Eudaimonia

Inferno

 

Di kala setengah perjalanan hidupku terlewati, kudapati diriku dalam hutan yang gelap, akibat hilangnya arah dari jalanku.

-Inferno, Canto I-

 

***

 

Aku duduk lantai dengan kepala tertunduk dan lutut tertekuk, kuusap kepalaku bersamaan dengan hela nafas frustrasi. Lampu indikator pada kamera digital di hadapanku menyala merah, pertanda kamera itu masih merekam. Entah apa lagi yang harus kukatakan di hadapan kamera itu, aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan. Perjalanan hidupku, kisah cintaku, juga seluruh harapanku akan akhir dari semua ini.

 

Dengan langkah gontai kumatikan kamera, mengambil minidisk di dalamnya, lalu memasukkannya ke dalam saku. Setelah itu, kucari buku tebal bersampulkan kulit di antara ceceran kertas yang berserakan. Kupandangi ruangan itu untuk terakhir kalinya, sebelum kumulai kembali perjalanan tiada akhir ini.

 

Terus kulangkahkan kaki menyusuri kota yang terlihat sibuk ini, sampai otomatis kakiku terhenti saat sesuatu menarik perhatianku. Memang sudah kesekian kalinya, aku berdiri di hadapan Sang Dewa Samudera yang dengan gagahnya berdiri di antara formasi air mancur bergaya Baroque, tetapi tak sekalipun pernah kurasakan bosan saat berada di sini.

 

Di sekitar situ terlihat juga beberapa turis yang mengagumi keindahannya, mereka bahkan melempar koin ke dalam air mancur dengan harapan mereka akan dapat kembali ke kota ini. Tetapi tidak denganku, aku ingin sekali keluar dari kota ini dan kembali ke tanah kelahiranku.

 

Ya, walau aku ingin sekali kembali ke tanah kelahiranku, tidak akan kulakukan sebelum kukunjungi beberapa tempat yang pernah kusinggahi dahulu sekali. Tempat yang pernah kudatangi saat aku adalah aku, bukan diriku yang sekarang. Maka kubawa langkahku ke belahan utara negeri ini, ke sebuah kota taklukan tempat Raja dari negeri asing membangun istananya.

 

Bangunan-bangunan bergaya gotik berdiri tegap seakan menyambutku saat aku tiba, lalu kumulai lagi langkahku untuk menyusuri kota itu. Hanya membawa sebuah pena dan buku tebal yang berisi coretan beberapa puisi, aku terus berjalan menuju jembatan yang terbentang melintasi sungai.

 

Saat memandangi jembatan ini, aku merasa dibawa kembali ke masa lalu. Masa saat jembatan ini dibangun hanya sebagai jalan seorang bangsawan untuk melarikan diri dari pemberontakan warganya.

 

Bata merah yang menyusun bagian atas jembatan itu, telah menjadi saksi bisu dari berbagai kekerasan dan peperangan yang terjadi sepanjang zaman sejak awal berdirinya. Sementara marmer putih yang menopang bagian bawahnya, telah menyaksikan banyaknya darah yang tertumpah di sungai ini dahulu sekali.

 

Sembari memandangi sungai di bawah, kubuka buku di tanganku lalu kuguratkan pena yang dibimbing oleh kenangan masa lalu. “Nel mezzo del cammin di nostra vita, mi ritrovai per una selva oscura, che la diritta via era smarita,” gumamku seraya mengusap untaian kata-kata yang baru saja terukir di kertas.

 

Entah apakah aku dapat kembali menjadi diriku yang dahulu, entah apakah aku dapat mencapai kembali kesempurnaan itu lagi, dan entah apakah aku masih pantas menyandang gelar il Sommo Poeta dan bukan sekedar Stilnovisti.

 

Ramai kepak sayap burung dara terdengar bersahutan saat kulintasi bagian tengah jembatan itu, tak terlalu banyak turis di sini. Ah, aku lupa, musim opera sedang berlangsung, mungkin mereka sedang menikmati pertunjukan kesukaan mereka.

 

Untuk sementara, aku akan tetap di sini, sendirian dan menikmati keterasinganku. Kurenungi baik buruknya segala perbuatanku di masa yang lampau, juga kan kujalani masa hukumanku atas segala kesalahan dan dosa-dosaku.

