Program Tantangan: The Fate Shouldn't Go Like This [EDITED]

The Fate Shouldn’t Go Like

This Aku menarik napas lega. Bersandar pada dinding dan menatap keluar jendela ruanganku yang berada di lantai dua. Rasanya benar-benar aneh melihat adegan demi adegan yang terpampang jelas di bawah. Mereka mendapat izin Sang Pencipta untuk membuat kisah cintanya sendiri. Sang Pencipta bahkan memutuskan untuk merombak takdir-takdir dunia ini dan menetapkan takdir besar yang baru. Kuakui mereka memang pasangan yang serasi—sekaligus pasangan bodoh.

“Aku akan selalu mencintaimu,” Derion membisikan kata-kata itu tepat di telinga Cindy sambil merangkulnya. Suaranya tidak cukup kecil untuk mustahil kudengar.

“Oh! Derion! Sejak aku membantingmu dengan jurus karateku lalu mengobatimu, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Aku juga, Cindy. Aku senang saat itu kau gadis yang pertama kalinya berhasil mencapai rumahku. Walau aku kurang senang kau langsung menarik dan membantingku begitu saja. Padahal aku hanya ingin menyambut dan berkenalan denganmu,” cibir Derion.

Rupanya hubungan kisah asmara mereka bermula dari perintahku sendiri. Waktu itu aku menyuruh Cindy untuk mencari Handry yang pergi entah ke mana.

“Maafkan aku! Aku kira kau adalah penunggu ganas seperti yang dibicarakan Anabelle,” ujar Cindy jujur. Raut wajah Derion tampak sendu. “Kau takut karena aku wajahku buruk seperti ini bukan? Kalau kau tidak mau hidup bersamaku, aku akan melepaskanmu.”

Aku penasaran akan jawaban Cindy, mereka sama-sama tahu bahwa wajah tampan Derion tidak akan kembali walau ada seorang gadis yang mencintainya. Sang Pencipta tetap bersikeras menetapkan Anabelle sebagai pelepas kutukan Derion. Cindy menggeleng dan menatap mata biru Derion lekat-lekat.

“Tidak, aku senang dengan wajah unikmu ini. Dari dulu aku suka yang unik-unik.”

Aku tidak tahu harus setuju dengan Cindy atau tidak, wajah Derion memang aneh, seperti banteng yang berkombinasi dengan babi. Bagian yang menyadarkan orang lain bahwa dia manusia adalah badan tegap—kaki juga tangan selayaknya manusia dan rambut hitamnya yang dibiarkan memanjang dan diikat rapi.

Bagaimanapun juga, perjuangan mereka menuntut haknya tidak akan pernah kulupakan. Aku ingat bagaimana pengorbanan Cindy lalu Derion yang tidak tahu terima kasih malah menyusulnya. Tentu saja aku sangat ingat bagaimana aku mendapat luka di jidat mulusku ini. Sebenarnya kejadian ini terjadi beberapa saat yang lalu. Tepat sebelum Derion dan Cindy memutuskan untuk menikah.

 

Aku memandang langit biru dengan awan putih terlukis lembut. Ingatanku melayang kembali pada kejadian tadi pagi. Saat itu matahari masih menyembunyikan dirinya. Secercah cahaya yang menyilaukan membungkus dua insan itu. Membangunkan mereka dari mimpi abadinya. Aku menatapnya horor. Bagaimana mungkin mereka dibangkitkan lagi? Apa Sang Pencipta mau mempermainkanku? Aku mati-matian memusnahkan mereka dari dunia ini. Bahkan mereka sendiri yang memintanya.

Aku sudah berkorban banyak. Wajah yang dianugrahi kemulusan tiada tara harus rela menerima segores luka sentilan mahasakit dari Derion. Waktu itu dia berani-beraninya merusak pintu kayu kamarku dan mengamuk saat melihat kekasihnya, Cindy terbujur kaku dengan mimpi abadinya. Derion benar-benar marah dan menatapku nanar dengan kedua bola mata birunya menyorotkan bahaya.

