MENEMUKAN PUTRI TIDUR BAG.2 SAMPAI AKHIR

Keesokan harinya.

Ponselku berdering keras sekali membangunkanku dari tidur nyenyaku dan membuyarkan mimpi-mimpiku. Dengan sedikit bermalas-malasan aku mengangkat teleponku, kulihat layar ponselku tertulis “Panggilan masuk BOY”

“Halow,” ucapku dengan suara yang masih berat.

“Ayo cepat bangun, aku sudah dapat softcopy dari kertas itu,” jawab Boy.

Dengan cepat aku langsung tersadar, dan langsung bersemangat 45.

“Benarkah ?,” tanyaku.

“Ya, aku tunggu kau di rumah secepatnya,” ucap Boy.

Akupun langsung cepat-cepat bergegas mengambil handuk untuk mandi, dinginnya udara dan air pagi hari membuatku segar, tidak seperti biasanya yang sering membuatku menggigil kedinginan. Setelah selesai mempersiapkan dan merapikan diri, akupun langsung bergegas menuju rumah Boy dengan mengendarai angkutan umum. Tak berapa lama akhirnya aku sampai di rumah Boy yang besar dan megah, di depan pintu gerbang Boy sudah berdiri menungguku.

“Ayo,” ajaknya sambil masuk halaman depannya.

Akupun mengikuti dari belakang, Boy tidak masuk kedalam rumah melainkan menuju sebuah rumah kayu kecil di halaman belakang rumahnya. Setelah masuk ternyata dalamnya begitu kecil kira-kira berukuran 2 X 3 meter. Boy menutup pintu rumah kayunya, lalu menggeser beberapa buah kayu di dinding rumah kayu tersebut. “jreeeegggg..” sebuah suara terdengar. Tiba-tiba saja lantai yang di pijak bergerak turun meninggalkan rumah kayu kecil itu. Beberapa saat kemudian, Boy membuka pintu kayu rumah tersebut. Dan mulutku langsung menganga setelah Boy membuka pintu kayunya. Di hadapanku terdapat sebuah ruangan putih bersih dengan teknologi yang sangat-sangat keren menurutku. Layar sentuh transparan, robot-robot, lab kimia, dan banyak sekali perangkat-perangkat lainnya. Boy yang melihatku seperti orang bodoh langsung menepuk bahuku.

“Jangan bengong seperti itu,”ucapnya, “Ayo kemari,” sambungnya kembali sambil mengajakku ke sebuah meja yang di atasnya terdapat beberapa lembar kertas.

Boy mengambil kertas tersebut lalu menyerahkannya padaku, kemudian aku membacanya.

            “saat sang raja cahaya pergi menerangi dunia, sang ratu hadir dalam kemewahan cahaya putih menerangi dunia, kedatangannya di sambut sang air di lautan dewata yang berkelip-kelip di terpa cahayanya. Mahkluk lautpun menyambutnya dengan hangat, punggungnya yang keras menyibak kerajaan istana raya yang megah, tanahnya di penuhi bunga mawar berduri yang indah dan seberbak mewangi mengikat jiwa-jiwa yang lemah, tubuh-tubuh yang kekar bagaikan batu karang turut serta dalam melindunginya.”

“Hanya ini terjemahannya ?,” tanyaku.

“Yup,” Boy menggangguk.

“Apa tidak salah, kalau tak salah isi dari kertas itu sepertinya lebih pendek,” ucapku.

“Tentu saja, dalam versi asli, tulisan ini menggunakan bahasa sunda, dan setiap hurufnya mewakili dua huruf abjad,” Boy menjelaskan.

“Mmmm..,” aku menggembungkan pipi sambil mengangguk-angguk.

“Dengan petunjuk ini aku dapat simpulkan di mana letaknya dan apa saja yang ada di sana,” ucap Boy.

“Oh ya, memangnya apa kesimpulannya ?,” tanyaku.

“Aku menyimpulkan dari beberapa kata dalam kalimat “lautan dewata”, aku pikir itu adalah laut Bali, lalu ratu putih yang menggantikan raja cahaya menurutku itu adalah bulan, dan “kemewahan cahaya putih” berarti saat purnama, dan mahkluk laut yang berpunggung keras tak lain adalah seekor kura-kura laut purba,” jelasnya.

“Hmmm.. aku mengerti,” ucapku.

“Kalau kau sudah mengerti sekarang ayo sini ikut aku,” Boy mengajakku.

Boy membawaku masuk ke dalam sebuah ruangan yang agak gelap. “Plok..plok” Boy menepuk tangannya dua kali dan “Cliiiinggg….” Seluruh lampu di ruangan itu menyala. Aku melihat ada sebuah mobil berbentuk aneh seperti kapsul dan beberapa pakaian seperti baju para agen FBI dalam acara TV.

“Apa kau pernah nonton film “Tuxedo” yang pemerannya Jacky chan ?,” tanya Boy.

Aku hanya menggangguk.

“Inilah teknologinya, dalam pakaian ini di pasang sebuah nano chip berteknologi yang sudah di program sedemikian rupa,” ucap Boy sambil memberikan salah satu pakaian itu kepadaku.

Aku dan Boy langsung memakai pakaian itu dan “Brrrrr….” Badanku geli-geli saat mengenakannya, dan anehnya baju itu secara otomatis menyesuaikan dengan ukuran tubuhku. Aku perhatikan penampilanku di depan kaca mobil kapsul.

“Hmm.. ternyata aku keren juga,” aku memuji diriku sendiri.

Kemudian aku memperhatikan pergelangan tanganku, di sana terpasang sebuah jam tangan digital yang keren dengan empat buah tombol di sampingnya, lalu aku menekan salah satu tombolnya “tiit..” tidak ada reaksi apapun, ku tekan-tekan tombol lainnya “tit..tit…tit..tit..tiiittt..” dan tiba-tiba saja tubuhku bergerak sendiri dan langsung menyerang ke arah Boy. Boy sangat terkejut dengan seranganku yang tiba-tiba tapi baju refleks Boy langsung menahan serangan-seranganku.

“HEEIII….. apa yang kau lakukan ??? !!!!...” Boy bertanya dalam keadaan panik.

“Aku juga tidak tahu tiba-tiba jadi seperti ini,”ucapku.

“Cepat bilang “mode standby on” ,” balas Boy yang masih terus menghindari seranganku.

“MODE STANDBY ON,” aku berteriak.

Dan dalam sekejap tubuhku langsung berhenti menyerang Boy.

“Fuuuuhhh… gileeeee… capeee be ge te, haah..hah..hah..” ucapku sambil aku kelelahan.

