Mama

"Ma. aku hamil"

 

Mama diam dan terhenyak mendengar ucapanku. Aku menduga-duga.. Mungkin sebentar lagi beliau pingsan, lalu terjadi kehebohan di rumah ini, kemudian aku diusir dari rumah. Yaa...seperti gambaran yang ada di sinetron-sinetron kacangan di sebuah kotak bernama televisi.

 

Detik detik berlalu. Mama hanya diam, tetap mengupas wortel yang ada di tangannya. Aku bingung, tak mengerti. Apa mama tuli? Ah, tidak. Pendengaran mamaku masih sangat baik.

 

Kembali ingin kuulang perkataanku pada beliau. Tapi aku ragu. Aku benar-benar takut pisau itu tiba-tiba dihunuskan kepadaku. Pikiran burukku mulai berkecamuk. Bagaimana jika tiba-tiba mama menghujamkan pisau itu ke perutku? Mungkin karena rasa depresi dan kepenatan yang sangat melanda jiwanya? Atau bagaimana jika tiba-tiba mama malah menusukkan pisau itu ke tubuhnya sendiri? Ah, aku semakin bingung. Seringkali kenyataan memang berbeda dengan fakta yang terjadi.

 

Kucoba menepis segala gundah dan ragu. Perlahan ku berjalan lebih dekat lagi ke mamaku. Mengambil posisi yang tepat agar tidak terkena pisau jika memang pisau itu akan terhujam untukku, atau paling tidak, aku sudah bersiap untuk menangkis serangan pisau jika itu memang harus terjadi.

 

"Ma, aku hamil"

 

Kuamati gerak mama. Mama masih tetap sibuk mengupas wortel yang kedua. Namun gerakannya makin cepat daripada saat mengupas wortel yang pertama.

 

Jantungku semakin berdegup kencang. Aku tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah kuutarakan hal ini untuk ketiga kalinya. Kali ini aku semakin dekat dengan mama. Aku tidak begitu peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku harus siap jika nasib buruk harus menimpaku.

 

"Ma, aku hamil"

 

Ujarku datar dan sedikit gemetar.

 

Kuamati gerakan tangan mama. Tiba -tiba mama meletakkan pisaunya dan berbalik ke arahku. Menatap jauh ke dalam mataku, seolah ingin menelanku saat itu juga.

 

Detik demi detik berlalu..

 

Hanya ada kebisuan antara aku dan mama. Mata kami bertatapan dan hingga akhirnya aku menyerah. Aku menunduk, tak sanggup melihat mata mama yang dihiasi kaca bening. Mata itu membuatku merasa menjadi seorang anak yang paling berdosa di dunia ini. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan semua perbuatan konyol ini dan mengkhianati kepercayaan yang mama berikan kepadaku. Aku masih tak percaya pada diriku sendiri dan pada semua hal yang kualami.

 

"Lalu kenapa kalau kamu hamil?", suara mama memecah keheningan.

 

Aku yang tadinya tertunduk malu, terpaksa harus mengangkat wajah, menatap mata mama lagi. Aku diam, bingung, tak tahu harus menjawab apa. Mungkin mama akan menyuruhku menggugurkan kandungan ini. Tapi apa aku sanggup? Apa aku sanggup membunuh janin tak berdosa ini?

 

"Lalu kenapa kalau kamu hamil? Kamu mau menggugurkannya? Begitu?"

 

Belum sempat aku menjawab, mama sudah bertanya lagi. Aku semakin gundah, sebab nada bicara mama semakin meninggi. Aku takut tiba-tiba mama berbuat sesuatu di luar kendali. Aku pun membuka suara.

 

"Alin mau nikah, Ma. Alin mau nikah sama Ardian. Alin nggak mau menggugurkan janin ini.. Janin ini nggak berdosa, Ma", ucapku tersendat-sendat, berusaha menahan air mata yang rasanya sudah tak mampu kubendung lagi.

 

 Aku tertunduk. Malu. Aku malu pada mama, dan juga pada Tuhan.

