Memenuhi Undangan Mu

 

Dadanya naik turun teratur selaras dengan tarikan nafas panjang. Apa yang terlihat dalam alunan irama tidak memainkan lagu kegundahan di dalam hatinya. Lelaki itu memang sudah menyerahkan segala urusannya kepada Sang Maha Pelindung, namun tetap saja rasa kegelisah itu muncul. Perjalanan satu bulan ke tanah suci, meninggalkan anak dan istri adalah sebuah cobaan terhadap keihlasan dirinya. Ribuan “kemungkinan” mengelitik keteguhan niatnya.


Duduk di kursi belakang rumah, memandang tumbuhan hijau berlatar tembok belakang rumah. Keteduhan yang ditawarkannya hanya meredam sesekali pertanyaan demi pertanyaan yang tiada seorangpun mampu memberikan kepastian jawabannya.


Lintasan demi lintasan pikiran memenuhi hatinya. Anak-anak yang masih berusia kecil. Bagaimana masa depan mereka, bila memang waktu perpisahan itu tiba. Bagaimana bila Ia tidak pernah kembali dari pergi ke undangan agung itu. Hari-hari mendekati keberangkatan ini membuat jantungnya semakin berdebar keras.


Terbayang olehnya, bagaimana istrinya kelak akan bersusah payah membesarkan kedua anak-anak lelakinya. Bagaimana bila salah satu anak itu sakit? Bagaimana kalau istrinya sakit? Bagaimana? Dan, bagaimana?


Ia sadar kalau perjalanan suci yang akan dilakukannya, telah puluhan juta manusia sebelumnya berangkat dengan sepenuh hati mereka dengan kebesaran hati untuk berserah. Perpisahan menjadi bagian dari setiap mahkluk yang hidup. Waktu kedatangannya yang dirahasiakan. Tak seorangpun tahu bila dan cara kedatangannya. Rasionya menyimbangkan sisi kegelisahannya, mengurangi keraguannya.


“Mas, sedang apa? Koq termenung sendiri” suara istrinya menyadarkan dirinya dalam hayutan pikiran.


“Ah, ndak ada apa-apa, Nis.” sambil tersenyum kepada istrinya, Annisah, seorang prempuan yang dinikahinya sebelas tahun yang berlalu.

“Masa tidak ada apa-apa?” perempuan itu duduk di kursi.

“Iya tidak ada apa-apa. Mas hanya berpikir tentang keberangkatan pergi haji minggu depan. InsyaAllah, semua sudah dipersiapkan. Nanti dik Andri datang, ada beberapa surat yang mau dititipkan dengan dia.” sambil memandang penuh wajah istrinya. Ia dapat meraba kalau kegundahan juga melanda istrinya.


“Mas, sudah siap?”

“InsyaAllah siap, Nis. Memenuhi undangan Allah ke baitullah adalah impian setiap muslim untuk memenuhi kewajibannya.”


“Iya mas. Semoga Allah meridhai setiap niatan kita. InsyaAllah mas dalam lindungan Allah, sehat dan sempurna dalam menjalankan ibadah nanti”

“Terima kasih atas doanya, istriku sayang. Jaga diri baik-baik, ya Nis. Jaga anak-anak. Titip Ibu dan Ayah, mereka juga orang tuamu, kan.” dipegangnya erat jemari tangan istrinya sambil kembali tersenyum.


Diusapnya air mata istrinya yang mengalir di pipinya, dan dikecup kening istrinya seperti pagi kala mereka menikah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer iman
iman at Memenuhi Undangan Mu (10 years 51 weeks ago)
90

yah semoga saja selamat sampai tujuan

mampir ketempatku juga yah

Writer dee_86
dee_86 at Memenuhi Undangan Mu (10 years 51 weeks ago)
80

Keren...

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Memenuhi Undangan Mu (10 years 51 weeks ago)
80

Jika tidak memakai dialog tags (katanya, ucapnya, tanyanya) maka setelah kalimat langsung harus memakai huruf besar.
Itu saja. Salam kena;. Jangan lupa mampir balik.