“Itu mode penghancur haahh.., kau harus berhati-hati dalam menggunakannya hahh.., hahh..,” Boy berkata sambil terengah-engah.

“ooohhh.., ya ya ya.. aku mengerti,” balasku.

“Baju ini seperti sebuah mesin, kau akan memilih di kendalikan atau mengendalikan, secara tidak langsung baju ini menerima informasi dari otak kita, membaca emosi, denyut jantung, pokoknya membaca semua kondisi kita deh, jadi kita tak perlu menggunakan tombol itu dalam kondisi biasa cukup dengan memikirkannya saja,” ucap Boy.

“Ya ya ya, lalu tombol-tombol ini untuk apa ?,” tanyaku lagi.

“Macam-macam, misalnya memajat tebing, mengilang, menciptakan hologram duplikat, dan lain-lain,” Boy menjelaskan.

Aku hanya mengangguk.

“Baiklah, kita lepas dulu baju ini, karena nanti malam adalah bulan purnama penuh, dan kita akan segera berangkat nanti malam, aku akan persiapkan semuanya,” ucap Boy.

“Hah ? nanti malam ? tidak salah, besok kan kita harus kuliah,” ucapku.

“Tenang saja, semua sudah aku atur heheheh.. dan kau tahu beres, coba pikir kapan lagi kita akan berpetualang menyelamatkan orang,” ucap Boy sambil mengelus-elus mobil kapsulnya dan tersenyum lebar.

Setelah semuanya kembali di bereskan, aku pamit pulang untuk menyiapkan diri menuju laut Bali. Saat sampai ditempat kost-kostan, aku langsung makan siang dan tidur……..z..z…z..z..z..

Saat sedang tidur aku mendengar sebuah teriakan seorang wanita meminta tolong dalam bahasa daerah, kubuka mataku yang berat dan saat mataku terbuka aku sangat terkejut karena aku tidak sedang berada di kamarku melainkan di sebuah istana keraton, seperti istana-istana milik kerajaan-kerajaan tempo dulu. Di sana terlihat seorang gadis cantik berambut panjang hitam mengilau mengenakan baju kebaya putih sedang terikat dengan ikat yang terbuat dari tangkai-tangkai mawar berduri. Gadis itu berteriak-teriak meminta tolong masih dalam bahasa daerahnya, akupun berlari mendekati gadis yang meminta tolong tersebut tapi tiba-tiba saja semak-semak dan tangkai-tangkai berduri langsung menutup dan mengikat kaki serta tanganku, perih sekali rasanya sampai akhirnya seekor mahkluk menyeramkan muncul di hadapanku “HAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR !!!!!!!!!!!…..” teriaknya. Membuatku kaget sekali dan….

“Haaaaaahhhh…,” aku terbangun dari tidurku, aku lihat kaki dan tanganku tapi tidak yang terluka. Kupegang keningku yang berkeringat, jantungku berdekup kencang sekali seperti orang yang sudah berlari jarak jauh, bajuku juga menjadi basah kuyup terkena keringatku.

“Huuuhhh.. mimpi yang menyeramkan, mungkin aku lupa berdo’a tadi,” keluhku, “tapi, siapa gadis itu ?, apa itu gadis yang di ceritakan oleh Ibu Karin ?, hahahahah.. mana mungkin,” ucapku pada diri sendiri.

Daripada aku berfikir yang tidak-tidak, aku memutuskan untuk pergi mandi karena hari sudah memasuki sore dan aku akan berangkat kembali ke rumah Boy saat menjelang malam.

Dengan menunggu waktu beberapa jam akhirnya tiba waktunya untuk pergi ke rumah Boy. Dengan rasa percaya diri yang tinggi aku berangkat ke rumah Boy. Tapi ternyata di jalan terjadi kecelakaan lalu lintas mengakibatkan macet yang cukup lama dan membuatku bosan. Aku coba kirim SMS  kepada Boy bahwa aku akan datang terlambat karena alasan tersebut. Setelah cukup lama terjebak dalam macet akhirnya aku sampai juga di rumah Boy. Boy menungguku dengan memasang muka kesal, dia sudah berpakaian lengkap dan rapi, tapi apa peduliku yang penting aku sampai dengan selamat di rumahnya. Boy membuka garasi mobilnya dan keluarlah sebuah mobil kapsul yang berukuran hampir sebesar mini bus.

“Ayo masuk, kau ganti bajunya di dalam saja,” perintahnya.

Akupun masuk kedalam mobil kapsul itu, dengan cepat Boy langsung menyalakan mobilnya dan “Bruuuuumm…” mobilpun melaju ke menuju pintu gerbangnya yang sudah terbuka lebar. Tapi sungguh tak di duga kembali, di depan gerbang rumah Boy Karin sedang berdiri menghalangi jalan kami berdua.

“Waaaa…. Karin !!!!...” Boy berteriak terkejut.

Boy keluar dari mobilnya, begitu juga aku. Boy langsung menghampiri Karin.

“Apa yang kamu lakukan ???.. kamu bisa tertabrak tadi,” ucap Boy dengan nada kesal.

“Aku ingin ikut dengan kalian,” ucap Karin tak kalah keras dengan teriakan Boy.

“Tidak bisa. Kau tidak boleh ikut, perjalanan ini berbahaya, dan aku tidak ingin kamu dalam bahaya, dan juga bukankah ibumu sedang sakit,” ucap Boy.

“Tenang saja aku bukan anak kecil yang harus selalu di lindungi, lagi pula kakak perempuanku tadi pagi sudah datang dan mengambil alih tugasku merawat ibu,” balas Karin.

“Tapiii….” Ucapan Boy terputus…

…Karena Karin langsung menerobos masuk ke dalam mobil Boy, dan menutup pintu mobilnya. Boy langsung memasuk ke dalam mobilnya dan mencoba membujuk Karin dengan halus, tapi sepertinya gagal total. Karin tetap bersikeras ingin ikut dengan kami melakukan pencarian wanita yang di ceritakan oleh Ibu Karin. Boy yang sudah kehabisan cara untuk membujuk Karin akhirnya menyerah dan Karin di bolehkan ikut ekspedisi berbahaya ini. Sebelum berangkat Boy keluar dari mobilnya lalu menuju rumahnya.

“Loh kok dia malah balik lagi ke rumah ?,” Karin bertanya padaku dengan heran.

Aku mengangkat bahuku, tanda tidak tahu. “Lebih baik kita tunggu saja dulu,” ucapku membuat lega hati Karin.

Tak berapa lama Boy keluar dari rumahnya membawa sesuatu yang berwarna hitam.

“Karin itu Boy, sepertinya dia membawa sesuatu,” ucapku sambil menoleh kearah Boy.

