Partitur Impian - Intro Part 1

            “Kau sudah mendapatkan tiketku?” tanyaku tanpa basa-basi.

            “Ou, ada disini. Kau bisa berterima-kasih padaku dengan cara yang biasanya.” jawabnya dengan senyum licik sambil mengeluarkan selembar tiket dari kantung celananya.

            “Ck, dasar gadis calo mata duitan. Jangan khawatir, sore ini aku transfer.” kuambil tiket itu dari tangannya dan memasukkannya ke saku jaketku.

            “Hehe, Oh,  ya! Akhir-akhir ini kau jadi sering “me-nga-ma-ti”, yah? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya.

            “Tidak juga.” jawabku singkat.

            “Heee… Apa benar begitu? Masalahnya kau jarang datang ke rapat pengamat, eh, jangankan datang ke rapat pengamat, ke markas pusat pun kau hampir-hampir tidak pernah, kan?” tanyanya lagi, kali ini dengan raut muka penuh kecurigaan.

            “Hal seperti itu hanya membuang-buang waktuku. Yang penting aku selalu melaporkan hasil pengamatanku ke atasan.”

            “Kau jadi rajin seperti ini setelah dia menghilang.” Raut mukanya tiba-tiba berubah menjadi serius. Setelah diam untuk beberapa saat dia berkata, “Kau… tidak berniat untuk mencarinya, kan?”

            “Apa yang membuatmu berpikir aku mencarinya?” jawabku spontan.

            “Yah, dia temanmu, ‘kan? Belakangan ini kau juga selalu pergi ke acara yang senimannya masih muda dan selalu sedang memiliki masalah. Tiket yang sekarang ada di saku jaketmu itupun adalah tiket konser yang penyanyinya adalah pendatang baru dan sedang naik daun. Entah ego “kesombongan” atau “beban-harapan” yang akan kau temui nanti.”

            “Jangan seenaknya memutuskan kalau yang ada di dalam diri seorang seniman itu selalu ego negatif. Lagipula, apa hubungannya seniman muda yang memiliki ego negatif dengan mencari “Dia”?” balasku dengan sedikit marah.

            “Jangan pura-pura tidak tahu. Semua “Visitor” sudah tahu kalau kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum menghilang adalah…”

 

CARILAH IMPIAN!!

 

            “Karena itu kau sering mengunjungi acara yang senimannya masih muda, ‘kan? Kau pasti berpikir kalau seniman yang masih muda atau pendatang baru mungkin masih memiliki impian yang kuat.” Jawabnya dengan rasa penuh percaya diri.

            “Itu hanya kebetulan.” Jawabku singkat, lagi.

            “Yah, aku sebagai calo punya kebijakan untuk tidak mencampuri urusan pelangganku, tapi kuingatkan….” Dia berhenti berkata sambil menatapku tajam. “Percuma saja kau mencarinya, kau tahu apa yang terjadi apabila seorang visitor tak kembali dari tempat yang dikunjunginya, ‘kan?”

            “Aku tahu.” Jawabku sambil bersiap untuk pergi. Aku tahu semua yang dikatakannya benar, tapi aku punya alasan untuk ini. Alasan yang membuatku punya tujuan hidup. Alasan yang membuatku tetap waras atas semua yang telah terjadi. Alasan yang membuatku tak bisa memaafkan diriku.

            “Ah, maaf, ya? Aku ada janji dengan pelanggan lain. Terima kasih telah menggunakan jasaku untuk yang kesekian kalinya, ya?” katanya sambil berlari menuju stasiun yang ada dibelakangnya. Sebelum memasuki peron dia berhenti dan berbalik, “Ingat nasehatku, ya? Ini juga demi kebaikanmu!” kemudian menghilang diantara orang-orang.

            Demi kebaikanku? Bagaimana dengan dia yang menderita karenaku? Aku, sudah tidak bisa mundur lagi. Sekarang, sebaiknya aku pergi ke konser ini, sudah hampir waktunya. Semoga kali ini aku bisa menemukan petunjuk, bukannya menemui masalah.

            Aku berjalan menuju teater tempat konser tiket yang kubeli ini diadakan. Dari stasiun tempat aku bertemu dengan Selly untuk mendapatkan tiket ini, jaraknya menuju teater hanya sepuluh menit berjalan kaki. Biasanya aku lebih suka menggunakan taksi, tapi “Dia” mengajarkanku untuk lebih menikmati dunia. Dia bilang, Kau akan bisa mendengar nada-nada yang lebih beragam dan lebih indah apabila berjalan kaki sambil menikmati dunia.

 Aku juga, entah sejak kapan mulai menikmati dunia dan semua nada yang ada di dalamnya. Angin, langkah kaki, kendaraan bermotor, hiruk pikuk orang-orang, serangga, semua nada terus berbunyi dengan indah di sekitarku. Seperti menggelar konser akbar dengan bumi sebagai panggung utamanya.

Tapi, sekarang semuanya terdengar berbeda. Setelah Dia menghilang, aku tidak bisa mendengar irama dunia. Iramaku pun mulai kacau, seandainya waktu itu aku tidak menemukan harapan yang kecil itu, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Benar! Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah terus berharap, tanpa kenal menyerah. Hari ini, dimulai dari konser ini, aku akan mencari IMPIAN!! Aku pasti akan menemukanmu, dan membawamu pulang bersamaku!

