Ulasan Tantangan: Eudaimonia

Uhuk. Maaf baru sempat komentar. Di sini kapasitas saya mesti sebagai Penantang, jadi maaf banget kalo saya juga mesti sok tahu. Tapi kalau kalian perlu tahu, respon saya atas pembacaan kali ini… tentu saja speechless. Kalau kalian perlu tahu (lagi), bahkan saya perlu ber-WTF sekian kali dulu sebelum menulis ini. Ya, tulisan Izoel dan Ipeng segitu… kerennya. Jadi, ayo kita liat parameter dari Tantangan ini.

Izoel bercerita tentang penulis (stilnovisti) yang mencari topeng kematian untuk memperoleh kebahagiannya (orang-orang yang mengakui keberadaan sang tokoh). Ia berkelana ke berbagai tempat, bertemu dengan seorang wanita dan kakek tua, dan terus menulis. Di awal perjalanannya, ia merekam sesuatu pada minidisk. Twist ending-nya ketika sang tokoh berkaca; dan sepertinya ia adalah topeng. *glek*

Ipeng bercerita tentang Maut yang selalu bertanya ‘apa kebahagiaanmu?’ pada orang-orang yang ditemuinya. Saat itu, pemuda tsb merekam sesuatu sebelum ia berniat bunuh diri. Pemuda yg ia temui bilang bahwa kebahagiaan adalah ketika ia dapat membantu orang lain (happiness real when shared—Into The Wild?). Twist Ending-nya ketika sang pemuda memaparkan kebahagiannya atau ketika Maut mengarahkan sabitnya kepada seorang gadis kecil.

Dua-duanya menarik. Yang satu sangat cerdas (membagi banyak hal ke pembaca), yang satu penuh nuansa emosional (membiarkan pembaca mempertanyakan kembali tentang apa kebahagiaan hidupnya). Dua-duanya keren.

***

Untuk Izoel:

Sejujurnya aku kelimpungan sendiri ngebaca ceritamu. Terutama karena ada loncatan yang demikian drastisnya di bagian akhir. Ibarat kata, ‘pemindahan yang sempurna’. Aku menikmati penceritaanmu tentang beragam daerah; tapi anyway, sebenernya target pembacamu siapa? Enggak mungkin semua orang, kan—karena, IMHO, enggak mungkin semua orang tau sastra/wilayah ‘tinggi’ (uh) yang kamu masukin jadi unsur cerita. Karena itu aku pengen tanya langsung ke penulisnya, jadi tujuan kamu masukin semua kemewahan itu, apa?

Aku suka caramu membuat dialog, sangat mengalir. Plotmu juga bagus, dan bagaimana kamu membagi bagian-bagiannya, rapih banget!

Inferno 1. Kamar 2. Air mancur 3. Bangunan gotik 4. Bertemu pria paruh baya 5. Kota dengan katedral Purgatorio 6. Kota dengan tembok pertahanan Paradiso 7. Kota kelahiran 8. Spot; mencuri topeng kematian *Kembali di kamar

Ide tentang perjalanan, di mana ia merekam sesuatu ke dalam minidisk terlebih dahulu. Itu menarik. LOL. Lucunya, tokoh utamanya licik, ya? Ia tidak bilang ia mencari topeng kepada si pria paruh baya. Dan, hell yeah… endingnya sangat… misterius. (twist ending? Wkwkwk) Yeah, dan sangat supranatural.

Ummu, untuk teknis:

1. Di bagian awal cerita, kurasain transisinya kurang mulus. Menurutku, kamu harus memastikan setting waktu utama, karena akan menentukan juga setting tempat (apakah kamu akan bilang ‘di sana’ atau ‘di sini’—apakah tokohmu pada akhir cerita berada di dalam ruang tersebut; ataukah bercerita dari luar—sekalipun kamu menggunakan PoV pertama).

2. Kurang sreg dengan beberapa pemilihan kata: ‘situ’, ‘lalu kumulai lagi’ (saat itu kumulai kembali). Karena kata-kata tsb ada pada badan cerita (entah deskripsi, entah narasi) jadi kurasa akan jadi luwes kalau kamu bisa milih kata yg lebih sepadan.

3. Perujukan kata.

- ‘Keindahannya’, sebenernya referring ke mana? Keindahan apa?

4. Aku paham, dikarenakan tidak ada penjelasan nama daerah dapat digunakan di cerita ini, kamu harus banyak menggunakan ‘tempat ini’, ‘kota itu’, dll. Namun, pastikan kamu memilih varian yang tepat untuk mengganti kata-kata tersebut.