 

***

 

“Sesuai janjiku, kukembalikan buku milikmu,” ucap pria paruh baya berambut abu-abu yang duduk di depanku, ia lalu meletakkan buku tebal bersampulkan kulit itu di meja.

 

Tanpa pikir panjang, aku langsung meraih lalu memeluk erat buku itu. “Lalu penaku?” tanyaku kepadanya.

 

Pria itu pun meletakkan sebuah pena hitam di meja seraya melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. “Maukah kau melanjutkan ceritamu? Sepertinya aku masih ada banyak waktu,” pintanya sopan.

 

***

 

Purgatorio

 

Demi mencapai perairan yang lebih baik, bahtera kecil dari pemikiranku mulai mengembangkan layarnya, meninggalkan lautan kejam di belakang.

-Purgatorio, Canto I-

 

***

 

Sebelum aku mencapai kota berikutnya, kulewati sebuah kota yang terkenal dengan katedral yang terbuat dari marmer putih bergaya gotik dan sebuah kastil tua di atas bukit. Sampai akhirnya aku pun tiba, di kota yang terkenal dengan tembok pertahanan di sekelilingnya. Kota tempat aku bertemu dengannya lagi, wanita yang selalu memiliki hatiku.

 

Dari bawah menara besar yang menjulang dengan taman gantung di puncaknya, aku menemukan sosoknya lagi, wanita yang mungkin tak lagi mengenaliku. Kemudian kulangkahkan kakiku ke puncak menara itu, mungkin di sana kan kutemukan kembali diriku yang seutuhnya.

 

Sesampainya di atas, hembusan angin menyambut seakan berusaha menghilangkan segala kekhawatiran dalam diriku. Bahkan aku pun mulai memandangi dan mengagumi keindahan arsitektur kota di bawahku, hanya agar terlupakan kegundahanku walau sejenak. Sampai lelah mulai merongrongku, aku pun mencari tempat duduk dan mulai merenungi arti dari perjalananku.

 

“Apa kau tak apa-apa?” tanya suara seorang wanita yang mengejutkanku dari lamunan.

 

Di luar dugaan, wanita yang menyapaku adalah wanita yang barusan kupandangi saat di bawah menara. “Ah, tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir,” jawabku singkat.

 

“Ngomong-ngomong,” seru wanita itu dengan keraguan yang tersirat, “mungkin ini akan terdengar seperti rayuan murahan, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kau terkesan tak asing bagiku.”

 

Aku pun tertawa kecil atas pertanyaannya. “Apakah kau percaya pada takdir?” tanyaku balik.

 

“Baiklah, rayuanmu terdengar lebih murahan dariku,” balas wanita itu seraya menyibakkan rambutnya yang dipermainkan angin.

 

“Apa menurutmu pertanyaanku barusan merupakan sebuah rayuan?” tanyaku dengan tatapan menyelidik.

 

“Tergantung, apakah kau benar-benar percaya dengan takdir?”  Ia menatapku dengan senyuman manis yang menggoda.

 

“Telah lama cinta merasuki untuk memilikiku dan membuat kuasanya terasa tak asing,” jawabku penuh harap.

 

“La Vita Nuova, chapter dua puluh delapan,” lirihnya kepadaku, tersirat kebimbangan di wajahnya. “Sentuhlah wajahku,” pinta wanita itu agak berbisik.

 

Jemariku pun mulai menelusuri tiap lekuk wajahnya, seakan mereka ingin mengingat keindahan fana yang terpahat pada dirinya. Perlahan kulihat air matanya menitik, ia menatapku seolah tak mempercayai keberadaanku.

 

Stilnovisti, ah bukan, il Sommo Poeta,” ucapnya di antara isak tangis. “Aku tak akan pernah melupakan sedikitpun dari sentuhanmu, caramu bicara kepadaku, dan kehangatan dari tatapanmu.”

 

Tak pernah kuduga sedikit pun, kalau wanita di hadapanku ini akan mempercayai segala ucapanku dahulu. Wanita ini masih mengingat apa yang akan kukatakan saat pertemuan kita yang berikutnya, bahkan ia mengingat segala detail kecil tentang diriku.

