Ulasan Hasil Program Tantangan : Fairynee dan Rea_sekar

PENILAIAN BERDASARKAN KETENTUAN TANTANGAN YANG DIBERIKAN:

 

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen, biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, dan mencakup jangka waktu yang singkat.

Sebuah fiksi cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya), komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik dan tokoh utama); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan tak ketinggalan – moralnya.

 

Cerpen karya Fairynee : Rian de Aifeala


 

Cerpen karya Rea_sekar : Florografi


 

Genre

Kali ini, saya tidak akan memfokuskan pada cerita bergenre teenlit. Penulis diperbolehkan menulis cerita bergenre metropop yang menceritakan sebuah cerita dengan berlatar kehidupan metropolitan. Jadi, penulis boleh memilih dua genre cerita, yaitu teenlit atau metropop. Dan seperti jenis cerita teenlit dan metropop kebanyakan, di dalam cerita ini diharapkan tidak ada unsur yang berbau fantasi, atau menjadikan sesuatu yang tidak logis seolah-olah menjadi logis.

 

Untuk Fairynee:

Soal genre, cerpen yang kamu sajikan menceritakan kehidupan metropolitan dan mengambil tokoh yang sudah bekerja. Sekilas, kamu mungkin ingin mengangkat cerita metropop. Perlu diketahui, ada beberapa unsur dalam cerita bergenre metropop, yaitu menceritakan kehidupan dewasa muda, mengangkat gaya hidup metropolitan, dan yang terpenting, menyajikan tema yang diangkat dengan gaya bahasa yang ringan. Tapi masalahnya, saya tidak menemukan penceritaan yang ringan sebagai salah satu khas cerita bergenre metropop dalam cerpen kamu.


 

Untuk Rea:

Saya meminta untuk membuat cerpen dengan dua pilihan, yaitu kamu boleh memilih membuatnya menjadi bergenre teenlit, boleh pula metropop. Yang saya ingin tanyakan kepadamu adalah: menurutmu sendiri, apakah cerita yang kamu buat telah termasuk di antara dua kategori ini? Jika mengacu kepada pendapat pribadi saya, terus terang saya -sedikit pun- tidak menemukan unsur cerita teenlit atau metropop pada ceritamu.


 

Alur

Alur lurus adalah alur yang diawali dengan perkenalan, konflik, perumitan, klimaks, antiklimaks (penyingkapan tabir penyebab problema), dan penyelesaian. Alur sorot balik adalah alur yang diawali dengan penyelesaian. Jadi, cerita yang menggunakan alur ini hanya menceritakan masa lampau. Alur campuran adalah alur yang diawali klimaks, kemudian melihat lagi masa lampau dan dilanjutkan sampai pada penyelesaian. Oleh karena itu, cerita yang menggunakan alur ini ada bagian yang menceritakan masa lalu dan masa mendatang.

Untuk kali ini, saya menginginkan jenis cerita yang menggunakan  alur campuran. 

 

Untuk Fairynee:

Membahas soal alur, cerita yang kamu buat memang menggunakan alur campuran. Namun sayangnya, ada beberapa penempatan alur campuran di cerpenmu ini yang terkesan kurang mulus dan melompat-lompat. Ada bagian-bagian yang tiba-tiba membuat saya bergumam "kok udah skip?". Salah satu contohnya adalah pada bagian ini:

.

“Tapi aku beneran lapar.”

“Pesen aja lagi,” jawabnya acuh. Kembali menyesap teguk terakhir minumannya lalu tenggelam kembali dalam bacaan. Lagi-lagi aku teracuhkan oleh buku-buku itu.

Aku memanggil pelayan, memesan lagi. Aku bertanya, dia mau memesan lagi atau tidak. Dia hanya berdehem. Aku benar-benar terlupakan.

Ponselku berbunyi. Pesan singkat dari atasanku, mengingatkan kalau konsep gambar rancanganku mesti dibawa besok. Aku tersenyum sinis, merasa disindir atas kebiasaan pelupaku. Kebiasaan buruk yang kerap menjadi pemicu perang dingin di antara kami.