Kota ini -> kota tersebut (intinya, pilihlah kata pengganti untuk: itu, ini, walau, dll.—jangan sampai keliatan terlalu sering digunakan.)

Mengenai tempat, kenapa di ceritamu kulihat kamu sangat fokus mendeskripsikan detail dari tempat-tempat itu? Ada beberapa detail yg kurasa tidak dibutuhkan oleh pembacamu.

5. Dalam konteks tertentu, utamakanlah penggunaan kata kerja aktif.

Ya, walau aku ingin sekali kembali ke tanah kelahiranku, ‘aku tidak akan melakukannya’ sebelum ‘aku mengunjungi’ beberapa tempat yang pernah kusinggahi dahulu sekali.

6. Penempatan fokus.

Mendingan ‘dahulu sekali’ pernah kusinggahi atau pernah kusinggahi dahulu sekali? Coba pikirkan penekanan dari kalimatmu, apakah yang penting adalah waktunya, ataukah ‘pernah’-nya.

7. Pemenggalan unsur dalam kalimat. Coba perhatikan ini:

Bata merah yang menyusun bagian atas jembatan itu, telah menjadi saksi bisu dari berbagai kekerasan dan peperangan yang terjadi sepanjang zaman sejak awal berdirinya.

8. Genre yang kau pilih menentukan gaya bahasamu. Di bagian awal, gaya bahasamu terlalu hiperbol; err, maksa nyastra. Menurutku, itu kurang menarik. Lebih enak kalau kamu masukin kata-kata/kalimat yang straight to the point, alias jangan terlalu flowery. Karena yeah, kamu masukin sesuatu yang ‘berat’; sebaiknya penceritaanmu justru mesti jauh lebih ringan.

Err. Ada yg ngeganjel. Pas ia ketemu si pria tua, sebenernya... apa maksud dari buku tebal ‘bersampulkan kulit milikku’?

Overall, Izoel baik sekali karena mengangkat tema ini menjadi cerita. Peserta tantangan yang membuat penantangnya bisa belajar lebih banyak tentang Dante Alighieri dan The Divine Comedy. Trims, loh. ;D Meski aku penasaran; kenapa, sih, idenya kamu ngambil tema ini?

Untuk Ipeng:

Sederhana, dan aku suka caramu membuka cerita. Ringan, menyentuh, dan kurasa dapat menjadi bacaan siapa saja.

Kupikir-pikir… kenapa ada kecenderungan menulis dengan PoV 1, ya? Mungkin karena secara enggak sadar kalian sudah mikir kalau lebih mudah untuk tidak memasukkan nama-nama tokoh dan detail (karena itu syarat dariku, LOL) bila kalian menjadi penyuara dalam cerita.

Mengangkat cerita tentang malaikat kematian (cukup supranatural). Aku penasaran dengan bentuk kreaturnya, ia bisa meloncat ke atas meja dan katanya ia memiliki bentuk berubah-ubah (kok gitu?); bagaimana ukurannya? Dan oh, latarnya di Jepang-kah? Cerita yang sangat emosional.

Sudah memasukkan delapan sekuen: 1. Kematian orang pertama 2. Kematian orang kedua (wanita) 3. Pemuda (jalan) 4. Pemuda (rumah) 5. Jalan 6. Rumah pertama (memberi kado) [Puluhan rumah dan apartemen enggak masuk ke scene kali, ya? -.-] 7. Rumah si gadis kecil 8. Rumah sakit (kamar pemuda) 9. Rumah sakit (kamar si gadis kecil -- tapi karena satu rumah sakit, tidak kuhitung.

Aku suka karena Maut selalu menanyakan ‘kebahagiaan’ yang dicari oleh para manusia! Aku suka esensi dari tiap dialognya! Menarik menemukan ide dari sang pemuda yang awalnya menduga kematian mendatangkan kebahagiaan, tap ternyata… kebahagiaan, kemudian baginya, dapat diperoleh ‘Dengan membantu orang lain mendapatkan kebahagiaannya’.

Jadi di cerita ini kamu memaknai Eudaimonia demikian. Mungkin itu, ya, twist ending-nya? -.- Atau bagian ini: gadis itu ikut mati, dan mengherankan karena kenapa si narator pada akhirnya memegang sabitnya sendiri? Yah, yang jelas untuk twist, mungkin… sepertinya, karena memang susah ditebak juga siapa-siapanya yg akan mati (bahkan ketika sudah melewati klimaks), kurasa syarat ending sudah terpenuhi.

