Menulis Puisi, Menyandera Kata menjadi Imaji (Review Program Tantangan)


Pernah nonton pertandingan bulutangkis? Mengapa bulutangkis hanya bisa dimainkan satu atau dua orang saja, mengapa pertandingannya terdiri dari dua set dan bila seri akan ada perpanjangan set. Bagaimana batas garis keluar dan masuk, apa saja peralatan yang dibutuhkan, cara mainnya bagaimana dan sebagainya. Semua punya batasan apa dan bagaimana. PERATURAN namanya. Kemudian, apa yang membedakan bulutangkis dengan tennis meja, misalnya. Toh sama-sama olahraga. Analogi tersebut yang akan saya gunakan.
 
Menulis juga mempunyai batasan, tentu beda dengan melukis, meski sama-sama memakai kertas dan pena sebagai bahan. Menulis puisi, cerita, pantun, tembang, atau lagu, tentu punya perbedaan masing-masing bukan? Yah, perbedaannya adalah pada batasan, aturan main.
 
Siapkan posisi terbaik. Ini bagian serunya. Sekarang bayangkan saja, ketika kita menulis dan sekarang apa yang ingin kita tulis? Oke, kita tahu kita punya pengalaman. Pengalaman itu kita tangkap melalui berbagai macam cara, yaitu peng-indera-an (memakai indera di tubuh kita), logika dan rasa. Orang memiliki berbagai macam cara untuk mengabadikan pengalaman tersebut. Ada yang menulis, ada yang membaca, ada yang bercinta, banyak macamnya. Ada yang sifatnya aktif, ada yang pasif. Keterkaitan proses ini bisa terjelaskan dalam rangkaian aksi reaksi. Ada rangsangan (impuls) tentu ada respon. 
 
Sunyi Versus Gaduh
 
Apa yang membedakan panjang dan pendek? Ketika pertanyaan tersebut saya tanyakan pada penjahit celana, pasti jawaban mereka adalah seberapa panjang bahannya. Kalau mau dibuat celana panjang, ya harus punya bahan kain yang panjang dan banyak. Kalau mau dibuat celana pendek bahannya bisa sedikit. 
 
Misalnya A, memilih untuk menulis pengalaman tadi, eh kebetulan trend nya sekarang nulis puisi. Ya, Pu-i-si. Ngapain musti Pu-i-si ? A mau menulis puisi dengan jenis yang mana? 
 
Taruh saja, A di sini adalah si jayhawkerz dan jingga.lestari, yang saya minta membuat puisi tentang satu pengalaman yang sangat berarti bagi mereka dengan orang yang sangat mereka cintai. Berikut sebenarnya lengkapnya permintaan saya
 
Penantang : Pikanisa
Penerima Tantangan : Jayhawkerz dan Lestari Jingga
1. Struktur dan Stilistik : Puisi yang dibuat, setidaknya menjawab pertanyaan "Puisikah ini?". Tentunya sebuah karya yang utuh memiliki elemen-elemen dasar puisi. Apa yang membedakan antara puisi dengan karya sastra lain atau sekedar tulisan curhat misalnya, bahan rujukannya silakan cari cari sendiri. Sajak ini boleh dibuat panjang, asal tidak boleh dibuat mendayu-dayu, ataupun kata-kata ruah yang tidak efektif. Saya juga rewel dengan penggunaan diksi yang digunakan, kekayaan diksi sangat saya pertimbangkan namun saya juga tidak suka puisi yang terlalu berakrobat dengan kata. Emosi sangat dibutuhkan, namun saya juga tidak suka emosi yang tidak terkontrol ruah di puisi itu. Puisi itu juga tidak boleh menjadi milik sendiri, artinya pembaca lain setidaknya mengerti maksud dari puisimu.
 
2. Natural Alert : Saya lagi bosan sama sajak berbau alam, tapi urat saya kepingin sajak-sajak melankolis, sentimentil dibuat. Semakin mehek, semakin puaslah saya. Pikirkan bahwa sajak ini untuk kekasihmu, dan tolong pikirkan bahwa kekasihmu ini bukan tinggal di hutan, atau jelmaannya tarzan. Gunakan pencitraan lain selain alam. Contoh yang kubikin misalnya di :http://www.kemudian.com/node/245693 . Buat yang lebih bagus dari ini tentu saja.
 
