelaskan, hal itu membuatku takjub.

                “Jadi kesimpulannya?” tanyaku lagi.

                “Jaga nyawamu baik-baik. Tidak setiap orang bisa mendapatkan kesempatan kedua sepertimu.”

                Untuk kedua kalinya, aku kembali terperangah mendengar kata-kata D. Dan untuk kedua kalinya pula, alarm peringatan bawah sadarku berbunyi. Alarm itu berusaha meneriakkan padaku kalau D mengetahui sesuatu tentangku. Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang aku sendiri pun tak menyadarinya.

               

***

 

                Azalea melemah. Aku membutuhkan gadis itu SEKARANG. Serahkan dia padaku, Angel. Jika tidak, aku akan merebutnya paksa darimu...

                Aku yang sedang membuat PR Fisika-ku mendadak tersentak saat rentetan kata-kata itu masuk ke dalam pikiranku. Seperti sebelum-sebelumnya, aku otomatis menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya  untuk menyadari bahwa aku ternyata seorang diri di kamarku.

                Apa-apaan itu tadi? Apakah aku sudah gila? Aku mendengar suara di dalam kepalaku, dan itu sama sekali bukan suaraku...

                Aku menunggu jawaban dari Angel, namun tampaknya percakapan itu tidak berlanjut. Ya Tuhan. Aku mulai kehilangan kewarasan... Aku harus mencari bantuan...

                “Mum! Mum!” jeritku sambil menuruni anak tangga dua-dua sekaligus. “Ada yang bicara di dalam kepalaku!”

                Ibuku, yang sedang menggoreng telur mata sapi di dapur, melongokkan kepala dari pintu dapur.

                “Ada apa, Sayang?”

                “Aku mulai gila!” jeritku histeris. “Aku mendengar suara-suara di dalam otakku!” aku kembali meracau tanpa terkendali.

                “Itu biasa terjadi jika kau kelelahan, Elle. Atau jika kau sedang mengantuk. Sudahlah, itu hanya halusinasi biasa,” jawab ibuku tenang, sebagaimana ketika ia menangani pasien-pasiennya di klinik psikologi.

                “Tapi ini lain... ini...,” aku berusaha mencari kata-kata yang tepat  untuk menjabarkan apa yang kualami.

                “Sudahlah, Elle. Jangan didramatisir begitu. Kau hanya kelelahan. Ini hari pertamamu masuk sekolah, dan mungkin bawah sadarmu tegang, sehingga kau berhalusinasi. Sekarang duduklah, makan telur mata sapimu, lalu tidur,” perintah ibuku. Ada nada finalitas dalam suaranya, yang membuatku yakin kalau membahas masalah ini lebih lama lagi dengannya hanya akan menghasilkan rasa frustasi mendalam. Bersama klien-kliennya, ibuku selalu penuh pengertian dan mau mendengarkan ocehan mereka. Namun denganku, dia menanggalkan semua karakter psikolognya dan menjelma menjadi ibu rumah tangga biasa―keras kepala, bawel, dan luar biasa pelit.

                Jadi, meski masih memberengut, aku menarik kursi mahoni di dapur dan mulai memakan salad buah dan telur mata sapiku. Setelahnya, tanpa mengucapkan apa-apa lagi, aku masuk ke kamarku dan bersiap tidur.

                Dan dalam tidurku, aku bermimpi lagi.

                Bukan mimpi operasi seperti yang sudah-sudah, melainkan mimpi tentang seorang gadis yang sama sekali asing bagiku. Dia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat. Rambutnya yang ikal panjang berwarna pirang―sangat pirang sehingga menyerupai kilau emas murni. Matanya yang hijau berbentuk mirip buah almond, lebar dan dinaungi bulu mata lentik. Dan tubuhnya sempurna. Langsing dengan kulit kecokelatan―jenis kulit yang hanya akan menjadi mimpi bagi gadis berkulit pucat sepertiku. Di leher jenjang gadis itu, tergantung sebuah kalung dengan bandul jam pasir mungil―butiran pasir di atasnya hanya tinggal beberapa buah. Jika tidak mengendalikan diriku, kurasa aku bisa menangis karena iri akan penampilannya... kesempurnaannya. Diriku dan dirinya cocok untuk dijadikan contoh nyata perumpaan itik buruk rupa dan angsa.

                Gadis itu lalu membalikkan badan, dan mendadak saja aku dapat melihat sayap putih di punggungnya. Sayap itu tampak kacau. Salah satunya patah, dan bulu-bulunya sudah rontok atau berguguran. Dan tanpa aba-aba, sebuah suara seakan menjerit di otakku, membuatku langsung tersentak bangun.

                Buru-buru, dengan tangan gemetaran karena kaget, aku meraba-raba nakas di samping tempat tidurku dan menyalakan lampu tidur. Napasku tidak teratur, dan keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhku.    