Teknis:

  1. Mungkin masalah EYD.

a) Terutama gimana ngebedain antara kata kerja pasif (di-) dan kata depan penunjuk tempat (di: di mana, di sini, di sekitarnya, ke mana, dst.)

b) Penggunaan tanda hubung (-) untuk setiap: kekuatan-Nya, kelimpahan-Nya, sabit-Nya, dll.

c) Efisiensi/varian kata penerang. Kamu menggunakan terlalu banyak kata ‘ini’; rumah ini, rumah itu, dll. Karena kulihat, dalam satu kalimat kamu bisa memasukkan banyak sekali ‘itu’ dan ‘ini’. Aku paham mungkin ini masalah anonimitas tokoh dan ambiguitas setting (tempat dan waktu), tapi itulah seharusnya yang menjadi tantangan; gimana kamu mengeliminasi permasalahan-permasalahan ini.

d) Penulisan tanda titik. Sepertinya sudah ada aturan bakunya kalau kamu mesti nulis ‘…’ instead of terlalu banyak ngegunainnya ‘…..’

e) Penyambungan –ku dan –mu dengan kata yang diterangkan di depanya. Cth.: tetapi aku tahu aku pasti akan sampai pada tujuan ku. (ada alasan kenapa tujuan- dipisah dengan -ku?)

f) Penggunaan ‘kah’, ‘lah’, cth.: berhasil kah -> seharusnya digabung, menjadi: berhasilkah

g)  Kenapa terselip ‘&’ di tengah-tengah narasi?

  1. Masalah pemilihan kata dan kebakuan narasi/deskripsi.
  • Merubah; coba nanti dgn teliti perhatiin kamus. Yang baku yang bagaimana.
  1. Coba perhatikan penggunakan kata ganti. Daripada terlalu sering memakai ‘pemuda itu’, kenapa tidak diganti menjadi ‘ia’?
  2. Efisiensi kalimat. Cth: ‘aku hanya terlihat oleh orang-orang yang telah didatangi olehNya.’ Ada dua kata ‘oleh’ di sana, yang sebenarnya bisa dihapus. Dalam bahasa Indonesia, kita bisa seringkali meniadakan ‘oleh’, kurasa. Didatangi-Nya saja sebenarnya sudah cukup, kan?
  3. Pada bagian tertentu, penggunaan tanda baca. Cth: Dengan segera aku mengeliminasi beberapa kemungkinan seperti gantung diri dan jembatan. (Untuk memberikan tekanan, menurutmu diperlukan tanda baca di sana? Menurutku, perlu.)

Hari penting ‘seperti itu’ tidak mendapatkan hari libur yang formal? Hari libur apa, memang—musim salju, membagikan kado… apakah Natal? -.-

***

Nah, kalian pasti sudah tahu sejak awal kalau kalian sudah memenuhi tantangan; bila mengukurnya dari syarat-syarat tantangan saya. Uhuk. Tapi yeah… saya ingin memaparkan dulu apa sebabnya saya memberikan tantangan seperti itu.

Pertama, mengapa saya memaksakan kalian menulis tentang Eudaimonia dan menggunakan itu sebagai judul, dan mengapa saya memberikan tema Kematian untuk ditulis. Sederhana, coba sekarang ganti kata ‘Eudaimonia’ itu dengan ‘makna Eudaimonia’ yang kalian paparkan di bagian cerita. Apa sudah sejalan dengan isi keseluruhan cerita?

Orang-orang seringkali tidak fokus ketika menulis. Tidak menentukan apa temanya, bahkan justru baru memilih judul ketika cerita mereka telah selesai. Terkadang, itu menyebabkan judul dan isi jadi jauh berbeda. (saya selalu memiliki kelemahan ini) Namun, bila sudah menentukan judul di awal (yang sebenarnya adalah tema besar dari cerita), akan jadi lebih mudah. Judul akan mencitrakan esensi dari cerita kalian.

Kedua, mengapa saya memaksakan agar kalian tidak mencantumkan nama-nama tempat dan penjelasan waktu; dan hanya boleh memaparkan kebudayaan/keunggulan dari tempat tersebut. Sederhana, juga; atau bahkan mungkin kalian sudah tahu.