 

Kubawa ia ke dalam dekapanku, masih dapat kurasakan getar tubuhnya dalam isak tangis penuh kerinduan. Saat ini ia terlihat rapuh sekali, hingga menimbulkan kebimbangan dalam diriku. Kemanakah harus kubimbing segala rasa ini? Mampukah aku menjaga kerapuhan dirinya?

 

“Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari?” bisik wanita itu lagi di saat tangisnya reda.

 

***

 

Pria paruh baya berambut abu-abu menatapku dalam diamnya, keheningan yang tak nyaman pun terasa pekat di udara. Setelah beberapa tarikan napas, pria yang duduk di hadapanku berusaha untuk memecah keheningan.

 

“Lalu?” tanyanya dengan wajah datar.

 

“Apanya yang ‘lalu’?” tanyaku balik.

 

Pria paruh baya itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar foto, kemudian ia meletakkannya di meja agar aku melihatnya. “Apa itu yang kau cari selama ini?”

 

Sebuah topeng tergambar dalam foto itu, topeng kematian yang amat kukenal. Aku pun menggeleng pelan sebagai jawaban. “Pada akhirnya kau akan mengerti, akan kulanjutkan dulu ceritaku.”

 

***

 

Paradiso

 

Dengan warna yang menghiasi pagi dan malam yang menyembunyikan wajah sang mentari, akhirnya dapat kulihat keseluruhan surga yang perlahan tersingkap.

-Paradiso, Canto XXVII-

 

***

 

Akhirnya aku pun tiba di tanah kelahiranku, kota yang juga tempat kelahiran kembali dari seni dan literatur. Betapa kerinduanku meluap saat menyusuri jalan-jalan di kota ini, ingin rasanya aku tertawa dan menangis di saat yang bersamaan. Walau aku lebih menyukai keadaan kota ini di masa-masa awalnya, aku tetap tak akan menukar kota kelahiranku ini dengan apapun yang ditawarkan dunia kepadaku.

 

Di sebuah bangunan pusat dari kumpulan berbagai macam karya seni, aku terdiam memandangi sebuah patung, sosok abadi dari seorang seniman yang rasa keingintahuannya tak pernah dapat terpuaskan. Apakah pria ini semasa hidupnya telah berhasil melengkapi hidupnya?

 

Aku berkeliling dan melihat-lihat sebagian karya seni yang tersimpan di sana, sambil kurenungi dan kubandingkan pencapaianku dan pencapaian mereka semasa hidupnya. Setelah merasa cukup mengagumi keindahan berbagai karya seni di tempat itu, aku menuju ke bangunan bersejarah lainnya. Sebuah gedung yang pernah menjadi pusat pemerintahan di kota ini, sebuah istana yang juga menyerupai sebuah benteng.

 

Untuk sesaat aku meragukan keputusanku, apakah tindakanku sudah benar? Apakah semua ini akan membawaku lebih dekat dengan tujuanku, dengan apa yang kucari? Kuhela napas dan mencoba menenangkan pikiranku, kubulatkan tekadku dan mulai melangkah ke arah gedung itu.

 

Kulihat di atas pintu masuk utama, terdapat ornamen marmer yang terlihat memukau. Di bagian tengahnya, terdapat monogram yang diapit relief dua ekor singa berlapis emas tipis. Di bagian atasnya lagi, dikelilingi tulisan yang berbunyi, “Rex Regum et Dominus Dominantium.”

 

Dengan tenang, aku masuk dan berbaur dengan turis-turis yang juga mengunjungi tempat ini. Tanpa membuang waktu, aku langsung mencari tahu lokasi keberadaan benda itu melalui buku panduan yang kupinjam dari seorang turis.

 

Dan akhirnya, benda itu kutemukan. Sebuah replika topeng kematian di dalam kotak kaca dan berbingkai kayu, sebuah topeng yang akan menghubungkan seluruh benang merah dalam perjalananku. Benda yang akan mendekatkanku kepada akhir dari pencarian, dan sebuah kesempurnaan dalam hidupku.

 

Tanpa pikir panjang lagi, kupecahkan kotak kaca itu lalu kuambil topengnya. Sontak suara sirine pun meraung-raung di seluruh penjuru gedung, kepanikan dan kekacauan mulai terjadi di sana-sini. Dalam pelarianku menuju pintu utama, beberapa petugas keamanan berusaha menghadang dan melumpuhkanku, tetapi aku berhasil berkelit menghindari mereka.

