Puisi Ayah

            Aku tidak bisa tidur.

 

            Deru suara menggelegar dan kilatan-kilatan putih bersahutan menghiasi kamarku yang gelap pekat, seolah mengejek usahaku sore tadi—melapisi, mengikat dan menutup kerai jendela rapat-rapat. Palang-palang kayu yang terpaku erat di kaca-kaca jendela berhasil menghalanginya lepas tersapu angin, namun kini berderak ribut menantang. Irama hujan menerpa begitu kencang seakan menelan segalanya, aku tak bisa mendengar sedikitpun suara dua ratus penghuni lain gedung ini—yang kurasa juga sedang mengutuki, tak bisa tidur.

            Meraih jam persegi kecilku dari balik bantal, kusadari subuh hampir datang, masih tak percaya aku menghabiskan berjam-jam waktu tidur yang berharga dengan membolak-balik badan mendengarkan halilintar mencemooh. Biasanya, badai adalah waktu tidur kesenanganku. Deru angin terdengar seperti melodi pengantar tidur, terpaan hujan menggema berirama seperti lagu yang terus menerus berputar, dan aku sama sekali tak terganggu dengan petir yang menyambar. Ditambah lagi udara sejuk membuatku dapat bergelung nyaman dalam selimut. Entah mengapa kali ini mereka semua mengkhianatiku.

            Pada akhirnya, kurasa badai berlalu juga, karena aku lalu tertidur, sekitar saat matahari terbit. Namun aku tak punya banyak waktu menebus jam tidur yang telah terrenggut, alarm-ku telah berkoar-koar kira-kira pukul sembilan. Maka dimulailah hari-ku yang menyebalkan, atau setidaknya begitu pikirku.

            Seperti pagi-pagi biasanya, aku selalu ditemani secangkir kopi pekat dan segigit roti tawar, lalu memeriksa e-mail kalau-kalau ada pesanan yang bermasalah. Biasanya lagi, yang masuk hanyalah pesan-pesan konfirmasi yang tidak begitu penting, namun hari ini, sebuah pesan tunggal berkedip memikat mata. Dari ayahku. Laki-laki yang paling kukagumi di seluruh dunia juga paling kucintai, bahkan melebihi kekasihku sendiri.

            Disana tertulis puisi untuk anakku, tertanda pukul empat subuh. Mau tak mau aku tertawa. Beliau tak pernah menulis hal-hal seperti ini sebelumnya, tidak pada siapapun, apalagi sampai membuatnya masih terjaga sampai subuh. Lagipula keluargaku terbilang introvert, mungkin dari luar terlihat kaku dan tidak akrab. Sejak kecil, tak satupun dari kami pernah mengucapkan rasa sayang satu sama lain, orang tuaku, kedua kakakku, maupun adik perempuanku yang manis, namun kami selalu dekat. Rasanya tak perlu diungkap pun, kedekatan kami sangat dalam, dan kami saling mencintai. Maka pesan ayah kali ini membuatku geli sekaligus sedikit heran. Begini yang beliau tulis.

 

Setiap kali teringat dirimu

Aku begitu khawatir

Khawatir dirimu sakit

Khawatir dirimu mengalami kesulitan

Khawatir dirimu sedih

Khawatir dirimu tidak bisa mengatasi masalah yang menghadang

 

Setiap kali teringat dirimu

Aku begitu senang

Senang melihatmu tertawa

Senang melihatmu bermanja

Senang melihatmu sehat

Senang melihatmu bersemangat menggapai masa depan

 

Setiap kali teringat dirimu

Aku begitu bangga dan bahagia

Bangga karena dirimu begitu tidak egois

Bangga karena dirimu bisa berprestasi

Bangga karena dirimu memang membanggakan buatku

Bahagia karena kau anak berbakti

Bahagia karena kau telah berusaha berbuat yang terbaik

 

Setiap kali teringat dirimu

Aku dipenuhi banyak angan-angan dan keinginan sebagai seorang ayah

Bergaulah dengan kawan-kawan yang baik

Dapatlah jodoh dan pasangan yang baik

Raihlah cita-citamu sampai yang terjauh dan tinggi selangit

Sehatlah selalu jangan pernah sakit

Senyumlah selalu jangan pernah sedih

Bahagialah selalu dimanapun kamu

Hanya itu yang ada dalam hatiku

Dari lubuk hati papa mu yang terdalam dan yang selalu menyayangimu

 

Untuk anakku tersayang

 

 

            Sederhana.

            Polos.

            Agak klise, mungkin begitu yang terpikir.

 

            Aku justru serasa tersambar. Pikiran-pikiran ngawur merangsek. Apa ia baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi? Firasat buruk menamparku bangun dan entah mengapa, badai semalam kini terasa seperti pertanda yang menakutkan.

            Gemetar hebat, jari-jariku sontak menyambar blackberry yang tergeletak di meja. Baru saja aku menekan tombol berniat menghubungi rumah, ponsel itu berdering membuatku terlonjak—di layar itu terpampang nomor rumah.

            Darahku seperti tersedot habis. Dengan jari terkait dan jantung berpacu kubalas panggilan itu dan seketika nyawaku seperti menyusup kembali dalam raga, membuatku hangat.

 

            Suara ayah di seberang sana. Menyapaku hangat. Menjemputku kembali dari firasat yang tidak enak.

 

            Pada akhirnya, menjelang sore, awan badai yang rupanya belum tuntas kembali hadir, tampaknya ingin menantangku lagi. Tapi aku siap, membalasnya dengan senyum sumringah. Malam itu, aku tidur nyenyak seperti anak kecil, memeluk erat gulingku, bermimpi panjang tentang masa kecilku.

 

            Dan ya, ayahku hadir di sana.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Popy RiLvia Luchan
Popy RiLvia Luchan at Puisi Ayah (9 years 21 weeks ago)
90

(b)

Writer maple.tea-hime
maple.tea-hime at Puisi Ayah (10 years 13 weeks ago)
80

huft, jd kangen ayah..
setahun jd mahasiswi yg nggak pernah mudik! *halah, curhat*

cute...

Writer Chie_chan
Chie_chan at Puisi Ayah (10 years 13 weeks ago)
80

Keyenn ce! Feeling-nya tersampaikan. :D Cuma emang, di depan-depan rasanya agak tersendat.

Writer AuThoRities_Ly
AuThoRities_Ly at Puisi Ayah (10 years 13 weeks ago)
100

Speechless, aq suka banget... Keren!!! Just that...
Tentang ayah... Hualah...
Suprise banget...
Sederhana tapi menarik...
Keep writing he...

Writer e.namikaze
e.namikaze at Puisi Ayah (10 years 13 weeks ago)
20

hohoho

Writer Rijon
Rijon at Puisi Ayah (10 years 13 weeks ago)
60

Cil, tulisanmu sekarang kok melarat-larat yak? Belum baca yang Voiceless Screaming, tapi yang ini 11-12 dengan yang tentang rindu kawanmu itu....

Writer Zhang he
Zhang he at Puisi Ayah (10 years 13 weeks ago)

Yea. True story O_O
Lagi ujian nih, bisanya bikin yang gak pake otak mikir alur cerita punya

Writer H.Lind
H.Lind at Puisi Ayah (10 years 13 weeks ago)
90

Mantap!
Sederhana tapi bermakna. :)