Orang-orang seringkali melupakan bahwa kita tidak perlu detail yang terlalu mewah di dalam cerita. Tidak perlu langsung memungut nama-nama tempat terkenal untuk membuat cerita kalian jadi menarik. Show, don’t tell; pasti kalian sudah tahu. Tunjukkan tempat-tempat itu ke pembaca kalian tanpa memberitahu di mana letaknya. Apakah mereka dapat menebak di mana? Hanya dengan hal-hal kecil; semisal, tulisan yang dipergunakan di daerah tersebut, atau melalui dialeknya, cara makannya, dll. Tapi kalau yang digunakan tentang gedung/arsitektur unik tertentu, juga bukan masalah. Yang terpenting, kalian tidak menjual tulisan kalian hanya dengan setting.

Ketiga, mengapa saya menyuruh kalian menulis tokoh-tokoh anonim. Tidakkah menarik bagi kalian? Kalian bisa memaparkan seperti apa tokoh-tokoh itu tanpa memberikan nama.

Esensinya, pembaca kalian bisa merasakan menjadi tokoh itu. Pembaca kalian bukan Daniel, bukan Foe, bukan Fransisca. Pembaca kalian seharusnya dapat masuk menjadi tokoh, secara langsung, bila kalian membuat karakterisasi yang universal. Nah, meski kalian menulis tentang hal-hal yang magis/supranatural, mereka tetap dapat merasakan menjadi tokoh-tokoh itu. That’s the point.

Keempat, mengapa supranatural dan metafisika; dan Parapsikologi?

Saya tidak terlalu suka manusia melupakan esensi sejatinya. Banyak cerita yang ditulis oleh orang-orang belakangan ini hanya memasukkan unsur-unsur lokal, tetapi tidak memasukkan ‘kedalaman’ dari kelokalan tersebut. Bagaimana hubungan manusia dengan jagat spiritual di dalam dirinya, apa esensi kehidupan, yah filosof-filosof ringan semacam itu.

Orang-orang menulis dengan terlalu mewah, tidak membawa kebahagiaan; tidak membawa kesedihan; tanpa emosi; datar; hambar. Saya tidak ingin kalian menulis seperti itu. Menulis, bisa kita jadikan sebagai sarana berkatarsis, bisa kita gunakan sebagai cara membantu orang lain mengenal dirinya. Hal-hal spiritual seharusnya universal di dalam diri manusia.

Tidak menarik, kan, kalau orang-orang melupakan siapa diri sejatinya?

Kelima, mengapa saya meminta kalian menulis delapan sekuen.

Seringkali, penceritaan yang serba anonim memaksa seseorang menulis dengan PoV 1. Seringkali pula, hal itu menyebabkan mereka menulis hanya di satu tempat; berkutat dan berputar-putar dengan masalahnya sendiri. Yea, benar mereka menceritakan tentang filosofi-filosofi kehidupan. Tapi jadinya hanya sekadar seperti karya-karyanya Rumi, Kahlil Gibran, atau Tagore. Mereka menulis banyak tulisan hebat; tapi berhenti hanya dalam dunia ide.

Bukannya saya bilang itu tidak menarik. Tapi, sebuah cerita… apalagi fiksi; harus lepas selepas-lepasnya dari diri sang penulis. Ibarat kata, bila kamu seorang penulis yang menjadi dokter/insinyur; maka coba jangan menulis tentang penulis, dokter, atau insinyur. Cobalah sekali-kali keluar dari diri kalian. Keluar dari ‘sebatas ide dan imajinasi’.

Selain itu, dengan memasukkan delapan sekuen, meski kelak di tulisan-tulisan kalian, kalian memasukkan hanya dua setting tempat, tidak akan jadi soal. Yang penting, bagaimana imajinasi yang tertuang dalam cerita kalian kemudian dapat diimajinasikan kembali oleh para pembaca.

Keenam, twist ending. Sebenarnya ini hanya mencoba membuat kalian familiar dengan teknik-teknik menulis; dan mengupayakan teknik-teknik tersebut sejak awal. Menulis yang bereksperimen. Tidak perlu menemukan hal baru, paling tidak telah mencoba hal baru setiap saatnya.

Ketujuh, gambar. Mengapa? Pasti, merepotkan.

Tapi, kalian bisa tahu… bahwa, jika kalian pada satu ketika tidak mampu menulis (tidak ada ide), kalian bisa mendapatkan ide dari mana saja. Asalkan kalian menaruh konsentrasi pada satu hal. Misal, lihat satu gambar; apa bayangan kalian dari gambar itu? Lihat kuotasi, apa yang kalian bisa ciptakan dari sana? Ada banyak profesi di dunia, ada banyak ide tentang alam, Tuhan, kemanusiaan, kebahagiaan, persahabatan, kekeluargaan; banyak hal bisa kalian tulis.

