Program Tantangan: Dewi Malam

Bulan membara, memerahkan langit oleh sebab cahaya yang hilang.

Keremangan datang, terlumur bumi oleh bayang-bayang gamang.

Pada saat itu, di tempat kala pertama kita bertemu….

Apa kamu mau menungguku?

 

Hampir pukul 10 malam. Bayu masih duduk diam di dalam shelter Transjogja Monjali, memandangi gedung berbentuk frustum kerucut di seberang jalan. Seolah tak peduli oleh hawa dingin yang menusuk, dibiarkan saja resleting jaketnya terbuka, menampakkan kaos biru bertuliskan nama sebuah SMA di kawasan Sleman Utara. Tampaknya sebuah seragam olahraga.

Ia mendesah kembali. Ah, entah desahan yang keberapa dalam sejam ini. Jauh di dalam hatinya, ia mulai meragu. Dua jam menuju tengah malam. Tidakkah ia datang terlampau awal? Benarkah keputusannya ini? Bukankah seharusnya ia menyepi saja? Tapi, ia tak mungkin sanggup menolak permintaan seorang teman.

Tak jauh darinya, seorang wanita muda pertengahan dua-puluhan berseragam batik warna cokelat berjalan menghampiri Bayu. Ia tersenyum saat Bayu menoleh padanya. “Maaf Mas, bentar lagi shelternya mau tutup.”

“Bentar lagi jemputan saya datang, Mbak. Boleh nunggu lima menit lagi?”

“Maaf banget, Mas. Ini beneran mau tutup.”

Bayu mendesah pelan, lantas bangkit setelah mengangguk pada wanita muda itu. Sepertinya ia terpaksa menunggu di luar.

Sambil melihat para petugas jaga shelter beres-beres, ia melangkah menuju halte bis di sebelah shelter. Lantas, ia duduk di sana. Masih memandangi sebentuk monumen di hadapannya.

Dari arah timur jalan, sebuah motor melambat dan berhenti di tepi jalan tepat di depan Bayu. Bayu mengangkat wajahnya, memandang tajam seorang bocah lelaki seumurnya yang hanya membalas dengan cengiran. Bocah lelaki itu adalah sahabat baiknya, Sandi.

“Apa cengar-cengir?” kata Bayu. “Bilangnya jam setengah sepuluh, ini sudah jam berapa?”

“Yaelah! Cuma telat setengah jam, juga.”

“Dari mana aja sih, San? Nggak biasanya kamu telat.”

“Nyari cemilan di minimarket. Buat kita begadang nanti,” katanya sambil menunjukkan ranselnya yang gemuk. Bayu mendekat dan memeriksa isinya. Beberapa kopi kaleng, beberapa bungkus roti, dan berbungkus-bungkus makanan ringan.

“Kita bisa beli di dekat SMA, kan?”

“Males. Enakan beli di minimarket sebelah rumah.”

“Yang lain udah ngumpul, San?”

Yang ditanya hanya menggeleng. “Belum, tuh. Tumben nanya. Peduli juga kamu sama yang lain?”

“Nggak juga. Terserah mereka sih.”

“Sebenernya mereka itu lumayan care sama kamu. Kamunya aja yang kabur mulu. Tapi, seneng juga kamu akhirnya mau ikut acara kita. Ada angin apa nih?”

Bayu hanya menggeleng. “Nggak ada. Pengen aja. Gerhana bulan akhir tahun lalu kan nggak bisa dilihat di Indonesia. Sekarang, kesempatan untuk melihatnya ada. Mana mungkin kusia-siakan.”

“Kamu kan bisa nonton di rumah.”

Bayu menoleh tajam pada Sandi. “Ya udah, aku pulang aja.”

Sandi hanya tertawa mendengar itu, lalu mengulurkan helm cadangan pada Bayu. Bayu mengambil helm itu, lalu membonceng di belakang. Selang beberapa lama, mereka sudah melaju melintasi Ring Road Utara, menuju arah SMA mereka.

 

***

 

Suasana malam itu cukup meriah. Beberapa anak SMA berkumpul di atap sekolah yang datar, siap dengan sebuah teropong bintang di tengah-tengah atap. Seseorang yang bertampang lebih tua tampak menjelaskan sesuatu pada anak-anak itu.

