Penyandang Ajisaka - 2

SIREP SUDAH BERJALAN lebih dari separuh dari keseluruhan waktunya. Menjatuhkan tirai malam yang menutup bumi Arum Kenongo. Angin yang berdesir lembut sepanjang waktu di sekitar lembah membawa uap-uap air yang membentuk kabut tipis. Bersama, kabut dan angin ini seakan-akan ingin menelan siapapun, mengelus kulit kecoklatan yang khas, meniup telinga yang siaga, dan seolah-olah ingin menghadang langkah pasukan yang mencoba menembus malam. Mereka tak ubahnya jutaan uap air yang berdesir.

Malam benar-benar terasa telah menunjukkan taringnya ketika aura desa terakhir di Anila menguap.

Menatap lurus, dengan pandangan hanya menjangkau sejauh sepuluh langkah ke depan, Yuda mencoba menguraikan kegelapan di hadapannya. Jalan tanah-rata membujur lurus dan panjang, diapit pesawahan yang hening. Anehnya, hening ini justru tidak nyaman. Yuda baru menyadari bahwa ketidaknyamanan itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan diorama hutan yang sekarang dimasuki seratus prajurit dipimpin senapati Arga dan ia sendiri.

Gerakan pasukan berkuda ini terbilang halus dan cepat, seperti hembusan angin yang kian mendingin. Baris pertama diisi oleh prajurit bertombak, diikuti oleh pembawa obor dan pemanah di baris kedua sampai kelima, lalu Yuda dan senapati sendiri, kemudian dibelakang mereka menjalar puluhan pasukan bagai tubuh ular. Semua pasukan berambut cepak itu, seperti yang sudah menjadi ciri khas, mengenakan seragam coklat lengkap dengan ikat kepala. Yang entah kenapa malam ini semua atribut dan senjata itu kehilangan kharismanya.

Diam-diam, bola mata Yuda bergulir pada pria bermuka persegi dengan rambut mencuat ke atas, yang tengah berkuda setengah membungkuk di sampingnya. Berlatarkan gelap rimbun pepohonan yang berkelebat, Senapati Arga memegangi tali kekang seolah-olah memegang nyawanya sendiri.

Yuda sadar, jika tidak ada lelaki itu mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari keraton.

Gambaran kejadian beberapa waktu yang lalu masih jelas di kepala Yuda.

“Ini tidak bisa dianggap remeh, Ayah!” Yuda menyanggah perkataan ayahnya yang meragukan pesan prajurit yang terluka itu.

Pria paruh baya dengan kumis dan alis tebal itu mengangguk mengerti kepada putranya. Diterangi dian di keempat sudut, mereka sedang duduk bersila di pendapa di dalam dinding-dinding kedaton yang memang dibuat khusus untuk pertemuan semacam ini ketika raja sedang tidak di balairungnya. “Lalu bagaimana menurutmu, Anakku? Apakah kau ingin aku mengirim pasukan kesana sekarang juga?”

“Itu yang kuinginkan!” jawab Yuda bersemangat.

Tanpa ia sadari, mata ayahnya yang cekung sedang mengamatinya. “Tapi aku tidak akan mengirim pasukan dalam jumlah besar sekaligus. Kita membutuhkan kepastian terlebih dahulu tentang benar tidaknya kabar ini.”

Mata sang raja beralih pada Mahapatih Astama yang duduk bersila sedikit membelakang dari Yuda. “Astama, beritahukan kabar ini kepada semua tumenggung. Lalu suruh salah satu dari senapati mereka untuk memimpin seratus pasukan ke Klarap. Aturlah sebaik mungkin.”

Sementara Patih Astama membungkuk dan mengucap salam kepergian, Yuda hendak memprotes tapi ayahnya telah lebih dulu berujar padanya, “Sekarang, kembalilah ke kamarmu, Yuda.”