Tanpa banyak bicara Boy masuk kedalam mobilnya dan memberikan bungkusan berwarna hitam itu pada Karin.

“Apa ini ?,” Karin bertanya.

“Itu baju khusus, pakai saja, oh ya ganti bajunya di belakang sana,” ucap Boy sambil menunjuk sebuah ruang kecil di belakang jokku.

Aku merasa Boy masih agak kesal dengan Karin yang bersikeras ingin ikut dengan kami. Tapi biarlah yang penting happy. Mobil Boy melaju cukup kencang, aku memperhatikan Karin dan Boy berada di depanku. Kulihat Karin sedang bersandar di bahu Boy, dan Boy sendiri terlihat seperti sedang menyetir dengan sangat serius karena dia tidak bergerak ataupun risih dengan keadaan seperti itu. Aku mencoba memanggil Boy, tapi tak ada ada jawaban. Lalu pelan-pelan aku dekati mereka berdua dan OH MY GOD….  Ternyata Boy juga sedang tidur di joknya dengan nyenyak dan mulut menganga.

sweet Boy,”  gerutuku dalam hati.

Tapi aneh mobilnya tetap berjalan stabil, setelah kuperhatikan ternyata dia menggunakan “auto driver” yang sudah di setting agar tidak menabrak mobil lain. Kulihat di dashboard-nya ada beberapa monitor yang menapilkan pemandangan atas, bawah, depan, kiri, kanan, dan belakang. Aku hanya bisa menghela nafas melihat semua itu. Akupun ikut bersantai-santai di belakang jok sambil melihat-lihat keluar jendela menikmati pemandangan malam yang semakin larut. Ku lihat ke depan jendela ternyata sudah sampai daerah Pantai Pangandaran, suasananya begitu sepi dan tenang. Tapi mobil yang kutumpangi ternyata tidak berhenti, terus saja maju menerobos gelapnya Pantai Pangandaran. Aku coba membangunkan Boy dengan menepuk-nepuk kepalanya.

“Boy.. Boy cepat bangun kita akan tenggelam…,” teriakku.

“Hooooaaammm.. tenang saja semua sudah di atur,” ucapnya sambil kembali tidur.

Aku semakin panik karena mobil yang kutumpangi sudah mulai tenggelam setengahnya, ternyata kepanikanku membuat Karin terbangun.

“Aduuhhh.. ada apa sih berisik banget,” ucapnya sambil mengosok-gosok matanya.

“KITAAAAA TEEENGGGELAAAAAMMMMM…………” aku berteriak sambil menggucang-guncangkan badan Karin.

“Aduh..aduh biasa aja kaleee.. ini mobil amfibi gitu loh, jadi nggak usah ribut, tuh liat tulisan di sana,” ucap Karin dengan gaya lebay sambil menunjuk sebuah tulisan di yang tertera diatas kepalaku.

Amphibi alpha project” begitulah tulisannya. Aku menjadi malu sendiri.

“Ngomong-ngomong sepertinya kamu lebih tahu banyak tentang mobil ini, apa kamu pernah naik mobil ini sebelumnya ?,” tanyaku pada Karin.

“Yup, aku pernah naik dua kali, sekitar beberapa bulan yang lalu,” ucap Karin sambil menunjukan kedua jarinya.

Lagi-lagi aku hanya menggangguk-angguk, aku perhatikan sekeliling, ku lihat keluar jendela. Pemandangan bawah laut malam yang begitu indah. Ini baru pertama kalinya bagiku melakukan jalan-jalan di bawah laut. Aku melirik ke arah Karin yang juga melakukan hal yang sama denganku tangan kanannya mempermainkan kalung yang menggantung di lehernya. Wajahnya sangat manis dan menawan, aku tak bisa pungkiri kalau sebenarnya aku juga menyukai Karin. Tapi aku tak berani mengungkapkannya karena Karin sudah bertunangan dengan Boy

“Karin,…” aku memanggil Karin.

“Ya” jawabnya singkat.

“Apa itu kalung pemberian Boy ?,” tanyaku.

“Yup, kalung ini di berikan Boy saat dia menyatakan cintanya padaku, dan ini sangat istimewa bagiku.” jawabnya sambil melihat kalung yang di kenakannya.

“Oooo… kalau boleh aku tahu, apakah kau merasa nyaman berpacaran dengan Boy ?,“ tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Dan dengan cepat aku menutup mulutku. “oooppsss”

“Tidak apa-apa, aku sangat nyaman menjadi kekasihnya, dia baik, perhatian dan pengertian, Boy adalah orang yang paling istimewa bagiku. Oh ya, apa kau punya orang yang kau anggap istimewa ?,” Karin menjelaskan sekaligus bertanya.

Aku diam sejenak “Hmmm. Aku rasa tidak,” jawabku singkat.

“Begitukah ?, kenapa kau tidak mencarinya ?,” Karin bertanya kembali.

“Ahhh.. tidak, aku malas,” ucapku dengan sedikit agak memelas menjawabnya.

“Mmmm..”

Kemudian Karin memperhatikanku, membuatku menjadi salah tingkah. Karin melihatku dari atas ke bawah, lalu sebaliknya.

“Hei, apa yang kau lakukan ?, jangan melihatku seperti itu,” ucapku.

“Kalau di lihat dari penampilan, kamu lumayan ganteng dan keren,” ucap Karin sambil mengusap-usap dagunya.

Ucapan Karin yang seperti itu membuatku makin malu dan salah tingkah, tapi semua itu segera sirna saat.

Boy tiba-tiba bangun dan berkata “Ehem… kita hampir sampai ke tempat tujuan, jadi kembalilah duduk dan pakai sabuk pengaman kalian, OK ?,”

Aku dan Karin langsung kembali duduk ke tempatnya masing-masing dan memasang sabuk pengaman, sekilas aku lihat wajah Boy agak sedikit kesal. Aku tahu sepertinya Boy sedikit cemburu, tapi biarlah ini bukan pertama kalinya bagiku. Boy melirik jam tangannya.

“Gawat kita terlambat, waktu sudah jam tiga pagi, aku tidak yakin kura-kura itu masih muncul di permukaan,” ucapnya.

Boy langsung mengubah mode setirnya menjadi manual, dan mengemudikan mobil kapsulnya dengan cepat. Mobilnya meliuk-liuk seperti ikan hiu yang sedang mengejar mangsa, membuatku agak mual.

“WOOOOOOOO…… rancing mode on,” Karin berteriak senang.

“Gila banget nih cewe, orang lain mabuk laut, dia malah seneng,” gumamku dalam hati.