Jadi, suatu saat ketika kalian blank, carilah gambar dan tulislah sesuatu. (sudah sering, kan, ada tantangan gambar? ^^)

Kedelapan, dialog baku. Sebenarnya ini karena genre, saya sudah memastikan bahwa dengan sekian tema yang saya berikan ini, akan lebih afdol jika kalian sekalian menulis dengan gaya bahasa baku. Nantinya, dialog bisa menyesuaikan dengan genre yang kelak kalian pilih dalam menulis.

Kesembilan, jangan menulis tentang mimpi. Belakangan, ada kecenderungan banyak orang suka menulis bersettingkan mimpi. Klise saja, jadinya. Err, mungkin, coba lihat situasi dan kondisi… apa yang sering ditulis orang; cobalah tulis sesuatu yang berbeda. Saya lihat, dari tulisan kalian, kalian telah berhasil menulis sesuatu yang berbeda.

Jadi, mungkin segini aja, ya, pembacaan saya? :D Sekali lagi, maaf karena telat. Semoga kalian sukses menjadi penulis! Kalian punya bekal yang banyak!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rijon
Rijon at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 44 weeks ago)

Cerpen "Pantai Cermin" dipajang dong ah, Mimi. :D

Writer hereisme
hereisme at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

astaga ulasannya :O TOP deh kak!

Writer Chie_chan
Chie_chan at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

Aku sirik baca ulasannya kak mimi....
.
.
.
*cakar tembok*
Ah, mendadak aku jadi gak yakin bisa ngasih cabe dengan benar. TT_TT

Writer Penguin
Penguin at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

saya... saya... saya merasa terharu melihat tulisan saya diulas.... *nangis terbahak-bahak*

Makasih banget dengan ulasannya! Memang masalah EYD, saya masih agak ragu menuliskan 'ku' dan 'mu' apa dipisah atau digabung. Terus yang masalah tanda titik dan '&' nyelip kayaknya salah ketik, berhubung saya gak proofreading dulu sebelumnya jadi gak dicek :p.

Sekali lagi, makasih banget dengan ulasannya! Alasan syarat-syaratnya juga keren!

Writer Penguin
Penguin at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

oh ya tentang endingnya, maksud saya twist di bagian ini: si pemuda mau si gadis kecil tidak menderita seperti dia, nah si protagonis menerjemahkannya dengan 'tidak usah hidup lagi', dan ternyata Maut tidak satu :D

EDIT: *SPOILER* Areanya memang Jepang, dan saat Natal. Di Jepang walaupun Natal dirayakan tapi bukan hari libur nasional (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Christmas#Celebration )

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

W.O.W... Iya juga sih... Saya bawa2 Dante dalam cerpenku, karena dia yang pertama terlintas dalam kepala saat nyari tahu soal Eudaimonia.
.
Unsur parapsikologisnya juga kurang ketangkep sepertinya, padahal tokoh utamanya kubuat semacam 'walk-in' yang dapat memindahkan jiwanya ke tubuh orang lain. Itu juga sebagai twistnya, karena awalnya saya berusaha membuat tokohnya (pemuda stilnovisti) seakan reinkarnasi seseorang, tapi pada akhirnya ia mati dan jiwanya menguasai tubuh pria paruh baya (yang mendengarkan ceritanya).
.
Aih, harus memperbaiki cara nulisku nih...
T_T
.
Ah, dan makasih banyak udah nunjukin beberapa titik lemah dalam cerpenku... ^^

Writer neko-man
neko-man at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

Ulasannya panjang

Writer pikanisa
pikanisa at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

aku ndhak mudheng ulasanmu, mi... *kayaknya harus belajar banyak sembari tembak diri sendiridengan menggunakan selembar kertas yang kugambari dengan gambar pistol ( ups ini surealis bukan?)

Writer panah hujan
panah hujan at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)

hooo... (mohon banget jangan asosiasiin aku sama surealis lagi, mbakyu. itu bukan sesuatu yang kuniatkan jadi genreku. >_<)

Writer Zhang he
Zhang he at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

Wuuus mantap

Writer 145
145 at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

'Ulasannya keren banget.'
'Tob'

Writer elbintang
elbintang at Ulasan Tantangan: Eudaimonia (9 years 45 weeks ago)
100

Ulasannya keren banget.

Tob.