Aku masuk ke teater tempat konser diadakan. Kemudian aku bertanya pada staff teater dimana kursi untuk tiketku ini. Staff tersebut membawaku ke tempat kursi khusus, kursi box yang terpisah dari kursi biasa. Letaknya berada paling jauh dari panggung, aku sengaja meminta Selly untuk tiket kursi ini karena akan memudahkanku dalam pekerjaanku.

Konser akan segera dimulai, begitu penyanyi memasuki panggung dan mulai bernyanyi, pekerjaanku dimulai. Pekerjaan yang aku sendiri tidak mengerti bagaimana aku bisa mendapatkannya. Pekerjaan yang membuatku bisa bertemu dengannya. Juga pekerjaan yang membuatnya menghilang.

Sang penyanyi muda sudah memasuki panggung. Musik intro juga sudah mulai berjalan bersamaan dengan meredupnya lampu teater. Sekarang hanyalah panggung utama yang bermandikan cahaya, menyinari sang penyanyi dengan indahnya.

Penyanyi tersebut bernama Rie Okazaki, umurnya baru 18 tahun. Hanya baru-baru ini dia menjadi penyanyi profesional. Penyanyi muda berbakat yang memiliki suara indah dan sense bernyanyi yang luar biasa. Kabarnya, dia sendiri yang membuat lagu-lagunya.

Kali ini dia akan menyanyikan single perdananya yang membuatnya naik daun, judulnya “Only For You and Only You”, lagu bertempo lambat dengan irama klasik. Dia mulai bernyanyi, suara indahnya memenuhi ruangan, para penonton pun dibuat terpana. Senyum tanpa sadar terpatri di semua wajah penonton. Meski aku ingin mendengarnya lebih lama lagi, aku harus memulai pekerjaanku. Waktu akan semakin terbuang apabila aku tak segera memulai pekerjaanku, dan hal itu nantinya akan menyulitkan pekerjaanku.

Aku memejamkan mataku, berkonsentrasi, sambil melantunkan beberapa nada khusus dalam hati. Beberapa saat kemudian, aku membuka mataku. Aku sudah tidak berada di teater tempat konser berjalan. Aku berada di tempat yang benar-benar jauh berbeda.

“Ini… kuburan?” kataku. Sepertinya aku berhasil masuk ke dunia Rie Okazaki, tapi kalau seperti ini, pasti ego negatif. Haaah, yang dikatakan Selly benar-benar jadi kenyataan. Memang bukan ego kesombongan atau beban-harapan, tapi sepertinya ego yang memiliki efek sangat dalam untuk Rie sampai membuat dunianya berwujud kuburan seperti ini.

Pemandangan kuburan ini sangat beratmosfer kepedihan. Awan mendung yang membentang menutupi langit, pohon-pohon yang mati kekeringan, gagak-gagak yang berkicau dengan suara yang menyayat hati, semua menggambarkan hal-hal yang negatif.

Aku harus segera mencari ego Rie, lagu Only For You and Only You berdurasi kurang lebih empat menit. Tempo nada musik di dunia seniman tiga kali lebih lambat dibanding tempo nada musik di dunia nyata. Karena itu, waktu di dunia seniman berjalan tiga kali lebih lambat dibanding waktu dunia nyata, artinya aku hanya memiliki sisa waktu kurang lebih sepuluh menit di dunia ini sejak Rie mulai bernyanyi.

Aku berjalan menyusuri kuburan. Nisan demi nisan kulewati, tapi tak kunjung juga kutemukan ego Rie. Namun, akhirnya aku menemukan liang kubur tanpa dasar. Tak ada apapun di dalamnya selain kegelapan pekat. Juga tak ada nisan yang menunjukkan kuburan milik siapa ini. Apa ego Rie ada di dalam liang ini? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Aku melompat ke dalam liang tersebut.

Begitu aku meloncat ke dalamnya, aku langsung berada di tempat lain. Kali ini sepertinya aku berada di dalam sebuah rumah. Dindingnya dipenuhi dengan foto. Semua foto ini menggambarkan seorang pria dan seorang gadis kecil. Apakah gadis kecil ini Rie? Semua foto ini menggambarkan kegembiraan, namun nada-nada yang ada di dalam rumah ini adalah nada kesedihan, kekecewaan, dan juga… amarah?

Aku tak punya waktu lagi, Rie di dunia nyata pasti sudah setengah jalan menyanyikan lagunya. Aku harus segera menemukannya sebelum terlambat. Suara nada kesedihannya berasal dari lantai atas.

Aku berjalan ke lantai atas, semakin mendekati sumber irama kesedihan berasal. Terus kuikuti sampai akhirnya aku berhenti di depan sebuah pintu. Aku yakin irama kesedihan ini berasal dari balik pintu ini. Apapun yang ada di balik pintu ini, dengan nada seperti ini, aku yakin bukan hal yang bagus.

Kubuka pintu itu perlahan. Saat pintu itu terbuka seluruhnya, yang ada di baliknya lebih buruk dari yang kubayangkan. Yang ada di hadapanku saat ini bukanlah sebuah kamar atau sebuah ruangan, namun hamparan padang bunga yang mati layu, diguyur oleh hujan lebat yang dahsyat bagaikan badai. Namun diantara semua itu, yang paling buruk adalah, sesosok bayangan raksasa hitam yang meraung keras di tengah hamparan padang bunga itu.

“ROARRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!”

Aku berjalan mendekati raksasa tersebut, melangkah melewati padang bunga dalam hujan badai. Semakin kudekati, semakin buruk raksasa ini terlihat. Raksasa ini berdiri dengan dua kaki layaknya manusia. Seluruh tubuhnya hitam legam, seakan dia merupakan bayangan hitam yang membentuk monster raksasa. Tingginya sekitar 20 kaki, dengan badan dan lengan yang kekar, juga gigi yang tajam berwarna hitam. Raungan kerasnya terdengar dengan jelas meskipun dalam hujan badai yang penuh dengan suara halilintar yang terus menggelegar.

Tak salah lagi, raksasa ini adalah ego negatif Rie. Saat ini, ego Rie ini sedang terikat pada rantai yang tak terhitung jumlahnya. Rantai ini merupakan emosi Rie yang menahan ego negatif agar tidak lepas kendali. Meskipun begitu, ini buruk, ini sangat buruk. Dengan ukuran ego negatif sebesar ini, rantai emosi Rie tidak akan bertahan lama. Efeknya pada Rie akan sangat besar. Apabila ego negatif raksasa ini bebas, Rie… akan berhenti bernyanyi untuk selamanya.

Selain ego negatif ini, sepertinya tidak ada hal lain di sekitar sini. Tidak ada Dia, ataupun petunjuk yang mengarahkanku kepadanya. Sekarang, yang harus kulakukan adalah menolong Rie. Menolongnya dari beban apapun yang terdapat pada hatinya sekarang ini.

Kukeluarkan harmonikaku dari saku jaketku. Akan kumainkan sebuah lagu untuk menenangkan ego negatif ini. Lagu yang kupilih adalah lagu ciptaan Dia, “Endless Trial”. Lagu ini dia ciptakan untuk seseorang yang sedang dilanda oleh cobaan berat dan mengalami kesedihan atas cobaan tersebut. Lagu ini bertempo lambat dengan irama yang lembut. Meski begitu, nada-nada yang ada dalam lagu ini memberi dorongan dan semangat pada siapapun yang mendengarnya.

Kutempelkan bibirku pada harmonika pemberian orang tuaku. Kutiup dengan lembut namun dengan tenaga yang cukup keras, agar ego negatif Rie bisa mendengarnya meskipun dalam badai seperti ini.

Begitu kumulai memainkan harmonikaku, ego negatif Rie akhirnya menyadariku. Dia melihat kearahku, sesaat kemudian meraung dengan keras ke arahku, “GROARRRRRRRRRRRRRRRRRR!!”. Raungannya tak membuatku takut, yang membuatku takut hanyalah apabila lagu yang kumainkan ini tak terdengar oleh ego negatif Rie.

“GRRRR!!”, ego negative Rie menggeram. Raksasa ini mulai berontak. Dia mulai berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengekangnya. Ini merupakan pertanda baik sekaligus pertanda buruk.

Pertanda baiknya, laguku terdengar oleh ego negatif Rie sehingga membuatnya mengamuk. Pertanda buruknya, semangat Rie untuk bernyanyi semakin berkurang. Aku mempercepat tempo lagu yang kumainkan, tapi tiba-tiba…

“TRANG!!”

Suara barusan… terdengar seperti… suara rantai yang… terputus?

“ROARRRRRRRRRRRRRRRR!!” raung ego negatif Rie sambil melepaskan diri dari rantai-rantai yang mengekangnya. Rantai-rantai itupun hancur dan berjatuhan satu demi satu. Ini gawat! Ini berarti Rie akan berhenti menyanyi! Aku harus keluar dari dunia ini sebelum dunia ini tertutup!

Aku berbalik menjauhi ego negatif Rie yang lepas kendali. Saat aku berusaha menjauh darinya, ego negatif Rie melayangkan pukulan ke arahku. Aku melempar tubuhku ke depan untuk menghindarinya. Pukulannya menghujam ke tanah tanpa mengenaiku, tapi guncangan yang dihasilkannya tetap membuatku terlempar jauh. Aku tersungkur di tanah, tepatnya di atas bunga-bunga yang layu ini. Sepertinya aku bisa merasakan ada cairan kental yang mengalir dari kepalaku. Seluruh tubuhku terasa sakit, lumpur menghiasi tubuh dan wajahku. Aku berusaha untuk berdiri, namun aku hanya sanggup untuk mendudukkan tubuhku. Aku berbalik menghadap dimana ego negatif Rie berada. Sepertinya dia tidak menyadari kalau aku terlempar kemari. Ini kesempatanku untuk keluar dari dunia ini.

Tunggu… ada yang aneh. Jika Rie benar-benar kehilangan keinginan untuk menyanyi, seharusnya dunia ini berguncang dengan keras. Namun saat ini tidak terjadi apapun. Apa artinya ini? Aku ingat! Pada menit ke tiga mendekati akhir dari lagu Only For You and Only You, ada sesi cooling down chord tanpa lirik! Kalau aku tidak salah, sesi cooling down ini berlangsung selama 40 detik. Itu benar, lagu masih berjalan tanpa lirik! Meski Rie kehilangan semangat untuk menyanyi, tapi karena lagu masih berjalan hanya saja tanpa lirik, dunia ini masih menganggap kalau Rie masih memiliki keinginan untuk bernyanyi! Itu berarti aku masih punya kesempatan! Apabila aku bisa menenangkan ego negatif Rie saat sesi cooling down ini sebelum sampai pada lirik berikutnya, aku bisa mengembalikan semangat Rie untuk menyanyi!