Boy memperhatikan radar yang ada di hadapannya menangkap sesuatu yang besar dan bergerak.

“Aku rasa itu kura-kuranya,” ucap Boy sambil terus memacu mobilnya menjadi semakin cepat.

Tapi kemudian berhenti mendadak.

“Ada apa Boy ?,” tanyaku.

“Kita sudah sampai, ayo kita kebelakang dan pakai baju selam yang sudah ku sediakan,” ucap Boy sambil membuka sabuk pengamannya. “Baiklah kita semua harus tetap bersama, jangan ada yang terpencar, dan sebelum kita melakukan ekspedisi ini kita berdo’a dulu agar kita semua selamat,” sambungnya kembali.

Kemudian kamipun berdo’a untuk keselamatan kami semua, setelah selesai semua langsung bergegas menuju  belakang mobil dan mengambil pakaian selam masing-masing. Pakaiannya cukup besar seperti baju astronot, mungkin agar kita langsung memakainya jadi tak perlu mengganti baju. Setelah selesai memakai pakaian selam, kita semua masuk kedalam sebuah ruang sempit tapi cukup untuk kami bertiga.Boy menekan sebuah tombol, pintupun menutup dan air lautpun langsung masuk ke ruangan kami. Dinding di belakangku tiba-tiba terbuka membuatku sedikit kehilangan keseimbangan. Dengan cepat Boy menarik tanganku.

“Hati-hati,” ucapnya sambil tersenyum.

Dalam air kami dapat berkomunikasi dengan biasa saja karena dalam tutup baju selam kami sudah di pasangi alat komunikasi dengan teknologi bluetooth. Kami berenang mendekati sebuah tempurung yang besar, dengan penuh hati-hati kami semua menyusuri tempurung besar itu. Boy memberi isyarat agar terus berenang ke atas, di atas tempurung tersebut terdapat serabut-serabut laut yang menutup dengan sangat rapat. Boy menyentuhnya lalu mendorong-dorongnya, kemudian Boy mengeluarkan sesuatu dari saku baju selamnya bentuknya seperti sebuah pena. “Sreeettt…” cahaya laser berwarna merah keluar dari ujung pena itu, Boy memotong sebagian dari serabut itu.

“Kemarilah lihat ini,” ucap Boy sambil melambai-lambaikan tangannya.

Aku melihat serabut yang sudah terpotong tadi dengan cepat langsung kembali menutup.

“Di balik serabut ini ada sebuah ruangan, dan untuk masuk kedalam aku akan meledakan serabut-serabut ini, saat meledak maka akan menciptakan lubang yang cukup besar, saat itulah kita harus cepat-cepat masuk,” ucapnya.

Aku dan Karin mengangguk tanda mengerti, kemudian Boy mengeluarkan sesuatu berbentuk bola seukuran pingpong, lalu menempelkannya di serabut-serabut tersebut. Boy memberi kita intruksi untuk mundur beberapa meter dari lokasi penempelan bola tersebut. Dan “BLLLLUUUUPPPP…..” sebuah ledakan terjadi menciptakan lubang yang cukup besar untuk masuk ke dalamnya. Dengan cepat Karin langsung berenang masuk kedalam lubang tersebut, lalu di lanjutkan olehku, dan terakhir Boy. lubang serabut tadi dengan cepat kembali menutup membuat ruangan dalam serabut tersebut menjadi gelap gulita. Yang terlihat hanya wajah-wajah kami yang masih tertutup oleh baju selam masing-masing karena di dalamnya terdapat lampu. Boy membuka baju selamnya di ikuti aku dan Karin. “Trek…trek.” Terdengar suara dan “Ciiiiusssss….” 4 buah bola bercahaya terbang ke udara dan menempel di langit-langit serabut-serabut yang menutupi tempurung menerangi seisi ruangan tersebut menjadi terang dan semua bisa terlihat. Boy menurunkan ranselnya dan mengeluarkan tiga buah senter kepala kepadaku, Karin dan dirinya sendiri. Akupun langsung memakainya, kemudian Boy mengeluarkan sesuatu seperti sabuk lalu melilitkannya di pinggang, memberikan beberapa tali, palu, kompas, dan sebuah handsfree bluetooth.

“Ayo kita bergerak,” Boy mengajak kami masuk ke dalam sebuah taman.

Semua tampak layu dan licin, tapi aneh di sana ada beberapa tangkai mawar yang masih segar dan batangnya yang merambat menutupi lantai-lantai batu yang sudah retak-retak dan tembok-tembok istana keraton yang mulai rapuh dan berlumut. Semua tampak lembab dan berbau jamur, mungkin karena tak pernah terkena sinar matahari. Kami semua mulai memasuki teras keraton yang licin dan berlumut.

“Hati-hati jalan disini sangat licin,” ucap Boy sambil memegang erat tangan Karin.

Saat sedang berjalan berlahan-lahan tiba-tiba terjadi getaran hebat membuat ruangan itu menjadi miring, aku terpeleset dan terseret ke dalam keraton begitu juga dengan Boy dan Karin. tubuhku menghantam sebuah tiang dengan keras, tapi aneh tubuhku tidak terasa sakit, mungkin karena baju khusus yang Boy berikan padaku. Setelah getarannya berhenti, kami semua kembali berdiri. Dan mulai berjalan “krek..krek..” suara dahan patah saat kami menginjaknya, kulihat dengan senter di kepalaku ternyata itu adalah batang-batang rambat mawar berduri yang di sebutkan dalam kertas tua itu. Dengan refleks aku langsung teringat kata-kata dalam kertas itu yang berbunyi “tubuh-tubuh yang kekar bagaikan batu karang turut serta dalam melindunginya”. Dan ternyata benar saja saat kami semua menuju sebuah pintu kamar di ujung keraton, kami semua melihat ada dua buah patung batu besar di samping pintu itu. Bentuknya menyeramkan, sebuah patung raksasa bermuka bulat dan berambut ikal, taringnya mencuat dari sela-sela bibirnya yang besar, matanya menonjol keluar, dengan batu berwarna merah di tengah keningnya, badannya yang besar, perutnya buncit, mengenakan celana pendek dengan tangan kanannya yang memegang sebuah gada besar berduri. Aku perhatikan baik-baik patung menyeramkan itu. Dan saat Boy hendak membuka pintu kamar itu “BUUUUMMMM…” sebuah gada besar menghantam lantai tempat Boy berdiri. Tapi untunglah dengan cepat Boy berhasil menghindari serangan tiba-tiba itu.

“Cepat menghindar,” Boy berteriak.

