Rian de Aiféala

Malam ini, udara terasa dingin. Meski masih mengenakan kemeja lengan panjang lengkap dengan jas berwarna hitam, tapi rasa dingin masih menggigit. Aku tidak tahu persis, apakah cuaca memang lagi tidak bersahabat karena hujan sore tadi, atau jangan-jangan ada yang tidak beres dengan diriku.

Entah apa yang mendorongku untuk datang ke tempat ini. Padahal selama meeting tadi, aku membayangkan nikmatnya berendam dalam bathtub, setelah itu tidur selama mungkin, sampai besok pagi supir kantor terpaksa mengetuk pintu kamar hotel, mengingatkan kalau jadwal penerbanganku pukul 1 siang.

Hari ini aku sangat lelah. Proyek pengembangan daerah pariwisata di propinsi Bengkulu benar-benar menguras energiku. Desain infrastruktur di beberapa lokasi wisata yang dianggap potensial itu membuatku hampir gila. Terlalu banyak target yang harus dipenuhi. Ternyata berurusan dengan organisasi pemerintahan perlu banyak kebijakan yang tidak masuk akal, dan perusahaan dituntut lebih fleksibel dalam menangani proyek agar berjalan lancar dan tentu saja tepat waktu. Itu sebabnya ketika Pak Handoko menyatakan akan ikut dalam lelang tender proyek tersebut, aku sangat terkejut karena selain tidak menjanjikan profit tinggi, pihak pemenang tidak dibenarkan terikat kontrak kerja dengan pihak lain selama proses atau harus membayar denda yang nilainya sangat besar. Itu sama saja artinya menolak rejeki.

Sebenarnya begitu selesai rapat tadi, rekan-rekan sekantor mengajakku nongkrong di Cafe Batavia, salah satu kafe tersohor di Kota Tua karena menghadirkan konsep klasik jaman Kolonial Belanda. Aku menolak ajakan tersebut dengan alasan ingin beristirahat untuk persiapan keberangkatan besok. Tapi entah mengapa, di tengah jalan aku malah meminta Pak Saleh, supir perusahaan untuk lewat jalan Margonda.

Begitu sampai, aku tidak langsung turun dari mobil. Aku hanya diam, memandang gedung itu, nanar.

“Tidak usah ditunggu, Pak Saleh pulang saja,” ucapku, membuka pintu mobil.

“Lalu Tuan?”

“Saya bisa naik taksi, besok jemput saya di hotel jam 8 pagi," pesanku lalu menutup pintu mobil setelah mengingatkan pria paruh baya itu mengenai jadwal penerbanganku. Dia mengangguk, sopan.

Sepuluh menit berlalu sejak Honda CRV metallic itu pergi, tapi aku masih mematung di tempat ini.

Sebenarnya apa yang aku cari? Lima tahun lalu dia tidak datang dan aku pergi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Aku pikir, terlalu muluk untuk mengharapkan skenario ketidaksengajaan akan mempertemukan kami di sini, semisal di depan pintu masuk aku tidak sengaja menabrak seseorang yang tergesa-gesa keluar, atau dia tidak sengaja menumpahkan minumannya ketika aku akan memilih meja paling nyaman, dan kami saling mengenali satu sama lain. Lalu sepanjang malam kami menghabiskan waktu dengan mengenang masa lalu, dia meminta maaf sambil menyatakan alasan yang paling masuk akal atas ketidakhadirannya hari itu, selanjutnya kami pulang sambil bergandengan tangan. Terlalu picisan mengharapkan semua itu, hanya ada dalam sinetron-sinetron di televisi. Kalau begitu, sebenarnya apa yang sedang aku cari? Mengapa aku tidak pulang saja lalu menghabiskan sisa malam dengan beristirahat sehingga ketika bangun besok tubuhku terasa lebih prima.

Tapi akhirnya aku melangkah juga ke sana. Mendorong pintu, termangu sejenak, lalu melempar pandang ke setiap sudut ruangan. Seorang resepsionis menyambutku dengan ramah, mempersilahkanku untuk memilih meja paling nyaman setelah sebelumnya bertanya, apakah aku merokok atau tidak.