Bayu hanya tersenyum saja melihat pemandangan itu. Ia memang memilih menyendiri, menyandar pada dinding kelas XI IPA 1 yang berada di lantai dua. Tak jauh darinya, Sandi berjalan menghampirinya sambil membawa dua kaleng kopi.

“Kamu nggak ikut mengamati di atas? Jarang-jarang sekolah ngadain acara beginian.”

“Nggak.”

Sandi menyerahkan sekaleng kopi pada Bayu yang kemudian mengambilnya. “Udah jam satu. Sepertinya bentar lagi mau mulai.”

“Udah mulai kok.”

Sandi hanya menatap Bayu bingung. Bayu menoleh, keduanya berpandangan.

“Iya, udah mulai,” kata Bayu lagi. “Tuh, di atas udah heboh. Fase-fase awal memang cuma kelihatan dari teropong.”

“Ah, kalau begitu aku naik dulu. Kamu ikut?”

Bayu hanya menggeleng pelan. “Aku di sini aja. Nunggu bulan memerah penuh.”

“Memerah?”

“Kamu nggak tahu? Lihat aja nanti. Kalau udah masuk gerhana total, bulannya akan berwarna merah.”

“Ya udah, aku naik.”

Bayu terdiam, menatap sahabatnya itu naik menuju atap. Ya, ia harus tetap di sini, menunggu. Ia mendesah lagi. Ia ingat, akhir tahun lalu di tempat ini—tepat di tempat ia berdiri sekarang—gadis itu muncul di hadapannya. Matahari senja kala itu membawa kata-kata gadis itu hinggap di dalam benaknya. Menyesap. Sampai sekarang tak mau hilang.

Aku akan datang padamu, saat bulan membara sekali lagi. Saat itu, Apa kamu mau menungguku?

Bayu tercenung. Ia menghela beberapa kali. Ditatapnya bulan penuh-penuh. “Kamu lihat? Aku di sini sekarang. Apa kamu akan datang seperti janjimu?”

 

***

 

“Kalau dulu aku mau memberikan hatiku kepadamu, apa kamu tidak akan hilang, Serigala?”

Ditatapnya gadis berambut panjang yang berdiri anggun di hadapannya itu. Suaranya yang merdu menyusup halus melewati telinganya, perlahan menghangatkan hatinya. Bayu terbungkam. Entah karena suara yang terdengar amat pilu itu, ataukah karena dirinya dipanggil ‘Serigala’.

“Kamu ngomong apa sih?”

“Apakah ingatan itu direnggut juga darimu? Tentangku, dan tentang hidup yang kamu habiskan untuk memanggilku tiap malam.”

“Hah?!”

Gadis itu terdiam, lantas tertunduk. Tak berselang lama, ia mendongak kembali. Tatapannya melembut total. “Apakah kamu percaya kelahiran kembali? Apa kamu tahu siapa kamu di kehidupanmu yang lalu?”

“Aku nggak percaya dan aku nggak peduli.”

“Kamulah sang Serigala Pengelana. Yang selalu memendam rasa kepadaku. Memanggilku tiap malam, tak peduli meski aku adalah milik Langit. Dan karena akulah kamu menghilang. Maafkan aku.”

“Siapa kamu?”

“Aku adalah Bulan.”

 

***

 

Pukul 2.30 dini hari.

Bayangan umbra telah sepenuhnya menutupi permukaan bulan. Bayu hanya mampu terpaku menatap bulan yang telah mulai tampak sewarna darah.

“Lihat, bulan udah memerah. Kapan kamu datang?”

Bayu terdiam kembali. Perasaannya bergejolak. Apakah pada akhirnya mereka bisa bertemu lagi? Sejak kapan ia merasa serindu ini pada gadis itu?

 

***

 

“Serigala … Serigala…. Ngomong seenaknya aja. Aku ini manusia.”

Bayu menatap kosong layar komputer di hadapannya. Sudah seharian ia mencari entry apapun yang bisa diperolehnya di internet tentang hubungan antara bulan dan serigala.