Kami bertiga langsung berpencar, kulihat mata patung raksasa itu menyala berwarna merah dan bergerak mengejar kami. Salah satu raksasa mengejarku, dengan cepat aku berlari menuju koridor-koridor istana yang licin, dan terpelest beberapa kali. Raksasa tersebut terus mengejarku, aku ketakutan setengah mati saat raksasa itu menghantam-hantamkan gadanya ke arahku.

Attack mode on,” teriakku.

Secara otomatis badanku langsung berbalik kearah raksasa itu, dengan senang hati raksasa tersebut menyambutku dengan sambaran gadanya kearahku.

“AAAAAAAAAA…..” aku berteriak keras dan menutup mataku.

Tapi aneh seperti tak terjadi apa-apa, saat kubuka mataku. Kulihat tanganku sedang menahan serangan gada dari raksasa tersebut. “kerentanpa aba-aba dariku tubuhku langsung melompat ke udara, saat itulah aku membayangkan tendangan berputar yang biasa ku lihat dalam film-film aksi dan game-game PS. Dan benar saja badanku berputar-putar sangat cepat dan “Dreepp,” suara sepatuku menempel di kening raksasa itu. Tubuhku langsung salto kebelakang dan mendarat dengan mulus di lantai. Aku langsung berdiri, “krek..krek…krek.. kreeeekkk.. kreeeeeeekkkk..” suara-suara retakan keluar dari kepala raksasa itu dan “BRUUUUKKKK….” Raksasa besar itu hancur berkeping-keping.

“Hahahahhaha… keren sekali,” aku memuji diri sendiri sambil bertolak pinggang.

Dengan rasa percaya diri yang besar aku berjalan melewati serpihan-serpihan dari raksasa tersebut. Dan saat aku berjalan “Bruuuussss…” lantai yang ku pijak amblas, akupun terjatuh dengan keras ke dasarnya.

“Uuuuhhhhkkk….” Aku meringis, badanku tidak begitu terasa sakit karena baju pelindung melindungi tubuhku. Kulihat sekeliling, banyak sekali kotak-kotak kayu yang sudah mulai lapuk termakan usia dan bau jamur yang tidak enak menusuk hidung. Aku mencoba berkomunikasi kepada Boy dan Karin melalui handsfree yang Boy berikan.

“Boy, kau dengar ?, cepat ke tempatku.” Aku memanggilnya.

“Ya aku dengar, kau ada di mana No ?,” tanya Boy.

“Aku tidak tahu, coba kau lacak melalui GPS, sepertinya aku menemukan sebuah ruang rahasia.” jawabku.

Dengan cepat Boy menekan tombol yang ada di jam tangannya, “triiitttt..”sebuah layar hologram 3D muncul dari jam tersebut. Di layar tersebut tergambar sebuah kompas dan tiga buah titik berwarna merah, hijau dan biru.

“Kita harus kesini,” ucap Ryno sambil menunjuk titik biru yang berada jauh dari titik merah dan hijau.

Boy dan Karin bergegas menuju titik biru dengan pedoman kompas digitalnya. Tak lama aku mendengar suara deru langkah kaki di atasku. “sreeeettt…” sebuah tali keluar dari lubang tempat aku jatuh. Aku langsung menghampiri tali tersebut.

“Hei cepat turun aku menemukan sesuatu,” ucapku.

Boy dan Karinpun langsung turun melalui tali tersebut.

“Lihat Boy,” aku menunjuk tulisan-tulisan yang berhuruf mirip dengan huruf-huruf yang ada di kertas tua yang ibu karin berikan.

Tanpa banyak bicara Boy lansung meraba-raba tulisan di dinding tersebut.

“Aku tidak tahu apa ini, tapi ini sepertinya sebuah petunjuk,” ucap Boy.

“Abdi terang naon nu di serat dina eta tembok (aku tahu apa yang di tulis di tembok itu),” sebuah suara nenek-nenek muncul dari belakangku. Membuat aku dan Boy terkejut.

Dengan cepat aku dan Boy membalikan badan, kulihat Karin sedang berdiri dengan kepala menunduk. Aku dan Boy menjadi heran, perlahan-lahan aku dekati Karin.

“Karin…,” aku memanggilnya.

Saat Karin menganggkat kepalanya, aku dan Boy langsung terperanjat kaget hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Kulihat mata Karin berubah menjadi berwarna putih seperti terkena katarak. Aku yang melihat hal ini langsung mengambil kesimpulan bahwa Karin sedang kerasukan roh halus atau biasa di sebuat kerasukan. Karin tersenyum lalu berkata,

“Teu kedah sieun, abdi ngan nambut jasad ieu budak istri, kanggo mantuan aranjeun (tidak usah takut, saya hanya meminjam tubuh gadis ini, untuk membantu kalian),” ucapnya.

“Punteun, ari anjeun saha ? (maaf, kau siapa ?),” tanyaku.

“Abdi teh anu menta bantuan ka anjeun sadanyana kanggo nyalameutkeun anak abdi nu tos kulem langkung ti salapan ratus taun (sayalah yang meminta bantuan kepada kalian semua untuk menyelamatkan anakku yang sudah tidur lebih dari 900 tahun),” jawabnya.

“Oooo, ya… ya.. ya.., teras kumaha carana ? (jadi bagaimana caranya),” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

Kemudian Karin mendekati dinding yang berisi tulisan-tulisan, kedua tangannya di tempelkan ke dinding tersebut sambil berkomat-kamit membaca sesuatu. Satu-persatu huruf pada dinding tersebut tiba-tiba bersinar berwarna kuning emas, kemudian berterbangan melewati kami menuju tengah ruangan. Huruf-huruf yang berkumpul membentuk sebuah lingkaran cakram yang berputar pelan, setelah semua huruf berkumpul, huruf-huruf tersebut kemudian bergabung dan “Flaaaasss….” Cahaya terang terpancar membuatku silau dan aku menutup mataku. Saat kubuka mataku, didepan kami berdua melayang sebuah senjata khas bangsa sunda Kujang. Kujang yang terbuat dari emas yang berkilauan.

Cool,” ucap Boy.

“Pake eta kujang kanggo ngabunuh mahkluk ghoib nu ngajagi sakaligus nu ngajantenkeun putri Ibu kulem (gunakan itu kujang untuk ngebunuh mahkluk gaib yang menjaga sekaligus yang menyebabkan anak perempuan Ibu tertidur),” ucap Karin yang masih kerasukan. Dengan aba-aba bersama aku dan Boy mengambil kujang yang melayang itu. Dan saat itu juga Karin langsung jatuh pingsan, Boy langsung menghampiri kekasihnya dan menepuk-nepuk pipinya. Raut wajah Boy terlihat khawatir sekali.

