Penyandang Ajisaka - 1

Catatan penulis :

Sebelumnya, saya ingin meluruskan anggapan kners sekalian, bahwa saya sama sekali tidak bermaksud membuat cerita yang sesuai  fakta sejarah (semacam novel Gajah Mada atau lainnya). Sebenarnya, saya membuat cerita fantasi yang biasa. Dengan dunia khayalan seperti layaknya cerita fantasi lain. Apa yang saya tulis di sini adalah murni khayalan. Bahkan jika ada yang bilang saya hanya celap-celup atau asal mencomot nama, saya tidak akan tersinggung. Karena itu benar.

Saya ucapkan terima kasih pada yang sudah atau akan memberi komentar. Sepertinya, saya belum pernah mendapat poin sebanyak kemarin.

Quote:
Sinopsis sementara :

Quote:
Yuda Handaka tidak menyangka bahwa Kerajaan Arum Kenongo yang tidak dapat ditembus dari luar akan diserang dari dalam. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayah, ibu, adik, dan beberapa patih sampai temenggung yang setia telah dibunuh selama ia menghilang. Untunglah ia berhasil lolos dari percobaan pembunuhan dan bergabung dengan Temenggung Asta Darma beserta pasukannya. Bersama, mereka mengendalikan Arum Kenongo Utara kemudian menyerang sang pemberontak, Temenggung Aswandaga. Tapi, mereka dikalahkan oleh taktik. Pasukan Asta Darma kocar-kacir, sementara Yuda Handaka ditangkap kelompok misterius dan dibawa ke negeri asing yang hanya pernah didengarnya. Perang Besar kedua dimulai kembali di antara delapan kerajaan. Lama berselang, Yuda Handaka muncul kembali di tengah-tengah perang dengan membawa Keris Ajisaka. Ia bergabung dengan Kerajaan Hemas dan memimpin Pasukan Turangga Seta. Yuda sadar bahwa musuh yang sebenarnya adalah kelompok misterius yang pernah menangkapnya.

~~~~***~~~~

HARI MEMASUKI waktu sirep. Penjaga itu mengamati Kotaraja Anila yang telah sempurna dalam bayang-bayang malam. Rumah-rumah kayu yang masih menyorotkan sinar dian—lampu minyak—hanya tinggal beberapa, sebagian besar dari rumah joglo milik para bangsawan ataupun golongan pedagang yang tengah merencanakan esok hari. Jalan panjang yang membelah kotaraja, yang menghubungkan gerbang kotaraja dengan gerbang keraton, juga penuh dengan dian di sepanjang sisinya. Api kecil menari-nari menyimbolkan kedamaian yang sedang berlangsung saat ini.

Kotaraja ini tak ubahnya sebuah benteng. Tempat di mana pusat pemerintahan berada. Terletak di atas bukit, dikelilingi dinding-dinding batu dan bata yang sangat tebal. Aktifitas perdagangan tidak pernah mati, baik di dalam benteng maupun di sekeliling bukit Anila yang dipenuhi desa-desa makmur.

Penjaga tersebut duduk di kursi kayunya, membuka tutup tabung bambu di meja, lalu meneguk minuman pahit di dalamnya. Ia pun tahu rasa itu, tapi tetap meminumnya karena dapat memberinya kekuatan untuk terjaga sepanjang malam. Kabarnya, minuman seperti ini diramu dari tanaman yang hanya tumbuh di Anila. Orang-orang desa menyebutnya kopi. Penjaga tersebut mendengar desas-desus bahwa Syahbandar Surapati bermaksud menjadikannya dagangan utama karena kepopulerannya yang cepat menyebar.

Benar-benar masa yang damai, pikirnya, menyadari banyak sekali temuan-temuan baru semenjak Perang Keris berakhir ; mulai dari pengembangan kain menjadi baju siap pakai, daun lontar dan kemiri untuk menulis, dan juga berbagai ramuan masakan yang muncul di berbagai pedesaan. Ia heran kenapa masih ada pihak-pihak yang membenci kedamaian ini, terutama golongan Ksatriya miskin yang mengaku menganggur tanpa pekerjaan. Mereka, kabarnya, membentuk sebuah arena tanding di suatu daerah di Kerajaan Wilis, di sana para Ksatriya dari berbagai penjuru Pulau Selatan berdatangan untuk bertarung dan mempertaruhkan emas.

Lamunan penjaga itu terbuyarkan oleh rentetan derap kaki yang semakin mendekat ; ia menoleh ke bawah melewati ujung runcing dinding benteng, ke arah punggung bukit yang dipenuhi goyangan rumput. Menara setinggi lima belas tombak yang ia duduki sekarang memiliki pemandangan tak terbatas ke segala penjuru Arum Kenongo.