Dalam sekajap kamarku yang luas berubah menjadi kapal pecah. Vas bunga, jendela dan cermin pecah berhamburan, kursi dan meja kayu patah, lemari dan rak terguling memuntahkan isinya ke lantai. Dia menyalahkanku dan berusaha membunuhku dengan tangan kosongnya. Aku berusaha menghindari semua pukulan yang dilancarkan Derion berturut-turut. Menelengkan kepalaku menghindari vas yang dilempar Derion sampai akhirnya terdengar bunyi pecahan yang memekakkan telinga. Tentu saja dengan tubuh mungilku, aku lebih gesit dan kuat darinya sampai dia akhirnya mengerti kedudukannya sendiri—dia tidak lebih hanya sebagai pion.

Tapi aku terlalu meremehkannya ketika kujawab permintaanya—mimpi abadi yang artinya keberadaannya hilang di muka bumi ini. “Kenang-kenangan,” begitu katanya setelah sukses menyentil jidatku kuat-kuat. Dia langsung terbujur kaku dengan tangan yang memegang tangan Cindy begitu kutukan itu berhasil menyerap jiwanya. Pemandangan yang menyayat hati.

“Kalian benar-benar menyebalkan. Harusnya kalian berterima kasih padaku. Aku sudah banyak mengorbankan waktuku untuk berusaha menjauhkan kalian,” kataku terisak, jatuh tertunduk lemas. Kedua tanganku mencengkeram kuat kedua pahaku yang tertutup gaun satin hijau. Tak terasa air mataku jatuh begitu melihat nasib mereka berakhir tragis . Aku senang mereka yang akhir-akhir ini merepotkanku akhirnya lenyap.

Bagaimana tidak mengesalkan, di pagi-pagi buta saat mimpiku sedang indah-indahnya, Cindy dengan masih berbalut gaun tidur biru langitnya berani menggedor-gedor pintu kamarku dan terus berteriak seperti orang gila memohon permintaanya yang gila juga dikabulkan.

“Tolong lenyapkan aku dari dunia ini!” pintanya berkali-kali sampai kerongkongannya serak.

Keadaannya kacau, matanya sembap, rambut pirangnya yang digelung tinggi acak-acakan dan wajahnya yang biasanya bersinar cerah kini memancarkan kesedihan yang sangat. Lantas aku terbengong-bengong menatapnya.

“Mana mungkin aku bisa melakukan itu,” sanggahku. Sebenarnya aku memang dikaruniai kemampuan seperti itu tetapi selama ini tidak pernah kupakai. Aku lebih memilih Sang Penciptalah yang melakukan itu, entah bagaimana caranya.

“Kau berhubungan dengan Sang Pencipta bukan? Bilang padanya untuk segera memusnahkanku!” serunya lantang. Aku dapat melihat kesedihan, keberanian dan rasa putus asa juga… perasaan cinta yang kuat terpancar jelas dari sepasang mata hijau zamrudnya.

Jujur aku kaget dengan fakta bahwa dia tahu ada Sang Pencipta yang memainkan nasibnya di dunia ini. Detik berikutnya fakta lainnya menyerang jiwaku—cinta yang dalam telah tumbuh di dasar relung jiwanya. “B-ba-bagaimana kau bisa tahu tentang Sang Pencipta?” tanyaku hati-hati.

Cindy tersenyum sinis menatapku. “Aku tahu segalanya dari Anabelle. Dan aku mulai menyadari kehidupanku di sini benar-benar diatur oleh seseorang, Sang Pencipta.”

Anabelle!

Rupanya itu yang mereka bicarakan malam sebelum itu.

Tubuhku mulai terasa kaku dan mati rasa. Keringat dingin mengucur deras. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

Aku mulai panik sementara Cindy terus menerus memaksaku untuk memusnahkannya. Tak berapa lama kemudian, suatu keyakinan kuat menguasai jiwa dan ragaku. Dan aku menjawab permohonannya.

Dalam hati aku mengutuki diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa gagal mengemban tugasku. Bagaimana mungkin aku tidak sadar dan segera cepat bertindak saat cinta di antara mereka mulai menguat menjadi cinta abadi. Itu salah. Itu sudah melenceng jauh dari takdir yang sudah ditetapkan Sang Pencipta.