                Barusan itu... kata yang dijeritkan oleh suara yang selama ini membajak otakku...

                Azalea.

                Kata itu... nama itu... jangan-jangan itu nama gadis yang tadi. Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku memimpikannya? Kenapa aku mendengar suara-suara di otakku yang terkait dengan dirinya? Ada apa dengan diriku?

                Lebih karena histeris daripada haus, aku lalu menyambar botol air mineral yang kuletakkan di nakas dan meminum isinya sampai tandas. Jika dipikir-pikir, semua keanehan ini dimulai sejak aku mengalami operasi cangkok jantung... Apakah ini ada kaitannya dengan jantung yang sekarang ini berdegup-degup di rongga dadaku―sebagaimana keanehan-keanehan yang dialami Jessica Alba setelah menerima donor mata di film The Eye? Ataukah terkait dengan si malaikat yang batal mencabut nyawaku?

                Aku akhirnya berspekulasi sendiri  untuk sedemikian lama, membuat kemungkinan demi kemungkinan yang semakin lama semakin tidak masuk akal, dan akhirnya jatuh tertidur...

 

***

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer serigalahitam
serigalahitam at ANGEL (9 years 49 weeks ago)
100

yaah anomalinya ga dilanjutin hahahaha. Yasudah, baca angel aja :D

Writer Jun an nazami
Jun an nazami at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
100

hidup angel! :-)

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

Makasih jun.. :)

Writer Samara Dahana
Samara Dahana at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
100

Halo pinky_chan, salam kenal ya. Ga sabaran baca kelanjutannya. Kapan novelnya keluar? Mampir-mampir ke lapakku ya ^__^

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

Salam kenal jga samara dahana.. :) iya.. Nanti saya mampir ya.. :) Makasih ya sudah baca.. Sekitar sebulan atw dua bulan ke depan, samara.. Soalnya masih ngantre buat terbitnya.. Hehe.

Writer yellowmoon
yellowmoon at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
80

bagus

Writer Rizky_Ang
Rizky_Ang at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
100

Awalnya q mampir gara2x liat PP mu di online user. . (cantik, kaya boneka)
But ceritamu sama cantik ma PP mu (btw itu asli, kan? :-p)!! THAT'S AWESOME! Sayang nggak dilanjut. . Q beli dah 1 kalu terbit.
-CURIOUS-

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
90

btw maaf semuanya... ini gak akan dilanjut publishnya... duah mau diterbitin soalnya... (akhirnya lolos penerbit) mohon beli ya... makasih^^

Writer neko-man
neko-man at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
100

Dang. Ini keren. Rapi, halus, menarik. Aku sampai jadi fans dah. Sebenarnya aku diluar dari demografik pembaca, tapi karena ini keren abis, aku jadi suka. Terlihat sekali terpengaruh novel terjemahan. Pasti sudah banyak baca.
-- selanjutnya mungkin ada beberapa kata yang kurang ngerti seperti Brandon Routh. Siapa itu? Ternyata pemeran superman. Sebaiknya diberi penjelasan tambahan, supaya bisa membayangkan bagi pembaca yang tidak ngerti atau bukan pecinta film. Atau fringe hair.-- Tapi aku tak begitu paham dunia remaja cewek sih. Mungkin juga hal-hal itu populer belakangan ini. Sebenarnya ini preferensi penulis saja memberikan penjelasan atau tidak.

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

no... novel terjemahan yang saya baca cuma harpot ma coraline... itu dibeliin cece saya waktu saya ultah... jadinya belum baca banyak.. tapi saya suka nonton film barat. mungkin keinfluence itu ya...
ah. maaf.. saya kira fringe hair dan brandon routh itu terkenal.. jadi gak saya kasih info tambahan.. ^^ mungkin terkenal dari sudut pandang saya aja ya..

Writer neko-man
neko-man at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

Hmm.. jarang baca ya? That's would make me jelous of your talent, miss. hahaha.

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

habisnya sibuk... :( yang dibaca paling diktat kuliah.. gak sempet baca novel.. liburan pun biasanya ambil job ini itu. ahahaha.. :D wah, makasih lagi.. ^^

Writer neko-man
neko-man at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

job?

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

saya model amatir ngerangkap analis data ngerangkap baby sitter ngerangkap penerjemah plus editor freelance... :) tapi yang nyita waktu itu ya analis data nya. stres ngolahnya (buaaannyak). haha. tapi gede duitnya.

Writer neko-man
neko-man at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

model amatir -wheeeew. kombinasi penulis dan model kayaknya pernah tahu deh. Kalau pernah atletik lengkap sudah...