“Karin..Karin… sadarlah,” ucap Boy sambil menepuk-nepuk pipi Karin.

Tak berapa lama Karinpun tersadar.

“Apa yang terjadi ?,” Karin bertanya seperti tidak tahu apa-apa.

Boy sangat senang sekali melihat kekasihnya siuman dan langsung memeluknya serta mencium kepala Karin.

“Syukurlah..,” ucap Boy membuat Karin bingung.

“Bo..Boy.. a..ap..apa yang terjadi ?,” Karin masih bingung dengan apa yang baru saja menimpanya.

“Kau akan tahu sendiri nanti, ayo kita bergegas naik, kita masih ada tugas,” ucapku sambil menaiki tali yang menjulur dari lubang yang ku ciptakan.

Semuapun naik keatas dan bergegas menuju pintu yang tadi di jaga oleh dua raksasa batu. Tapi saat sampai di pintu kami semua kaget karena pintu itu sudah terbuka.

“Kau sudah membukanya Boy ?,” tanyaku.

“Be..belum,” ucapnya.

“Memang, tadinya Aku dan Boy hendak membuka pintu tersebut tapi keburu kau memanggil,” ucap Karin kepadaku.

“Baiklah, karena pintunya sudah terbuka, lebih baik kita segera masuk,” ucapku.

Dengan sedikit di gagah-gagahkan, aku berjalan mendekati pintu yang sudah terbuka tersebut, tapi tiba-tiba sebuah bayangan hitam datang menghantam tubuhku hingga aku terpental beberapa meter kebelakang.

“Uhhhkk..” aku meringis kesakitan.

Sebenarnya aku sedikit heran, kenapa badanku bisa terasa sakit padahal pakai baju pelindung. Boy dan Karin berlari mengampiriku dan membantuku berdiri.

“Apa kau baik-baik saja ?,” tanya Boy.

“Ya aku tidak apa-apa,” jawabku sambil memegang dadaku yang sakit.

“Apa yang tadi itu ?,” tanya Karin.

“Aku juga tidak tahu,” ucapku singkat sambil melihat sekeliling.

“indit maranéh kabéh ti dieu, lamun maranéh teu daék indit rasakeun sorangan balukarna, (pergi kalian semua dari sini, kalau kalian tak mau pergi rasakan sendiri akibatnya),” sebuah suara bergema memenuhi ruangan.

“Apa katanya No ?,” tanya Boy.

“Katanya kita harus pergi dari sini,” ucapku sambil terus melihat sekeliling.

“Heh, yang benar saja,” ucap Boy sambil mengerenyitkan keningnya.

Boy menoleh ke arahku dan Karin sambil tersenyum, akupun ikut tersenyum begitu juga Karin seolah tahu apa yang di pikirkan Boy. lalu kami semua mengenakan sebuah kacamata khusus yang sudah satu paket dengan baju khusus kami. Dan bersama-sama berteriak.

ASSASSIN MODE ON,” lalu baju kami semua berubah menjadi baju ninja seperti pada game “ninja Gaiden”. Kami semua melihat sekeliling sekali lagi, maka terlihatlah sebuah sosok seorang pria kekar mengenakan baju ksatria khas majapahit.

“Hrrrrrr… sakti oge maraneh bisa ningali urang (sakti juga kalian bisa melihatku),” ucapnya.

Tanpa aba-aba lagi kami semua langsung menerjang maju menyerang pria itu. Terjadilah pertarungan yang sangat sengit. Ternyata pria itu sangat hebat, gerakannya sangat gesit walaupun di serang oleh kami bertiga. Tapi tetap saja dia mulai merasa kelelahan dengan serangan kami yang terus menerus, padahal kami juga sudah merasa lelah tapi baju kami tetap memaksa kami terus bergerak sesuai dengan perintah di otak kami. Sampai akhirnya salah satu dari kami berhasil memukul telak kearah pria tersebut hingga pria tersebut terjungkal menubruk tembok dan tertimpa reruntuhan tembok yang hancur. Kami semua diam sesaat memulihkan tenaga kami yang terkuras, dada kami sesak, badan kami pegal-pegal, tubuh kami semua sebenarnya lemas sekali, tapi baju kami menjaga posisi kami tetap berdiri.

“Gruk..Gruduk.. gruduk…” suara reruntuhan batu bergerak-gerak.

Dengan susah payah pria itu kembali muncul dari reruntuhan batu dinding yang menimpanya.

“Grrrr…. maranéh geus nyieun kuring kawas ieu, maranéh nyieun kuring kaluman sarta ambek (kalian sudah membuatku seperti ini, kalian membuatku kesal dan marah),” ucapnya sambil mata merahnya yang menatap kami dengan tajam.

Kemudian dia bersujud sambil berkomat-kamit, bersamaan dengan itu hawa sekitar kami berubah menjadi sangat mencekam dan menakutkan. Tubuhku bergetar, kulirik Boy dan Karin, ternyata mereka juga mengalami hal yang sama denganku walaupun secara raut wajah tak dapat terlihat karena tertutup kacamata dan penutup kepala, tapi aku bisa merasakannya. Kuperhatikan pria tersebut mengeram seperti harimau.

“GRRRRRRRRR……GROOOOOOOAAAAAAMMMM…..” pria tersebut menggeram keras sekali.

Sekarang tubuh pria tersebut di tutupi oleh bulu-bulu berwarna kuning dan berloreng-loreng hitam seperti harimau. Matanya berubah menjadi berwarna kuning terang seperti mata harimau yang sedang menatap mangsa. Kami semua langsung dalam posisi siaga, dan “Zeeepppp….” Pria tersebut hilang dari pandangan kami semua. Kami menengok kekiri dan kekanan tapi tak terlihat apa-apa yang terdengar hanya suara desingan seperti pisau yang bergesekan dengan dinding tembok batu.

“Aku takut Boy,” Ucap Karin dengan suara berat.

Terdengar dari suaranya Karin sangat ketakutan sekali, dan sepertinya menangis. Boy mencoba menenangkannya dengan memeluknya dengan erat. Aku sendiri masih dalam posisi siaga dan melihat sekeliling. Dan tiba-tiba “BUAAAKKK….” Tubuh Boy dan Karin terpental melepaskan pelukan Boy dari Karin. Aku menoleh kearah mereka berdua, sepertinya mereka berdua sangat kesakitan akibat serangan tak terlihat itu. Aku hampiri Karin yang sekarang berada jauh dari Boy, ternyata setelah meringis kesakitan Karin langsung jatuh pingsan. Aku menoleh kearah Boy yang sedang mencoba berdiri dan berjalan menghampiriku, sepertinya Boy sangat khawatir dengan keadaan Karin. Tapi sebuah cakaran menebas tubuh Boy hingga baju pelindung yang di kenakannya robek dan Boy melayang serta berputar kesamping lalu jatuh ketanah dengan keras. Aku langsung berlari menghampiri Boy, tubuh Boy terluka cukup parah, darah mengucur dari mulutnya, tubuhnya juga terluka dan mengucurkan darah.