“De, maaf. Tadi pas kamu telpon, aku baru bangun,” kataku dengan napas terengah-engah. Aku mencarinya di tiap sudut kampus, tapi hasilnya nihil. Lalu mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Shafira juga bilang kalau dia belum pulang ketika aku menelepon ke rumahnya. Satu-satunya tempat yang mungkin didatanginya hanya kafe ini. Benar, aku menemukannya di sana, tapi dengan wajah tertekuk.

.

Nah, mari kita bahas sedikit. Kamu mungkin mencoba memecah bagian dari cerpenmu, satu sisi mengenai masa lalu ketika Deandra membahas tentang bunga Daisy (karena saya mengharuskan ada sedikit bubuhan tentang bunga pada ketentuan yang saya berikan dan akan dibahas nanti); dan satu sisi lagi tentang pecahan masa lalu yang lainnya. Perpindahan ini kurang mulus. Pembangunan percakapan mengenai bunga yang seharusnya bisa kamu manfaatkan sebagai salah satu tombak menciptakan suasana romantis yang lebih kental atau kenangan yang lebih mengena, tidak kamu manfaatkan. Kamu langsung men-skip bagian itu dan memindahkannya ke bagian lain.

 

Untuk Rea:

Saya tidak merasa kamu memanfaatkan alur campuran yang maksimal dari ceritamu. Sungguh. Sampai saya jadi bingung harus memberi komen apa.



 

Sudut Pandang

Orang pertama

 

Untuk Fairynee:

Hukum utama dari metode narasi dengan sudut pandang orang pertama adalah si penulis berperan menjadi karakter dalam tulisannya. Dalam hal ini, saya tahu kamu sudah berusaha menyelami karakter si tokoh "aku", tetapi, beberapa narasi yang kamu bangun terkesan kaku. Perasaan si tokoh utama yang dikisahkan sedang merasa sedih atau galau, tidak terungkapkan dengan baik di sini. Mungkin ini juga karena pengaruh kamu terlalu sering men-skip bagian per bagian sehingga ketika suasana yang ingin kamu bangun baru saja mulai dirasakan oleh pembaca, kamu sudah memindahkannya ke bagian lain.

Salah satu contohnya adalah pada bagian ini:

.

Dia terus menangis hingga kelelahan. Tangisnya menghilang perlahan-lahan, hanya bahunya yang masih terguncang. Dia meregangkan pelukan.

Aku menyentuh wajahnya dengan kedua tanganku, menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggantung dengan perlahan. Dia memandangku, meletakkan tangannya di atas tanganku.

Bahkan dengan mendung sepekat ini, matanya masih terlihat sangat indah. Sepasang mata pualam yang menyeretku dalam gejolak perasaan yang selama ini berusaha kutekan biar padam. Tapi kali ini aku tidak bisa menahan geliatnya. Wajah Deandra terasa begitu dekat, aku bisa merasakan deru napasnya yang letih. Bibir pucatnya bergetar hebat.

Aku memang bodoh, tidak bisa mengendalikan perasaanku. Wajar, selain terkejut, dia juga sangat marah. Aku telah melukai hatinya, sama sekali tidak menghormati kondisinya saat ini. Aku benar-benar egois.

Dia menamparku keras. Bangkit sambil menggosok bibirnya berkali-kali. Sorot matanya menyiratkan kemarahan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Aku membencimu,” pekiknya lalu pergi, tanpa memberi kesempatan padaku untuk meminta maaf. Aku tidak berusaha mengejarnya karena percuma. Dia pasti sangat marah. Bodoh! Seharusnya aku menemaninya di saat-saat seperti ini, bukan malah membuat segalanya semakin kacau.

.

Pada potongan ceritamu ini, mungkin kamu ingin memberitahu kepada pembaca "ini loh alasan kenapa muncul masalah antara Deandra dan Ricky". Tapi sayangnya, narasi yang kamu bangun kurang mendukung. Saya harus membaca beberapa kali untuk menyimpulkan, rupanya Deandra marah pada Ricky karena dia mencium(?) Deandra. Padahal sebelumnya, Deandra yang sedang sedih – memeluk Ricky, dan dia juga yang memandang Ricky lebih dulu serta meletakkan tangannya pada tangan Ricky.

