Diari Mimi

            Malam ini dirimu lagi-lagi menangis.

 

            Entah apa yang terjadi, kau mengunci diri dalam kamar sejak sore, tidak menggubris siapapun, bahkan ibumu yang mengantarkan makanan. Kebiasaanmu ini semakin sering terjadi dalam beberapa hari terakhir, tepatnya setelah kau bertemu Mike. Kadang kau pulang dengan langkah melambung dan senyum merekah, di lain malam kau membanting pintu dan memaki-maki. Ibumu selalu sabar menghadapi tingkahmu yang berubah-ubah, juga senantiasa memberi nasihat, yang kadang berakhir dengan adu mulut sengit. Malam ini beliau terlihat lelah dan memilih membiarkanmu sendiri. Ia pergi beristirahat dalam kamarnya, sementara dirimu terisak-isak di kamar yang lain.

 

            Aku di sini sendiri, menunggumu keluar.

 

OOO

 

            Pagi ini langit begitu cerah, sungguh pas untuk menghias hari yang telah kau tunggu-tunggu. Senyumanmu seperti terukir abadi, tak sedetikpun hilang. Kau berlari kesana kemari, mengkhawatirkan hal-hal kecil, seperti riasanmu yang kau takutkan tidak serasi dengan pakaianmu. Ibumu sepertinya tidak keberatan, turut sibuk menata rambutmu saat kau kembali berlatih melantunkan pidato kelulusan yang telah kau siapkan semalaman. Kau ingin segalanya sempurna hari ini—puncak kerja kerasmu selama empat tahun. Ibumu tahu kau telah belajar dengan giat dan meraih nilai nyaris sempurna, maka ia berkaca-kaca saat memelukmu yang siap berangkat. Begitu cantik. Lalu menjelang siang kau dan ibumu berangkat bergandengan, masih dengan tersenyum lebar.

 

            Aku di sini sendiri, menunggumu pulang.

 

OOO

 

            Kau tidak pulang malam ini. Ibumu di ruang makan, melamun menunggui santapan yang terhidang di meja, yang kini pasti telah dingin. Jam dinding berdentang sembilan kali. Lalu sepuluh. Sebelas. Dua belas. Hari ulang tahunmu pun tiba. Ibumu akhirnya menyerah saat dua dentangan terdengar dan dirimu masih belum muncul. Ia memberesi piring-piring makanan itu, juga sepotong kue tart stroberi yang agak meleleh, lalu mematikan lampu dan pergi ke kamarnya. Kemudian sunyi.

 

            Aku di sini sendiri, menunggumu sampai pagi.

 

OOO

 

            Kau menangis lagi.

 

            Kali ini ibumu turut menangis bersamamu, memelukmu erat-erat. Kau memamerkan cincin berkilau di jari manis sambil terus berceloteh panjang lebar soal tunanganmu, Mike; bagaimana ia begitu manis dan romantis, bagaimana ia begitu kaya raya dan tampan, dan bagaimana ia meminangmu. Wajahmu begitu berseri dengan mata berkaca-kaca. Sore itu kau berdandan begitu memesona berbalut gaun satin biru kebanggaanmu. Ibumu seperti biasa begitu antusias melihatmu bahagia, menata rambutmu dengan cantik, membuatmu tampak sempurna layaknya dewi-dewi yunani.

            Malam itu ibumu sendirian di ruang tamu, membolak-balik album foto yang merekam segala kenangan kalian sejak dirimu lahir. Ia menangis semalaman.

 

            Aku di sini sendiri, menunggumu, berharap dirimu melihatnya.

 

OOO

 

            Barang-barang dipindahkan. Perabotan dikemas. Orang-orang asing lalu lalang mengangkuti kardus-kardus besar. Kau dan ibumu turut sibuk mondar-mandir—sampai akhirnya truk pengangkut di depan gerbang pergi, meninggalkan rumahmu separuh kosong. Kau menangis lagi, berpelukan dengan ibumu. Lalu bersama-sama mengitari seisi rumah, mengenang dua puluh enam tahun hidupmu di sini. Kemudian kau pergi. Diiringi hujan lebat di luar jendela, ibumu menonton televisi malam itu—tayangan seri komedi. Pun begitu, air matanya terus tumpah sepanjang malam.

 

            Aku di sini sendiri, bertanya-tanya apa dirimu akan pulang.

 

OOO

 

            Kau sudah lama tidak berkunjung. Yang lalu kau dan suamimu datang membawa oleh-oleh, namun begitu cepat kalian pulang. Kau memberitahu ibumu—yang kini berjalan membungkuk—bahwa kini kau bekerja di sebuah perusahaan, juga sedang berusaha mengandung. Ibumu mengerti kau sibuk, begitu juga suamimu, yang tampak enggan berlama-lama. Lalu kau pergi dan tak pernah kembali lagi.

 

            Aku di sini sendiri, masih menunggumu.

