Selamat Jalan

            Pernahkah kau tiba-tiba merasa kesepian di tengah keramaian?

            Saat kawan-kawanmu bersenda-gurau bercanda, kau ikut tertawa—tawa hampa tanpa makna, berharap seseorang menyadarinya.

            Atau mungkin saat larut malam, menyalang dalam kegelapan—di ranjang yang nyaman, namun kau tetap tak bisa hanyut terlelap?

            Pernahkah kau merasa bahwa hidupmu begitu berat, begitu banyak tekanan dan cobaan yang harus kau hadapi, namun kau sendirian—tak ada yang bersusah payah untuk menanyakan kabarmu, apalagi menawarkan untuk menolong.

            Ya… seharusnya aku menyadari itu semua. Seharusnya aku menyadari perubahan sikapmu akhir-akhir ini—menyadari jeritan sunyi itu, putus asa mengharapkan tangan terulur.

            Ya… betapapun aku menyesalinya, menyesali kebodohanmu meninggalkan kami, tak ada lain yang bisa kulakukan.

            Kuelus pigura kayu itu, yang membingkai selembar foto kita berlima—yang dahulu terhias senyum riang dan sinar bahagia dari mata coklatmu. Kau memanggul gitarmu bergaya ala penyanyi rock, sebatang rokok terselip di jemarimu. Rokok itu, dahulu aku begitu membencinya, membuatku gila setiap kali harus memperingatkanmu untuk berhenti. Ya, salahku, seharusnya aku lebih peka. Kau mulai tercandu saat ayahmu meninggal.

            Aku berpaling dari pigura yang membuat dadaku serasa tersayat itu, kemudian menatap sekeliling. Ruangan ini, tempat kita selalu menghabiskan waktu bersama—bermain musik. Kau dengan gitar elektrikmu, ya, kau selalu memukau kami semua setiap kali kau mulai bersenandung dan memetik senar-senarnya. Aku rindu saat-saat itu.

            Tanpa kusadari, jemariku telah mengelus microphone yang bertengger berdebu disana, berusaha keras untuk tidak membiarkan air mataku tumpah, meski kenangan-kenangan akan dirimu kini menyeruak menyiksa batinku.

 

            Loneliness…

            Your silent whisper fills the river of tears through the night

 

            Tak kuasa aku terisak saat kutembangkan lagu itu, lagu perpisahan dari kami, untukmu. Suaraku serak dan gemetar. Betapa ingin aku menyanyikannya lebih baik—namun kau membuat semua ini sulit.

 

            Memory…

            You never let me cry

            And you…

            You never said good-bye

 

            Kupejamkan mataku saat perih menguasai. Kenyataan bahwa kau telah pergi meninggalkan dunia ini, meninggalkan kami—bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal, sungguh membuatku ingin membentakmu… memakimu. Dengan bodoh kau akhiri hidupmu dengan handuk yang mencekik lehermu, meninggalkan kami disini sekarang, hanya bisa menangis mengenangmu.

 

            Sometimes our tears blinded the love

            We lost our dreams along the way

            But I never thought you’d trade your soul to the fate

            Never thought you’d leave me alone…

 

            Aku rindu kau. Aku rindu suaramu, aku rindu dirimu yang selalu menjadi tempatku berkeluh-kesah. Kubanting microphone itu. Tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Betapa aku berharap sedang bermimpi—berharap sosokmu tiba-tiba muncul dan berkata bahwa ini semua hanyalah lelucon yang kejam.

            Namun kau tak pernah muncul…

 

            Time through the rain has set me free

 

            Berbisik… dan gemetar… kukepalkan tinjuku.

 

            Sands of time will keep your memory

 

            Mengapa… mengapa kau tega melakukan ini?

 

            Love everlasting fades away...

            alive within your beat-less heart.

 

            Cahaya jingga menyusup dari sela-sela kerai di jendela menemani sunyi yang menggema saat kualunkan kalimat terakhir. Jatuh terduduk, aku memeluk diriku sendiri, mencurahkan segala rasaku untukmu.