Ini agak bertolak belakang dengan caramu menampilkan emosi Deandra yang tiba-tiba meledak ketika Ricky menciumnya. Karena ketika kamu menampilkan narasi bahwa Deandra memandang dan meletakkan tangannya pada Ricky, pembaca sedang kamu ajak untuk berpikir bahwa Deandra mempunyai perasaan yang sama dengan Ricky. Tapi kenyataannya Deandra malah bangkit berdiri dan menggosok bibirnya kuat-kuat. Kamu tidak menuliskan bahwa ada adegan di mana Ricky mencium Deandra. Hal ini akan menyebabkan pembaca pada awalnya akan merasa bingung karena minimnya narasi yang kamu berikan, dan harus membaca ulang lagi. Sisipkan saja kalimat yang memang kamu perlukan untuk membangun situasi yang kamu inginkan. Kalimat mencium bibir itu bukan suatu hal yang tabu loh.

Saya akan mencoba memberikan contohnya dalam versi saya:

.

Dia menangis lama. Hingga kelelahan. Sampai akhirnya, perlahan-lahan dapat kurasakan pelukannya merenggang. Deandra melepaskan diri dariku. Kulihat bahunya masih berguncang begitu hebatnya.

Pelan, kedua tanganku bergerak naik. Kusentuh wajahnya dengan kedua tanganku. Menghapus air mata yang membasahi wajahnya.

Bahkan di tengah mendung sepekat ini, masih kusadari begitu indah sepasang mata yang tengah menatapku kini. Sepasang mata pualam yang menyeretku pada gejolak perasaan yang selama ini selalu kutekan agar padam. Tapi saat ini, rasanya aku tak mampu. Rasanya aku tak bisa. Rasanya tak sanggup lagi menahan buncahan rasa di dadaku.

Wajah Deandra begitu dekat. Sangat dekat. Terlalu dekat sampai-sampai bisa kurasakan deru nafasnya yang letih dan hangat menerpa wajahku sendiri. Dan bibir itu. Bibirnya yang tengah bergetar hebat itu – menggodaku. Membuatku sungguh tak bisa lagi menahan diri dan kehilangan akal sehatku yang menguap entah kemana. Aku bahkan tak tahu – sejak kapan bibirku telah melekat di bibirnya yang basah.

Yang kutahu saat itu – aku mencintai Deandra. Jika Kevin mencampakkannya, akan kukerahkan segala cara agar dia mengerti, bahwa tak peduli apapun yang terjadi, dia masih memiliki aku. Dia masih punya aku.

Tapi yang tak kusangka, Deandra malah mendorongku kuat-kuat. Dengan nafas memburu, dia bangkit setelah menghadiahkanku sebuah tamparan telak. Digosoknya bibirnya kuat-kuat. Dan binar matanya yang penuh kesakitan tadi telah berganti menjadi pendar amarah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Aku membencimu!" pekiknya. Lalu meninggalkanku sendirian. Tergugu oleh kebodohan yang kuciptakan sendiri.

.


 

Untuk Rea:

Sudut pandang orang pertama memang benar kamu terapkan dalam ceritamu ini, mengungkapkan pikiranmu, emosimu, dan semua itu sampai ke pembaca. Tetapi sayangnya, penggunaan sudut pandang ini saya katakan tidak sesuai dengan apa yang saya minta karena tidak mencerminkan ketentuan yang saya berikan. Sekali lagi, ceritamu ini – menurut saya – jelas-jelas bukan teenlit atau metropop.


 

Tokoh

Laki-laki atau perempuan. Remaja atau sudah bekerja, diperbolehkan.


 

Setting

Jakarta, 2011. Tonjolkan deskripsi yang dapat membangun perasaan tokoh, situasi yang sedang dialaminya, serta suasana tempat yang mendukung perubahan mood pembaca untuk larut ke dalamnya.
 

Untuk Fairynee:

Kamu mengambil tempat dengan latar sebuah kafe. Cukup baik karena kesan pertama yang biasa ditangkap pembaca dari sebuah kafe adalah suatu tempat yang "sendu" – sesuai dengan apa yang ingin coba kamu bangun dari ceritamu.

 

Untuk Rea:

Jujur, saya bener-bener bingung mau komen apa soal setting ceritamu. Haha.
 