“Uhhkk.. uhukk..uuhukk.., maafkan aku Ryno,” ucapnya sambil terbatuk-batuk.

“Bertahanlah Boy, bertahanlah, kau akan baik-baik saja,” ucapku.

“Uhuk.. uhuk.. ce..cepat.. ha..habisi mah..mahkluk itu,” ucap Boy menahan rasa sakitnya.

“Tentu saja Boy, bertahanlah sedikit,” ucapku.

“Te…nang… sa..ja..aku.. baik..uhuk..uhuk..baik saja.., baju ini juga bisa memulihkan luka-luka dan memperbaiki diri sendiri hanya… hanya butuh waktu…uhuk..uhuk..”ucap Boy sambil terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Kemudian terkulai lemas dan tak bergerak lagi.

“Boy…Boy..BOOOOOYYYYY….,” aku berteriak sambil mengguncang-guncangkan Boy dan menepuk-nepuk pipinya.

“Plaaakk…” sebuah tamparan keras bersarang di pipiku.

“Aku bilang kau tenang,” ucap Boy dengan suara lemah dan masih terkulai serta menutup matanya.

Aku tersenyum senang ternyata Boy belum pergi, aku letakan tubuh Boy dengan tenang di lantai kemudian aku berdiri, dan mengerluarkan senjata kujang emas yang sejak tadi terselip di pinggangku. Sekarang hanya kau dan aku.

destroyer mode on,”  ucapku dengan suara pelan.

Bajuku langsung berubah kembali seperti semula tapi menjadi lebih keras dari sebelumnya, aku memejamkan mataku mencoba menangkap suara-suara yang terdengar lembut di telingaku. Aku mendengar suara deru nafas harimau dan gerakan kakinya yang sangat cepat serta gesekan kukunya yang beradu dengan dinding dan lantai tempatku berdiri. Suara-suara itu mendekat, ….mendekat lagi dan semakin mendekat dan “Buuuuaaakkkk….” Tubuhku berputar sambil mengayunkan tendangan yang keras kearah kepala manusia harimau itu. Pria harimau itu langsung tersungkur menghantam lantai sampai retak. Dengan gerakan yang sangat cepat aku langsung menerjang kearah harimau jadi-jadian tersebut maka terjadilah pertarungan sengit antara aku dan manusia harimau itu, aku sabet-sabetkan kujang itu ke arah tubuhnya tapi harimau itu berhasil menghindarinya. Pertarungan semakin sengit, kami saling menyerang satu sama lain sampai akhirnya kami berdua melompat menjaga jarak. Kami berdua sama-sama lelah, kami berdua saling menatap mencari kelemahan masing-masing. Tiba-tiba saja mata harimaunya menatap ke arah Karin yang kebetulan jaraknya lumayan dekat dengannya. Dalam hitungan sepersekian detik harimau itu melompat ke arah Karin. dan dengan cepat pula aku segera berlari untuk menghalaunya.

“CRRAAAASSSSS….” Suara cipratan darah.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA………….” Aku berteriak keras.

Saat kuku tajam menghujam tangan kiriku yang kugunakan untuk melindungi Karin dari serangan harimau tersebut. Dalam keadaan sedekat itu aku langsung menyabetkan senjata kujang di tangan kananku ke arah lehernya. “Sreeeetttt….” Darah segar langsung tersembur dari leher harimau tersebut membasahi tubuhku.

“Aarrrrkkkhhh… aaarrkkkk…arkkkk..” manusia harimau itu menggeram mundur sambil memegang lehernya yang terluka.

Manusia harimau itu berangsur-angsur berubah kembali menjadi seorang pria.

“Ma….ma..neh… (ka…ka..u),” ucapannya terputus dan langsung jatuh tersungkur ke lantai. Kemudian berangsur-angsur tubuhnya menua dan hancur menjadi debu.

“Bruuuuukkk….” Sebuah guncangan terjadi kembali membuat seisi kraton bergetar hebat.

Aku langsung menjadi panik di buatnya, dengan cepat aku langsung mengangkat tubuh Karin dengan tangan kananku dan menghampiri Boy yang masih tergeletak di tempat itu.

“Boy bangunlah cepat,” ucapku sambil menendang-nendang tubuh Boy.

Masih dalam keadan lemas Boy mencoba bangit dan sepertinya lukanya belum pulih benar.

“Gancang.. geura-giru indit ka dina rohangan éta sarta salametkeun anaking (cepat, segera pergi ke ruangan itu dan selamatkan anaku),” suara wanita tua itu terdengar menggema di ruangan.

Aku langsung bergegas masuk kedalam ruangan yang tadi sambil menggendong Karin, Boy yang masih belum pulih mencoba berlari mengikutiku. Istana mulai bergetar hebat, langit-langitnya mulai berjatuhan. Saat aku masuk lantai tersebut di penuhi oleh ranting-ranting kering berduri dari mawar-mawar merah yang telah layu dan mati. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tempat tidur dengan seorang nenek berambut hitam panjang dan berpakaian kebaya putih dengan samping batik coklat sebagai bawahannya sedang tidur di atas tempat tidur tersebut.

“Hah, kita kesini hanya untuk menyelamatkan nenek-nenek itu,” gumamku dalam hati.

Rasa kecewa dan malas mulai menjalar di tubuhku tapi aku tidak mau usaha semuanya sia-sia dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki aku guncang-gucangkan Karin yang masih dalam keadaan pingsan dengan menggoyangkan tubuhku.

“Ayooo cepat sadar Karin..” ucapku.

“Hei.. hentikan itu, sini berikan saja padaku,” ucap Boy sambil menjulurkan tangannya.

Kulihat Boy sepertinya sudah cukup kuat untuk mengangkat tubuh Karin, dengan sedikit susah payah aku berhasil memberikan tubuh Karin kepada Boy.

“Adu..duh..duh..duh… ternyata kau berat sekali Karin,” ucap Boy sambil kemudian langsung jatuh duduk menahan berat Karin.

Aku sendiri langsung mengangkat dan menggendong nenek-nenek itu dari tempat tidurnya. Tak berapa lama Karinpun sadar dan langsung panik, melihat semuanya berjatuhan dan mulai runtuh.