            Aku tahu kau telah pergi.

            Aku tahu kau takkan mungkin lagi hadir, betapapun aku bernyanyi hingga suaraku habis.

            Aku tahu aku harus merelakanmu, betapapun sulitnya, betapapun sakitnya.

            Maka kukumpulkan sisa-sisa harapanku yang remuk—menarik nafas panjang—dan bangkit. Kubiarkan tangisku tumpah untuk terakhir kali... kuucapkan selamat tinggal pada ruangan itu, pada dirimu.

            Lalu berjanji akan terus hidup, berkarya, sekaligus memaafkanmu.

            Berjanji takkan lagi menangis.

            Berjanji untuk merelakanmu... membiarkanmu beristirahat dengan tenang.

            Ya…

            Kututup pintu itu dan pergi. Menyongsong hari-hari yang masih harus kuhadapi—kini tanpa dirimu.

           

            Selamat tinggal, kawan. Cintaku untukmu…

 

 

***

 

Watching the stars, till they’re gone

Like an actor, all alone,

Who never knew the story he was in

Who never knew the story ends

Like the sky, reflecting my heart

All the colors become visible

When the morning begins…I’ll read the last line

 

In endless rain I’ve been walking

Like a poet… feeling in pain,

Trying to find the answers

Trying to hide the tears

But it was just a circle that never ends

When the rain stops, I’ll turn the page

The page of the first chapter

 

Am I wrong to be hurt?

Am I wrong to feel pain?

Am I wrong to be in the rain?

Am I wrong to wish the night won’t end?

Am I wrong to cry?

But I know, it’s not wrong to sing the last song,

‘coz forever fades…

 

I see red

I see blue

But the silver lining gradually takes over

When the morning begins

I’ll be in the next chapter…

 

 

** The Last Song – X Japan **

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer miss worm
miss worm at Selamat Jalan (9 years 49 weeks ago)
70

:p X Japan. your writing brings back memories. anyway, selain lirik lagu yang menurut saya terlalu banyak porsinya, saya suuuka gayamu bertutur. cantik hehehe

Writer liza is rin
liza is rin at Selamat Jalan (10 years 14 weeks ago)
100

huhu.. sepertinya kak zhang membuatnya dengan segenap hati ya? rasa sedihnya berhasil menggigit nih. huhuhu.. :'(

hers at Selamat Jalan (10 years 14 weeks ago)
80

aww!! tertampar Pembukaannya,

Tapi terus terang di pertengahan sampai akhir aku ngerasa terganggu, mungkin karena kepalaku yang lelah sehingga rasanya berat untuk menyerap penggunaan bahasa asing.(hallah ngeles! padahal emang lemah). Secara keseluruhan aku nangkep kok maksudnya.

Terlepas dari sisi/pengalaman apa cerita ini diangkat, saran saya lebih baik memakai lirik-lirik populer yang banyak diketahui dan dipahami orang. Mungkin pembaca akan lebih antusias dan memahami apa maksud yang ingin disampaikan.

Salloom!!
Mampir dan cacilah aku!!

Writer Zhang he
Zhang he at Selamat Jalan (10 years 14 weeks ago)

Gak perlu diresapi lirik lagunya.. asal kau nangkap emosi yang mau aku sampaikan udah cukup. Makasih sudah mampir

Writer dansou
dansou at Selamat Jalan (10 years 14 weeks ago)
90

Kereeennn.... Empat jempol buat Kak Zhang :D

Writer Zhang he
Zhang he at Selamat Jalan (10 years 14 weeks ago)

Makasi dansou.. diriku sedang berkabung T_T

Writer nia vardini
nia vardini at Selamat Jalan (10 years 14 weeks ago)
70

kata - katanya menyentuh

Writer Rijon
Rijon at Selamat Jalan (10 years 14 weeks ago)
70

Aw...
Aw aw....