 

Saat itu aku sadar betapa besar cinta mereka. Malam setelah aku memergoki mereka bermesra-mesraan, aku melihat Anabelle yang biasanya tidak peduli dengan apapun datang dan berbicara pada Cindy. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Saat itu posisiku sedang berada di atas pohon, duduk di atas ranting pohon yang tidak terlalu kuat menopang berat ringan tubuhku. Ketakutanku mengambil alih tubuh juga pikiranku sehingga aku tidak dapat berkonsentrasi pada isi pembicaraan mereka.

Saat itu mereka berada di taman yang rimbun oleh pohon sedangkan aku hinggap di pohon yang terletak jauh dari mereka.

“Kau serius, Anabelle?”

“Dua rius. Loe masa nggak nyadar-nyadar sih?”

“Tidak. Mana mungkin aku tahu kalau ada yang seperti itu. Apa yang harus kulakukan?”

“Menurut teori gue sih, loe cukup menjauh dari si Derion aja. Beres deh.”

Itulah sedikit percakapan mereka yang berhasil kudengar. Kalian jangan kaget dengan gaya bicara Anabelle. Menurutku pribadi mungkin saat Sang Pencipta menciptakannya, Anabelle terkontaminasi dengan akal budi Sang Pencipta. Hebatnya lagi kami semua bisa mengerti arti gaya bicara Anabelle yang tergolong unik untuk rentang waktu masa seperti ini.

Sang Pencipta pernah mengatakan padaku bahwa dia ingin membuat dunia yang bernuansa abad pertengahan di zamannya. Tentu saja aku sebagai wali Sang Pencipta tahu segalanya tentang dunia ini. Sang Pencipta sudah menubuatkan skenarionya padaku. Dan tugasku sebagai wali sekaligus pengawas dunia ini adalah membuat para ciptaannya berpikir dan bertindak seperti apa yang telah disusunnya.

Tentu saja itu sangat sulit membuat Handry, pangeran tampan yang ditakdirkan untuk hidup bahagia selamanya bersama Cindy jatuh cinta dengan Cindy. Bagaimana tidak, Handry sehari-hari hanya duduk manis di depan cermin sambil menyisir rambut cokelat setengah ikalnya di pagi hari.

“Aku sedang mengagumi ketampananku. Apa kau ingin ikut mengagumi ketampanku juga?” begitu katanya setiap kali aku dengan kesal menghampiri rumahnya.

Mata hazelnya tidak akan pernah lepas dari bayangan yang terpantul di cermin. Kuakui dia memang pemuda paling tampan sekaligus paling percaya diri di dunia ini. Lalu siangnya dia selalu mengenakan pakaian termewahnya berjalan-jalan membuat drama musikal bersama dengan hewan-hewan hutan dan bunga-bunga di padang.Aku sempat beberapa kali melongo menyaksikannya. Handry yang dianugerahi kegemulaian tiada tara menari dan bernyanyi bersama hewan-hewan hutan. Entah apa yang bisa membuat para hewan mengerti bahasa Handry dan ikut mengambil bagian dalam drama musikalnya.

Malam harinya dia malah sibuk menjalankan ritual khusus untuk memperindah tubuhnya. Aku jadi semakin yakin dia mempunyai rahasia menjaga kulit putih cerahnya dari sinar matahari. Benar-benar membuat iri diriku yang diciptakan dengan kulit nyaris gosong.

Kelakuan pangeran mahatampan satu ini sulit diubah. Tidak heran aura cinta antara dia dan Cindy yang diharapkan sangat romantis tidak terbentuk sama sekali. Malah terlihat seperti padang gersang. Ok, cukup dengan Handry. Menceritakan Handry lebih lanjut bisa membuat suasana hatiku buruk.

Sekarang beralih pada Anabelle yang ditakdirkan untuk menjadi putri yang anggun, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan melepaskan kutukan Derion dengan cintanya. Sebenarnya Annabelle memang tumbuh menjadi seorang yang cantik, anggun, baik, agak sombong dan rajin menabung. Sang Pencipta menganugerahinya dengan wajah tirus cantik, sepasang mata kuning topas, bibir merah penuh, kulit putih bercahaya dan bentuk tubuh yang sempurna.