           

OOO

 

            Matahari terasa begitu panas dan terik. Sejak pagi ibumu sibuk di kebun belakang di antara tanaman-tanaman merambat pada tiang-tiang dan semak-semak yang menjulur, entah bagaimana ia bisa tahan cuaca sekejam ini. Kau dulu biasa bersamanya, membantunya memangkas dan menyirami, kemudian beristirahat di teras dengan berlumuran tanah, ditemani segelas es teh. Kau akan mengobrol banyak dengan ibumu, meski lebih banyak dirimu yang berbicara. Ibumu tak keberatan. Selalu antusias menanggapi keluhan-keluhanmu. Sudah lama sekali suaramu tak terdengar di rumah ini, hingga ibumu kerap bercakap dengan fotomu yang berbingkai di meja. Akhir-akhir ini ibumu sering mendekapnya kemana-mana.

 

            Aku di sini sendiri, layaknya ibumu—berharap kau cepat pulang.

 

OOO

 

            Hari ini aku begitu lelah.

            Ibumu menyiapkan hidangan yang nampak lezat untukku, lalu duduk di sampingku sepanjang hari, menemani. Kau masih belum pulang juga, meski siang tadi ibumu baru bicara telepon denganmu, memberitahumu kecemasannya akan kesehatanku. Kecemasan kosong tentu saja, karena aku hanya keletihan. Namun tampaknya kau benar-benar sibuk, hingga kau bilang mungkin tak sempat pulang. Ataukah tidak peduli?

 

            Aku letih. Pulanglah... sekali saja. Bermain denganku…

 

OOO

 

            “Ibu, bagaimana kabarnya? Aku benar-benar nggak bisa pulang sekarang,”

            “Nggak apa-apa. Pagi ini ibu cek sudah mati, sepertinya Mimi kemarin malam matinya.”

            “Oh. Yasudah... Memang sudah tua. Kuburkan aja, bu. Di kebun belakang atau langsung dibuang biar nggak bau nanti.”

            “Anjing baik, nurut tiap hari. Sayang kamu nggak bisa di sini nemeni dia,”

            “Iiih.. pasti udah bau kan beberapa bulan terakhir. Langsung buang aja deh, bu”

 

OOO

 

         

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer moon eye
moon eye at Diari Mimi (6 years 23 weeks ago)
90

Mimi... T_T
kasihan banget.. nggak tega..
cinta dan kesetiaan yang tidak terbalas.
semoga Mimi langsung masuk surga anjing ya. :')
keren banget cerita, pov, dan diksinya.
walaupun sepertinya telat deh baru baca setelah 3 tahun kemudian. hehe.
andai udah kenal kemudian dari dulu :(

Writer Kona
Kona at Diari Mimi (9 years 30 weeks ago)
90

Waaaaaw! Sempet terkecoh karena narasinya lebih mendetail ke ibunya yang semakin tua dan renta :( Untung ibunya gak meninggal :)) Jadi masih punya waktu lebih banyak! XD
Tega bener sih anaknya T__T Mentang mentang udah punya suami, dia gak mau sering ngunjungin ibunya. Diksinya keren banget, walau ada masalah sama EYD tapi beneran, saya ngerasa tersentuh, apalagi waktu ibunya mengenang lembar demi lembar kehidupnya putrinya sampai saat itu. Awww :(
Mimi nya unyuuu banget. Saya suka. Lain kali bikin cerita tentang binatang lagi yah! :)
Nice story! :D

Writer miss worm
miss worm at Diari Mimi (9 years 49 weeks ago)
90

cantik! love this so much ^o^

xentra at Diari Mimi (10 years 6 weeks ago)
80

aq tertipu.......
ternyata Mimi adalah seekor anjing....
nice post :)

Writer alexia_dee
alexia_dee at Diari Mimi (10 years 12 weeks ago)
100

waaaa.... Miminya mati hiksss... T_T
sempat ketipu, kirain si 'aku' itu semacam sepupunya atau gmn. Ga kepikir bahwa itu anjing peliharaan, lucu lg.
Saat baca sampai setngah sempat pikir ibunya yg meninggal. Hhehe.. Untung bukan. Soalnya ini aja uda bikin berkaca2.
Well done. G suka sama cerita ini :D

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 12 weeks ago)

Aw aw lucu kan ya? XD itu anjingku beneran~~ heheh
Thanks udah mampir!

Writer ElvaCarey69
ElvaCarey69 at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
80

Awalnya memang agak membingungkan. Tapi setelah diperhatikan endingnya... oh, ternyata begitu toh. (?)

Anyway, ceritanya benar2 menyentuh sekali! ^_^

Entah kenapa saya sangat bersimpati dengan Mimi, yang mempunyai majikan seperti itu -_- *dijitak*

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 12 weeks ago)

XD thanks ya~

Writer Rijon
Rijon at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
70

Jadi inget cerpen-cerpen repetisinya Djenar Maesa Ayu, Cil. Yang ceritanya tentang perselingkuhan, kelamin, dan pastinya seks. Wkwkkwkwkw. Kalau gak salah judulnya "Jangan Main-Main dengan Kelaminmu," juga mirip cerpen "Air" (Djenar Maesa Ayu juga). Gayanya repetisi di masing-masing babak maksudku. Terutama kalimat penutup/pembuka tiap babak yang menegaskan repetisinya itu. Cuma, kacak-silat narasi Djenar, di tiap repetisinya, jauh lebih kuat dan berkhas dari cerpenmu. Terlepas dari itu aku lebih suka yang ini daripada yang sebelumnya kukomentari.

