Menulis Puisi, Menyandera Kata menjadi Imaji - 2 (Review Program Tantangan)

Melukis Puisi, Mengkristalkan Imaji 

 
Jang berakal berpikir. Jang berpikir mempunjai hasrat hendak melahirkan hasilnja berpikir, buah pikiranja itu.
Djalan melahirkan buah pikiran itu bermatjam-matjam. Ada jang dengan gerak-gerik, ada jang dengan isjarat, tanda dan gambaran. Jang sempurna ialah dengan bahasa jang dituturkan atau dituliskan djua (bunji dan gambaran)
Bahasa itulah gambaran pikiran seseorang. Perhubungan djalan berpikir dan berbahasa amat rapat. Oleh sebab itu tjorak bahasa itu sedjalan pula dengan golongan orang jang memakainja. Ia dipegaruhi oleh umur, pendidikan dan pergaulan. (Esei : Bermawi dalam Majalah Medan Bahasa, 1952) 
 
Pengalaman yang mendorong seseorang untuk merespon dengan suatu sikap seperti yang  merupakan sebuah unsur subjektif, yang hanya “termiliki” oleh orang yang terlibat di dalamnya. Apabila seseorang bercerita, tidak cukup hanya dengan menggunakan paparan subjektifnya saja. Penulis atau penyampai pesan akan menggunakan sebuah bentuk naratif dalam berkomunikasi dengan pendengarnya atau penerima narasi.
 
Untuk memperoleh gambaran yang nyata, yang dapat ditangkap oleh penerimanya penulis akan meleburkan dalam bentuk narasi penggambaran atau lukisan atau lebih akrab dikenal dengan citraan atau imagery. Citraan adalah gambaran yang mudah teraba dalam penginderaan (visual, auditory, olfactory, gustatory, kinaesthetic, tactile), perasaan maupun intelektual. Pencitraan ini, telah saya singgung sebelumnya, dapat juga disiasati dengan memilih kata-kata yang kuat dan mampu menjembatani konsep-konsep abstrak kepada yang konkret. Pada sesuatu batasan yang disepakati bersama oleh penyampai dan penerima narasi.
 
Apabila di sebuah karangan bebas (novel, cerita, ataupun kisahan) kita akan menemui bentuk narasi yang punya ikatan bentuk kalimat dengan struktur kalimat yang baku, maka tidak demikian dengan puisi. Kalimat puisi mempunyai keluasan area dalam mengutak-atik bahasa dan kata dalam kerangka imajinasi. Hal itu digabungkan dengan penggunaan symbol dan permainan tanda baca.
 
Saya sedang jatuh cinta dengan sajak-sajak penulis ini. Mungkin saya akan bagi kecintaan saya. Satu saja dari sajaknya.
 
Aku Ingin Sekolah Itu Hancur
 
aku ingin sekolah itu hancur
aku ingin membalas kemarahan ibu guru kepadaku
tetapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat
aku ingin tidak melihat lagi ibu guru yang memarahiku
lalu mengapa aku tidak akrab dengan pak guru?
 
aku memandang sekolah itu seperti aku sedang menyetir bis
dan teman-temanku itu penumpang
dan ibu guru sebagai pengamen memainkan gitar dan biola
supaya aku ceria menyetir bis
tetapi setelah memasuki terminal
penumpang-penumpangku hilang
pengamen itu juga hilang
dan aku memasuki dunia hampa
 
sawit, 19 maret 2008
17:55
*) Sajak dari Tsabit Kalam Banua (usianya 6 tahun saat menulis sajak ini), dikutip dari 
http://indriankoto.blogspot.com/2008/04/sajak-sutan-tsabit-kalam-banua.html
 
Apa yang dilakukan Tsabit? Ia melukis imaji. 
 
aku ingin sekolah itu hancur
aku ingin membalas kemarahan ibu guru kepadaku
 
Kata “sekolah” dan “hancur” didekatkan dengan kata “aku ingin” , teror. Lebih-lebih ketika kalimat kedua diberikan, bertambahlah teror itu. Sebuah imaji yang kuat, penggunaan “aku” juga dipikirkan dengan panjang. Hal itu untuk memunculkan dirinya. Ia sebagai pengarang, umur 6 tahun. Pembaca diberi kesempatan untuk bermain-main dengan subjek “aku” pengarang. Hal ini pisahkan dengan penjelasan Barthes mengenai “Kematian Pengarang”, maka yang mati adalah pribadi pengarang. Pengarang dalam hal ini Tsabit siapa yang tahu bahwa ia adalah seorang yang terlahir dari keluarga penulis, yang setiap harinya santapannya adalah literatur-literatur sastra, dan percakapan-percakapan antar penulis?
 