“Kelahiran kembali? Maksudnya reinkarnasi? Yang bener aja. Yang seperti itu mana ada di dunia ini. Cewek itu pasti cuma tukang ngayal.”

Ia masih mengetikkan berbagai kata kunci tentang bulan dan serigala di mesin pencari. Lalu, jari jemarinya terhenti, diam di atas keyboard. Ia teringat sesuatu.

Aku harus pulang. Gerbang langit akan tertutup saat gerhana berakhir. Aku akan datang padamu, saat bulan membara sekali lagi. Saat itu, Apa kamu mau menungguku?

Ia tercenung. Gadis itu bilang ‘gerhana’?

Ia teringat kembali. Hari itu, di belahan dunia lain memang sedang terjadi gerhana bulan. Wilayah Indonesia tidak seberuntung itu. Pada saat gerhana bulan terjadi, hari masih siang. Saat gerhana berakhir pun bulan belum terbit di Indonesia. Sehingga ia tak bisa melihat gerhana bulan saat itu. Apakah gadis itu hanya bisa turun ke bumi saat gerhana terjadi? Ia menggeleng. Tidak, bahkan belum tentu gadis itu benar-benar Bulan.

“Bodoh! Sejak kapan aku percaya dongeng macam begitu?”

 

***

 

Pukul 03.00 dini hari.

Bayu menghabiskan teguk terakhir kopinya. Diguncang-guncangkannya kaleng itu, memeriksa apakah masih ada isinya atau tidak. Saat ia sudah yakin bahwa isinya benar-benar sudah habis, ia membuangnya ke tempat sampah di samping pintu kelas. Ia melangkah menuju pagar beranda, lalu menyandarkan bagian depan tubuhnya di sana. Ditatapnya bulan merah di hadapannya. Matanya terlihat sayu.

“Kenapa kamu belum datang? Apa kamu bakal datang di ujung gerhana seperti waktu itu?”

Ia mendesah cepat. Hatinya dipenuhi kebimbangan. Benarkah keputusannya menunggu di sini? Menunggu seseorang … ah, tidak, gadis itu bahkan bukan orang.

Perlahan, sesuatu tampak di hadapannya. Bulan merah itu berpendar sesaat, lantas menyilaukan kilasan cahaya jingga hingga batas horizon. Ia menoleh pada teman-teman dan gurunya yang tengah mengelilingi teropong. Mereka tidak bereaksi dan tidak tampak terkejut. Apakah kilasan cahaya tadi hanya terlihat olehnya?

Bayu menelengkan kepalanya lagi ke arah bulan. Perlahan, bayangan kecil muncul dan membesar. Bayangan itu meluncur ke arah Bayu dengan kecepatan tinggi dan berhenti tiba-tiba di hadapan Bayu hingga membuatnya terjengkang.

“Kamu datang, Serigala. Kamu menungguku.”

Bayu menengadah, menatap sesosok gadis yang hanya sebentar saja ditemuinya enam bulan lalu. Tapi, bukan hanya kebersamaan yang sebentar itu yang membuat bayang-bayang gadis itu terpatri dalam memorinya, melainkan juga pencariannya akan kebenaran tentang mereka berdua.

Gadis itu masih sama. Masih seelok dulu. Rambut hitam panjangnya yang berkilau sempurna. Mata hijaunya yang selalu menyorot lembut, senyum sabit yang terlengkung oleh bibir merah itu, juga wajah oval yang membingkai semua itu dengan amat manis. Dan seperti juga dulu. Kata-kata tak pernah sanggup keluar di kali pertama. Tidak. Bukan kata-kata. Sorot matanya sudah cukup menyiratkan kerinduan yang tak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dan Bayu tahu satu hal. Gadis itu pasti bisa menangkap kerinduannya. Gadis itu pasti bisa mengerti penantiannya selama ini.

Gadis itu mendekat, menawarkan tangannya. Bayu menatap kosong tangan kecil itu, lantas meraihnya. Dalam sekali hentakan, ia berhasil berdiri.

Kedua tangan masih saling berpaut, kedua mata pun masih saling berpagut. Langit seolah diam mendengarkan bisik hati keduanya, merelakan Bulannya untuk semalam saja bersua dengan kekasihnya.

Tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya setelah sekian lama. Ya, tak perlu kata-kata. Karena mata mereka sudah bicara.

“Akhirnya kamu percaya padaku, Serigala?”

 

***

 

“Hah? Cerita tentang serigala dan bulan?” Sandi hanya menatap Bayu sambil mengangkat sebelah alisnya. “Sejak kapan kamu tertarik sama yang begituan?”

“Cuma buat referensi.”

“Referensi apa? Kamu mau bikin cerita?”

Bayu hanya menggeleng. “Kamu percaya nggak kalau kubilang aku pernah ketemu sama Penjaga Bulan?”

“Kamu ngomong apa sih?”

Bayu tak menjawab. Ia menatap kosong papan tulis di hadapannya. Di sebelahnya, Sandi hanya menghela cepat saat melihat sahabatnya itu hanya terdiam. “Aku cuma tahu werewolf.”

“Werewolf?”

“Manusia setengah serigala.”

Bayu seketika menggeleng. “Bukan itu. Aku yakin bukan itu. Pasti sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua.”

“Aku nggak tahu kalau ada yang lebih tua dari mitos werewolf.”

Tentangku, dan tentang hidup yang kamu habiskan untuk memanggilku tiap malam.

Kata-kata itu terngiang-ngiang lagi di benak Bayu. Hidup yang dihabiskannya untuk memanggil Bulan tiap malam? Sikap duduk Bayu langsung menegak. Ia terdiam lama, berpikir. Selang beberapa saat, ia menoleh pada Sandi. “Apa kamu tahu kenapa serigala selalu melolong tiap malam?”

 

***

 

“Aku belum memutuskan untuk percaya.”

Meski begitu banyak kata ingin diungkapkannya, pada akhirnya hanya kalimat itulah yang meluncur dari bibir Bayu. Diamatinya gadis di hadapannya. Sorot mata gadis itu berubah sayu. Senyumnya berganti seringai kesedihan. Sebisa mungkin, Bayu ingin mengapus semua itu, menggantinya dengan kebahagiaan. Tapi, kalau ia tak bisa mengatakan lebih dari yang tadi ia katakan, akan lebih baik kalau ia diam saja. Ia tak mungkin berbohong. Ia tak bisa berbohong. Tidak pada gadis itu.

“Tapi, kamu datang. Dan kamu juga melihat caraku datang.”

“Yang nggak bisa kupercayai … aku sebagai serigala. Aku masih nggak ngerti. Apa kamu nggak salah orang?”

“Langit yang membimbingku. Dan ia tak pernah salah.”

Bayu hanya menggeleng. “Aku masih nggak ngerti.”

“Kamu bisa mendengarku, melihatku, menyentuhku.”

“Lalu?”

“Hanya Serigala yang sanggup melakukan itu. Tak ada lagi yang lain.”

“Mungkin aja aku kasus langka.”

Gadis itu hanya tersenyum. Ia mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke wajah Bayu. Dengan satu gerakan lembut, disentuhnya dahi Bayu. Seketika, tangan itu bersinar. Sinar itu merasuk ke dalam benak Bayu, merambati satu demi satu sel otaknya. Dan kilasan-kilasan ingatan muncul begitu saja. Tentang dirinya … sebagai serigala.

Saat tangan itu terlepas dari dahinya, sinar itu pun lenyap seketika. Bayu membuka matanya, sorot matanya berubah cerah. Kepahaman mulai menyusupi hatinya. Dan gadis di hadapannya tersenyum makin lebar.

“Itu … aku?”

Gadis itu pun mengangguk.

 

***

 

Dahulu, ada Serigala Pengembara yang selalu melolong pada Bulan. Ia melewati begitu banyak padang, bukit, gunung, hanya untuk melolong pada Bulan. Ia mengembara melintasi dunia demi menemukan puncak tertinggi, agar lolongannya dapat terdengar Bulan. Ia mengembara hingga batas lautan, berenang menjemput laut pasang. Ia tahu, pasang laut disebabkan oleh Bulan. Ia hanya berharap dalam hati agar Bulan mau menariknya mendekat bersama pasang laut. Tapi, hal itu tetap tak mampu membuatnya mendekat pada Bulan.