Samar-samar, di balik keremangan waktu sirep, ia melihat bentuk gelap bergerak meniti jalan raya. Sosok itu terlalu besar untuk ukuran manusia, semakin mendekat dan terlihat seseorang terengah-engah menaiki kuda. Sosok itu masuk dalam jangkauan lampu minyak di depan gerbang kotaraja, tapi ia tidak berhenti sampai kudanya hampir menabrak gerbang.

Meskipun masa damai, gerbang kayu itu selalu tertutup pada malam hari. Dengan tinggi kisaran tiga belas tombak, setengah tombak lebih tinggi dari tembok batu yang mengapitnya. Sang penjaga sudah turun dari menara penjagaan ketika gerbang digedor-gedor. Dipanggilnya tiga orang rekan penjaga yang tampak kebingungan. Mengabaikan pertanyaan mereka, ia memberi isyarat untuk mengangkat batangan besi yang menyelarak gerbang dari dalam. Tepat saat pintu gerbang berderak membuka sebesar badan, seekor kuda menerjang masuk dengan kacau hingga menjatuhkan penunggangnya sendiri. Seorang pemuda mendesah-desah di tanah, ditinggalkan kudanya yang meringkik di samping pos jaga.

“Siapa kau?” Penjaga tersebut menyiagakan tangannya pada tombak di punggungnya. Di belakangnya, kuda semakin meringkik nyaring menyusul penjaga lain yang terbangun dan lampu dian yang semakin banyak menyala. Langkah-langkah kaki prajurit berjalan mendekat.

“Kla...ar...p...dis..e...ang...” rintih pemuda itu. Kedua tangannya mencengkram perutnya sendiri, sedangkan matanya yang lebar melotot ke arah langit seolah memohon sesuatu.

Tatapan penjaga tersebut beralih ; ia melihat perut yang kurus itu terbuka, seragam coklatnya robek, menampakkan darah merah yang terus merembes dari daging segarnya yang merah. Sang penjaga berdesir, menahan keterkejutannya. Ia menunduk, melihat jelas pada pembebat lengan pemuda yang menahan darah itu ternyata adalah ikat kepala dengan gambar bunga kenanga—ciri khas prajurit Arum Kenongo—yang beralih fungsi dan telah ia lihat sekilas dari menara. Pemuda ini adalah prajurit. Mata sosok pemuda di bawah sang penjaga masih melotot, seakan ingin mengucapkan kata-kata yang lebih banyak.

“Ada apa? Bicaralah!”

“Kla...rap...” Lalu mulutnya hanya terbuka tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seakan-akan arwahnya keluar dari sana. Suasana sunyi, ringkik kuda masih terdengar dari belakang.

Penjaga tersebut menutup kedua mata yang masih melotot itu, wajah pemuda di bawahnya penuh dengan luka yang masih baru. Klarap. Kadipaten itu berjarak setengah hari perjalanan tanpa kuda dari Arum Kenongo.

“Haritala? Apa yang terjadi?” Dua rekannya yang berusaha menenangkan kuda memanggil namanya, tapi ia sudah menunggangi kuda prajurit yang berbaris di dinding dalam benteng dan melesat menuju Keraton Arum Kenongo.

***

PUTRA MAHKOTA Arum Kenongo, Yuda Handaka, berdiri seorang diri di tepi kolam yang berkecipuk karena gerakan ikan mas di dalamnya. Bunga-bunga kenanga kecil berguguran menimpa rambut hitam lebatnya, menebarkan semerbak harum di selingkar taman. Sambil memutar badan, ia meresapi desahan lembut sang pohon. Bernyanyi. Seakan-akan ada melodi di baliknya, seperti tiupan halus seruling yang biasa dimainkan dayang-dayangnya. Naik turun membentuk irama yang membawa hati.

Yuda Handaka mendongak ke arah langit yang bertaburkan jutaan permata, karya alam yang tidak ternilai. Jika ada sesuatu yang tidak dimiliki kerajaannya, Kerajaan Arum Kenongo, maka ialah bintang-bintang di langit.

Sang Raden kini duduk di beranda, membelakangi pintu masuk menuju kedaton, menghadap ke arah dinding di seberang taman. Salah satu dinding yang memisahkannya dari dunia luar. Selama ini, Yuda Handaka berkali-kali mendengar nama-nama besar seperti Danu, Wilis, Hemas, Hengkara, dan lain sebagainya. Tapi tidak pernah sekalipun menjamahnya karena dipisahkan dinding-dinding itu. Apakah tempat itu seindah Arum Kenongo? Apakah di sana ada pendekar yang bisa mengalahkanku? Masa damai yang lama berlangsung sebelum ia lahir telah mematahkan harapannya untuk dapat berperang demi bangsanya.