3. Tema : Puisi itu bercerita tentang sebuah pengalaman yang paling mengesankan dengan seseorang yang sangat berarti bagimu. Ingat, saya tidak mau pengalaman yang di"ada-ada"in. pengalaman itu harus merupakan pengalaman hidupmu, yang pernah benar-benar kau alami, menjelaskan situasinya secara detail, kejadiannya, suasananya dan sebagainya.
 
4. Waktu : Berhubung saya baik hati dan tidak sombong, 4 hari saya rasa cukup kan ya? Jadi, puisi harus diposting paling lambat tanggal 22 Juni 2011.
 
5. Hadiah : Hemmm... Sepertinya saya juga ingin mengirimkan beberapa hadiah buku kalau tulisan Anda berhasil menjedok poin di atas 8 dalam skala kesukaan saya.
Dan bagaimana respon mereka berdua adalah mereka berupaya membuat puisi (menurut mereka) seperti demikian :
 
Puisi Jayhawkerz
Bilik Pengasingan Untuk Perindu

 

 

sayang, izinkan aku membagikan kisah pengasinganku dalam skizofrenia rindu...

aku terdakwa telah membunuh wujud rindumu. mencacahnya satu demi satu,
menjadi potongan kecil yang tak terhitung waktu.
dan aku harus dijerujibesi, bersama janji
yang manis mengharu biru, atas rindumu...
semua ketakutanku memiliki rindu,
menjelma sipir penjara, yang menjagaku dalam jeruji hatimu...

kenapa aku tetap tak bisa membunuh rindu kepadamu?
walau telah kucacah satu-satu hatimu?
kubiarkan otakku menggila, tenggelam dalam skizofrenia
melamunkan cinta, atas dirimu...


aku menggila di pengasingan,
skizofrenia...
dan seketika, aku berharap cacahan rindu itu bersatu padu,
kembali kepadaku, walau aku harus merekatkan pelan-pelan
dan kuperhambakan
rindumu...
yang pernah aku cacah itu...

dan pada hari akhirku di pengasingan, izinkan aku mengucapkan
kata-kata mesra untuk terakhir kalinya, pada cacahan rindumu
yang telah aku rekatkan
dengan sebagian
kenangan
ku...

sayang, sesungguhnya rinduku benar padamu
sebelum aku mencacahnya jadi abu-abu...
karenamu kupenjarakan rinduku
dalam bilik para perindu
dan berakhir dengan penantian
dalam pengasingan
di bilik rindu...

ah sayang,
entah kapan rindu itu berpadu...


-dari aku yang membunuh rindumu-
20 Juni 2011

 
dan ini Puisi lestari.jingga
 

Program Tantangan: Dulu, Lima Tahun yang Lalu

 

Di sebuah jalan menuju kota, mobil melaju sedang .

Tiba-tiba kau menyelinap dalam pikiranku yang lindap.

 Perasaan lima tahun lalu bagai mengurai halaman kenangan,

membayangkanmu kadang tak pernah usai.

 

Aku ingat bagaimana kau menyesaki dadaku dengan rindu,

 hingga terkadang tak sempat memberi nafas pada hidupku.

 Bagaimana kau terasa begitu dekat,

meski yang terdengar hanya suara dari balik telpon.

 

Laju mobil melambat, kurasakan dadaku menyempit

perasaan ambivalen seketika memenuhi. Ada selentingan bening dari mataku

yang ingin melompat, namun segera kutahan tersebab ada banyak orang menatap padaku.

 

Tolong,

Katakan padaku bagaimana caranya melepaskan rindu dari raganya,

sama halnya bagaimana kau dengan entengnya melepaskan aku dari hatimu.

 

Sungguh, aku hanya ingin jauh dari rasa rindu ini.

Meski aku pernah meminta ini jangan berakhir, kali ini aku ingin.

Sebab kau tak pernah tahu sakitnya terbebani, lukanya luka akibat rindu.

