Program Tantangan: Akan Kutunggu

            Rumahnya sederhana, tak seberapa luas tapi indah terawat. Dapat kudengar kicau lirih sepasang burung yang bersarang di pohon di halaman kecilnya. Aku mendekati rumah bercat putih dan berlantai satu ini dan mengetuk pintunya.

            ”Assalamu’alakum!” kataku agak keras.

            Jawaban baru datang setelah pintunya kuketuk kembali. ”Wa’alaikumussalam.” Dan tak lama kemudian, pintu terbuka. Terlihatlah olehku seorang ibu tua dengan pakaian sederhana tapi dengan senyuman yang indah. ”Eh, nak Rini, pasti lagi nyariin si Adi, kan?”

            Seperti biasa, aku tertular senyuman sang ibu. ”Iya, Bu, udah pulang?”

            ”Oh belum ini, tumben sesore ini belum pulang, mungkin sebentar lagi. Mari, masuk dan duduk dulu!”

            ”Iya, terima kasih, Bu.” Kulewati pintu itu, dan kudapati ruang tamu yang memeberikan kesan tak berbeda dengan yang kurasakan di depan rumah tadi. Aku duduk, dan melihat-lihat meski tak ada pemandangan baru. Sang ibu sekarang pasti sudah di dapur untuk membuat minuman. Aku sama sekali tak ingin merepotkannya, tapi aku juga tak berhak melarangnya.

            Tak lama kemudian, sang ibu kembali dengan membawa sekaleng roti dan segelas minum. Sembari meletakkannya, ia duduk. ”Cuma ini yang kami punya, silakan!”

            ”Terima kasih, ndak usah repot-repot, Bu!”

            ”Ibu denger, nak Rini ikut cari kerja juga, ya?”

            ”Iya, Bu, buat mbantu mas Adi.” Hmm, aku tahu ibu mas Adi mungkin tidak akan suka pilihanku ini, tapi aku cukup senang mas Adi mau terbuka.

            ”Tapi sayang lho, kewajiban menafkahi keluarga kan cuma pada suami. Nak Rini sebagai istri kelak kan lebih baik pada mendidik anak. Itu lho, anak sekarang jaman sekarang pada banyak yang kena narkoba dan lain lain itu kan karena kurang perhatian orang tua.” Sudah kuduga. Aku sebenarnya juga sudah mengerti akan hal itu, aku bahkan lebih memilih seperti itu. Tapi jika aku tidak bekerja, itu juga akan memperlambat pernikahanku dengan mas Adi.

            ”Ya...” Kucoba memikirkan kata-kata yang tidak akan menyakiti hati tua sang ibu. ”Ya kalo dah punya anak, nanti berhenti kok, Bu.”

            Kemudian, aku mendengar ada motor berhenti di depan rumah.

            ”Kayaknya si Adi itu.” Sang ibu berdiri dan mencoba melihat.

            ”Assalamualakum, Ibu!” Ternyata benar mas Adi, aku kenal betul suara itu. ”Eh, Rini!” Sekali lagi aku berharap senyuman itu tulus karena kebahagiaan.

            ”Wa’alaikumussalam, kemana aja kamu. Kasihan nih, calon menantu Ibu jadi nungguin atuh.” Mimik sang ibu berubah serius.

            ”Eh, anu... sekalian nyari kontrakan.” kilah mas Adi.

            ”Nak Rini, ibu tinggal dulu, ya!” Sang ibu seolah tak menghiraukan alasan mas Adi.

            Pria itu pun duduk, di depanku. Sayang, senyumnya menghilang. ”Eh, Rin... gini...” Sudah kuduga dia akan gugup, ini sudah kesekian kalinya. Tapi tentu saja, kucoba sembunyikan kekecewaanku itu.

            ”Iya, mas, aku ngerti. Tapi, apa ya harus siap di segala sisi? Mas kan sekarang udah punya penghasilan, Rini juga ikut mbantu kok. Lagian ini udah kelamaan.” Aku harap ia ingat juga waktu-waktu dulu ketika ia selalu mengajukan alasan untuk menunda hari yang kutunggu-tunggu itu.