 

Sesampainya di luar, aku masih terus berlari menghindari kejaran petugas keamanan dan polisi. Betapa bersyukurnya diriku, akan banyaknya warga dan turis di kota ini, tak ada satupun peluru yang mereka tembakkan selama pengejaran itu.

 

Walau pengejaran itu berlangsung cukup alot, pada akhirnya mereka berhasil menyudutkan dan menangkapku.

 

***

 

“Lalu di mana bagian yang menjelaskan motif di balik semua tindakanmu?” tanya pria itu lagi, masih dengan wajah datarnya. “Dapatkah kau langsung mengatakan apa yang mendasari perbuatanmu, dan jangan terlalu berbelit-belit?”

 

Kuletakkan buku tebal bersampulkan kulit milikku di meja, lalu perlahan kugeser buku itu ke arahnya. “Jawaban yang kau cari ada di dalam buku ini.”

 

Sungkan tersirat di wajahnya saat ia menatap ke arah buku itu. “Aku sudah melihat isi buku itu, hanya ada puisi dan coretan hal-hal yang tak kumengerti,” ungkapnya dingin. “Sebelumnya kau ingin sekali mendapatkan bukumu kembali, dan sekarang kau malah memberikannya kepadaku. Apa sebenarnya maksudmu?”

 

“Kau melihat, tetapi kau tidak memperhatikan!” tukasku sengit. “Pergilah, bawa buku itu bersamamu, dan carilah jawabanmu sendiri!”

 

“Baiklah, aku akan mempelajari buku ini sekali lagi,” tegasnya seraya meraih buku tebal itu. “Tapi aku akan kembali lagi bila memang tak menemukan apapun di dalam sini.”

 

***

 

Sayup-sayup kudengar suara dering telepon, aku pun bergegas bangun dan mencari kacamataku. Kulintasi beberapa ruangan untuk tiba di tempat telepon itu berada, sialnya telepon itu sudah mati saat aku tiba, mungkin sebaiknya aku memasang telepon di tiap ruangan. Lampu indikator di telepon itu berkedip-kedip merah, sepertinya si penelepon meninggalkan pesan untukku. Kutekan tombol putar untuk mendengarkan pesan yang terekam.

 

“Hey sobat, bagaimana kabarmu? Langkahmu sangat bagus untuk maju dan mengirimkan salinan minidisk itu ke media, para dewan sudah mulai melunak, dan kurasa tak lama lagi kau akan dapat bekerja kembali. Kematian Stilnovisti itu memang sangat disayangkan, tapi lihat sisi baiknya, setidaknya insiden itu tidak mencemari nama baikmu. Lagipula kematiannya akibat serangan jantung, bukan dikarenakan pembunuhan. Hey, kudengar juga kalau beberapa produser film ingin mengangkat cerita pemuda Stilnovisti itu, selamat ya.”

 

Pesan itu selesai dan keheningan kembali menyelimuti udara di sekitarku. Kuraih sebuah pena dan buku tebal bersampulkan kulit yang tergeletak di meja, kubuka lembar halaman yang masih kosong, lalu kubiarkan penaku menari di atasnya.

 

“Di quell color che per lo sole avverso nube dipigne da sera e da mane, vid io allora tutto ‘l ciel cosperso,” gumamku seraya mengusap rangkaian kata-kata baru di buku itu.

 

Kulepas kacamata dan kubasuh wajahku di wastafel. “Sudah kubilang kan, jawaban yang kau cari ada di buku itu. Tepatnya minidisk itu terletak di dalam sampulnya.,” ucapku kepada pantulan wajahku sendiri di cermin.

 

Dengan ini perjalananku berakhir, tujuanku pun sudah tercapai. Ternyata selama ini apa yang kurasakan kurang dari hidupku adalah, orang-orang yang mengakui keberadaanku.

 

Lama penantian dan pencarianku akan sebuah akhir untuk menuju awal yang baru, bukan sebuah akhir yang membawaku kembali ke awal. Akhir dari sebuah lingkaran setan yang kusebut kehidupan. Kini aku tak perlu lagi melakukan semua rutinitas terkutuk yang hampir merenggut kewarasanku itu, semoga saja hari-hari berikutnya akan menjadi awal yang menyenangkan.