Aku memilih sofa di sudut ruangan. Seorang pelayan menghampiriku, menyerahkan daftar menu, dan bertanya apa mau pesan sekarang atau sedang menunggu orang lain. Aku menggeleng, lalu memesan segelas Cappucino dan French Fries dengan mayonnaise 3 warna. Si pelayan mencatat pesananku sebentar, kemudian bertanya lagi, ada pesanan lain. Aku menggeleng lagi. Dia pamit dan meninggalkanku sendirian. Aku menunggu. Menunggu makanan diantar, menunggu kenangan menghajarku.

Malam ini pengunjung tidak begitu ramai. Hanya ada aku, lalu sepasang kekasih yang kutaksir masih di bawah umurku, lalu sekelompok wanita yang sedari tadi ketawa-ketiwi, memecah keheningan tempat ini. Mungkin efek hujan tadi sore sehingga rang-orang malas untuk keluar. Tidak ada yang mau terjebak macet karena beberapa ruas jalan tergenang banjir. Musim hujan ternyata tidak selama mendatangkan kegembiraan apalagi suasana romantis seperti yang disajakkan para penyair. Di Jakarta, hujan yang berkepanjangan berarti bencana.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan tempat ini bahkan pilihan menu yang ditawarkan juga sangat standar, Cappucino atau French Fries, menu yang banyak ditemukan di tempat lain. Bila dibandingkan dengan Café Batavia yang menghadirkan suasana klasik dengan konsep interior yang memanjakan mata pengunjung, maka tempat ini sama sekali tidak menarik. Hal yang mungkin membedakan Book Kafe dari kafe-kafe biasa lainnya adalah konsep perpustakaan modernnya. Koleksi buku yang lengkap dan sangat up to date, sofa-sofa yang nyaman dan koneksi Wifi menjadi daya pikat tersendiri sehingga kafe ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

“Kamu koq senang banget ke tempat ini.”

“Terus mau di mana?”

“Tempat lain kek, aku pengen makan Steak.”

“Ya sudah, kamu pergi sendirian aja, aku mau ke Book Kafe.” Suaranya datar, berjalan terus, meninggalkanku sendirian.

“Tapi, De…” Aku berusaha protes sambil mensejajarkan langkah dengannya. Dia tidak menyahut.

“Aku tidak memaksa, kamu pergi aja,” ucapnya sebelum mendorong pintu Book Kafe. Dia tersenyum pada resepsionis yang lebih dulu menyapanya dengan ramah. Mereka telah saling kenal, berbincang sebentar, lalu tertawa bareng. Dia melangkah menuju sofa yang berada di sudut.

“Gak jadi makan steak?”

Aku cuma menggeleng, kesal karena sekali lagi kalah akan kekerasan hatinya. Dia tersenyum, memesan segelas cappuccino dan French Fries dengan mayonnaise tiga warna. Selalu saja menu yang sama. Apa tidak bosan? Setelah itu dia akan sibuk dengan bacaannya. Melupakan keberadaanku dalam rentang waktu yang tidak terbatas.

Aku melepas tas yang kusandang, lalu mengeluarkan netbook. Aku lebih memilih browsing ketimbang bengong. Menu makanan yang baru diantarkan tidak akan cukup mengusir rasa bosanku. Begitu makanan habis, aku pasti terserang bosan yang berkepanjangan.

“Pesanannya, pak.”

Lamunanku pecah. Seorang pelayan memindahkan cappuccino dan French Fries dari nampan ke atas meja dengan hati-hati, lalu mempersilahkanku untuk menikmati. Aku mengangguk, tersenyum tipis sebagai ucapan terima kasih tapi tidak berniat menyantap hidangan tersebut. Tempat yang sama, hidangan yang sama, tapi hatiku tidak sama lagi.

Aku tercenung, memandang setangkai bunga Daisy dalam vas bunga kristal yang menghias meja.

“Kamu tahu cerita tentang bunga Daisy ini?”

“Memangnya nama bunga ini Daisy?”

Dia menggerutu akan leluconku yang dianggapnya tidak lucu.

“Memangnya apa yang istimewa dari bunga Daisy?” Melihat mukanya yang tertekuk itu, aku meralat ucapanku segera, berpura-pura antusias, ingin tahu mengenai bunga Daisy.

Dia menyeruput cappucino yang tinggal separuh lalu membetulkan posisi duduknya. Aku tahu, bila sudah begini, ceritanya pasti akan sangat panjang dan tentu saja membosankan.