Aku kembali menggenggam harmonikaku, bersiap untuk menyelesaikan lagu Endless Trial. Waktu yang tersisa untukku tidak banyak, kurang dari dua menit sesi cooling down akan berakhir. Tanpa basa-basi lagi aku meniup harmonikaku dengan tenaga yang tersisa. Ego negatif Rie mendengarnya, dan kemudian langsung berlari ke arahku. Tubuh raksasanya membuat guncangan besar setiap kali kakinya melangkah.

Aku kedinginan, ketakutan, kesakitan, dan panik. Aku tak bisa berkonsentrasi memainkan lagu Endless Trial. Di saat begitu, tiba-tiba aku teringat perkataan seseorang yang pernah dikatakan padaku di masa lalu…

 

KAU TAKUT? KALAU KAU LAKI-LAKI… MAINKAN LAGUMU SAMBIL MENIKMATI RASA TAKUT ITU!

 

            Tidak kusangka aku benar-benar akan memainkan sebuah lagu sambil menikmati rasa takut. Kupejamkan mataku, bisa kurasakan detak jantungku yang semakin cepat karena rasa takut. Aku terus memainkan harmonikaku, tanpa memedulikan hal lain lagi. Tepat saat aku menyelesaikan lagu Endless Trial, aku membuka mataku. Terlihat di depanku ego negatif Rie mengarahkan pukulannya ke arahku, namun pukulan itu tidak sampai padaku. Kepalan tangannya berhenti tepat di depanku, hanya selisih beberapa sentimeter saja dari tubuhku.

            Ego negatif Rie tak bergerak sama sekali, seakan-akan membeku seperti patung raksasa. Sepertinya, aku berhasil menenangkannya. Kemudian wujud ego negatif Rie mulai menghilang ditiup angin seperti bunga dandelion. Badainya melunak, halilintar tak lagi menggelegar, namun hujan masih turun, meski tidak sederas sebelumnya.

            Dari tempat bekas ego negatif raksasa tadi, muncul sesosok gadis kecil yang terkapar di tanah. Inilah sosok asli dari ego negatif Rie. Ya, ini semua masih belum selesai. Meski Rie di dunia nyata akan kembali menyanyikan lagunya, namun apabila aku tidak benar-benar menghilangkan ego negatifnya, Rie dapat berhenti bernyanyi kapan saja.

            Aku berdiri, sambil menghiraukan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhku, aku berjalan menuju gadis kecil itu. Gadis kecil ini ternyata adalah gadis kecil yang ada di dalam foto-foto yang terpampang di dinding tadi. Begitu aku sampai di dekatnya, dia terbangun.

            “Uhmm? Ini… dimana? Bagaimana aku bisa ada disini?” ucap gadis kecil itu.

            “Tenang. Saat ini kau hanya bermimpi.” Jawabku sambil berlutut di dekatnya.

            “Mimpi? Tapi aku bisa merasakan basah, dan aku juga kedinginan saat ini.” lanjut gadis kecil ini sambil memeluk dirinya sendiri.

            “Ah, maaf, tunggu sebentar, ya?” aku mengeluarkan harmonikaku dari saku jaketku, kemudian aku memainkan beberapa nada yang terdengar hangat. Muncul tangga nada yang kemudian mengitari gadis kecil tersebut untuk sesaat, lalu menghilang. “Bagaimana apa masih terasa dingin?”

            Gadis itu menggelengkan kepalanya, kemudian berkata, “Kakak siapa? Penyihir, ya? Apa kakak ‘nggak bisa menghentikan hujan ini?”

            “Haha, bisa dibilang kakak ini penyihir, tapi belum mahir. Jadi kakak tidak bisa menghentikan hujan ini, tapi kau bisa.” Ujarku.

            “Benarkah? ‘Gimana caranya?” tanyanya.

            “Akan kakak beritahu caranya, tapi sebelumnya, siapa namamu?”

            “Rie!” jawabnya sambil tersenyum lebar. Ternyata benar, gadis kecil yang ada di foto itu adalah Rie semasa kecil. Apa pria yang juga ada di dalam foto itu ayahnya?

            “Nah, Rie, kalau kau mau menghentikan hujan ini, pertama kau harus beritahu kakak kenapa Rie sekarang bersedih?” Tanyaku senormal mungkin agar tak terlalu berkesan memaksa.

            Dia terdiam dan menundukkan kepala. Aku tak bisa memaksanya menjawab. Ada kemungkinan dia akan menutup hatinya dariku apabila aku memaksanya untuk menjawab. Setelah terdiam untuk beberapa saat, akhirnya Rie menjawab, “Ayah… Ayah pergi!! Mereka bilang Ayah pergi dan tak akan kembali lagi!!” Air mata menetes dari pipinya. Apakah Ayah Rie meninggal!? Tapi media massa sama sekali tak berkata apa-apa tentang hal ini.

            “Maaf, ya? Aku turut sedih mendengarnya.”

            “Ayah membenciku!! Makanya dia pergi meninggalkanku sendirian!!” isak tangisnya bercampur dengan amarahnya. Sendirian? Oh, ya, Rie Okazaki adalah anak yatim. Ibunya meninggal tepat setelah melahirkannya.