Dilihatnya bayangan Bulan yang terpantul di riak laut. Ia pun berlari mengejarnya, lantas berusaha meraihnya saat bayangan Bulan sudah mencapai jangkauannya. Tapi, bayangan tetaplah bayangan, yang bisa pecah hanya karena sibakan kecil. Serigala Pengembara pun tertunduk. Ia melolong kembali.

Pada saat itu, angin berdesau lirih, membawa pesan dari Langit yang mempertanyakan tindakan serigala. Serigala Pengembara pun menengadah. Ia berharap Langit mau mendengar bahwa ia hanya ingin mencintai Bulan. Ia hanya ingin Bulan tahu bahwa ada seekor Serigala Pengembara yang mencintainya dengan tulus.

Maka, Langit pun memberikan satu kesempatan untuk memeluk Bulan, dengan syarat bahwa Serigala Pengembara takkan menginginkan balasan pelukan dari Bulan. Juga agar Serigala Pengembara berhenti melolong setelahnya. Serigala Pengembara pun setuju.

Langit memegang teguh janji Serigala Pengembara. Sebagai gantinya, ketika janji itu terlanggar, Serigala Pengembara akan hancur berantakan di angkasa dan mengembara di sana selamanya.

 

***

 

Bayu tercenung. Itulah kisah yang dulu pernah didengarnya dari Sandi. Kisah yang membuatnya gelisah selama beberapa bulan. Ia tahu, dulu ia selalu tahu. Bahwa ada satu kepingan ingatan yang hilang dari benaknya. Tapi, ia selalu menolak bahwa kepingan ingatan yang hilang itu adalah ingatannya sebagai Serigala Pengembara. Tapi, sekarang? Setelah gadis itu mengembalikan ingatan itu kembali, bisakah ia menyangkalnya?

“Aku mendengar, Serigala. Aku selalu merasakan lolonganmu.”

Kata-kata gadis itu begitu dalam menyusupi kalbunya. Bayu tak butuh keraguan itu lagi. Yang ia butuhkan hanyalah gadis itu di sisinya.

“Pada akhirnya, janji itu kulanggar juga,” sahut Bayu kemudian. Gadis itu menoleh. Kembali, mata mereka bertemu. “Pada akhirnya, waktu aku tahu harus pergi, aku tetap minta kamu balas memelukku. Aku beneran lupa kalau Langit mengawasiku.”

“Itu salahku. Keberadaankulah yang membuatmu seperti ini.”

Bayu hanya menggeleng. “Nggak kok. Tetap aja aku yang salah. Aku menjanjikan cinta tulus yang nggak akan pernah meminta. Cinta yang sanggup melepaskan. Cinta yang membebaskan. Cinta itulah yang meledakkanku dan membuyarkanku ke angkasa. Bukan kamu.”

Gadis itu tertunduk. Dengan sorot mata pilu, ia mulai menekuni lantai.

“Tapi, Langit begitu baik,” Bayu berkata kembali pada gadis itu, membuat gadis itu mampu mengangkat kepala kembali, dan menatap Serigala Pengembara-nya dengan tatapan lembut seperti biasa. “Langit nggak bisa melihatmu terus saja sedih. Langit menyatukanku lagi dalam wujud ini. Mungkin, agar kita bisa ketemu lagi seperti sekarang.”

“Tapi, hanya sampai akhir gerhana.”

“Kenapa gerbang langit cuma terbuka waktu gerhana?”

“Kamu tahu kenapa bulan berubah merah saat gerhana?”

Bayu mendesah. Ya, entah bagaimana pengertian itu mendatanginya begitu saja. Ia tahu begitu saja. “Waktu aku melanggar janji, Langit membuyarkanku di sekitarmu. Aku ini serigala merah. Jadi, pasti buyaranku pun berwarna merah.”

“Langit masih menyimpan sisa-sisa buyaranmu. Entah sudah berapa kali Langit menebarkannya. Aku baru menyadarinya akhir-akhir ini … bahwa itu ditujukannya agar aku bisa ke bumi … menemuimu. Maafkan aku, karena terlambat.”

“Telat apanya? Kamu nggak telat.”