“Ayah, perkenankan aku untuk ikut ke Klarap.” Yuda menunduk menatap lantai kayu seolah menembusnya, ia tidak kuasa membalas tatapan ayahnya yang penuh wibawa.

Maharaja Asanka Harundaya yang bergelar Sapta Kurantanegara terdiam sejenak. “Kenapa kau menginginkannya?”

Tersentak mendengar nada suara ayahnya yang berubah datar, Yuda berniat untuk membatalkan keinginannya. Tapi suara hatinya berkata lain, dan mampu menguasai mulutnya. “Jika itu memang serangan penjahat, aku ingin ikut berperang, Ayah! Aku tidak ingin berpangku tangan di sini, aku ingin membela Arum Kenongo!”

“Kau menginginkan peperangan, Yuda?”

Sekali lagi, Yuda tersentak. “Aku hanya ingin memanfaatkan ilmu silatku, Ayah.”

Yuda masih menunduk tapi ia merasa ayanya masih memandanginya dengan cermat seolah sedang menilai barang antik yang akan dibeli. “Perang yang sesungguhnya tidak mudah. Kau akan belajar pengorbanan dan kekalahan sebelum menemui kemenangan.”

Yuda tidak mengerti apa yang dibicarakan ayahnya kini. Mungkin sedang menceritakan pengalamannya dulu.

“Kau seperti kakekmu, yang bersikeras ingin berperang meskipun dilarang oleh nenekmu,” lanjut ayahnya. “Aku mengijinkanmu. Pergilah bersama senapati.”

Mendongak, dilihatnya wajah tua ayahnya yang tersenyum di keremangan cahaya dian.

Senapati Arga memperlambat kudanya, membuat Yuda tersadar bahwa ia sendiri telah melaju lebih lambat. Di sekeliling pasukannya, pohon-pohon mendesah diiringi suara binatang malam.

“Raden,” panggil Senapati Arga, suara kerasnya berbaur dengan dinginnya angin malam. “sebaiknya Raden kembali ke keraton. Raden terlihat lelah.”

Sapuan angin dari depan memberantakkan rambut Yuda ketika pengeran itu mengibaskan tangannya. “Aku tidak apa-apa. Aku akan ikut kalian.”

Alis tipis Senapati Arga bertaut, tapi ia tak memaksa lebih lanjut. Mereka kembali berkuda dengan cepat. Puluhan derap kaki memecahkan keheningan hutan yang serasa menjepit mereka.

“Kita memasuki wilayah Klarap,” ujar senapati.

Deburan sungai perlahan mulai terdengar. Dari balik bahu dan kepala prajurit di depannya, Yuda dapat melihat jembatan panjang sekitar lima belas langkah dari mereka. Jembatan tersebut terbuat dari papan-papan yang ditata kuat di atas batangan kayu yang membujur dari tepi ke tepi, tingginya tujuh kaki dari permukaan sungai. Lebar jembatan kira-kira selebar dua prajurit berkuda yang berjalan berdampingan, sedangkan panjangnya setara dua puluh langkah. Di seberang jembatan, hutan masih belum berakhir.

Mereka semua menarik tali kekang hingga kuda-kuda berhenti dengan ringkikan. Senapati Arga berseru, “Seberangi delapan-delapan! Kendalikan kuda kalian!”

Delapan prajurit pertama tidak menemui masalah ketika menyeberangi jembatan, begitu juga delapan prajurit berikutnya. Hanya masalah kuda yang meringkik ketika melihat derasnya air sungai di bawah. Sang Putra Mahkota dan senapati berada pada gelombang keempat, mereka sama-sama memandangi dua prajurit terakhir yang mencapai ujung jembatan.

Tidak ada yang salah dengan jembatan itu! Yuda mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia sudah sering melewati jembatan ini, hampir setiap bulan. Tapi malam kali ini terasa menyembunyikan sesuatu. Suara burung hantu dari dalam hutan seakan menguatkan kegelisahannya. Sirep sudah hampir berakhir dan akan memasuki tengah wengi.