            “Itu tidak benar. Aku yakin ayahmu mencintaimu sebanyak kau mencintainya.” Aku berusaha menyemangatinya.

            “Bohong!! Ayah pasti membenciku! Ayah membenciku karena aku membencinya!!” tepat setelah Rie menyelesaikan kalimatnya, dalam sekejap tubuhnya tumbuh menjadi remaja. Dia mengenakan seragam sekolah, dan rambut hitam pendeknya menjadi panjang.

            “Kau… membenci Ayahmu?” kataku reflek, berharap dia memberitahuku alasannya.

            “Saat aku masih berumur enam tahun, akhirnya aku tahu tentang arti kematian, aku pernah bertanya pada Ayah bagaimana Ibu meninggal. Ayah menjawab kalau Ibu meninggal karena Ayah tidak bisa melindunginya. Entah karena naif atau apa, saat itu aku berpikir kalau Ibu meninggal gara-gara Ayah. Aku jadi membenci Ayah karena selama ini dia merahasiakan kematian Ibu dariku. Lalu aku… aku…“ Rie menutup rapat matanya, namun alir matanya mengalir dengan deras, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Tangan kanannya menggenggam tangan kirinya dengan erat dan diletakkannya di dadanya.

            “Tidak apa, kau tidak harus menceritakannya kalau kau tidak mau.” Kataku berusaha menenangkannya.

            “AKU MENCOBA UNTUK MEMBUNUH AYAHKU!!” teriaknya dengan mata tertutup. Aku tersentak, sama sekali tak terpikirkan apa yang harus kukatakan padanya. “Tak hanya sekali, bahkan berulang kali. Aku mendorongnya ke jalan raya, melemparnya dengan cutter, memasang jebakan di lemari pakaiannya, dan yang paling parah, aku mendorong Ayah keluar jendela dari lantai dua rumah kami!”

            Aku terdiam, tak satupun kata terpikir di kepalaku. Apa yang akan dikatakan olehnya apabila bertemu gadis ini? Ternyata aku memang berbeda dengan Dia. Aku yakin kalau Dia ada disini sekarang, gadis ini pasti sudah tenang dan bahagia sekarang.

            “Ayah terluka parah setelah terjatuh dari lantai dua. Kebetulan ada tetangga yang melihatnya dan langsung menelepon rumah sakit. Nyawa Ayah tertolong, namun dia kehilangan kemampuannya untuk berjalan dengan kedua kakinya.” Katanya sambil terus menangis. “Kemudian Bibiku menanyaiku apa yang terjadi. Dengan jujur aku katakan kalau aku yang mendorong ayah keluar jendela untuk membalas perbuatannya pada Ibu. Saat itu aku sama sekali tidak menyesal mengatakannya. Mendengarnya, Bibiku menangis sambil memelukku. Kemudian dia mengatakan kebenarannya padaku, kebenaran tentang bahwa akulah yang telah menyebabkan Ibu meninggal. Awalnya aku tak mempercayainya, tapi dia terlihat tulus menceritakannya. Aku berteriak sekuat tenagaku di dalam rumah sakit. Aku menjerit, menangis, kepalaku kosong. Bibiku tak berusaha menenangkanku, dia hanya memelukku sambil menangis.”

            “Lalu, apa ayahmu membencimu karena kejadian itu?”

            “TIDAK!! Ayah sama sekali tidak membenciku! Apabila ada seseorang yang bertanya tentang kejadian tersebut, Ayah pasti berbohong untuk melindungiku. Dia terus tersenyum padaku yang telah membuatnya tidak bisa berjalan lagi. Padahal… akan lebih baik kalau dia membenciku.” Jawabnya pelan.

            “Tapi dia tidak melakukannya karena dia mencintaimu, Rie.” Aku terus berusaha agar dia tak meyalahkan dirinya sendiri.

            “Aku tahu! Tapi justru karena itu rasa bersalahku semakin besar! Rasa bersalah itu menjadi rasa takut yang begitu menakutkan! Aku takut Ayahku sebenarnya tidak memaafkanku meskipun aku sudah beribu kali meminta maaf! Aku takut Ayah hanya pura-pura memaafkanku karena dia menyanyangi Ibu!” jeritnya.

            “Rie….” Apa yang harus kukatakan? Melihat dirinya bercerita mengenai kesedihan yang telah dia pendam sendirian selama bertahun-tahun dalam hujan ini, aku kehilangan kata-kata.

            “Lalu, pada suatu hari…” Rie melanjutkan ceritanya. Tubuhnya mengalami pertumbuhan kilat lagi. Kali ini dia tumbuh sampai menjadi Rie yang di dunia nyata. Rie yang berumur 18 tahun. Seragam sekolah yang dia kenakan sebelumnya berubah menjadi gaun yang saat ini dia kenakan untuk konser. Rambutnya panjangnya tertata dengan cantik. “Saat aku SMP, Ayah tidak sengaja mendengarku sedang bernyanyi sendirian. Ayah memujiku, dia bilang nyanyianku sangat indah. Kemudian dia bercerita saat Ibu mengandungku dulu, Ibu pernah memiliki keinginan agar aku memiliki suara yang indah. Kata Ayah, Ibu bilang kalau musik dan nyanyian adalah hal yang paling indah yang ada di Bumi ini. Karena itu Ibu selalu berdoa pada Tuhan agar aku memiliki suara yang indah.”