Keduanya pun tertawa bersama. Mereka menghabiskan malam itu, bersama bulan merah yang menghiasi angkasa.

 

***

 

Pukul 4.45 dini hari.

Perlahan-lahan, bayangan umbra menghilang dari permukaan bulan. Bayu bisa membedakannya sekarang. Mana permukaan gelap akibat bumi dan mana permukaan terang akibat matahari.

“Aku harus pulang sekarang. Saat bayangan umbra lenyap total, gerbang akan benar-benar tertutup.”

Bayu menatap gadis itu lamat-lamat. Ia benar-benar tak ingin gadis itu pergi. Tapi, ia tahu bahwa ia tak boleh egois. Ia tak mau mengecewakan Langit sekali lagi.

“Apa kita bisa ketemu lagi?”

“Selama bulan masih bisa membara, aku akan selalu datang padamu.”

“Gimana kalau aku kangen?”

“Aku akan selalu ada di langit malam.”

“Kalau lagi mendung?”

“Kamu akan tahu bahwa aku berada di balik mendung itu. Aku selalu di sana.”

Bayu pun tersenyum. Ya, ia tahu itu. Bulan akan selalu berada di tempatnya. Di tempat di mana lolongan hatinya selalu tertuju.

Ketika gadis itu hendak melayang, Bayu sadar bahwa tangan mereka masih bertaut. Hatinya didera ragu. Ia tak mau melepaskannya, tapi ia juga tak bisa membiarkan gadis itu tak bisa pulang.

Akhirnya, ia membulatkan tekad. Ia tak mau mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Perlahan, dilepaskannya tangan gadis itu. Sekarang ia hanya bisa melihat gadis itu dari jauh. Melihat gadis itu yang terbang menjauh masih dengan tatapan lembut yang tertuju pada Bayu. Tidak lama, gadis itu berbalik dan menuju tempat seharusnya ia bertakhta.

Bayu telah memutuskan. Ia akan belajar. Belajar untuk mencintai dengan tulus, melebihi yang ia bisa. Belajar untuk memberi, tanpa harus meminta kembali.

 

Bulan membara, memerahkan langit oleh sebab cahaya yang hilang.

Keremangan datang, terlumur bumi oleh bayang-bayang gamang.

Pada saat itu, di tempat kala pertama kita bertemu….

Apa kamu mau menungguku?

 

Pada akhirnya, Bayu bisa tersenyum. “Akan kutunggu. Akhir tahun nanti, di sepertiga Desember.”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ekonostra
ekonostra at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 10 weeks ago)
70

hai... kita berjumpa lagi. cabein dikit yah biar tambah sedep... :)
aku pikir jalan cerita dan judul tak ada sinkronisasinya. aku lebih menangkap cerita yang sedang mengisahkan sang srigala, bukan sand dewi bulan. selain itu, kata-katamu terlalu sesak memelukku...

Writer nagabenang
nagabenang at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
80

aah... cerita percintaan reinkarnasi yang cukup menarik :) narasinya juga lumayan, keep writing yah ^^

(sori aku gag bisa komen banyak2 klo cerita teenlit beginian, hahaha, bukan genre saiya ini ^^;)

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
100

Ini keren!
.
Hum hum +1 dansou, lompat-lompat babak agaknya bisa bikin "pembaca teenlit sejati" bingung. Entahlah. Saia aja rada bingung (meski akhirnya ngerti bahwa itu maju-mundur).
.
Sekali lagi, ini keren!

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
100

Hehe... Baru liat teenlit begini, aneh tapi keren Ao... XD

Writer aocchi
aocchi at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

sudah saya bilang kalau saya gak pernah bisa bikin teenlit, malah tantangannya dapat yang teenlit *pundung
eh? memang aneh sih ==a

Writer hereisme
hereisme at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
100

kurang teenlit, tapi kereen :D thummbs up!
mampir ya http://id.kemudian.com/node/256355 :) minta cabenya

Writer Yafeth
Yafeth at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
80

Kelewat berat untuk teenlit. Karakternya menarik, sih. Terutama Bulan.