“Raden,” panggil senapati ketika kaki kudanya bedebam menginjak papan kayu. Suaranya yang rendah hampir ditelan deru sungai. Senapati tiba-tiba terlihat resah.

“Ada apa?” sang pengeran membalas.

Senapati Arga tidak menjawab seraya melintasi jembatan. Sesaat, ia menyapu pandang pada hutan di seberang, lalu pada hutan di belakang. Mereka baru saja sampai di tengah-tengah jembatan ketika mendadak sang senapati berteriak, “AWAS SERANGAN!!!”

Tapi terlambat. Kunang-kunang seakan bertebaran di mata Yuda Handaka.

***

TUMENGGUNG ASWANDAGA masih terjaga meski hari telah larut. Dalam hati, ia mengeja ulang kesiapan pasukannya, pasukan Karkasa Cayapata. Malam ini, sang tumenggung akan melakukan pembalasan.

Sang tumenggung keluar dari ruangannya dan mulai berjalan-jalan di bangsal panjang pasukan Karkasa Cayapata yang tengah menghadapi kesibukan luar biasa. Aswandaga masih sulit percaya kalau waktu untuknya telah datang. Ia memang telah menyiapkan sejak lama, dan pasukannya juga telah bersedia untuk mengikutinya, tapi persiapan yang dilakukan tetap saja terasa mendadak. Setelah bersama dua tumenggung lain ia menghadap mahapatih dan mendapatkan kabar tentang penyerangan di Klarap, Senapati Kana, bawahan Aswandaga, menyarankan agar tumenggungnya itu melakukannya saat ini juga.

Semula Tumenggung Aswandaga ragu, tapi setelah mata-matanya melaporkan bahwa Tumenggung Asta Darma juga akan berangkat ke Klarap, keyakinan Aswandaga muncul. Artinya, sekarang hanya ada separuh pasukan Karkasa Kagendra tanpa tumenggung, dan Tumenggung Jatmika dengan pasukan Karkasa Handaru yang tidak siap.

Nanti, pada puncak waktu fajar sidik atau bang-bang wetan, Tumenggung Aswandaga dan pasukan Karkasa Cayapata akan melakukan pukulan.

***

SENAPATI ARGA TIDAK menduga hutan gelap yang terlihat tenang itu mampu menyemburkan selusin batang panah yang kesemuanya tepat menembus tubuh prajurit Arum Kenongo. Tameng-tameng di angkat tapi entah bagaimana caranya anak panah yang licin dan secepat kilat itu mampu menemukan celah, sementara panah balasan yang dilepaskan ke arah hutan justru menancap di pohon dengan sia-sia. Sang senapati semakin terkejut melihat prajurit di seberang jembatan yang lengannya tertancap anak panah menggeliat kesakitan seolah dibakar api.

Senapati Arga berdesir. Pengalamannya akan taktik perang dan segala jenis senjata membuatnya sadar bahwa racun yang mematikan telah dioleskan pada serangan panah.

Yang membuat semua heran, hujan panah berulang-ulang itu berasal dari sembilan titik yang sama. Separuh dari hutan di barat sungai, separuh lainnya dari timur sungai.

Senapati Arga tidak ingat kapan memberi perintah, tapi prajuritnya yang berada di timur jembatan berlarian menyelusup masuk hutan dengan tombak terhunus. Mereka tidak pernah kembali, teriakan kesakitan di dalam hutan menjelaskan alasannya. Beralih pandang ke barat jembatan, dua puluh empat prajurit yang tadi masih segar bugar melewati jembatan kini berubah menjadi tumpukan mayat. Beberapa masih hidup dengan berdiri limbung, tapi racun yang bereaksi dan hujaman panah tambahan mengantarkan mereka ke gerbang kematian. Dari tengah jembatan, Senapati Arga hanya mampu memandangi sepertiga pasukannya berjatuhan satu persatu dalam waktu yang sangat-sangat singkat.