            “Ibumu pasti senang di surga sana saat ini. Karena menurutku, kau adalah satu dari sedikit penyanyi yang memiliki suara terindah.” Pujiku.

            Dia tersenyum untuk sesaat, kemudian berkata “Sejak saat itu aku selalu berlatih menyanyi. Belajar tentang musik dari dasar. Membuat berbagai macam lagu untuk Ayah. Ayah adalah alasan utama yang membuatku bernyanyi sampai saat ini.”

            “Dia pasti bahagia.”

            “Aku berjanji pada diriku sendiri, apabila aku berhasil menjadi penyanyi yang bisa membanggakan Ayah, setelah konser debut pertamaku, aku akan meminta maaf lagi pada Ayah atas semua yang sudah kulakukan. Aku berharap, dengan menggunakan seluruh kemampuan menyanyiku yang kudapat dari doa Ibu ini, kemudian menjadi penyanyi profesional, Ayah dan juga aku bisa memaafkan diriku sendiri. Tapi sekarang… sekarang Ayah sudah….”

            Dunia Rie mulai berguncang dengan keras. Aku bisa merasakannya, Rie mulai kehilangan semangat untuk bernyanyi. Kalau ini terus berlanjut, dunia ini akan hancur bersama dengan keinginan Rie untuk bernyanyi. Dalam usaha terakhirku aku berkata, “Kalau begitu teruslah menyanyi Rie! Jangan kecewakan Ayah dan juga Ibumu yang sekarang ada di surga! Aku yakin mereka tidak ingin melihatmu berhenti menyanyi!”

            “Tapi awalnya aku menyanyi karena Ayah! Ayah yang memulai semangatku untuk menyanyi untuk dunia! Kalau Ayah tidak ada, untuk siapa aku bernyanyi!?” jeritnya.

            Kugenggam kedua pundaknya, “Kalau begitu, apa kau mau bilang padaku kalau Ayahmu yang membuatmu bernyanyi, juga yang membuatmu berhenti bernyanyi, hah!?”

            “Tidak, bukan begitu!”

            “Lalu? Kenapa kau berhenti bernyanyi?”

            “Aku… Aku…”

            “Jawab, Rie! Dengarkan hatimu! Kenapa kau tidak ingin lagi menyanyi!” bentakku.

            “AKU BERHENTI BERNYANYI KARENA AKU TIDAK BISA MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI!!” jeritnya.

            Aku memeluknya erat begitu dia mengatakannya. “Benar, semua ini masih berakar pada masalah yang sama. Kau hanya belum bisa memaafkan dirimu sendiri atas semua yang telah terjadi, tapi….” Aku melepaskannya dari pelukanku. Kuangkat dagunya dengan tangan kananku, kemudian aku berkata, “Ada satu hal yang tidak kau mengerti, Rie. Kau tidak salah sama sekali. Semua yang terjadi bukan salah siapa-siapa. Kau bukannya tidak bisa memaafkan dirimu sendiri karena perbuatanmu, tapi kau tidak bisa memaafkan dirimu yang selama ini selalu takut akan tidak diterimanya permintaan maafmu, ‘kan?”

            Rie menangis, air matanya berlinang. Dia melingkarkan lengannya di leherku, kemudian memelukku. “Ayah… Ayah… Papa… maaf… maaf… maafkan Aku, Papa!”

            “Tidak apa, keluarkan saja. Biar aku yang mewakili Ayahmu untuk mendengar semua kecamuk di hatimu.”

            “Maafkan Aku! Aku tahu Papa sudah memaafkanku, tapi aku yang seenaknya menganggap kalau Papa berbohong! Maafkan Aku, Papa!” jerit Rie. Kemudian kusadari hujan dan guncangannya berhenti. Sinar matahari muncul perlahan dari balik awan kelabu yang semakin lama semakin menghilang, menunjukkan langit biru yang indah. Padang bunga yang layu berubah menjadi padang rumput hijau yang luas dan menyegarkan. Syukurlah, sepertinya Rie mulai memaafkan dirinya. Dengan begini, Rie akan terus bernyanyi. Untuk Ayahnya, untuk Ibunya, untuk semua penggemarnya, dan juga… untuk dirinya sendiri.

            “Aku yakin Ayahmu pun beranggapan kalau semua yang terjadi bukan salah Rie. Teruslah menyanyi, dengan begitu perasaanmu pun pasti dapat tersampaikan pada kedua orang tuamu di surga sana.”

            Kutunggu Rie berhenti menangis, akan kutunggu semua perasaan yang dipendamnya sendirian mengalir keluar. Sesaat kemudian, tangisannya mulai berkurang. Kulepas pelukannya secara perlahan. Bisa kulihat Rie yang sekarang di depanku berbeda dengan Rie yang sebelumnya.

            “Terima kasih.” Ujarnya. Isak tangis masih sedikit terdengar darinya.

            “Hmm, kurasa ada orang yang lebih pantas mendapat rasa terima kasihmu daripada aku.” Jawabku sambil berdiri. Kuulurkan tanganku padanya.

            “Eh? Siapa?” katanya sambil menerima uluran tanganku. Kubantu dirinya berdiri di kedua kakinya.

            “Kok siapa, ya tentu saja Ayahmu. Ayahmu yang telah membesarkanmu, Ayahmu yang membuatmu bernyanyi dengan indah, Ayahmu yang telah memaafkanmu.” Jawabku.