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
90

i liked it ^^
menurutku ini sudah masuk semua aspeknya d^^b

Writer herjuno
herjuno at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
100

Sebagai apresiasi, saya kasih nilai penuh dulu. Penjabarannya nanti sama si Kumiiko.

Writer cnt_69
cnt_69 at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
100

Waaa..keren ini!
Pendapat awam aja,ak g trlalu ngrti crita soalnya. Teenlitnya agk tenggelem sm fantasy ya.tapi keseluruhan aku suka banget critanya..gudlak yaa

Writer KD
KD at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
100

good

Writer Zhang he
Zhang he at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
90

Wooooo lulus deh lulus!

Writer aocchi
aocchi at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

semoga ... semoga >_<

Writer cat
cat at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
80

Teenlit yah, kurang anak muda kali yah. Ato semua cerita anak muda yg ku baca beda. ‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª.

Romantisnya dapat, sendunya keren, fantasynya pas.

Tp keknya perpaduan antara bahasa baku n bahasa gaulnya agak kurang nge mix. Aku masih merasa kata2 kayak nggak dsb lebih enak pake kata tidak.

Btw akuuu sukaaaa cerita ini.

Writer lavender
lavender at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

mbak Catz, sepertinya kita menemukan kandidat pelanjut ETERNITY.. hehe..

Writer aocchi
aocchi at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

apa itu Eternity? *plak

Writer lavender
lavender at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

http://kemudian.com/node/252877
suatu kehormatan jika kamu bergabung.. hehe..

Writer dansou
dansou at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

Waaah... Kak Lav nyari korban baru :D. Hihihi. Ayo Kak Ao, ambil aja tawaran kak Lav! *nimbrung*

Writer aocchi
aocchi at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

Gyaaaa!! Itu kru kolabnya para master ... gak berani saya >_<

Writer lavender
lavender at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

Laaaahhh saya aja bukan master terseret ke dalamnya.. >_<

Writer aocchi
aocchi at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

saya pernah pakai yang seperti itu (pakainya 'tidak', bukan 'nggak'), tapi dibilang terlalu kaku, Tante >_<
Makanya, nulis teenlit itu saya selalu merasa serba salah.... pakai bahasa baku di dialog kok ya gak pas ... tapi pakai bahasa biasa juga aneh....
apa karena narasi saya ya? ==a
mungkin karena itulah saya selalu gagal bikin teenlit ya? *plak

Writer dansou
dansou at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)
2550

Uwooooo! Yang ini keren banget Kak Ao (nyingkat nama sesuakanya). Teenlitnya dapet, fantasinya oke, dan ada bonus romantisnya. Nggak nyangka kalo bisa bikin tantangan kak Juno jadi segini kerennya.
.
Saya udah baca beberapa karya kak Ao dan entah kenapa ada ciri khas yang ilang waktu bagian awal. Nggak tahu juga sih, mungkin saya yang sotoy banget. Tapi ciri kak Ao muncul lagi di pertengahan cerita sampai ending.
.
Terus, scene yang melompat2 ini saya pikir terlalu membingungkan buat remaja. Sebenarnya nggak masalah, sih, asal konsentrasi penuh bacanya, tapi tujuan teenlit adalah menghibur remaja melalui bacaan. Kesannya cerita ini terlalu berat. Aduh, mulai sotoy deh.
.
Ah, apakah bener bakal ada gerhana bulan lagi tanggal 10 Des?
.
Udah ah. Itu komen saya. Maaf kalo nggak bermutu dan berkenan. Saya yakin kak Ao lulus deh tantangan ini

Writer aocchi
aocchi at Program Tantangan: Dewi Malam (9 years 12 weeks ago)

hahaha ... gak apa2, saya kan memang biasa dipanggil Ao *plak
.
hee? saya bahkan gak tahu kalau punya ciri khas.... ==a
.
Saya stress mikirin teenlit (memang selama ini selalu gagal sih bikin teenlit, syukur syukur kalau yang ini lulus) ... dan sepertinya kisah yang ringan buat remaja pun gagal saya sajikan di sini *dirajam seisi kekom*
.
iya sih, menurut beberapa sumber, tanggal 10 Des bakal ada gerhana bulan lagi (kali ini gak boleh kecolongan nonton lagi) >_<