“Bunga daisy termasuk family asteraceae sama halnya seperti bunga aster atau sunflower. diperkirakan jumlahnya mencapai 10 persen dari semua tumbuhan berbunga di bumi.” Dia menjelaskan dengan serius, mirip dosen Tipologi Arsitekturku yang membosankan itu. “Salah satu ciri bunga ini yaitu membuka petalnya pada pagi hari saat matahari terbit dan menutupnya kembali pada saat matahari terbenam. Bunga ini terkenal bisa menyembuhkan penyakit penyakit tertentu.”

Aku mengangguk. Sebenarnya tidak tertarik dengan ceritanya. Menurutku bunga itu sama saja, hanya bentuk dan warnanyayang berbeda. Tapi menyela apalagi menyuruhnya berhenti menjelaskan, sama saja dengan cari perkara.

“Bunga Daisy ini dinobatkan sebagai bunga simbol kelahiran bulan april dan diberi arti sebagai kerendahan hati, kestabilan, suci, simpati dan keceriaan.”

Dia memang tipe melankolis, pemikir, dan selalu menanggapi sesuatu dengan berlebihan, termasuk mengkaitkan bunga-bungaan ini dengan kehidupan, seperti penjelasannya barusan yang mengatakan bunga ini simbol kelahiran bulan april.

“Berarti bunga ini mewakili dirimu yah, De...Kamu lahir di bulan April, kan?” komentarku. Dia mengangguk. Aku mengangguk pelan sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjukku di pelipis.

“Tapi koq, tidak pas yah. Kamu koq tidak secantik bunga ini?”

Pluk!

Tutup pulpen mengenai mukaku. Aku terkejut.

“Makanya, jangan asal komentar.”

Aku cengengesan.

“Asal kamu tahu, bagi para pencinta di dunia, bunga ini melambangkan kemurnian, atau cinta yang sepenuhnya.” Seulas senyum mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar itu. Terlihat sangat cantik. Dan bagian terakhir ini yang paling aku suka.

Sebenarnya aku tidak menyukai tempat ini, selain menu yang ditawarkan tidak bisa memenuhi selera makanku juga tempatnya yang biasa saja. Tidak ada live music. Hanya lagu-lagu jazz yang diputar dengan volume rendah yang memenuhi ruangan ini. Aku mau datang ke Book kafe ini semata-mata karena dia, perempuan yang menyembunyikan mata indahnya di balik frame kaca mata dan raut wajahnya  yang serius itu. Tapi aku suka memandang mimik serius itu apalagi ketika dia bercerita dan menjelaskan sesuatu, alisnya sedikit terangkat, sinar bola matanya berpendar-pendar, menembus lensa kaca mata, jugasenyum tipis yang terulas, persis seperti saat ini.

“Kenapa melihatku seperti itu?”

“Eh, gak kenapa-kenapa.”

“Terus?”

Dia menatapku tajam. Aku kebingungan menjawabnya.

“Aku lapar,” sahutku kemudian.

“Dasar! Memang tidak ada hal lain dalam otakmu itu selain masalah makan dan makanan.” Dia mengomel dengan jawaban asalku. Aku hanya bisa tersenyum lebar.

“Tapi aku beneran lapar.”

“Pesen aja lagi,” jawabnya acuh. Kembali menyesap teguk terakhir minumannya lalu tenggelam kembali dalam bacaan. Lagi-lagi aku teracuhkan oleh buku-buku itu.

Aku memanggil pelayan, memesan lagi. Aku bertanya, dia mau memesan lagi atau tidak. Dia hanya berdehem. Aku benar-benar terlupakan.

Ponselku berbunyi. Pesan singkat dari atasanku, mengingatkan kalau konsep gambar rancanganku mesti dibawa besok. Aku tersenyum sinis, merasa disindir atas kebiasaan pelupaku. Kebiasaan buruk yang kerap menjadi pemicu perang dingin di antara kami.

“De, maaf. Tadi pas kamu telpon, aku baru bangun,” kataku dengan napas terengah-engah. Aku mencarinya di tiap sudut kampus, tapi hasilnya nihil. Lalu mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Shafira juga bilang kalau dia belum pulang ketika aku menelepon ke rumahnya. Satu-satunya tempat yang mungkin didatanginya hanya kafe ini. Benar, aku menemukannya di sana, tapi dengan wajah tertekuk.