            “Kau benar, aku seharusnya lebih banyak berterima kasih daripada meminta maaf. Telah banyak yang dia lakukan untukku. Aku memang sudah tidak bisa bertemu dengan Ayah lagi sekarang. Tapi aku yakin Ayah bisa mendengar perasaanku, juga nyanyianku, dari surga sana bersama dengan Ibu.” Katanya sambil tersenyum.

            “Itu pasti. Nah, maaf, ya? Tapi aku harus pergi sekarang.” Kataku sambil berjalan menjauhinya.

            “Ah! Kumohon tunggu sebentar!”

            Aku berhenti. “Ada apa?”

            “Boleh aku tahu namamu?”

            Aku kaget mendengarnya. Sudah lama tidak ada menanyakan namaku di dunia seniman. Aku tersenyum, kemudian berkata, “Maaf, aku tidak bisa memberi tahu nama asliku, tapi kau bisa memanggilku Key. Ejaannya K, E, Y.”

            “Key… Apa kita bisa bertemu lagi?”

            “Hmm, aku tidak bisa berjanji, tapi kalau kau terus bernyanyi, mungkin suatu saat takdir akan mempertemukan kita kembali. Sudah, ya? Aku akan terus menantikan lagu-lagu barumu dengan tidak sabar!” kemudian aku meninggalkan dunianya, kembali ke tubuhku di dunia nyata.

            Kubuka mataku, aku kembali berada di kursi teater tempat konser Rie. Aku kembali tepat saat Rie menyelesaikan lagu Only For You and Only You. Semua rasa sakitku hilang. Tak ada sedikitpun air atau lumpur pada diriku. Tentu saja, karena yang masuk ke dunia Rie hanya jiwaku saja, bukan ragaku.

            Setelah musiknya berhenti total, Rie berkata sesuatu di panggung. “Aku ingin berterima kasih kepada semuanya yang telah mendengar nyanyianku di teater ini. Aku juga meminta maaf karena aku yakin suaraku saat bernyanyi barusan pasti terdengar aneh, aku sedang memikirkan ayahku yang dua hari lalu meninggal dunia.”

            Seketika seluruh penonton langsung berbisik satu sama lain. Mereka terkejut dengan pemberitahuan yang tiba-tiba dari Rie. Rie pun hanya bisa terdiam di panggung melihat reaksi dari penonton.

            “Em, maaf, bukannya aku berniat untuk memberatkan suasana.” lanjut Rie. “Aku hanya sekedar ingin jujur kepada semua yang telah mendengarkan nyanyianku sampai akhir meski aku menyanyi dengan perasaan setengah-setengah. Karena itu, aku akan membayarnya dengan menyanyi sepenuh hatiku pada lagu berikutnya!”

            Aku bertepuk tangan mendengar semangatnya. Tepuk tanganku itu kemudian diikuti oleh semua penonton. Rie tersenyum bahagia. Mungkin saat ini dia berusaha untuk tidak mengambarkan kesedihan yang ada dalam hatinya pada nyanyiannya.

            Sesaat kemudian Rie mulai menyanyikan lagu kedua untuk konser ini. Jelas terlihat perbedaan saat dia menyanyikan lagu ini dengan yang sebelumnya. Meski menurutku tidak ada yang salah dengan nyanyiannya yang sebelumnya, tapi nyanyiannya kali ini entah kenapa terdengar jauh lebih indah.

            Aku memang hampir saja mati di dunia Rie, tapi apabila semua yang baru saja kualami dapat membuat Rie menyanyi seperti ini, kurasa itu merupakan harga yang setimpal. Yang dikatakan Ibunya Rie memang benar. Musik dan nyanyian adalah hal paling indah yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia di bumi ini.

            Ponselku bergetar, ada panggilan masuk. Kuambil ponselku dari saku celanaku. Terlihat di layar ponselku nama “Selly”. Apa yang diinginkan anak ini sekarang, pikirku.

            “Hei, ada apa?” tanyaku.

            “Ah, syukurlah kau menjawabnya.” ujarnya, terdengar napas lega darinya. “Baru saja aku dari markas pusat, aku mendengar kabar mengejutkan dari bagian pengumpulan informasi. Ini tentang penyanyi yang sekarang ada dihadapanmu itu.”

            “Kenapa dengan Rie?”

            “Ayahnya meninggal dunia dua hari yang lalu! Kabarnya, Rie tidak ingin media massa menyebarkan hal ini. Untuk menghormati perasaannya, media massa menyetujui permintaan Rie!” katanya dengan penuh semangat.

            “Lalu?” kataku malas.

            “LALU!? Kau ingin mengamati dunianya, ‘kan? Sebaiknya kau urungkan niatmu, saat ini perasaan Rie pasti sedang berkecamuk. Berbahaya kalau kau kesana sendirian sekarang.”

            “Sebenarnya, aku baru saja selesai mengamati dunianya Rie.” kataku.

            “APAAA!? Kau sudah kembali dari dunianya Rie!? Kau baik-baik saja? Tidak terluka, ‘kan?”

            “Tenang saja, aku baik-baik saja. Aku hanya mengamati dunianya.” jawabku bohong.

            “Syukurlah… lalu, lalu? Bagaimana dunianya? Apa seperti mimpi buruk? Apa ada ego negatif yang mengerikan?” tanyanya penuh semangat.