 

Sebentar lagi aku sampai di kota, kota pertama kali aku mengenalmu

dan celakalah aku, halaman demi halaman kenangan tentangmu terbuka dan semakin nganga

mempertontongkan bagaimana dulu, lima tahun yang lalu kita pernah bahagia di sini.

 

Laju mobil terhenti, desakan orang-orang di terminal membantuku sekedar melupa

melupa yang lalu me-malu pada kenangan. Sebab aku tak pernah benar-benar bisa melupakanmu

meski itu dulu, lima tahun yang lalu.

 

 

Jingga,

Makassar 20 Juni 2011

 
Kedua puisi di atas memakai permainan-permainan bentuk puisi panjang (extensive poem), kalau kata Om “Octavio Paz”. Namanya juga extensive, batasannya adalah keruangan dan waktu. Bentuknya lebih panjang, otomatis durasi membaca, membuatnya pun lebih lama. Mbah “Paul Vallery” dalam bukunya Om “Octavio Paz”, esensi dari sajak panjang sebenarnya merupakan satu formula yang singkat dan jelas atas suatu tangkapan pengalaman, namun terdapat pengembangan. Kalau kata orang Jawa bilang “ngembangi”. Kalau misalnya lagi membatik, pola dasarnya bunga, tapi kita tambah, daun, ada kupu-kupu, dikasih latar belakang dan sebagainya.  Selain pengembangan, ada unsure-unsur lain yang harus dipenuhi misalnya keanekaan atau keragaman variasi, pengulangan (mantra, aksen, rima, epithet) dan kejutan (jeda, pergantian, penemuan atau rekaan).
 
Beda dengan puisi pendek, semuanya harus jelas, “to the point” irit kata, dan efektif, kata-kata tersebut harus memancing imaji seketika itu juga, kalau sajak pendek, tidak ada kata lain penulis harus membuat “terror” saat pertama membaca, dan langsung klimaks imajinasinya.
 
Puisi panjang beresiko kita akan terlanjur larut dalam alur menjadi mendayu-dayu, terlalu terang karena kita terpancing untuk mengembangkan pengalaman yang akan kita ceritakan. Ini wajar bila penulis tidak terlatih dalam mempertajam rasa, memperkaya kosakata dan mengasah logika. Ingat, bahwa puisi adalah pemindahan imaji, bagaimana membahasakan yang abstrak menjadi konkret (alegori), mengindahkan yang buruk atau sebaliknya (ironi), memasukkan konsistensi, mengatur ritme, meluaskan imaji pembaca. Juntrungnya adalah, kita akan terlalu larut dalam pola berkisah, menempatkan patron pakem kalimat (struktur : S-P) dalam satu wadah, ini contoh kalimat baku, dan puisi tidak perlu itu. Coba bandingkan dua contoh kalimat berikut :
 
aku terdakwa telah membunuh wujud rindumu … (sajak jayhawkerz)
 
apa yang terjadi ketika saya ganti :
 
dakwaan jatuh tersebab rindumu terbunuh ….
 
Atau,
Di sebuah jalan menuju kota, mobil melaju sedang .
Tiba-tiba kau menyelinap dalam pikiranku yang lindap.
Perasaan lima tahun lalu bagai mengurai halaman kenangan,
membayangkanmu kadang tak pernah usai. …..(sajak lestari.jingga)
 
Apa yang terjadi ketika saya tulis ulang menjadi seperti demikian
 
laju lindap kenangan di ruas jalan menuju kota
seraut bayang menumpang di kursi depan 
bermula tera kelima pembalikan almanak penunjuk tahun
sungguh, perjalanan tak mengenal sebuah nama usai
 
Puisi. Semua orang tahu itu adalah tentang “aku” meski tak usah disematkan kata “aku” di sana-sini, karena semua puisi adalah cerita pengalaman subjektig . Mungkin masih ingat pelajaran SD tentang memparaphrase atau menceritakan kembali puisi? Kata “aku” ataupun klitika “ku” masih bisa terpahami oleh pembaca, cara pharaphrasenya adalah dengan menambahkan “( )”, tanda kurung. 
 