“Raden Yuda!” Arga merapat ke samping Raden Yuda, ia menjadi tameng hidup bagi tuannya. Radennya memang tampak terkejut, tapi Arga heran melihat tatapan matanya yang sama sekali berbeda.

Warastra membaur bersama angin dingin, merobek udara dengan desingnya yang menyanyat. Tombak Arga berdenting beberapa kali. Ia menyapukan tombaknya menghalau serangan yang melesat baik kearahnya maupun ke arah tuannya. Tapi Arga tidak bisa mencegah teriakan keras tepat dari belakang telinganya. Ia melirik, menatap nanar pada sebatang panah yang merobek dada prajuritnya sampai tembus ke punggung.

“Siapa yang berani melakukan ini, Senapati?”

Senapati Arga sendiri tidak memiliki jawaban untuk itu.

Sekitar tiga puluh prajurit yang masih tersisa berusaha membanjir ke tengah jembatan, sebagian dari mereka berjatuhan saat berlari. Sekarang Senapati Arga mengerti bagaimana rasanya menjadi binatang buruan yang ia bunuh untuk latihan memanah di lapangan di belakang Keraton Arum Kenongo. Ia menggamit lengan radennya, berusaha menariknya menyingkir dari jembatan selagi benteng hidup di depan mereka menghalau desingan panah. Tapi usaha mereka sia-sia. Racun yang dilumurkan sangat mematikan sehingga satu goresan kecil saja dapat membunuh satu tubuh perkasa prajurit. Arum Kenongo sangat piawai dalam perang pasukan melawan pasukan, tapi tidak pernah menghadapi sergapan dengan anak panah yang selalu tepat dan racun pembunuh. Dalam sekejap, jembatan penyeberangan berubah menjadi jembatan kematian.

“Raden, berlindunglah di bawah!” Arga menarik tubuh radennya ke permukaan jembatan agar dapat menghilang dari jangkauan tembak. Mereka menyelinap di antara mayat-mayat prajurit dan prajurit setengah hidup yang mengerang kesakitan dengan mata melotot. Anyir bau darah menyesaki hidung.

Serbuan panah berhenti.

Masih tengkurap, mata Raden Yuda tidak beralih dari jalan kosong di seberang jembatan. Senapati Arga yang membenamkan wajahnya ke permukaan jembatan mengangkat pandang mengikuti raden di sampingnya, dan seketika ia nyaris membeku.

Di barat jembatan, sosok hitam berdiri tegak di jalan yang sepi. Ia memakai kain yang menutupi dagu sampai hidungnya. Matanya yang sembilu berkilat dalam kegelapan, sama seperti kilat senjata tajam di genggaman tangan kanannya. Sosok itu berjalan mendekat, sejenak membungkuk di atas prajurit yang menggeliat di ujung jembatan, ketika ia berdiri geliatan prajurit itu telah berhenti. Darah segar menetes dari ujung senjata sosok hitam itu. Di belakangnya, empat bayangan gelap muncul dari balik rimbunnya hutan.

Senapati Arga merasa kesunyian yang terjadi sangat aneh. Ia menoleh ke belakang dan menyadari kalau lehernya bergetar ; di timur jembatan, di jalan darimana mereka datang yang seharusnya masih sepertiga pasukan tersisa di sana, ternyata hanya ada empat sosok berbaju hitam berpenutup kepala hitam, berdiri di atas mayat pasukan Arum Kenongo yang menimbun. Dadanya sesak, Arga seolah dapat mendengar degup jantungnya sendiri yang bertalu-talu. Kesemua sosok hitam itu menggenggam senjata yang mirip mandau dari wilayah utara, tapi setelah Arga cermati apa yang mereka gunakan lebih menyerupai pisau panjang atau pedang pendek. Arga pernah melihat mandau yang sesungguhnya memiliki gagang yang lebih kecil dan melengkung.