Arum Kenongo adalah kerajaan terbesar yang terletak di tengah-tengah Pulau Selatan, dengan bala tentara paling ditakuti di seantero jagat. Anila sebagai ibukota Arum Kenongo terletak di tengah-tengah kerajaan, dikelilingi empat kadipaten lain ; Kadipaten Indra di utara, Kadipaten Jajar di timur, Kadipaten Kacaya di selatan, dan Kadipaten Klarap di barat. Masing-masing kadipaten memiliki bala tentara sendiri. Anila pun terletak di atas bukit, dengan lingkaran dinding-dinding bata yang kokoh. Selama ini, hanya ada satu kerajaan yang digadang-gadang mampu mengimbangi kekuatan Arum Kenongo, yaitu Kerajaan Danu. Kerajaan yang memiliki banyak shaman—dukun.

Dari kelima Kadipaten, yang paling sering Yuda kunjungi adalah Kadipaten Klarap. Kadipaten itu memiliki ruang khusus untuk menyimpan catatan-catatan sejarah Arum Kenongo. Dipandu Adipati Cancaraka, Yuda sering membaca dan belajar di sana. Beliaulah yang pertama kali mengenalkan daun lontar dan kemiri padanya, ia juga yang menceritakan padanya awal mula Perang Keris yang tidak tercantum secara detail di buku. Bagi Yuda, Adipati Cancaraka adalah pria dengan pengetahuan luas, jendela darimana ia melihat dunia baru.

Yuda Handaka masih duduk melamun di beranda kedaton ketika gerbang diketuk berkali-kali. Untuk sesaat, Yuda hanya memandang gerbang kayu besar itu. Ia merasa heran ada yang mendatangi kediaman raja pada waktu sirep seperti ini.

Gerbang itu dibuka beberapa lama kemudian oleh penjaga. Yuda mendengar suara seorang pria berbicara dengan cepat. Si penjaga mencoba menyuruh mereka pergi, tapi pria itu mendesak.

“Ah! Raden Yuda!” Seru pria itu ketika Yuda melangkah mendekat.

Lampu-lampu minyak menyoroti wajah Mahapatih Astama yang penuh dengan kerutan. Bola matanya yang kelabu menatap cemas, sementara tangannya yang besar dan kecoklatan menahan daun gerbang agar tidak segera ditutup oleh si penjaga.

Yuda melangkah maju begitu penjaganya mundur sambil menunduk. Ia baru sadar bahwa Astama tidak sendiri, ia bersama seorang prajurit di belakangnya. Mereka berdua bergegas maju setengah membungkuk dan menyalami Yuda dengan kedua tangan.

“Ada apa, Mahapatih?”

“Hamba ingin bertemu maharaja, Pangeran.” Astama memandang melewati bahu Yuda. Pria ini memang sangat akrab dengan keluarga keraton, dan kunjungannya ke kedaton kali ini bukanlah yang pertama.

“Aku tidak tahu. Kulihat tadi ayah sedang membaca laporan dari syahbandar.” Yuda terdiam sejenak, lalu melirik pada prajurit yang masih menunduk memandang tanah. Adat yang umum di kalangan Arum Kenongo. “Ada masalah apa, Mahapatih? Kenapa kau membawa prajurit?”

Patih Astama dan prajuritnya saling berpandangan ; Yuda mencoba membaca isyarat mata mereka. Cemas? Mendesak?

“Baru saja ada prajurit datang ke Anila,” tutur sang patih sembari membenarkan kerah baju beskapnya yang sebenarnya tidak apa-apa. “dia terluka parah dan....meninggal setelah mamasuki gerbang.”

“Prajurit?” Yuda memandang prajurit di samping Patih Astama. Jelas bukan prajurit yang segar bugar itu.

“Haritala,” sang prajurit muda mendongak mendengar namanya dipanggil. Rambutnya yang pendek berantakan, sama seperti sorot matanya yang sulit untuk dilukiskan. Penuh dengan aksara yang akan ia utarakan. “coba kau ceritakan.”

***

SOSOK ITU SUDAH LAMA berdiri dalam gelap. Angin yang berhembus kuat malam ini tidak hanya membuat bibir jubah hitamnya melambai-lambai mistis, tapi juga memperbesar kobaran api di kadipaten di kejauhan. Sosok itu sudah tidak sabar untuk membaca lagi gulungan kering kulit binatang dan daun lontar di genggamannya, tapi ia sadar masih ada satu kejutan lagi yang harus ia berikan.

