DAN KAWAN

DAN KAWAN

 

Pada akhirnya kampung kita mengenali kesendiriannya. Kesedihan seusai melepas segala kepergian, dan rasa dingin dari setiap lambaian tangan. Orang-orang memilih hijrah, dan aku kembali jadi pemurung. Selepasnya, mungkin hanya tinggal percakapan kita berdua yang mengalun, yang menjadi unggun --sepanjang malam. Sebuah pos ronda, tiba-tiba saja terlihat sia-sia, di antara sepi yang tumbuh --dari maghrib ke shubuh, dari jaga ke tunduh.

Aku kembali jadi pemurung dan berfikir; barangkali hidup hanyalah kesepi dan kesia-siaan yang begitu panjang. Sepi yang mungkin juga menjadi alasan ketika awal mula tuhan menciptakan dunia, menggulirkan bola, dan mempermainkan manusia.

Mungkin akan sangat membahagiakan bila kita bisa menikmati setiap permainan; moment of glory, detik-detik ketumbangan. Kegirangan bahkan rasa sedih. Kejayaan bahkan saat-saat telak dikalahan. Lalu aku membayangkan, betapa tak terbayangkan jika pada sebuah musim tiba-tiba kita telah berdiri di Nou Camp, stadion agung, mencetak gol terindah, lalu melakukan selebrasi paling mengejutkan; kencing di pinggir lapangan.

Tak peduli sangsi wasit serta FIFA, mungkin itulah yang patut kita namai sebagai kepuasan serta kebahagiaan. Sebuah pencapaian yang patut dikenang menuju mati --bekal untuk sesekali tertawa sendiri ketika sepi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Putri_Pratama
Putri_Pratama at DAN KAWAN (9 years 21 weeks ago)
70

Saya tidak tahu maksud puisi ini, tapi apakah ini sindiran yang patut dijadikan renungan?
@Rizal21: Puisi apa esai? Puisi sekarang tidak lagi mengikuti aturan baku. Saya kira kamu tahu itu dan hanya berpura-pura saja.

Writer Jun an nazami
Jun an nazami at DAN KAWAN (9 years 20 weeks ago)

saya kira seorang perenung itu tidak pilah-pilih apa yang mesti direnungkan

Writer Jun an nazami
Jun an nazami at DAN KAWAN (9 years 21 weeks ago)

malna!

Writer Rizal21
Rizal21 at DAN KAWAN (9 years 21 weeks ago)
20

puisi apa esai?