 

"Ma, cuma mama yang Alin punyai di dunia ini. Alin nggak sanggup pergi kalo seandainya mama mengusir Alin dari rumah ini. Alin tau apa yang sudah Alin lakukan ini salah.. Tapi Alin nggak mau berbuat kesalahan yang lebih besar lagi jika Alin menggugurkan kandungan ini", aku kembali memberi penjelasan pada mama. Aku berharap mama mengerti.

 

Aku tak mendengar suara mama. Kuangkat wajahku, kulihat mama hanya berdiri mematung melihatku tak berkedip.

 

"Ma..."

 

Mama lalu pergi dari hadapanku. Menuju ke kamar, mencari-cari sesuatu dari kotak tua lama tempat mama menyimpan semua benda berharganya di sana.

 

Aku mengamati dari belakang.

 

Mama mengambil sebuah album foto usang yang baru kulihat pertama kali itu.

 

Mama mengajakku duduk di tepi tempat tidur. Dari dekat kuamati wajahnya yang sudah berhias guaratan-guratan keriput. Namun aku masih bisa melihat sisa-sisa kecantikan wajahnya.

 

"Kamu tahu kenapa mama melarang kamu bergaul dengan Ardian?", tanya mama datar kepadaku.

Aku hanya menggeleng.

 

"Kamu buka album ini", ujar mama seraya menyerahkan album foto ke tanganku.

 

Aku membukanya perlahan-lahan. Aku melihat foto anak-anak di dalamnya, entah siapa mereka. Aku juga melihat foto mama waktu masih muda, dan foto seorang lelaki yang tidak kuketahui. Aku berusaha mencerna semuanya dengan pikiran jernih. Mungkinkah lelaki di foto ini adalah ayahku?

 

"Foto lelaki di album itu adalah ayahmu. Dna foto anak lelaki yang digendongnya adalah Ardian. Ardian itu kakak kandungmu, Lin", mama menjelaskan semuanya kepadaku.

 

Aku tersentak mendengarnya. Tanganku bergetar hingga kubiarkan saja album foto usang itu jatuh dari tanganku.

 

Dari sudut mataku, kulihat mama beranjak keluar kamar dengan mata berkaca-kaca. Aku teringat apa ynag pernah diucapkan mama.

 

Jangan pernah kamu melakukan hal aneh dengan Ardian. Kecuali jika kamu ingin melihat mama tak ada lagi di dunia ini.

 

Aku berlari, keluar kamar, mencari mama.

 

"Mama...!"

 

Aku menemukan mama di dapur, terbujur kaku, penuh darah, dan pisau terhunus di pergelangan tangannya.

 

-*-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sherlanova
sherlanova at Mama (10 years 18 weeks ago)

Topiknya masalah komunikasi ya? Nice.... :)

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Mama (10 years 20 weeks ago)
80

Aaaa...
kenapa juga si mama nggak ngomong semuanya dari awal saat Alin jadian sama Ardian... TT-TT

Writer ianz_doank
ianz_doank at Mama (10 years 20 weeks ago)
100

ngarepnya sih jd komedi, udh deg deg an.. Tnyata sadis ceritanya..

(-.-''

cuma penasaran ja kok si 'aku' nggak tau kalo ardian tuh kakak nya?
(-_-a

Writer fd_chovimemoirs@yahoo.co.id
fd_chovimemoirs... at Mama (10 years 20 weeks ago)

tambah manteb aja rek..

Writer pudjangga patah hati
pudjangga patah hati at Mama (10 years 20 weeks ago)
100

nyaris terjadi pembunuhan

Writer cahya
cahya at Mama (10 years 20 weeks ago)
100

incest yah.... hmmm sepertinya memang lg trend cinta terlarang xixixixi... nice story.
salam
cahya

Writer Samara Dahana
Samara Dahana at Mama (10 years 20 weeks ago)
90

Aku pikir ini bakalan komedi, ternyata tragis. Narasinya keren. Tapi judulnya agak kurang menarik.

Salam kenal ya. Ditunggu terus tulisannya ^__^