Sayang hobi membaca bukunya menghalangi Derion mendekati Anabelle. Sehari-hari Anabelle hanya mendekam di dalam ruang perpustakaan di rumahnya sampai malam. Memang hobinya itu bagus tapi bagaimanapun juga dia kelewat maniak dengan buku, dia tidak akan membiarkan siapapun menginterupsinya saat membaca buku. Aku jadi ingat kejadian kemarin saat rumah Anabelle kebakaran. Pertama-tama yang diselamatkannya adalah ruang perpustakaan.

“Kau mau ke mana Anabelle?” teriakku cemas.

Penduduk sekitar berlari bolak-balik berusaha memadamkan api. Aku menarik tangan halus Anabelle tapi dia menepis kasar.

"Aku mau menyelamatkan buku-bukuku!” sahutnya sembari terus berlari.

Dia bahkan tidak peduli dengan gaun kuning mengembangnya yang kotor dan hampir terbakar oleh api. Dia terus menerobos ruang perpustakaan dan melempar buku-bukunya keluar. Aku bertaruh wajah dan tubuh moleknya bisa saja terbakar jika Handry yang kebetulan lewat tidak menari-nari menyelamatkannya—katanya aksi hebatnya itu merupakan salah satu bagian dari drama musikalnya.

Lalu bagaimana dengan dua orang sisanya? Mereka benar-benar persis memenuhi harapan Sang Pencipta. Derion terlahir sebagai pria tampan yang dikutuk menjadi si buruk rupa. Kepribadiannya mirip yang Sang Pencipta inginkan—ambisius, pemberani, kuat dan baik hati. Entah kepribadiannya yang suka menggoda wanita didapat dari mana.

Kemudian ada Cindy yang tercipta sebagai gadis tabah, menarik, baik hati sekaligus jago karate dan kegiatan adu otot lainnya. Kuakui Cindy memang berpuluh kali lipat lebih manis dari pada Anabelle yang ditetapkan Sang Pencipta sebagai peran utama dalam dunia ini. Mata emas Cindy bersinar lembut selalu menenangkan orang-orang yang melihatnya, pembawaannya yang kuat di balik kelembutanya dan penampilan yang selalu apik walau tidak mengenakan gaun mewah—semuanya menjadi poin plus.

Cindy juga orang yang menyenangkan dan cukup mudah diajak berkerjasama. Aku sudah menyuruhnya untuk terus mendekati Handry dan dia melakukan itu. Awalnya memang dia melakukannya dengan baik tapi lama kelamaan dia kesal dan mogok melancarkan aksinya saat Handry berhari-hari terus memandangi cermin dan menjerit-jerit layaknya orang gila.

“Lihat! Jerawat ini berani-beraninya mengotori wajahku yang tampan tiada tara!” serunya sambil melotot lebar. Wajah sarat ekspresi horornya benar-benar jauh dari kata indah.

Mengingat semua hal yang terjadi di dunia ini membuatku mengelus dada, menahan semua emosiku yang nyaris memuncak. Aku jenuh dan lelah. Semuanya ini mungkin tidak akan terjadi jika kejadian-kejadian itu tidak menimpa dunia ini. Dan dunia ini akan segera cepat selesai dibangun jika semua para karakter bekerja sebagai mana mestinya.

 

Langit tampak cerah dan burung-burung berkicau senang. Angin berhembus sejuk membawa aroma bunga lily memenuhi rongga hidungku. Benar-benar suasana yang tenang saat aku berjalan-jalan di pedesaan kecil ini. Rumah-rumah berjejer rapi dan lingkungan terawat alami. Begitu melewati sungai kecil dan berbelok ke rumah Cindy yang bergaya Elizabeth, aku sadar ancaman besar sedang menanti. Kedua bola mata kelabuku tanpa sengaja menangkap sosok Derion memeluk dan mencium mesra Cindy di halaman belakang rumah Cindy.

Waktu itu Cindy tengah mendalami perannya sebagai Sang Cinderella, mencuci baju juga membersihkan halaman belakang rumah sementara kakak juga ibu tirinya yang ditakdirkan jahat sedang enak-enakkan tidur di dalam kamar yang nyaman. Selain kakak dan ibu tiri Cindy juga para tokoh figuran lainnya, tidak ada tokoh yang memainkan perannya dengan benar.