 

Kutatap pantulan wajahku di cermin, wajah pria paruh baya dengan rambut abu-abu, wajah yang kini telah jadi milikku. “Selamat tinggal, Tuan,” desisku dengan seringai penuh kemenangan.

 

***

 

Glossary

 

Stilnovisti : Seniman/Sastrawan penganut aliran Dolce Stil Novo

il Sommo Poeta : The Supreme Poet, Pujangga Tertinggi

Dolce Stil Novo : "Sweet new style", sebuah gerakan seni literatur pada abad ke 13 yang terpengaruh oleh puisi-puisi dari Tuscan dan Sicilian

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Riesling
Riesling at Eudaimonia (9 years 34 weeks ago)
90

Saya sampe harus baca ulang.
Ini bagus. Kelewat bagus.

Writer Yafeth
Yafeth at Eudaimonia (9 years 44 weeks ago)
100

Baru baca judulnya langsung tertarik. Waktu lanjut bacanya agak berat, sih. Ceritanya mengalir dengan intensitas yang baik, sangat terjaga sampai akhir. Meski bagian akhirnya agak bingung juga sih. Maklum, jarang membaca yang punya alur cerita agak kompleks kayak gini :P

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 44 weeks ago)

Saya sendiri heran, apa yang sedang saya pikirkan saat buat cerita ini... XP
.
Tengkyu dah mampir, Om... ^^

Writer Yafeth
Yafeth at Eudaimonia (9 years 44 weeks ago)

Sama-sama.
P.S: masih di bawah 25 tahun, nggak bisa dibilang om-om :P Wkwkwkwkwkwk.

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

yang nulis dewa ini mah! banyak istilah-istilah apa itu. ckckck. keren!

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Ampuun... bukan dewa saia... XP
.
Makasih udah mampir, Tante Jay... ^^

Writer panah hujan
panah hujan at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

:D

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

:3

Writer Penguin
Penguin at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

zuul!! untung saya belum baca tulisanmu saat upload punya saya!! bisa langsung down saya ngeliat banyak detil bersejarah keren-keren begini!!

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Bisa aja kau, Peng :3
.
Ceritamu juga keren kok. Tengkyu dah mampir, Pengu... ^^

Writer dansou
dansou at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

Cerita yang sangat berat om Zul *otak berasap*, tapi saya suka ada bahasa-omong2 itu bahasa apa ya-latin? Italia? Itu yang bikin ceritanya keren.
.
Ceritanya diluar kemampuan otak saya jadi no comment deh *kabur sebelum ditimpuk*

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Kau terlalu memuji :3
.
Saya pakai bahasa Italia yang di ambil dari Dante's Divine Comedy, tapi ada latin juga satu kalimat, yang tertera di atas pintu masuk utama Palazzo Vecchio, Firenze/Florence (tempat tokoh utama nyolong replika topeng kematian).
.
Makasih dah mampir, Om... ^^

Writer cat
cat at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
90

Tidak begitu ingat ttg tantangannya n tdk mengerti soal surealis.

Tp aku suka ma cerita ini.

Namun bukannya Mimi bilang tokohnya ndak boleh diketahui jenis nya. Heheheheeheh

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Iya, anonim memang bisa berarti tanpa identitas, tapi bisa juga diartikan tanpa nama. Karena tidak spesifik disebutkan, maka saya beranggapan kalau jenis (ras/kelamin)diperbolehkan.
.
Makasih udah mampir di cerita aneh ini, Tante Cat... ^^

Writer KD
KD at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

terjemahan la commedia divina yang sangat luwes

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Wuah! Komen panjang... Makasih, Om KD... XD
.
Sebenernya saya masih merasa kurang sreg, nanti saya cari yang modern Englishnya deh :3

Writer panah hujan
panah hujan at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Dasar orang pinter. Tulisanmu... uhuk. -_-

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Jadi gimana hasilnya?
^_^

Writer icchan-chan
icchan-chan at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Tuh gambarnya masuk ....
Eh sorry belum komen ceritanya, huehuheuehe ... baca dulu ah

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

Iya, ternyata harus matiin rich text formatnya dulu, baru masukin link... Tengkyu, Om... ^^