Sembilan orang mengalahkan seratus prajurit terlatih? Apakah mereka juga yang menyerang Klarap yang memiliki ratusan prajurit?

Perhatian Arga teralihkan oleh nyala api bekas obor yang mulai membakar jembatan. Melihat itu, Arga merasa tenggorokannya tercekat. Ia melirik pada Raden Yuda yang tiarap di kirinya ; satu lagi tanggungan yang menggelayuti punggungnya.

“Raden,” Arga berbisik sembari mencuri-curi pandang pada sosok hitam terdekat yang wajahnya hanya tertutup separuh saja. Tampaknya ialah pemimpinnya. “melompatlah ke sungai dan menyelam pergi!”

Yang ditanya tidak melepaskan tatapannya pada sosok pemimpin musuhnya. Tidak ada yang tahu entah itu tatapan terkejut, takut, kagum atau maksud lain.

“Raden?” Arga mulai merasa bintik-bintik keringat dingin bermunculan di wajah dan tengkuknya.

Raden Yuda masih tidak menoleh, bahkan menjawab. Arga baru menyadari bahwa kelima jemari tuannya yang tidak terbiasa dengan sergapan itu terlampau kuat mencengkram tepi papan dari celah sambungannya. Kini, Senapati Arga memilih untuk berharap dalam hati semuanya akan berakhir dengan cepat.

Ia berdiri dan mengayun tombak di tangannya dua putaran. Matanya mengunci mata musuhnya. Senapati Arga menerjang secepat yang ia bisa ; mata tombaknya menyambar bagaikan guruh menyambar bumi. Dua senjata yang berbeda saling berdentingan, menciptakan gelombang udara yang dahsyat. Sang pemimpin orang-orang hitam yang kuatnya bukan main melawan senapati Arum Kenongo yang bergidik melihat bekas luka melintang dari bawah mata kanan musuhnnya sampai menyentuh alis kiri. Musuhnya mengayunkan kaki tanpa disangka-sangka, tapi Arga berhasil mengelak meski hampir terlambat. Menarik tombak, setengah membungkuk, ia mengayunkan kakinya membentuk bulan sabit tapi berhasil dihindari dengan satu lompatan ke belakang. Arga yang sudah memperhitungkan kemungkinan itu segera menusukkan ujung tombaknya ke jantung musuhnya. Tapi entah bagaimana hanya udara kosong yang terkena ; sebuah kilatan berayun memisahkan mata tombak dari gagangnya.

“LARI RADEN!!!” Arga menyuarakan selintas pikiran terakhirnya. Ia merasa beruntung karena tampaknya musuh kehabisan panah.

Senapati Arga belum mendapat jawaban dari Raden Yuda ketika sang pemimpin musuh yang berada di sampingnya membenamkan bilah pedang pendeknya ke lehernya. Di atas, rembulan perlahan-lahan tertutup mendung.

***

DENTING SENJATA mulai terdengar menyelusup di balik dinding-dinding kokoh Arum Kenongo saat langit timur mulai disirami cahaya samar. Senapati Kana bersama dua orang prajurit Karkasa Cayapata bergerak terpisah menuju bagian utara keraton, menuju wisma kepatihan.

Rencana ini berhasil, batin Senapati Kana. Ialah yang menyusun rencana untuk Tumenggung Aswandaga, dan sudah sepatutnyalah ia mendapat balasan yang setimpal. Aku akan menjadi mahapatih! Senapati Kana tersenyum membayangkan jabatannya nanti. Tapi untuk itu, ia harus menyingkirkan mahapatih yang lama.