Aku memang berjanji akan menemaninya saat seminar hasil hari ini, tapi tugas membuat maket rumah susun memaksaku begadang sampai subuh. Alhasil, aku telat bangun, dan melewatkan hari ini. Saat aku datang, ruang seminar sudah sepi, hanya ada tukang sapu yang sibuk merapikan meja dan menyapu lantai.

“De, Gimana Seminarmu tadi?”

Dia masih diam.

“De, bilang sesuatu. Jangan cuma diam.” Aku tidak suka kalau dia diam karena tidak tahu pasti, apa dia menerima maafku atau masih marah. “De, aku benar-benar minta maaf, semalaman aku begadang buat menyelesaikan tugas, baru jam 4 pagi tadi selesai. Aku gak ingat kalau kamu seminar hari ini, beneran maaf.”

Dia belum juga menyahut, sibuk membaca dengan buku sedikit terangkat, sehingga separuh wajahnya tertutup. Putus asa, akhirnya aku memilih diam. Semenit kemudian dia meletakkan bukunya di atas meja. Aku terkejut melihat raut mukanya yang sedih. Dugaan buruk melintas di kepala, apa dia tidak lulus? Perasaan bersalah semakin menjadi-menjadi.

“De?”

Dia menghela napas, panjang, kian membenarkan dugaanku.

“Kamu tidak lulus, De?” tanyaku menyelidiki, dia menggigit bibirnya. Aku pindah posisi duduk di dekatnya. Aku pikir, dia akan merebahkan kepalanya di bahuku, mengadukan peristiwa seharian ini sambil menangis tersedu-sedu. Tapi,

Puk!

Satu remukan kertas yang entah dari mana, atau di sembunyikannya di mana, mengenai mukaku. Aku kaget. Tawanya pecah.

“Rasain! Makanya jangan sekali-kali berani tidak menepati janji.”

Ah, bila ingin memberi pelajaran padaku karena sering mengingkari janji sehingga dia tidak datang hari itu, aku benar-benar jera. Tapi, aku tidak pernah tahu alasan apapun karena dia tidak pernah mau menemuiku pada saat-saat terakhir.

Aku meneguk cappuccinoku. Senyum itu melintas lagi. Sapa akrab juga tawanya yang renyah. Lalu wajah seriusnya saat membaca, ceruk-ceruk tipis di keningnya, juga cara dia memperbaiki letak kaca mata yang melorot, termasuk omelan-omelannya akan kebiasaan burukku.

Damn! Ini benar-benar konyol!

Aku mengutuk diri sendiri karena larut dalam kenangan masa lalu. Aku menziarahi lampau yang susah payah ingin kubuang. Dan seperti mimpi buruk, ia mengikuti kemana pun aku melangkah.

Semestinya tadi aku tidak meminta Pak Saleh lewat jalan ini. Seharusnya aku langsung saja kembali ke hotel, menghabiskan malam dengan beristirahat lalu besoknya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta dan kembali tenggelam dalam rutinitasku yang membosankan. Aku bangkit, tidak berniat menghabiskan cappuccino yang tersisa apalagi French Fries yang belum kusentuh, ingin meninggalkan tempat ini secepat mungkin.

Memang tidak seharusnya aku berada di tempat ini.

Aku semakin mempercepat langkahku, ingin segera mengakhiri kekonyolan ini. Tapi,

Brukk!!

“Maaf,” ucapku, menyesal karena tidak memperhatikan langkah. Perempuan dengan rambut sebahu, yang baru saja kutabrak itu mengangguk sambil berkata tidak apa-apa.

Aku meneruskan langkah. Tidak peduli kalau dia terus memandangiku dengan keheranan seperti sedang mengingat-ingat.

“Ricky?”

Langkahku merandek, bingung karena merasa seseorang memanggil namaku. Aku membalik badan, dia melangkah ke arahku.

“Ricky Hermawan?”

Dia bertanya, memastikan kalau ingatannya tidak keliru. Aku mengangguk ragu, memandangnya penuh selidik sambil berusaha mengenalinya. Tapi sepertinya waktu telah benar-benar menguras ingatanku, sayangnya tidak dengan kenangan itu.

“Stella, saya Stella Rompis, teman sekampusmu dulu, ingat?” ujarnya, berusaha membantuku mengingat-ingat kembali. Tapi mahasiswa alumni Universitas Indonesia begitu banyak, dan aku tidak bisa mengingatnya satu per satu.