Akhirnya, setelah cukup lama menanti, anak buahnya yang juga berpenampilan sama seperti dirinya datang dengan gerakan berkelebat yang sukar dilihat mata biasa. Satu-satunya yang membedakan ia dan anak buahnya adalah ada tidaknya kain penutup kepala. Sebenarnya, mereka semua mengenakan penutup wajah, tapi sang pimpinan kehilangan miliknya dalam pertarungan singkat.

“Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?” tanyanya, pada anak buah yang memberi hormat padanya.

Anak buah itu lalu mengucapkan laporannya dengan pasti, membuat sosok di depannya mengulas senyum licik.

Read previous post:  
87
points
(213 words) posted by Sang Terpilih 11 years 16 weeks ago
79.0909
Tags: Cerita | Novel | sejarah | jawa | nasionalis | revolusi fiksi-fantasi
Read next post:  
Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 2 weeks ago)
100

Poin penuuuuh~!
Saya bener-bener terkesan sama penceritaannya, dan tak bisa berkomentar banyak selain bahwa saya bener-bener kagum
.
Lanjutin~

Writer panglimaub
panglimaub at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 10 weeks ago)
90

Saya mau saran saja, kalau istilah shaman bisa nggak diganti istilah agak lokal dikit misal 'balian' atau 'kaum tabib' atau 'kaum peramal' gitu deh? XD

Writer cilang
cilang at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)
100

:)

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

?

Writer rider_w
rider_w at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)
100

keren-keen

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

oh ya? Bagian mana saja yang menarik menurutmu?

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)
100

Ini... KE REN
.
Bener-bener deh, memakai nama dan suasana lokal malah membuat segalanya tambah keren! Anda hebat, bang Rio! Saia iri!!
.
Ayo ayo mana lanjutannya? Haha...

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

Kamu juga terlalu berlebihan. Padahal beberapa bagian cerita salah kaprah.

Writer liza is rin
liza is rin at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)
100

aku suka ini! ceeitanya yang benar2 membawa siriku untuk menjadi saksi mata dari cerita ini. *lebay yah? tapi inilah yang ak rasakan. cara kk bercerita sudah nyris menyerupai penulis gajah mada. hahaha..! daku salut, kak! :D

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

Kamu terlalu berlebihan....

Writer liza is rin
liza is rin at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 14 weeks ago)

tidak tidak tidak. ak tidak berlebihan. *pergi perlahan seraya menitikkan air mata gara2 dibilang lebay* aku jujur tauuuu,....

Writer 145
145 at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)
90

>_< Pembukaan yang solid.
Hmm hmm pada akhirnya kurasa style pengarang lebih banyak berperan dalam memberi warna cerita. Kupikir penggunaan istilah asing, selama tidak berlebihan, tidak akan merusak cerita.
Yah daripada dukun, kupikir lebih baik shaman.

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

Kemarin aku sempat mendapatkan buku di perpustakaan sekolahku. Judulnya "Pengantar Sejarah Indonesia" kalau tidak salah, pengarangnya aku lupa. Aku membuka-buka dan sampai pada penjelasan tentang golongan-golongan masyarakat Jawa kuno. Salah satunya disebutkan "golongan shaman atau dukun". Aku tidak tahu kenapa, tapi di sana disebutkan dengan kata "shaman". Jadi aku menirunya, walau tanpa alasan yang kuat.

Writer 145
145 at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

Tambahan saja: Kalau tak salah, ada beberapa artikel menarik di www.wacananusantara.org yah siapa tahu saja bisa menjadi emm tambahan informasi.

Writer 145
145 at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

Heee begitu ya? Buku yang menarik.
Hmmm tentang penggunaan istilah shaman, menurutku, mungkin, entah karena penulis buku itu orang asing, atau mengutip karya/hasil penelitian orang asing. Hmm istilah shaman secara generik digunakan untuk menyebut 'dukun' atau 'ahli pengobatan' yang ada dalam berbagai kebudayaan di dunia.
-
Btw, jadi ada golongan apa saja yang ada di Masyarakat Jawa Kuno?

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 16 weeks ago)

Golongan penguasa, golongan hamba, golongan pedagang, dan golongan shaman. Ini sebelum kedatangan Hindu-Budha, katanya. Setelah itu baru muncul golongan Ksatriya (yg entah kenapa penulisannya aneh banget).

Writer Alfreda
Alfreda at Penyandang Ajisaka - 1 (10 years 44 weeks ago)

ia shaman tuh bahasa inggris :D

Writer panglimaub
panglimaub at Penyandang Ajisaka - 1 (11 years 10 weeks ago)

Ksatriya = ksatria, ditulis begitu karena memang masih mengadopsi ejaan dari india (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra, Pariya). Gitu deh XD