Voiceless Screaming

            Aku masih di sini.

 

            Bertemankan angin yang membekukan tulang dan butiran-butiran salju, aku berdiri di sini—meringkuk dalam jaket tebal berlapis dan syal hijau muda pemberianmu. Berjam-jam sudah aku di sini, menggenggam seikat mawar putih favoritmu, menyaksikan siang berganti sore.

            Ingin rasanya aku mengumpat marah kau tak juga datang, tapi kutahan—atau lebih tepatnya tak bisa. Kuakui inilah kelemahan terbesarku—tak pernah bisa meledak marah padamu, tak peduli apa kesalahanmu. Rasanya selalu tersedia maaf jika berurusan denganmu—kadang membuatku frustasi. Begitupun hari ini—hari istimewa ini.

            Mau tak mau senyumku mengembang saat kuputar lagi rekaman kenangan kita dalam otakku—yang tak pernah gagal membuat suasana hatiku membaik. Tak pernah terbayang kutemukan dirimu belasan tahun lalu. Aksimu yang spektakuler di atas panggung, melompat kesana kemari diiringi pekikan gitar elektrik, dalam sekejap membuatku jatuh hati. Kemudian begitu saja kau hadir dalam hidupku menghiasi hari-hari yang berlalu cepat.

            Kau, aku, dan mereka. Kau selalu berkata kita berlima adalah grup band terkeren yang pernah ada. Betapa mudahnya aku percaya kata-katamu, dan dengan suntikan semangat darimu, perlahan namun pasti kita merambat naik tangga ketenaran.

            Aku masih tersenyum—entah mengapa. Kupikir mengenangmu akan sangat menyakitkan, namun ternyata manis dan hangat itu masih menyertai, meski kini tak kudengar lagi suaramu.

            Pun timbul segaris penyesalan.

            Bila saja aku mengerti dirimu lebih baik. Mungkinkah kau akan terbuka padaku? Menumpahkan segala keluh kesah dan penderitaan yang kau alami?

            Atau—aku ingin tahu—bila aku menyatakan perasaanku. Akankah kau menyambut tanganku?

            Lalu bila aku berjanji akan selamanya ada sisimu—mendampingimu. Akankah kau urungkan niat bodohmu untuk meninggalkan kami?

            Aku menggigil. Kurasa udara dingin tidak baik untuk tubuhku—atau benarkah hanya udara dingin? Kusadari jemariku hangat dan memerah. Lalu kontras dengan warna itu, aku menyadari mawar putih dalam genggamanku. Dan kusadari dirimulah yang membuatku menggigil.

            Aku tersenyum—lagi. Pandanganku kabur... basah. Namun aku sadar sudah saatnya aku pergi, sudah saatnya menerima kenyataan bahwa kau takkan pernah muncul.

            Maka kuhampiri pohon berangan yang kini kering meranggas itu. Kuletakkan karangan bunga pada hamparan salju di bawahnya—berhiaskan batu nisan dengan namamu terukir.

            Ya… aku baik-baik saja, kawan. Beristirahatlah dengan tenang.

 

           

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nagabenang
nagabenang at Voiceless Screaming (10 years 13 weeks ago)
80

ah... ending yg sedih... tapi kalau cerita background-nya lebih panjang, mungkin bisa lebih 'tear-jerker' lagi... T__T

btw, yg tentang jari2 memerah it *ngelirik komen di bawah*, kekny tiap orang punya reaksi beda pada udara dingin sih :) beberapa yg lainny tetep pucat, sementara yg lainny (biasany yg tipe ini malah lebih tahan udara dingin sih) kulitny akan memerah sebagai kontra dari hawa dingin yg mengancam kehangatan tubuh keluar :)

kira2 begitulah menurutku, cmiiw yah ^^

Writer naela_potter
naela_potter at Voiceless Screaming (10 years 13 weeks ago)
80

Cecil, I'm dropped by! xD (sesuai janji buat mampir buat baca tulisan kamu)
akhirnya nulis lagi kamuuu hahaha seneng bacanya :)
udah tiga tahun :""")

halus, sesuai dengan gaya bahasa kamu dulu. Pelan-pelan dan lembut. Suka deh bacanya!

Writer Zhang he
Zhang he at Voiceless Screaming (10 years 13 weeks ago)

Huaaaa! Kau datang! XD *lari ke tempat nae*

hers at Voiceless Screaming (10 years 13 weeks ago)
90

Sepertinya masih berhubungan dengan kisah sebelumnya...
Ternyata benar apa yang pernah dibilang banyak orang, perasaan kehilangan yang sebenarnya adalah saat kita benar-benar ditinggalkan.
-
Salloom!

Writer Zhang he
Zhang he at Voiceless Screaming (10 years 13 weeks ago)

Makasih sudah mampir!

Writer GazelCrazy
GazelCrazy at Voiceless Screaming (10 years 13 weeks ago)

#blink-blink#
Saya suka sekali sama ceritanya. Sungguh!

Writer Zhang he
Zhang he at Voiceless Screaming (10 years 13 weeks ago)

Thanks! ^_^

Writer xenosapien
xenosapien at Voiceless Screaming (10 years 14 weeks ago)
80

Wew, agak menyeramkan di bagian ini:

Quote:
Aku menggigil. Kurasa udara dingin tidak baik untuk tubuhku—atau benarkah hanya udara dingin? Kusadari jemariku hangat dan memerah. Lalu kontras dengan warna itu, aku menyadari mawar putih dalam genggamanku. Dan kusadari dirimulah yang membuatku menggigil.
>,<
Dalam kondisi kedinginan di lingkungan bersalju, bagaimana jari-jarinya bisa memerah hangat? Itu cuma metafora kah? Atau jangan-jangan.... >.<

Writer Zhang he
Zhang he at Voiceless Screaming (10 years 14 weeks ago)

He? O.o di musim dingin tangan2ku bener merah lho...

Writer xenosapien
xenosapien at Voiceless Screaming (10 years 14 weeks ago)

Benarkah? Ehehehe... aku belum pernah tinggal di negeri bersalju, jadi gak tahu. Tapi di tempatku klo lagi musim dingin dan turun kabut, jari-jariku tidak terasa hangat. Malah cenderung sedikit pucat dan dingin (jadi sering gosok2 tangan baru bisa jadi hangat dan kemerahan).

Ah, tapi ini info baru buatku. Terima kasih, Zhang He. :)