“Deandra? Deandra Deswita. Kau pasti mengenali nama itu.”

Seperti tersengat lebah kepalaku saat dia menyebutkan nama itu.

 “Aku teman Deandra, kami dulu satu fakultas tapi berbeda jurusan,’ dia menjelaskan lagi.

Dan aku terpaksa kembali ke sofa yang sempat kutinggalkan tadi. Sebenarnya enggan mengikuti ajakannya untuk kembali duduk. Aku mencoba mengajukan berbagai alasan, tapi katanya, dia ingin memberitahu sesuatu, mengenai Deandra, nama yang baru saja disebutkannya.

            Apa lagi yang musti kudengar? Bahwa dia memang tidak pernah berniat datang menemuiku hari itu? Bahwa dia tidak mau mendengarkan permintaan maafku, apalagi menjawab pertanyaan yang kusampaikan melalui seupucuk surat yang kutitipkan pada Shafira, adiknya?

***

 “Besok hari jadi kami, Rick. Aku ingin sekali menghabiskan waktu seharian bersamanya, tapi sepertinya itu tidak mungkin,” ucapnya dengan lirih, seperti bergumam. Hari ini dia tidak mengajakku ke Book Kafe, tapi jalan-jalan tanpa tujuan mengelilingi kampus.

Aku tidak tahu berkata apa untuk mengurangi kegusarannya. Mata itu redup. Aku sangat tidak suka melihatnya seperti ini. Seharusnya Kevin merasa beruntung dipilih Deandra, bukan malah membuatnya sedih, aku menggeram, kesal.

Setelah itu dia tidak mengatakan apa-apa lagi, terus melangkah dengan tatapan kosong, sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah sudah berapa lama kami berjalan, aku tidak menghitungnya lagi. Aku hanya berusaha mensejajarkan langkah dengannya, tanpa tahu harus berbuat apa atau mengatakan apa. Aku melihat gurat kelelahan, wajahnya memerah tersengat terik. Meski sudah hampir pukul empat sore, tapi matahari masih sangar, memanggang kulit hingga perih.

“De, kita pulang saja,” ajakku, iba melihatnya seperti ini. Dia menoleh, memandangku lurus. Aku membujuknya lagi, jangan terlalu menyiksa diri, nasihatku.

“Aku mau ke Book Kafe, Rick. Kamu pulang saja.”

Aku menggeleng.

“Aku ikut.”

“Jangan keras kepala, aku ingin sendirian.”

“Tapi, De?”

“Aku bilang, pulang saja. Gak usah ngikutin aku terus,” suaranya meninggi. Setelah itu dia menangis. Dadanya terguncang hebat. Aku meraihnya, menenangkannya dalam pelukanku.

“Aku sangat mencintainya, Rick. Aku sangat mencintainya,” isaknya, terbata-bata. Aku mengelus rambutnya yang terurai. “Sudah dari awal aku tahu, sifatnya yang cuek itu, semestinya aku sudah terbiasa. Tapi, aku juga pengen seperti pasangan lainnya.”

Aku masih tidak mengatakan apapun.

Dia melepaskan pelukanku, mengusap air matanya. lalu melangkah lagi. Aku ikut melangkah di sampingnya. Dia menarik napas panjang kemudian dihelanya perlahan, berharap dengan begitu beban yang menyesak bisa ikut keluar.

“Sebagai seorang menteri di BEM, wajar sekali dia sangat sibuk, banyak hal yang harus dilakukannya. Seharusnya aku mendukungnya, bukan malah menuntut seperti ini.” Ucapan itu terdengar seperti sedang memberi pengertian pada dirinya sendiri.

Dia menghentikan langkah, memandangku lekat.

“Aku berlebihan yah, Rick?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seandainya bisa, aku ingin berkata padanya, tinggalkan Kevin. Dia tidak pantas menjadi kekasihmu. Sesibuk apapun semesti dia mengingat Deandra, kekasih yang sangat mencintainya, bukan menelantarkannya. Bahkan bila mungkin, seharusnya dia melibatkan Deandra dalam banyak hal dalam hidupnya.