“aku” –lirik disini dipermainkan dengan menggunakan sekelumit pribadi “aku”-pengarang, seorang anak berusia 6 tahun. Anak umur 6 tahun yang menginginkan sekolah hancur, dan membalas kemarahan pada ibu gurunya. Bayangkan, anak seusia 6 tahun sudah menginginkan sekolah hancur? Sebuah ketidaklumrahan yang ingin dibangun. Kemudian mari bergeser dari sajak Tsabit kepada sajak jayhawkerz dan lestari jingga.
 
kenapa aku tetap tak bisa membunuh rindu kepadamu?
walau telah kucacah satu-satu hatimu?
(sajak jayhawkerz)
 
Jayhwkerz juga mewujudkan sosok “aku” dalam pencitraannya, namun bandingkan kalimatnya dengan milik Tsabit. Penulis terlalu lama mengalun-alun kalimatnya, bagaimana mungkin “membunuh” dengan cara lemah gemulai seperti itu?
 
Ingin bunuh rindu padamu
Meski tuntas kucacah serpih hatimu
Namun, tak bisa
 
Penggunaan kata berimbuhan “membunuh” yang menjadikannya sebagai kalimat reportase alih-alih sebagai kalimat langsung, “aku”-lirik dimentahkan keaktifannya dengan memakaikan imbuhan dalam kata kerjanya. 
 
 Aku ingat bagaimana kau menyesaki dadaku dengan rindu,
 hingga terkadang tak sempat memberi nafas pada hidupku.
 Bagaimana kau terasa begitu dekat,
 meski yang terdengar hanya suara dari balik telpon. (Sajak Lestari Jingga)
 
Begitu juga sajak Lestari Jingga lebih cocok menjadi catatan atau bahasa kisahan atau cerita. Mungkin bisa terbantu bila dipadatkan dengan alternatif contoh seperti demikian, tentu tidak ada gubahan yang pas selain gubahan penulis empunya sajak sendiri.
 
sesak dada, dekat yang lesak, rindu nan penat
dering telpon merupa sua
 
Kemudian permainan alur imaji, sajak Tsabit memutar-mutar kisahnya dari sekolah menuju ke perjalanan dengan memakai bis. Sajak Tsabit tidak memiliki alur linear hal ini sah-saja, karena sajak tak harus linear seperti layaknya kisahan, sebuah sajak, mempunyai kebebasan permainan alur senyampang permainan itu memiliki koherensi atau keterkaitan antar larik.
 
Permainan alur dan tema Jayhawkerz dan lestari jingga, meski telah memenuhi syarat yang telah saya dedahkan yaitu bukan tema-tema alam, namun masih terkungkung pada pola linear. Tidak kreatif, mungkin saja baik jaz dan lestari jingga masih terpaku pada contoh yang saya berikan. Padahal catatan yang saya berikan sedah terang-terangan saya memberi kuotasi bahwa itu bukan sajak, itu sebuah catatan, dan tentu saja sebuah catatan tak akan saya niatkan menjadi sajak. Sajak jay meski begitu saya nilai mempunyai keunggulan dari pilihan katanya yang tidak statis dan lebih berkembang daripada lestari. Namun kata-kata tesebut saya rasa masih dipaksakan, tidak digunakan sebagaimana mestinya.
 
Tema kegilaan atau perjalanan, terlanjur biasa saya temui dan itu bukan kebaruan.
 