“Apaaa yang terjadi iniiii..???, moster itu bagaimana ?,” teriaknya panik.

“Nanti saja aku ceritakan, sebaiknya kita bergegas keluar dari keraton ini,” ucap Boy.

Kami semua segera bergegas keluar dari keraton itu menuju dinding serabut yang berada di luar keraton.

“Ah sial.. sabukku jatuh dan tertinggal di dalam keraton itu,” ucap Boy.

“Apa, kau jangan bercanda Boy,” ucapku.

“Iya lihat ini, sabukku tak ada,” ucapnya lagi.

“Terus apa yang harus kita lakukan ?,” tanya Karin.

“Teu kedah sieun, barudak ksatria, tingal kaluhur, (tak usah takut anak-anak ksatria, lihat keatas),” sebuah bayangan wanita tua muncul dari reruntuhan keraton.

Kami semua melihat keatas, seberkas cahaya terang terlihat dari tengah-tengah langit-langit serabut itu yang semakin lama semakin membesar. Kulihat wanita tua itu mendekati kami semua,

“Nuhun ka sadanyana, tulung jagi sareung rawat putri abdi, (terima kasih ke semuanya, tolong jaga dan rawat anakku baik-baik),” ucap wanita tua tersebut sambil mengecup kening nenek-nenek yang berada di pangkuanku. Lalu menghilang.

Cahaya terang masuk menerobos sela-sela serabut yang mulai berlubang-lubang yang makin lama makin besar. Dan akhirnya semua menjadi terang, terpaan sinar matahari siang menerpa wajah kami semua, aku melihat sekekeliling ternyata kita berada di tengah laut. Aku perhatikan sejenak nenek-nenek yang aku gendong, wajahnya yang keriput berangsur-angsur kembali mengencang, begitu juga dengan kulitnya.

“Boy, Karin lihat kemari,” aku berteriak memanggil.

Aku segera meletakkan nenek-nenek itu di lantai tempurung kura-kura tersebut, wajah nenek-nenek tadi mulai berubah menjadi seorang gadis yang cantik. Gadis yang pernah ku lihat di dalam mimpiku waktu itu. Setelah proses perubahan itu, gadis itu mulai siuman dan membuka matanya.

“Uuhhh.. dimana ieu ? (dimana ini ?),” tanyanya.

“Ieu di luhur tonggong kuya, (ini di atas punggung kura-kura),” ucapaku.

Mata gadis itu langsung terbelalak melihatku seperti kaget sekali.

“Anjeun teh Ryno Satya sanes ?, teras eta Yusuf Cahyopurnomo, sareng Karin….emm… sesah nyebatna (kamu tuh Ryno Satya bukan ?, terus itu Yusuf Cahyopurnomo, dan Karin… susah bilangnya),” ucap gadis itu.

“Karin Schastlivy,” ucap Karin.

“Tah eta (nah itu),” ucap gadis itu lagi.

“Sakeudap, ari neng terang ti mana nami abdi sadayana ?(sebentar, kamu tahu dari mana nama kita semua ?),Karin bertanya dalam bahasa sunda.

“Hei, ternyata kau bisa bahasa sunda Rin ?,” tanyaku.

“Tentu saja ayahku orang sunda, dan aku mempelajarinya,” ucap Karin.

“Abdi terang tina ngimpi, abdi ge ningal sadanyana gelut ngalawan Kalaweungi kanggo nyalameutkeun abdi (aku tahu dari mimpi, aku juga melihat semua bertarung melawan Kalaweungi untuk menyelamatkanku),” ucap gadis itu.

“Oooohhh..” aku manggut-manggut, “Nah, Neng pan tos terang nami sadanyana, tapi arurang teu acan terang nami neng (nah, Neng-kan sudah tahu nama kami semua, tapi kita-kita belum tahu nama neng),” ucapku.

“Nami abdi, Wulandari Kencana Ningrum,” ucap gadis tersebut.

“Hmmm, nami nu hade (nama yang bagus),” ucapku.

“Oke, karena semuanya sudah baik-baik saja, sudah saling mengenal dan berbicara, ya walaupun aku tidak ngerti apa yang kalian bicarakan, mari semua kita pulang,” ucap Boy.

“Naon cenah sebatna ?, (apa katanya ?),” tanya Wulan.

“Hayu urang uih, (ayo kita pulang),” ucapku.

Boy mengeluarkan Handphonenya dari saku pinggangnya, lalu menelpon seseorang untuk menjemput kami semua. Selama kami menunggu Karin dan aku banyak bertanya kepada Wulan, bagaimana asal-usulnya, usianya, pokoknya semuanya sampai helikopter penjemput datang kami semua. Semua yang ada di dalam helikopter sangat terkejut melihat kura-kura raksasa yang berukuran hampir sebesar mall. Walaupun Wulan orang jaman dulu tapi dia tidak terlihat kampungan, hanya saja tetap banyak tanya ini itu, tapi bisa di maklumi.

Satu hari setelah kejadian itu, Wulan tinggal bersama Keluarga Karin, Boy membuat sebuah proyek besar yaitu tempat khusus untuk kura-kura raksasa, dan aku sendiri menjadi kekasih Wulan ha…ha…ha…ha..

“Hmmmm.. semua berjalan dengan baik, tapi apa ini ?,” ucapku sambil memperhatikan tangan kiriku yang terasa sangat aneh dan mulai tumbuh bulu-bulu tipis berwarna kuning.

Aku pergi ke kamar mandi untuk mencukur bulu-bulu itu dan saat memandang diriku di cermin kamar mandi.

“Maneh pikir kuring geus paeh ? (kau pikir aku sudah mati ?),” ucap bayangan dalam cermin.

“AAAAAAAAA………” “Praaaaaaanggggg…” suara kaca pecah.

Tamat

Read previous post:  
43
points
(1429 words) posted by centuryno 9 years 3 weeks ago
61.4286
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | dongeng | cuma iseng | fantasi | remaja | sci-fi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

wow, mendadak scifi, wkwkwkwkw
boy dan karin, pasangan aneh ^__^

aneh kenapa kk ?

70

penulisan lumayan rapi. tp dari td yg menarik penglihatanku: kayaknya kak centuryno dlm penggunaan tanda baca masih lemah ya? banyak yg enggak pas, tuh...

iya nih, aku akan coba belajar lagi.

note :
Neng : panggilan sunda untuk anak perempuan.
kujang : senjata khas dari jawa barat
kerajaan istana raya cuma khayalan tak ada unsur sejarah dalam cerita ini.

mohon maap kepanjangan. dan juga mohon kripik pedasnya biar tambah seger.