Tapi aku juga tidak lebih baik dari Kevin. Aku dan Deandra sudah berteman sejak lama, dan aku menyukainya bahkan sebelum kehadiran seorang Kevin. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Ada ketakutan yang berlebihan tiap kali aku ingin jujur di hadapannya. Ketakutan kalau persahabatan kami akan renggang karena pengakuanku. Alasan klise itu benar-benar membuatku menjadi pesakitan. Memendam perasaan suka itu sangat menyakitkan, tapi yang lebih menyakitkan melihat dia seperti ini, tanpa bisa melakukan apa-apa.

“Sudahlah, tidak perlu dijawab,” ucapnya kemudian, lalu melangkah lagi. meninggalkanku di belakang. Aku ingin saat ini juga menarik tangannya, mengatakan padanya, jangan berpura-pura kuat lagi. Tapi sama seperti sebelumnya, aku bersembunyi dalam diamku.

***

Pukul 2 siang, aku baru bangun. Tugas Akhir benar-benar membuatku lelah belakangan ini. Jadwal tidurku berantakan, dan kepalaku hampir pecah. Untunglah, semua usahaku tidak sia-sia, dosen pembimbing telah menyetujui bab terakhir skripsiku, artinya aku bisa ikut wisuda semester ini.

Aku mengusap wajah, menguap lebar, lalu menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu. Sisa peralatan dan bahan untuk membuat maket masih berantakan di lantai dan aku belum berniat merapikannya. Hari ini tidak ada jadwal bimbingan, Pak Heru memintaku untuk membawa Draft lengkap dan lembar persetujuan terakhir minggu depan.

Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika pintu kamar kosku diketuk. Rasanya aku tidak punya janji hari ini. Buru-buru aku menggantungkan handuk yang baru kupakai untuk mengeringkan rambut, mengenakan kaus putih yang kuambil dari dalam lemari, lalu membukakan pintu.

“Deandra?”

Dia langsung menubrukku, menangis dalam pelukanku sejadi-jadinya. Aku semakin bingung. Pasti telah terjadi sesuatu.

Aku menuntunnya masuk.

Dia terlihat kacau, wajahnya kusut, matanya sembab. Dia duduk di pinggir ranjang, masih terisak. Aku mengambilkan segelas air putih biar dia sedikit lebih tenang.

“Kamu kenapa, De?” Aku duduk di sampingnya, siap mendengarkan penyebab tangisnya hari ini. Dia masih tergugu.

“Aku gak nyangka, Kevin tega melakukannya,” ucapnya, terbata-bata.

Kevin? Apa yang telah dia lakukan sampai Deandra menangis seperti ini.

“Hari ini ulang tahunnya, aku datang ke kosnya, berniat ngasih kejutan, tapi…”

Dia menangis lagi, membenamkan wajahnya dalam pelukanku.

“Dia selingkuh, Rick. Dia selingkuh,” tangisnya kian kencang. Dadaku bergemuruh mendengarnya. Tinjuku terkepal.

Dia terus menangis hingga kelelahan. Tangisnya menghilang perlahan-lahan, hanya bahunya yang masih terguncang. Dia meregangkan pelukan.

Aku menyentuh wajahnya dengan kedua tanganku, menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggantung dengan perlahan. Dia memandangku, meletakkan tangannya di atas tanganku.

Bahkan dengan mendung sepekat ini, matanya masih terlihat sangat indah. Sepasang mata pualam yang menyeretku dalam gejolak perasaan yang selama ini berusaha kutekan biar padam. Tapi kali ini aku tidak bisa menahan geliatnya. Wajah Deandra terasa begitu dekat, aku bisa merasakan deru napasnya yang letih. Bibir pucatnya bergetar hebat.

Aku memang bodoh, tidak bisa mengendalikan perasaanku. Wajar, selain terkejut, dia juga sangat marah. Aku telah melukai hatinya, sama sekali tidak menghormati kondisinya saat ini. Aku benar-benar egois.

Dia menamparku keras. Bangkit sambil menggosok bibirnya berkali-kali. Sorot matanya menyiratkan kemarahan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Aku membencimu,” pekiknya lalu pergi, tanpa memberi kesempatan padaku untuk meminta maaf. Aku tidak berusaha mengejarnya karena percuma. Dia pasti sangat marah. Bodoh! Seharusnya aku menemaninya di saat-saat seperti ini, bukan malah membuat segalanya semakin kacau.

***

Setelah membaca berkali-kali akhirnya aku menekan tombol yes.