Pengalaman jayhawkerz yang menjadi pesakitan sudah terbaca tanpa penggunaan kata “aku”. Begitupun pada “aku” lestari.jingga, pengalamannya pada sebuah ruas jalan yang mengingatkannya pada kenangan bayangan seseorang “-mu” lirik. Sajak keduanya menjadi sajak junk food, berlebihan kata yang tak berguna, dan menjadi kurang keragaman imajinasi. Pakdhe “Roland Barthes” menyatakan, bahasa memiliki dan mengabadikan ‘subjek’ bukan ‘pribadi’, oleh sebab itu pribadi penulis mati. 
 
Bila subjek sajak jayhawkerz adalah terdakwa, maka sajak jingga seharusnya adalah kenangan yang kembali, bukan jay sebagai “–aku lirik” ditempatkan sebagai terdakwa, dan jingga ditempatkan sebagai “-aku lirik”, yang sedang bercerita yang sedang melakukan perjalanan dan teringat kekasihnya. Dua sajak ini menjadi sajak yang terlalu gaduh untuk terus mengeluarkan curahan hatinya kepada pembaca. 
 
Dengan kata lain, “Duh, bisa tolong dikesampingkan curahan hati anda sejenak,” kata pembaca, karena pembaca punya urusan lain yang lebih penting daripada mendengar curahan hati penulis. Bukankah kelahiran pembaca, mesti dibayar dengan kematian pengarang? Maka meruntut syarat pertama, beserta alasan tersebut diatas, saya menyatakan, dua tulisan tersebut diatas gagal menjelaskan bahwa “Ini puisi”
 
Melukis Puisi, Mengkristalkan Imaji ……(lanjut besok deh, rasa kantuk sudah mendera)
 
 
 

Read previous post:  
Read next post:  

hohohohohoho... lebih asyik baca ini daripada ....

wah pengen ikut nihh...hehe

100

Wadaw..bru kelar bc. *pake acr bersambung gr2 ketiduran* hahaha
nyimak baek2.

sila bisa melanjutkan membaca review dari kacamata saya di http://www.kemudian.com/node/256249

makasih...

100

akhirnya aku baca dengan tenang.
hmmm... ya, memang penggunaan "aku" "mu" biasa suka bertebaran berlebihan (kasusku), terutama ketika aku membuat puisi prosa atau prosa liris.
sepertinya ada sedikit pencerahan, dulu aku berfikir hanya memangkas "ku" "mu" dan menempatkannya secukupnya sewajarnya, tapi review ini mencerahkan juga akhirnya... bahwa mengganti dua kata tersebut akan mengurangi kesan puisi itu seperti curhat. selain itu, memaksa kreativitas dan imajinasi serta kewajaran...

nuhun buk nisa, ada pencerahan sedikit semoga bisa di raktekan kalo tanggapanku ada yang salah ato kurang maap yee, ini masih meload dalam keadaan erot hihihi...

next... reviewnya kutunggu

100

wow reviewnya. saia menyimak :D

100

rasanya dadaku semakin sesak aja mbak pika.hufthh baca sampe akhir serasa menunggu terminal terakhir perjalananku.dan memang,puisiku terlalu gaduh aku mengakui akan adanya curcol dsna hmpir distiap liriknya.dn review yg mbak pika bwt utk puisi aku rasanya sngat pas aja gitu.semoga direview berikutnya semakin banyak kekuranganq yg terbuka agr se lbh mngtahui,ini loh kurangnya aku. dan at least bisakah aq menjadi muridx mbak pika?oyah,ad yg ntip salam mbak.katanya kenal sm mbak,dan lagi kangen banget sm mbak.

100

like it ! :)

lanjutannya dooong.. *malak*

100

Gyah... mampir liat-liat
Mbak nisa! *peluk*

Biarpun gak ngerti puisi.. tapi aku suka banget versi tulis ulangnya :o

100

wow.. hahaha. ya itu, kata temen saya juga, memang kebanyakan diksi yang mubazir, mau saya edit lagi, ah males saya pake topeng. aslinya begitu. :) trims mbak.

eh ini belum selesai, hehehehe ntar tunggu review lanjutannya. semoga ada waktu lebih hari ini, aku usahakan selesai beserta nilainya ;)

hmmm...ya sudah, gimana mbak aja. suka-suka. masih muda to? jadi yaaa suka-suka aja. :)