Dengan dua unsur tersebut maka sajak jay dan lestari meskipun mampu menjawab tantangan poin no.2 namun tidak bisa menjawab dengan kreatifitas pencapaian yang saya inginkan. Padahal saya yakin, mereka bisa. Mungkin ini masalah kekayaan wacana, kekurangan khas yang dimiliki oleh penulis-penulis pemula. Memaksakan bentuk dan mengisi memampatkan rasa yang seadanya, hal ini berakibat sajak itu menjadi kosong dan dipaksakan. Kata-kata harus kuat untuk memunculkan imaji, setelah itu sekap dalam bangunan alur yang nyata, sandera. Penulis bisa mempergunakan kreativtasnya untuk mempermainkannya. Dan, kita mungkin harus belajar banyak tentang itu.
 
Untuk itu kiranya saya rasa pantas memberikan secara subjektif sebuah penilaian dari paparan alasan-alasan yang saya kemukakan, jayhawkerz 6 dan lestari jingga 5.
 
Mungkin ini sekedar pacuan semangat untuk bisa lebih berkembang, dan sekali lagi saya pun juga masih belajar mengapresiasi suatu karya, dan saya terbuka atas segala sanggahan ataupun masukan untuk bersama.
 
salam 
 
Referensi :
1. Barthes, R. (2010) Imaji /Musik/ Teks, Jalasutra.
2. Paz, O. Suara Lain, Komodo Books
3. Medan Bahasa, (1952) Madjalah memuat hal ihwal Bahasa Indonesia dan Bahasa-Bahasa Daerah di Indonesia, Balai Bahasa, Djakarta
4. Sebuah wawancara dengan Sonny DeBono http://pikanisa.multiply.com/journal/item/118 
5. Sebuah wawancara dengan TS Pinang http://pikanisa.multiply.com/journal/item/121
6. Sajak dari Tsabit Kalam Banua (usianya 6 tahun saat menulis sajak ini), dikutip dari 
6. Sajak lestari jingga http://www.kemudian.com/node/256188
7. Sajak jayhawkerz http://www.kemudian.com/node/256238

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

lebih asyik yg bagian pertama.

80

ulasan yg bagus :)
saya rasa lebih tepat "... Menyandera Imaji Menjadi Kata"

wahh iya, pak. sangat bisa dan sepertinya memang ada benarnya demikian.
namun waktu itu saya kepikiran bagaimana kata-kata itu menyusun lanskap imaji ke pembaca, sehingga sebelum menjadi imaji yang utuh, maka "kata-kata" itu harus disekap terlebih dahulu oleh penulis.

saya baru belajar membuat ulasan pak. terimakasih koreksinya.

Waw, Mbak Nisa, saya baca dari Part 1 nya. Dan cara pelepasan/perombakan dari patron strktur kalimat pakem (SPO(K)) itu benar membantu. Padahal di balik pakem itu masih ada kemungkinan bentuk kalimat lain, KSPOK, SPK, SPK, KSPK, KSP, KP (walau yang ini sering dibilang tak sempurna), atau kalimat majemuk. Walau aku bukan orang putis sih....
:)

Inilah alasan kenapa saya begitu malas menerima tantangan kalau terlalu banyak menuntut batasan.
(curhat)

kalau begitu tulislah sekedar curhat

Ah keren. Jadi belajar banyak di sini. Tengkyuh nisa.

Jadi pengen direview juga *niat puisi*

yup... lukislah puisimu, elbintang

100

Waaw.. Ak bc maju mundur nih.yg prtm lum kelar.wkwkwk..
Keren reviewnya.tante lona reviewny msh lm.sbt ato mgg ktny.huft..

100

Trimakasih banyak mbak pika,pelajaran yang sungguh sangat sangat berharga.Tsabit,aq masih perlu banyak belajar padamu.mbak pika,skli lg trimakasih utk reviewnya dan pelajaran tambahannya q masih tunggu,kali mbak pika masih mau utk mengajariku soal puisi.dan bisa lebih lugas dalam menggambarkan apa yang saya rasakan dan itu bukan curhatan.:) salam jingga

100

TRIMS MBAK. :) (MAAF MBAK, CAPSLOCK LAGI RUSAK)