Hampir enam bulan setelah peristiwa itu, aku tidak pernah bertemu dengan Deandra lagi. dia benar-benar menghindariku. Teleponku direjectnya, demikian juga smsku tidak pernah berbalas. Aku mencoba menemuinya di kampus, tapi dia sengaja mencari jalan lain agar tidak bertemu denganku. Bahkan ketika aku menunggunya di Book Kafe, dia langsung pergi. Aku berusaha mengejarnya, tapi dia mengacuhkanku. Setelah itu tidak pernah muncul lagi di Book Kafe.

Euphoria wisuda ternyata tidak mampu menghilangkan kegusaranku. Deandra tidak datang, meski dia mengirimkan buket bunga sebagai bentuk ucapan selamat. Tapi itu sangat berbeda, dia tidak ada di sisiku untuk berbagi kebahagian.

Aku membaca selembar surat yang tergeletak di atas ranjang, bersama tumpukan ijazah, dan berkas-berkas lain dalam map biru. Surat kontrak kerja dari salah satu perusahaan developer terbesar di Indonesia. Tampaknya mereka tertarik dengan resume dan beberapa contoh konsep desainku. Aku tidak tahu mesti senang atau tidak, aku diharuskan mengikuti training di Jepang selama enam bulan. Setelah itu, aku mendapat nota dinas untuk menangani kantor wilayah bagian Sumatera.

Aku memandang ponselku. Tidak ada balasan. Sedikit harapan yang tersisa kalau dia akan merubah keputusannya dalam dua hari ini, pupus sudah. Tadi siang aku datang ke rumahnya. Aku yakin dia ada di dalam, tapi tidak mau menemuiku.

“Aku titip surat ini, Fir,” pesanku, menyodorkan satu amplop pada Shafira. Sebelum pergi, aku memandang ke arah kaca jendela rumahnya.

***

“Dia benar-benar tidak datang hari itu, dan aku sangat kecewa,” keluhku, menyandarkan punggung ke sofa, memandang nanar ke arah vas bunga Daisy. “Seandainya dia memang tidak bisa menerima, aku ikhlas. tapi setidaknya aku bisa mendengar langsung darinya dan meminta maaf atas kesalahanku. Tapi dia tidak datang, tak memberiku kesempatan sama sekali.”

“Bagaimana kalau dia sebenarnya datang menemuimu, Rick?”

Aku tersenyum sinis mendengar ucapan Stella.

“Sudahlah, tidak perlu menyenangkan aku. Pada kenyataannya dia tidak pernah datang.”

“Hari itu dia berniat menemuimu, Rick.”

Stella diam sebentar, mengambil jeda, memandang raut mukaku yang masih menyunggingkan senyum sinis.

“Sehari sebelumnya, dia datang menemuiku sambil menangis, mengakui semuanya kalau dia juga merasakan hal yang sama denganmu. Hanya perasaan terguncang saat peristiwa itu membuatnya merasa kamu juga sedang mempermainkannya, mengambil kesempatan saat hatinya rapuh dan akan melakukan hal yang sama seperti Kevin, mengkhianatinya.”

Aku terdiam. Senyum sinisku hilang.

“Aku ingat perkataannya saat itu, kalau Ricky benar mencintaiku sejak dulu kenapa dia tidak pernah bilang ke aku. Mengapa dia diam saja? Aku pikir, selama ini dia tidak tertarik padaku sampai Kevin datang, dan berhasil membuatku menjadi perempuan yang berbeda.”

Stella mencondongkan wajahnya, memandangku tajam. Aku tersudut.

“Kau tahu, Kevinlah yang membuatnya berhasil melupakan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan kebungkamanmu  telah berhasil membuatnya percaya, kalau kau tidak punya perasaan apa-apa padanya. Tapi hari itu, dia bilang, kalau ingin mendengar pengakuan itu langsung darimu.”

“Aku tidak ingin menyesal, La. Aku sangat mencintai Ricky."

“Lalu kenapa dia tidak menemuiku?”

Stella gantian tersenyum sinis.

“Hari itu ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung dan mesti dilarikan ke rumah sakit. Aku ada di sampingnya saat itu. Saat kondisi Ayahnya mulai stabil, aku menyarankannya untuk menemuimu, tapi terlambat sudah. Kau sudah tidak ada. Dia bertanya ke resepsionis, katanya kau telah pergi. Sialnya, ponselmu sama sekali tidak bisa dihubungi.”