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

ahh... atletik! saya punya track record bagus banget di atletik. nomor 2 terus... dari belakang. XD renang gak bisa, lompat tinggi nyungsep, lompat boks nabrak, lari ngos-ngosan, dan masih banyak lagi. nilai olahraga di ijazah cuma berdasar belas kasihan guru2 aja... :P

Writer elbintang
elbintang at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
90

Ah, kerna ada yg berkomentar soal jumlah kata, jadinya nimbrung deh ^_^

pinky, plis jangan tergoda pake filter page, gw yg onlen dari hp bisa-bisa seharian cuma buat buka perpage 1 crita he.he

gw gak mrasa crita ini kudu dipangkas tayangnya kerna tulisannya asik dan gak pake istilah macam2.
Jangan khawatir soal kuota kata, itu gak berlaku bagi crita yg enak diikuti. He.he

lanjut-lanjut

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

Iya... :) saya gak pangkas kok.. hehe... pasrah kalo yang baca dikit.. wkwkwk.. makasih ya elbintang.. ^^

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
90

terpesona, nyaman bacanya ^^
keren dah

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

kumiiko_chan, makasih ya.. ^^ moga mau tetp ikutin.. hehe..

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
90

all.. lanujutan ANGEL dah ada. namanya ANGEL part 3. mohon komen dan makasih.

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
90

21guns, makasih sudah baca, makasih udah bilang saya cantik. :) moga gak bohong ya, 21guns.

Writer 21guns
21guns at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
100

MWO.. O_o
gw suka bgtz...
Ceritanya T-O-P-B-G-T,, Authorxx juga cantik. As sweet as those roses... B-) Karakterxx idup.,. Typo ada si, but Oke lha..
PERFECT.., Pinky, gw ngefans yua.

Writer Dark__Moon
Dark__Moon at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
90

oke,, diawali dengan misteri,, cara penuturannya keren,,

status pembaca saat ini : jatuh cinta

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

dark moon.. makasih ya sudah baca... semoga mau tetep baca lanjutannya.. ^^

Writer herjuno
herjuno at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
100

Biasanya, di Kekom satu post jumlah katanya tak lebih dari 3.000 kata. Namun, saya nggak rugi baca post yang hampir dua kali lipatnya ini, karena memang bagus banget. Namun, coba kali lain pertimbangkan menggunakan fiter "halaman".
.
Aliran Amerika, ya.... gaya penceritaanmu menurutku berkarakter. Pertama dari deskripsi karakter dulu. Merupakan suatu hal yang menyenangkan membaca deskripsi karaktermu karena lengkap dan detail--sesuatu yang yang dibutuhkan pada bagian orientasi. Kemudian banyak dari bagian ceritamu yang menggunakan showing ali-alih telling, dan itu menurutku sangat bagus. Cth:
"...Sesudah mengatakan itu, si malaikat tersenyum padaku. Bulu sayap hitamnya perlahan berguguran satu per satu, dan akhirnya sayap itu hancur. Sementara itu, kardiogram di pojok ruangan mulai menampakkan garis bergelombang yang halus..."
.
Artinya, si Estelle kembali hidup.
.
"Aku tidak ingin muntah di pagi hari begini, jadi sebaiknya aku mengalihkan perhatianku. Aku berusaha melupakan soal dirinya dengan fokus menata rambut hitamku, yang dipotong panjang sepinggang dan dibuatkan poni rata"
.
Artinya, secara tidak langsung kamu juga berkata bahwa sang karakter memiliki ramut hitam.
.
Kemudian:
.
"..."Itu biasa terjadi jika kau kelelahan, Elle. Atau jika kau sedang mengantuk. Sudahlah, itu hanya halusinasi biasa,” jawab ibuku tenang, sebagaimana ketika ia menangani pasien-pasiennya di klinik psikologi..."
.
Itu artinya ibu Estells bekera sebagai psikolog.
.
Di samping itu, saya juga memuji foreshading-mu. Kamu memberikan cue mengenai konflik di awal cerita, membuat pembaca (saya) bertanya-tanya, "Apa sebenatnya gerangan yang terjadi?". Nice.
.
Hanya saja ada satu miss yang mengganggu. Singkatan D.A.-nya itu, loh--Dingin Abis. Mungkin kamu berusaha menerapkan teknik translasi dalam novel lokal, atapi menurut saya, itu justru keluar dari konteks. Seharusnya kamu menggunakan bahasa asing; mungkin Dumb-Ass (si Bodoh) atau Demon-Ancestor (Keturunan Iblis), untuk menyesuaikan dengan konteks Amerika-nya.
.
Anyway, salut buat cerita ini dan pengarangnya ^^

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

Sorry banget soal itu.. soalnya ini cerita pakai bahasa indonesia dan saya tidak enak mencampurkannya dengan bahasa lain.. mau cari singkatan yang bagus dalam bahasa indonesia untuk D.A juga tidak ada. ^^ oh, baik. untuk juml kata nanti ke depannya akan saya pangkas. maaf saya melanggar. :)