Berdasarkan rencana Senapati Kana, mereka hanya akan menyingkirkan orang-orang besar dan penghalang saja lalu memerintahkan prajurit dan para senapati untuk mengakui Tumenggung Aswandaga sebagai maharaja. Jikalau pun semua itu gagal, dan perang berdarah tak bisa dihindari, pasukan Karkasa Cayapata tidak akan takut karena jumlah pasukan keraton tidak sepenuhnya.

Dua orang penjaga di gerbang wisma kepatihan meloncat menghunus tombak ketika melihat Senapati Kana mendekat. Ia memberi isyarat tangan dan seketika itu juga prajurit di kanan sang senapati melepaskan tembakan busurnya. Salah satu penjaga tumbang ; penjaga lain kebingungan dan mencoba melangkah mundur sebelum akhirnya prajurit di kiri Senapati Kana menerjang membenamkan tombaknya ke dada si penjaga. Penjaga tersebut masih hidup dengan nafas tersengal, prajurit senapati hendak menggorok leher penjaga itu tapi gerakan tangannya ragu-ragu.

“Bunuh dia!” titah Senapati Kana dengan suara seraknya. Yang diperintahnya hanya memandang wajah sayu di bawahnya.

Merasa jengkel, sang senapati menghunus pisau dari sarungnya dan segera mengakhiri hidup penjaga itu. Ia lalu menyusup masuk ke dalam wisma kepatihan dan menemui Mahapatih Astama tengah duduk merenung di kamarnya.

“Senapati Kana,” panggil mahapatih yang sudah ringkih itu.

Kana tidak menjawab, Mahapatih Astama juga tidak bertanya maksud kedatangannya. Pisau berdarah di genggaman Kana telah memberi arti lebih jelas daripada kata-kata.

“Aku bertanya-tanya mengapa Arga tidak juga mengirim utusan ke Anila, hal itu memberiku alasan untuk segera mengirim Tumenggung Asta Darma bersama pasukannya.” Mahapatih Astama berkata, “Tapi ternyata itu adalah tindakan yang salah.”

Kana tidak berniat mendengarkan itu, ia datang kesini untuk membunuh. Tapi melihat Mahapatih Astama yang begitu rapuh seperti daun kering di ranting tua, matanya yang kelabu karena usia, dan sebagian rambut serta jenggotnya memutih, membuat batin Kana berkemelut. Bagaimana jika kuasingkan saja orang tua ini?

“Apa yang dijanjikan Aswandaga padamu? Jabatan?”

Kana mengangguk. Jabatan mahapatih.

“Aku tidak keberatan menyerahkan jabatanku pada Aswandaga atau padamu. Aku yakin baginda maharaja juga akan sukarela menyerahkan jabatannya asal penggantinya dapat membawa Arum Kenongo kepada masa yang lebih gemilang. Tapi, aku sangat tidak setuju jika kalian menumpahkan darah dan menyakiti pihak-pihak yang tidak bersalah.”

Mendadak, Kana terbayang mayat penjaga yang ia bunuh. Sorot mata penjaga itu tampak...pasrah.

Senapati Kana sudah bosan, pisaunya berayun ke tubuh sang mahapatih. Ia keluar dengan perasaan puas, tapi entah kenapa sesaat kemudian kepuasan itu terkikis. Ia merasa ada getaran di dalam dadanya.

Read previous post:  
68
points
(1718 words) posted by Sang Terpilih 11 years 16 weeks ago
85
Tags: Cerita | Novel | sejarah | fantasi-nasionalis | perang
Read next post:  
Be the first person to continue this post
hers at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)
80