            ”Masalah penghasilan okelah, meskipun kamu ga perlu ikut ngurus yang ini, tapi habis nikah kita tinggal dimana? Kamu tahu juga kan rumahku ini kecil. Ga bakalan muatlah buat keluarga baru kita. Makanya tadi aku nyari kontrakan dulu.”

            ”Buat Rini ga papa mas, Rini suka kok di sini. Ibu mertua baik dan ramah, buat Rini itu juga udah cukup.”

            Mas Adi hanya diam, dan tampaknya memikirkan sesuatu.

            ”Rini ngerti mas emang masih punya masalah. Tapi kalau kita udah nikah, Rini bisa ikut bantu ngurus masalah mas. Dengan begitu hubungan kita bisa lebih manis, mas!” Aku tak tahan untuk tidak membujuknya.

            ”Ya...” Mas Adi tampak seperti menimbang-nimbang akan mengatakannya atau tidak. ”Tapi, lagian aku ngelamar perempuan seberharga kamu pake modal apa, Rin? Aku ga enak sama bapak kamu juga. Rasulullah aja ngelamar Khadijah untanya berapa coba?”

            ”Ya, kan ga wajib sebanyak itu. Rasulullah juga pernah bersabda, bahwa kita dilarang terburu-terburu kecuali dalam tiga hal, salah satunya pernikahan. Mas inget juga kan, bahwa rizki orang yang udah menikah lebih dijamin.” Untuk masalah modal ngelamar, sebenarnya aku juga membujuk ayahku agar mengizinkanku seberapa pun mas Adi mengaku belum siap.

            ”Okelah lebih dijamin, tapi apakah tetap dijamin juga jika tak terencana. Allah juga menciptakan hukum, Allah kan juga punya aturan, dan kehendakNya ya ga mungkin menyalahi aturan itu. Kalau kita tidak memiliki perantara apa pun yang dapat menolong kita, bagaimana pertolongan itu akan sampai?”

            ”Ya...” Aku kehabisan kata-kata. ”Terus, mas yakin bisa kapan?”

            ”Ya, kalau semua masalah udah selesai deh.” Oh, itu tidak menjawab pertanyaan.

            ”Tanggalnya?”

            ”Mana aku tahu, Rin. Sabarlah dulu, ya, please!”

            Ya sudahlah, barangkali mas Adi benar, aku kurang bersabar. Mungkin sebagai langkah pertama persiapanku sebagai istri, aku harus lebih percaya pada mas Adi. Tapi tetap saja, aku tak dapat menghapuskan harapanku untuk segera bersatu bersama mas Adi.

            ”Ya, udahlah mas, Rini tunggu, ya.” Aku mencoba tersenyum. ”Udah hampir maghrib, Rini pulang dulu.”

            ”Oh, ya, aku anterin deh.”

***

            Di kamar, aku duduk di depan cermin, sambil menyisir rambutku. Aku membayangkan betapa bahagianya ketika masa itu datang, masa yang telah lama kutunggu-tunggu. Entah mengapa mas Adi begitu rela mengundurnya. Semoga pilihannya tepat.

            ”Barusan dari tempatnya kak Adi kan, hayo?” Rio, adik laki-lakiku yang meski sudah masuk kuliah semester satu, tingkahnya masih seperti anak SD, menyebalkan. ”Di kampusku ada lho mbak yang udah nikah.”

            ”So what?” Oh tidak, aku terlalu tersinggung hingga tak sengaja menanggapinya. Biasanya dia itu semakin dihadapi justru semakin tak terkalahkan.

            ”Masa mbak kalah sih? Gimana e?” Tuh kan.

            Untunglah kali ini aku bisa diam, atau hatiku akan lebih teriris.

            ”Eh, Rio, kasihan kakak kamu, jangan diusilin dong!” Untunglah mama segera datang dan mengusir sang penambah masalah.

            ”Ye, gak seratus persen ngeledek sih, Rio juga ga terima kakak Rio kalah, Ma!” Untunglah dia mau segera pergi.

            Mama lalu masuk dan duduk di sampingku. Ia lalu mengelus-elus kepalaku seperti ketika aku masih kecil dulu. ”Tapi Rio bener juga lho, Nak. Tanggal berapa jadinya?”