Jumlah Kata

3500 s/d 4000 kata. Untuk cerpen yang agak panjang, permainan plot cerita dan penggunaan diksi yang tepat memainkan peranan penting untuk mencegah para pembaca merasa bosan, melainkan semakin tertarik untuk mengikuti jalan cerita hingga akhir.

 

Untuk Fairynee:

Jumlah kata masuk dalam ketentuan yang diminta. Namun sesuai yang telah saya katakan sebelumnya, untuk cerpen yang agak panjang, permainan plot cerita dan penggunaan diksi yang tepat sangatlah penting. Namun pada ceritamu, saya tidak menemukan permainan plot yang cukup berarti, dalam arti, pembukaan yang kamu tampilkan di sini, terlihat tidak mengundang rasa penasaran kepada pembaca. Paragraf-paragraf awal adalah paragraf yang:

  1. Menentukan antusiasme pembaca untuk memutuskan apakah dia akan melanjutkan untuk membaca atau tidak. Bagian awal ceritamu, kamu penuhi dengan banyak deskripsi mengenai kelelahan dan pikiran si tokoh utama tentang pekerjaannya – yang menurut saya – tidak membangun isi hati yang sedang mendera si tokoh utama. Contohnya pada paragraf ketiga, yang jika dihilangkan, saya yakin tidak akan mengganggu jalannya cerita. Hati-hati dengan penggunaan banyak kata yang mubazir, karena akan membuat pembaca merasa bosan.

  2. Melahirkan suatu pikiran di mana pembaca ikut menerka jalannya cerita dan berimajinasi sendiri mengenai ending sebuah cerita.

Di sini tugas penulis adalah menciptakan suatu pembukaan yang membuat para pembaca berpikir A, tetapi ternyata penulis memberi suatu ending B. Bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan oleh pembaca, sehingga pembaca tidak merasa cerita tersebut klise dan mudah ditebak.

Saya akan coba untuk memberikan penjelasan sebagai berikut:

Pada awal cerita kamu membahas soal kepenatan tokoh utama, yang akhirnya mengantarkan dia pada sebuah kafe yang memiliki banyak kenangan antara dia dengan gadis yang disukainya di masa lalu – Deandra – , kemudian dilanjutkan dengan pikiran-pikiran tokoh yang terbang pada kenangan masa lalu saat dia pernah duduk di dalam kafe tersebut, lalu kamu coba menciptakan klimaks dengan menghadirkan tokoh Stella – teman Deandra – . Ini tidak salah, akan tetapi saya memiliki pola pemikiran alur cerita yang berbeda. Akan lebih baik, jika di awal cerita, kamu memangkas persoalan kepenatan mengenai pekerjaan si tokoh aku. Buka kalimat di awal langsung pada inti cerita. Bangun kesedihan tokoh utama. Berikut akan saya berikan ilustrasi singkatnya:

.

Malam ini dingin. Meski masih mengenakan kemeja lengan panjang lengkap dengan jas berwarna hitam, tapi rasa dingin masih menggigit. Aku tidak tahu persis, apakah ini karena pengaruh cuaca yang sedang tak bersahabat akibat hujan sore tadi – atau karena ada yang tak beres dengan diriku.

Selama rapat yang menghabiskan waktuku hingga seharian tadi, aku sibuk memenuhi otakku dengan membayangkan nikmatnya berendam dalam bathtub, setelah itu tidur selama mungkin. Namun nyatanya, pada akhirnya aku malah memilih untuk berdiri di sini. Tercenung seperti orang bodoh yang tidak melakukan apapun sejak tadi. Hanya termenung puluhan menit seraya menatap bangunan di hadapanku. Bangunan yang lima tahun lalu meninggalkan bekas yang begitu dalam di hatiku.

Kuhela nafas panjang. Membiarkan masa lalu bermain kembali di benakku. Lalu tanpa sadar, kurasakan bibirku membentuk sebuah senyum. Senyum yang – pahit.

Sebenarnya apa yang kucari?