Wah! Keputusan yang sangat berisiko dari seorang raja.
Mengirimkan pangerannya ke medan perang, apalagi hanya sebagai pasukan pembuka. Apalagi(yang ke dua kalinya) alasannya yang terkesan jauh dari nalar bahwa ijin sang raja yang hanya dikaitkan dengan historis kakeknya (Yuda) ketika berperang dulu. Ditambah pernyataan sederhana dari sang Yuda yang sekedar"ingin memanfaatkan ilmu silatnya".
-
Secara politis keputusan tersebut pasti akan menimbulkan anggapan bahwa sang raja memang sengaja mengirim kematian untuk Yuda (jika ia pewaris tahta). Isu yang berkembang biasanya dihubungkan karena ada pengaruh istri lain yang menginginkan anaknya sebagai pewaris tahta. Isu seperti itu sangat rentan dalam suasana suasana yang terjadi saat itu, efeknya selain gampang dimanfaatkan musuh juga akan menimbulkan ketidakpercayaan pada raja.
-
Secara tulisan, alur ceritanyanya pasti akan bertambah panjang dan menarik walau mungkin sedikit terbaca arahnya saat Yuda selamat atau mati.
-
Secara keseluruhan, saya suka.
-
Salloomm!!
Mampir dan cacilah aku.

Writer mas bows
mas bows at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)
90

Ijin berpendapat
.
Cerita yang menarik.
Saya hanya merasa aneh di jaman seperti itu ada jembatan yang begitu panjang. Apalagi mengingat posisinya yang berada di tengah hutan. Bayangan saya, jikapun ada jembatan di tengah hutan biasanya hanya berupa batangan kayu/pohon tanpa papan-papan pijakan yang tertata rapih.
Jembatan seperti itu biasanya ada di dekat2 pemukiman yang ramai. Fungsinya tiada lain untuk mempermudah akses perdagangan.
.
Tapi sekali lagi, itu hanya bayangan saya.

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)

Karena jalan itu menjadi akses saat pangeran berkunjung ke Klarap hampir setiap bulan. Jadi tidak salah jika harus dibangun jembatan.
Btw, terima kasih komennya. Salam kenal ya.

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)

Karena jalan itu menjadi akses saat pangeran berkunjung ke Klarap hampir setiap bulan. Jadi tidak salah jika harus dibangun jembatan.
Btw, terima kasih komennya. Salam kenal ya.

Writer 145
145 at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)
90

Masih ada kalimat-kalimat yang perlu di-improve menurutku. Tapi Overall ini.... benar-benar seru.
hmm 9 lawan 100, kayaknya masih masuk akal kalau dilihat dari terrain-nya.
Aih senapati Kana-nya keren, hmm hmm tapi jika ia secerdas itu kenapa bukan dia yang meng-klaim tahta?
-
Good Job. Kutunggu lanjutannya >_<
Jangan terburu-buru

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)

Kira-kira, kalau senapati yg mengklaim tahta, berapa pasukan yg mau mengikutinya?

Writer 145
145 at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)

Tergantung senopatinya >_<
Napoleon, Suh**to, Ken Arok, jabatan mereka dulu tak tinggi-tinggi amat.
-
Sekedar membunuh Top-Man di suatu negara tak cukup untuk mengambil alih negara tersebut, terlebih jika pemerintahan sebelumnnya stabil dan berhasil mendapat dukungan rakyat.

Writer liza is rin
liza is rin at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)
100

wow wow wow! penguraian peperangannya jauuhh lebih mencekam dari cerita gajah mada! ckckckck.. kak SaTer hebat!!

Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)

Hmh, ngomong-ngomong, apakah perkataan mahapatih itu terdengar familiar?

Writer liza is rin
liza is rin at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 14 weeks ago)

sebentar2.. kata2 mahapatih yg "ternyata keputusan itu salah" bukan? rasa2nya aku pernah membcanya. di buku gajah mada bukan? *me-recall memori

Writer untukpendidikan
untukpendidikan at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)
90

mangstab .. alurnya enak dan penggunaan istilah2 'lama' juga kerasa pas ...
.
Lanjut baca lagi :D

Writer DelbinClyte
DelbinClyte at Penyandang Ajisaka - 2 (11 years 15 weeks ago)

wah, alurnya asyik sekali. asyik, asyik sekali.