Writer herjuno
herjuno at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

Tapi kamu menggunakan Mom dan Dad sebagai pengganti ayah dan ibu, kan? :)
.
Sebenarnya tidak ada aturan bakunya, sih...jadi tak bisa disebut melanggar. hanya kebiasaan semata ^^

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

skak mat. haha. iya ya, saya juga baru sadar *bodoh.com*. okelah, nanti saya edit. makasih herjuno.. ^^

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
90

makasih buat semua yang sudah baca.. ^^

Writer dansou
dansou at ANGEL (10 years 3 weeks ago)
2550

Oke2. Ceritamu masih sama kueereennya dengan Anomali. Btw umur kamu berapa sih? Semua ceritamu keren2.
.
Untuk pertama kalinya, saya ngasih koreksi. Setting cerita ini adalah Amerika Serikat. Dan anak2 Amerika memanggil ibunya 'Mom' alih2 'Mum'. Sedangkan 'Mum' digunakan oleh anak2 Inggris. Awalnya saya pikir settingnya di Inggris, ternyata di AS.
.
Kayaknya saya sudah bisa menebak ke arah mana cerita ini. Tapi saya tunggu kejutannya.
.
Ah, saya suka dengan Two Is Better Than One, anyway. Dinyanyikan oleh band dan penyanyi favorit saya

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

20 taun... Pinky masih kul. tapi tampang kaya tante2 kayanya.. :P hehe. Uwaaah.. makasih masukannya. :) saya pikir sama aja sebutannya. ^^

Writer dansou
dansou at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

ah, ternyata lebih tua dari umur saya. saya masih 17 *nggak nanya*. aku gak bilang loh ya kaya tante2.....
.
nggak. meskipun beda satu huruf, sebutannya beda. walau kayaknya sepele, JK Rowling pernah marah gara2 urusan ini loh. Ia protes sama penerbit Amerika yang mengubah 'Mum' menjadi 'Mom' di novel Harpot versi AS. Ia bilang seharusnya tetep 'Mum' biar anak2 AS mengerti bedanya Inggris British ama Inggris US gitu. ah, tapi itu nggak penting. selain masalah sepele itu tadi, ceritamu sempurna *cling*

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

Oh gitu.. iyap2 masukannya bagus bgt.. :)
wah.. makasih ya.. saya seneng ada yang suka cerita saya... ^^
wah.. masih sweet seventeen.. ^^

Writer dansou
dansou at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

ayo saya tunggu Anomali nya >,<
.
iya, seventeen nya bener, sweet nya gak

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

bitter seventeen dah.. hehe..:D anomali nya paling lagi ntar atau besok malam saya publish disini.. :) lagi banyak tugas kul geje.

Writer Kurenai86
Kurenai86 at ANGEL (10 years 4 weeks ago)
100

D. A = Death Angel
he3.... ngaco ah
eniwei... ini keren juga
tapi... menurutku sih lebih baik kamu kelarin dulu Anomalinya baru lanjutin yang ini
soalnya mau baca dua2-nya tapi takut kecampur2 masing2 tokohnya. Habis settingnya serupa sih
wkwkwk XD
.
Eh, bagian yang arwahnya Elle keluar rantai emas di dada itu jadi kepikiran Bleach deh

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

yang ini udah saya kelarin kok.. ANGEL udah tamat. ^^ wah, mirip Bleach ya? mungkin saya akan edit nanti biar gak terlalu mirip. ^^

Writer ianz_doank
ianz_doank at ANGEL (10 years 4 weeks ago)
100

keren, pasti ini karya seorang profesional.. Nge-fans ah sama pinky_chan.. :)

Salam.

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

heiaah... profesional opo toh.. :) saya masih newbie.. ^^ setaun lalu saya dapet buat cerita, tapi habis itu stop.. lanjut lagi sekarang. xD

Writer amy
amy at ANGEL (10 years 4 weeks ago)
100

Maaph, lupa ngasih point. . Hehe

Writer amy
amy at ANGEL (10 years 4 weeks ago)

Waw pinky, sepanjang ini ceritamu benar2 keren!! Mulai dari Anomali sampai cerita ini. . Aku jadi ragu kalau kau baru pemula. .
Karena membaca karya2mu seperti membaca novel2 terjemahan. .

Dan ini membuatku tambah ngefans dengan --karya2--mu. .hehe
Kutunggu cerita2 menarik lainnya!! ^_^

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

wahhh.. maakasih.. ^^
pemula kok..cuma dapet buat cerita 1 taun lalu, terus berhenti, terus mulai lagi dari sekarang.. ^^

Writer cilang
cilang at ANGEL (10 years 4 weeks ago)
100

bolehlah......

pinky_chan at ANGEL (10 years 3 weeks ago)

makasih komennya cilang.. ^^