Lima tahun silam, telah kubiarkan sebagian dari diriku hilang di tempat ini. Sebagian dari jiwaku yang dibawanya pergi. Entah ke mana. Dan sekarang aku berdiri lagi di sini, memohon keajaiban-keajaiban yang tak pernah kupikirkan sebelumnya, hanya supaya aku bisa melihatnya lagi. Di tempat ini. Sekali ini.

Sekian waktu kubutuhkan untuk mendamaikan perseteruan dalam hatiku antara memutuskan untuk pulang atau melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam bangunan itu, hingga akhirnya kakiku dengan lancang memilih untuk masuk ke dalam dan menghabiskan malamku hingga larut di sana.

Kudorong pintu di hadapanku dan membiarkan mataku melahap seluruh ruangan di dalamnya hingga ke sudut-sudutnya. Kucoba mengais rekaman ingatanku lima tahun yang lalu ketika aku masih sering menghabiskan waktuku dengannya di sini. Di tempat yang sama. Dengan gumpalan perasaan dalam dadaku yang kurasa – masih tak berubah.

Menyadari begitu banyak hal yang tak berubah di tempat ini, tiba-tiba saja membuatku sesak. Bayangannya muncul di mana-mana. Di sofa di sudut ruangan. Di sebuah meja persegi di samping kananku. Di hadapanku. Sementara telingaku bendenging tak berhenti. Memenuhi seisi otakku dengan potongan-potongan percakapan kami di masa lalu. Hingga akhirnya aku menoleh dengan refleks, ketika seseorang tiba-tiba menyebut namaku.

"Ricky?" Suara itu bergetar.

Aku menoleh. Mendapati sepasang mata yang tengah menatapku tak percaya.

"Ricky Hermawan...?"

Kalau tadi aku merasa malam ini dingin, kini aku yakin hawa dingin itu akan segera membekukan sekujur tubuhku. Sungguh.

.

Nah, di potongan introduksi ini, kamu bisa coba untuk mengajak pembaca berpikir "oh, Ricky akan bertemu lagi dengan Deandra" atau "oh, yang dilihat Ricky itu pasti Deandra". Padahal bukan. Yang ditemui Ricky pada saat itu ternyata adalah Stella, sahabat Deandra. Buat seolah-olah Ricky begitu terkejut seperti dia sedang melihat Deandra. Namun sebenarnya, penulis bisa membuat Ricky tampak terkejut dengan membangun perasaan bahwa Ricky memiliki suatu harapan untuk bisa bertemu lagi dengan Deandra – melalui sahabatnya, Stella – ini. Di ending cerita baru kamu ungkapkan bahwa ternyata Deandra telah tiada.

Dengan demikian, kamu bisa memancing rasa penasaran pembaca untuk menikmati tulisanmu hingga akhir. Jadi permainan plot sangat penting untuk mencegah pembaca merasa bosan dan berhenti membaca di tengah cerita.
 

Untuk Rea:

Yang saya tangkap dari ceritamu adalah betapa sadisnya saya karena telah menetapkan 3500 kata sebagai batas minimal.
 

Tema

Tidak ada ketentuan khusus untuk tema. Penulis bebas menentukan jenis tema yang akan diangkat, asalkan menceritakan sesuatu tentang cinta.

Sesuatu tentang cinta bukan hanya bicara mengenai hubungan antara lawan jenis, melainkan bisa mengangkat cinta kepada orang tua, sahabat, atau sebagainya.

Hindari penceritaan yang mengangkat sesuatu yang berbau klise. Jikapun penulis mengangkat sesuatu hal yang biasa, pastikan pada bagian cerita, baik di tengah maupun akhir cerita, ada sesuatu hal berbeda yang penulis tonjolkan sehingga cerita tidak lagi terkesan biasa.

 

Untuk Fairynee:

Mengangkat tema cinta antara dua lawan jenis sudah cukup baik, meskipun jalan cerita yang kamu ambil sudah banyak diangkat oleh penulis-penulis lainnya. Sebenarnya tidak masalah mengangkat hal atau konflik yang sudah banyak diceritakan penulis lain, hanya saja kamu perlu mengatur permaian plot, pemanfaatan diksi, serta gaya bahasa yang ringan sehingga pembaca merasa nyaman saat membaca ceritamu karena tidak perlu berpikir keras karena kamu menceriterakannya dengan mudah dipahami. Karena sebagian pembaca itu membaca suatu tulisan untuk refreshing loh, bukan malah untuk mencerna suatu hal yang berat-berat.