            ”Belum, Ma.”

            ”Hah, belum? Emangnya mas Adi masih ada masalah apalagi? Dia udah dapet kerja juga, kan?” Sungguh, menurutku mimik mama terlalu berlebihan.

            ”Mas Adi masih nyari kontrakan.” kataku langsung.

            ”Ooh...” Mama mangut-mangut. ”Kalau itu mah, ga lama.”

            ”Tapi mas Adinya ga tahu pasti kapan selesai.” keluhku lagi. ”Jadinya, bisa kayak pas nyari kerja, lama.”

            ”Emangnya mas Adimu itu nyari kontrakan yang gimana? Di sekitar sini banyak kan?”

            ”Hmm...” Aku mencoba menebak apa yang mungkin ada di pikiran mas Adi saat ini. ”Yang murah?”

            ”Banyak juga lah! Eh, ya tergantung sih, murahnya segimana?”

            ”Ya, menurut ukurannya mas Adilah.”

            ”Ya udah deh, entar Mama coba tanya temen-temen Mama, barangkali mereka tahu kontrakan yang dekat dan murah.” Mama lalu berdiri.

            ”Makasih Ma, Mama baik deh!”

            ”Idih, Mama juga udah ga sabar pengin punya cucu, Nak!”

            ”Iya, iya, Ma.”

            Dan malam ini, kutempuh lagi tanpa kepastian kapan mimpi yang kunantikan itu kan terwujud.

***

            Beberapa hari setelahnya, pada pagi yang cerah dan indah, aku menyempatkan menuju rumah mas Adi sebelum berangkat kerja. Aku tahu aku akan terlambat, aku tahu mas Adi pasti sudah berangkat ketika sampai di sana, tapi biarlah, sudah kurencanakan. Aku sudah menuliskan semua informasi yang mama dapat dari teman-temannya, dan sekarang aku hendak menitipkan kertas ini pada ibu mas Adi.

            Akhirnya sampai juga. Aku melihat ada seorang yang mengantarkan sebuah surat dan diterima ibu mas Adi. Ketika aku tiba di depan rumahnya, orang itu telah beranjak, dan sang ibu menyapaku. ”Eh, nak Rini, tumben pagi-pagi gini datang.”

            ”Ini, Bu, saya punya daftar kontrakan yang barangkali mas Adi perlukan, ya biar lebih cepatlah.” Aku mendekat dan menyerahkan kertas itu.

            ”Oh, makasih ya, Nak. Iya, sampai sekarang si Adi belum dapet juga.”

            ”Oh iya, ngomong-ngomong orang tadi nganterin apa, Bu?” Aku jadi penasaran dan tak dapat membendung keinginanku.

            ”Oh, ini. Surat dari bank, masalah hutang.” Sang ibu menunjukkan surat yang masih rapi dan belum dibuka itu. ”Kalau masalah hutang, pihak bank emang ndak pernah lupa ya?” Sang ibu tertawa.

            Berita ini membuatku khawatir. Kemarin mas Adi tidak bilang apa-apa tentang hutang, jangan-jangan ia masih punya seabreg masalah lain yang belum aku ketahui. Oh, aku jadi merasa tidak enak jika menagih jawaban yang sudah kutunggu-tunggu itu.

            ”Ya, jaman sekarang ada aja kebutuhan. Keluarga juga udah berusaha agar jangan sampai ngutang, tapi susah rasanya.” keluh sang ibu. ”Meskipun si Adi sudah berusaha keras, entah kapan semua hutang bisa lunas.”

            Oh, aku lemas. Jika benar yang dikatakan ibu ini, lantas kapan mas Adi akan merasa siap untuk meminangku. Aku tak bisa membayangkan harus berapa lama lagi masaku menanti. Ah, jika memang begini takdirku, kuharap aku sanggup menerimanya.

            ”Tapi ngomong-ngomong terima kasih, Nak, kertasnya ini, si Adi bisa terbantu deh.” Akhirnya sang ibu tersenyum lagi.

            Dan itu juga membangunkanku dari lamunanku. ”Iya, sama-sama, Bu. Rini juga mau pamit dulu, assalamu’alaikum.”