            Aku tersenyum, kemudian berkata, “Tidak ada. Semuanya kebalikan dari imajinasimu. Dunianya sangat indah bagai surga. Malah ada bidadari cantik dengan suara yang indah di dalamnya.”

            “Heee… benarkah? Apa itu berarti Rie gadis yang sangat tegar, ya? Ayahnya ‘kan satu-satunya orang tuanya yang membesarkannya.” ujarnya kecewa.

            “Lalu? Sudah tidak ada lagi hal yang ingin kau sampaikan, bukan? Aku tutup, Ya? Kau menggangguku menikmati konser Rie!”

            “Eh, tunggu sebentar! Masih ada satu lagi, yang ini malah jauh lebih penting.”

            “Heeeh, ya sudah cepat! Apa itu?”

            “Markas pusat mengirim tim spesial yang terdiri dari visitor elit pilihan untuk mencari sesuatu di dunia seniman, kau tahu apa itu?” katanya dengan nada mempermainkanku.

            “Ya, 'nggak tahulah! Cepat katakan apa yang mereka cari!” kataku marah.

            “Hehe, yang mereka cari adalah partitur im-pi-an.”

            “Apa... katamu?”

 

TO BE CONTINUED…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer shadow
shadow at Partitur Impian - Intro Part 1 (10 years 38 weeks ago)
90

Ceritanya bagus, gw suka banget. Apalagi ini berhubungan sama musik hehe

100

Nice, Keep it up

Writer arudoshirogane
arudoshirogane at Partitur Impian - Intro Part 1 (11 years 13 weeks ago)
60

self point taker (grammar kacau)

Writer herjuno
herjuno at Partitur Impian - Intro Part 1 (11 years 14 weeks ago)
100

Haha, saya nggak nyangka kalau kamu akan mengangkat tema ego di sini. Hm, konsep ego di sini cukup rumit ya, sepertinya.
.
Btw, saya suka bagaimana kamu menggambarkan dunia lain. Cukup detail, dan saya bisa membayangkan seperti apa dunia si Rie. Namun, saya paling suka emosi yang kamu kedepankan di sini, haha. Perasaannya si Rie, somehow, terungkapkan dengan apik. Untuk deskripsi suasana, saya kasih nilai 10 deh, terus untuk deskripsi tempat kasih 9,9. Bagaimana kamu "menyembunyikan" sang karakter hingga akhir bab juga oke; ini merupakan salah satu pemanfaatan sudut pandang orang pertama yang keren. Btw, aku ini cewek atau cowok ya? Dalam imej saya sih cowok, tapi nggak tahu juga.
.
Love this part: Kau akan bisa mendengar nada-nada yang lebih beragam dan lebih indah apabila berjalan kaki sambil menikmati dunia.
.
Btw kali lain post-nya 2.000-3.000 kata aja, ya. Meskipun nggak rugi baca panjang-pajang karena memang bagus, tapi akan lebih enak kalau tidak terlalu panjang. ;)
.
Setuju sama dansou, efek cliffhanger dari pemenggalanmu, sialnya, menarik.

Writer arudoshirogane
arudoshirogane at Partitur Impian - Intro Part 1 (11 years 14 weeks ago)

Thanks! Tapi masak anda ga taw gender sendiri seh? hha, canda. "Aku" ato "Key" di crita ni cowok. awal pingin bikin cewe krn ttg musik,tp stlh arc na jadi ternyata lbh cocok klo cowok. ya jadilah Main Hero di crita ini.

Tentang arc na Rie, memang aku pikirin siang malem ampe jungkir balik. Stiap muncul ide pasti ga orisinil, tp stelah dpt ilham pd tengah malam, dapet dah Arc Rie original bwatan saya.

klo mslh jmlh word na saya angkat tangan dah. ni jari klo dah mulai berkarya pasti ga taw kpn berhenti na, memang saya msh pemula -_-

Writer dansou
dansou at Partitur Impian - Intro Part 1 (11 years 14 weeks ago)
2550

Wow! Ini cerita yang keren. Saya suka idenya tentang menjelajahi dunia orang lain melalui musik. Yang bikin saya bingung ialah apakah tugas visitor hanya bisa dilakukan kepada penyanyi? Dan apa urusannya visitor peduli dengan si penyanyi mau berhenti apa nggak? Terus, saya juga bingung gimana keluarnya dari dunia lain itu.
.
Penulisan udah gak ada masalah. Mungkin cuma:
nasehat >> nasihat
sekedar >> sekadar
Ah, satu lagi. Tolong diperhatikan penggunaan huruf kapital setelah dialog, kapan harus besar, kapan harus kecil
.
Dengan sukses, kau mampu membuat pembaca bagaimana kelanjutannya. Saya tunggu

Writer arudoshirogane
arudoshirogane at Partitur Impian - Intro Part 1 (11 years 14 weeks ago)

Thanks! Tapi maaf, saya ga bisa jawab untuk sebagian besar pertanyaan tentang Visitor. Hampir semuanya terjawab di Intro Part 2 yang sekarang lagi "On The Making". Tunggu ya?

Setidaknya saya bisa jawab yang, "gimana cara keluar dari dunia seniman?". Caranya hampir sama kaya cara masuk, tutup mata, konsentrasi, trus lantunkan nada khusus, keluar deh.

Thanks, juga bwat kritik 'n saran na. All that builds my skill will be gladily accepted.