 

Untuk Rea:

Kesekian kalinya, tema ceritamu sungguh bukan termasuk jenis cerita teenlit atau metropop.
 

Ending

Saya tidak menyukai jenis ending yang menggantung, atau ending yang sengaja dibuat untuk membuat pembaca menerka-nerka "apa sih yang terjadi dengan si tokoh utama?". Buat sebuah ending yang kuat dan jelas. Tapi jangan ciptakan sebuah ending yang sifatnya mendikte bahwa cerita telah selesai. Melainkan bangun suatu situasi atau percakapan yang membuat pembaca bisa membayangkan suatu ending yang membuat mereka merasa puas setelah membaca. Sekedar saran, penulis dapat memberikan kejutan pada ending cerita, yang bisa saja berupa penjelasan dari konflik yang dibangun, sehingga meninggalkan kesan kuat bagi pembaca di akhir cerita.

 

Untuk Fairynee:

Kamu sengaja menempatkan kalimat  “Setahun lalu, dia mengalami kecelakaan, Rick, saat akan pulang dari tempat ini.” 

Tidak salah sih, mungkin kamu ingin mengagetkan pembaca dengan cara ini. Tapi seharusnya, sebelumnya kamu tampilkan dulu penyesalan Ricky. Bangun narasi mengenai betapa marahnya Ricky pada dirinya sendiri karena dia salah paham pada Deandra, sehingga kamu "menipu" pembaca, sehingga pembaca bertanya-tanya, "Kenapa sih kok Ricky yang marah pada diri sendiri? Padahal kan harusnya dia marah karena Deandra tidak datang menemuinya dulu?", baru kamu akhiri dengan ending yang kamu inginkan tersebut. Di bagian ending ini, kamu agak minim deskripsi, karena itulah, perasaan sedih dan menyesal Ricky – menurut saya kurang terbaca.
 

Untuk Rea:

Saya tidak akan memberikan komentar apapun soal ending ceritamu.



 

Ketentuan Khusus

  1. Saya sangat menyukai bunga. Beberapa cerita yang saya tulis, saya sisipkan cerita atau definisi mengenai bunga, kemudian saya sesuaikan dengan cerita yang saya tulis. Untuk tantangan kali ini, saya menginginkan penulis untuk menyisipkan definisi atau kisah atau legenda tentang bunga dalam cerita yang dibuat, tanpa mengurangi atau merusak jalannya cerita yang dibangun. Jenis bunga tidak saya tentukan. Tapi alangkah baiknya jika tidak menggunakan bunga yang umum digunakan, misalnya bunga mawar, atau malah menggunakan jenis bunga yang sangat tidak umum digunakan, misalnya bunga bangkai (haha, bercanda).

 

Untuk Fairynee:

Kamu mengambil bunga Daisy dalam ceritamu ini, tapi tidak menjelaskan apapun tentang kisah atau dongeng atau legenda mengenai bunga ini yang sebenarnya bisa membantumu membangun suasana cerita yang kamu inginkan. Alih-alih membangun cerita dengan unsur romantis lewat bunga, kamu malah menceritakan soal family asteraceae, simbol kelahiran bulan April, bisa menyembuhkan penyakit. Ini tidak sesuai dengan apa yang saya maksudkan. Maksud saya di sini, saya ingin penulis menyisipkan sesuatu tentang bunga yang tidak merusak jalan cerita yang dibangun, tetapi bisa penulis  manfaatkan untuk membangun suatu bagian yang mengena di hati pembaca.

Contohnya, judul yang kamu gunakan untuk ceritamu ini adalah Rian de Aifeala yang artinya Jejak Sesal. Mengacu pada cerita yang kamu buat, judul sudah tepat, akan tetapi bukankah akan lebih tepat lagi jika kamu menggunakan suatu bunga yang bisa melambangkan penyesalan tersebut, sehingga bisa mengentalkan emosi kesenduan dalam ceritamu? Salah satu bunga yang saya tahu melambangkan rasa penyesalan adalah Blue Bells.