Aku terdiam. Karena kecewa, aku memutuskan untuk meninggalkan semua kenangan tentangnya di tempat ini. Aku mematahkan SIM CARDku, menonaktifkan akun jaringan sosialku, alamat emailku, dan segala sesuatu yang bisa menghubungkanku dengannya.

Pukul sebelas malam. Kafe tutup. Aku dan Stella berpisah saat itu juga. Dia memberikan sebuah amplop lusuh padaku. Aku sangat mengenalinya, surat yang dulu kutitipkan pada Shafira. Aku membacanya ulang. Ada nyeri di dadaku, kali ini lebih sakit saat melihat satu goresan tangan Deandra di sana.

“Dia menangis berhari-hari, Rick, menyesali keterlambatannya. Bila pengkhianatan Kevin membuatnya hancur, maka penyesalannya lebih dari itu. Kau tahu, setiap hari dia selalu datang ke tempat ini, bukan sekedar untuk duduk dan membaca, tapi dia menunggumu. Dia berharap kau pulang, dan datang ke tempat ini. Hampir 4 tahun dia melakukan itu.”

Dan aku tidak akan pernah bisa mengakui perasaan cinta ini padanya. Apalagi memeinta maaf karena telah membuatnya menunggu. Selamanya.

“Setahun lalu, dia mengalami kecelakaan, Rick, saat akan pulang dari tempat ini.”

***

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Popy RiLvia Luchan
Popy RiLvia Luchan at Rian de Aiféala (7 years 50 weeks ago)
80

:D nice

hehe mampir ya , ku tunggu kritikkan pedasnya ;)

Writer fairynee
fairynee at Rian de Aiféala (7 years 50 weeks ago)

ga mau ah. pasti cuma ngundang doank, ga baca tulisannya. :p

Writer petaktujuh
petaktujuh at Rian de Aiféala (9 years 6 weeks ago)
100

suka sangat.. :)

Writer cahya
cahya at Rian de Aiféala (9 years 6 weeks ago)
100

seratus nee....... ckckc ko bisa yah nulis sepanjang ini, jadi ngiri.com, kapan2 kita ke book cafe yak :D

salam
cahya

Writer fairynee
fairynee at Rian de Aiféala (9 years 6 weeks ago)

beneran yak, aku jadi pengen ngeliat book kafe yg sebenarnya, makasih buat referensi-nya, Furrr...
Kapan kolab lagi, hhohohoho...

Writer cahya
cahya at Rian de Aiféala (9 years 6 weeks ago)

hehe... ayu maen ke jakarta. Kolab, anytime nee... ups tp aku yg harus buka bait yah skrg? apa aku send ke inbox aja niy... xixixixixi....

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)

eniwei, arti judulnya itu apa ya Kak? ehhehehe

Writer fairynee
fairynee at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)

Rian de Aiféala = Jejak sesal

^^

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)
70

Memang sih kesannya sendu seperti yang diminta kk sun_flower
tapi mungkin karena sendu, rasanya malah jadi datar
kayak cerita yang dipanjang-panjangin (maaf ya ><)
.
Nggak tahu juga, mungkin masalah selera saya yang lebih prefer ke cerita action, misteri, atau sejenisnya XD

Writer fairynee
fairynee at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)

Hohohoho, terima kasih Kurena buat review-nya,gpp, jangan meminta maaf...^^

Diakui ada beberapa kesulitan dalam menulis cerpen ini:
1. aku make sudut pandang seorang pria, yg tergolong dewasa, pas nulis rada takut tokoh malah akan terkesan feminim.
2. jumlah kata yang cukup panjang, 3500 kata benar-benar menguras tenaga, karena selama ini kalau menulis cerpen, gak pernah lebih dari 1500 kata.
3. lagi terserang WB akut, hehehehee...

Writer lavender
lavender at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)

Huhuhuhuhuhu tragedyy.. :(

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)

lav kenapa km? hahahhahaa

Writer cnt_69
cnt_69 at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)
100

Semangkaaa! :D

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Rian de Aiféala (9 years 7 weeks ago)

kak fairynee, sy menemukan typo yg lumayan byk loh dsini...
.
trus penyempilan soal bunganya bener2 nyempil ya? dan pesan moral dari cerita ini, ak kurang nangkep..
.
ulasannya lengkap dan poinnya nanti ya... :)
.
Terima kasih sudah kurepotkan dgn ketentuan2 tantanganku :)