            ”Wa’alaikumussalam, hati-hati di jalan ya, Nak.”

***

            Beberapa hari setelah kukirimkan kertas itu, aku mendapat kabar bahwa mas Adi akhirnya sudah mendapatkan kontrakan. Aku girang bukan main, meskipun aku lalu teringat akan masalah yang dibeberkan ibunya. Tapi aku tetap tak bisa menahan hatiku, aku ingin segera menikah. Toh, aku tak menuntut banyak, dan aku juga siap berkorban bersama mas Adi. Aku lalu memutuskan untuk pergi ke rumahnya, kali ini semoga dia mau mengaku siap.

            Tapi anehnya, di perjalanan kali ini aku merasa ada yang tidak beres. Ada sesuatu yang mengusik pikiranku, entah apa itu, yang jelas firasat ini sangat mengganggu. Aku harap ini hanya kebetulan, dan mas Adi baik-baik saja.

            Sayangnya, firasat burukku itu ada benarnya. Dari ujung gang menuju rumah mas Adi, aku bisa melihat banyak orang berkerumun di sana. Hatiku langsung bertanya-tanya. Oh, apa pun yang terjadi, seburuk apa pun itu, kumohon jangan pada mas Adi. Selama aku melangkah tak henti-hentinya aku berdoa.

            Akhirnya jawaban pahit itu tiba juga. Dapat kulihat, di depan kerumunan, tiga rumah hangus terbakar, termasuk rumah mas Adi. Oh, sekali lagi masalah datang menerpa. Aku jadi tak tega jika harus membujuk mas Adi dalam kondisi seperti ini. Syukurlah aku melihat ibu mas Adi selamat. Aku mendekati sang ibu yang tampaknya meneteskan air mata.

            ”Kata warga, apinya berasal dari dapur tetangga, tapi terus membesar sampai rumah Ibu kena juga.” Aku tidak mendengar suaranya.

            Tak lama kemudian, terdengarlah suara yang khas dan kukenal. Sebuah sepeda motor merah tua berhenti di dekat kami. Pengendaranya, tentu saja mas Adi.

            ”Ibu!” Ia langsung memeluk ibunya, ia pasti bahagia karena sang ibu selamat. Setelah itu, ia menoleh ke arahku, dengan mata yang basah. ”Eh... Rin...Ehm...” Dia tercekat sebentar. ”Ah, lupakan, kulamar kamu besok!”

            Seharusnya aku bahagia, tapi melihat situasi yang memilukan ini, rasa itu sama sekali tiada. ”Tak usah terburu-buru mas, aku akan sabar menunggu.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer little.star
little.star at Program Tantangan: Akan Kutunggu (9 years 42 weeks ago)
100

ini poinnya ;)

Writer little.star
little.star at Program Tantangan: Akan Kutunggu (9 years 42 weeks ago)

ada kicau yg lirih juga ya? setauku kicau itu nyaring
.
hm banjir dialog membuatku puyeng, tp karena konflik batin Rini akhirnya cerita ini jadinya enak (menurut saya siy), krn pas banget keadaanya ma aq, akakaka #plakkk!!
.
ceritanya hm, terasa ngegantung, tp gak juga... terasa mendikte ceritanya dah usai..gak juga, soalnya da rasa pengen lihat lanjutan ceritanya..
.
dan yg bikin kaget adalah, sebenernya perasaan Adi pas ngomong bakalan ngelamar Rini itu...terasa..seperti sudah jengkel ditanyain nikah mulu, or gimana ya...hahaha aku rada syhock bacanya. Nekat.
.
over all, aku suka, mirip cerita2 sinetron yg gak sok modern, tp juga gak jadul2 amat... bagus b^-^d
.
gud luck yawh!
.
piss yo

Writer musthaf9
musthaf9 at Program Tantangan: Akan Kutunggu (9 years 42 weeks ago)

hehe, aku kepikirannya emg kicaunya ga keras, tapi iya juga ya. ah, whatever..
.
jujur, sebenarnya aku banyakin dialog itu biar jumlah katanya banyak XD
.
Jiaah, ternyata emg ada yg masih suka crita yg mirip-mirip sintron, sah-sah aja sih v^^
.
thanx anyway