Manfaatkan setiap aspek dalam cerita untuk menciptakan sesuatu yang melekat di hati pembaca.
 

Untuk Rea:

Serius, saya bener-bener nggak habis pikir, mengapa kamu memasukkan unsur bunga yang saya minta jadi semacam hal perkumpulan seperti itu?
 

  1. Selain itu, saya lebih menyukai jenis cerita yang bukan hanya sekedar menceritakan suatu konflik dan penyelesaiannya, melainkan adanya pesan moral yang disampaikan penulis kepada pembaca. Pesan moral yang ingin disampaikan, saya serahkan sepenuhnya kepada penulis.

 

Untuk Fairynee:

Sayang sekali saya tidak menemukan pesan moral yang ingin kamu sampaikan dalam ceritamu ini.
 

Untuk Rea:

Kurasa pesan moralmu dalam ceritamu ini adalah kebencianmu mengikuti tantangan ini dan penantangnya adalah saya. (haha)


 

  1. Saya juga suka jenis cerita yang agak mellow, yang seakan-akan bisa membuat pembaca ikut merasakan kesedihan atau kebingungan yang dirasakan oleh si tokoh utama. Karena itu, saya tidak menyarankan membuat cerpen dengan kisah yang berbau horor atau komedi.

     

Untuk Fairynee:

Ceritamu sudah terkesan cukup sendu. Hanya saja – seperti yang telah saya bahas di atas – saya menemukan banyak potongan cerita yang sebenarnya bisa saja dihilangkan tanpa mengurangi inti cerita, sehingga terkesan agak datar dan tidak tersampaikan perasaan tokohnya.
 

Untuk Rea:

Tidak memenuhi ketentuan yang saya minta.
 

  1. Penggunaan gaya bahasa disesuaikan penulis pada cerita yang akan diangkat, dan jika dapat, mohon diperhatikan supaya EYD dan kesalahan ketik diminimalisasikan untuk menciptakan rasa nyaman bagi pembaca.

Untuk Fairynee:

Ada cukup banyak kesalahan penggunaan EYD pada ceritamu, namun rasanya tidak bisa saya bahas satu per satu. Salah satu yang akan saya bahas adalah mengenai penggunaan imbuhan me-.

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

  1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

  2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

  3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

  4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

  5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

  6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

  1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

  2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

  3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

.

Saya menemukan beberapa penulisan kata “mensejajarkan” dalam ceritamu. Kata mensejajarkan, mengacu pada penulisan EYD yang tepat, mungkin bisa ditulis dengan “menyejajarkan”.

Selain itu, perhatikan mana penulisan yang butuh di-italic dan mana yang tidak perlu digaris-miringkan. :)
 

Untuk Rea:

Saya rasa tidak perlu membahas soal EYD padamu. Saya yakin kamu sudah baik dalam hal ini.


 

  1. Keseimbangan narasi dan percakapan juga perlu diperhatikan. Jangan melulu bernarasi, juga jangan terus menerus membangun percakapan.

  2. Bangun karakterisasi yang kuat melalui tindakan para tokoh, bukan melalui narasi yang diciptakan penulis.

  3. Ciptakan konflik yang menarik dengan penceritaan yang ringan sehingga tidak membuat pembaca berpikir keras saat membaca, khas cerita teenlit atau metropop.


 

Kesimpulan akhir:

Untuk Fairynee: Cukup baik, mudah-mudahan komen saya yang sekedarnya ini bisa sedikit membantu. Tapi sejujur-jujurnya saya juga masih harus banyak belajar. :)

 

Untuk Rea: Melalui tantangan ini, saya yakin seyakin-yakinnya, teenlit dan metropop bukan genre penulisanmu. Hahaha. Semoga sukses dengan apa yang kamu sukai dan tetap menulis ya. Jika berminat untuk mendalami menulis teenlit atau metropop, banyak cerita teenlit dan metropop di k.com yang bisa kamu jadikan referensi untuk belajar. Cobalah banyak membaca tulisan para master di k.com. :)


 

Penilaian (dari skala 10):

Untuk Fairynee: Saya memberi poin 6.

Untuk Rea : Saya memberi poin 3.