Aku tidak tahu bagaimana Derion yang jelas-jelas rumahnya jauh di atas perbukitan tinggi dengan hutan yang lebat bisa mengetahui rumah Cindy yang berada jauh di dalam desa. Aku juga tidak tahu bagaimana mereka bertemu dan saling jatuh cinta. Satu hal yang pasti, mereka tidak boleh saling mencintai dan harus segera dipisahkan. Mereka akan menghancurkan skenario kata yang telah disusun Sang Pencipta, Sang pembuat dunia ini—dunia cerita.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

oh mai got, betapa lucu dan imajinatifnya..!

80

ceritanya lucu , suka deh sm alurnya :D
mampir ya http://id.kemudian.com/node/256355 :) minta cabenya

100

Waah..hebat..keknya susah banget buat alur mundur. *jujur pas bc tantanganny ak ga kebayang gmn alur mundur it*
keren dah!

kalo nanya bikin alur mundur kyk gini susah apa gampang; jawaban Nana: SUSAH-susah-GAmpang :D
Susah karna ga bebas n terbatas dlm bbrp aspek (pa lg tuw draftny Nana buat di otak aja *males nyorat-nyoret*)
Dan mesti mikir keras gmn cara bikin pembaca tertarik baca sampe akhir, secara endingnya dah ketebak (klo bgn ini sepertinya Nana gagal -_-")
Gampangnya: umm.. ga beda jauh sama buat alur maju sih.. -_-a
*jd curcol*

Makasih ya kak! ><

kalo nanya bikin alur mundur kyk gini susah apa gampang; jawaban Nana: SUSAH-susah-GAmpang :D
Susah karna ga bebas n terbatas dlm bbrp aspek (pa lg tuw draftny Nana buat di otak aja *males nyorat-nyoret*)
Dan mesti mikir keras gmn cara bikin pembaca tertarik baca sampe akhir, secara endingnya dah ketebak (klo bgn ini sepertinya Nana gagal -_-")
Gampangnya: umm.. ga beda jauh sama buat alur maju sih.. -_-a
*jd curcol*

Makasih ya kak! ><

80

wowww ... si beuti n teh beast dan cinderela serela relanya ...

nana nana ... kenapa kepikiran ampe ke sono yah ckckckck ...
gut gut gut.

hahaha.. :lol:
tadiny malah mau ditambah slepping beauty micky mouse dll,, tp ga jd deh.. bikin pusing...
makasih kak! ><

90

akakakaka, stress gw mikirin gimana seorang Hendry jika beneran dfilmkan critamu ini.
.
Hendry menjerit seperti orang sakit ketika mendapati jerawat nangkring di muka mulusnya...akakaakaka, pliss deh adekku juga cowok yg mukanya jadi pertambangan juga, tapi gak segitu menjeritnya, paling parah pas bercermin sambil bersungut2 n terisak2..
.
keknya itu hal yg berkesan di cerpen ini, sekaligus lucu...sorry yah gak banyak yg bisa sy kritik, coz aku juga masih newbie..
.
piss yo, n gut lak!

hehe.. Kk stress mikirin gmn Handry, Nana malah stress mikirin ni cerita ama lulus apa ga.. ><
Begitu ya.. adik kk bisa jadi refrensi pembuatan karakter tuh :D
Makasih ya kak! ><

80

Hiks... Hiks... Yang ini jauh lebih bagus daripada punya saya T_T.
.
Seperti biasa, andalan Kak Nana adalah PoV 1 dan yang ini sebagai pengamat ya? Komentarnya udah diborong di bawah. Ada autocorrect tuh satu: horror
.
Moga2 lulus ya Kak Nana

Hore k dansou mampir! XD
Ampun dah, ini salah satu karya di luar zona aman n bnyk bgt kekurangannya (sampe bingung mo diotak-atik kyk apa lg) T_T

ayo satu angkatan penerima tantangan kali ini LuLuS! Berjuang! XD *kayak UN aja*

anyway, makasih yaa.. ><

Aku sama Kak Nana tuaan siapa sih? Saya baru aja 17 lho kemarin mei

aaaa... berarti tahun lahir kita seangkatan.. haha.. Tapi tuaan kamu kok,, Nana Sept nanti.. hehe.. :D