Writer Rijon
Rijon at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Nih cerpen "Air" yang kumaksud (untung ada arsipnya): http://cerpenkompas.wordpress.com/2006/06/25/air/
Hahahahaha.

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Aku gak suka tema2 kayak gitu

Writer Rijon
Rijon at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Bukan tema seksualitasnya yang kuperbandingkan, Cil, gayanya. Hahahahaha.

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 12 weeks ago)

Waks ya jelas kalah level lah aku >.<

Writer anggra_t
anggra_t at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
90

Endingnya... TT__TT <-- Dog lover

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

XD thanks dah mampir

Writer ianz_doank
ianz_doank at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
80

wah endingnya malah si mimi tewas *kayak korban tabrak lari aja..

Kirain endingnya ttg si 'kau' dan ibunya yg udah renta..

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

wkwkwkwk... Habis dah mumet. Thanks yak XD

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
90

Hiks...
sampai terakhirpun si Mimi dicuekin ya
tegaaa... begitulah kalo sudah bosen sama hewan peliharaan
didekepin cuma pas baru beli aja, tapi kalo sudah bosen mana peduli sama hidup matinya TT-TT

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

eheheh... dog lover! *high five* XD

Writer musthaf9
musthaf9 at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
80

wkwkwk, agak ketipu juga dengan si "aku" :D
.
hmm, ok, jadi si aku di sini adalah si anjing, bukan si "kau". Seharusnya itu menjadi salah satu alasan besar mengapa kau harus benar-benar "show, don't tell", karena si "aku" hanya bisa melihat apa yang terjadi, bukan merasakannya.
cth, "Kau ingin segalanya sempurna hari ini..." -> daripada nyebutin begini, mending sebutin saja alasan mengapa si "aku" percaya bahwa si "kau" ingin segalanya sempurna saat itu
.
kesalahan EYD pada "pun". hanya disambung dengan kata sebelumnya jika bermakna pertentangan -> walaupun, biarpun, meskipun, dst. selain itu (bermakna juga atau saja) dipisah -> sedetik pun, siapa pun, dst

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Yaap rencana awal juga begitu. Tapi susah yak :( jadi begini deh.. thanks udah mampir!

Writer 145
145 at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
70

Wew Zhang, kapan nulis fantasi lagi ? :D
-
Hmm tentang cerita ini...
Sebenarnya saya berharap ada pertentangan, perbandingan, atau setidaknya ironi. Tapi yah pada akhirnya kesanku tentang tokoh utamanya adalah dia sekor anjing yang pasifis, phlegmatis, dan sedikit melankolis :D

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Okaaay, cerita fantasy coming up ^_^

Yaaah, begitulah, cerita geje, yang padahal di kepalaku keren banget, cuma gagal ditulis keluar XD

Writer dansou
dansou at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
80

Mimi? Mariah Carey? Oke. Lupakan saja.
.
Udah ketahuan siapa sebenernya siapa si Mimi waktu bagian tengah2 sih, tapi kayaknya tujuan cerita ini bukan untuk menyembunyikan identitas si aku.
Anyway, si kamu itu tokoh yang labil banget deh. Dikit2 nangis, dikit2 seneng.
.
Soal ending, nggak geje2 banget, sih. Cuma menurut saya lebih bagus dibikin ibunya aja yang meninggal alih-alih si Mimi. Biar tokoh kamu dapat pelajaran karena udah durhaka. Selain itu, emosi pembaca bisa lebih teraduk-aduk *emangnya semen diaduk*
.
Ah, maaf. YM an kita tempo hari terputus :( karena koneksi yang luar biasa lambatnya. Makanya saya tebus utang saya di sini.
.
Makasih (mbak) cecil :D *kabur*

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Yaap! rencana awalnya gitu, makanya gw selipin ibunya makin tua, trus maunya meninggal pas di kebun itu. Tapi gw bingung gimana... akhirnya yang gampang aja deh.Btw dia kan labilnya pas awal aja tuh, waktu itu ceritanya dia masih kecil, baru kuliah gitu.
-
=.= mbak mbak... *bawa tali gantungan buat dansou*

Writer KD
KD at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)
100

bagus

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Yaaaay! XD *joget2*
Thanks udah mampir!

Writer Zhang he
Zhang he at Diari Mimi (10 years 13 weeks ago)

Waks... jujur ini geje banget.
Dan kayaknya endingnya engga banget deh. Udah malem sih, jadi buru-buru diselesein

Saran pliss? *pergi tidur*