 

Akhir kata, maaf jika terdapat sangat banyak kekurangan karena saya benar-benar bukan orang yang pintar berkomentar (jadi harap maklum sebesar-besarnya) dan terima kasih ya sudah saya repotkan dengan ketentuan yang saya buat. :)


 

Read previous post:  
45
points
(3754 words) posted by fairynee 9 years 14 weeks ago
75
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | fairynee; sun flowers; program tantangan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Ulasannya ruwet, tapi jelas banget...
jadi ciut nih mau buat cerita...

Ulasan yang benar-benar menarik. Soal ceritanya si Rea, kupikir dia memang menulisnya dengan banyak memasukkan elemen pribadi (aku sendiri sering menulis menggunakan metode ini). Tapi karena satu dan lain hal, hasil akhirnya emang kayak enggak memenuhi ketetapan genre yang ditetapkan, dan ada terlalu banyak kata terbuang untuk hal-hal tak penting.
.
Ahaha, pasti ini efek samping dari menulis tanpa peduli soal arah. >.<

80

Ulasan yg komplit........keknya nie penulis yg handal :)

100

Wkwkwkwkwkwwkkwkwkwkwkwkwkwkwk. Saya ikutan ngakak aja, ah. Tentunya untuk Rea. LOL LOL ROFL LOL ROFL ROFL wkwkwkwkwkwk. HAHAHAHAHA. #eh

100

wow ulasan yang komplit. kalau dikatakan sebagai nasi kotak, ni ulasan komplit semuanya.

dan Rea, selamat untukmu. hehehehe.
Dan mari bergabung dalam ACR.

Neee .... semanghat!!!!

selamat selamat....hag hag semangat....*acungkanpenatinggi2danasahlagi

100

hmmm
-------------------------------------------------
wkwkwkwkwkwkwk, selamat rea

Sudah saia duga.
.
Yang penting seru, haha. Saia seneng banget ditantang seperti ini. Dan lagi, pembahasan di sini bener-bener bisa bikin saia belajar lagi.
.
Saia bangga bisa ditantang mbak Try^^

Hmm hmm saia juga dapat informasi yang menarik
----------------------------------------------
Tapi saya tetap berpendapat kalau cerita florografi mu bisa jadi drama yang menarik :)

Hahaha, iya, kalo saia gak autowriting (dan belajar untuk remed) mungkin bisa saia jadiin drama. Masalah terbesar saia adalah saia ini belum pernah bisa bikin cerita mellow. Mungkin nanti saia coba kembangkan, mumpung lagi libur. Hehe.

Cerita yang Mellow :D
-
Let see, cerita yang menurutku emosinya cukup kuat adalah hmm cerita yang ada aspek:
> Perjuangan
(Klise tapi tetap berkesan: Si tokoh sakit keras tapi tetap optimis, seorang tentara/ksatria dalam sebuah pertempuran atau misi bunuh diri)
>Betrayal
(Lanjutan dari poin sebelumnya, cuman si tokoh dikhianati oleh apa yang dipercayanya, hal-hal yang mendukungnya dulu dalam perjuangannya)
>Kematian Epic Character
(Tokoh keren, menyenangkan, disukai, tapi karena suatu sebab yang Epik, akhirnya mati juga, kalau bisa secara Epik-Tragik)
>'Good' Ending (Good buat saya sebagai pembaca :P)
Termasuk di dalamnya: "Downer Ending", "Bittersweet Ending", "Pyrrhic Victory", dan ending-ending lain sejenis.

wow... saya bangga juga, bagaimana kamu bisa tau nama asli saya? wkwkwkw..
Gudluck Rea.. Tulisan2mu bagus2 kok, cuma mgkn kamu gag terbiasa dengan genre sperti teenlit atau metropop.

Iya, haha. Makanya sekarang saia maksain diri buat ikutan ACR. Biar bisa ngasah.
.
(Ups, saia baru inget bahwa dikau adalah salah satu pengocok arisan.)
.
Euh... saia tau nama asli mbak Try dari mana ya?
*lupa beneran*
Mungkin lucky-wild-guess. Hehe.

@Rea: kalo berdasarkan teori Sun Tzu, jangan pernah bertarung di medan yang tidak disukai. Hehe. Tapi untunglah ini cuma latihan tarung.