80

he3... jadi cerita Beauty and the Beast yang dikacaukan sama Cinderella >_<
khas nana banget, ceritanya lucu

ho oh, kurang lebih seperti itu..
makasih kak Kurenai ><

60

Suara enggak memiliki bentuk, kecuali oleh mereka yang Sinestesia, jadi semestinya ‘suara pelan’, bukan suara ‘kecil’.
-
Diatur oleh seseorang, Sang Pencipta. …jadi Sang Pencipta itu seseorang? O_o
-
Susunan kalimatmu, terlalu banyak kata. Sangat panjang-panjang. Enggak efisien. Coba bikin satu kalimat dengan maksimal 16 kata aja, err dan usahakan enggak usah ada terlalu banyak kata penghubung.
-
Kata ‘lalu’ sepertinya kurang enak kalau diletakkan pada pembuka paragraf.
-
Typo detected: kemana, pelepaskan, bagaiman, memergokki
***
Untuk isinya… emm, karakterisasi masih sangat lemah. Apa malaikatnya emang sengaja dibuat imut-imut?
-
Err… maksudnya penceritaan dengan alur yang terus mundur, sepenangkapanku, sih… bukannya kamu mesti membalik morfologi ceritamu jadi akhir – menjelang akhir – tengah – lanjutan awal – awal. Pernah nonton Titanic, kan? Itu dari masa tua – masa lalu – masa tua lagi. Kalau alurnya mundur, apa kamu pernah nonton (500) days of Summer? Itu alurnya beneran berantakan, dan alur mundurnya lumayan curam. Sampai akhirnya si tokoh digiring kembali ke masa kini. Pembabakan dalam cerita yang alurnya berpola non-linier memang cukup susah, sih. Mister david emang kejam. *menghela nafas*
-
Tapi overall, penceritaanmu tralu telling, deh. Dan logika ceritanya bener-bener… wkwkwkwkwk, surealis. :p (mumpung ini kata lagi beken) Yeah, itu aja, sih, kayaknya. #minta ditimpuk mister david

-Yg ttg suara Nana bru tau (yay dpt pengetahuan lg)
-Sang Pencipta sebenernya kata yg kupakai buat menyebut pengarang (kata narsisnya: Sang Pencipta= cyber_nana) *dah stress ini*
-Ok, Nana mesti belajar ttg kalimat efisien (my weakness point)
-Ok
-Aaa masi ada typo ><
-Jujur saat membuat cerita ini, Nana ga teringat n ga bikin tokoh malaikat2 :D
-Klo alur mundur, Nana beneran nyerah deh
Ga prnh nonton (500) Days of Summers & kata k KD, Titanic menggunakan alur campuran
-hore Nana bisa bikin surealis \(-_-)/

Anyway, makasih bnyk ya kak Panah ><
(ga bisa ngetik lebih bnyk huruf lg jadi blg makasihny di sini--my handphone only allow me to type 512 character) :D

Wkwwkwkwk. Ngakak, deh, aku ngeliat penantang dan peserta tantangannya. LOL. LOL. ROFL.

siapa2?? *nengok kanan-kiri*

Mimi. Aku tadi baca cerpenmu di Tempo. Conrats.
*OOT*

Makasih Rijon. xD *OOT, kok, di lapak orang -.-*

100

hmmm

hyaaa.... ini komentar panjangnya? 0_0
Artinya lulus ga, kak?? #jedag jedug kayak nunggu hasil UN% ><

Lgsg ngepost sebelum berubah-ubah lagi ide dan bentuk alur mundurnyaa... --

Kak KD... kalo jauuuuuuh dari harapan kk, boleh ada remedial yaaaaa.... ><

*Dah siapin baskom gede buat nerima cabe2*
silahkan dilempar cabenya ;)

komentar pendek: KEREN!!!
-----------------------------------------------
komentar panjang: tunggu ya

asiiik... XD
*masi jedag jedug kejedug nunggu hasilnya*